Thursday, December 25, 2008

Al-Imam Ja'far Asshodiq bin Muhammad Albaqir

Nasab :
Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq bin sayid Muhammad Albaqir bin sayid Ali Zainal Abidin bin sayid Husain putra sayidah Fatimah Az-Zahro binti Rosulillah Muhammad SAW

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]


Beliau adalah Al-Imam Ja'far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shodiq (orang yang jujur). Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq) pernah berkata, "Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali."

Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq dilahirkan di kota Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi'ul Awal, tahun 80 H (ada yang menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka) yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa'id, Ibnu Juraid, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin 'Uyainah, Abu Hanifah, Su'bah dan Ayyub. Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, "Jika aku melihat kepada Ja'far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi."

Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq) adalah :

"Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong."

"Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri."

"Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus."

"Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah."

"Allah telah memerintahkan kepada dunia, 'Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu.' "

"Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa."

"Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, 'Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.' "

"Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya."

"Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya."

Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada putranya, Musa :

"Wahai putraku, barangsiapa yang menerima dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha'-Nya."


"Barangsiapa yang memandang rendah kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang besar kesalahannya sendiri."

"Wahai anakku, barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya."

"Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu."

"Wahai putraku, janganlah engkau masuk di dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak menjadi hina."

"Wahai putraku, katakanlah yang benar, walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk."

"Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia."

"Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang pendusta."

Beliau (Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq) meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dan disemayamkan di pekuburan Baqi' di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-'Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba'alawy).

Radhiyallohu anhu wa ardhah...

Al-Imam Muhammad bin Ali Zainal Abidin

Nasab :
Al-Imam Muhammad bin sayid Ali Zainal Abidin bin sayid Husain putra sayid Ali + sayidah Fatimah Az-Zahro binti Rosulillah Muhammad SAW]

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]


Beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Digelari Al-Baqir (yang membelah bumi) karena kapasitas keilmuan beliau yang begitu mendalam sehingga diibaratkan dapat membelah bumi dan mengeluarkan isinya yang berupa pengetahuan-pengetahuan. Nama panggilan beliau adalah Abu Ja'far.

Al-Imam Ibnu Al-Madiny meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah (semoga Allah meridhoi mereka berdua) bahwasannya Jabir berkata kepada Imam Muhammad Al-Baqir yang pada waktu itu masih kecil, "Rasulullah SAW mengirimkan salam untukmu." Beliau bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?." Jabir menjawab, "Pada suatu hari saya sedang duduk bersama Rasulullah SAW, sedangkan Al-Husain (cucu beliau) lagi bermain-main di pangkuan beliau. Kemudian Rasulullah SAW berkata, 'Pada suatu saat nanti, dia (yaitu Al-Husain) akan mempunyai seorang putra yang bernama Ali (Zainal Abidin). Jika hari kiamat datang, akan terdengar seruan, 'Berdirilah wahai pemuka para ahli ibadah.' Maka kemudian putranya (yaitu Ali-Zainal Abidin) itu akan bangun. Kemudian dia (yaitu Ali Zainal Abidin) akan mempunyai seorang putra yang bernama Muhammad. Jika engkau sempat menjumpainya, wahai Jabir, maka sampaikan salam dariku.' "

Beliau, Muhammad Al-Baqir, adalah keturunan Rasul SAW dari jalur ayah dan ibu. Beliau adalah seorang yang berilmu luas. Namanya menyebar seantero negeri. Ibu beliau adalah Ummu Abdullah, yaitu Fatimah bintu Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau dilahirkan di kota Madinah pada hari Jum'at, 12 Safar 57 H, atau 3 tahun sebelum gugurnya ayahnya, Al-Imam Al-Husain.

Dari sebagian kalam mutiara beliau adalah,

"Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih."

"Sesungguhnya petir itu dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, akan tetapi tak akan menyambar seorang yang berdzikir."

"Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan."

"Seburuk-buruknya seorang teman itu adalah seseorang yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin."

"Kenalkanlah rasa kasih-sayang di dalam hati saudaramu dengan cara engkau memperkenalkannya dulu di dalam hatimu."

Beliau jika tertawa, beliau berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau timpakan murka-Mu kepadaku."

Beliau adalah seorang yang mencintai dua orang yang agung, yaitu Abubakar dan Umar (semoga Allah meridhoi mereka berdua).

