Showing posts with label Kitab Bidayatil Hidayah. Show all posts
Showing posts with label Kitab Bidayatil Hidayah. Show all posts

Saturday, December 20, 2008

Bangun Tidur

Oleh : K.H. Hamam Nashiruddin - Grabag, Magelang

Bab Bangun Tidur : Kitab Bidayatil Hidayah (karya Al Imam Ghozali)

Ketika kita hendak tidur, tanamkan benar-benar bahwa kita harus bangun tidur sebelum fajar agar kita mendapatkan fadhilah yang agung dari Allah Swt. Usahakan semaksimal mungkin (di saat bangun tidur) apa yang terlintas di hati kita dan apa yang kita ucapkan di lesan kita adalah dzikirullah.

Oleh karena itu ketika bangun tidur, bacalah do’a sebagai berikut :




Alhamdulillaaahilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur

Yang maknanya kurang lebih adalah segala puji syukur dari saya kepada Allah Swt yang sudah mengkaruniakan nikmat bisa tidur kepada saya dan sekarang saya sudah dibangunkan dari tidur saya. Semua makhluq besok akan menghadap Allah Swt untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Dengan dibangunkannya kita dari tidur di pagi dari ini, kita akui bahwa benar kita sesungguhnya adalah milik Allah Swt, begitu juga alam bumi seisinya, juga semua sifat kita yang merasa agung, sifat kita yang suka memerintah, sifat kita yang merasa memiliki, sifat kita yang merasa berkuasa dsb itu semuanya kepunyaan Allah Swt yang Maha Memelihara alam ini dan seisinya. Allah Swt Maha Agung, Maha Memerintah, Maha Memiliki, Maha Berkuasa.

Dan kita harus bersyukur dibangunkan masih dalam keadaan memeluk agama Islam, masih bisa menyebut kalimat-kalimat tauhid, masih diberi kesempatan memeluk agama dari agama Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As yaitu agama yang lurus, sempurna dan tunduk pasrah kepada Allah Swt. Yang perlu diketahui adalah Nabi Ibrahim As itu bukan termasuk golongan musyrikin.

Dengan barokah Allah Swt, kita masih dikaruniai Allah Swt kesempatan bagun di pagi ini dan kita masih dikaruniai kehidupan, hanya untuk Allah Swt-lah hidup dan mati kita dan apa yang terjadi adalah hanya karena Allah Swt.

Bermohonlah kepada Allah Swt agar Allah Swt mengkaruniakan semua kebaikan kepada kita pada hari ini yaitu hari dimana kita dibangunkan dan bermohonlah juga agar Allah Swt menjaga kita serta menjauhkan kita dari segala perbuatan tercela dan dosa, agar Allah Swt menjauhkan kita perbuatan mencelakai (berbuat buruk) sesama orang Islam dan bermohonlah agar kita tidak dicelakai oleh orang lain.

Bermohonlah kepada Allah Swt agar kita dikaruniai semua kebaikan hari ini dan kebaikan apapun yang terjadi pada hari ini. Begitu juga sebaliknya, bermohonlah kepada Allah Swt agar kita dijauhkan dari keburukan hari ini dan keburukan apapun yang terjadi pada hari ini.

Kemudian ketika kita akan memakai pakaian, niatkan dengan niat kita memakai pakaian ini hanya karena Allah Swt (karena melakukan perintah Allah Swt), yaitu perintah menutupi aurat. Ingat, jangan sampai kita berniat untuk pamer ketika mengenakan pakaian agar kita tidak termasuk orang yang celaka.

Thursday, December 18, 2008

Taat

Oleh : K.H. Hamam Nashiruddin - Grabag, Magelang

Bab Taat : Kitab Bidayatil Hidayah (karya Al Imam Ghozali)

Bagian awal dari taqwa adalah mengenai taat. Taqwa kepada Allah Swt adalah melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ketahuilah, bahwa perintah Allah Swt itu ada dua macam :

1. Perintah yang wajib
2. Perintah yang sunnah

Perintah wajib tersebut ibarat dagang adalah modal, yang dengan modal ini (yaitu perintah-perintah wajib) maka akan memberikan keuntungan (kepada kita yang melakukan perintah-perintah wajib tersebut) yaitu berupa keselamatan. Sedangkan perintah sunnah itu ibarat laba, yang dengan laba ini (yaitu perintah-perintah sunnah) akan memberikan derajat bagi yang kita melakukan perintah-perintah sunnah.

Berdasarkan keterangan dari Nabi Muhammad Saw, Allah Swt berfirman bahwa Allah Swt senang kepada orang-orang yang melakukan perintah-perintah wajib (dengan berniat ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt). Jika ada orang yang sudah mampu melakukan perintah-perintah wajib dengan cukup, lalu ingin mengamalkan ibadah-ibadah sunnah (dengan berniat ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt), maka orang itu sangat disukai dan dicintai oleh Allah Swt. Setelah Allah Swt menyukai dan mencintai orang-orang seperti itu, maka Allah Swt akan menambah penjagaan terhadap mereka. Allah Swt menjaga telinga mereka yang digunakan untuk mendengar, Allah Swt menjaga mata mereka yang digunakan untuk melihat, Allah Swt menjaga mulut mereka yang digunakan untuk berbicara, Allah Swt menjaga tangan mereka dan Allah Swt menjaga kaki mereka yang digunakan untuk berjalan.

Ingat-ingatlah, kita tidak akan bisa melakukan perintah-perintah Allah Swt jika hati tidak tidak tergerak untuk melakukannya. Dan kita tidak bisa melakukan perintah-perintah Allah Swt jika kita tidak merasa selalu diawasi oleh Allah Swt dalam setiap pandangan mata dan nafas kita. Oleh karena itu ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Swt itu Maha Mengetahui semua yang terlintas di dalam hati kita, dhohir kita dan batin kita. Allah Swt Maha Mengetahui semua arah pandang mata kita, Allah Swt Maha Mengetahui apapun yang terlintas di dalam hati kita, Allah Swt Maha Mengetahui tingkah laku kita dan setiap gerak kita.

Pahamilah hal ini!

Sesungguhnya di saat kita berada di keramaian atau pun di saat kita sendirian, Allah Swt tetap mengetahui apapun yang kita lakukan. Dan apapun yang ada di bumi dan langit yaitu setiap diam dan setiap gerakan yang ada dikeduanya pasti diketahui oleh Allah Swt yang Maha Menjaga tujuh langit dan tujuh bumi. Allah Swt Maha Mengetahui apapun yang tersembunyi di dalam pandangan mata dan apapun yang tersembunyi di hati kita. Allah Swt Maha Mengetahui segala sesuatu yang rahasia dan bahkan yang lebih halus lagi. Oleh karena itu kita harus menjaga tata krama (akhlaq) lahir dan batin kita kepada Allah Swt, yaitu seperti tata krama seorang rakyat yang sudah melakukan kesalahan besar dihadapkan kepada penguasa yang berwenang, pengadilan misalnya.

Dan kita harus berhati-hati dan menjaga segala tingkah laku kita agar jangan sampai kita terlihat oleh Allah Swt sedang melakukan sesuatu yang dilarang Allah Swt. Begitu juga sebaliknya, jangan sampai kita tidak dilihat oleh Allah Swt tidak sedang melakukan segala hal yang diperintahkan-Nya, misalnya sholat dan berbuat kebaikan lainnya. Jangan sampai kita tidak dilihat Allah Swt tidak sedang berada di tempat yang diperintahkan-Nya, misalnya berada di dalam masjid untuk i’tikaf, menuntut ilmu atau berada di dalam majlis-majlis kebaikan lainnya. Jadi kesimpulannya adalah jangan sampai kita meninggalkan semua perintah Allah Swt dan jangan sampai kita melakukan semua larangan Allah Swt!

Semua tadi tidak akan bisa kita lakukan kecuali kita mengatur dan membagi waktu kita, tata dengan sebaik-baiknya wirid (*) kita, maka dari itu dengarkan baik-baik dan pahamilah penjelasan kitab Bidayatil Hidayah ini yang berisi perintah-perintah Allah Swt mulai dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi.


(*) : Wirid adalah usaha mengingat Allah Swt lewat lesan kita. Ini merupalan salah satu bagian dari taqwa dhohir.

