Saturday, July 29, 2006

Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf

SANG PEMILIK DERAJAT YANG TINGGI
Tempat Berlabuhnya Para Auliya


Alkisah tentang seorang Imam Al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya' di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegarditerpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, beliau adalah Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf.

Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan Nabi Muhammad SAW.

Habib Abubakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota keci di kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285 H. Dlm pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah. Namun demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan Inayah Ilahi dlm lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda kebaikan dan kewalian.

Konon diceritakan bahwa beliau mampu mengingat segala kejadian yang dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail. Hal ini tak lain sebagai isyarat akan kekuatan Ruhaniahnya yang telah siap untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari Rabbnya Yang Maha Mulia.

Pada tahun 1293 H. segeralah beliau bersiap untuk melakukan perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, "Hadramaut". Kota yang bersinar dengan cahaya para auliya'. Perjalanan pertama ini adalah atas titah dari nenek beliau (Ibu dari ayahnya) seorang wanita salihah "Fatimah binti Abdullah Allan". Dengan ditemani seorang yang mulia, Assyaikh Muhammad Bazmul, beliaupun berangkat meninggalkan kota kelahiran dan keluarga tercintanya. Setelah menempuh jarak yang begitu jauh dan kepayahan yang tak terbayangkan maka sampailah beliau di kota "Siwuun". sedang pamannya tercinta "Al-allamah Al-habibAbdillah bin Umar" beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar kota tersebut.

Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang Allamah yang terpandang di masanya, Al-Arif billah "Al-habib syaikh bin Umar bin Seggaf". Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya memeluk dan menciuminya, tanpa terasa air mata pun bercucuran dari kedua matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu. Demikianlah seorang penyair berkata: "hati para auliya' memiliki mata yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia lainnya". Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksimal telah membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abubakar yang baru beranjak dewasa. Bagi Habib Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan melalui pamannya "Al-habib Umar" beliau mempelajari Ilmu fiqih dan tasawwuf.

Ketika menempa pendidikan dari sang paman inilah, pada setiap malam beliau dibangunkan untuk shalat tahajjud bersamanya dalam usia yang masih belia. Hal ini sebagai upaya mentradisikan qiyamul-lail yang telah menjadi kebiasaan orang-orang mulia di sisi Allah atas dasar keteladanan dari Baginda Rasulillah SAW. Hingga apa yang dipelajari beliau tidak hanya sebatas teori ilmiah namun telah dipraktekkan dalam amaliah kesehariannya.

Rupanya dalam kamus beliau tak ada istilah kenyang dalam menuntut ilmu, selain dari pamannya ini, beliau juga berkeliling di seantero Hadramaut untuk belajar dan mengambil ijazah dari para ulama' dan pembesar yang tersebar di seluruh kota tersebut. Salah seorang dari sederetan para gurunya yang paling utama, adalah seorang arif billah yang namanya termasyhur di jagad raya ini, guru dari para guru di zamannya " Al-Imam Al-Qutub Al-habib Ali bin Muhammad Al-habsyi" r.a. sebagai Syaikhun-Nadzar. (Guru Pemerhati).

Perhatian dari maha gurunya ini telah tertumpahkan pd murid kesayangannya jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika beliau masih berada di tanah Jawa. Hal ini terbukti dengan sebuah kisah yang sangat menarik antara Al-habib Ali dengan salah seorang muridnya yang lain. Pada suatu hari Habib Ali memanggil salah satu murid setianya. Beliau lalu berkata "Ingatlah ada tiga auliya' yang nama, haliah dan maqam mereka sama". Wali yang pertama telah berada di alam barzakh, yakni Al-habib Qutbul-Mala' Abubakar bin Abdullah alydrus, dan yang kedua engkau pernah melihatnya di masa kecilmu, yaitu Al-habib Abubakar bin Abdullah at-Attas, adapun yang ketiga akan engkau lihat dia di akhir usia kamu. Habib Ali pun tidak menjelaskan lebih lanjut siapakah wali ketiga yang dimaksud olehnya.

Selang waktu beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sang murid tersebut mengalami sebuah mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, kala itu dalam mimpinya Nabi SAW menuntun seorang anak yang masih kecil sembari berkata kepada orang tersebut, lihatlah aku bawa cucuku yang shaleh "Abubakar bin Muhammad Assegaf"! Mimpi ini terulang sebanyak lima kali dalam lima malam berturut-turut, padahal orang tersebut tak pernah kenal dengan Habib Abubakar sebelumnya. Kecuali setelah diperkenalkan oleh Nabi SAW.