Diantara kalam mutiara beliau yang lain, saat beliau berkata kepada putranya, "Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya adalah kunci setiap keburukan. Sesungguhnya engkau jika malas, maka engkau akan banyak tidak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, maka engkau tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban."

Di antara kalam mutiara beliau yang lain, "Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan itu terus padamu, maka perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rejeki itu datangnya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, maka perbanyaklah ucapan 'Laa haula wa laa quwwata illaa billah'. Jika engkau takut pada suatu kaum, ucapkanlah, 'Hasbunallah wa ni'mal wakiil'. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah, 'Maa syaa'allah, laa quwwata illaa billah'. Jika engkau dikhianati, ucapkanlah, 'Wa ufawwidhu amrii ilaallah, innaallaha bashiirun bil 'ibaad'. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah, 'Laa ilaaha illaa Anta, Subhaanaka innii kuntu minadz dzolimiin.' "

Beliau wafat di kota Madinah pada tahun 117 H (dalam riwayat lain 114 H atau 118 H) dan disemayamkan di pekuburan Baqi', tepatnya di qubah Al-Abbas disamping ayahnya. Beliau berwasiat untuk dikafani dengan qamisnya yang biasa dipakainya shalat. Beliau meninggalkan beberapa orang anak, yaitu Ja'far, Abdullah, Ibrahim, Ali, Zainab dan Ummu Kultsum. Putra beliau yang bernama Ja'far dan Abdullah dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq.

Radhiyallohu anhu wa ardhah...

Al-Imam Ali Zainal Abidin

Nasab :
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husain putra sayyidatina Fatimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad SAW.

[almuhajir.net dan Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Beliau adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli sujud).

Beliau adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.

Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi'in. Beliau juga seorang imam agung. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin / isteri-isteri Nabi SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin, mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di dalam ilmu, zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam setiap sesuatu.

Berkata Yahya Al-Anshari, "Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat." Berkata Zuhri, "Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau." Hammad berkata, "Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah." Abubakar bin Abi Syaibah berkata, "Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib."

Kelahiran beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum kelahirannya, Nabi SAW sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya. Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab, "Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?." Beliau tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat, "Labbaikallah...," beliau pingsan.

Suatu saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya, baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut, akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, "Tunggulah sebentar orang laki-laki ini." Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata kepadanya, "Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi. Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?." Orang laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata laki-laki itu, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu Rasulullah."

Beliau berkata, "Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk menginginkan balasannya." Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam Ali bin Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua).

Beliau setiap malamnya memangkul sendiri sekarung makanan di atas punggungnya dan menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata, "Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka Tuhan." Muhammad bin Ishaq berkata, "Sebagian dari orang-orang Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka. Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka tak lagi mendapatkan penghidupan itu."

Beliau jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya. Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya di sini.

Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi', dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.

Radhiyallohu anhu wa ardhah...

Thoriqoh Alawiyyah

Kalam : Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Abdullah bin Alawy Al-Atthas

[Diambil dari kitab Al-'Alam An-Nibroos, karya Al-Habib Abdullah bin Alawy Al-Atthas]

Mereka (para Saadatunal Alawiyyin) tidak membuat dirinya tercela di hadapan umum. Mereka tidak suka ditanya tentang amal perbuatan yang mereka lakukan dan mereka juga tidak suka menanyakan amal perbuatan orang lain. Jika sampai kepada mereka suatu berita bahwa seseorang dari pejabat pemerintahan berkeinginan berkunjung ke majlisnya, mereka akan menutup majlisnya itu. Jika orang-orang tersebut tiba-tiba sudah terlanjur datang di majlisnya, mereka tidak menyukainya dan akan mempersingkat majlisnya.

Mereka adalah orang-orang yang berzuhud dari dunia dan kepemimpinan, bersikap qona'ah, dengan merasa cukup di dalam hal pakaian, makanan dan tempat tinggal. Mereka tidak membangun tempat tinggal kecuali yang diperlukan saja. Mereka tidak suka menerima pemberian apapun dari penguasa dan staf-stafnya, meskipun mereka sendiri memerlukannya. Bahkan mereka merasa berkecukupan dengan sepotong roti yang halal atau sebuah kurma. Jika mereka tidak mempunyainya, mereka lebih memilih berpuasa, sampai mereka mendapatkannya yang halal. Mereka tidak bergembira jika mendapatkan harta dan tidak bersedih jika kehilangan harta. Seringkali terjadi jiwa mereka merasa lega jika harta itu pergi dari mereka. Sebagian dari mereka terkadang satu dua bulan tidak makan apa-apa kecuali kurma. Terkadang mereka hidup tanpa dapat berganti-ganti pakaian dalam waktu yang panjang.