Monday, September 15, 2008

Pengaruh Melihat Kebaikan

Dengan melihat meski sebentar, kita akan lebih mudah mengingat untuk kemudian kita tirukan, ini berbeda dengan mendengar. Orang akan lebih mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar sebab besarnya pengaruh melihat. Dengan melihat kita bisa banyak belajar (belajar suatu ilmu dan belajar mengamalkannya) berbagai kebaikan atau malah keburukan, tergantung apa yang kita lihat.

Begitu melihat berbagai hal yang buruk maka ingatan akan hal itu akan cepat tersimpan di benak pikiran kita, tertanam sangat dalam di pikiran kita dengan meninggalkan bekas yang sangat sulit dihilangkan kecuali bagi mereka yang bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya. Ingatan akan hal buruk itu kalau belum hilang maka suatu saat akan dapat muncul tiba-tiba sewaktu kita tidak ingat Allah Swt.

Disaat ingatan buruk itu muncul sekali, maka di lain waktu ingatan itu akan muncul lagi, lalu lagi dan lagi hingga kita ”ditarik” untuk melakukannya. Dan sekali saja kita melakukannya, maka kita akan melakukannya lagi untuk yang ke-2 kali, lalu ke-3 kali dan seterusnya hingga akhirnya kita akan berulang kali melakukannya dengan apapun alasan kita. Dari yang tidak terpikirkan untuk melakukannya hingga akhirnya kemudian menjadi terbiasa melakukannya. Awal mungkin hanya sebuah keburukan kecil yang kita lakukan, tapi tidak ada keburukan kecil kalau itu kita lakukan berulang kali hingga akhirnya menumpuk jadi keburukan besar.

Berhati-hatilah dengan keburukan yang kecil dan jangan remehkan apa yang kita lihat! Karena begitu besarnya pengaruh penglihatan maka usahakan semaksimal mungkin agar kita sering (kalau tidak bisa selalu) melihat hal-hal yang baik agar ingatan-ingatan hal-hal yang baik itu tertanam kuat dalam pikiran dan hati kita, yang mana jika sering melihat kebaikan maka ingatan akan hal itu akan sering muncul terlintas di pikiran dan hati kita hingga kita tertarik untuk melakukannya. Dengan melakukan kebaikan sekali maka suatu saat kita akan mengulanginya lagi hingga akhirnya setelah berulang kali maka berbagai kebaikan akan menjadi kebiasaan kita, tentu kita harus menjaga penglihatan kita.

Oleh karena hebatnya pengaruh penglihatan maka kita harus mengamalkan apa yang kita katakan pada orang lain sebab orang akan lebih cepat mengingat untuk kemudian melakukan apa yang mereka lihat dari perbuatan kita, mereka lebih cepat mengingat apa yang mereka lihat daripada yang mereka dengar. Kalau perbuatan kita tidak sesuai dengan perkataan kita maka mereka tidak akan melakukan apa yang kita katakan kepada mereka, tetapi mereka akan melakukan sesuai dengan apa yang kita perbuat, apa yang mereka lihat.

Orang yang menasehati masyarakat agar berbuat kebaikan adalah baik tapi tapi jika dirinya sendiri tidak melakukan apa yang dia nasehatkan, maka masyarakat tidak melakukan apa yang mereka dengar tapi masyarakat akan melakukan apa yang mereka lihat. Mereka akan meniru perbuatan kita. Misalnya dia menasehatkan agar masyarakat menjauhi dunia tapi perbuatannya tidak menunjukkan bahwa dia menjauhi dunia malah mencari dunia dengan cara-cara yang tidak haram maka masyarakat akan menirunya, meniru apa yang mereka lihat.

Orang yang seperti ini tidak akan menyampaikan kebaikan tapi justru menyampaikan keburukan kepada masyarakat. Semoga kita terhindar dari orang seperti ini. Dan, jangan belajar kepada orang yang hanya bisa menasehati tanpa bisa melakukan apa yang dia nasehatkan!

Friday, September 12, 2008

Orang Yang Tersesat

Adalah lebih baik menghindari menggunakan ilmu-ilmu kita untuk memperbanyak harta dunia saja dengan melupakan Allah Swt sama sekali dan merasa dirinya paling benar, hindari niat yang seperti itu sebab ini hanya akan menjadikan kita sombong, merasa mulia, merasa kuat dan menang karena banyak orang yang mengikuti kita.

Orang-orang yang mengikuti kita menganggap kita orang yang mulia di mata Allah Swt dikarenakan mereka melihatnya begitu, mereka melihat kita alim, banyak amal dan sholeh. Padahal apa yang mereka lihat adalah skenario kita agar dianggap begitu, kita ingin dimuliakan oleh masyarakat. Sebenarnya kita tidak alim (berilmu), kita hanya merasa diri kita alim (berilmu) lalu bertindak laku meniru-niru orang yang benar-benar alim dengan berpakaian seperti orang alim dan dengan berkata-kata seperti orang alim terbukti dengan cara kita mencari uang atau rizqi dengan tidak peduli apakah itu cara halal atau harom, tidak peduli apakah cara kita itu merugikan orang lain atau tidak...kita tidak peduli, yang penting keinginan kita tercapai. Kita hanya berharap dan senag jika masyarakat memuji kita, menyanjung kita saja tanpa kita memperhatikan amal ibadah kita.

Jangan karena kita sudah terlanjur dikenal sebagai orang alim (berilmu) kita lalu berbohong di depan masyarakat dan mengingkari kekeliruan kita demi terjaga gengsi kita. Kita takut tidak lagi dimuliakan masyarakat oleh karena itu kita memakai ilmu kita untuk berkelit, kita mencari-cari dan mengada-adakan alasan untuk menutupi kekeliruan kita agar masyarakat tidak tahu kekeliruan kita bahkan kalau perlu kita gunakan untuk "memaksa" mereka mengakui kekeliruan kita sebagai kebenaran. Semua jadi kacau, kebenaran sudah hilang dikarenakan keduniaan semata. Sudah tidak ada lagi Allah Swt di sana, sudah kalah oleh dunia.

Meski buruknya perbuatan kita itu tapi kita sama sekali tidak merasa keliru bahkan merasa paling benar sendiri, kita lalu merasa punya derajat tinggi di mata Allah Swt sebab kita menganggap diri kita sebagai ulama dengan segala pakaian dan kata-kata kita kita mirip-miripkan ulama. Itu sekedar untuk menutupi hati kita yang cinta terhadap dunia tapi kita tidak sadar kita sudah sangat mencintai dunia dan melupakan Allah Swt.

Kalau kita sudah seperti ini maka kita termasuk orang yang rusak, sangat rusak...rusak niat kita, rusak ilmu kita dan rusak amal ibadah kita. Kita hanya merasa alim (berimu) yang mengamalkan ilmu kita padahal amal ibadahnya tidak menunjukkan bahwa kita orang yang mengamalkan ilmu kita. Dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa lagi diharapkan mau bertaubat.

Semoga kita semua terhindar dari perilaku yang demikian. Amin.

Orang Yang Sadar Tapi Tidak Bisa Menghindar

Niat orang menuntut ilmu itu macam-macam, ada diantara mereka yang berniat agar setelah memahami ilmu dia berharap ilmunya akan membuat hidupnya menjadi lebih mulia, maksudnya agar tercukupi kebutuhan-kebutuhan materialnya dan semakin mudah mendapatkan uang atau harta benda lainnya.

Dia sadar bahwa dengan ilmu semuanya akan semakin lebih mudah, bukan lebih mudah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt tapi semakin lebih mudah mendapatkan uang dan harta benda. Meski begitu sebenarnya dia tahu dan paham bahwa niatnya itu kurang sempurna dan remeh, dia tahu tujuannya keliru, dia tahu bahwa tujuan sebenarnya adalah Allah Swt tapi dia saat ini belum bisa menghindari bertujuan mencari dunia saja.

Orang yang seperti ini tidak akan pernah tenang sebab kurang yakin pada Allah Swt sehingga sering merasa khawatir dan sering merasa kurang...kurang banyak gajinya (padahal secara umum sudah lebih dari cukup), kurang bagus kendaraannya (padahal secara umum sudah memadai sebagai sarana transportasi menjemput risqi dan ibadah), kurang mewah tempat tinggalnya (padahal secara umum sudah cukup sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan), kurang cakep istri atau suaminya (padahal secara umum pasangan kita sangat mencintai dan melayani kita dengan sepenuh hati dengan apapun adanya dirinya), kurang "basah" jabatannya (padahal secara umum jabatannya itu mampu memperjuangkan hak orang banyak dan sangat cukup memenuhi kebutuhannya), kurang dan sering merasa kurang yang lainnya.

Usaha mencukupi kebutuhan adalah boleh tapi kalau sering merasa kurang lebih baik kita hindari sebab SERING kalau dibiarkan akan menjadi SELALU. Sedangkan selalu merasa kurang dalam hal uang, harta benda dan dunia sangat rawan terjerumus dalam ketidak-syukuran terhadap karunia Allah Swt.

Usaha tetap jalan terus dan syukuri semua yang Allah Swt karuniakan kepada kita lewat hasil dari usaha kita. Apapun hasilnya harus disyukuri dan jangan mengeluh!

Seandainya orang yang berniat agar dengan ilmu dia akan dapat banyak harta benda ini (tapi dia sadar bahwa tujuannya ini remeh dan keliru) tidak juga bertaubat hingga dia meninggal maka dia dikhawatirkan akan meninggal dalam keadaan su'ul khotimah. Bagaimana keputusan akhir apakah dia ditetapkan buruk atau malah diampuni maka itu tergantung Allah Swt saja.

Tetapi jika sebelum meninggal dia sudah bertaubat, mau mengamalkan ilmunya dan menutupi kekurangannya dengan berbagai kebaikan maka dia termasuk kelompok fa'izin yaitu orang yang diampuni semua dosanya karena sudah bertaubat sebelum meninggal, dia bagaikan tidak punya dosa sama sekali.

Thursday, September 11, 2008

Bekal Menuju Allah Swt

Jadikan ilmu sebagai sarana dan bekal untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt lewat berbagai bentuk ibadah yang mulia!

Ada banyak macam ibadah yang bisa menyampaikan kita kepada Allah Swt, sholat bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, shodaqoh bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, mambaca Alqur’an bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, dzikir bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, zakat bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, infak bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, pergi haji bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, silaturrahim bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, berbakti kepada orang tua bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, berkata yang baik bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt, bahkan tersenyum pun bisa mendekatkan kita kepada Allah Swt dan sebagainya.

Semua ibadah perlu ilmu untuk tahu tata-caranya, dengan ilmu maka ibadah akan lebih indah. Seandainya kita bisa melakukan semua ibadah untuk menuju Allah Swt maka itu lebih baik, tetapi kalau tidak bisa semuanya dilakukan maka cukup istiqomah satu atau beberapa saja. Lakukan semaksimal mungkin yang kita bisa lakukan.

Barang siapa mempunyai ilmu yang dijadikan bekal untuk menuju kepada Allah Swt maka dunia akan datang kepadanya, mendekatinya dan melayaninya. Dalam kondisi seperti itu, dunia bukanlah tujuan, Allah Swt-lah tujuannya.

Wednesday, September 10, 2008

Melakukan yang Kita Katakan

Bermohonlah kepada Allah Swt agar dijauhkan dan terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, amal yang tidak diterima dan do’a yang tidak dikabulkan.

Setelah berdo’a maka berusahalah untuk mengamalkan ilmu yang sudah diajarkan kepada kita dan kita sudah pahami dan berusahalah melakukan apa yang kita anjurkan kepada orang agar melakukannya menganjurkan orang agar melakukan sesuatu kebaikan maka kita harus melakukannya juga. Demikian juga kalau kita melarang orang untuk tidak melakukan sesuatu keburukan maka kita harus tidak melakukannya pula.

Jangan sampai kita menyuruh orang untuk melakukan kebaikan tapi kita sendiri tidak melakukannya, dan jangan sampai pula kita menyuruh orang untuk menghindari keburukan tapi kita sendiri malah melakukannya! Hal seperti ini sangat merugikan diri kita sendiri dan ini merupakan bujukan setan. Jadi, belajarlah lebih giat (belajar untuk melakukan hal-hal yang kita nasehatkan) dan bertanya-tanyalah kalau kita belum paham tentang apa yang dijelaskan oleh guru kita. Lalu amalkan kalau sudah paham!

Hidup ini akan semakin indah kalau kita mempunyai ilmu dan mengamalkan ilmu kita.

Jangan Merasa Paling Benar !

