Showing posts with label Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Akhlaq. Show all posts

Wednesday, April 08, 2009

Tidak Suka Bicara

Oleh : Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assaggaf


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Berkata Imam Nawawi - semoga Allah merahmatinya dan memberikan kemanfaatan kepada kita dengan keberadaannya dan semua ulama.

Dari hadits yang kelima, dari Abu Hurairoh (semoga Allah meridhoinya), sesungguhnya Rasulullah SaW berkata,

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tamunya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Hadits ini pada awalnya berhubungan dengan hadits yang sebelumnya dan kita sudah membacanya bahwa sesungguhnya dari sebagian kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada arti/manfaatnya. Kami telah menyebutkan bahwa yang termasuk sebagian daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah berlebih-lebihan secara umum, dan terutama berlebih-lebihan dalam berbicara. Dan di sini Rasulullah SAW mengkhususkan dalam hal ini dengan berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata sesuatu yang baik atau diamlah.”

Diam dan tidak berkata apa-apa daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah sukuut ikhtiyaariy (diam karena pilihan kehendak sendiri). Karena manusia terkadang diam, akan tetapi itu karena bohong, sakit, lemah, atau rasa takut. Adapun yang dimaksud disini adalah sukuut ikhtiyaariy, seseorang yang mencegah lisannya daridapa berbicara. Dikatakan bahwa sesungguhnya syahwatil kalam (nafsu untuk berbicara) lebih berbahaya daripada syahwatit tho’am (nafsu untuk makan). Ini termasuk diantara syahwat yang paling berbahaya.

Di sini, sikap diam adalah termasuk sebagian daripada hikmah yang luar biasa. Demikian juga, sikap diam ini adalah termasuk haal (keadaan) sebagian besar orang-orang sholeh, dimana sesungguhnya mereka pada umumnya sedikit berbicara. Anda akan tahu hikmah pada seseorang dari lamanya dia bersikap diam. Dan sesungguhnya sikap lama tidak berbicara akan memancarkan hikmah pada hati seorang mukmin, jika ia membiasakan dirinya lama tidak berbicara, ia tidak berbicara kecuali berdzikir kepada Allah kecuali jika ada kebutuhan. Karena itu, seseorang itu selama ia tidak berbicara, maka ia berada dalam keadaan aman.

Diceritakan bahwa Nabi SAW pada malam Isra’ Mi’raj melihat seekor ular keluar dari suatu lubang dan kemudian ular itu ingin kembali ke lubang itu akan tetapi ia tidak bisa. Kemudian beliau bertanya kepada Jibril, “Apa itu wahai Jibril?.” Maka Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang berkata dengan suatu kalimat melayang di angkasa, kemudian ia ingin mengembalikan perkataannya tadi, akan tetapi ia tidak mampu.”

Oleh karena itu, dikatakan bahwa Allah menciptakan mulut itu dengan dua penjaga. Penjaga yang pertama adalah gigi-gigi. Penjaga yang kedua adalah kedua bibir. Mulut dikunci dengan gigi-gigi dan kedua bibir. Sedangkan telinga, tidak ada di sana penjaga. Ini dimaksudkan bahwa anda hendaknya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebagian manusia tidak suka mendengar. Mereka hanya suka berbicara. Cobalah anda lihat, ketika anda duduk-duduk (di perkumpulan), ada orang yang sukanya berbicara. Jika ada orang lain yang berbicara, ia tidak mau mendengar. Jika ia berbicara, ia menginginkan orang lain mendengarkan bicaranya. Ini merupakan cacat dan aib. Dan oleh karena itu, hendaklah seseorang membiasakan dirinya atas keadaan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah.”

Karena sebab itu, sebagian daripada orang-orang sholeh menaruh batu di mulut mereka. Pernah suatu ketika salah seorang masyaikh (guru) sedang berbicara. Pada saat itu ada suatu masalah atau pertanyaan dan tiba-tiba salah seorang muridnya nyeletuk menjawabnya. Sang murid begitu gembira karena ia dapat menjawab masalah tersebut. Sang masyaikh berkata, “Masya Allah. Barakallah fiika wahai anak muda. Keluarlah dan ambilkan aku batu.”

Keluarlah sang murid dengan gembiranya tanpa mengira bahwa gurunya ingin memberikan pelajaran kepadanya dengan batu itu. Setelah sang murid mengambil batu itu, sang masyaikh berkata, “Cucilah batu itu.”

Setelah itu ia mencucinya dan menyerahkan ke gurunya dengan perasaan senang. Lalu sang masyaikh berkata, “Taruhlah batu itu di mulutmu.”

Hal ini untuk memberikan pelajaran agar seseorang itu belajar adab dan tidak cepat-cepat berbicara sebelum diberikan kesempatan.

Karena itu, pernah suatu saat berkumpullah para ulama, berdebat mengenai suatu masalah, dan disana ada Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq sedang duduk bersama mereka. Disaat mereka saling berbicara dan berdebat satu sama lain, dan disitu ada Imam besar mereka, orang yang mengerti hukum di jaman itu, bahkan beliaulah pendiri ilmu figih, Al-Imam Ja’far, beliau ditanya, “Wahai Imam, mengapa engkau tidak berbicara?.”

Beliau menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak berbicara kecuali jika ditanya. Kami tidak berbicara yang tidak perlu kecuali jika kami diam, lalu ditanya suatu masalah, maka kami menjawabnya sepanjang yang kami ketahui.”

Itulah mereka ahlul adab (orang yang mempunyai adab), radhiyallohu anhum wa ardhoohum.

Itulah hikmah daripada orang-orang yang tidak suka berbicara. Dan ini adalah riyadhoh (melatih diri) daripada bentuk riyadhoh-riyadhoh yang lain. Ini juga dipraktekkan oleh orang-orang Hindu, mereka membiasakan diri mereka dan bermujahadah daripada bersikap diam dan duduk di tempat-tempat yang gelap sampai dapat menundukkan nafsu. Adakalanya bahwa di dalam diri terdapat kekuatan, sampai seseorang dapat menjatuhkan sesuatu dari jauh tanpa memukulnya. Ini karena sebab ruh mempunyai kekuatan. Akan tetapi seorang mukmin menginginkan ruhnya bersih dalam bermuamalah kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu juga yang terjadi pada para sahabat radhiyallohu anhum, mereka tidak berbicara kecuali dalam kebaikan. Bahkan seringkali terjadi pada orang-orang sholeh yang berkumpul pada satu tempat, mereka tidak berbicara satu sama lain pada masa yang lama. Satu sama lain berpikir karena masing-masing dari mereka sibuk dengan keadaan mereka dan kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.

Dan berbicara mengenai diam adalah sangat panjang. Kami menunjuk pada sebagian darinya. Kesimpulannya apa yang saya sampaikan kepada kalian adalah bahwa kalian hendaklah membiasakan diri untuk tidak banyak berbicara, karena sikap suka berbicara itu ada kelezatan.

Begitu juga, sebagaimana di dalam sikap diam adakalanya terdapat kebaikan, maka adakalanya di dalam sikap berbicara itu juga terdapat kebaikan. Kami bertanya kepada guru kami Al-Habib Abdul Qodir (bin Ahmad Assaggaf) - semoga Allah memberikan kenikmatan kepada kami dengan hidupnya di dalam kebaikan dan kesehatan, “Kami kuatir daripada syahwatil kalam sewaktu mengajar kepada orang lain. Kami kuatir ini termasuk dalam syahwat, keluar daripada nafsu. Maka doakanlah kami.”

Maka beliau menjawab, “Begitu juga dalam sikap diam, terkadang juga terdapat syahwat. Sebagaimana dengan berbicara terkadang kita menginginkan suatu ketenaran, maka terkadang di dalam sikap diam kita menginginkan juga suatu ketenaran. Sehingga orang lain menilainya, 'Orang ini berwibawa.' Maka ia diam supaya orang lain menilai, memuji, melihat, dan mengagungkannya seperti itu. Dan ini semuanya tidaklah membawa kemanfaatan dan kemudharatan."

Maka jika anda ingin berbicara, berbicaralah karena Allah. Dan jika anda ingin diam, maka diamlah karena Allah. Biasakanlah dirimu karena Allah di segala keadaan.

Disarikan dari youtube dan bisyarah.

Tuesday, March 10, 2009

Ikuti Jalan Salafush Sholeh

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri.

(Disampaikan pada saat rouhah hari Senin 12 Robi'ul Awwal 1430 dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di Semarang)

Alhabib ali bin Abdullah bin Husein Alhabsyi berkata bahwa beliau mengajak kita ke jalan-jalan salafush sholeh, terutama jalan-jalannya Alawiyyin yaitu jalan orang-orang mulia dari keturunan Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Muhammad Saw bangga dengan Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad (penulis kitab rotib Alhaddad) karena imam Abdullah bin Alwi Alhaddad semua tindakan beliau memakai akhlaq Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan suatu hari Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad dan rombongan pergi ke tempat Alhabib Umar bin abrrahman Alatas (penulis kitab rotib Alatas) dari sebuah kota yang jauh jaraknya. Ketika sampai di tempat Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas, Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad meminta ijazah kepada Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas. Akan tetapi Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas tidak bersedia memberikan ijazah sebelum Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah terlebih dahulu.

Lihatlah akhlaq orang-orang mulia yang saling merendahkan diri ketika mereka saling bertemu. Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas berkata bahwa beliau meminta agar Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah terlebih dahulu karena Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad berasal dari kota Tarim (Yaman) yaitu kota tempat dikembangkannya syari'at Islam dan beliau mempunyai akhlaq yang baik.

Rombongan Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad meminta agar Imam Abdullah bin alwi Alhaddad memenuhi permintaan Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas bukan agar mereka mendapatkan ijazah dari beliau. Kemudian Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah kepada Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas.

Rasulullah Muhammad Saw mengajak kita untuk meramaikan majlis-majlis kebaikan dengan akhlaq mulia, dengan akhlaq Nabi Muhammad Saw. Akhlaq Nabi Muhammad Saw adalah mulia, mulia karena Allah Swt yang mengajari Nabi Muhammad Saw.

Antara adap, akhlaq dan etika tidaklah sama. Adap itu pasti baik, sedangkan akhlaq itu bisa baik dan bisa buruk. Dan, etika belum tentu sesuai dengan Islam, seperti misalnya ada suatu wilayah yang mempunyai etika makan daging dengan garpu dan pisau. Kebiasaan pisau di tangan kanan dan garpu di tangah kiri. Tangan kiri yang memegang garpu untuk menahan daging ketika dipotong dengan pisau di tangan kanan. Lalu setelah daging terpotong, mereka memasukkan daging ke mulut dengan tangan kiri. Ini yang berbeda dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Boleh memotong daging dengan tangan kanan, tapi masukkan daging dengan garpu dengan tangan kanan kita. Pakailah etika yang cocok dengan etika Islam dan jangan malu dengan etika Islam sebab inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Tuesday, March 03, 2009

Kulit dan Isi

Oleh : Yusa Nugroho

Suatu saat ketika orang-orang dari berbagai macam keyakinan berkumpul duduk-duduk sambil minum teh, kopi dan gorengan di sore hari itu, tiba-tiba salah seorang diantara mereka (sebut saja namanya bapak Sepuh) membuka obrolan.

"Ada 4 (empat) jalan menuju 'kasunyatan' (kenyataan), yaitu ilmu pengetahuan, filsafat, agama dan seni."

Menurut seorang sebelumnya (salah satu diantara mereka) "kasunyatan" adalah tidak bisa dijelaskan dengan syari'at (red. entah syari'at yang seperti apa yang dia maksudkan), semisal kalau lapar ya ini "kasunyatan" (kenyataan) bahwa kita lapar...tidak butuh ayat untuk menyakinkan bahwa ini lapar. Kalau lapar ya makan, kalau mengantuk ya tidur, kalau capai ya istirahat dsb.

Hmmm...seorang mas-mas mengerutkan dahinya bagaimana bisa tidak memakai syari'at padahal menurutnya syari'at (aturan) itu pasti ada dalam setiap hal.

Setelah mengatur nafas si mas lalu bertanya,

"Saya ada beberapa pertanyaan, pertama diantara 4 (empat) jalan menuju 'kasunyatan' yang bapak sampaikan di bawah, mana yang lebih utama dibandingkan dengan lainnya, pak, filsafat-kah atau ilmu pengetahuan-kah atau agama-kah atau seni-kah?

Kedua, bapak mengatakan bahwa 'kasunyatan' tidak bisa diterangkan dengan ilmu agama (syari'at)...hmmm...setahu saya apapun itu ada sisi luar dan ada sisi dalamnya, kalau dikatakan syari'at itu sisi luar agama...nah bagaimana dengan sisi dalamnya agama, pak, apakah masih juga tidak bisa menjelaskan tentang kasunyatan ini, pak?

Bapak tadi mengatakan bahwa contoh 'kasunyatan' itu diantaranya kalo lapar ya makan tidak perlu pake ayat segala. Cmiiw. Hmmm...benar tapi kalo ingin menambahi dengan tata krama makan gimana, pak? Sedangkan Nabi Saw (menurut Islam) adalah orang yang paling baik mencontohkan bagaimana tata krama makan yang indah dan sehat, itu diketahui lewat hadits atau kitab-kitab kuno yang merujuk kepada Alqur'an. Atau kalo lapar ya makan aja tanpa memperhatikan tata krama, pak? Orang jawa dikenal mengedepankan tata krama dalam segala hal. Cmiiw. Bagaimana menurut bapak? Matur nuwun."

Suasana agak sepi setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan, bapak Sepuh yang ditanya belum menjawab. Tapi itu tidak berlangsung lama sebab seorang bapak yang baru saja datang (sebut saja bapak Tua) langsung menanggapinya dengan nada kurang mengenakan untuk didengar.

"Huiiiiiiiiiikkk... Mohon ma'af...ikutan nyelani, habisnya saya kok tergelitik dengan pertanyaan-pertanyaan mas yang tadi yaitu menurut mas tadi bahwa Nabi Saw (menurut Islam) adalah orang yang paling baik mencontohkan bagaimana tata krama makan yang indah dan sehat, itu diketahui lewat hadits atau kitab-kitab kuno yang merujuk kepada Alqur'an. Itu menurutnya.

Tanggapan saya...makan 'muluk' (makan pakai tangan) nggak pake sendok? Makan sayuran diobok-obok bergiliran? Selesai makan tangan 'diklamutin' (nggak dicuci )? Gosok gigi pake akar-akaran (siwak )? Di jaman seperti sekarang ini, contoh seperti diatas masih bisa dikatakan indah dan sehat?

Biar aku asli wong jowo, nek niru-niru toto kromo koyo mengkono yo emoh tenan aku pak..pak...nggilani....kemproh kuwi arane! (red. Biar aku asli orang jawa, tapi kalau meniru-niru tata krama seperti itu ya aku benar-benar tidak mau pa..pak...menjijikan itu namanya!)

Rujukan boleh saja pake Hadits dan teks book Kitab Alqur'an tapi jangan telan mentah-mentah secara harfiah..ora enak rasane tur akeh pulute (red. Tidak enak rasanya dan banyak getahnya). Hadits itu pendapat seseorang pada Jaman kolo bendhu (jaman Sepur Lempung ) yang belum tentu valid dan cocok di cita rasa kita yang hidup di jaman sekarang ini. Kalau cocok dipakai, kalau nggak pas dirasa...simpen saja dalam kotak lemari. Sesuatu yang nggak cocok lagi terus kita paksakan itu namanya merugikan diri sendiri, nek boso Podhokane, boso Pesantrene mendzolimi diri sendiri."

Suasana mulai memanas...si mas yang bertanya tadi langsung merasakan kemarahan di dadanya...bluuurrr...seperti kayu kering disiram minyak dan dibakar tiba-tiba. Dia diam tidak menanggapi, dia ingin menganggapi tapi tidak sekarang...dia mengatur nafas dan ngobrol dengan orang-orang di sebelahnya agar rasa marah ini surut. Setelah beberapa jam rasa marahnya surut, dia lalu mencoba menanggapinya dengan sesopan mungkin agar tidak menyinggung bapak itu dan maksudnya tersampaikan.

"Salaf (orang-orang terdahulu) adalah orang-orang yang dikenal sangat dekat dengan Tuhan, lihatlah bagaimana ilmu-ilmu mereka, lihatlah bagaimana amal-amal mereka, lihatlah bagaimana ibadah mereka, lihatlah mereka tidak melupakan adab meski mereka mempunyai ilmu yang sangat tinggi, mereka dikenal mulia karena mereka mengikuti kebiasaan-kebiasaan mulia yang sebagian kebiasaan-kebiasaan itu saat ini dianggap menjijikkan dan tidak sesuai jaman. Orang-orang mulia pasti mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik, yang mana kebaikkan itu tidak lekang oleh jaman. Ketika Nabi Saw mengatakan jangan makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, maka ini bermanfaat sekali terhadap kesehatan kita...ini juga diakui hingga saat ini.

Semua hal itu ada kulitnya dan ada isinya, begitu juga dengan kebiasaan makan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Tidak mungkin beliau Saw mengajarkan / mencontohkan hal-hal yang tidak ada isinya, mungkin bagi sebagian orang kebiasaan-kebiasaan itu terkesan menjijikan tapi seorang Nabi tidak akan mengajarkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kita.

Kalau panjenengan tidak berkenan dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut ya saya tidak bisa memaksa panjenengan untuk suka, hanya saja ada baiknya dilihat apa ya makna dari kebiasaan-kebiasaan tsb, aaahhh...mungkin ini ada kebaikan bagi tubuh kita kalau dilihat dari bidang kesehatan misalnya. Seperti itu...matur nuwun."

Aaaaahhhhh...si mas tadi menghela nafas lega, maklumlah dia termasuk orang yang susah bicara ketika berhadapan dengan orang banyak. Setelah minum teh di dekatnya dan mengatur nafas, dia kemudian menunggu bagaimana tanggapan mereka. Yang dia tunggu sebenarnya jawaban dari bapak Sepuh tapi sampai saat ini belum menjawab juga beliau, entah kemana beliau kok tidak terlihat...hmmm...

"Pemahaman mengikuti konsep Sunnah Rosul memang harus difahami arif atau bijak. Memahami sesuatu tentu mengalir menikuti arus dan budaya. Para Muslimin memang mengidolakan Rosul sebagai mahluk ideal, mereka menyebutnya berpijak pada sunah Rosul. Adalah paling mudah mengikuti sesuatu yang terkonsep dalam hal ini mengikuti yang tertulis dalam untaian kata hadits secara letter lux. Mengikuti hadits secara letterlux juga berbahaya membuat stagnasi dalam Islam, karena kemajuan Islam nanti akan berakhir menjadi tak bergerak, berakhir seperti zaman rosul saja.", seorang bapak setengah baya ikut urun bicara.

"Terima kasih pak, setahu saya berspiritual atau beruniversal atau ber-'kasunyatan' atau apapun-lah sebutannya boleh...hanya saja lebih baik tidak melupakan adap atau tata krama dalam apapun juga. Seingat saya, adap yang membedakan kita manusia dengan mereka yang bukan manusia. Tata krama kita tidak sama, saya bertanya kepada bapak Sepuh dengan memisalkan secara Islam sebab saya orang Islam, apakah ber-'kasunyatan' itu tidak memperdulikan adap atau tata krama atau tidak? Silahkan bapak Sepuh menjelaskan...matur nuwun. Penjenengan benar, masing-masing punya tata krama sendiri-sendiri hanya saja tidak seharusnyalah mereka mengolok-olok tata krama orang lain.", ujar si mas sambil melirik ke bapak Tua.

Terlihat di kejauhan bapak Sepuh kembali memasuki ruangan, duduk dan tersenyum, "Jangan bermain di filsafat saja...karena tulisan esoteris atau 'kasunyatan' bukan 'kasunyatan' sendiri. Tidak bisa menghantarkan seseorang mengalami pencerahan di dalam. Apa yang dimaksud Filsafat? Pilih yang mana? Ini jebakan pertanyaan Pikiran!"

Jebakan pertanyaan pikiran? Si mas heran! "Apa yang panjenengan maksud dengan jebakan pertanyaan pikiran? Bukankah ketika kita mendengar atau melihat hal-hal yang baru bagi kita, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal tersebut pak, sebelum kita memahaminya? Ataukah menurut bapak ketika disampaikan kepada kita tentang hal-hal yang baru, apakah kita seharusnya menekan pertanyaan mana pilihan yang lebih utama diantara hal-hal tersebut?"

Bapak Sepuh tidak segera menjawab pertanyaan si mas. Bapak-bapak yang lain terlihat menikmati apa yang tersaji di hadapan mereka. Lama juga sampai akhirnya ada seorang yang memecahkan kesunyian menanggapi, "Semua ke empat pilihan itu adalah ekspresi, bila mampu ambil empat-empatnya ini hanya metodik berkomunikasi, kalau nggak bisa ya cukup satu yang paling diminati."

"Hmmm...trm ksh, pak. Pada sekilas ada yang berkata "biarkan mereka berfilsafat"...hmmm...menurut panjenengan bagaimana teknik "membiarkan" tersebut, pak? Apalagi ketika timbul pertanyaan tentang apa yang mereka sampaikan, apakah ketika melontarkan pertanyaan tersebut membuat kita 'terjerumus' ke dalam jebakan pertanyaan pikiran? Atakah biarkan mereka berkata apapun yang mereka mau tanpa boleh timbul pertanyaan dari yang mendengarkannya? Hmmm...(red. Jidat si mas berkerut?)..."

"Kita juga harus berterima kasih.kepada mereka yang mendarma-baktikan hidupnya melalui iptek. Mereka iqro' atau membaca.tulisan langsung dari alam. Luar biasa! Maka...menurut saya...(yang sering diobrolkan sama teman-teman). Pilihan terserah masing-masing dengan beragama atau tanpa agama pun silahkan saja mana yang lebih utama dan penting. Kita EGP (red. Emang Gue Pikirin) saja!", kata bapak Sepuh. Cara menyampaikannya halus memang tapi sedikit "menusuk" hati si mas dan beberapa orang.

"Baiklah, pak, saya mulai paham kemana arah pembicaraan bapak. Jangan khawatir pak, saya sudah punya pilihan sendiri hanya saja yang saya maksudkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya adalah saya ingin tahu bagaimana bapak menjelaskan hubungan kasunyatan dengan bagian dalam dari agama (katakanlah non syari'at), apakah bisa dijelaskan atau tidak itu yang ingin saya ketahui dari bapak.

Lalu, apakah 'kasunyatan' itu harus dilakukan bebas-bebas aja tanpa terpengaruh oleh tata krama ataukah tidak, kemarin saya mencontohkan dari sisi Islam, silahkan kalo bapak ingin mencontohkan dari sisi yang lain...yang penting menjawab keingintahuan saya tentang hubungan 'kasunyatan' dengan tata krama.

Menurut saya begini pak, 'kasunyatan' itu harus tetap memakai tata krama. Misal lapar ya solusinya makan biar tidak lapar, tapi makan yang bagaimana ini? Apakah langsung makan milik orang lain tanpa ijin ataukah makan benda apapun di dekat kita ataukah mencari makanan yang layak kita makan ataukah...?

Tentu makan yang halal dan thoyib kan, pak?! Gula itu halal (selama tidak didapat dari mencuri milik orang dan tercampur hal-hal yang dilarang Islam) tapi tidak thoyib bagi penderita penyakit diabetes, jadi yang halal tidak selamanya thoyib...tergantung kondisi kita. Halal belum tentu thoyib dan begitu juga sebaliknya, ini menurut saya nah apakah menurut bapak juga demikian ataukah tidak?

...ini yang ingin saya ketahui dari bapak yaitu bagaimana pendapat bapak, jangan khawatir saya akan memilih yang terbaik bagi diri saya dan orang-orang yang terdekat dengan saya. Matur nuwun."

Si bapak Sepuh kembali diam tidak buru-buru menjawab pertanyaan si mas, padahal si mas sudah makin geregetan ingin mendengar tanggapan bapak Sepuh.

Suasana kembali memanas ketika bapak Tua berbicara, "Cara makan, gosok gigi dll yang saya sampaikan itu adalah sangat erat kaitannya dengan berbagai keterbatasan fasilitas pada masa itu. Artinya ketika Kanjeng Nabi selesai makan, terus tangannya dikelamutin sampai-sampai piringnya pun dijilatin sebenarnya karena kondisi yang saat itu kesulitan untuk mendapatkan air. Gosok gigi pake akar (siwak) yah jelas memang saat itu belum ada pabrik sikat gigi dan odol....ini realitas..!! Lah bagi saya yang terlahir di Negeri yang memiliki kultur budaya berbeda, tentu saja ogah niru-niru perlakuan seperti itu. Apakah lalu saya dikatakan tidak mengikuti sunnah Kanjeng Nabi??? Apakah lantas saya berhak menyandang predikat murtad?"

Si mas kembali mengerutkan dahinya...
"Memang benar bahwa semua yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw itu (menurut Islam) adalah sunnah, yang namanya sunnah itu silahkan dilakukan bagi mereka yang mau dan mampu untuk melakukannya...bagi mereka yang tidak mau dan tidak mampu ya tidak ada paksaan untuk melakukannya. Yang perlu ditanamkan ke dalam diri kita adalah semua yang dilakukan Nabi Muhammad Saw (menurut Islam...Nabi Isa As bagi nasrani, Nabi Musa As bagi yahudi dst) adalah bermanfaat bagi kita, tidak mungkin Nabi Muhammad Saw mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak membawa manfaat bagi kita."

"Apa yang dijelaskan bapak Tua itu baik, korelasinya dengan kemajuan Islam yang update mengikuti zamannya. Sementara si mas memiliki efek stagnan, selalu berafiliasi klasik. Memahami apa yang dipikirkan bapak Tua perlu loncatan pemahaman yang kuat mentalnya untuk tidak takut dituduh sebagai ahli bid'ah."

"Benar pak, menyesuaikan dengan keadaan sekarang memang perlu dan baik sekali, apalagi jika ditambah dengan melakukan ajaran-ajaran atau kebiasaan-kebiasaan orang-orang terdahulu yang dikenal mulia. Melakukan kebiasaan-kebiasaan orang-orang terdahulu tidaklah harus dilakukan dengan tanpa memperhatikan situsasi dan kondisi kita sekarang, justru dengan menyeimbangkan keduanya akan ditemukan kebiasaan-kebiasaan yang cocok untuk diri kita.

Nabi Muhammad Saw memang mencontohkan bersiwak, apakah jika tidak bersiwak kita menjadi murtad? Tentu tidak! Melakukan baik, tidak melakukan karena suatu alasan yang tidak meremehkan hal tersebut adalah boleh...tidak apa-apa. Bagi sebagian orang mungkin terlihat menjijikan tapi sebaiknya menghargai mereka yang melakukannya. Demikian pula sebaliknya.

Memang Nabi Muhammad Saw pernah makan dengan tangan, akan tetapi apakah jika makan pakai sendok itu menjadi ingkar sunnah? Belum tentu, tidak juga...harus dilihat alasannya dulu. Jika alasannya karena membenci Nabi Muhammad Saw maka ini yang lebih baik dihindari (bagi orang Islam khususnya). Jika tidak, maka boleh-boleh saja. Benar, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bagi mereka yang memilih untuk makan tidak pakai sendok dengan alasan ingin ngalap barokah dari kebiasaan Nabi Muhammad Saw maka tidak sepantasnyalah kita memandang sebelah mata, sebab mereka berniat dengan bersungguh-sungguh ingin meniru Nabi Muhammad Saw.

Benar, meniru kebiasaan Nabi Muhammad Saw tidaklah akan bisa kita lakukan dengan 100% sama, hanya saja dengan keniatan karena kecintaan kita kepada beliau Saw maka kita meniru dengan semaksimal yang kita bisa. Meniru semampu kita.", si mas terlihat bersemangat sekali berbicara.

Tidak terasa mereka sudah berjam-jam mengobrol, makanan kecil sudah terlihat habis, gelas-gelas sudah kosong dari tadi tapi tidak menyurutkan obrolan mereka.

Ketika ada yang berpendapat bahwa ada sebagian orang yang mengawali dari syari'at dan ada sebagian yang mengawali dari hakikat, si mas kembali mengatakan yang memulai dari syari'at harus memahami mereka yang memulainya dari hakikat, akan tetapi sekarang ini ada yang mengaku-aku saja sudah memahami hakikat dengan melupakan atau tidak suka bicara syari'at. Berhati-hatilah!

"Padahal setahu saya...", si mas meneruskan bicaranya, "Setiap kepercayaan pasti ada syari'at-nya, syari'at = aturan. Di nasrani tentu ada syari'at, di buddha juga ada, dsb, jadi menurut saya sebaiknya kita tidak melupakan syari'at kita masing-masing. Yang Islam ya pakai syari'at Islam-nya...yang nasrani ya pakai syari'at-nya...yang buddha pakai syari'at-nya dst. Membiarkan sesuai keyakinannya ini saya pahami sebagai ke-universal-an dalam beragama, jadi menurut saya universal itu tidak mencampur-adukan satu keyakinan dengan keyakinan yang lainnya. Dan, satu hal, semuanya tentu ada syari'at-nya, ada aturannya, ada caranya...meski masing-masing berbeda."

Si bapak Tua tidak sependapat dengan si mas, "Pendapat panjenengan akan terbantahkan dengan kisah Musa dan Khidhir mas! Ada masanya syari'at akan runtuh dan gugur jika masuk dalam wilayah hakikat, terlebih lebih masuk dalam wilayah ma'rifat. Jika kita saklek...selalu berpegang kuat di syari'at, maka segala tingkah polah si Khidhir jelas akan batal demi hukum...njih nopo mboten?"

"Syari'at, hakikat dan ma'rifat itu satu paket...tidak dapat dipisah-pisahkan, termasuk dalam hal kasunyatan juga pasti terdapat ketiga hal tsb. Ketika bapak Sepuh dan kawannya mengatakan bahwa 'kasunyatan' tidak bisa dijelaskan dengan syari'at maka saya tidak sependapat sebab tiga hal itu tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap hal pasti ada tiga itu.

Syari'at itu tidak saklek setahu saya pak, ketika kita tidak tahu atau ketika kita lupa atau ketika kita dalam keadaan terpaksa maka syari'at (aturan) ikut menyesuaikan situasi kondisi kita. Saya rasa itu yang terjadi dalam kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidhir As, antara keduanya berbeda pandangan maka syari'at yang mereka pakai juga tidak sama...menyesuaikan saja. Jadi berhakikat pun tetap pakai syari'at, pakai aturan!

Hmmm...pertanyaannya adalah apakah yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Musa As dan Nabi Khidhir As tsb, apakah berarti kita boleh meremehkan syari'at (aturan)? Tentu tidak... Pertanyaan kedua, apakah maqom kita sama dengan maqom Nabi Khidhir As sehingga kita bisa berbuat seperti Nabi Khidhir As? Menurut saya, ilmu kita tidak akan bisa menyamai ilmu para Nabi. Kalau tidak bisa menyamai, apakah kita bisa berbuat seperti Nabi Khidhir As? Hmmm...tentu tidak...!"

...berhati-hati dengan siapa kita berkumpul adalah sangat membantu kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berkumpulah dengan orang-orang yang baik yang mendekatkan dirinya kepada Allah Swt dengan tidak melupakan adab dan tidak juga melupakan syari'at...agar kita mendapatkan manfaat dan barokah.

Friday, February 27, 2009

Mengetahui Kondisi Diri Sendiri

Oleh : Yusa Nugroho

Menuntut ilmu adalah wajib bagi yang mengetahuinya, akan tetapi ketika sudah mendapatkan ilmu jangan lupakan adap karena ilmu tanpa adap (tata krama) hanya akan mempersulit kita. Dengan adap (tata krama) kita akan menghormati dan menghargai orang lain. Tanpa adap kita hanya akan menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, bahkan cenderung merasa diri lebih baik daripada mereka yang dikenal masyarakat sebagai orang mulia, Rosulullah Muhammad Saw misalnya. Sebagaimana tergambar dari obrolan berikut.

Ketika dalam sebuah perkumpulan, ada seorang kawan mengawali obrolan dengan menyampaikan bahwa seseorang berkata sebagai berikut :

"Sudah 2000-an lebih yang masuk Buddha. mari semuanya bergabung sebelum dipukuli ratu adil (ratu adil dulu muslim akhirnya murtad dan masuk agama buddha) dan dibocorin matanya dari jarak jauh. Berusahalah sendiri untuk memahami agama buddha sebelum dipukuli. (pengumuman ini cuma untuk muslim, non muslim bebas bebas saja)."

Dan...

"Saya ratu adil satria pinandhita, dengan ini mengumumkan bahwa, ilmu-ilmu saya sudah rampung untuk menyerang islam yaitu kungfu sakti trisula veda, penantang fu yi, kungfu roda emas dan pedang ksatria, sengatan listrik purba, pedang kosmos bumi dan langit, kungfu-kungfu lain yang tak bisa saya tuliskan semua (kungfu cakar elang, kungfu mustika bayi, kunyuk melempar buah, ha ma kong, dim mak / meremuk tulang menggetar jantung, kungtu tendangan sakti penghancur bumi dan langit seisinya. Dsb. Di bawah majapahit, cuma 4 agama yang diakui yaitu agama buddhi, agama theravada, agama taoism dan agama jedism. Silakan segera ganti agama ke salah satu agama itu, gak beragama pun boleh, asal tak sombong."

Kawan tersebut kemudian bertanya pada yang mendengarkan bagaimana komentar mereka terhadap pernyataan tersebut, ada beberapa komentar misalnya ah biarkan saja, cuek saja, eh kok seperti cerita silat dsb tetapi salah seorang memberikan komentarnya sebagai berikut :

"Kalau dari saya pribadi. Mereka yang beragama hindu, budha , kristen, khonghucu bahkan tidak beragama sama sekalipun bisa ISLAM kok. Memangnya ISLAM untuk siapa? Untuk manusia atau untuk Tuhan...hehehehehe. Mari buktikan saudaraku, sebelum mati raga bisa nggak kita seperti Rasul Muhammad?"

Karena merasa tidak cocok dengan komentar tersebut, seseorang kemudian menanggapinya.

"Hehehehehe...ini membuktikan bahwa Islam itu masih tetap hebat, sampai-sampai orang yang membenci Islam menyiapkan ilmu kanuragan dan kebatinan yang seperti itu untuk menghancurkan Islam. Nah, tinggal bagaimana kita yang mengaku dirinya orang Islam membuktikan ke-Islam-annya.

Tentang apa yang dikatakan tadi yaitu "bisa nggak kita seperti Rasul Muhammad?" Astaghfirullaaahhh...bagaimana bisa bisa seperti Nabi dengan amal kita yang seperti ini? Amal apa yang kita punya? Apa yang sudah kita lakukan untuk sekitar kita? Sudahkah kita membantu mereka yang membutuhkan di sekitar kita? Sudahkah kita berkorban untuk yang kita yakini yaitu Allah Swt dan Nabi Saw? Nabi Muhammad Saw saja tetap sholat hingga bengkak kakinya meski beliau dijamin mendapatkan ridho-Nya, apakah kita sudah sholat hingga kaki kita bengkak seperti Nabi Saw?

Dikisahkan bagaimana Rosululllah Muhammad Saw tidak marah disaat dilempari batu, dicaci maki dsb, beliau Saw tersenyum malah mendoakan dan menolak tawaran menghancurkan orang-orang yang mencaci beliau Saw. Silahkan lihat diri kita, sanggupkah kita berbuat seperti itu? Sanggupkah hati kita tersenyum ketika orang mencaci kita?

Dikisahkan Rosulullah Muhammad Saw bertanya pada shohabat2 beliau Saw apakah beliau Saw pernah menyakiti mereka, kalau pernah maka beliau Saw bersedia menerima balasan yang sama. Ada seorang yang berkata bahwa benar beliau Saw pernah menyakitinya di badan maka dia ingin membalasnya. Rosulullah Muhammad Saw mengijinkan dia meskipun shohabat yang lain tidak setuju. Ketika beliau Saw membuka baju, orang tadi tidaklah menyakiti beliau Saw tapi justru memeluk beliau Saw sebab maksudnya bukan menyakiti Rosulullah Muhammad Saw tapi ingin memeluk beliau Saw. Lihatlah apakah kita mampu berbuat seperti beliau Saw?

Ketika Rosulullah Muhammad Saw mempunyai baju baru untuk sholat dsb setelah lama tidak punya baju baru untuk ganti, datang shohabat meminta baju baru beliau Saw. Rosulullah Muhammad Saw memberikan baru baru itu untuk shohabat tsb meskipun beliau Saw membutuhkannya. Lihatlah apakah kita sanggup memberikan barang terbaru milik kita yang kita butuhkan untuk orang lain yang memintanya? Kita mungkin akan berpikir 100juta kali yang kemudian berujung kita menolak memberikannya dengan alasan kita membutuhkan barang yang dia minta.

Lihatlah kita tidak akan bisa menyamai atau melebihi Rosulullah Muhammad Saw dalam hal apapun juga! Jangan asal bicara tanpa melihat bagaimana amal kita! Bicaralah dengan adap yang baik, ilmu harus dicari tapi jangan lupakan adap. Adap sebaiknya harus lebih banyak daripada ilmu, ilmu tanpa adap hanya akan menjerumuskan kita ke dalam ketersesatan.

Dan, Islam itu hanya untuk mereka yang mengakui Allah Swt sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir. Semua hal itu ada sisi luar dan sisi dalamnya, 'ono njero yo mesti ono njabane', tidak lengkap ber-Islam dengan luarnya saja tanpa mau melihat dalamnya Islam, tidak lengkap juga ber-Islam dengan dalamnya saja tanpa melihat luarnya Islam. Kalau mau Islam ya harus mau menerima sisi luarnya dan sisi dalamnya. Jangan setengah-setengah! Dan, apa yang kita katakan / sampaikan / lakukan adalah mempunyai akibat kepada yang mendengarnya, yang melihatnya dsb."

Setelah beberapa lama, kawan yang memulai obrolon berkata :

"Apik apik apik..pemahaman ini kok mirip dengan saya. Belum lama di sebuah perkumpulan ada yang menulis bahwa guru tidak selamanya lebih daripada muridnya.. suatu hal yang ada dalam ilmu scientific tetapi diaplikasikan pada ranah spiritual.

Menurut saya yaaa.. sampai kapanpun kita tidak akan melampaui Nabi jika kita belajar ilmu-ilmu Islam, bagi umat buddhist selamanya tidak akan lebih daripada guru Sidharta, umat salib selamanya tidak akan melebihi guru Isa.

Dalam waktu lainnya saya katakan pada mereka yang merasa diri...gimana
gitu...saya tanyakan berapa manhour yang telah kita curahkan dalam jalan ini? Pengorbanan apa yang pernah kita buat dibanding apa yang telah dilakukan oleh para master tersebut?

Maka saya mengajak agar kita tahu kondisi diri sendirilah.

Walaupun memang tidak mutlak selalu begitu, ada murid yang lebih daripada gurunya yaitu guru SD dengan mereka para murid yang melanjutkan sekolah melampaui tingkat pendidikan si pak Guru SD-nya."

Friday, January 09, 2009

Sifat Mukmin

Oleh : Bisyaroh

Kalam Al-'Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-'Atthas. Kalam beliau pada majlisnya yang dicatat oleh Asy-Syeikh Al-'Alim Abdurrahman bin Muhammad 'Arfan Baradja.

Berkata Al-Habib Abdullah bin Husin Bin Thohir,
"Terima kasih kepada Allah atas setiap kebaikan yang ada di balik musibah-musibah, yang mana (musibah-musibah) itu memberikan kepada kami ilmu-ilmu yang bermanfaat".

Manusia di dunia ini selalu berubah-ubah hidup di antara kemudahan dan kesulitan, bahagia dan sedih, kaya dan miskin, sehat dan sakit. Manusia (dengan keadaan ini) harus bisa hidup dengan dua keadaan, yaitu keadaan bersyukur dan keadaan sabar, sehingga ia harus bisa bersikap syukur dan sabar.

Berkata seseorang yang hadir (di majlis tersebut),
"Apakah manusia itu masih mendapat pahala jika ia kurang bersabar?".

Sayyidi (Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-'Atthas) menjawab,
"Ya. Ia masih mendapat pahala sesuai dengan kadar kesabarannya dan kadar rasa syukurnya. Tidaklah hilang kesabaran manusia kecuali hanya berkurang dan bertambah."

Kemudian aku (Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad 'Arfan Baradja) bertanya kepada beliau,
"Apakah makna firman Allah Ta'ala , 'Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat gundah atau tidak sabar. Jika ia ditimpa kesulitan, ia berkeluh kesah. Dan jika ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.' (QS. Al-Ma'arij: 19-21)".

Beliau ra menjawab,
"Maknanya adalah sesungguhnya keluh kesah dan sifat kikir itu merupakan suatu bawaan pada watak manusia. Akan tetapi seorang mukmin tidak seharusnya berperilaku yang demikian karena sesungguhnya ia diperintahkan untuk menghilangkan perilaku tersebut. Oleh karena itu, ia akan mendapatkan pahala atas mujahadahnya untuk menghilangkan sifat-sifat itu. (Ketahuilah bahwa) semua sifat itu, baik yang terpuji ataupun yang tercela, ada pada watak manusia. Akan tetapi sifat-sifat yang tergolong terpuji itu harus benar-benar dimiliki oleh seorang mukmin, sedangkan sifat-sifat yang tergolong tercela harus ditinggalkan."

[Majmu' kalam Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-'Atthas, disusun oleh Al-Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad 'Arfan Baradja, hal. 63, manuskrip]

Thursday, December 25, 2008

Thoriqoh Alawiyyah

Kalam : Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Abdullah bin Alawy Al-Atthas

[Diambil dari kitab Al-'Alam An-Nibroos, karya Al-Habib Abdullah bin Alawy Al-Atthas]

Mereka (para Saadatunal Alawiyyin) tidak membuat dirinya tercela di hadapan umum. Mereka tidak suka ditanya tentang amal perbuatan yang mereka lakukan dan mereka juga tidak suka menanyakan amal perbuatan orang lain. Jika sampai kepada mereka suatu berita bahwa seseorang dari pejabat pemerintahan berkeinginan berkunjung ke majlisnya, mereka akan menutup majlisnya itu. Jika orang-orang tersebut tiba-tiba sudah terlanjur datang di majlisnya, mereka tidak menyukainya dan akan mempersingkat majlisnya.

Mereka adalah orang-orang yang berzuhud dari dunia dan kepemimpinan, bersikap qona'ah, dengan merasa cukup di dalam hal pakaian, makanan dan tempat tinggal. Mereka tidak membangun tempat tinggal kecuali yang diperlukan saja. Mereka tidak suka menerima pemberian apapun dari penguasa dan staf-stafnya, meskipun mereka sendiri memerlukannya. Bahkan mereka merasa berkecukupan dengan sepotong roti yang halal atau sebuah kurma. Jika mereka tidak mempunyainya, mereka lebih memilih berpuasa, sampai mereka mendapatkannya yang halal. Mereka tidak bergembira jika mendapatkan harta dan tidak bersedih jika kehilangan harta. Seringkali terjadi jiwa mereka merasa lega jika harta itu pergi dari mereka. Sebagian dari mereka terkadang satu dua bulan tidak makan apa-apa kecuali kurma. Terkadang mereka hidup tanpa dapat berganti-ganti pakaian dalam waktu yang panjang.

Mereka tidak suka memaksa keluarganya untuk memasakkan makanan baginya. Mereka tidak pernah mengendarai kuda, tidak memakai pakaian mewah, tidak memakan makanan yang lezat, tidak duduk diatas kursi dan tidak tinggal pada bangunan yang mewah, kecuali (ya Allah, semoga saja demikian) mereka memastikannya halal. Adakalanya mereka mengenakannya jarang-jarang, atau mengenakan apa-apa yang tidak akan menjadi hisab di hadapan Allah, bahkan adakalanya juga baju yang mereka kenakan lebih mahal daripada bajunya raja-raja.

Mereka tidak suka menimbun makanan, karena semata-mata ingin mengosongkan tangannya dari dunia. Terkadang sebagian dari mereka menyimpan makanan untuk kepentingan keluarganya, demi semata-mata ingin mengikuti perbuatan Nabi SAW atau juga sebagai penenang jiwanya karena rasa gelisah atau tuduhan yang adakalanya terjadi atau juga karena kuatir disangka rejekinya didapatkannya dari jalan kasyaf. Setiap dari mereka mengutamakan mencari rejeki yang halal untuk memenuhi keperluan-keperluannya. Mereka juga menafkahkan hartanya untuk memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tak berpakaian dan melunasi hutang orang yang tak sanggup membayar hutangnya.

Tuesday, December 23, 2008

Perbuatan yang Sia-Sia

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Banyak diantara kita yang melakukan hal yang tidak bermanfaat dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, yang rugi, meskipun banyak amalnya. Seharusnya kita melakukan kebaikan, melakukan banyak hal yang bermanfaat. Berikut adalah perbuatan yang sebaiknya kita dihindari, yaitu sebagai berikut :

1. Berdo'a hanya untuk diri kita sendiri.

Sebaiknya jangan berdo'a untuk diri kita sendiri, tapi berdo'alah juga untuk orang-tua kita, keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita dan orang-orang islam atau mukmin lainnya. Dan, jangan hanya berdo'a demi kebutuhan duniawi saja, bermohon juga kepada Allah Swt untuk urusan dan kebutuhan akhirat kita semua.

2. Tidak membaca Alqur'an dalam sehari meski satu ayat pun tidak, padahal kita bisa dan mampu membaca Alqur'an.

3. Tidak mau sholat Tahiyatul Masjid ketika masuk Masjid, padahal masih cukup waktu untuk melakukannya sebelum sholat berjama'ah dimulai.

4. Tidak memberi salam kepada ahli qubur ketika melewati pemakaman.

Adalah suatu kebaikan membacakan dan menghadiahkan salam, bacaan Alqur'an atau sholawat ketika melewati pemakaman. Jadi biasakan ini ketika melewati pemakaman kaum muslim!

5. Mampu bepergian pada hari Jum'at tetapi tidak mau melakukan sholat Jum'at.

6. Berkunjung atau silaturrohim kepada orang alim (berilmu) tetapi tidak mau meminta do'a darinya.

Ziaroh (berkunjung) bukan hanya dilakukan kepada orang yang sudah meninggal saja, ziaroh kepada orang alim (berilmu) yang masih hidup adalah sangat penting untuk dilakukan. Dengan mengunjungi orang alim yang masih hidup, kita bisa mengambil banyak manfaat dari beliau lewat nasehat-nasehat beliau atau lewat kebiasaan baik beliau yang bisa kita tiru.

7. Menggunakan waktu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan anak muda menyia-nyiakan waktu mereka untuk bersenang-senang yang kurang membawa manfaat atau pun berfoya-foya, sebaiknya hindari menyia-nyiakan waktu ini sebab waktu adalah modal kita untuk menambah ibadah kepada Allah Swt. Dikatakan oleh Al Imam Ghozali bahwa waktu adalah sesuatu hal yang terjauh, yang maksudnya adalah begitu sudah lewat maka kita tidak mungkin bisa mengulanginya lagi.

8. Tidak peduli pada tetangga sekitar apakah lapar atau tidak, padahal kita mampu membantunya.

9. Tidak menghadiri undangan teman padahal kita tidak punya udzur (halangan) untuk mengahadirinya.

Thursday, November 06, 2008

Narimo Ing Pandum

Oleh : Ki Ageng Suryomentaram

Saklumahing bumi sakurebing langit puniko mboten wonten barang ingkang pantes dipun oyo-oyo (ngoyo), dipun padosi utawi dipun ceri-ceri (dipun siriki), dipun tampik.

Jalaran barang ingkang saged kecepeng sarono pangoyo-oyo puniko mboten murugaken bejo, nanging namung murugaken bingah sakedhap.

Kosok wangsulipun, barang ingkang dipun ceri-ceri, nanging meksa kecepeng, puniko mboten murugaken ciloko, nanging namung murugaken sisah sakedahap.

Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia adalah sbb :

Di dalam bumi dan langit yang terbentang luas ini tidak ada barang yang pantas dipaksakan, dicari atau dibenci, ditolak.

Sebab barang yang kita dapatkan dengan cara yang memaksakan diri kita tidaklah mendatangkan keberuntungan, tapi hanya mendatangkan kebahagiaan yang sekejab.

Sebaliknya, (jika) kita mendapatkan barang yang kita benci (maka) sama sekali tidak mendatangkan kecelakaan, tapi hanya mendatangkan kesusahan yang sekejab.

Wednesday, November 05, 2008

Sumringah

Oleh : Yusa

Berikut nasehat Ki Ageng Suryomentaram :

"Tiyang punika gadhah pamanggih, yen karepipun kelampahan, utawi ingkang dipun maksudakaen kacepeng, utawi punapa dipunajeng-ajeng kaleksanan, mesthi beja, bungah sajege, lan kosok wangsulanipun, cilaka, susah sajege.

Pamanggih makaten punika lepat!

Sampun pinten-pinten karep ingkang kelampahan, inggih boten beja boten punapa, dene kosok wangsulipun, inggih boten cilaka, boten sisah sajege boten punapa.

Dados saking kelampahan utawi boten kelampahanipun karep tiyang boten saged beja utawi cilaka. Ingkang dipun raosaken tiyang, namung gek bingah gek sisah.

Boten wonten bungah ingkang boten katutan susah, lan ugi boten wonten susah ingkang boten katutan bungah."

Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia :

"Orang itu mempunyai pendapat bahwa jika keinginannya terwujud, atau apa yang dimaksud berhasil, atau apa yang diimpikan terlaksana, pasti beruntung, bahagia selamanya. Dan sebaliknya (yaitu jika keinginannya tidak terwujud), (maka) celaka selamanya.

Pendapat seperti itu salah!

Sudah berapa pun keinginan yang terwujud, tidak beruntung tidak masalah, begitu juga sebaliknya yaitu tidak celaka, tidak susah selamanya juga tidak masalah.

Jadi, terwujud atau tidak terwujud keinginan kita, tidak menyebabkan bahagia atau celaka. Yang dirasakan orang, hanya sedang bahagia, sedang susah.

Tidak ada kebahagiaan yang tidak terlepas dari kesusahan, dan tidak ada kesusahan yang tidak terlepas dari kebahagiaan."


Lalu, seseorang menjelasan sbb :


"Siro ajeg-ko, ojo susah ojo seneng! Kuwi mau amargo pamrih ngundhat-undhat hasile opo sing siro kerja-ake."


Kamu jangan susah, jangan senang! Tapi tenang, tidak susah tidak senang, tapi "sumringah"-lah! Berseri-seri wajahnya, tidak terlihat sedang sedih atau sedang punya masalah...juga tidak terlarut yang berlebihan ke dalam kesenangan. Berseri-seri...! Sebab yang dijelaskan Ki Ageng Suryomentaram di atas karena kita selalu berharap ada hasil sesuai dengan yang kita harapkan ketika kita melakukan sesuatu.

Berharap itu boleh tapi jangan menyebabkan kita kecewa, susah dan beranggapan kita celaka selamanya kalau harapan kita tidak terwujud.

Ada kawan bilang, "Kalau tidak ingin kecewa, ya jangan punya keinginan! Kalau punya keinginan, ya siap-siap kecewa!"


Meredam kekecewaan sama dengan meredam hawa nafsu. Hawa nafsu bisa diredam dengan :
1. Mengalihkan perhatian
2. Memenuhi sebagian
3. Menunda-nunda

Kalau pesan Raden Kartono, amal ya amal saja, keluarkan saja, jangan memikirkan apa-apa. Bantu ya bantu saja dengan sepenuh hati.

Sumringah...berseri-seri...ya hatinya ya wajahnya...

Pleonoxia

Oleh : Goenawan Muhammad

Apa gerangan yang akan dikatakan pangeran Jawa yang meninggalkan istana itu, Ki Ageng Suryomentaram, seandainya ia hidup pada hari ini? Seandainya ia berjalan di Sudirman Business District, Jakarta, antara Pacific Place yang memamerkan benda-benda mentereng dan ruang BEJ di mana harga saham rontok, para pemilik dana panik, dan di langit-langitnya bergaung rasa cemas?

Mungkin inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng:
"Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin."

Tapi mungkin tak seorang pun akan memahaminya.

Ia memang lain. Ia lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta. Ia pangeran ke-55 di antara sederet putra Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya seorang garwa ampilan (istri selir). Pengeran kecil ini bersekolah di Srimenganti, yang dikelola istana. Pendidikan formalnya tipis, tapi ia berbahasa Belanda dengan baik, dan kemudian belajar bahasa Arab dan Inggris. Dan ia membaca.

Pada umur 18 ia jadi Pangeran, dengan gelar "Bendara Pangeran Harya Suryomentaram". Kita tak tahu bagaimana hidupnya pada masa itu, tapi ada sebuah kejadian yang membuat masa depannya berubah.

Dalam sebuah tulisan yang dimuat jurnal Archipel (nomor 16, tahun 1978), Marcel Boneff menceritakan kembali kejadian itu. Pada suatu hari, dalam perjalanan ke sebuah pesta perkawinan di Keraton Surakarta, dari jendela kereta api sang Pangeran melihat ke luar. Di bentangan sawah, sejumlah manusia berkeringat, bersusah payah,
mencari sesuap nasi. Sementara itu di gerbong itu ia duduk dengan megah dan nyaman: kenikmatan yang diperolehnya semata-mata karena ia dilahirkan di suatu tempat yang tak harus diraih. Bisakah ia berbahagia?

Sejak itu Suryomentaram mempertanyakan hal yang oleh orang lain didiamkan: arti benda bagi hidup, arti punya bagi manusia.

Dalam bahasa Jawa ada dua kata yang hampir mirip, milik dan mélik. Yang pertama berarti "punya" atau "harta". Yang kedua berarti "keinginan yang cemburu untuk mendapatkan sesuatu".

Kini milik begitu penting dan mélik dilembagakan sebagai perilaku yang wajar; keduanya dianggap bagus buat pertumbuhan ekonomi. Dan jika dari kesibukan dengan milik dan mélik itu lahir sifat tamak, Sudirman Business District adalah saksinya. Di sini bergema kata-kata Walter Williams, ekonom dari George Mason University, tentang the virtue of greed: "Sebutlah itu tamak, atau egoisme, atau kepentingan diri yang tak sempit, tapi akhirnya motivasi inilah yang membuat hal ihwal jadi".

Mungkinkah itu sebabnya "pasar"-yang digerakkan milik dan mélik-tak mudah ditertibkan oleh Negara? Bank sentral dan kementerian keuangan di seluruh dunia bergerak. Mereka hendak membendung arus jatuh pasar saham, yang makin mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan. Tapi sejauh ini sia-sia. Sejauh ini tampak bahwa Negara, yang bekerja untuk kepentingan umum, tak berdaya menghadapi pasar yang tamak yang tak mengacuhkan res publica.

Yang tak selamanya disadari adalah cepatnya gerak milik dan mélik pada zaman ini. Bersama cepatnya alir kekayaan dari tempat ke tempatnya, itulah globalisasi terjadilah akselerasi hasrat. Kepuasan akan satu benda dengan segera dihapus oleh hasrat baru. "Benda"-yang telah berubah jadi komoditas kini jadi lambang kebaruan. Maka ada orang yang punya 10 mobil Jaguar: ketika puas hilang, satu Jaguar lagi terbilang. Terus-menerus.

Menyimpan akhirnya jadi tak menarik. Masa depan, ditandai dengan yang "baru", jadi kian cepat tiba. Menabung kehilangan alasannya. Kapitalisme zaman ini makin mengukuhkan dalil Leon Levy ("investor genius dari Wall Street", kata majalah Forbes), bahwa "tiap satu persen tabungan naik di masyarakat, laba perusahaan akan turun 11 persen".

Ada yang patologis dalam gejala itu. Kita hidup dengan "pleonoxia", penyakit jiwa yang didera keinginan segera mendapatkan lagi, lagi, lebih, lebih.

Itu sebabnya saya teringat Ki Ageng Suryomentaram. Apa gerangan yang akan dikatakannya? Pada masa hidupnya, ia tauladan. Ia melihat bagaimana pleonoxia datang setapak demi setapak. Pangeran itu mencegahnya dengan drastis: ia meninggalkan keraton. Sebelum umurnya 30, ia mengajukan surat agar gelar Pangerannya dibatalkan. Salah satu bangsawan terkaya di Yogyakarta ini pun memberikan mobilnya kepada sopirnya, menyerahkan kuda-kudanya kepada pekatiknya. Lalu ia berangkat ke arah Banyumas. Ia memakai nama "Notodongso" dan praktis menghilang. Ketika Raja menyuruh orang mencari putranya yang ganjil ini, mereka menemukannya di Kota Kroya: sedang menggali sumur.

Apa yang dicarinya? "Suprana-supré né, aku kok durung tau kepethuk wong," konon begitulah yang dikatakannya. "Selama ini, aku belum pernah berjumpa manusia." Ia tahu, manusia lebur di antara milik dan mélik.

Syahdan, ia pun memilih hidup sebagai petani di Dusun Bringin. Orang melihatnya selalu hanya memakai kathok pendek hitam, tak bersandal. Di lehernya terkalung sehelai batik bermotif parang rusak barong yang konon melambangkan resistansi. Mungkin dengan itulah manusia muncul, kadang-kadang: dalam menampik tamak, ia mencintai hidup dengan cara sederhana, menghargai liyan dengan mulut membisu.

Syahdan, pada suatu hari ia hendak pergi naik bus. Menjelang masuk, seorang penumpang lain yang menyangka Suryomentaram seorang kuli menyerahkan sebuah koper agar diangkat. Dengan patuh Ki Ageng meletakkannya di dalam bus dan segera setelah itu, ia turun lagi. Ia membatalkan pergi. Ia tak ingin penumpang tadi jadi malu, telah salah menyuruhnya.

Begitu merendah seorang yang tak akan kelihatan dari lantai tinggi Sudirman Business District, seorang yang seakan-akan menunjukkan: "Lihat, tanganku di dekat akar rumput. Lebih banyak yang bisa kita sentuh. Lebih banyak ketimbang yang bisa kau rengkuh."

Friday, October 31, 2008

Nikmat di Dunia dan Akhirat

Oleh : Yusa

Masih dua hari yang lalu, saya diam mendengarkan nasehat yang disampaikan pada saya :

"Ati iro gambarane tingkah laku iro. Ati-ati! Aji panglipur loro iro reksanen kanthi temenan. Surgo ndunyo pawujude surgo akherat."

Adapun terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah sbb:

"Keadaan hatimu adalah cerminan dari tingkah lakumu. Berhati-hatilah! Ingatlah baik-baik bagaimana caramu menghibur kesedihanmu! Surga di dunia adalah perwujudan surga di akhirat."

Ibarat teko isi kopi, jika dituangkan tentu kopi yang keluar. Begitu juga dengan hati, apapun isi hati kita atau bagaimanapun keadaan hati kita akan terwujud lewat tingkah laku dhohir kita.

Dikala kita melakukan keburukan maka hati kita akan buruk pula keadaannya. Begitu juga sebaliknya, jika hati kita menolak atau senantiasa menunda-nunda untuk melakukan kebaikkan, maka kita pun belum akan melakukan kebaikkan.

Jika hati kita senantiasa berburuk sangka pada Allah Swt atau pada makhluq-Nya, atau kita merasa iri dengki melihat keberhasilan orang lain sehingga meng-halal-kan segala cara untuk melebihi mereka, atau merasa diri kita paling benar, sombong, berbohong, malas, terlalu panjang angan-angan dan tidak peduli pada perintah, imbahuan atau larangan-Nya, maka tingkah laku perbuatan kita juga akan melakukan hal-hal yang buruk. Segala yang kita lakukan jauh dari kebaikkan yang membawa manfaat untuk diri kita dan orang lain. Kita akan menolak untuk berbuat baik jika hati kita tidak tertarik pada kebaikkan. Tapi jika hati sudah tertarik pada kebaikkan maka kita menerima kebaikkan.

Dari tingkah laku kita bisa terlihat bagaimana keadaan hati kita, dan dari hati kita bisa kita lihat bagaimana tingkah laku kita. Jadi berhati-hatilah,jagalah hati dan tingkah laku kita!

Memperbaiki keadaan hati agar mau menerima kebaikkan bisa menjadikan kita tergerak untuk melakukan kebaikkan lewat berbagai amal ibadah dhohir. Sebaliknya, memperbaiki perbuatan dhohir kita dengan mengerjakan berbagai amal ibadah bisa menjadikan keadaan hati kita lebih baik, lebih lembut.

Terkadang memang kita harus memaksa diri kita dengan mengerjakan yang kita mampu dulu. Biar sedikit asal rutin dan terus menerus insya Allah lebih baik daripada banyak tapi sebentar.

Memperbaiki keadaan hati dan dhohir kita bisa menghibur kesedihan kita. Jika kita senantiasa bergembira maka semuanya akan lebih menyenangkan dan kita akan lebih mudah mengerjakan kebaikkan. Disaat kita mudah melakukan kebaikkan maka ini nikmat dari Allah Swt yang dikaruniakan pada kita didunia.

Nikmat di dunia insya Allah menjadikan kita dikaruniakan nikmat di akhirat. Amin.

Setidaknya ini yang saya pahami dari penjelasan beliau.

Thursday, October 30, 2008

Penghibur Kesedihan Hati

Oleh : Yusa


"Jagad iro reksanen! Kamanungsan iro wujud palinglipure ati iro. Ojo susah, ojo bungah amargo kahanan!"

Kemarin sore lepas Ashar saya kedatangan banyak tamu. Setelah basa-basi sebentar, salah seorang diantara mereka menyampaikan nasehat dalam bahasa Jawa seperti di atas kepada saya. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah sbb:

"Jagalah benar-benar keadaanmu! Apapun yang ada pada dirimu dan apapun yang kau miliki merupakan penghibur kesedihan-kesedihan hatimu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan atau pun kegembiraan terhadap apapun yang kau alami!"

Tatkala kita mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari orang lain atau bahkan dari teman kita sendiri, hati kita tentu akan sedih karena merasa diabaikan dan kehadiran kita tidak dianggap.

Sedih itu wajar tapi sedih bukanlah tujuan kita tapi bahagialah tujuan kita, harapan kita dan yang kita dambakan. Kalau benar kebahagiaan adalah impian kita maka segala hal disekitar kita dan segala yang kita lakukan harus bisa kita jadikan penyebab untuk menggembirakan hati kita.

Semua disekitar kita bisa menggembirakan hati kita asalkan kita mau membiarkan hati kita terbuka untuk menerima apapun yang kita alami. Kalau tujuan kita adalah kebahagiaan maka kehilangan satu hal tidak akan membuat kita sedih sebab kita masih bisa berbagi kebahagiaan dengan hal yang lain disaat yang sama.

Kita tidak diundang untuk menghadiri acara teman kita atau kita diabaikan oleh teman kita tidak akan membuat kita sedih dan tidak akan menghentikan kita untuk bisa berbagi kebahagiaan dan kegembiraan dengan orang lain di sekitar kita. Kalau orang-tua kita yang ada di dekat kita maka bahagiakan mereka, senangkan hati mereka, bantulah mereka, luangkan waktu lebih banyak bersama mereka dengan memanfaatkan apapapun yang kita punya. Siapa pun yang di dekat kita, bahagiakan mereka.

Kegembiraan tidak dibatasi jarak dan tidak dipengaruhi jarak. Selama hati kita gembira maka mereka akan merasakan kegembiraan seperti yang kita rasakan meski mereka jauh dengan kita. Apa yang datang dari hati akan sampai ke hati pula.

Tapi ingatlah bahwa jangan terlalu bersedih dan bergembira sebab terkadang hawa nafsu kita membuat kita larut dalam kesedihan kita dan terkadang membuat kita larut dalam kegembiraan kita sehingga membuat kita lupa pada Allah Swt dengan merasa diri kita lebih baik daripada orang lain. Sedih boleh asal jangan berlarut-larut, dan gembira lebih baik daripada sedih asal jangan berlebihan.

Wednesday, October 29, 2008

Thoriqoh "User-Friendly"

Oleh : Habib Ismail F. Alatas - Milis Zawiya


Great discussion guys,

Hanya menambahkan sedikit apa yang ditulis saudara Hani Ba'agil (di bawah). Konsep tariqah Muqarrabun & Tariqah Ashabul Yamin bukan konsep yang diperkenalkan oleh Habib Abubakar Adni al-Mashhur tetapi adalah konsep yang digunakan oleh Imam al-Haddad pada saat beliau memformulasikan bentuk baru untuk tariqa 'alawiyya yang lebih umum dan 'user friendly'. Jelas, bahwa di zaman al-Haddad, sudah terjadi banyak perubakan struktural pada masyarakat Hadramaut, khususnya menyusul perebutan kekuasaan oleh bangsa Yafi'i.

Kondisi politik yang tidak menentu, pergulatan kekuasaan antara qabilah-qabilah Hadramaut dan Yafi'i menyebabkan institusi lama yang sebelumnya efektif dalam mempertahankan perdamaiaan dan stabilitas tidak lagi berjalan. Institusi Mansobah misalnya, yang sebelumnya cukup efektif dalam penyebaran agama dikalangan para qabail dan menjaga perdamaiaan antar mereka tidak lagi efektif seperti sebelumnya. Hal ini dikarenakan Qabilah-qabilah Yafi'i tidak mengakui otoritas spiritual para munsib selain al-Syaikh Abubakr (karena Habib Husein b. Syaikh Abubakr-lah yang pertama membawa kaum Yafi'i untuk memperkuat kesultanan Kathiri I dimasa Sultan Badr Bu Tuwayriq).

Interpretasi ana dalam membaca beberapa karya al-Haddad khususnya Tasbit al-Fu'ad, dimana beliau banyak melancarkan kritik sosial dan politik terhadap masyarakat Hadramaut dizamannya (dan juga di koleksi inilah beliau memperkenalkan Tariqa Ashabul Yamin as oppose to Tariqa Muqarrabun), adalah bahwa ada semacam ketidak-puasan dalam benak al-Haddad akan tasawwuf elitis yang selama ini diajarkan dalam di Hadramaut dimana hanya golongan Ba'alawi dan sebagian dari Masyaikh yang memperoleh banyak manfaat. Bagaimana dengan golongan Qabail, Fallah, Masakin yang sebetulnya merupakan letak dari problematika sosial di Hadramaut kala itu? Ungkapan-ungkapan al-Haddad di Tasbitul Fuad terkesan sangat elegiac dan kelam hingga beliau sempat terpikir untuk berhijrah dari Hadramaut ke Mirbath tetapi karena beban keluarga, wanita dan anak-anak, beliau mengurungkan niatnya ('Wa lanā mawḍi’ hijra illa mirbat, lakin ma yumkinuna dhalik li ajl al-makalif wa al-sighar wa nahwihim,’ Tathbit al-Fuad, vol. I, p. 72). Mungkin analogi yang bagus adalah membandingkan ketidak-puasan al-Haddad di beberapa bagian Tasbit al-Fuad dan kemurungan Ghazali di bagian awal al-Munqidz min al-Dzalal.

Al-Haddad yang murung kemudian mulai memformulasi pemikirannya guna membawa perubahan yang lebih baik di Hadramaut. Beliau melihat dua level yang harus secara bersamaan di benahi karena kedua tigkat ini sangat komplementer. Ana pernah menulis tentang hal ini untuk sebuah artikel, dan dibawah ini ada paste-kan beberapa bagian dari paper tersebut mengenai dua solusi yang diberikan al-Haddad:

1. On the individual level, al-Ḥaddad asserted the importance of the Ṭariqa for people. He noted the elitist nature of the Ṭariqa ‘Alawiyya, in that directional practices were only given to the elites, leaving the cult of saints for the masses. For al-Ḥaddad, character and moral developments for every members of the society are what were needed in Hadramaut. In order to do this, al-Ḥaddad reconstructed the method (manḥaj) of Ṭariqa ‘Alawiyya from its elitist form to become a more popular and achievable spiritual path. The idea was to generate participation from broader public to practice the Ṭariqa. The new form of Ṭarīqa ‘Alawiyya was what al-Haddad termed as Tariqa Ashab al-Yamin (the way of the people of the right hand) as oppose to the old Tariqa al-Muqarrabin (the way of the drawn near). According to al-Haddad, the practices of the past had become unbearable for his generation. The past generation had stronger certainty (yaqin), they had more of what is lawful and were closer to the time of the Prophet. For al-Haddad, people of his generation should not look at the devotions of great sufi masters such as Bishr or al-Fud ayl as even the companions of the Prophet did not do as much as they. For al-Haddad, hard devotional efforts (riyad a) and retreat (‘uzla):

"are inappropriate in this age that lacks their specific conditions, such as lawful (h alāl) provision and other things. Those who base their affair on maintaining their obligatory acts of worship, avoiding prohibited things, performing what supererogatory acts (nawafil) they can, enjoining good and forbidding evil, assisting the weak, helping the needy or taking charge of his expenses, and other similar things, and firmly keep to this, may yet obtain that which [earlier people] had obtained through their devotional efforts and retreats."

See: ‘Abd Allah b. ‘Alawi al-Haddad, Tathbit al-Fuad, vol. I, pp. 30-33. The direct quotation is from p. 33.


2. In regards to the society, al-Haddad championed the establishment of a strong state (dawla), ensuring a functioning society based on the sacred law (shari’a). In 1702, he composed a book entitled al-Da’wa al-Tamma wa al-Tadhkira al-‘Amma [The Complete Calling and the General Reminder] consisting of critiques of the society. He classified society into eight categories: scholars, sufis, kings and rulers, merchants and craftsmen, the poor and the weak, dependents such as women, children and servants, common people and non-Muslims. Al-Haddad explains the responsibilities and duties of each classes within shar’i framework. This book can be seen as a blueprint for a utopia based on shar’i rules. Al-Haddad therefore offered an alternative way for the ordering of society, which reflects his background as a sedentary, land owning and learned gentleman.

Pemikiran yang disodorkan oleh al-Haddad ini merupakan sebuah perubahan paradigma, dan disinilah letak dasar dari pemikiran-pemikiran Ba'alawi pada masa selanjutnya. Legacy al-Haddad terus hidup dalam pemikiran sesudahnya yang tetap melihat al-Haddad sebagai reformer par excellence. Konsep masyarakat yang ditulisa dalam Da'wa al-Tamma misalnya, diusung kembali dengan sophistikasi yang lebih dalam oleh H. Ahmad b. 'Umar bin Sumayt. Bukan hanya dalam bentuk teori, Ibn Sumayt juga turut mencoba mempraktekan sistem masyarakat baru di Shibam pada zamannya. Banyak kemiripan antara al-Haddad dan Ghazali, tentu ini merupakan subjek yang sangat menarik untuk mutalaah dan research lebih lanjut serta pembacaan-pembacaan ulang terhadap karya-karya beliau.

Mungkin itu saja, sebagai apresiasi terhadap diskusi yang sangat menarik!


Ismail F. Alatas
Doctoral Program in Anthropology and History
University of Michigan
1029 Tisch Hall
435 South State St.
Ann Arbor (MI), 48109-1003
Email: ifalatas@umich.edu

How To Be...

Oleh : Hany Ba'agil - Milis Zawiya

Rumusan istighfar - salawat - tahlil juga bisa ditemukan di Tarbiyah Ruhiyah, Sa'id Hawwa. Ia mengatakan bahwa bagi pemula hendaknya membaca masing-masing tadi 70.000 kali. Beberapa kawan pernah mempraktekkan hal ini dan hasilnya menakjubkan.

Imam Haddad dalam Adab Sulukil Murid mengatakan bahwa bagi pemula, yang terbaik adalah meperbanyak kalimat tahlil Laa ilaaha illallah. Lalu dalam kitabnya yang lain (kalau tidak salah di Risalah Mu'awanah) Imam Haddad menambahkan istighfar dan shalawat. Dan ahli nihayah akan kembali ke zikir Laailaaha illallah.

Berkenaan dengan "Tasawuf yang disederhanakan", al Habib Ali al Jufri pernah berbicara sesuatu yang mungkin mirip: Tasawuf Umum dan Tasawuf Khusus. Dalam dakwah untuk masyarakat umum, yang dibawakan adalah tasawuf umum.

Mungkin saja yang tersebar pada masa generasi salahuddin dan sebelumnya diantara masyarakat awam adalah tasawuf umum ini.

Kalau saya denger dari kawan, bahwa Habib Abubakar Adni al Masyhur (bukan alaydrus, dan masih hidup, murid Habib Abdul Qodir bin Ahmad), mengkategorikan ada toriqoh ashabul yamin dan toriqoh al muqorrabun. Toriqoh ashhabul yamin adalah toriqoh mendekatkan diri kepada Allah dengan perjalanan yang perlahan step by step, lebih sesuai untuk kebanyakan orang.

Sedangkan toriqoh al muqorrabun adalah jalan tol masuk ke hadirat Allah. Memerlukan tekad baja, dan resikonya juga besar, dan beliau mengatakan bahwa ini kurang sesuai untuk zaman ini.

Umat haus akan tasawuf, tapi ketika baca literatur tasawuf mereka merasa bahwa tasawuf itu adalah sesuatu yg di luar jangkauan. Sehingga mungkin memang perlu dikemas: tasawuf yang mudah dicerna.

Sebenarnya kalau kita melirik ke buku-buku Imam Haddad, akan kita dapati tasawuf yang mudah dicerna, (bahkan kata-kata 'tasawuf' pun sulit atau tidak banyak kita temukan), dan pendekatannya sederhana sekali dan simpel serta mudah diikuti. Bahkan sangat praktis, tinggal diamalkan step by step. Kalau kita ibaratkan, buku-buku Imam Haddad itu seperti buku-buku "How To": "How to be a wali in 30 days", "How to achieve maqom ridho in 3 months".

Al Habib Umar mengatakan bahwa mengamalkan kitab Risalah Mu'awanah akan menyampaikan seseorang kepada Allah.

Wallahu A'lam.

Tasawuf

Berikut dari habib Husein bin Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad Alhabsyi - Solo :


Prof. KH Ali Yafie melihat banyak pelajaran yang tetap relevan diteruskan sekarang dan untuk masa depan dari tradisi tasawuf dan tarekat sekaligus. Mantan ketua MUI ini pun menyarankan, pengertian tasawuf harus disederhanakan agar gerakan sufisme menjadi lebih efektif dan mudah dipraktekkan. "Terlebih dalam suasana dimana nafsu liar telah menguasai kebanyakan umat manusia, kita perlu menyederhanakan pengertian tasawuf itu agar nilai moral yang dikandungnya mudah diserap dan gampang dipraktekkan," begitu katanya dalam satu kesempatan.

Secara diam-diam, Guru Besar Universitas Islam Asy-Syafi'iyyah ini ternyata tengah mengembangkan rumusan ajaran tasawuf yang lebih sederhana dan mudah dijalankan. Disebuah pesantren yang dimpinnya, dibilangan Desa Sukamaju, Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, Prof. KH Ali Yafie mencoba untuk membumikan kembali rumusan nilai-nilai sufisme dalam konteks kekinian dan kedisinian.

Bagaimana pandangan Prof. KH. Ali Yafie melihat realitas sosial kehidupan bangsa akhir belakangan ini, sejauh mana pengaruh nafsu liar itu berpengaruh pada aktifitas dan kreatifitas bangsa ini, apa maksud nilai-nilai tasawuf yang disederhanakan serta bagaimana langkah riil yang dipilihnya untuk membumikan tasawuf dalam konteks kekinian dan kedisinian, berikut wawancara Cahaya Sufi dengan Ketua Badan Pengelola Pesantren Kepemimpinan Amanah beberapa waktu lalu:


Cahaya Sufi (CS):
Bagaimana komentar Anda menyaksikan nasib buruk yang seolah tidak berkesudahan di alami bangsa ini?


Ali Yafie (AY):
Sangat memprihatinkan.


CS:
Maksud Anda?


AY:
Kondisi umat semakin parah. Sekarang kita menjumpai banyak orang yang tak punya rasa malu. Ada orang yang menipu dengan rasa bangga. Ada orang yang sehari-hari berbicara rohani, tapi inti hidupnya jauh dari atmosfir rohani. Ada orang yang tiap saat berbicara keadilan tapi kredo hidupnya sangat memusuhi dan bertentangan dengan keadilan. Ada orang yang tiap saat bicara sikap anti kekerasan tapi hidupnya memuja kekerasan. Ada orang yang tiap hari bicara kemanusiaan tapi watak dasarnya anti kemanusiaan. Rakyat menjadi saksi digantikannya para koruptor dengan koruptor-koruptor yang lain. Sejarah berputar dari mulut singa ke mulut buaya.


CS:
Bukankah masyarakat kita masyarakat yang religius dan dakwah di stasiun televisi juga marak?


AY:
Betul, tapi sayang, pemahaman keagamaan masyarakat kita masih sangat dangkal sekali. Dan ini yang membuat setiap keputusan yang diambil lebih karena hawa nafsunya masing-masing. Ya, seleranya sendiri-sendiri, organisasinya sendiri, partainya sendiri. Akibatnya semua yang dilakukan terasa seperti buru-buru dan dangkal sekali. Kaum pemikir pun berpikir sangat buru-buru dan rela membayar mahal berupa kehilangan kedalaman renungan. Para penentu kebijakan merumuskan kebijakan secara buru-buru dan darurat. Target sasaran meleset. Dan suasana dakwah keagamaan kita, dakwah lewat televisi maupun diatas mimbar, dimana-mana didominasi sikap serba normatif.


CS:
Implikasi berikutnya?


AY:
Nafsu itu senanitasa diliputi oleh prilaku buruk dan ia memiliki karakter untuk selalu menyimpang dari etika yang ada. Hal inilah yang juga menyebabkan antar anak-anak bangsa semakin sulit bersikap toleran. Bahkan di dalam hidup beragama akhirnya kita kesulitan menemukan kenyamanan berkreatifitas dan kehangatan dalam beribadah. Semua ini terjadi karena dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan kebanyakan kita haus publisitas. Haus publisitas menafikan kerendah-hatian, lalu muncullah fantasi dan kesombongan.


CS:
Bisa jelaskan kategorisasi nafsu dalam Al-Quran?


AY:
Al-Quran menyebut tiga jenis nafsu;
Pertama, nafsul ammaarah (Q.S. Yusuf: 53; red).
Kedua, nafsul lawwaamah (Q.S. Al-Qiyamah: 1 -2).
Ketiga, nafsul muthmainnah (Q.S. Al-Fajr: 2 - 8; red).


CS:
Penjabarannya bagaimana?


AY:
Nafsul ammaarah itu adalah nafsu yang tak terkendali, akibat dari kehilangan sistem kontrol akal. Orang yang terjerat dalam Nafsul ammaarah umumnya tak memiliki rasa sesal ketika melakukan dosa dan ia enjoy dengan maksiat yang di kerjakannya.

Nafsul lawwaamah adalah nafsu yang tak terkendali, akibat dari lemahnya sistem kontrol akal yang dimilikinya. Orang yang berada dibawah kendali nafsu macam ini senang berbuat dosa tapi menyesal setelah dosa ia lakukan.

Nafsul muthmainnah adalah nafsu yang benar-benar terkendali. Orang yang memiliki nafsu model ini jiwanya sudah stabil dan tak mudah goyah. Ia menghadap keharibaan Ilahi penuh dengan kebersihan hati.

Masih berkaitan dengan nafsu, pernah satu hari selepas pulang dari perang badar, nabi bersabda:
"roja'naa minal jihaadil ashghar ilaa jihaadil akbar"
(Kita telah kembali pulang dari jihad terkecil menuju jihad terbesar).

Salah seorang sahabat bertanya:
"Wamaa hiya jihaadul akbar ?"
(Apa yang engkau maksud dengan jihad terbesar, ya Rasul ?).

Nabi pun menjawab:
"Jihaadun nafsi"
(perang melawan hawa nafsu).


CS:
Dimana titik temunya dengan penjelasan anda tentang nafsu di atas?


AY:
Benar, asbabul wurud (sebab turunnya hadis; red) hadis itu muncul seusai perang Badar. Dan anda perhatikan untuk perang badar yang dahsyat itu, Rasulullah masih mengkategorikannya sebagai perang terkecil, sedang untuk perang melawan hawa nafsu, Rasulullah menyifatinya dengan perang yang maha besar. Ini artinya bahwa perang melawan hawa nafsu itu jauh lebih dahsyat ketimbang perang bertempur melawan musuh yang kasat mata. Ini pula berarti, bahwa genderang perang melawan hawa nafsu harus terus ditabuh setiap waktu dan ini harus terjadi pada setiap diri.


CS:
Mengapa harus ada kategorisasi "jihad Ashgor" dan "jihad akbar"?


AY:
Dalam khazanah Islam ada beberapa bentuk aktifitas yang memiliki akar kata yang sama dengan istilah "jihad". Kata "jihad" itu berasal dari aljuhdu yang artinya kerja keras, mengerahkan segenap kemampuan secara optimal. Dari aljuhdu melahirkan tiga cabang kata, yaitu mujahadah, jihad dan ijtihad.


CS:
Penjelasannya seperti apa?


AY:
Mujahadah adalah mengerahkan segenap kemampuan mental spiritual dalam memerangi syetan dan hawa nafsu.

Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan fisik-materi dalam membela kebenaran (agama) Islam.

Ijtihad adalah mengerahkan segenap kemampuan berpikir untuk mencapai suatu kebenaran.

Nah, ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang harus dijalankan oleh setiap muslim. Semua potesi mental, fisik dan intelektual harus dikerahkan seoptimal mungkin untuk menegakkan agama Allah.



CS:
Tapi kenapa beberapa kelompok muslim mudah sekali mengklaim bahwa apa yang dilakukannya jihad sambil menunjukkan sikap arogansi mereka?


AY:
Nah itu dia yang saya katakan tadi, pemahaman keagamaan umat kita masih dangkal sekali. Padahal jihad dalam arti perang sabil terkandung di dalamnya juga aspek jihad melawan hawa nafsu. Buat orang-orang yang terlalu bernafsu untuk berjihad, tanpa didukung kualitas mental yang prima, akan melahirkan sikap merasa paling benar sendiri, sok gagah, merasa paling membela Allah. Jihad dalam arti perang sabil harus diawali dengan kemampuan jihad melawan hawa nafsu. Sehingga jihad dalam arti perang sabil mampu menarik empati kawan dan lawan.


CS:
Realitas diatas apa lahir dari fiqh oriented?


AY:
O, tidak ! Tetap, penyebabnya adalah karena kedangkalan pemahaman keagamaan sebagian saudara-saudara kita, bukan karena fiqh nya.

(Prof. KH. Ali Yafie diam sejenak, merunduk menarik nafas, dengan mata berbinar seolah menahan kesalah-pahaman yang selama ini terjadi ditengah umat, lalu melanjutkan penjelasan)

Kalau orang mau mengkaji kitab-kitab fiqh (yang ada dalam kitab-kitab kuning) kita tidak menemukan shalat yang mula-mula diperkenalkan. Tidak ada fiqh yang bab pertamanya shalat. Fiqh itu bab pertamanya tentang kebersihan atau thaharah.

Lalu mengenai bab kebersihan (babuth thaharah) ini dimulai dengan pembahasan tentang air. Air bersih! Nah sekarang dunia sadar kan? Kepentingan manusia sehat itu ya air bersih. Jadi betapa hebatnya ilmu fiqh itu kalau bisa ditangkap jiwanya. Karenanya tidak ada pertentangan antara syari'at dan tarekat. Syarat bersih lahir ada pada fiqh, sedang bersih batin terdapat pada tasawuf. Jadi keduanya merupakan satu keutuhan dan tidak bisa dipisah-pisah. Fiqh macam ini disebut tafaqquh fiddin, memahami agama secara benar lalu mengamalkan secara benar.


CS:
Untuk itu Anda, bersama rekan, mendirikan pesantren ini?


(Dengan tawa khas seorang alim yang bijak, kiyai bersahaja ini menjawab)


AY:
Saya dan kawan-kawan hanya melengkapi tawaran lain untuk menjawab problem kehidupan umat yang semakin individualis dan materialis. Pesantren ini didirikan untuk mengembangkan potensi mental, fisik dan spiritual umat. Materi, kajian dan sistem belajar mengajar yang ada di pesantren ini berbeda dengan pesantren-pesantren umumnya.


CS:
Apa secara spesifik, kajian tasawuf juga diajarkan di pesantren yang anda bina?


AY:
Ya, tapi tasawuf yang sudah saya sederhanakan.


CS:
Kenapa harus disederhanakan?


AY:
Kita melihat pemahaman tasawuf dan tradisi sufisme di kalangan pesantren-pesantren konvensional amat bagus sekali, tapi ketika harus disampaikan kepada masyarakat metropolis ia butuh kemasan yang dibutuhkan bagi masyarakat metropolis. Nah ketika di tengah masyarakat metropolis terjadi "kemelekan spiritual" saya dan kawan-kawan di pesantren ini mencoba untuk "membumi"-kan-nya kembali. Kita tanamkan pengertian bahwa yang namanya tasawuf itu adalah membina pola hidup bersih, sederhana, dan mengabdi. Sederhana sekali rumusnya, bukan?

Bersih dalam pengertian utuh, bukan cuma jasmani tapi juga bersih ruhani, fikiran dan bersih niat. Itu kebersihan yang utuh.

Tentang pola sederhana kita sampaikan bahwa sederhana itu tidak boros, tidak bermewah-mewah, bukan berarti harus hidup miskin, tidak ! Artinya hidup berkecukupan yang terhormat. Dan ini yang namanya sederhana.

Begitu pula dengan pemahaman mengabdi, mengabdi artinya tidak hidup untuk dirinya sendiri. Hidup juga untuk orang lain. Itulah yang kita bina disini.

Tasawuf yang seperti itu yang kita sampaikan di pesantren ini. Pendek kata, kita sederhanakan pengertian tasawuf itu agar mudah diserap dan mudah dipraktekkan, yang penting ada kesungguhan.


CS:
Kami lihat di sekitar pesantren ada semacam flying fox, sungai track, ladang persawahan, perkebunan, perkemahan, kolam ikan dan tempat pembuatan gula aren, apa itu semua bagian dari tasawuf yang disederhanakan?


AY:
Ya, semua itu sarana untuk mengeleminir atau alat bantu untuk belajar menaklukkan kecenderungan mencapai keinginan pribadi, kenikmatan sensual, kesenangan jasmaniah, bersenang-senang, keinginan untuk diperhatikan, diistimewakan dan dianggap sebagai orang yang paling penting. Pendek kata, sebagai media belajar untuk menaklukkan hawa nafsu dan meletakkan akal sehat di atas tiga kekuatan yang bermuara pada hawa nafsu.


CS:
Dengan tradisi tarekat?


AY:
Yang namanya tarekat itu banyak yang sifatnya kondisional. Artinya sesuai dengan kondisinya pada masanya. Dan sebenarnya kalau kita kaji lebih dalam dan kita buat perbandingan-perbandingan, semua tarekat itu punya kesamaan di dalam prinsip. Mirip juga dengan prinsip yang kita kembangkan di sini (pesantren yang beliau pimpin, maksudnya; red).


CS:
Apa misalnya?


AY:
Yang dominan itu dalam tarekat itu wirid. (Wirid merupakan latihan spiritual berupa pengucapan doa-doa dan Nama-nama Tuhan. Wirid diberikan kepada murid oleh mursyidnya untuk diamalkan setiap hari; red). Kalau kita telusuri wirid-wirid dalam beberapa tarekat seolah ada ada kesepakatan dalam unsur.

Ada tiga unsur yang terdapat di semua tarekat, yaitu :
1. Unsur istighfar, formulasinya macam-macam, ada astaghfirullah, ada robbighfirlii. Formulasinya beda tapi intinya istighfar. Istigfar itu adalah wujud dari pembersihan rohani.

2. Unsur shalawat karena kalau dikaitkan Rasulullah itu contoh yang baik, jadi jiwa kita harus dekat dengan Rasulullah, dengan shalawat. Semua tarekat itu punya shalawat meski formatnya berbeda-beda. Tapi semuanya pakai shalawat.

3. Yang terakhir itu tahlil, kalimat laailaahaillallah. Kalimat ini merupakan prinsip yang paling mengakar didalam Islam.

Jadi, ketiga-tiganya itu ada di semua tarekat cuma formulasinya lain, metodologinya lain, cuma itu bedanya.

Dan di sini kita menggunakan istilah-istilah spiritual journey, spiritual update, siyahah ruhiyyah dan istilah lain yang mengandung unsur muhasabah (muhasabah adalah analisis terus menerus atas hati berikut keadaannya yang selalu berubah; red), muraqabah (istilah muraqabah diterapkan pada konsentrasi penuh waspada, dengan segenap kekuatan jiwa, pikiran dan imajinasi, serta pemeriksaan dengan sang hamba mengawasi dirinya sendiri dengan cermat; red) dan mujahadah (mujahadah adalah perjuangan dan upaya spiritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah atau nafs, ia juga merupakan Perang Suci Besar yang menggunakan berbagai senjata samawi dalam bentuk mengingat Allah; red).


CS:
Nampaknya anda memahami sekali tragedi nafsu manusia moderen?


AY:
Sudah menjadi tugas kita semua untuk membangun kerangka peradaban secara utuh, lengkap dengan "daging" dan "ruh"nya. Aneka insiden tragedi nafsu manusia moderen harusnya membuka kesadaran kita bahwa nilai-nilai spiritual harus disampaikan secara utuh, lengkap dengan sosok dan contohnya (keteladanan; red). Jangan sampai terjadi, ketika hawa nafsu telah menjadi siksaan kolektif yang tak bisa dihindari manusia moderen, mereka seolah sulit sekali menemukan tawaran nilai di tengah kehidupan.

Monday, October 27, 2008

Hati yang Ceria

"Sumringahe ati kuwi kareppe Gusti, sumringahe pikir kuwi kareppe rogo."

Kalimat itu yang dinasehatkan kepada saya dua malam yang lalu, entah karena kondisi hati saya saat itu atau karena tulisan catatan nasehat-nasehat kakak R.A. Kartini yang saya baca, saya kurang tahu tapi mungkin keduanya. Yang jelas apa yang dinasehatkan itu membuat saya lebih memahami kondisi saya dan tulisan tsb.

Nasehat itu disampaikan dalam bahasa Jawa, terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah:

"Keceriaan hati adalah yang dikehendaki Allah Swt, keceriaan pikiran adalah tuntutan raga / badan."

Di sini ada hati, pikiran dan badan, tiga ornamen yang ada pada kita yang mana keadaan ketiganya saling berhubungan erat satu dengan lainnya. Jika satu saja sedang bermasalah, maka dua yang lain ikut merasakannya.

Tetapi yang paling berperan adalah hati, apapun keadaan hati akan berpengaruh pada pikiran dan jasad.

Hati yang sering dipakai untuk membenci orang lain yang tidak sejalan dengan kita maka akan membuat pikiran kita senantiasa berprasangka buruk pada orang tsb. Apa yang dia lakukan selalu kita anggap buruk, padahal semuanya pekerjaan pikiran kita yang sudah tidak suka padanya. Kalau hati dan pikiran sudah begini, maka tangan, mulut, mata, kaki akan mewujudkan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan. Mulut mudah mencela, tangan mudah menuding bahwa dia buruk, mata melirik sinis, kaki melangkah menjauhinya dsb.

Orang yang sering benci, marah, su'udzon, iri dengki dsb akan lebih mudah lelah bahkan sakit. Terbukti ada orang yang check-up ke dokter karena merasakan sakit pada badannya, tapi ketika diperiksa normal. Dokter paham ini akibat dari beban pikiran dari pasien tsb. Apapun obat yang diberikan tidak akan membantunya sebab dia tidak menjaga pikirannya dari memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.

Badan sehat jika pikiran tenang dan ceria. Pikiran yang tenang dan ceria diperoleh dengan menjaga hati agar ceria dan senantiasa berbaik sangka.

Ketika keadaan tsb berhasil kita dapati maka kita akan mudah untuk beribadah seperti shodaqoh kita tambah ikhlas dsb. Jika orang seperti ini berdakwah maka dakwahnya akan diikuti masyarakat karena masyarakat mendapat manfaat darinya lewat perkataan dan sikapnya yang lembut serta ke-ringan-tangan-annya membantu masyarakat sehingga terkurangi beban masalah mereka. Masyarakat pun mengambil ilmu darinya tanpa paksaan, semua senang ketika hati kita senang.

Hati yang ceria tidak membutuhkan balasan dari apa yang dilakukannya, tidak ada pamrih, hanya memberi saja.

"Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake."

(Menyerang tanpa tentara, menang tanpa merendahkan).

Monday, September 22, 2008

Aturan (2)

Rimata :

Kalau ada orang mudah tergoda, maka tingkatkan keimanan, dan bukan membuat aturan-aturan. Sama lucunya dengan orang puasa tapi tidak sanggup melawan godaan maka ia jadi marah lihat orang makan minum di depannya, ia jadi marah lihat orang merokok, ia jadi marah lihat orang pakai pakaian minim, ia jadi marah lihat warung buka siang hari. Lalu di mana tantangannya ? Pahalanya jadi sekecil-kecilnya pahala.


Yusa :

Saya merasa bukan seperti itu...

Dibuat atau tidak UU tersebut maka akan tetap ada tantangan, yang mana dengan tantangan ini bisa menguatkan iman kita. Dan janganlah marah, marah bukan penyelesaian yang baik.

Tiap kita minimal adalah pemimpin dari diri kita sendiri, sedang pemerintah adalah pemimpin dari sebuah negara. Saya berbaik-sangka bahwa jika pemerintah ingin memasukkan hal ini dalam UU maka saya rasa pemerintah ingin yang terbaik bagi kita semua. Seperti halnya saya melarang anak saya saat main korek api atau pisau atau batu dsb sebab saya mencegah terjadinya hal-hal yang tidak inginkan pada anak saya. Atau saya melarang anak saya bermain-main di malam hari...bukan saya tidak menghormati hak asasi anak saya untuk bermain itu bukaaan...tapi saya menginginkan yang terbaik bagi anak saya, saya ingin dia tidur karena sudah malam, mainnya besok saja.

Mungkin seperti itu pemerintah kita yaitu ingin yang terbaik bagi kita dalam hal ini. Allahu a'lam. Kalau tidak semua pejabat, yah insya Allah ada beberapa yang begitu. Amin.

Daaan...marah bukan penyelesaian yg baik.


Rimata :

Yang jadi soal dari UU Pornografi adalah victimisasi tubuh perempuan.


Yusa :

Victimisasi atau tidak itu relatif sekali, tergantung darimana kita melihatnya. Semestinya yang diatur dalam UU itu tidak hanya tubuh perempuan saja tapi laki-laki juga yang mana masing-masing harusnya menutupi aurat mereka.

Thursday, September 18, 2008

Aturan

"Tidak menjadi masalah adanya banyak godaan, yang penting kan tidak tergoda" adalah tidak keliru tetapi tidak semua orang bisa menahan diri agar tidak tergoda dengan banyaknya godaan-godaan itu. Masih saja ada orang yang tergoda, masih banyak orang merasa tergoda dan sebagainya.

Tidak menjadi masalah adanya banyak godaan, yang penting kan tidak tergoda" adalah tidak keliru untuk mereka yang merasa tidak bakal tergoda, tapi bagaimana dengan mereka yang rawan tergoda? Sebab semua selalu berpasangan, ada pria ada wanita, ada tinggi ada rendah, ada yang tidak tergoda tentu ada yang tergoda dsb.

Untuk itulah dibuat aturan-aturan agar semua menjadi lebih nyaman dengan meminimalkan godaan-godaan, agar mereka yang rawan tergoda bisa memperbaiki diri menyusul mereka yang sudah tidak tergoda dengan godaan-godaan.

Wednesday, September 17, 2008

Marah Bukan Solusi Terbaik

Ustadz Yudi :

Maaf sebelumnya mari sama-sama belajar....Seandainya tokoh-tokoh di atas kumpul membahas hal yang berbeda diantara mereka kemungkinan besar kok tidak akan terjadi kesepahaman. Dan itu terjadi juga pada senior senior beliau sebelumnya para ulama pendahulu kita tahu mereka already - dan tidak bisa disangkal sebagian kita hanyalah "pengikut, pengekor" dari apa yang mereka pahami dalam memahami ajaran Rasulullah (mungkin ada satu dua yang menjadi pencari sejati bukan pengekor).

Bila saya melihat dengan kacamata khusnudzon akan adanya ketidak-sepahaman tersebut (iman mereka) semoga gambaran keimanan yang teguh bukan kerasnya hati. Dan jika iman ini diobrolkan jadinya.......

Keimanan kita lahir dari tuntunan Allah (kehendak-Nya juga) dimana kita masing-masing dilahirkan dalam keluarga yang mempunyai warna tertentu -kemudian kita dimasukan dalam lingkungan dan pendidikan tertentu untuk memperoleh pengetahuan setelah itu diperjalankan untuk membuktikan apa yang telah kita ketahui berulang-ulang hingga tertanam satu keyakinan di dalam hati kita seperti apa yang kita imani saat ini.

Meskipun sekilas ada semburat warna yang hampir sama saya yakin kalo saya berbicara tentang keyakinan secara mendalam dengan rekan-reka akan ada juga perbedaannya. Tapi apakah perbedaan pemahaman itu yang akan kita kedepankan?

Jadi kenapa harus "takut" dengan keimanan orang lain toh kita mempunyai iman sendiri punya self defend, punya saringan, punya alat sensor yang dengan canggih mengkonter segala macam ancaman atau sebagian malah dengan nyaman membiarkan aliran pengetahuan yang ada lewat dalam pikiran dan hati yg terbuka seraya memohon "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari pemahanan yang keliru, jadikan setiap ilmu-Mu manfaat bagiku" Sekali kita terikat dalam tali persaudaraan maka ikatan itu tidak akan putus - tali itu adalah jalan yang lurus -ISLAM-



Yusa :

Ada kalanya kesalah-pahaman bisa hilang dengan dirembug spt ini, tapi adakalanya kesalah-pahaman tidak bisa hilang dengan dirembug manakala sudah menyangkut masalah aqidah.

Kesalah-pahaman para salaf bisa dirembug karena aqidah diantara mereka sama, kesalah-pahaman diantara mereka hanya masalah cabang saja. Tetapi kalau sudah menyangkut ke-Tuhan-an atau masalah ke-Nabi-an tetap tidak akan bisa hilang dengan dirembug. Biar dan harus dibedakan (tidak boleh disamakan), misal keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir dan tidak ada Nabi lagi setelah beliau Saw tetap tidak boleh disamakan dengan keyakinan sebagian orang bahwa ada Nabi sesudah Nabi Saw yaitu Musadek misalnya atau Mirza Ghulam Ahmad dsb.

Dalam hal spt ini tidak boleh dihilangkan, tetap harus dikatakan berbeda.

Perbedaan tetap ada, tapi marah bukan penyelesaian yang baik.