Wednesday, August 06, 2008

Pilihan diantara Pilihan

Menyesal atas segala perbuatan buruk kita adalah harus agar kita tahu salah kita, lalu kita perbaiki demi mentaati perntah Allah Swt dan Rasul-Nya Saw.

Semua kesalahan kita tentu bukan tanpa makna sebab Allah Swt menciptakan semuanya ini dengan penuh makna. Semua yang kita lakukan adalah bagian dari rangkaian besar cerita kita yang mana cerita kita sangat berhubungan dengan cerita orang lain di sekitar kita bahkan mereka yang jauh di belahan bumi sana (baik yang wujud maupun yang ghoib) mempunyai hubungan cerita dengan kita, cerita yang sangat indah dari kehidupan yang sudah ditentukan oleh Allah Swt.

Yang kita terima saat ini adalah akibat dari semua perbuatan kita yang sudah terjadi, yang sudah kita lakukan atau yang orang lain lakukan, baik itu yang dianggap buruk atau baik. Kalau kita baru saja melakukan kesalahan, maka ada dua kemungkinan yaitu bisa jadi kesalahan ini awal dari keburukan kita di masa depan tapi bisa jadi juga kesalahan kita itu merupakan awal dari kesenangan kita di masa yang akan datang. Sebenarnya bukan hanya untuk kesenangan kita saja, bisa jadi juga merupakan awal dari kesenangan orang lain. Berbaik sangka terhadap Allah Swt adalah lebih baik dan semuanya kembali pada kita…sehabis melakukan kesalahan apa yang akan kita lakukan:

Apakah tetap akan melakukan kesalahan yang sama bahkan yang lebih buruk lagi?

…atau…

Apakah kita akan memperbaiki kesalahan kita agar kita menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang?

Kita diperkenankan untuk memilih apa yang terbaik buat kita. Semua pilihan sudah disediakan oleh Allah untuk kita. Memilih yang terbaik menurut Rasul Saw lewat salaf yang sholeh dan kholaf yang sholeh adalah pilihan yang lebih baik bagi kita. Kalau kita memilih yang baik bagi kita maka kebaikan ini akan menyebar ke sekitar kita, kita menjadi perantara tersebarnya barokah Allah Swt kepada mereka.

Kalau hal ini tertanam di hati kita maka suatu saat kita akan lebih menghargai kesusahan orang lain dan membantu mereka. Tapi jangan menyusahkan diri di saat kita sedang senang, itu hawa nafsu! Manfaatkan saja apa yang dikaruniakan Allah Swt kepada kita dengan sebaik-baiknya.

Malaikat...

Ada begitu malaikat di alam ini dengan tugasnya masing-masing. Mereka begitu patuh melakukan perintah Allah Swt untuk mereka. Mereka perantara kita dengan Allah Swt. Mereka menjaga dan mengawasi kita, niat kita dan amal kita serta semua hal yang terlintas di benak dan hati kita, bahkan yang lembut dari itu...

Mereka memenuhi bumi demi menjalankan perintah Allah Swt, tidak ada perbuatan kita yang tersembunyi dari pengawasan mereka. Kalau mereka begini istimewa maka Allah Swt tentu jauh lebih istimewa lagi, Maha Istimewa, Maha Mengawasi kita, Maha Menjaga kita.

Lalu kenapa kita masih tetap melakukan keburukan padahal kita sudah tahu?

Tuesday, August 05, 2008

Dosa Kecil akan Menarik Dosa Besar

“Silahkan kalau ada yang mau tanya masalah agama.”, kata habib Shodiq bin Abubakar Baharun mempersilahkan kami sehabis majlis pembacaan maulid Simthud Durrar di mushola RT saya.

Temanku mengacungkan tangan dan bertanya, “Bib, lebih utama mana sholat berjama’ah di mushola / masjid dibandingkan dengan sholat di rumah berjama’ah dengan anak istri?”.

“Bagi laki-laki lebih utama sholat berjama’ah di mushola atau masjid. Bagi perempuan lebih utama sholat di rumah. Tapi kalau istri kita sholat sendirian di rumah sedangkan anak kita masih belum baligh maka lebih utama sholat berjama’ah dengan mereka di rumah. Kalau kalau ditinggal dia bisa berjama’ah dengan anak kita dsb maka lebih utama sholat berjama’ah di mushola atau masjid.”

“Bib, apa masjid tidak lalu menjadi sepi karena laki-laki sholat berjama’ah di rumah masing-masing?”.

“Tidak! Sebab ada banyak hal yang menyebabkan laki-laki masih bisa sholat di mushola atau masjid meski di rumahnya si istri tidak bisa sholat berjama’ah, antara lain si laki-laki pulang kerja belum sampai di rumah sudah keburu datang waktu sholat maka dia lebih baik sholat berjama’ah di mushola atau masjid. Lalu perempuan tiap bulannya mengeluarkan darah kotor / haid yang pada masing-masing mereka tidak sama waktunya, maka laki-laki lebih utama sholat berjama’ah di mushola atau masjid saat istri haid. Ketidak-samaan waktu haid antar perempuan ini bisa dimanfaatkan suami untuk sholat di masjid.”

“Kenapa perempuan lebih utama sholat di rumah, bib?”.

“Karena kalau perempuan sholat di mushola atau masjid akan rawan menimbulkan godaan pada laki-laki padanya. Suaranya, dandannya, pakaiannya, bau parfumnya bahkan gaya jalannya pun bisa membangkitkan hawa nafsu laki-laki, kecuali perempuan yang sudah tua. Seperti kebiasaan banyak laki-laki kalau melihat wanita sering digoda, apalagi kalau dia masih muda. Sudah tahu mau ke pasar eh masih ditanya mau ke mana mbak dsb.”

“Mungkin si laki-laki itu supel, bib…”.

”Ah ya tidak, kalau seorang laki-laki benar-benar supel maka seharusnya dia tidak akan pandang bulu, kepada siapa pun akan dia sapa, tua atau muda, cantik atau tidak. Kenyataannya kalau yang lewat nenek tua tidak akan ditanya dan digoda.”

”Apa itu tidak tergantung pada masing-masing orangnya, bib?”.

”Tidak! Hanya orang gila dan berpenyakitan saja yang tidak tergoda oleh hawa nafsu, tidak tergoda oleh perempuan. Tapi kenyataannya orang gila pun bisa tergoda oleh perempuan bahkan memperkosanya. Hanya orang yang sudah mati saja yang tidak mengikuti hawa nafsunya. Sudah sering kita lihat bahwa banyak perempuan menyusui anaknya tanpa menutupi payudaranya, hal ini dianggap biasa. Kalau hal ini dianggap biasa maka suatu saat akan ada kesempatan laki-laki untuk tergoda saat melihat payudara perempuan itu. Sebuah kesempatan akan terwujud kalau ada kesempatan untuk melakukannya, hingga suatu saat kesempatan untuk melakukan zinah akan bisa terlaksana.”

”Apa ini tidak berarti perempuan dikalahkan, bib?”.

”Tidak! Justru islam meninggikan martabat dan derajat kaum permpuan. Kalau ada perempuan berpakaian dengan sangat berlebihan maka bisa jadi akan dikatakan dicitrakan buruk. Coba seorang perempuan berpakaian dengan baik menutupi auratnya dan menjaganya pasti akan lebih dihargai oleh orang lain.”

”Apa tidak gosipkan oleh masyarakat, bib, misal dikatakan sok alim dsb?”.

”Jangan mengikuti apa kata masyarakat kalau bertentangan dengan perintah Allah Swt. Masyarakat memandang kita pasti buruk meski kita sudah berbuat baik sesuai aturan. Masyarakat ada 4 jenis kata Abunawas Suatu ketika Abunawas mengajak anaknya keluar jalan-jalan. Si anak disuruh membawa keledai lalu Abunawas jalan di samping keledai menuntunnya, sedang anaknya naik keledai. Ketika melewati kerumunan orang, mereka berkata bahwa si anak tidak sopan sebab naik di atas keledai dan membiarkan orang tuanya berjalan menuntun keledai.

’Lihat apa kata masyarakat wahai anakku!’, kata Abunawas kepada anaknya. ’Sekarang kau turunlah, biar aku yang naik keledai. Lalu jalanlah kau sambil menuntun keledai ini.’ Ketika melewati kerumunan orang mereka berkata bahwa Abunawas tidak tahu diri membiarkan anaknya berjalan menuntun keledai sementara dia duduk enak di atas keledai.

’Lihat apa kata masyarakat wahai anakku!’, kata Abunawas, lalu dia turun dan berjalan berdua bersama anaknya sambil menuntun keledai. Ketika melewati orang mereka berkata bahwa Abunawas dan anaknya tidak bisa memanfaatkan keledai yang seharusnya bisa ditunggangi malah dituntun saja.

’Lihat apa kata masyarakat wahai anakku!’, kata Abunawas. Abunawas dan anaknya lalu menaiki keledai itu berdua. Ketika melewati orang mereka berkata bahwa Abunawas dan anaknya tidak kasihan pada keledai kecil dinaiki berdua begitu. ’Lihat kata masyarakat wahai anakku!’, kata Abunawas.

Masyarakat pasti memandang keburukan kita meski kita sudah berbuat terbaik yang kita bisa. Jadi lebih baik jangan mendengar kata masyarakat selama kita benar sesuai perintah Allah Swt maka cukup ini yang kita perhatikan.”

”Bib, apa orang alim bisa mengikuti hawa nafsunya?”.

”Bisa seperti yang dikisahkan oleh Nabi Saw bahwa dulu di kalangan bani israil ada seorang alim yang punya banyak murid yang wali semua. Kalau murid-muridnya saja wali maka gurunya tentu masya Allah, maqomnya di atas wali biasa. Tapi meski begitu guru tersebut bisa tergoda oleh syaithan dan hawa nafsunya. Dia suatu ketika melihat muridnya yang sebenarnya syaithan yang ingin menjerumuskan sang guru. Murid itu dilihat sang guru seharian bahkan lama sekali berdzikir dan menikmatinya tanpa makan dsb. Lalu ditanyalah muridnya itu apa yang membuat dia berdzikir begitu nikmat. Murid menjawab bahwa dia bisa begini karena rasa penyesalannya akan dosa-dosanya dulu, sehingga dia bisa khusyuk berdzikir setelah bertaubat. Si guru bertanya apa dia bisa seperti itu, bisa kata muridnya. Caranya?

‘Guru harus berbuat dosa lebih dulu agar bisa bertaubat lalu baru bisa berdzikir nikmat sepertiku.’, kata si murid.

‘Tidak bisa itu dosa!’, kata guru.

’Ya terserah guru, itu caraku. Kalau mau bisa sepertiku ya guru harus ikut cara ini.’, kata murid.

Sang guru pergi tapi pikirannya terus memikirkan perkataan muridnya. Suatu saat guru pergi tanya hal dosa apa yang dulu dilakukan muridnya itu.

’Minum minuman yang dilarang Allah, kata murid, ’Di tempat itu (sambil menunjukkan arah) ada warung yang jual minuman keras yang tidak memabukan meski minum banyak.’

’Bagaimana kalau aku mabuk.’, tanya guru.

’Tidak, di sana dijual minuman keras yang tidak membuat mabuk.’, kata muridnya.

Sang guru pergi ke tempat itu lalu memesan satu gelas minuman keras yang dimaksud muridnya, lalu meminumnya dan benar dia tidak mabuk. Dia pesan lagi hingga banyak gelas minuman keras dia minum. Akhirnya guru itu mabuk dan ketika melihat penjual minuman ini cantik, tergoda lalu memperkosanya. Selesai, dia ketahuan suami dan anak dari wanita yang diperkosa sang guru itu. Karena merasa dia orang terkenal maka dia khawatir suami dan anak dari wanita yang diperkosanya ini akan menyebarkan apa yang sudah dilakukannya, maka dibunuhnya mereka beserta si wanita. Sudah, dia stress lalu bunuh diri.”, habib Shodiq panjang lebar menjelaskannya pada kami.

Beliau mengakhiri penjelasannya dengan berpesan jangan kita meremehkan hal dosa meski kecil sekalipun. Sebab begitu kita melakukan dosa kecil maka suatu saat kalau ada kesempatan baik karena diusahakan sendiri atau karena orang lain yang melakukan dosa maka dia akan berbuat dosa yang lebih besar dari apa yang sudah dia lakukan.

Dosa kecil akan menarik dosa yang lain yang lebih besar.

Monday, August 04, 2008

Amal yang Dirahasiakan

(Disampaikan oleh Alhabib Ghozi bin Ahmad bin Musthafa Shihab setelah dibacakan maulid Simthud Durrar dalam rangka Haul Alhabib Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri – Semarang)

Tujuan kita berkumpul di sini adalah untuk mengingat Alhabib Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri. Dikatakan bahwa barang mengingat wali Allah Swt maka dihitung sebagai ziarah asalkan selama perjalanan selalu dalam kebaikan.

Alhabib Zain mengamalkan banyak sunah dan amalan-amalan lainnya secara istiqomah. Mengingat orang-orang sholeh, orang-orang alim yang mengamalkan ilmunya akan menyambungkan kita kepda Allah Swt, lewat Rasul Saw, lewat salaf sholeh dsb.

Alhabib Sholeh Alhamid – Tanggul pernah berkata bahwa Alhabib Zain ini adalah orang yang dicintai oleh Allah Swt, beliau suka beramal secara sembunyi-sembunyi, rahasia, tidak ada yang tahu. Beliau seorang yang tawadlu’.

Kita akan dimudahkan Allah dalam segala hal kalau kita mengambil ilmu dari orang-orang yang alim seperti beliau ini.

Jangan Tunggu Esok !

(Disampaikan oleh Alhabib Abdurrahman Sumaith setelah dibacakan maulid Simthud Durrar dalam rangka Haul Alhabib Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri – Semarang)

Bulan ini belum tentu kita akan bertemu lagi di tahun depan, tahun yang akan datang. Berbuatlah terbaik dan perhatikan segala yang mempengaruhi amal kita.

Saat sayid Abdullah bin Abas wafat ada seekor burung putih terbang dan masuk ke kafan beliau. Ketika dicari burung itu tidak ditemukan. Karena tidak ditemukan, jenazah lalu dikubur dan saat dimasukkan ke liang lahat terdengar suara dari dalam, ”Hai jiwa yang tenang, kembalilah ke golongan yang dicintai Allah!”. Betapapun sibuknya kita, yang namanya ruh akan kembali kepada Allah Swt, lalu sudahkah kita memberi ”makan” ruh kita?

Jangan cuma raga ini yang diberi makan, ruh juga butuh makan! Makanan ruh adalah dzikir, ingat pada Allah Swt. Ingat dengan lesan, hati dan perbuatan.

Pernah ada seseorang bermimpi bertemu dengan seorang alim yang mengenakan pakaian putih dan mahkota yang indah di kepalanya. Ketikaditanya kenapa dia mengenakan pakaian putih dan mahkota itu, beliau menjawab bahwa pakaian putih adalah ketaatan-ketaatan beliau semasa hidup yang dijadikan oleh Allah Swt saat sudah meninggal sebagai pakaian yang putih. Lalu mahkota adalah ilmu-ilmu beliau semasa hidup yang dijadikan oleh Allah saat meninggal sebagai mahkota yang indah.

Salaf menganjurkan kita saat sendirian membaca :

Allah bersamaku.
Allah menyaksikanku.
Allah melihatku.
Allah sangat denganku.


Kalau sudah bisa begitu, maka kita tidak akan pernah benci kepada siapa pun juga. Tidak pernah benci mengakibatkan jenazah seseorang berbau harum meski belum dimandikan, belum dikasih minyak wangi. Juga sangat dianjurkan untuk menyambung talisilaturrahmi dan sholat di malam hari, jangan menunggu besok-besok sebab kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.

Mumpung ada kesempatan, lakukan saja!

Ketekunan dan Barokah Orang Alim

(Disampaikan oleh Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri saat ziarah ke makam Alhabib Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri dalam rangkaian acara Haul Alhabib Zain bin Ali Aljufri di pemakaman Bergota – Semarang)

Para wali Allah Swt tidak lagi merasa khawatir akan segala sesuatu sebab mereka dekat dengan Allah Swt. Yang kita haul-i adalah dikenal sebagai wali Allah. Rasul Saw berdoa agar keturunan beliau Saw dikarunia barokah oleh Allah Swt, yang kita haul-I dalah termasuk keturnan beliau Saw dan orang alim.

Mbah Hamid Kajoran pernah berkata bahwa Alhabib Zain bin Ali bin Ahmad Aljufri ini adalah wali khusus di atas khusus meski beliau tidak menampakkan diri di khalayak ramai sebagai seoran wali.

Suatu ketika murid beliau bertanya bagaimana cara agar bisa sholat malam. Oleh beliau dikatakan agar dia tiap bangun tidur di malam hari langsung sebut nama Allah Swt, lalu pergi kamar mandi dan wudhu meski tidak sholat malam. Ini dilakukan oleh murid beliau dan suatu ketika dia lapor ke habib Zain bahwa dia sudah melakukan perintahnya dan bisa bangun malam. Lalu oleh beliau dikatakan pada dia agar menambah dengan doa setelah menyebut nama Allah begitu bangun tidur.

Dengan usaha maksimal, Allah akan menyampaikan kita pada tujuan kita. Alhamdulillah sampai sekarang si murid itu insya Allah masih istiqomah sholat malam berkat ketekunannya dan barokah gurunya yang alim serta mengamalkan ilmunya.

Friday, August 01, 2008

Benci

Akibat dan pengaruh benci sunguh masya Allah buruknya bagi diri kita. Sekali benci melanda dan mempengaruhi diri kita, maka sungguh susah menghilangkannya.

Mungkin kita tidak menunjukkan kebencian kita lewat lesan kita atau lewat perbuatan kita (menyembunyikan agar tidak diketahui oleh orang lain), mungkin peristiwa yang membuat kita benci pada seseorang sudah lewat beberapa waktu yang lalu, mungkin bagi kita terasa sudah hilang, kita merasa sudah tidak benci lagi. Kita paksa diri kita tersenyum saat orang bercerita tentang dia. Hal ini terjadi bisa jadi karena kita tidak bertatap muka dengan dia.

Tapi begitu bertatap muka meski sedikit rasa benci itu muncul lagi, tidak langsung besar, pelan tapi pasti. Begitu terjadi selisih paham dsb seperti api disiram minyak tanah, benci langsung berkobar. Mungkin tidak dikeluarkan lewat lesan atau perbuatan tapi gemuruhnya di dada kita mengurangi kenyamanan kita, waktu akan terasa sangat lama bagi kita, hati tidak bisa hadir di majlis dimana kita berada.

Cobalah tenangkan pikiran kita dari memikirkan segala macam kejadian yang sudah kita alami, atur nafas, rilekskan badan kita, lalu ingat dan sebut Allah Swt. Sebut nama-Nya hingga kita lupa dengan apa yang membuat kita benci, rasakan hembusan angin yang menyapu kulit kita, rasakan segala macam yang kita dengar di sekeliling kita, apapun itu rasakan saja, ikuti saja dan jangan dilawan. Nanti kita akan lebih tenang dan nyaman.

Tiada daya dan kekuatan selain dari-Nya.