Pada saat ia kemudian bersua dengan Habib Abubakar Assegaf, iapun menjadi teringat ucapan gurunya tentang tiga auliya' yang nama, haliah dan maqamnya sama. Lalu ia ceritakan mimpi tersebut dan apa yang pernah dikatakan oleh Habib Ali Al-habsyi kepada beliau. Kiranya tak meleset apa yang diucapkan Habib Ali beberapa tahun silam bahwa ia akan melihat wali yang ketiga di akhir usianya, karena setelah pertemuannya dengan Habib Abubakar ia pun meninggalkan dunia yang fana ini, berpulang ke Rahmatullah, Takdiragukan lagi perhatian yang khusus dari sang guru yang rnulia ini telah tercurahkan kepada murid kesayangannya, hingga suatu saat Al-habib Ali Al-habsyi menikahkan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dengan salah seorang wanita pilihan gurunya ini di kota Siwuun, bahkan Habib Ali sendirilah yang meminang dan menanggung seluruh biaya perkawinannya.

Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi "Syaikhut-Tarbiah" (Guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta Al-habib Abdillah bin Umar Assegaf. Adapun yang menjadi "Syaikhut-Tasliik" (Guru pembimbing beliau) Al-habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi. Sedang yang menjadi "Sya'ikul-Fath" (Guru pembuka) adalah Al-wali- Al-mukasyif Al-habib Abdulqadir bin Ahmad bin Qutban yang acap kali memberinya kabar gembira dengan mengatakan:
"Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Segaf".

Demikianlah beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah serta ilbas dengan berpindah dari pangkuan para auliya' dan pembesar yang satu dan yang lainnya di seluruh Hadramaut, Siwuun, Tarim dan sekitarnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu nama mereka. Setelah semuanya dirasa cukup dan atas izin dari para gu­runya, beliaupun mulai meninggal-kan kota para. auliya' itu untuk kembali ke tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1302 H.

Dengan ditemani Al-Arif billah Alhabib Alwi bin Segaf Assegaf (dimakamkan di Turbah Kebon-Agung Pasuruan) berangkatlah beliau ke Indonesia. Adapun tujuan pertamanya adalah kota kelahirannya Besuki -Jawa timur, setelah tiga tahun tinggal di sana, beliau lalu berhijrah ke kota Gresik pada tahun 1305 H dalam usia dua puluh tahun. Dan di kota inilah beliau bermukim. Mengingat usianya yang masih sangat muda, maka kegiatan menuntut Ilmu, Ijazah dan Ilbas masih terus dilakoninya tanpa kenal lelah.

Beliaupun terus menerus berkunjung kepada para auliya' dan ulama'yang telah menyinari bumi pertiwi ini dengan kesalehannya. Sebagaimana Al-habib Abdullah bin Muhsin Al-attas, Alhabib Ahmad bin Abdullah Al-attas, Alhabib Ahmad bin Muhsin Alhaddar, Alhabib Abdullah bin Ali Alhaddad, Alhabib Abubakar bin Umar bin Yahya, Alhabib Muham­mad bin Ahmad Almuhdar dan masih banyak lagi yang lainnya, Radhiallahu anhum ajmaiin.

Pada tahun yang sama tepatnya pada hari Jum'at, telah terjadi sebuah peristiwa yang di luar jangkauan akal manusia dalam diri beliau. Yaitu di saat beliau tengah khusuk mendengarkan seorang khatib yang menyampaikan khutbahnya di atas mimbar, tiba-tiba beliau mendapat lintasan hati Rahmani dan sebuah izin Rabbaniy, ketika itu nuraninya berkata agar beliau segera mengasingkan diri dari manusia sekitarnya. Hatinya pun menjadi lapang untuk melakukan uzlah menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

Seketika itu juga beliau beranjak meninggalkan Masjid Jami' langsung menuju rumah, dan sejak saat itu beliau tidak lagi menemui seorang pun dan tidak pula memberi kesempatan orang untuk menemuinya. Hal ini beliau lakukan tiada lagi hanya untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Rabbnya dengan segenap jiwa raganya, dan berlangsung sampai lima belas tahun lamanya. Hingga tibanya izin dari Allah agar beliau keluar dari khalwatnya untuk kembali berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.

Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh gurunya Alhabib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, seraya berkata. "Aku telah memohon dan bertawajjuh pada Allah selama tiga hari tiga malam untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf". Habib Muhammad lalu menuntunnya keluar dan membawanya berziarah ke makam seorang wali yang tersohor dan menjadi mahkota bagi segala kemuliaan di zamannya, yakni Alhabib Alwiy bin Muhammad Hasyim r.a.

Setelah ziarah, beliau berdua lalu berangkat menuju kota Surabaya ke kediaman Alhabib Abdullah bin Umar Assegaf. Di tengah- tengah orang-orang yang hadir pada saat itu, berkatalah Alhabib Muhammad bin Idrus sembari tangannya menunjuk ke arah Habib Abubakar "Ini adalah khasanah dari seluruh khasanah Bani Alawiy yang telah kami buka untuk memberi manfaat kepada orang khusus dan umum".

Pasca kejadian tersebut, mulailah Alhabib Abubakar menetapkan jadwal Qira'ah (pembacaan kitab-kitab salaf) di rumahnya. Dalam waktu yg singkat beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya, bagaikan Ka'bah yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang mengunjunginya dari berbagai penjuru dunia. Siapa saja yang datang kepada beliau disertai dg HusnudDzan (berbaik-sangka) maka ia akan beruntung dengan tercapai segala maksudnya dalam waktu yang dekat.

Di Majlis yang diadakannya itu beliau telah mengkhatamkan kitab "Ihya' Ulumuddin" sebanyak lebih dari empat puluh kali. Dan disetiap mengkhatamkannya, beliau selalu mengadakan jamuan besar-besaran untuk orang yang hadir di majlisnya. Alhabib Abubakar dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sirah dan jejak para salafnya, bahkan pada segala adat istiadatnya. Seluruh majlis beliau senantiasa dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah yang bersumber dari semua kitab karya para salafnya.

Jika kita berbicara tentang Maqam dan kedudukan beliau, maka tak satupun dari para Auliya' pada masa beliau yang menyangsikannya. Beliau telah mencapai tingkatan "Asshiddiqiyyah-Alkubra" yang telah diisyaratkan sebagai "Sahibulwaqt" {panglima tertinggi para Auliya' di masanya). Keluhuran maqamnya telah diakui oleh seluruh yang hidup di zaman beliau. Telah berkata Alhabib Muhammad bin Ahmad Almuhdar dalam sebuah suratnya kepada beliau (dengan mengutip beberapa ayat Alqur'an).
"Demi fajar "Dan malam yang sepuluh" dan yang genap dan yang ganjil" (Sesungguhnya Saudaraku Abubakar bin Muham­mad Assegaf adalah permata yang lembut yang beredar dan beterbangan menjelajah seluruh maqam para leluhur-nya)..

Berkata pula panutan kita, seorang yang telah diakui keunggulan dan keilmuannya Al-habib Alwiy bin Muhammad Alhaddad :
"Sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah "Alqutbul Ghauts" dan sesungguhnya ia adalah tempat tumpuan pandangan Allah".

Pada kesempatan lain beliau berkata:
"Aku tidak takut (segan) kepada satu pun makhluk Allah kecuali kepada habib Abubakar bin Muhammad Assegaf".
Sebenarnya pada masa keemasan itu banyak sekali orang-orang yang patut disegani, namun kini mereka semua telah berpulang ke rahmat Allah SWT. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau yang tak dapat kami torehkan dalam tulisan ini.

Berkata juga seorang sumber kebaikan di zamannya, dan kebanggaan pada masanya, seorang da'i yang selalu mengajak kejalan Allah dengan ucapan dan perbuatannya, Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Kwitang-Jakarta). Ketika itu di kediaman Habib Abubakar (Gresik), pada saat beliau menjalin persaudaraan dengannya, seraya memberi isyarat kepada Habib Abubakar dan air matanya berlinang, berkata kepada para hadirin saat itu "Ini (habib Abubakar) adalah raja lebah (raja para auliya') ia saudaraku di jalan Allah, lihatlah kepadanya! Karena memandangnya adalah ibadah".

Berkata seorang panutan orang-orang yang arif Alhabib Husain bin Muhammad Alhaddad, sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah, dialah pemimpin para auliya' di masanya, ia telah mencapai "Maqam as-Syuhud" hingga beliau mampu menerawang hakekat dari segala sesuatu. Beliau melanjutkan ungkapannya dengan mengutip sebuah ayat al-Qur'an "Sungguh patut jika dikatakan padanya; Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) (QS: Azzukruf59).

Maksudnya beliau tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah dilimpahi nikmat dan anugerah Allah SWT. Kiranya telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan bersua dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Berkata yang mulia r.a. bahwa:
"Arrasul SAW telah masuk menemuiku sedang aku dalam keadaan terjaga, beliau lalu memelukku dan akupun memeluknya".

Para auliya' bersepakat, bahwa Maqam Ijtima' (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba' (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW. Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan:
"Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah".

Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata "Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah" maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT. Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi

Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun. Semoga saja sirah beliau yang kami angkat kali ini tidak hanya mengundang decak kagum bagi yang membacanya, namun juga dapat menumbuhkan semangat dalam diri kita guna meningkatkan ubudiah kita dengan senantiasa mendekatkan diri dalam kebaikan dan bersama orang- orang yang baik. Aaamiin..

[Abubakar Hasan Assegaf]



(*) : Diambil dari rubrik Sirah majalah bulanan Cahaya Nabawiy No.14 Th. 1 Dzulhijjah 1424 H / Pebruari 2004 M.

Bulan Rojab 4

Assalamu'alaikum wr wb

"Rosulullah Muhammad Saw lahir di bulan Robi'ul Awal, Robi' ini artinya musim semi, Awal itu pertama, jadi Robi'ul Awal = musim semi yang pertama, Robi'ul Tsani = musim semi yang kedua. Rosulullah Saw lahir di musim semi yang pertama, kenapa? Karena musim semi penuh dengan hawa kegembiraan, hewan-hewannya seger, tumbuh-tumbuhannya juga seger, penuh bunga-bungaan, anginnya kenceng tidak mengandung debu.", kata bib Ghozi Shihab menjelaskan di majlis Nurul Musthofa.

Beliau berpesan agar kita menghafal nama bulan-bulan dalam Islam untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Islam, "Kalau kita sudah tidak hafal lagi bulan-bulan Islam, lalu apa yang kita harapkan dalam Islam, apa ciri kita? Karena penting, Islam dimulai dari kecil-kecil seperti ini.".

Majlis diakhiri dengan pesan agar kita banyak-banyak beramal di bulan Rojab ini, banyak istighfar, paling pendek yaitu :
"Robbifirli warhamni watub alaiya." (70 x)
(Ya Allah ampunkan dosa-dosaku, sayangilah aku dan terimalah taubatku)

Kalau ada yang lain itu lebih baik. Atau dari baginda Rosulullah Saw yaitu :
"Astaghfirullahal'adzim aladzi laillaha illahuwalhayyu qoyumu wa'atubu ilaih." (100 x atau sebanyak-banyaknya)

Atau :
"Robbifirli waliwalidayya warhamhuma kamarobbayani shoghiro."
(boleh 3 / 7 / 11 / 33 / asal ganjil).

"Ini saja kalau tidak bisa yang panjang-panjang, sudah cukup!", kata beliau, "Lalu baca sholawat, shodaqoh, baca al-Qur'an, berpuasa tadi, hindari maksiat dan jangan lupa niatkan ingin apa di dunia ini (Allah pasti mengabulkan) karena istighfar ini salah satu pengkabulan hajat, itu hikmah istighfar, selain niat menggapai ridho-Nya Allah juga niat dunia."

Ada yang tanya tentang niat puasa, berikut jawaban bib Ghozi :
Niat puasa dibaca sehabis sholat Maghrib dan saat sahur. Dan habis sholat Maghrib, sholat sunnah dua kali, istighfar, sholawat dsb. Sedang bacaan niat puasa : Nawaitu shouma sunnata rojab, lillahi ta'ala. (Ya Allah sengaja aku berpuasa di bulan Rojab, karena Allah Ta'ala).

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 3

Assalamu'alaikum wr wb

Hikmah angka 4...

Bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab menjelaskan bahwa ada 4 bulan mulia yang dipilihkan Allah Swt untuk manusia,
"Jadi tradisi orang Arab itu kalau tiba bulan Rojab, mereka berhenti perang sama sekali meski sebelumnya mereka bermusuhan, meski tiap ketemu musuh langsung hantam saja tapi tiba bulan Rojab mereka dengan sendirinya mereka berhenti walau musuh mereka diam-diam saja."

Kenapa? Karena tradisi ini sudah ratusan tahun turun temurun bahwa tidak boleh dilanggar, mereka berkeyakinan barang siapa melanggar tradisi ini akan kena musibah. Itu keyakinan mereka! Ini sebenarnya bukan tradisi jahiliyah tapi ini sebenarnya tradisi dari Nabi Ibrohim As, Nabi Ismail As turun ke anak beliau turun sampai disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw.

Bulan Rojab ini mulia karena Allah memuliakannya, karena banyak keutamaannya di bulan Rojab.

Empat bulan mulia yaitu bulan Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharrom dan Rojab. Kenapa kok 4 bulan itu tidak berurut-urutan tapi bulan Rojab terpisah sendiri sedang 3 lainnya berurutan? Itu karena Allah Swt suka yang ganjil-ganjil...Dzulqo'dah, Dzulhijah dan Muharrom = 3 = ganjil. Rojab = 1 = ganjil. Karena Allah Maha Esa, Maha Tunggal, Allah Swt suka dengan yang ganjil. Ini mempunyai hikmah yang dalam.

Kemudian, diantara banyaknya Malaikat Allah Swt yang terkenal hanya 4 Malaikat terpilih, yaitu Malaikat Jibril, Isrofil, Mikail dan Izro'il. Keempat Malaikat itu pimpinan semua Malaikat.

"Ada seorang bertanya ke saya, 'Ya habib, Malaikat Izro'il kan pencabut nyawa, nah kalau gempa, tsunami kayak Acheh meninggal 100.000 ini gimana mencabutnya? Itu di Indonesia, lha di Eropa, di Amerika dsb?' Belum lagi jin dan makhluq lain yang dicabut oleh Malaikat Izro'il, gimana?", tanya bib Ghozi.

Diterangkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw bahwa Malaikat Izro'il mengangkangi antara bumi dan Arsy. Jadi mudah sekali untuk mematikan yang ada di bumi dsb, kekuasaan Malaikat Izro'il besar sekali, luar biasa!

"Kalau ndak kuat, pingsan kita melihat Malaikat! Ndak kuat manusia.", kata bib Ghozi, "Karena saking gemerlapannya Malaikat ini."

Malaikat Jibril 2 kali (pertama ketika turunnya wahyu pertama di gua Hiro', dan kedua ketika Nabi Saw di-Isro'-Mi'roj-kan) menampakkan wujud aslinya ke baginda Nabi Muhammad Saw, tapi secara total Malaikat Jibril turun ke Nabi Saw sebanyak 124.000 kali. Tidak seperti Nabi As lainnya, Nabi Isa As hanya ditemui 10 kali oleh Malaikat Jibril. Nabi Musa As sekian puluh kali.

Sayap Malaikat Jibril itu 400 buah sayap, satu sayap jika dibentangkan jaraknya antara barat timut bumi. Dahsyat! Ini baru malaikat, apalagi Yang Maha Pencipta Alah Swt, sungguh Maha Luar Biasa, Maha Perkasa dsb.

Kemudian, kitab yang diturunkan Allah Swt pun ada 4 kitab utama, yaitu kitab Taurot, Zabur, Injil dan al-Qur'anul Karim. Lalu diterangkan lagi, anggota wudlu juga ada 4 macam yang wajib, yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki.

Kemudian kalimat tasbih yang utama juga ada 4 yaitu subhanallah, walhamdulillah, walaillaha illallah, Allahu akbar.

Lalu musim juga ada 4, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. Juga suhu ada 4 yaitu panas, dingin, lembab dan kering.

Inilah diantaranya hikmah angka 4...

Bib Ghozi melanjutkan, "Jadi jangan dikira angka-angka itu ndak ada makna, semua bermakna, seperti angka 7 yaitu Allah Swt ciptakan langit tujuh lapis, bumi 7 lapis. Angka 6 juga, semua angka-angka ini untuk perhitungan manusia dan semua mempunyai hikmah."

Lalu angka 13 = angka sial?

"Yang tidak kita setujui adalah yang berkata angka 13 itu angka sial, sial darimana, semua angka di sisi Allah semuanya baik tidak ada yang sial, tidak ada satu pun sial, semuanya baik, semua diberi keistimewaan." jawab beliau.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 2

Assalamu'alaikum wr wb

"Cara puasa di bulan Rojab, boleh puasa satu bulan berturut-turut, karena istimewa bulan ini...boleh 30 hari, tapi kalau kita tidak kuat, paling tidak diseling-seling. Hari pertama (1 Rojab 1427 H) ini Rabu, 26 juli 2006, kemudian Kamis puasa, lalu Senin Kamis Senin Kamis, kemudian 3 hari tengah bulan (tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah), kemudian diakhiri tanggal 27 Rojab ketika Rosul Saw Isro' Mi'roj." kata bib Ghozi menjawab pertanyaan seputar bulan Rojab.

Pahalanya berdobel-dobel dikaruniakan Allah Swt, jadi cara puasanya boleh berturut-turut, boleh berseling-seling, boleh sehari puasa sehari tidak, atau sehari sebulan karena tidak kuat karena penyakit itu boleh, tapi usahakan pernah puasa minimal satu hari di bulan Rojab.

Rojab ini terdiri dari 3 kata bahasa Arab : RO, JIM, dan BA.

1. Ro dari ROHMAT, rohmat kasih sayang Allah Swt.

2. Jim dari JURMATUL ABD, jurmah itu artinya dosa atau keburukan dari hamba-hamba-Nya Allah. Jadi ditengah, dimulai dengan rohmat-Nya Allah Swt.

3. Ba dari BIRRULLAH, keMaha-Baikkan Allah Swt, limpahan karunia Allah Swt.

Jadi dosa hamba-hamba Allah Swt yang beriman ini diapit dengan rohmat dan kebajikan, seakan-akan Allah berfirman begini,
"Wahai hamba-hamba-Ku yang telah memasuki bulan Rojab dengan kesungguhan hati, dengan amal ibadah yang telah Aku perintahkan melalui Nabi-Ku, yang mengagungkan bulan-Ku, ketahuilah bahwa seluruh dosa-dosamu Kuampunkan karena rohmat dan keMaha-Baikkan-Ku."

Tapi bagi orang yang bermaksiat di bulan Rojab, hati-hati, dobel dosanya, na'udzubillah mindzalik.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 1

Assalamu'alaikum wr wb

Sore itu di majlis Nurul Musthofa...

Bib Ghozi mengisahkan tentang seorang Ibu yang sangat alim, senang ibadah pada Allah Swt, ahli zuhud. Suatu saat Ibu ini berpesan pada anaknya agar kalau beliau meninggal dunia, agar dikafani dengan kain yang kasar saja. Anak beliau mengiyakan pesan Ibunya.

Tapi setelah Ibunya meninggal, sang anak ini tidak tega mengkafani Ibunya dengan kain kasar, dibelikannya kain yang halus mahal sebagai pengganti.

"Akhirnya malamnya mimpi, anak tersebut ditemui Ibunya, si Ibu ini berkata, 'Wahai anakku, aku ndak rela karena kau telah menyalahi amanat, ingkar terhadap amanat, tidak kau jalankan!' ", kata bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab.

Keesokan harinya si anak pergi ke kuburan dan dibongkarnya makam Ibunya. Begitu selesai dibongkar, sudah tidak ada lagi jenazah Ibunya. Dia menangis menyesal,
"Ya Allah, ampunkan dosaku wahai Ibuku, ampunkan dosaku, ridhoi segala amalku...aku niat baik sebetulnya...", kata si anak.

Khilaf anak ini, akhirnya ada seruan dari langit.....
"Wahai si fulan, jangan kau bersedih, sesungguhnya Ibumu telah dirohmati Allah Swt karena dia telah memuliakan bulan Rojab maka Kami tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang mengagungkan bulan Rojab dengan amalan sholeh. Maka telah ganti seluruhnya dan kamu telah diridhoi Allah Swt."

Ini kisah wanita yang sholehah, yang hidup di negeri Palestina.

Kenapa kok anak ini bermimpi tiba-tiba, terus menggali ulang kuburan? Sebetulnya Allah ingin menunjukkan karena manusia ini kalau tanpa bukti kadang-kadang tidak percaya, selalu dihitung dengan akal. Ada yang berkata, "Ah, ndak mungkin..." dan segala macam, padahal bagi Allah sangat mudah untuk menghidupkan mematikan seseorang, untuk memberi nikmat seseorang walau di kuburan, mungkin bagi kita tidak mungkin tapi bagi Allah itu sangat mungkin. Dan ini Allah tunjukkan...kenapa anak itu bisa seperti itu? Ini nikmat dan rohmat dari Allah, pelajaran untuk kita.

Ini semua keagungan bulan Rojab, jadi amalan Ibu tadi selain puasa, beristighfar, beliau membaca QS al-Ikhlas 12.000 kali per hari, satu bulan penuh.

Ini rohmat yang mesti kita raih, jadi peluang ini jangan sampai hilang, kalau terlewatkan nanti menyesal, kalau menyesal di akhirat itu percuma, percuma kita tidak bisa ulangi, seperti yang Allah gambarkan dalam QS al-Maidah orang-orang kafir berkata,
"Ya Allah, kembalikanlah ya Allah kami ke dunia lagi..."

Ini tidak mungkin!

"Pasti kami kalau Kau kembalikan ke dunia, kami akan menjadi orang Islam, akan mukmin, ibadah, taat..."

Ya percuma, tidak ada artinya lagi penyesalan...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Saturday, July 22, 2006

Yang Terdekat Itu...

Assalamu'alaikum wr wb

Pernah terpikir oleh si fulan bahwa dia takut mati,
"Lihatlah musibah-musibah yang banyak terjadi di negara ini, di dunia ini, bahkan di sana nyawa sudah tidak berharga lagi...dengan mudahnya mereka membunuh orang, pria, wanita bahkan anak balita...", kata si fulan.

Si fulan pernah terpikir dia takut mati...takut kalau gempa dan tsunami melanda tempat tinggalnya, takut kalau terpisah dari keluarganya...
"Lihatlah negara besar itu menghancurkan sebuah negara hanya karena dugaan semata, dugaan yang entah benar atau tidak..."

"Heh wis tho, apa kamu lupa sesuatu yang terdekat dengan kita?", tanya sohibnya.

"Apa itu...?", si fulan balik bertanya, pelan.

"Imam al-Ghozali berkata bahwa sesuatu yang terdekat adalah kematian, kita bahkan ndak tahu apa kita masih hidup setahun lagi, sehari lagi, seminggu lagi, sehari lagi, sejam lagi, semenit lagi dan bahkan kita ndak tahu apa sedetik lagi kita masih hidup...! Kamu bahkan ndak tahu apa kamu bisa menyaksikan anakmu tumbuh dewasa! Kita ndak tahu kapan kita dimatikan..."

Si fulan terdiam membisu...

"Ndak perlu takut kena musibah seperti itu yang belum pasti melanda tempatmu ini, belum tentu...dan kalau pun benar, belum tentu juga yang kamu khawatirkan itu terjadi! Kenapa kamu ndak concern aja kamu masih hidup atau ndak semenit lagi, sebentar lagi kamu masih bisa tertawa atau ndak...bisa aja kan sebentar lagi kita dimatikan?!"

Si fulan mengangguk membenarkan...

"Lalu, apa yang kita bawa untuk bekal? Gimana amal kita...", kata sohibnya dengan menatap si fulan, "Sudah...perbaiki dirimu, perbanyak amal ibadah, istighfar, ikhtiar dan tawwakal...ingat yang terdekat dengan kita adalah maut!"

Si fulan tersenyum...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...


Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Ayunan

Assalamu'alaikum wr wb

(Ini cerita jaman dulu...)

Siang itu, saya dipanggil orang yang hormati...
"Yusa, ke sini...", panggil beliau dari kejauhan.

Saya berjalan menghampiri beliau yang berjalan ke sebuah ruangan, saya ikut di belakang beliau.

"Nggg...kamu yang belum punya apa?", tanya beliau begitu saya berhadapan dengan beliau.

Deg...sebenarnya saya sudah bisa menebak kemana arah tujuan bapak ini, tapi ditanyai tiba-tiba begitu tentu saja saya gelagalapan, "Maksudnya, pak?", saya balik bertanya ke beliau.

"Gini aja, kamu sudah punya kereta dorong?"

"Belum!"

"Ya sudah, nanti saya belikan kereta dorong..."

"Eh, iya pak, terima kasih..."

O gitu tho, ternyata beliau mau kasih hadiah karena kelahiran anak pertama saya tho...alhamdulillaaahhh...tapi kok kereta dorong? Saya tidak suka mendorong-dorong anak di dalam kereta seperti itu.

"Minta ganti aja, minta ganti ayunan aja...anakmu kan suka kalau diayun-ayun...", kata ibu saya memberi jalan keluar.

Akhirnya saya minta ganti ayunan, dan alhamdulillah-nya beliau setuju dengan membalas sms saya : "Ok, GBU."

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...


Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb