Sunday, October 17, 2010

Jagalah Perkara yang Diwajibkan

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Rodhinabillaahi Robba... Sudah semestinya kita merasa rela untuk mematuhi semua keputusan dari Allaah Swt, semua keputusan Allaah Swt adalah semua yang terjadi pada kita dan sekitar kita baik dulu, sekarang atau pun besok, baik yang kita sebut sebagai kesenangan atau pun yang kita sebut sebagai kesusahan. Kalau senang yang kita terima, maka kita akan lebih baik bersyukur pada Allaah Swt. Demikian pula kalau kita sedang berada dalam kesusahan.

Bersyukur itu lebih baik bagi kita karena itu yang dikehendaki Allaah Swt dan Rasulullaah Muhammad Saw. Barang siapa bersyukur pada Allaah Swt atas semua yang dia terima maka Allaah Swt akan menambah karunia-Nya padanya, akan menambah nikmat padanya, tetapi kalau kita tidak bersyukur maka adzab yang pedih akan kita terima baik di dunia atau pun di akhirat kelak.

Adzab yang disegerakan di dunia antara lain adalah kita akan selalu merasa kurang, cinta dunia (dunia adalah semua kegiatan yang tidak ada usaha mengingat Allaah Swt), tidak bisa merasakan nikmat-Nya, selalu diperbudak oleh harta. Sementara adzab yang akan kita terima di akhirat kelak jika kita tidak bersyukur antara lain adalah siksaan yang sangat pedih, minum sesuatu yang sangat panas yang merontokkan badan, menginjak bara api yang sanggup merontokkan otak dsb.

Berhati-hatilah dan jagalah diri kita agar selalu bertaqwa pada Allaah Swt, bertaqwa pada saat kita sendirian atau di keramaian. Jagalah perkara-perkara yang diwajibkan bagi kita dan jauhi yang dilarang. Kemudian bersabar atas semua cobaan Allaah Swt. Sesungguhnya hamba Allaah Swt akan diuji oleh Allaah Swt.

Bersabar itu bermakna kita menerima semua keputusan Allaah Swt (tentu harus disertai usaha sebab menerima tanpa ikhtiar adalah tidak sempurna). Dalam kesabaran tentu didasari oleh kecintaan kita kepada Allaah Swt, cinta Allaah itu bermakna kita ingin bertemu dengan Allaah Swt yaitu dalam artian kita tidak takut apapaun (termasuk kematian) kecuali kepada Allaah Swt saja kita takut.

Kita wajib takut kepada Allaah Swt, takut akan kemarahan Allaah Swt, takut akan kemurkaan Allaah Swt. Ketika Allaah Swt murka pada kita, maka di saat itu kita pasti tidak melakukan perintah-perintah-Nya, musibah akan datang kepada kita. Tetapi jika kita melakukan perintah-perintah Allaah Swt maka musibah akan pergi dari kita dan berganti dengan kemudahan bagi kita dalam semua urusan kita, ketentraman meski kita sedang susah dsb. Hanya kepada Allaah Swt saja kita bergantung, makhluq hanya perantara saja.

Saturday, October 16, 2010

Allaah Swt Memperlihatkan Semua Jawaban Atas Semua Pertanyaan

Oleh: Alhabib Ghozi bin Ahmad Shihab

Syaikh Muhammad Sya'roni berkata bahwa tiupan sangkakala bunyinya bergemuruh tiada tara, menghancurkan semuanya. Sangkakala ditiupkan setelah kiamat terjadi dimana semua makhluq-Nya kemudian dibangkitkan.

Adapaun yang dituju dengan ditiupkannya sangkakala ini adalah telinga kita, kenapa dan ada apa dengan telinga kita? Yaitu agar telinga kita mendengar. Telinga ini sangat indah susunannya, begitu lembut tetapi mampu menangkap suara kemudian membedakan berbagai jenis suara.

Telinga adalah yang pertama kali mengenal kehidupan, bayi begitu terlahir pertama kali bukan melihat tetapi mendengar yang bayi mampu. Dan kita beribadah juga diawali salah satunya dengan mendengar dahulu, mendengar ajaran ulama kemudian mengamalkannya, mendengar adzan kemudian sholat, teman bercerita tentang kebaikan lalu kita dengarkan kemudian kita amalkan dst.

(Alhabib Muhammad bin Abdullaah Al'aydrus berkata dalam kitab beliau bahwa kita mesti menerapkan adab ketika mendengarkan pembicaraan teman bicara kita. Beliau melarang kita menghentikan atau menyangkal ucapan seseorang di hadapan khalayak ramai karena ini perbuatan yang sangat buruk. Jika ucapannya salah dan kesalahannya itu tidak membahayakan orang banyak maka maafkanlah, jangan lalu kita tunjukkan kesalahannya di hadapan orang banyak! Jika kita ingin menegurnya maka tegurlah pada saat kita sedang berdua. Tetapi jika kesalahannya membahayakan khalayak ramai (misal dalam hal tauhid dsb) maka tegurlah dengan cara yang lembut dan baik serta penuh kasih sayang, jangan kasar!).

Begitu pentingnya mendengar sehingga ketika kita dibangkitkan kelak adalah telinga yang pertama dituju yaitu oleh tiupan sangkakala yang pertama kalinya. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa tiupan sangkakala itu menghancurkan semuanya kecuali para Nabi, para Rasulullaah, para malaikat, orang-orang yang meninggal syahid dsb, mereka diselamatkan 0leh Allaah Swt.

Ulama menjelaskan bahwa antara tiupan sangkakala pertama dan kedua ada jeda waktunya, menurut Abu Hurairah Ra dari Rasulullaah Muhammad Saw bahwa jeda waktu antara dua tiupan sangkakala itu 40, tidak dijelaskan itu 40 apa sebab Abu Hurairah tidak bertanya kepada Rasulullaah Muhammad Saw.

Jika tiupan sangkakala yang pertama adalah telinga yang dituju, maka tiupan sangkakala yang kedua adalah mata yang dituju. Kenapa? Karena setelah setelah mendengar biasanya kita baru percaya setelah melihat buktinya, dijelaskan ini terjadi pada orang-orang yang tidak percaya kepada Allaah Swt sering kali menolak kebenaran jika mereka tidak melihat sendiri, padahal tidak semua kebenaran bisa terlihat dengan mata biasa ini, ada banyak kebenaran yang membutuhkan keimanan untuk kemudian dipercayai. Mereka lalu menolak kebenaran adanya Allaah Swt, maka inilah yang dituju dengan tiupan sangkakala yang kedua yaitu mata agar mereka bisa langsung menyaksikan ke-Maha-Besar-an Allaah Swt yang mampu menghancurkan semua makhluq-Nya tanpa kesulitan sama sekali, mampu memnghancurkan makhluq sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan, mampu membangkitkan semua yang sudah berserakan yang sudah dihancurkan dan kemudian dikumpulkan di suatu tempat dsb sehingga saat itu tidak perlu lagi dalil-dalil sebab semuanya sudah terpampang di depan mata mereka, mata kita, Allaah Swt memperlihatkan semua jawaban atas semua pertanyaan mereka yaitu mereka yang tidak percaya atas ke-Tuhan-an Allaah Swt.

Kemudian, setelah semua makhluq dibangkitkan maka dikumpulkan di padang Mahsyar di yaumul mahsyar. Kata Mahsyar ini diambil dari kata Al Asyhr yang secara bahasa maksudnya adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan yang berserakan sehingga menjadi satu di dalam satu tempat. Jadi yaumul mahsyar adalah hari dimana kita semua dibangkitkan dan dikumpulkan oleh Allaah Swt dalam tempat yang sempit (tidak dijelaskan sempit yang bagaimana yang dimaksudkan) yaitu di padang Mahsyar.

Sebagaimana bumi sekarang dipenuhi oleh cahaya matahari, maka di padang Mahsyar dipenuhi juga oleh cahaya Allaah Swt yang mana setelah itu diserahkan pada kita kitab catatan amal kita selama hidup di dunia sekaligus beserta saksi-saksinya.

Pergunakan Anggota Badan Kita Sesuai Fungsinya Agar Baik Bagi Kita

Oleh: Alhabib Hasan bin Abdurrahman Aljufri

Pergunakan semua anggota badan kita sesuai fungsinya agar baik bagi kita. Lalu hindari perkataan yang tidak ada gunanya seperti ghibah (*) atau pun fitnah, serta hindari pula terlalu banyak makan.

Makan boleh, apalagi jika diniati mengikuti Rasulullaah Muhammad Saw, tapi jangan berlebihan karena bisa mengakibatkan timbulnya penyakit pada diri kita, lalu membuta kita cepat mengantuk, susah menghafal ilmu, membuat kita enggan melakukan berbagai ibadah dan enggan menuntut ilmu, menyerupai pengikut syethan, menguatkan syahwat dan ilmu kita menjadi tidak bermanfaat. Makanlah secukupnya, tetapi ketika diniati untuk ber-tabaruk-an (ngalap barokah - bahasa Jawa), maka boleh makan banyak.

Demikian pula jangan pergunakan pakaian yang didapatkan dengan cara yang haram, yang didapatkan dari rizqi yang haram karena akan membuat do'a kita tidak dikabulkan oleh Allaah Swt. Salah satu penyebab do'a kita terkabul adalah dengan membaca "Ya Robb" 3x, tapi ini percuma kalau pakaian kita dan makanan kita didapatkan dari cara yang haram.


(*) :Alhabib Ghozi bin Ahmad Shihab pernah menjelaskan dalam majelisnya tentang ghibah ini, ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain yang tidak bermanfaat atau sekedar menggunjing saja. Jika yang dibicarakan keburukan yang benar terjadi maka ini ghibah, jika yang dibicarakan keburukan yang tidak pernah terjadi maka ini fitnah. Membicarakan keburukan orang lain (ghibah) terlarang kecuali untuk mengungkapkan keadilan maka membicarakan orang lain menjadi boleh. Atau ketika dalam situasi menuntut ilmu atau ketika kita menasehati orang lain maka boleh membicarakan keburukan orang lain, cukup jelaskan saja jenis keburukannya, jangan sebutkan nama pelakunya kecuali mereka-mereka yang di dalam Alqur'an sudah dijelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang buruk perbuatannya seperti Fir'aun dsb.

Wednesday, October 13, 2010

Simpang Lima Bersholawat

Hati pikiran serasa sejuk bak diguyur air es setelah berjalan di padang pasir ketika melihat ribuan orang yang kebanyakan berpakaian putih-putih yang berkumpul di lapangan Pancasila kawasan Simpang Lima Semarang malam tadi (10-10-'10) dalam acara Simpang Lima Bersholawat bersama Alhabib Syekh bin Abdulqadir Assegaf (Solo), habaib, ulama, Walikota Semarang dsb.


Ribuan Syekher (pecinta Alhabib Syekh) membanjiri lapangan Pancasila dengan membawa bermacam-macam pernak-pernik seperti bendera yang bertuliskan "Syekher Mania" atau pun "Ahbabul Musthofa" (nama majelis sholawat dan maulid Alhabib Syekh) -bahkan ada yang membawa bendera merah putih- yang kemudian bendera-bendera itu dikibar-kibarkan mengikuti alunan qoshidah-qoshidah yang dibawakan oleh Alhabib Syekh yang diiringi hadroh dari Ahbabul Musthofa.

Alhabib Syekh memulai acara sekitar pukul 20.00 setelah dibuka oleh pembawa acara dari TvKU (stasiun TV lokal Semarang) -karena memang acara tadi malam disiarkan langsung di TvKU dan disiarkan ulang nanti malam (11-10-'10) di stasiun yang sama pukul 19.00- kemudian Walikota Semarang dan wakil Gubernur Jawa Tengah memberikan sambutannya.

Seperti biasa, Alhabib Syekh membacakan kitab Shimthud Durrar (kitab sejarah Nabi Muhammad Saw) diselingi dengan berbagai qoshidah yang menawan, Syekher Mania terus saja mengibarkan bendera-bendera mengikuti qoshidah tersebut. Setelah selesai, K.H. Kharis Shodaqoh pengasuh Ponpes Al-Itqon, Bugen - Semarang) berdiri menyampaikan nasehat beliau.

K.H. Kharis Shodaqoh memulai nasehat beliau dengan menyampaikan bahwa acara tadi malam selain bersholawat kepada Rasulullaah Muhammad Saw, juga sekaligus ber-halal-bi-halal masyarakat bersama ulama dan pemimpin setempat (Ulama - Umara' - Umat). Beliau berdoa semoga setelah acara ini kita semua menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih rukun terhadap sesama kita.

Sebagaimana Rasulullaah Muhammad Saw bersabda bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang mau memaafkan kekeliruan temannya, saudaranya, kenalannya bahkan mungkin orang tuanya. Jangan merasa sombong dengan berbagai amal baik kita, sebab sering kali kita berpura-pura berbuat baik agar orang mengatakan kita adalah orang baik. Kita sering kali tidak mau kejelekan kita diketahui orang lain, kita sering kali mau agar dikenal baik saja dengan menutupi segala kejelekan kita tanpa merasa bahwa diri kita sesungguhnya hanya berpura-pura saja, kita takut pada orang bukan takut pada Allaah Swt. Sudah berpura-pura, kita justru senang mengumbar kejelekan orang lain. Ini adalah hal yang buruk!

Kemudian, K.H. Kharis Shodaqoh melanjutkan, orang yang bertaqwa adalah orang yang mencintai orang lain karena demikianlah Allaah Swt yang mencintai makhluq-Nya, Allaah Swt saja masih memberikan kita kesempatan untuk bertaubat maka seharusnyalah kita memaafkan kekeliruan orang lain. Demikian yang diteladankan oleh Rasulullaah Muhammad Saw dan ulama salaf. K.H. Kharis Shodaqoh mengakhiri nasehat beliau dengan mengatakan jika kita semua bisa berlaku demikian maka kita akan damai, Semarang akan damai dan Indonesia akan damai.

Nasehat berikutnya disampaikan oleh Alhabib Hasan bin Abdurrahman Aljufri (Semarang). Alhabib Hasan memulai nasehat beliau dengan mendoakan agar dengan berkumpulnya kita semoga Allaah Swt mententramkan hati kita, pikiran kita dan memudahkan semua urusan kita. Sejak awal hingga akhir acara banyak dikumandangkan sholawat kepada Rasulullaah Muhammad Saw, bersholawat adalah amal yang sangat dianjurkan untuk kita lakukan sebab hanya sholawat yang merupakan ibadah yang pasti diterima Allaah Swt meski kita lakukan dengan sombong. Ini terjadi karena keagungan Rasulullaah Muhammad Saw.

Rasulullaah Muhammad Saw meneladan memaafkan orang lain, merahmati orang lain dan membantu orang lain. Dan ketika kita mencinta Rasulullaah Muhammad Saw maka sudah seharusnya kita mengikuti Rasulullah Saw dengan memaafkan orang lain, merahmati orang lain dan membantu orang lain.

Pernah suatu ketika Rasulullaah Muhammad menyuruh para sahabat untuk berterus-terang apakah Rasulullaah Saw pernah berbuat kesalahan kepada mereka atau tidak, kalau pernah meski kecil, Rasulullaah Saw meminta agar mereka mengatakannya sebelum Rasulullaah Saw wafat. Lihat keagungan dan keredah-dirian beliau, Rasulullaah Saw yang sudah terjaga dari semua kekeliruan pun masih saja demikian tawadlu'nya untuk meminta maaf kepada para sahabat beliau Saw. Ini Rasulullaah Saw lakukan karena berharap rahmat Allaah Swt.

Semua ini ada dan terjadi karena rahmat Allaah Swt, mulai dari akhlaq baik adalah rahmat Allaah Swt dan berbagai kebaikan lainnya juga bagian dari rahmat Allaah Swt. Alhabib Hasan pernah menjelaskan dalam majelis ta'lim beliau bahwa jika rahmat Allaah Swt ditandai dengan 100%, maka rahmat Allaah Swt yang dikaruniakan kepada kita sekarang di sini barulah 1% saja, sedangkan yang 99% akan dikaruniakan di surga nanti. 1% saja sudah begini istimewanya, maka sudah seharusnya kita terus melakukan berbagai kebaikan untuk berharap rahmat Allaah Swt.

Alhabib Hasan berpesan agar kita menjadi makhluq yang merahmati makhluq lainnya dan jangan sampai keliru salah menempatkan rahmat! Tempatkan rahmat pada tempat yang semestinya, misal ketika kita ada teman yang masih punya kebiasaan mabuk jangan sampai kita kita justru membelikan dia khamr dengan alasan merahmati dia, ini adalah rahmat yang keliru tempatnya! Rahmat untuk orang yang masih suka mabuk adalah mengatakan pada dia bahwa mabuk itu adalah buruk karena banyak celakanya daripada manfaatnya, ajak dia melakukan perbuatan baik dengan lembut dan perlahan. Itu rahmat yang benar ditempatkan pada tempatnya.

Alhabib Hasan mengakhiri nasehat beliau dengan berkata bahwa sekarang di tempat ini kita bersholawat pada Rasulullaah Muhammad Saw, semoga besok-besok kita lebih istiqomah lagi dalam bersholawat sebab diantara banyak keistimewaan sholawat adalah sholawat merupakan mahar pernikahan Nabi Adam As dan istri beliau di surga dulu. Semoga ini menjadi bagian dari surga kita semua.

Kurang lebih pukul 22.30 acara berakhir.

Saturday, August 08, 2009

Sami'na wa Atho'na

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun & K.H. Ahmad Baidlowi.

(Disampaikan dalam majlis Ratib & Maulid di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, Gemah - Semarang tanggal 7 Agustus 2009)

Allah Swt berfirman:
"Hai orang beriman jangan kau bertanya tentang hal yang kau berat untuk mengamalkannya".

Ada kisah serombongan bani Israil menghadap nabi Musa As & bertanya tentang siapa yang membunuh salah seorang diantara mereka. Dikatakan oleh nabi Musa As bahwa mereka disuruh Allah Swt mencari sapi. Mereka tanya sapi itu tua apa muda, dijawab sapi itu tidak tua & tidak muda. Mereka tidak puas & bertanya lagi warnanya apa, dijawab kuning keemasan. Mereka masih juga kurang puas & bertanya lagi dst.

Hikmah dari kisah tsb adalah jika kita disuruh ulama untuk mengamalkan sesuatu amalan atau ibadah, maka amalkan saja apa yang beliau perintahkan tanpa banyak bertanya yang justru akan memberatkan kita.

Bani Israil adalah kaum yang membangkang dibandingkan dengan kaum lainnya. Oleh Allah Swt mereka dikaruniai banyak kelebihan tapi mereka tidak mengamalkannya padahal mereka mendengarkannya. Jika ini yang kita lakukan maka kita tidak mendapatkan sir (rahasia) dari amalan tsb. Sebaliknya, kita akan mendapatkan sir (rahasia) jika melakukan apa yang disuruhkan kepada kita tanpa bertanya. Bertanya boleh tapi pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan kita, yang kita tidak akan melakukannya sebaiknya tidak perlu disampaikan.

Seperti di bulan Sya'ban ini kita dianjurkan memperbanyak membaca sholawat, jika disuruh membaca sholawat saja oleh ulama maka baca saja sholawat yang mudah bagi kita, jangan kita bertanya yang akan memberatkan kita.

Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu maka dia akan sering menyebutnya. Jika kita mencintai nabi Muhammad Saw maka perbanyaklah membaca sholawat kepada nabi Muhammad Saw, khususnya bulan Sya'ban ini. Barang siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Salafush sholeh membaca wirid ribuan kali tiap harinya, apakah kita mampu? Bisa jika berusaha. Amin.

Thursday, July 09, 2009

Fiqh Imam Syafi'i (1)

Diambil dari Madadun Nabawiy


Bismillahirrohmanirrohiim

Pengertian tentang Fiqih ala madzhab Imam Syafi’i.

Pembukaan

I. Semua ulama’ memulai mengarang semua kitab dengan memakai Basmalah, karena di Al Qur’an pertama ayat yang turun adalah Basmalah di Surat Al Alaq yang artinya: “Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhan yang menciptakan alam semesta” (Allahu a’lam bimurodihi) dan Rasulullah saw bersabda : “Setiap sesuatu perkara yang tidak dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohiim (basmalah), maka akan terputus dari semua keberkahan yang ada artinya tidak mendapatkan rahmat dari Allah SWT, dan basmalah mempunyai hukum-hukum:

1. Wajib : seperti di shalat (kalau madzhab Syafi’i dan Hambali dengan jahar (lantang) dan Maliki dan Abu Hanifah dengan syir (cukup diri sendiri yang mendengarkan).

2. Haram : seperti minum sesuatu yang memabukkan, zina dan mencuri (semua pekerjaan diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya).

3. Sunnah : semua pekerjaan yang sunnah (yang diperbolehkan oleh Allah dan rasul-Nya).

4. Makruh : semua pekerjaan yang hukumnya makhruh seperti makan bawang atau melihat auratnya sendiri atau auratnya istri dan anaknya.

5. Mubah : sesuatu yang dilakukan tidak mendapat pahala dan dosa), seperti memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain.


II. Kemudian setelah memulai dengan basmalah, maka para ulama’ menambah dengan bacaan hamdalah (alhamdulillahi) yang artinya tidak ada sesuatu yang pantas dipuji selain Allah SWT, dan kalimat hamdalah sunnah diucapkan setelah melakukan semua pekerjaan yang baik, apabila dilakukan maka semua pekerjaan yang dilakukan akan mendapatkan ridho Allah SWT (direstui oleh Allah) seperti yang tertera dalam hadits rasulullah saw apalagi kalau diucapkan setelah mendapatkan rizki atau anugrah dari Allah SWT, maka rizki atau anugrah yang didapati akan diberi keberkahan dan ditambahkan oleh Allah SWT. Amiin.

Dan hamdallah dibagi menjadi 4 macam:

1. Pujian dari Allah SWT untuk Allah sendiri seperti yang ada dalam Surat Al Anfal ayat : 40 yang artinya: “Sungguh nikmatnya Tuhan dan sungguh nikmatnya penolong.

2. Pujian dari Allah SWT ke hamba-Nya seperti surat Shod ayat 30, yang artinya: paling bagus hamba yang selalu kembali kepada Tuhannya.

3. Pujian dari hamba ke Tuhannya (Allah SWT), seperti ucapan kita Alhamdulillahi.

4. Pujian dari diri kita untuk semua makhluk-Nya Allah seperti sungguh cantiknya kamu atau sungguh gantengnya dirimu.


III. Kemudian dilanjutkan dengan bershalawat kepada baginda nabi kita Muhammad saw. Sholawat adalah satu amalan yang diperintahkan dari Allah untuk semua makhluk-makhluk-Nya dan Allah SWT mengerjakannya. Seperti di dalam Surat Al Ahzab ayat : 56. Dalam semua kitab Fiqih dan sufi dengan rujukan hadits Rasulullah, menafsirkan kalau sholawat dari Allah SWT adalah rahmatan dari-Nya, dan shalawat dari kita (umatnya) adalah doa yang kita minta kepada Allah SWT untuk kesejahteraan Nabi Muhammad dan semua umatnya.

Rasul dan nabi adalah manusia yang sempurna yang jauh dari semua penyakit dan dari semua sifat yang jelek dan beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ajaran-ajaran Allah untuk semua makhluk-Nya dari golongan manusia dan jin. Hanya saja kalau nabi diberi wahyu tapi tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-ajarannya, sedangkan rasul diberi wahyu tapi juga diperintahkan untuk menyebarluaskan semua ajaran-ajarannya. Adapun jumlah nabi ada 124.000 dan rasul ada 313. Akan tetapi yang mempunyai sifat yang lebih unggul ada 25 orang (seperti yang tertera dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Habban).


IV. Yang dimaksud wa alihi dalam shalawat adalah semua orang keturunan bani Hasyim dan Mutholib menurut yang dikatakan Imam Syafi’i di dalamkitabnya.


V. Shohabat adalah menurut Bahasa Arab artinya antara kamu dan dia saling ada kecocokan, dan menurut istilah teman yang selalu mengikuti kamu ditempat manapun dan selalu menuruti fatwa-fatwamu. Adapun yang kita bahas sekarang ini adalah shohabat Nabi kita Muhammad saw, adapun jumlah shohabat nabi ada 124.000 orang dan yang paling akhir meninggalnya adalah Abu Tufail Amir bin Wailah Al Laisyi (seperti yang dikatakan oleh Abu Zar’ah dan Al Iroq’i) dan semua shohabat Nabi Muhammad saw adalah adil dalam berbuat dan berhati-hati dalam melangkah dan selalu taat dan taqwa kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan selalu menjaga dengan benar-benar dari segala perbuatan nista (buruk) bukan seperti (yang dikatakan sebagian golongan). Shohabat yang telah diberi kabar dengan keistimewaan (jaminan surga dari rasulullah) ada 10 orang, beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqash, Said bin Zaid, Tolkhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidilah bin Jarroh dan Abdurrahman bin ‘Auf dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw.

Dan juga dapat amanah penuh dan yang paling diutamakan dari golongan para shohabat nabi adalah khulafaur rasyidin beliau adalah:

1. Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, beliau adalah shohabat yang pertama memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dengan pilihan dari semua shohabat muhajirin (orang-orang Mekah) dan anshor (orang-orang Madinah) dan beliau memimpin 2 tahun 3 bulan 10 malam, beliau meninggal di umur 63 tahun, sebelum wafatnya beliau memilih Umar.

2. Sayyidina Umar bin Khattab, beliau memimpin yang kedua dengan perintah dari Sayyidina Abu Bakar dan beliau memimpin kurang lebih 10 tahun dan 23 hari dan beliau meninggal syahid (dibunuh dengan umur 63 tahun).

3. Sayyidina Utsman bin Affan, beliau memimpin yang ketiga dengan cara dipilih kebanyakan shohabat, setelah wafatnya Sayyidina Umar bin Khattab dan beliau memimpin selama 12 tahun dan beliau meninggal syahid (dibunuh) di umur 82 tahun.

4. Sayyidina Ali bin Abi Tholib, beliau memimpin yang keempat dengan cara dipilih kebanyakan shohabat setelah wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan, dan beliau memimpin selama 4 tahun 9 bulan dan beliau meninggal dalam keadaan syahid (dibunuh) dan umurnya 63 tahun. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Amiin.


Perlu kita ketahui bahwa semua shohabat nabi adalah yang telah berjasa bagi agama Islam dan telah menegakkan bendera Islam dengan diri mereka, harta, darah dan keluarga mereka, maka wajib bagi kita menghormati mereka semua karena mereka semua telah berjuang bersama nabi kita, mereka senang dan susah bersama nabi kita Muhammad saw dan perlu kita yakini bahwa Allah SWT tidak akan memilih manusia untuk bersama utusan-Nya kecuali yang pantas dan bersih. Kalau ada golongan yang menghina shohabat berarti mereka menghina rasulullah saw dan pasti mereka juga menghina Allah SWT yang menciptakannya.

Di dalam hadits rasulullah saw bersabda, yang artinya : Shohabatku bagaikan bintang-bintang di langit dan dengan siapapun engkau mengikutinya, maka engkau akan mendapatkan hidayah (petunjuk dari Allah SWT). Apakah mereka pantas dinamakan Islam??? Orang nasrani saja menghormati dan selalu memuliakan shahabat nabi Isa as, bagaimana dengan kita Umat Islam yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad saw, apakah mungkin nabi kita tidak bisa mendidik shohabatnya menjadi orang yang paling taat dan taqwa kepada Allah SWT?? Kalau nabi Muhammad saw tidak bisa lalu siapa yang bisa?? Tidak mungkin ada yang bisa kalau nabi saja tidak bisa! Nabi Muhammad saw pasti bisa! Semoga kita dijauhkan dari faham-faham orang munafik yang selalu membenci nabi Muhammad saw dan para shohabatnya. Amiin, Amiin, Amiin ya Robbal ‘alamiin.


VI. Ijtihad madzhab : madzhab adalah sekumpulan ilmu-ilmu fiqih yang dirujukannya Al Qur’an dan sebab-sebab turunnya dan hadits-hadits dan sebab-sebab keluarnya hadits-hadits tersebut dan juga balaghoh (nahwu dan shorof) dan juga menguasai ilmu manteg dan juga ushul fiqih dan lain-lain dari ilmu-ilmu Al Qur’an yang luas. Begitu juga harus hafal dan langsung menjawab apabila ditanya oleh kebanyakan ulama dari semua daerah dan juga menjaga perilaku yang mulia dan ketaatan yang lebih kepada Allah SWT dan jauh dari perbuatan keji dan dholim besar atau kecil, dhohir atau batin, pada setiap manusia, jin dan hewan, dan juga bisa diikuti oleh kebanyakan manusia, dan madzhab-madzhab yang diakui oleh kebanyakan ulama-ulama di dunia ada empat:

1. Madzhab Hanafi: yang mencetus adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, beliau adalah murid dari Imam Ja’far Shodiq, beliau lahir di Iraq Kota Kuffah pada tahun 80 H / 699 M, wafat tahun 150 H pada bulan Rajab dengan umur 68 tahun. Dan madzhab beliau diikuti sebagian umat Islam di Abu Dhobi dan lainnya. Dan beliau mempunyai murid yang banyak dan semua ulama’ dan diantaranya Imam Malik.

2. Madzhab Malik : yang mencetus adalah Imam Malik bin Anas bin Malik, beliau lahir di madinah tahun 95 H, wafat di Madinah 179 H / 789 M dan umurnya 84 tahun dan madzhab-madzhab diikuti sebagian umat Islam di Saudi Arabia dan lainnya dan beliau juga mempunyai murid-murid yang banyak dan semuanya menjadi ulama’ diantaranya Imam Syafi’i.

3. Madzhab Syafi’i : yang mencetuskan adalah Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i, beliau lahir di Ghuzzah tahun 150 H, beliau hafal Al Qur’an 7 tahun, lalu beliau hafal muatthok (ilmu hadits karangan Imam Malik) di umur 10 tahun dan beliau diizinkan memberi fatwa di umur 15 tahun (berarti beliau sudah hafal semua ilmu termasuk Al Qur’an, tafsirnya hadits 9 sanad dan syarahnya, ushul balaghoh dan manteg dan lain-lain di umur yang sangat muda). Dan semasa hidupnya beliau selalu beribadah dan berdakwah dari Mekah, Madinah, Bagdad, dan Mesir kemudian mukim di Mesir sampai wafat, dan beliau wafat pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 240 H, beliau dimakamkan di kota Qorofah (Mesir) setelah Ashar dan umurnya 70 tahun. Dan murid beliau banyak sekali diantaranya Imam Ahmad bin Hambal dan madzhab beliau diikuti kebanyakan umat Islam, diantaranya di Indonesia dan lain-lainnya (mayoritas umat Islam yang di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i) (rujukan kitab Mugni Mohtaj).

4. Madzhab Hambali: yang mencetuskan adalah Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani Al Maruzi beliau dilahirkan di Iraq tahun 164 H / 780 M, beliau adalah ulama’ hadits yang terkenal dan beliau termasuk ulama’ yang keras dan tegas dalam memberi keputusan, bahkan beliau dimasukkan penjara sampai akhir hayatnya. Beliau meninggal tahun 241 H dan umur beliau 77 tahun.

Mengapa kita yang dalam masalah agama belum seberapa ini akan menyombongkan diri tidak mau bermadzhab dalam menjalankan syari’at Islam? Tentu tidak pada tempatnya! Benar bahwa berijtihad merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, namun hal itu bukan berarti sembarang orang Islam dapat berijtihad tanpa syarat-syarat tertentu. Seorang Islam dalam berijtihad harus paham betul syarat-syaratnya seperti syarat-syarat umum dalam berijtihad:

1. Islam

2. Dewasa

3. Sehat fikiran

4. Kuat daya tangkapnya dan ingatannya (I-Q nya tinggi) dan syarat-syarat pokoknya):
a. Menguasai Al Qur’an bersama ulumul Qur’an dan Asbabu Nuzulnya dan ayat-ayat hukumnya dan nasikh mansukhnya.
b. Menguasai hadits dan ulumul hadits dan asbab khurujul hadits dan hadits-hadits ahkam dan hadits-hadits nasikh mansuhknya dan lain-lain.
c. Mengusai bahasa Arab beserta ilmu-ilmu bahasa termasuk nahwu. Shorof, balaghoh, Fiqhul Lughoh dan adabul jahili.
d. Menguasai ilmu ushul fiqih.
e. Memahami benar-benar tujuan-tujuan pokok syari’at-syari’at Islam.
f. Memahami benar-benar Qowaid kuliyah.
g. Kesholehan dan ketaqwaan yang benar dan bersih dan lain-lain.

...baru mereka dibolehkan berijtihad, dalam ketentuan aturan kenegaraan saja membutuhkan keahliannya dalam bidangnya bagaimana dengan agama?! Dalam Surat An Nahl Allah berfirman, yang artinya : “Maka bertanyalah pada ahli ilmu bila kamu sekalian tidak mengetahui (An Nahl : 43), begitu pula orang dalam bertaqlid, orang boleh bertaqlid secara kafah (menyeluruh), jangan mengambil yang mudah dan seenaknya saja, seperti orang berwudhu menurut rukun madzhab Syafi’i tapi membatalkannya dengan memakai madzhab Maliki, seperti orang pakai baju setengah saja, lalu pakai celana setengah, bagaimana orang tersebut??? Semoga kita dijauhkan dari sikap munafik yang menjalankan agama yang enak dan mudah menurut hawa nafsunya.

(Rujukan kitab-kitab Fiqih, Tukfah, Minhaj, dll)

Sunday, July 05, 2009

Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Diambil dari:
http://madadunnabawiy.blogspot.com

Di dalam bulan rajab yang penuh rahmat ini, Allah Swt mencurahkan rahmat-Nya yang sangat banyak, maka dari itu bulan rajab ini dinamai oleh banyak ulama' (dengan landasan hadits rasulullah Muhammad Saw) bahwa bulan rajab adalah rajabulashab yaitu yang artinya bulan rajab penuh curahan rahmat dan maghfiroh dari Allah Swt.

Dan bulan rajab dikenal dengan syahrullah (bulan yang dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt) seperti yang disabdakan rasulullah Muhammad Saw, maka rasulullah Muhammad Saw mengkhususkan di bulan rajab ini ayat memperbanyak baca istighfar yaitu meminta ampunan kepada Allah Swt. Di dalam bacaan istighfar banyak sekali manfaatnya di dalam Alqur'an.





52. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."



10. Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
11. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah Swt, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah.

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: "Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.

Bahwa siapa saja yang mau membaca istighfar secara langgeng maka dia akan dicurahi rahmat dari Allah Swt dan semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kalau kita mempunyai hajat maka perbanyaklah membaca istighfar, kemudian minta kepada Allah Swt niscaya hajat kita akan dikabulkan oleh Allah Swt. Amin.

Di dalam kitab manaqib Al imam al alamah alhabib Hasan bin Sholeh Albahr, beliau berkata bahwa barang siapa membaca istighfar 1000x dalam satu hari sampai satu tahun dengan langgeng, maka dia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt dan dia akan diberi kekayaan yang cukup untuk kehidupannya di dunia serta dia akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah Swt untuk di dunia dan akhiratnya seperti yang disabdakan oleh rasulullah Muhammad Saw. Ini sangat mujarab, buktikan!

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita ahli istighfar yang selalu bermanfaat untuk diri kita dan keluarga kita, juga bermanfaat di dunia dan di akhirat kita. Amin.