Ketika kita sudah bersemangat menuntut ilmu tapi selalu menunda-nunda untuk melakukannya atau selalu beralasan dengan berbagai macam alasan untuk tidak melakukannya maksud dan tujuan ilmu tersebut, maka dengan begini kita mengikuti ajakan nafsu kita dan bujukan setan yang mengatakan agar kita giat bersemangat menuntut ilmu tapi tidak untuk dilakukan.

Bujukan setan itu sedikit demi sedikit tapi menjerumusan kita ke luar dari jalan kebenaran dan kita akan termasuk kelompok orang-orang yang keliru. Meski begitu kita tidak merasa keliru dan kita merasa berada di jalan yang benar.

Kita merasa sangat penting menuntut ilmu, ini benar tetapi tanpa bertambahnya amal dengan bertambahnya ilmu kita maka kita tidak akan bertambah apa-apa kecuali bertambah jauh dari Allah Swt.

Tuesday, September 09, 2008

Menjemput Petunjuk Allah Swt

Makna petunjuk Allah Swt adalah amal, sementara amal adalah buah dari ilmu.

Sesuatu itu ada awal dan ujungnya, begitu juga dengan petunjuk Allah Swt. Awal dari petunjuk Allah Swt adalah syari’at dan ujungnya adalah ibadah. Kita tidak akan bisa sampai di ujung dari petunjuk Allah Swt yaitu ibadah sebelum melakukan awal dari petunjuk itu sendiri yaitu syari’at. Artinya sebelum memulai ibadah kita harus mencari tahu dulu tentang ilmu dari ibadah yang akan kita lakukan tersebut. Kalau kita sudah mengetahui ilmu dari ibadah maka teruskan dengan mengamalkannya, ini berarti kita sedang menjemput petunjuk dari Allah Swt.

Petunjuk Allah Swt juga ada sisi luar dan ada sisi dalamnya, tidak akan bisa kita mengetahui sisi dalamnya kecuali mengetahui sisi luar dari petunjuk tersebut. Artinya tidak bisa mengetahui makna dengan sempurna dari suatu ibadah kecuali kita mengamalkan ibadah itu terlebih dulu. Lakukan dulu baru tahu maknanya dengan lebih sempurna.

Tidak bisa kita memgetahui bagaimana khusyuk dalam sholat sebelum kita melakukan sholat, jadi sholat dulu baru kita tahu bagaimana yang disebut khusyuk. Tidak bisa kita mengetahui bagaimana ikhas dalam beramal sebelum kita melakukan amal, jadi beramal-lah dulu baru kita tahu bagaimana yang disebut ikhlas.

Demikian seterusnya.

Monday, September 08, 2008

Sesuatu yang Merugikan Diri Kita

Perhatikan niat kita sebelum menuntut ilmu, apakah kita menuntut ilmu karena ingin mengumpulkan harta dunia atau agar dikenal sebagai orang berilmu atau untuk mengungguli orang lain atau agar orang-orang mendatangi dan menghormati kita?

Kalau niat kita seperti itu maka kita termasuk yang merusak agama, mencemarkan agama, kita termasuk orang yang merugi seperti pedagang yang modalnya habis tidak ada laba dari dagangannya.

Menuntut ilmu itu awal yang baik tapi kalau diniatkan untuk hal-hal yang tidak menuju kepada Allah Swt maka kita rugi. Dan kalau guru kita mengajari seperti itu maka dia termasuk mendapatkan kerugian kita, kalau kita termasuk mencemarkan agama maka dia termasuk menjerumuskan kita ke dalam kesalahan, dia sudah mengajarkan hal yang sangat keliru ibaratnya dia menjual pisau kepada penjahat jalanan yang dengan pisau itu kita gunakan untuk berbuat buruk.

Perbuatan seperti itu merusak agama dan merugikan diri sendiri. Seharusnya dengan ilmu kita bisa beribadah, kita bisa bertaqwa pada Allah Swt dan dengan taqwa kita berjalan di jalan yang lurus, tapi karena niat kita buruk (yaitu bukan karena mengharap petunjuk dari Allah Swt) maka bukan makin dekat dengan Allah Swt, malah semakin jauh kita dari Allah Swt.

Thursday, September 04, 2008

Awal dari Petunjuk

Petunjuk Allah Swt itu jangan ditunggu diam saja tanpa berusaha apapun! Sebab petunjuk dari Allah Swt itu harus diusahakan dengan menuntut ilmu kepada orang-orang yang diakui keilmuannya, diakui rantai ilmunya bersambung kepada Rasulullah Muhammad Saw lewat para pendahulu kita dan diakui juga amalnya sesuai dengan perkataannya.

Tidak bisa kita diam saja di rumah tanpa usaha tapi berharap menjadi orang yang bertaqwa sebab taqwa butuh amal, sedangkan amal butuh ilmu. Tanpa ilmu tidak akan bisa beramal, tanpa amal bagaimana mungkin kita menjadi orang yang bertaqwa?

Awal dari petunjuk Allah Swt adalah syari’at lalu kemudian berujung kepada ibadah.

Ilmu dibutuhkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, lewat usaha kita menuntut ilmu maka ini berarti kita sedang menjemput petunjuk dari Allah Swt. Awal ilmu adalah mencari tahu tentang aturan-aturan untuk beramal, lalu sesudah itu lanjutkan dengan mengamalkannya dengan sekuat tenaga. Ketika hati kita tidak menolak pada saat dihadapkan kepada amal-amal ibadah yang mengantarkan kita kepada jalan yang lurus tersebut maka lakukan amal-amal itu, jangan berhenti teruskan terjun ke lautan ilmu!

Tapi tatkala hati kita menolak atau menunda-nunda ketika dihadapkan kepada amal-amal ibadah maka ada yang belum benar dengan niat kita, berhati-hatilah jangan sampai kita menjadi orang yang terus menuntut ilmu tanpa diamalkan.

Tuesday, July 11, 2006

Bidayatil Hidayah : Adap Berteman

Assalamu'alaikum wr wb

Ahad pagi 13 Jumadil Akhir 1427
.....di jalan Pethek 55 Semarang...


Bib Hasan Abdurrohman Zein al-Jufri melanjutkan penjelasan tentang kitab Bidayatil Hidayah (karya Sayyidy al-Imam Muhammad bin Muhammad al-Ghozali), kali ini tentang adap berteman...adap bersahabat...


Dijelaskan oleh bib Hasan bahwa kalau kita bertemu dengan sahabat kita, hendaknya...

1. Memulainya dengan mengucapkan salam.

Sebelum menanyakan kabarnya dsb ucapkan salam lebih dulu, ini dianjurkan oleh baginda Nabi besar Muhammad Saw, ini kemuliaan bagi orang Islam. Ini merupakan termasuk menyebarkan keselamatan sebab di dalam kalimat salam terdapat Asma'ul Husna : As-Salam (Maha Penyelamat).

Sabda Rosulillah Muhammad Saw,
"Tebarkanlah salam diantara kalian."
Jadi kita disuruh menyebarkan keselamatan dari Allah Swt.

Assalamu'alaikum...semoga selamat sejahtera bagi engkau, ini mendo'akan sesama muslim, bahkan ini adalah ucapan penduduk surga kalau ketemu penduduk surga.


2. Memberi tempat duduk di dalam suatu majlis.

Kalau kita ada di dalam majlis, lalu kita lihat ada orang yang datang terlambat (apalagi kalau itu orang alim, orang tua atau orang yang dituakan), sementara di sebelah kita masih ada tempat kosong maka beri tempat duduk padanya, jangan lalu pura-pura tidak tahu atau jangan lalu tidak memberi tempat duduk, padahal sebenarnya masih ada yang kosong di sebelah kita. Ini termasuk adap di dalam majlis.

Bahkan Rosulillah Saw pun memberi tempat duduk di depan pada Sayyidy Abubakar as-Shidiq yang terlambat hadir di majlis-nya Rosulullah Saw. Sampai-sampai akhirnya turun ayat,
"Kalau engkau meluaskan tempat, maka engkau akan diluaskan tempatmu oleh Allah Swt."

Kalau engkau meluangkan tempat, maka engkau akan diluangkan tempatmu oleh Allah Swt, demikian bib Hasan berkata.

Dan kalau kita memberi tempat duduk bagi yang terlambat, apalagi bagi orang tua, orang yang dituakan, orang alim maka berarti kita memuliakan orang yang dimuliakan oleh Allah Swt. Ini akhlaq Islam, akhlaq yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.

Memang benar kalau kita datang terlambat maka lebih baik duduk di depan (asal tidak mengganggu majlis) tapi kalau ada tempat duduk yang kosong maka masuk jangan biarkan tempat itu kosong. Kalau tempat yang kosong itu dibiarkan tidak diisi maka syetan-lah yang akan mengisi tempat kosong itu, dan ini akan mengganggu majlis, memberi rasa was-was, dan tidak akan mendapatkan kekhusyukan, kenikmatan di dalam suatu ibadah.


3. Kalau ada tamu, berdiri sambut dia. Kalau tamu pulang, antarkan sampai ke depan pintu.

Ini akhlaq yang mulia! Sekarang sudah jarang...

Bib Ahmad bin Ali al-'Atthos (Pekalongan) dulu mengantarkan tamu beliau (baik orang yang alim atau tidak atau orang biasa) pulang sampai ke pintu depan, digandengan sama beliau, dido'akan dulu sebelum berpisah, dititipkan dulu tamunya pada Allah Swt. Ini akhlaq yang sudah kita tinggalkan...

Kalau ada saudara / sahabat kita mau pergi, ucapkanlah :
"Aku titipkan engkau pada Allah Swt, agamamu, keluargamu, hartamu dan segala hal yang engkau miliki aku titipkan pada Allah Swt."

Insya Allah saudara / sahabat kita akan mendapatkan keselamatan dari Allah Swt karena Allah-lah sebaik-baik tempat untuk dititipi.


4. Dengarkan dia bicara sampai selesai, jangan dipotong ucapannya!

Jangan pernah memutus pembicaraan seseorang, biarkan sampai selesai dulu, jangan di-interupsi seperti yang dilakukan wakil-wakil rakyat saat sidang, sebenarnya ini tidak boleh sebelum selesai bicara! Apalagi kalau yang bicara orang alim, apalagi kalau saat itu ada di dalam majlis...di majlis, usahakan kita diam dengarkan, kalau tidak penting sekali jangan bicara di majlis. Bisa menghilangkan barokah majlis kalau kita bicara di dalam majlis yang pembicaraan itu di luar kepentingan majlis. Ini su'ul adap!

Bahkan harom hukumnya berjalan melewati sederetan orang hingga langkah kaki kita lebih tinggi dari pundak mereka yang sedang duduk tanpa permisi, yang mana kalau mereka tidak ridlo atas perbuatan kita. Sampai seperti itu kemuliaan majlis...ini sebabnya kalau datang majlis lebih baik duduk di luar, tapi kalau ada kesempatan untuk maju ya majulah tanpa ber-su'ul adap.


5. Sayangi orang lain seperti kita menyayangi diri kita sendiri.

Kalau kita tidak mau dihina, jangan menghina saudara kita! Kalau kita tidak mau disakiti, jangan menyakiti! Kalau kita tidak suka disepelekan, jangan menyepelekan orang lain! Hukum timbal balik...tidak akan kita memperoleh kemuliaan dari Allah kalau kita tidak memuliakan orang lain!

Ayat al-Qur'an :
"Muhammad Rosulullah, dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang kafir."
Keras di sini bukan keras tiap kali ketemu orang bukan muslim, tapi tunjukkan bahwa kita ini muslim, ada aturan dalam Islam.

Kepada sesama muslim, tunjukkan kemuliaan karena mereka dimuliakan oleh Allah Swt. Bukan sebaliknya!!! Kalau negara kita belum bisa, rubahlah diri kita dulu, diri kita, diri kita...

Kita hormati sesama muslim karena dia mendapat kemuliaan dari Allah dengan La illaha illallah Muhammadur Rosulullah. Muslim yang ketemu karena hubungan tetangga, hormati sebagai hak tetangga. Kalau ketemu di pasar, hormati karena hubungan dagang, dst. Ini aturan Islam...


Bib Hasan mengajak ikuti ini dengan akhlaq, amal, adap, kita ikuti yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Seperti para shohabat Ra yang merasa hina tapi sekaligus mulia karena dimuliakan Nabi Muhammad Saw, alangkah ruginya mereka yang menghina beliau-belau yang dimuliakan Nabi Muhammad Saw.

Dan bib Hasan mengakhiri dengan berdo'a,
"Semoga kita semua mendapatkan ilmu yang bermanfaat..."

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb