Saturday, August 08, 2009

Sami'na wa Atho'na

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun & K.H. Ahmad Baidlowi.

(Disampaikan dalam majlis Ratib & Maulid di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, Gemah - Semarang tanggal 7 Agustus 2009)

Allah Swt berfirman:
"Hai orang beriman jangan kau bertanya tentang hal yang kau berat untuk mengamalkannya".

Ada kisah serombongan bani Israil menghadap nabi Musa As & bertanya tentang siapa yang membunuh salah seorang diantara mereka. Dikatakan oleh nabi Musa As bahwa mereka disuruh Allah Swt mencari sapi. Mereka tanya sapi itu tua apa muda, dijawab sapi itu tidak tua & tidak muda. Mereka tidak puas & bertanya lagi warnanya apa, dijawab kuning keemasan. Mereka masih juga kurang puas & bertanya lagi dst.

Hikmah dari kisah tsb adalah jika kita disuruh ulama untuk mengamalkan sesuatu amalan atau ibadah, maka amalkan saja apa yang beliau perintahkan tanpa banyak bertanya yang justru akan memberatkan kita.

Bani Israil adalah kaum yang membangkang dibandingkan dengan kaum lainnya. Oleh Allah Swt mereka dikaruniai banyak kelebihan tapi mereka tidak mengamalkannya padahal mereka mendengarkannya. Jika ini yang kita lakukan maka kita tidak mendapatkan sir (rahasia) dari amalan tsb. Sebaliknya, kita akan mendapatkan sir (rahasia) jika melakukan apa yang disuruhkan kepada kita tanpa bertanya. Bertanya boleh tapi pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan kita, yang kita tidak akan melakukannya sebaiknya tidak perlu disampaikan.

Seperti di bulan Sya'ban ini kita dianjurkan memperbanyak membaca sholawat, jika disuruh membaca sholawat saja oleh ulama maka baca saja sholawat yang mudah bagi kita, jangan kita bertanya yang akan memberatkan kita.

Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu maka dia akan sering menyebutnya. Jika kita mencintai nabi Muhammad Saw maka perbanyaklah membaca sholawat kepada nabi Muhammad Saw, khususnya bulan Sya'ban ini. Barang siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Salafush sholeh membaca wirid ribuan kali tiap harinya, apakah kita mampu? Bisa jika berusaha. Amin.

Thursday, July 09, 2009

Fiqh Imam Syafi'i (1)

Diambil dari Madadun Nabawiy


Bismillahirrohmanirrohiim

Pengertian tentang Fiqih ala madzhab Imam Syafi’i.

Pembukaan

I. Semua ulama’ memulai mengarang semua kitab dengan memakai Basmalah, karena di Al Qur’an pertama ayat yang turun adalah Basmalah di Surat Al Alaq yang artinya: “Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhan yang menciptakan alam semesta” (Allahu a’lam bimurodihi) dan Rasulullah saw bersabda : “Setiap sesuatu perkara yang tidak dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohiim (basmalah), maka akan terputus dari semua keberkahan yang ada artinya tidak mendapatkan rahmat dari Allah SWT, dan basmalah mempunyai hukum-hukum:

1. Wajib : seperti di shalat (kalau madzhab Syafi’i dan Hambali dengan jahar (lantang) dan Maliki dan Abu Hanifah dengan syir (cukup diri sendiri yang mendengarkan).

2. Haram : seperti minum sesuatu yang memabukkan, zina dan mencuri (semua pekerjaan diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya).

3. Sunnah : semua pekerjaan yang sunnah (yang diperbolehkan oleh Allah dan rasul-Nya).

4. Makruh : semua pekerjaan yang hukumnya makhruh seperti makan bawang atau melihat auratnya sendiri atau auratnya istri dan anaknya.

5. Mubah : sesuatu yang dilakukan tidak mendapat pahala dan dosa), seperti memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain.


II. Kemudian setelah memulai dengan basmalah, maka para ulama’ menambah dengan bacaan hamdalah (alhamdulillahi) yang artinya tidak ada sesuatu yang pantas dipuji selain Allah SWT, dan kalimat hamdalah sunnah diucapkan setelah melakukan semua pekerjaan yang baik, apabila dilakukan maka semua pekerjaan yang dilakukan akan mendapatkan ridho Allah SWT (direstui oleh Allah) seperti yang tertera dalam hadits rasulullah saw apalagi kalau diucapkan setelah mendapatkan rizki atau anugrah dari Allah SWT, maka rizki atau anugrah yang didapati akan diberi keberkahan dan ditambahkan oleh Allah SWT. Amiin.

Dan hamdallah dibagi menjadi 4 macam:

1. Pujian dari Allah SWT untuk Allah sendiri seperti yang ada dalam Surat Al Anfal ayat : 40 yang artinya: “Sungguh nikmatnya Tuhan dan sungguh nikmatnya penolong.

2. Pujian dari Allah SWT ke hamba-Nya seperti surat Shod ayat 30, yang artinya: paling bagus hamba yang selalu kembali kepada Tuhannya.

3. Pujian dari hamba ke Tuhannya (Allah SWT), seperti ucapan kita Alhamdulillahi.

4. Pujian dari diri kita untuk semua makhluk-Nya Allah seperti sungguh cantiknya kamu atau sungguh gantengnya dirimu.


III. Kemudian dilanjutkan dengan bershalawat kepada baginda nabi kita Muhammad saw. Sholawat adalah satu amalan yang diperintahkan dari Allah untuk semua makhluk-makhluk-Nya dan Allah SWT mengerjakannya. Seperti di dalam Surat Al Ahzab ayat : 56. Dalam semua kitab Fiqih dan sufi dengan rujukan hadits Rasulullah, menafsirkan kalau sholawat dari Allah SWT adalah rahmatan dari-Nya, dan shalawat dari kita (umatnya) adalah doa yang kita minta kepada Allah SWT untuk kesejahteraan Nabi Muhammad dan semua umatnya.

Rasul dan nabi adalah manusia yang sempurna yang jauh dari semua penyakit dan dari semua sifat yang jelek dan beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ajaran-ajaran Allah untuk semua makhluk-Nya dari golongan manusia dan jin. Hanya saja kalau nabi diberi wahyu tapi tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-ajarannya, sedangkan rasul diberi wahyu tapi juga diperintahkan untuk menyebarluaskan semua ajaran-ajarannya. Adapun jumlah nabi ada 124.000 dan rasul ada 313. Akan tetapi yang mempunyai sifat yang lebih unggul ada 25 orang (seperti yang tertera dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Habban).


IV. Yang dimaksud wa alihi dalam shalawat adalah semua orang keturunan bani Hasyim dan Mutholib menurut yang dikatakan Imam Syafi’i di dalamkitabnya.


V. Shohabat adalah menurut Bahasa Arab artinya antara kamu dan dia saling ada kecocokan, dan menurut istilah teman yang selalu mengikuti kamu ditempat manapun dan selalu menuruti fatwa-fatwamu. Adapun yang kita bahas sekarang ini adalah shohabat Nabi kita Muhammad saw, adapun jumlah shohabat nabi ada 124.000 orang dan yang paling akhir meninggalnya adalah Abu Tufail Amir bin Wailah Al Laisyi (seperti yang dikatakan oleh Abu Zar’ah dan Al Iroq’i) dan semua shohabat Nabi Muhammad saw adalah adil dalam berbuat dan berhati-hati dalam melangkah dan selalu taat dan taqwa kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan selalu menjaga dengan benar-benar dari segala perbuatan nista (buruk) bukan seperti (yang dikatakan sebagian golongan). Shohabat yang telah diberi kabar dengan keistimewaan (jaminan surga dari rasulullah) ada 10 orang, beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqash, Said bin Zaid, Tolkhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidilah bin Jarroh dan Abdurrahman bin ‘Auf dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw.

Dan juga dapat amanah penuh dan yang paling diutamakan dari golongan para shohabat nabi adalah khulafaur rasyidin beliau adalah:

1. Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, beliau adalah shohabat yang pertama memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dengan pilihan dari semua shohabat muhajirin (orang-orang Mekah) dan anshor (orang-orang Madinah) dan beliau memimpin 2 tahun 3 bulan 10 malam, beliau meninggal di umur 63 tahun, sebelum wafatnya beliau memilih Umar.

2. Sayyidina Umar bin Khattab, beliau memimpin yang kedua dengan perintah dari Sayyidina Abu Bakar dan beliau memimpin kurang lebih 10 tahun dan 23 hari dan beliau meninggal syahid (dibunuh dengan umur 63 tahun).

3. Sayyidina Utsman bin Affan, beliau memimpin yang ketiga dengan cara dipilih kebanyakan shohabat, setelah wafatnya Sayyidina Umar bin Khattab dan beliau memimpin selama 12 tahun dan beliau meninggal syahid (dibunuh) di umur 82 tahun.

4. Sayyidina Ali bin Abi Tholib, beliau memimpin yang keempat dengan cara dipilih kebanyakan shohabat setelah wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan, dan beliau memimpin selama 4 tahun 9 bulan dan beliau meninggal dalam keadaan syahid (dibunuh) dan umurnya 63 tahun. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Amiin.


Perlu kita ketahui bahwa semua shohabat nabi adalah yang telah berjasa bagi agama Islam dan telah menegakkan bendera Islam dengan diri mereka, harta, darah dan keluarga mereka, maka wajib bagi kita menghormati mereka semua karena mereka semua telah berjuang bersama nabi kita, mereka senang dan susah bersama nabi kita Muhammad saw dan perlu kita yakini bahwa Allah SWT tidak akan memilih manusia untuk bersama utusan-Nya kecuali yang pantas dan bersih. Kalau ada golongan yang menghina shohabat berarti mereka menghina rasulullah saw dan pasti mereka juga menghina Allah SWT yang menciptakannya.

Di dalam hadits rasulullah saw bersabda, yang artinya : Shohabatku bagaikan bintang-bintang di langit dan dengan siapapun engkau mengikutinya, maka engkau akan mendapatkan hidayah (petunjuk dari Allah SWT). Apakah mereka pantas dinamakan Islam??? Orang nasrani saja menghormati dan selalu memuliakan shahabat nabi Isa as, bagaimana dengan kita Umat Islam yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad saw, apakah mungkin nabi kita tidak bisa mendidik shohabatnya menjadi orang yang paling taat dan taqwa kepada Allah SWT?? Kalau nabi Muhammad saw tidak bisa lalu siapa yang bisa?? Tidak mungkin ada yang bisa kalau nabi saja tidak bisa! Nabi Muhammad saw pasti bisa! Semoga kita dijauhkan dari faham-faham orang munafik yang selalu membenci nabi Muhammad saw dan para shohabatnya. Amiin, Amiin, Amiin ya Robbal ‘alamiin.


VI. Ijtihad madzhab : madzhab adalah sekumpulan ilmu-ilmu fiqih yang dirujukannya Al Qur’an dan sebab-sebab turunnya dan hadits-hadits dan sebab-sebab keluarnya hadits-hadits tersebut dan juga balaghoh (nahwu dan shorof) dan juga menguasai ilmu manteg dan juga ushul fiqih dan lain-lain dari ilmu-ilmu Al Qur’an yang luas. Begitu juga harus hafal dan langsung menjawab apabila ditanya oleh kebanyakan ulama dari semua daerah dan juga menjaga perilaku yang mulia dan ketaatan yang lebih kepada Allah SWT dan jauh dari perbuatan keji dan dholim besar atau kecil, dhohir atau batin, pada setiap manusia, jin dan hewan, dan juga bisa diikuti oleh kebanyakan manusia, dan madzhab-madzhab yang diakui oleh kebanyakan ulama-ulama di dunia ada empat:

1. Madzhab Hanafi: yang mencetus adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, beliau adalah murid dari Imam Ja’far Shodiq, beliau lahir di Iraq Kota Kuffah pada tahun 80 H / 699 M, wafat tahun 150 H pada bulan Rajab dengan umur 68 tahun. Dan madzhab beliau diikuti sebagian umat Islam di Abu Dhobi dan lainnya. Dan beliau mempunyai murid yang banyak dan semua ulama’ dan diantaranya Imam Malik.

2. Madzhab Malik : yang mencetus adalah Imam Malik bin Anas bin Malik, beliau lahir di madinah tahun 95 H, wafat di Madinah 179 H / 789 M dan umurnya 84 tahun dan madzhab-madzhab diikuti sebagian umat Islam di Saudi Arabia dan lainnya dan beliau juga mempunyai murid-murid yang banyak dan semuanya menjadi ulama’ diantaranya Imam Syafi’i.

3. Madzhab Syafi’i : yang mencetuskan adalah Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i, beliau lahir di Ghuzzah tahun 150 H, beliau hafal Al Qur’an 7 tahun, lalu beliau hafal muatthok (ilmu hadits karangan Imam Malik) di umur 10 tahun dan beliau diizinkan memberi fatwa di umur 15 tahun (berarti beliau sudah hafal semua ilmu termasuk Al Qur’an, tafsirnya hadits 9 sanad dan syarahnya, ushul balaghoh dan manteg dan lain-lain di umur yang sangat muda). Dan semasa hidupnya beliau selalu beribadah dan berdakwah dari Mekah, Madinah, Bagdad, dan Mesir kemudian mukim di Mesir sampai wafat, dan beliau wafat pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 240 H, beliau dimakamkan di kota Qorofah (Mesir) setelah Ashar dan umurnya 70 tahun. Dan murid beliau banyak sekali diantaranya Imam Ahmad bin Hambal dan madzhab beliau diikuti kebanyakan umat Islam, diantaranya di Indonesia dan lain-lainnya (mayoritas umat Islam yang di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i) (rujukan kitab Mugni Mohtaj).

4. Madzhab Hambali: yang mencetuskan adalah Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani Al Maruzi beliau dilahirkan di Iraq tahun 164 H / 780 M, beliau adalah ulama’ hadits yang terkenal dan beliau termasuk ulama’ yang keras dan tegas dalam memberi keputusan, bahkan beliau dimasukkan penjara sampai akhir hayatnya. Beliau meninggal tahun 241 H dan umur beliau 77 tahun.

Mengapa kita yang dalam masalah agama belum seberapa ini akan menyombongkan diri tidak mau bermadzhab dalam menjalankan syari’at Islam? Tentu tidak pada tempatnya! Benar bahwa berijtihad merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, namun hal itu bukan berarti sembarang orang Islam dapat berijtihad tanpa syarat-syarat tertentu. Seorang Islam dalam berijtihad harus paham betul syarat-syaratnya seperti syarat-syarat umum dalam berijtihad:

1. Islam

2. Dewasa

3. Sehat fikiran

4. Kuat daya tangkapnya dan ingatannya (I-Q nya tinggi) dan syarat-syarat pokoknya):
a. Menguasai Al Qur’an bersama ulumul Qur’an dan Asbabu Nuzulnya dan ayat-ayat hukumnya dan nasikh mansukhnya.
b. Menguasai hadits dan ulumul hadits dan asbab khurujul hadits dan hadits-hadits ahkam dan hadits-hadits nasikh mansuhknya dan lain-lain.
c. Mengusai bahasa Arab beserta ilmu-ilmu bahasa termasuk nahwu. Shorof, balaghoh, Fiqhul Lughoh dan adabul jahili.
d. Menguasai ilmu ushul fiqih.
e. Memahami benar-benar tujuan-tujuan pokok syari’at-syari’at Islam.
f. Memahami benar-benar Qowaid kuliyah.
g. Kesholehan dan ketaqwaan yang benar dan bersih dan lain-lain.

...baru mereka dibolehkan berijtihad, dalam ketentuan aturan kenegaraan saja membutuhkan keahliannya dalam bidangnya bagaimana dengan agama?! Dalam Surat An Nahl Allah berfirman, yang artinya : “Maka bertanyalah pada ahli ilmu bila kamu sekalian tidak mengetahui (An Nahl : 43), begitu pula orang dalam bertaqlid, orang boleh bertaqlid secara kafah (menyeluruh), jangan mengambil yang mudah dan seenaknya saja, seperti orang berwudhu menurut rukun madzhab Syafi’i tapi membatalkannya dengan memakai madzhab Maliki, seperti orang pakai baju setengah saja, lalu pakai celana setengah, bagaimana orang tersebut??? Semoga kita dijauhkan dari sikap munafik yang menjalankan agama yang enak dan mudah menurut hawa nafsunya.

(Rujukan kitab-kitab Fiqih, Tukfah, Minhaj, dll)

Sunday, July 05, 2009

Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Diambil dari:
http://madadunnabawiy.blogspot.com

Di dalam bulan rajab yang penuh rahmat ini, Allah Swt mencurahkan rahmat-Nya yang sangat banyak, maka dari itu bulan rajab ini dinamai oleh banyak ulama' (dengan landasan hadits rasulullah Muhammad Saw) bahwa bulan rajab adalah rajabulashab yaitu yang artinya bulan rajab penuh curahan rahmat dan maghfiroh dari Allah Swt.

Dan bulan rajab dikenal dengan syahrullah (bulan yang dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt) seperti yang disabdakan rasulullah Muhammad Saw, maka rasulullah Muhammad Saw mengkhususkan di bulan rajab ini ayat memperbanyak baca istighfar yaitu meminta ampunan kepada Allah Swt. Di dalam bacaan istighfar banyak sekali manfaatnya di dalam Alqur'an.





52. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."



10. Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
11. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah Swt, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah.

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: "Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.

Bahwa siapa saja yang mau membaca istighfar secara langgeng maka dia akan dicurahi rahmat dari Allah Swt dan semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kalau kita mempunyai hajat maka perbanyaklah membaca istighfar, kemudian minta kepada Allah Swt niscaya hajat kita akan dikabulkan oleh Allah Swt. Amin.

Di dalam kitab manaqib Al imam al alamah alhabib Hasan bin Sholeh Albahr, beliau berkata bahwa barang siapa membaca istighfar 1000x dalam satu hari sampai satu tahun dengan langgeng, maka dia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt dan dia akan diberi kekayaan yang cukup untuk kehidupannya di dunia serta dia akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah Swt untuk di dunia dan akhiratnya seperti yang disabdakan oleh rasulullah Muhammad Saw. Ini sangat mujarab, buktikan!

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita ahli istighfar yang selalu bermanfaat untuk diri kita dan keluarga kita, juga bermanfaat di dunia dan di akhirat kita. Amin.

Tuesday, June 23, 2009

Langkah Awal Suluk

Di dalam kitabnya, Alhabib Muhammad bin Abdullah Al'aidrus berkata bahwa landasan dari suluk (usaha menyempurnakan batin, pelakunya disebut salik) adalah mendidik nafsu, menyucikan nafsu dan menyempurnakan ahlaq.

Nafsu jika tidak dididik akan mengikuti ajakan-ajakan dan pengaruh dari hawa, karena sesungguhnya hawa itu adalah makanan nafsu. Oleh karena itu nafsu terikat erat dengan hawa. Hawa adalah segala sesuatu yang mengajak kita kepada kebatilan, juga segala sesuatu yang mengajak kita untuk lupa kepada Allah Swt.

Nafsu bisa dijauhkan dari pengaruh hawa asalkan kita benar-benar berusaha mengenali berbagai jenis hawa. Ketika kita sudah kenal dengan berbagai jenis hawa, kita harus berusaha untuk tidak terpengaruh dengannya.

Dikatakan paling tidak ada 2 cara untuk tidak terpengaruh oleh hawa, yaitu:
1. Mengalihkan perhatian
2. Menunda-nunda

Marah adalah salah satu jenis hawa yang terberat sebab marah melemahkan akal sehingga membuat kita lupa akan Allah Swt. Ketika kita berada di dalam situasi yang membuat kita marah adalah lebih baik kita mengalihkan perhatian kita dari penyebab kenapa kita marah. Hindari dia untuk sementara waktu sampai marah kita reda. Atau bisa juga kita menunda marah kita seperti ah nanti sajalah marahnya, beberapa saat lagi katakan pada diri kita ah nanti saja marahnya...ah nanti...nanti saja...begitu seterusnya sampai hilang marah kita.

Paling tidak seperti itu usaha membebaskan nafsu dari cengkeraman hawa. Setelah itu sucikan nafsu dengan melakukan berbagai amalan-amalan yang baik.

Monday, June 22, 2009

Ahlaq Dhohir & Batin

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di dalam majlis Madadun Nabawiy tanggal 19 Juni 2009 di Masjid Alhikmah - Semarang, pembahasan kitab Is'afu Tholibiy Ridol Kholiq Bibayani Makarimal Ahlaq yaitu kitab karya Alhabib Umar bin Hafidh)

Kitab ini diawali dengan basmalah dan hamdalah. Jika suatu pekerjaan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah maka dikhawatirkan akan terputus dari ridho Allah Swt.

Ahlaq itu salah satu sifat yang menghiasi manusia dari sisi dhohirnya dan sisi batinnya. Sebelum kita mengerjakan segala sesuatu pasti diawali dengan niat di dalam hati, setelah hati kita sudah terbersit sebuah niat maka akan berlanjut ke otak kita dan otak kita lalu memerintahkan anggota-anggota badan kita untuk melakukan apa yang sudah kita niatkan. Jika salah satu dari tiga perangkat tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka akan berpengaruh terhadap lainnya. Lihatah bahwa antara batin dan dhohir saling berhubungan!

Jika dari awal (niat) sudah dimulai dengan sesuatu yang rapi, baik dan bersih maka itu adalah wujud awal dari ahlaq yang baik. Sebaliknya, jika dari awal sudah dimulai dengan sesuatu yang berantakan, buruk dan kotor maka itu adalah wujud awal dari ahlaq buruk. Dhohir dan batin itu saling dan selalu berhubungan dan tidak mungkin keduanya akan terpisahkan.

Batin yang baik jika ditampilkan dengan dhohir yang buruk maka ini kurang lengkap dan sering kali mengakibatkan kesalah-pahaman orang lain kepada kita. Kesalah-pahaman akan menimbulkan fitnah, dan jika kita bisa meminimalkan fitnah maka itu lebih baik. Jadi batin yang baik akan lebih indah jika disertai dhohir yang baik.

Batin yang buruk jika dibungkus dengan amalan dhohir yang terlihat baik tidak disukai oleh Allah Swt. Dhohir yang baik insya Allah berasal dari batin yang baik.

Batin kita harus selalu dibersihkan dengan melakukan berbagai amalan yang baik pula. Jika batin bersih maka Allah Swt akan mencurahkan ridho-Nya kepada kita. Jika kita melakukan kesalahan dhohir maka batin akan ternoda, batin yang ternoda akan mengakibatkan murka Allah Swt jika tidak diikuti dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat.

Nabi Muhammad Saw diutus Allah Swt kepada kita adalah untuk menyempurnakan ahlaq kita, ahlaq dhohir dan ahlaq batin kita. Jika ada orang yang berkata oh batinku bersih tapi dhohirnya kotor maka ini dusta! Kecuali terhadap orang-orang tertentu itu pengecualian, seperti orang yang jadzab. Sering kali tingkah laku orang jadzab tidak sesuai dengan syari'at, itu bukan karena apa-apa selain karena oleh Allah Swt dituangkan cinta yang sangat besar ke dalam hati mereka sehingga mereka tenggelam di dalamnya.

Tidak semua orang mengalami keadaan seperti ini (jadzab), jadi hukum bagi mereka berbeda dengan hukum bagi kita. Ada orang yang jadzab tapi dhohirnya bisa sesuai dengan syari'at, ada juga yang tidak. Orang seperti ini harus dihormati akan tetapi tidak bisa dijadikan rujukan bagi kita dalam hal syari'at. Rujukan kita adalah orang yang batinnya bersih yang mengamalkan amalan-amalan dhohir yang baik.

Rahmat Terbesar Allah

Oleh: Ustadz Yahya Ma'arif - Cirebon

Berbahagialah kita karena kita mendapat rahmat dari Allah Swt, maka sangat wajar jika ada perayaan disaat pernikahan, kelahiran anak, mendapat rizqi bahkan ketika diadakan perayaan pada hari dimana nabi Muhammad Saw lahir adalah sangat wajar demi rasa syukur kita atas rahmat Allah Swt. Demikian makna dari perayaan-perayaan tersebut.

Ada sangat banyak rahmat dari Allah Swt yang sudah dan sedang dikaruniakan kepada kita, adapun rahmat Allah Swt yang terbesar adalah rasulullah Muhammad Saw.

Segala hal yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah mulia. Ilmu yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah ilmu yang mulia. Akhlaq yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah akhlaq yang mulia. Tradisi yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah tradisi yang mulia. Nasab yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah nasab yang mulia. Sahabat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah sahabat yang mulia. Umat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah umat yang mulia.

Mengikuti rasulullah Muhammad Saw harus dengan cinta, sebab mengikuti saja tanpa ada cinta hanya akan melelahkan kita saja tanpa membuahkan manfaat sedikit pun bagi kita. Dan jangan hanya mengamalkan sunnah rasulullah Muhammad Saw yang dhohir saja, tapi juga amalkan sunnah-sunnah batin rasulullah Muhammad Saw. Dengan begini maka apapun yang kita kerjakan akan selalu bersama rasulullah Muhammad Saw, kita akan mengingat rasulullah Muhammad Saw dengan dhohir dan batin kita.

Jika kita merasa belum bisa mencintai rasulullah Muhammad Saw maka lihatlah perjuangan-perjuangan rasulullah Muhammad Saw! Rasulullah Muhammad Saw sangat tegar meski dilempar batu hingga dahi beliau Saw berdarah. Rasulullah Muhammad Saw tidak tampak gentar, beliau Saw menyeka darah yang keluar dari dahinya tersebut dengan kain di pundak beliau Saw.

"Apakah engkau takut darah ya rasulullah?", tanya sayyidah Fathimah.

Rasulullah Muhammad Saw menjawab, "Tidak, aku tidak takut darah! Aku hanya takut jika darahku ini sampai jatuh mengenai bumi maka bumi tidak akan menerima aku diperlakukan demikian."

Lihatlah bumi saja tidak terima rasulullah Muhammad Saw diperlakukan demikian! Kita seharusnya mengambil hikmah dari hal ini, relakah kita jika mereka memperlakukan rasulullah Muhammad Saw dengan buruk? Lihat ke dalam hati kita!

Dikatakan bahwa sepertiga umat rasulullah Muhammad Saw masuk surga, sepertiga lagi masuk neraka dulu baru kemudian masuk surga dan sepertiga yang terakhir masih tersisa sedikit iman di hati mereka.

Wednesday, June 03, 2009

Istighfar Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan dalam majlis Alghofar yaitu majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar dan mauidloh, rutin setiap malam Rabu pahing di Semarang)

Sekarang kita berada di bulan Rabi'ul Akhir, sebentar lagi kita memasuki bulan Rajab. Kalau Sya'ban adalah bulannya Rasulullah Muhammad Saw maka Rajab adalah bulannya Allah Swt. Jika di bulan Sya'ban kita dianjurkan memperbanyak sholawat, maka di bulan Rajab ini kita dianjurkan memperbanyak istighfar, dianjurkan memohon ampunan atas semua dosa dan kekeliruan kita. Ada banyak jenis istighfar, diantaranya yang dianjurkan dibaca di bulan Rajab adalah "Robbighfiri warhamni watubb alayya" sebanyak 70x sehabis sholat fardlu.

Barang siapa membaca "Robbighfirli warhamni watubb alayya" sebanyak 70x aetelah sholat fardlu sebelum membaca do'a-do'a yang lain, maka insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt, dikabulkan hajat-hajat kita baik hajat akhirat ataupun hajat dunia.

Semakin kita memperbanyak membaca istighfar setiap harinya khususnya istighfar tersebut di atas, maka bukan hanya kita yang diampuni dosa-dosa kita dan bukan hanya kita yang dikabulkan hajat-hajat kita, tapi Allah Swt juga mengampuni dosa-dosa keluarga kita serta mengabulkan hajt-hajat keluarga kita demikian juga tetangga-tetangga kita, teman-teman kita dan sekitar kita.

Memohon ampunan dosa kepada Allah Swt sebanyak mungkin itu semakin baik bagi kita, asal kita mampu untuk istiqomah. Kalau kita belum mampu istiqomah membaca istighfar yang banyak maka istighfar-lah sebanyak yang kita mampu untuk istiqomah. Orang-orang terdahulu istiqomah membaca istighfar dalam jumlah yang banyak, dikatakan bahwa sayyidah Rabi'ah Aladawiyyah membaca istighfar sebanyak 12.000x setiap harinya, kalau kita mampu menirunya maka itu baik bagi kita. Kalau kita tidak mampu, maka 200x pun cukup bagi kita. Maka insya Allah hajat-hajat kita akan dipenuhi oleh Allah Swt asalkan kita tidak murtad. (Apakah yang non-Islam tidak dikabulkan do'a-do'anya? Allah Swt Maha Pengasih, kasih Allah Swt meliputi semua makhluq-Nya. Allah Swt memberikan yang kita minta, tapi Rahim-Nya untuk mereka yang beriman kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw).

Manfaat istighfar yang lain adalah kita mendapatkan syafa'at asalkan ditambah dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw dan apa yang kita minta sesuai dengan ikhtiar (usaha) kita (agar kita tidak terlalu panjang angan-angan sedangkan panjang angan-angan adalah kurang baik bagi kita).