Showing posts with label Aqidah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah. Show all posts

Thursday, March 12, 2009

Ikuti Nabi Saw

Oleh : Alhabib Ghozi bin Ahmad bin Mushthofa Shihab

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
(Al ahzab : 21)

Ayat di atas adalah alasan kenapa kita rela meninggalkan segala kegiatan kita untuk sekarang berada di tempat ini. Sangat besar rahmat Allah Swt jika dibandingkan dengan apa yang kita lakukan. Jika sholawat kita, ibadah kita, niat kita, amal kita dsb diterima oleh Allah Swt, maka ini jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Dikisahkan ada seseorang yang membiasakan diri membaca sholawat. Ketika ditanya kenapa dia membiasakan membaca sholawat sebegitu sering, orang tersebut menjelaskan bahwa ini karena dulu sewaktu ayahnya meninggal dunia dilihatnya tampak kusam wajah ayahnya. Dia sedih! Di dalam tidurnya dia didatangi seseorang yang sangat berwibawa dan sangat indah (ketika ditanya siapa dia, orang itu menjawab dia adalah Nabi Muhammad Saw) menyuruhnya untuk membuka kain penutup jenazah ayahnya. Ketika kain sudah dibuka, dia mendapati wajah ayahnya berubah dari kusam menjadi putih bersinar. Dia lalu bertanya kenapa? Orang yang dilihat dalam mimpinya (Nabi Muhammad Saw) menjelaskan bahwa itu karena ayahnya semasa hidup sering membaca sholawat pada Nabi Muhammad, ini adalah balasan atas sholawat yang dilakukannya. Ketika orang ini bangun, dibukanya kain penutup jenazah ayahnya dan benar wajah ayahnya berubah menjadi putih bersinar seperti yang dilihatnya di dalam mimpi. Sejak saat itu dia selalu membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan juga di sebuah wilayah ada keluarga yang faqir yang pada suatu mereka tidak bisa membeli sesuatu barang yang sangat mereka butuhkan. Mereka bermunajat kepada Allah Swt, di dalam tidurnya seseorang dari mereka bermimpi ditemui oleh Nabi Muhammad Saw dan dikatakan padanya bahwa agar dia pergi ke seorang pejabat karena apa yang dibutuhkannya harus lewat pejabat tersebut. Nabi Muhammad Saw berpesan kalau pejabat itu bertanya bagaimana bisa tahu, maka katakan bahwa yang menyuruh adalah Nabi Muhammad Saw dan katakan padanya bahwa sholawatnya diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Setelah bangun, orang itu pergi ke ulama' setempat dan menceritakan mimpinya. Kemudian mereka berdua pergi menghadap pejabat yang yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Saw dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Hati pejabat itu bahagia sekali mendengar sholawatnya diterima Nabi Muhammad Saw, dia menghadiahi si faqir dengan hadiah yang sangat banyak seraya berkata bahwa apa yang hadiahkan ini tidak sebanding dengan kebahagiaannya.

Kedua kisah itu menceritakan tentang betapa pentingnya bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita inginkan? Apapun itu akan dikabulkan lewat Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita lakukan tidak sebanding dengan apa yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada kita.

Nabi Muhammad Saw adalah mulia dan teladan bagi kita, lalu kenapa banyak diantara kita mengikuti orang yang mengaku-aku dirinya nabi (padahal untuk disebut nabi harus dijelaskan di dalam kitab sebelumnya tentang ciri-ciri atau pun sifat-sifatnya)? Jawabannya adalah karena banyak diantara kita tidak mengenal Nabi Muhammad Saw. Kita tidak akan sampai kepada Allah Swt kecuali lewat Nabi Muhammad Saw.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'.
(Ali Imran : 31 - 32).

Friday, March 06, 2009

Juru Do'a

Oleh : Yusa Nugroho

Ibu-ibu dan bapak-bapak tetangga barusan pulang dari ziarah ke makam-makam wali di Jawa dan Madura. Macam-macam tanggapan mereka yang ikut dan mereka yang tidak ikut, ada yang complain seperti ini "Buat apa jauh-jauh ke kuburan begitu? Kalau mau lihat kuburan kan di sini banyak!"...atau..."Itu kan bid'ah!". Ah, biarkan saja mereka yang tidak suka ziarah. Tapi entah disengaja atau tidak, obrolan kami yang lagi "cangkrukan" di sini juga menyinggung masalah itu...tidak persis sih tapi asyik juga buat diobrolin.

"Doa penting bagi juru doa yang biasa mangkal di pekuburan. Kalau nggak ada yang minta doa dapurnya nggak ngebul. Juru doa ada karena ada konsumen. Apakah benar juru doa memudahkan terkabulnya doa? Padahal konsumen sudah bayar, gimana ya? Bagaimana menyingkapi fenomena ini?", tanya ustadz Jaduq sambil minum kopi.

Sambil menyeruput kopi, mas Ribut mengomentari, "Hmmm...rejeki itu bisa datang darimana saja, termasuk yang panjenengan sebutkan tadi. Yang lebih baik dihindari adalah tidak mengeluh dan tidak kecewa kalo tidak ada yang memberi uang.". Mas Ribut kembali minum kopinya...ssslllrrrppp...."Aaahhh, nikmat...!", desahnya pelan.

Ustadz Jaduq diam sebentar sebelum akhirnya dia berkata, "Juru doa selalu menang dalam berdoa. Pas konsumen kosong 'Tuhan beri aku rezeki'... Lalu konsumen datang, artinya doa dia dikabulkan. Konsumen minta doa 'Siapa namamu..?' (tanya juru doa kepada konsumen)... 'Badu'. 'Ya Tuhan beri Badu kesehatan... diringankan jodoh dsb dsb'. Tugas juru doa atau kuncen selesai. Hasil sukses nggak sukses gak dijaminkan? Terserah yang di Atas.

Biasanya di agama itu ada konsep : 'Sakralitas', bisa berupa manusia (wali atau kyai dsb), bisa berupa tempat suci (masjid, pekuburan wali, Mekah atau Madinah) dan juga ada waktu suci (puasa, diantara kutbah, dini hari 1/3 malam dsb-dsb). Semakin suci tempat atau orang atau waktu maka kemungkinan doa terkabul semakin besar, gimana menyikapi fenomena ini? Sebenarnya siapa yang berhak menyebut suatu tempat itu suci? Kan hanya kesepakatan? Let say kuburan wali songo, wali hanya diketahui wali, siapa yg tahu dia itu wali? Kenapa 'ngefek' ke pekuburannya jadi sakral? Ada yang mau coba bahas?"

Menarik-kah? Entahlah, yang jelas kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu yang ikut "cangkrukan" saling bisik-bisik dengan orang yang di sebelahnya. Sepertinya hanya mas Ribut yang rada serius, lihat dia mengerutkan dahinya tanda bahwa dia berpikir apakah ustadz Jaduq ini sekedar pancingan ataukah benar-benar bertanya...hmmm...

Ya sudah biarin ajalah...begitu pikir mas Ribut. "Orang mulia karena kedekatannya kepada Allah Swt. Orang yang dekat kepada Allah Swt tentu banyak mengingat Allah Swt. Sedangkan setiap benda menyerap apa yang dibacakan kepadanya, di dekatnya dsb. Tempat mempunyai pengaruh kepada kita karena di sana pernah atau sering digunakan sebagai tempat untuk dibacakannya Alqur'an misalnya, digunakan untuk tempat berbagi kebaikan, tempat ajar-mengajar, tempat untuk mengingat Allah Swt dsb.

Kebaikan itu akan pernah hilang hanya berubah bentuk seperti halnya es batu, air dan uap. Ketiganya adalah sama, air yang didinginkan menjadi es batu, es batu yang dipanaskan berubah bentuk jadi uap dan uap yang terkumpul banyak di awan jatuh menjadi air hujan atau embun. Itu membuat tempat itu menjadi lebih asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kalau tempat itu adalah masjid maka masjid menjadi tempat yang asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, kalau tempat itu rumah maka rumah itu menjadi tempat yang asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagaimana makam-makam para wali, di sana banyak orang membaca Alqur'an, menyebut dan mengingat Allah Swt. Demikian juga dengan waktu... Bukan pekuburannya yang memberi manfaat kepada kita, itu hanya perantara saja, sangat keliru kalo ada yang berharap kepada kuburan. Hanya Allah Swt yang Maha Memberi.". Mas Ribut tampak bersemangat.

"Kalau menurut saya...", seorang profesor menyela, "Kalau merasa hal itu perlu dilakukan ketempat-tempat tsb, untuk melakukan DOA, menurut saya, silahkan sajalah manusia punya 'free will', kita menghormatinya tanpa adanya suatu pemaksaan ato penolakan."

Ustadz Jaduq meletakkan gelas kopinya, "Mungkin corcern saya adalah siapa sih sebenarnya yang boleh mendefinisikan sakralitas atau kesucian dari waktu atau tempat dan manusianya? Apakah komunitas atau klaim pribadi atau Allah melalui Nabi?"

"Hmmm...hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui tentang kesucian tempat dan waktu serta manusia, kita hanya mendapatkan pemahaman tentang segala sesuatu dari orang sekarang dan orang terdahulu yang berkompeten. Selama di sana digunakan untuk tempat kebaikan maka insya Allah akan mendatang kebaikan bagi yang datang ke sana atau pun tidak.", ujar mas Ribut sambil menyenggol pak Raden biar ikut bicara.

"Mungkin pak Raden ingin urun rembug? Monggo, den...", mas Ribut mempersilahkan pak Raden.

"Eh...ya ya ya...soal juru do'a sebagai profesi - ini lebih pada adab kepatutan, para profesional sungguhan (pekerja) pasti akan merasa bahwa profesi 'gampang' itu bisa jadi hanya bungkus kemalasan dalam melakoni sulit dan kerasnya dunia kerja - tapi nanti dulu....mereka para pekerja do'a ternyata dibutuhkan oleh masyarakat...benar juga pak konsumen yang menjadikan mereka exist...ada juga memang yang tulus - ini yang cukup sulit diidentifikasi..dan ditemukan. Effektifitas do'a..ya 100% Kuasa Alloh buat goal tidaknya sebuah hajat... Pertanyaan selanjutnya mengapa disucikan (motif atau tujuan)? Apakah benar-benar suci ? Atau dimana letak kesuciannya? Monggo saya menyimak....", kata pak Raden.

"Matur nuwun, den...hmmm...kenapa disucikan? Hmmm...ya karena dekat dengan Allah Swt, den. Barang siapa kumpul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah Swt maka kita juga makin ingat kepada Allah Swt...yang selanjutnya akan membantu kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga yang dekat dengan yang baik jadi ketularan baiknya...ndak mutlak sih tapi usaha ndak apa-apa tho, den? Menawi ngaten, den...", mas ibut mencoba menanggapi pertanyaan pak Raden.

DUUKKK...! Sikutan keras pak Raden menohok dada mas Ribut.

"Ada apa, den?", tanya mas Ribut pelan sekali biar yang lain tidak dengar.

"Wah ngawur dan den dan den...besok aku tidak mau lagi bicara kalau kau panggil aku dan den dan den gitu! Memangnya jaman kolonial...!!!!". Pak Raden marah.

"Jangan marah tho, den, saya kan cuman memanggil begitu karena panjenengan keturunan darah biru...", mas Ribut beralasan.

"Den itu Raden, gelar bangsawan trah Dalem utowo gelar kolonial feodal starta atas.... Lha emang meh kembali kemasa Hindu ada kasta dst... Rosul ae ada usaha nyata menghapus perbudakan kok arep nunggang jaran kuwalik...!"

"Lha nggih, panjenengan kan keturunan nan nDalem, memang pantas saya panggil 'den'...nggih sampun, saya harus panggil panjenengan siapa? 'Pak'? Nanti dimarahi lagi 'emangnya aku bapakmu!'. 'Mas'? Nanti dimarahi 'emangnya aku masmu!'...duh, kok ribet banget tho, Gustiii..."

"Hahahahaha...", tawa pak Raden membahana membuat orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke pak Raden dan mas Ribut. "Yo wis...terserah kau mau panggil aku apa...!", kata pak Raden pelan di telingaku sambil cekikikan.

"Nggg...ada apa, mas Ribut?", tanya ustadz Jaduq heran melihat tingkah keduanya.

"Ndak apa-apa, ustadz...!", jawab mas Ribut sambil membetulkan sarungnya yang kurang rapi.

Ustadz Jaduq kembali bertanya ke mas Ribut, "Oh ya, tentang pendapat sampeyan tadi memang benar, menurut ahli hikmah demikian adanya. Jadi, ada tempat yang mengandung energi besar dan ada tempat yang tidak ada energinya. Petilasan para wali biasanya memiliki energi besar, biasanya dicari oleh para penyerap energi. Adakah sampeyan bisa menjlentrehkan ini kenapa bisa terjadi?"

"Makam para wali banyak mendapat perhatian dari banyak orang dari berbagai macam kepercayaan dan banyak kepentingan bertemu di sana. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepadanya..."nya" di sini bermacam-macam, ada yang perhatiannya kepada Allah Swt, ada yang kepada tujuan duniawinya saja, ada yang tujuannya karena ingin dapat ilmu, ada yang ingin ketemu wali tsb dsb...banyak...perhatian tercurahkan di sana.

Disamping di sana dimakamkan jasad wali, jasad dari orang-orang yang dekat dengan Allah Swt, juga di sana orang-orang banyak yang melakukan kebaikan maka makin bertambahlah kebaikan di sana. Kebaikan di atas kebaikan.

Apa yang dilakukan pada suatu tempat akan mendatangkan energi pada tempat itu, jika yang dilakukan adalah kebaikan maka energinya juga asyik, jika yang dilakukan adalah keburukan (tidak ada usaha mengingat Allah Swt) maka energinya hiiii...(serem)...energi yang asyik mendatangkan keasyikan2 yang lain, energi yang hiiii...(serem)...mendatangkan mereka2 yang hiiii...(serem)...juga. Hmmm...kira-kira mereka menyerap energi untuk apa ya, pak? Pak Raden saya rasa bisa menjelaskannya, silahken den... Terima kasih."

Pak Raden diam, cuek...ngambek!

"Baik, Allah itu spaceless (tidak ada ruang) dan timeless (tidak ada waktu). Bagaimana bisa tahu dia dekat dengan Allah? Paling membahasakannya karena effort mencoba mendekati Allah karena konsepsi manusia belaka bukan? Apakah karena mereka rajin ke tempat ibadah terus disebut suci dan dekat kepada Allah? Jangan-jangan justru mereka terpana karena image tempatnya (asosiatif : tempat suci, orang jadi suci), bisa jadi lho ada gelandangan yang tinggal dimana saja justru hatinya nyambung terus ke Allah.. harta malah tidak diliriknya, bukankah sebutan suci ini semu belaka?", kata ustadz Jaduq.

"Aaahhhh...semua bisa, pak...kalo perbandingannya Allah Swt maka semua tidak nyata. Selama mereka dekat kepada Allah Swt, maka mereka orang mulia."

"Mas Ribut, ini teman saya telpon, dia tanya untuk bisa 'berdekatan' seperti yang sampeyan katakan tadi, bagaimana caranya? Apakah bisa di samakan analoginya dengan saya mencoba 'mendekati' suatu 'pribadi' atau 'entitas' tertentu? Menurut sampeyan gimana, mas?"

"Hehehehehe...sekarang ini posisi saya berjauhan dengan teman panjenengan tapi serasa dekat karena bertanya ke sana dengan menelepon panjenengan. Jasad saya dan teman panjenengan berjauhan, tapi kita merasa dekat dengan perantara telepon...akan terasa dekat lagi kalau kami ketemuan, saling bicara-bicara, klop dan wuiiihhh...makin tambah deket deh. Bisa jadi seperti itu "kedekatan" yang teman panjenengan tanyakan...dekati Allah Swt dengan dhohir dan batin kita. Kalo menurut Islam, dhohir-nya sholat atau puasa atau baca wirid atau do'a atau amal atau saling menasehati dsb...batinnya bersyukur atau ikhlas atau sabar atau pasrah atau tawakal dsb..."

"Baik, mas, terima kasih.", kata ustadz Jaduq sambil mengakhiri obrolan ini, sudah sore...kapan-kapan disambung lagi insya Allah.

Monday, March 02, 2009

Kabar Gembira

Oleh : Yusa Nugroho

Hampir tengah hari ketika dua orang duduk di dekat tempat "air barokah" kawasan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu (Demak), sambil berdzikir mereka berdua mendengarkan sang guru yang memberikan nasehatnya.

"Sampaikan kabar gembira kepada mereka!", kata sang guru.

Setengah berbisik salah seorang diantara mereka bertanya kepada temannya, "Kabar gembira apa ya?"

Setengah menoleh yang ditanya ini menjawab, "Kabar gembira untuk mereka yang berubah menjadi lebih baik daripada hari-hari yang lalu. Kalau di hari-hari yang lalu kita terlalu mudah membiacarakan orang lain, terlalu mudah untuk membenci orang lain, terlalu mudah untuk meninggalkan sholat, terlalu malas dsb...sedangkan di hari ini mereka menjadi tidak suka membicarakan orang lain, menjadi berhati-hati membenci orang lain, menjadi menjaga sholat, berubah jadi lebih rajin maka kabar gembira ini pantas disampaikan kepada mereka. Kabar gembira bahwa mereka sudah menempuh jalan hidayah Allah Swt.

Ingatlah bahwa sering kali kita menjadi malas adalah karena terlalu memikirkan orang lain, terlalu membicarakan orang lain (ghibah atau "ngrasani"), terlalu iri dengan apa yang orang lain miliki, tidak bersyukur atas apa yang dikaruniakan Allah Swt kepada dirinya, terlalu mudah tersinggung, tidak menerima apa adanya dsb. Itu semua menyebabkan pikiran kita tegang dan pusing yang mana ini mengakibatkan kita menjadi malas dan cepat bosan untuk melakukan amal-amal kebaikan, wirid-wirid kita kacau, sholat-sholat kita berantakan, badan kita sakit tapi tidak mau berdo'a kepada Allah Swt...mulut hanya hanya mengeluh saja tanpa mau sholat mengingat Allah Swt bahkan "ngambek" setengah protes kepada Allah Swt kenapa hidup kok cuma begini-begini saja, sudah saja.

Ketika kita sudah tidak mau sholat dan mengingat Allah Swt, terkesan marah kepada Allah Swt, maka dikhawatirkan ini menjadi bala' kepada dirinya. Tidak ada yang mampu menahan bala' dari Allah Swt!"

"Saya jadi ingat seseorang...karena engkau lebih akrab dengan sang guru, coba mintakan tolong kepada sang guru agar ikut mendo'akan orang ini."

"Baiklah, saya coba...", jawabnya menyanggupi. Dia melihat sang guru masih berdiri di sudut "cungkup", kemudian dia mendekat dan memohon kepada sang guru.

"Guru, kami ada kenalan yang akhir-akhir ini melupakan sholatnya, sudah tidak terlihat lagi berdzikir, mulut kadang-kadang terdengar menyebut kata 'Allah' tapi dia tidak terlihat sholat oleh kawan saya itu. Dulu dia pernah ikut thoriqoh dengan di-bai'at sebelumnya, ziarah ke sana kemari, mudah marah bahkan kepada anak cucunya, tapi sekarang kondisinya mengkhawatirkan tidak berdaya di tempat tidur. Ketika kami mencoba mengingatkannya, dia menolak bahkan mempertanyakan kenapa kami memaksa dia untuk sholat...dia marah, guru. Kami tidak ingin melihat dia meninggal dalam keadaan tidak sholat, dalam keaadaan buruk, jadi tolong dia, guru..."

Sang guru juga mengkhawatirkan ini bala' Allah Swt kepada dia, "Aku tidak bisa menolongnya, kemungkinan ini bala' Allah Swt untuk dia. Kalian saja yang mencoba menolongnya dengan membaca wirid-wirid yang nanti aku ajarkan."

"Duh, guru tolonglah dia, guru...", aku coba memohon.

"Aku tidak bisa!", sang guru kembali menolak.

"Guru..."

"Tidak bisa! Kalian yang lebih baik mencoba menolongnya karena kalian orang terdekatnya."

"Baiklah, guru, kami ikut apa yang guru perintahkan. Apa yang harus kami lakukan, guru?"

Kemudian sang guru memberitahu kepada kami apa yang harus kami lakukan, intinya adalah semua kembali kepada Allah Swt...apa yang kami kerjakan adalah semata-mata ikhtiar saja, hasil adalah hak Allah Swt.

Kami terdiam begitu mengetahui betapa banyak yang harus kami lakuan untuk membantu kawan kami itu. Duh, betapa beratnya akibat dari melupakan sholat, meninggalkan wirid-wirid dan terlalu berharap kepada dunia tanpa melihat bahwa sesungguhnya akhiratlah tujuan yang lebih baik...bahkan seorang guru yang mulia saja tidak mampu menolongnya, hanya Allah Swt yang Maha Menolong.

"Jangan lupa bacalah Alqur'an surat Al Ma'idah ayat 39!", pesan sang guru ketika kami hampir pamit pulang.

Al Maa'idah : 39
"Maka barang siapa bertobat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Tuesday, January 06, 2009

Jauhi Syirik !

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy di masjid Alhikmah, Gemah - Semarang, tanggal 3 januari 2009)

Ingatlah, awal yang maka akhir akan baik pula dan yang tengah akan mengikuti! Semua yang kita lakukan akan dima'afkan oleh Allah Swt kecuali syirik. Syirik yaitu semua yang menduakan Allah Swt baik dhohir ataupun batin.

Syirik secara dhohir sebagaimana diketahui adalah menyembah dan mengakui Tuhan selain Allah Swt dengan diikuti oleh gerak badan kita, misal menyembah patung, menyembah pohon, mengakui lewat lesan bahwa dia yakin kepada selain Allah Swt dsb. Syirik secara dhohir seperti ini maka jika dilakukan oleh orang yang semula islam maka dia diharuskan mengucapkan lagi kalimat syahadat, mengakui lagi lewat lesannya bahwa dia hanya ber-Tuhan kepada Allah Swt saja dan hanya nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir.

Syirik batin terlihat kecil tapi lebih berbahaya daripada syirik dhohir karena orang yang seperti ini mungkin secara dhohir tidak terlihat menyembah Tuhan selain Allah Swt tapi keyakinannya sudah berpindah kepada selain Allah Swt. Orang yang seperti ini lesan mengakui Allah Swt tapi hatinya tidak, hatinya meragukan Allah Swt! Inilah letak bahayanya!

Sebagian contoh dari syirik batin adalah sebagaimana diketahui bahwa Allah Swt menjamin rizqi semua makhluq, tapi sering kali kita masih saja khawatir akan rizqi kita manakala kita mempunyai sedikit uang, manakala kita tidak bekerja dsb. Kita sering berkata, "Mau makan apa kalau tidak bekerja?" Perkataan semacam ini menimbulkan keraguannya kepada Allah Swt. Betul kerja memang salah satu washilah untuk menjemput rizqi dari Allah Swt, tapi tidak boleh kita meyakini bahwa kalau tidak bekerja maka tidak mendapat rizqi. Kita tidak boleh meyakini rizqi itu dari pabrik ini, kalau tidak tidak lewat pabrik itu maka kita tidak mendapatkan rizqi...yang seperti ini yang tidak boleh. Rizqi itu datangnya dari Allah Swt, Allah Swt menyampaikan rizqi kepada kita lewat berbagai jalan yang tidak kita duga. Yakin saja maka Allah Swt akan memenuhi rizqi kita! Tentu harus disertai usaha.

Begitu juga dengan berobat, obat memang bisa membuat sembuh penyakit kita tapi kita harus meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah obat, Allah Swt-lah yang menyembuhkan kita.

Jika kita melakukan syirik batin maka oleh Allah Swt kita dikasih berbagai kejadian yang semakin membuat kita jauh dari Allah Swt, makin kuat syirik batinnya, durhaka kepada orang tua kita (red. Semua perbuatan kita yang membuat sakit orang tua kita itu tercela, penuhi perintah mereka selama sesuai dengan syari'at. Jika melanggar syari'at maka bantahlah dengan cara yang baik), memutuskan tali silaturrohim sebab akan dilaknat di alam barzah, mahsyar dan di siroth (red. Balaslah keburukan dengan kebaikan sebab keburukan yang dibalas dengan kebaikan akan bermanfaat bagi kita dan keturunan kita hingga kiamat nanti).

Allah Swt sesuai dengan keyakinan kita, meskipun kita membaca wirid yang mulia tapi kalau kita meyakini bahwa wirid itu yang menyelematkan kita maka ini termasuk syirik batin. Keselamatan hanya dari Allah Swt, hanya saja lewat wirid dsb. Perantara atau washilah itu boleh sebab tidak ada yang tidak butuh perantara. Dengan ijin Allah Swt maka wirid bisa membantu menyampaikan kita sampai di surga, setelah kita sampai di surga maka wirid pergi meninggalkan kita. Inilah manfaat amal baik yang membantu kita di dunia dan akhirat.

Semua tergantung kita, oleh karena itu manfaatkan semua yang ada untuk berbuat baik! Semua benda akan menyerap apapun yang dibacakan kepadanya, maka bacakan kalimat-kalimat yang baik yaitu kalimat yang mengingat Allah Swt dan nabi Muhammad Saw agar benda-benda tersebut menjadi baik dan bermanfaat bagi kita.

Wednesday, September 03, 2008

Antara Berkonsep & Tidak Berkonsep

Hendra :
Ada seorang filosofi mengatakan mengenai konsep tentang agama : untuk masyarakat umum beragama itu adalah benar atau baik, untuk orang bijak (wise people) beragama itu adalah palsu, untuk penguasa beragama itu adalah alat yang berguna. Monggo mas mas mau berkonsep yang mana...he..he…


Dhika :
Wah.. bingung nih Mas mau pake yang mana. Benarkah beragama itu baik? Buktinya banyak kekerasan dilakukan atas nama agama. Apa iya mas orang-orang bijak mengatakan agama itu palsu sebab banyak juga orang-orang (yang saya anggap) bijak justru berangkat dari nilai-nilai agama. Terus untuk penguasa agama... hehehe.. kalau yang ini no komen deh...


Yusa :
Keras atau tidak itu relatif...beragama tidak berarti keras sebagaimana terlihat di tivi dan koran, tergantung bagaimana kita bersikap. Jangan bingung, mas...silahkan dipilih dengan rasa.



Adji :
Setuju mas Yusa, beliau-beliau itu yang melakukan kekerasan dengan 'jubah' agama sedang ber-proses menjadi bukan diri-Nya. Tak akan ada tinggi, bila seseorang tidak mengenal apa itu rendah. Tak akan ada KASIH SAYANG bila seseorang belum melakukan KEKERASAN.


Yusa :
Bisa jadi seperti itu tapi jangan lantas niat sengaja melakukan kekerasan dulu agar nanti bisa berkasih-sayang...jangaaan...jangan! Berusahalah semaksimal mungkin berkasih-sayang, kalau terpeleset melakukan kekerasan usahakan agar itu sebuah kekhilafan. Khilaf adalah alami dan wajar. Sementara kesengajaan berbeda dengan kekhilafan. Ngaten, mas Adji?



Semar Samiaji :
Mas Yusa...ijinkan bertanya...jika Mas sudah pilih dan itu sesuai dengan makna kekerasan yang Mas pahami dan kaji...lalu, saat ada peristiwa bentuk kekerasan yang demikian, apa yang Mas UJUDkan dalam hidup dan kehidupan NYATA?

...Misalnya suatu majelis, apakah membuka wacana agar bisa ujudkan hidup dalam kedamaian TANPA mengecap pihak lain dengan kata misal syirik, musyrik dsb...atau membangun satu pandangan bahwa pilihan RITUAL adalah hak setiap individu, sehingga kalau ada yang melakukan ritual dengan cara yang berbeda sebagai mana keyakinan Mas BUKAN satu hal yang perlu dibahas atau dikaji DI LINGKUNGAN yang SEJENIS dengan Mas.....

Semoga ini adalah juga termasuk UJUD rasa pilihan ya Mas....


Yusa :
Setiap perbuatan tentu ada balasannya, ada sebab tentu ada akibat. Jika ada seseorang hari ini mengalami ketidak-nyamanan karena perbuatan orang lain maka (diluar salah atau tidak korban) yang perlu dipertanyakan apa yang sudah dia lakukan tempo hari kok hari ini dia disakiti orang lain.


Tapi ini tidak berarti kita boleh dengan sengaja berniat sejak awal menyakiti, tidak sama sekali tidak boleh berniat menyakiti orang. Yang sering kali timbul adalah sejak awal berniat baik, tapi di tengah jalan karena banyak hal maka dia menjadi mengikuti hawa nafsunya, emosi timbul, kemarahan berhadapan dengan kemarahan hingga timbul perselisihan.

Yang baik jadi tidak baik!

Berusaha berniat baik semaksimal mungkin, berusaha tidak emosi, kalaupun emosi berusaha hanya di dalam hati saja dan jangan ujudkan lewat lesan atau perbuatan agar tidak menimbulkan perselisihan. Minimal seperti itu. Meredam api di hati kita sendiri lebih mudah daripada meredam api yang sudah terlanjur membakar hati orang lain. Kalau orang lain ikut terbakar maka ada dua pekerjaan kita, meredam api di hati kita dan api di hati mereka. Meminimalkan akibat insya Allah lebih baik.Tapi tentu berbuat baik kepada dirinya sendiri dan sesama adalah lebih baik. Tidak ada yang terbakar, tidak ada pertentangan sehingga semuanya akan mudah berjalan menuju kebaikan, menuju Allah Swt lewat jalannya masing-masing.

Yang tidak baik itu perbuatannya, bagaimana orangnya apakah berstatus pendosa di hadapan Allah Swt ketika sudah melakukan maksiat? Allahu a'lam...hanya Allah Swt Yang Maha Mengetahui hamba-Nya. Kita lebih baik berbaik-sangka.

Seperti bapak, disaat mengetahui ada yang kurang pada saya maka bapak tentu akan mengingatkan agar saya menjadi lebih baik lagi. Lalu, apakah saya mutlak pendosa di hadapan Allah Swt? Ya Allaaah...saya harap Allah mengampuni dosa-dosa saya.


Adji :
Kekerasan bukan saja terjadi pada lingkup jasad atau fisikal, tetapi juga pada sisi mental atau psikologi. Kekerasan dalam iman atau dogma atau konsep mungkin salah satunya. Pada sebagian orang, kekerasan dilakukan tanpa di SADARI, tetapi kembali lagi, ini adalah PROSES.


Yusa :
Betul...semua ini adalah proses dan semoga proses-proses kita ini menghasilkan hasil yang baik bagi kita dan sekitar kita.



Hendra :
Bila itu sebuah KEKHILAFAN adalah alami dan wajar...wah ini sulit bagi saya untuk menerimanya..karena pada dasarnya manusia itu baik. Bagaimana menurut pengertian Mas Yusa apa yang dimaksud dengan alami dan wajar sebagai difinisi KEKHILAFAN.


Yusa :
Maksud saya khilaf itu perbuatan yang tidak disengaja, artinya sejak awal perbuatan kita tidak berniat dengan sengaja akan menyakiti orang misalnya. Kalau di tengah jalan dia berbuat keliru maka itu alami selama dia berusaha berbuat baik, menghindari kekerasan. Selama menjadi manusia maka salah, keliru, khilaf, baik, benar dsb adalah wajar.


Tapi kalau khilaf ini sering dilakukan maka harus diperbaiki agar bertambah lebih baik lagi.Pada dasarnya memang baik tapi ada banyak hal yang bisa membuat kita menjadi tidak baik, selain faktor dari dalam, faktor lingkungan bisa juga.


Adji :
Itu sih namanya 'mohon maklum' kali ya mas Yusa? :-)


Yusa :
Iya mas, namanya juga manusia tidak luput dari salah dan keliru. Itulah salah satu beda kita (makhluq) dengan Tuhan Yang Maha Benar.


Semar Samiaji :
Mas Yusa yang baik...hapunten, saya BUKAN penganut paham sebab akibat...semua sifat yang Mas nyatakan sebagai itu semua ada di dalam setiap diri manusia, begitu pun saya....namun, konteks yang perlu dikaji dan syukur-syukur bisa diterapkan adalah "bagaimana" dengan pernyataan baik TANPA memberi penilaian kepada pihak lainnya....kenapa ini perlu? Karena yang akan MEMBERIKAN PUTUSAN AKHIR adalah YMK dan UtusanNYA...dalam keyakinan Mas ini yang dikenal dengan SYAFAAT....FAKTA adalah begitu banyaknya manusia yang aku2 jadi KEKASIH YMK....dengan segala bentuk dan penyampaiannya...NAMUN, kenapa ndak pernah NYATA dalam laku hidup dan kehidupan...

JIka memang BENAR2 merujuk kepada RASULnya masing2, seyogyanya hidup dan kehidupan makin ok dong...makin damai...makin toleran...namun, apa kenyataannya??...Ini fakta lho Mas....so, saat Mas sampaikan ini, juga mengingatkan kepada saya, apakah diri ini TERJEBAK dengan peri laku yang SUJATI dengan NYATA atau hanya "sanjung2" doang?

Apa yang ingin saya highlight adalah saat diri berproses PERLU juga meyakinkan ke diri bahwa kalau sudah YAKIN dengan YMK dan UtusanNYA...ya jangan berlebih-lebihan dengan manusia lainnya...ambil maknanya UJUD laku hidup dan kehidupan....dalam rangka mencapai apa yang sujatinya manusia....BUKAN dengan ajaran ini dan itu berlebih-lebihan namun UJUD NYATAnya malah sebaliknya apalagi menzalimi pihak lain dengan mengatasnamakan KEBAIKAN.

Apa yang sesungguhnya terjadi adalah BANYAKnya manusia yang HANYA jadi PENGEKOR....pengekor dari satu ajaran, TANPA mau menempatkan dengan SUNGUH2 TUHAN DAN UTUSANNYA dalam HATI YANG SUNGGUH2.....silahkan tanyakan ini ke dalam hati setiap diri.....silahkan.....


Yusa :
Panjenengan benar, saya harap kita semua bisa seperti yang bapak jelaskan. Kalaupun saat ini ada yang belum seperti itu, atau sudah tahu konsepnya tapi belum mengamalkannya mudah-mudahan apa yang kita lakukan adalah proses menuju ke arah itu yaitu menyatakan atau menyampaikan tanpa menilai.


Kalau saat ini masih banyak yang "menyampaikan sambil menilai" maka kesempatan bagi kita yang sudah bisa "menyampaikan dengan tidak menilai" untuk menambah kebaikan. Selama masih dikaruniai hidup insya Allah masih ada harapan. Amin.

Merujuk ke Rasul itu terbaik menurut saya, lalu kenapa masih banyak orang yang sekedar niat saja belum bisa mengamalkannya? Apakah salah dia merujuk ke Rasul? Saya rasa tidak, tidak salah merujuk ke Rasul hanya saja yang perlu diperbaiki adalah bagaimana dia memahami apa-apa yang dinasehatkan oleh Rasulnya lalu mewujudkan dalam perilaku sehari-hari. Mungkin tidak mudah tapi kalau ada niat insya Allah bisa, bisa menyatakan...bisa menyampaikan tanpa menilai. Hanya menyampaikan saja, sisanya adalah hak prerogatif Allah Swt. Idealnya seperti itu.

Yah mudah-mudahan kita akan lebih baik lagi. Amin... :-)


Hendra :
Terima kasih mas Yusa,...tapi saya kurang setuju bila masih mengatakan : "selama menjadi manusia maka salah, keliru, khilaf, baik, benar, dsb adalah wajar" bila masih tilik manusia kan? Terjadilah konsep seperti itu yang mas Yusa tuliskan, bukan?


Yusa :
Sama-sama, mas...tidak apa-apa mas kurang setuju, ini juga wajar (menurut saya). Manusia itu makhluq dan makhluq beda dengan Tuhan. Makhluq bisa melakukan kebaikan, bisa melakukan keburukan, bisa melakukan kekeliruan, bisa melakukan kebenaran, bisa melakukan hal-hal yang dia tidak sengaja karena lupa dan bisa melakukan hal-hal yang terpaksa karena adanya tekanan dari pihak lain dsb.


Manusia...manusiaaa...lengkap dikaruniai akal, pikiran, hati, hawa nafs, anggota badan seperti mata, hidung, tangan dsb sebagai perangkat untuk menuju kepada-Nya. Masih ditambah dengan orang-orang yang masya Allah lengkap di sekitar kita juga sebagai sarana menuju kepada-Nya. Di sekitar kita ada banyak macam orang yang bisa menjadi perantara kita berbuat baik, seperti panjenengan dkk yang menyampaikan kebaikan kepada saya.

Semoga kebaikan panjenengan semua dibalas jauh lebih baik lagi oleh-Nya. Amin. :-)


Semar Samiaji :
Semoga Mas....dan semoga diskusi ini bukan basa-basi...namun, sungguh2 itikad untuk ujudkan dalam ruang hidup dan kehidupan sebijak mungkin dengan apa yang diri mampu berikan di dalam hidup dan kehidupan.....dan melalui ini, paling sedikit setiap diri, tidak akan memperkeruh sikon yang memang sedang memprihatinkan....

Tuesday, September 02, 2008

Ber-Tuhan dengan Beragama

Kondisi tiap orang berbeda2 termasuk dalam hal pemahaman akan hak dan kewajiban kepada dirinya dan sekitarnya, karena itu perlu adanya aturan yang mengatur kita agar menjadi lebih teratur, agar tidak menyakiti orang lain dsb.

Tidak bisa kita hidup tanpa aturan dan hukum sebab akan rawan timbul perselisihan. Kenapa? Karena pemahaman diantara kita tidaklah sama, seandainya pemahaman semua orang sama saling menghormati, menghargai maka tidak akan ada kekhawatiran perselisihan. Karena itu tetap perlu aturan dan hukum serta hukuman agar kita tahu tidak enak disakiti maka begitu pula rasanya mereka yang kita sakiti, agar kita bisa lebih memahami bahwa yang kita lakukan adalah kurang baik dan ada yang lebih baik lagi.

Perlu adab, perlu akhlaq, perlu aturan, perlu hukum, perlu syari'at, perlu thoriqoh, perlu tasawuf, perlu hakikat dan perlu ma'rifat dsb. Perlu semuanya agar seimbang.

Allah Swt Maha Sempurna dengan mengutus Nabi yang sempurna yang disertai dengan kitab yang sempurna untuk kita, Alqur'an. Kitab-kitab lain harus diyakini keberadaannya tapi bagi kita adalah kitab Alqur'an yang diajarkan Nabi Saw kepada kita lewat para pendahulu kita dan lewat guru kita. Aturan dan hukum bersumber kepada Alqur'an dan sabda Nabi Saw. Dengan mengikuti kitab ini insya Allah kita mengikuti jalan yang lurus yang mengantarkan kita kepada keselamatan dari Yang Maha Menyelamatkan.

Bagi yang tidak mempercayai dan tidak mengikuti kitab Alqur'an dan sabda Nabi Saw maka tidak ada pemaksaan bagi mereka, lalu apakah mereka tidak akan selamat? Allahu a'lam, keselamatan hanya milik Allah Swt. Yang pasti Islam adalah agama yang selamat dan menyelamatkan.

Allah Swt yang menciptakan mereka (dan kita), yang menghendaki mereka (dan kita) maka Allah Swt sudah tentu ada rencana terhadap mereka (dan kita). Dan, rencana Allah Swt pasti indah dengan segala keindahannya.

Mengikuti Nabi yang indah sayidina Muhammad Saw adalah jalan yang lurus.