Mereka tidak suka memaksa keluarganya untuk memasakkan makanan baginya. Mereka tidak pernah mengendarai kuda, tidak memakai pakaian mewah, tidak memakan makanan yang lezat, tidak duduk diatas kursi dan tidak tinggal pada bangunan yang mewah, kecuali (ya Allah, semoga saja demikian) mereka memastikannya halal. Adakalanya mereka mengenakannya jarang-jarang, atau mengenakan apa-apa yang tidak akan menjadi hisab di hadapan Allah, bahkan adakalanya juga baju yang mereka kenakan lebih mahal daripada bajunya raja-raja.

Mereka tidak suka menimbun makanan, karena semata-mata ingin mengosongkan tangannya dari dunia. Terkadang sebagian dari mereka menyimpan makanan untuk kepentingan keluarganya, demi semata-mata ingin mengikuti perbuatan Nabi SAW atau juga sebagai penenang jiwanya karena rasa gelisah atau tuduhan yang adakalanya terjadi atau juga karena kuatir disangka rejekinya didapatkannya dari jalan kasyaf. Setiap dari mereka mengutamakan mencari rejeki yang halal untuk memenuhi keperluan-keperluannya. Mereka juga menafkahkan hartanya untuk memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tak berpakaian dan melunasi hutang orang yang tak sanggup membayar hutangnya.

Tuesday, December 23, 2008

Perbuatan yang Sia-Sia

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Banyak diantara kita yang melakukan hal yang tidak bermanfaat dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, yang rugi, meskipun banyak amalnya. Seharusnya kita melakukan kebaikan, melakukan banyak hal yang bermanfaat. Berikut adalah perbuatan yang sebaiknya kita dihindari, yaitu sebagai berikut :

1. Berdo'a hanya untuk diri kita sendiri.

Sebaiknya jangan berdo'a untuk diri kita sendiri, tapi berdo'alah juga untuk orang-tua kita, keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita dan orang-orang islam atau mukmin lainnya. Dan, jangan hanya berdo'a demi kebutuhan duniawi saja, bermohon juga kepada Allah Swt untuk urusan dan kebutuhan akhirat kita semua.

2. Tidak membaca Alqur'an dalam sehari meski satu ayat pun tidak, padahal kita bisa dan mampu membaca Alqur'an.

3. Tidak mau sholat Tahiyatul Masjid ketika masuk Masjid, padahal masih cukup waktu untuk melakukannya sebelum sholat berjama'ah dimulai.

4. Tidak memberi salam kepada ahli qubur ketika melewati pemakaman.

Adalah suatu kebaikan membacakan dan menghadiahkan salam, bacaan Alqur'an atau sholawat ketika melewati pemakaman. Jadi biasakan ini ketika melewati pemakaman kaum muslim!

5. Mampu bepergian pada hari Jum'at tetapi tidak mau melakukan sholat Jum'at.

6. Berkunjung atau silaturrohim kepada orang alim (berilmu) tetapi tidak mau meminta do'a darinya.

Ziaroh (berkunjung) bukan hanya dilakukan kepada orang yang sudah meninggal saja, ziaroh kepada orang alim (berilmu) yang masih hidup adalah sangat penting untuk dilakukan. Dengan mengunjungi orang alim yang masih hidup, kita bisa mengambil banyak manfaat dari beliau lewat nasehat-nasehat beliau atau lewat kebiasaan baik beliau yang bisa kita tiru.

7. Menggunakan waktu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan anak muda menyia-nyiakan waktu mereka untuk bersenang-senang yang kurang membawa manfaat atau pun berfoya-foya, sebaiknya hindari menyia-nyiakan waktu ini sebab waktu adalah modal kita untuk menambah ibadah kepada Allah Swt. Dikatakan oleh Al Imam Ghozali bahwa waktu adalah sesuatu hal yang terjauh, yang maksudnya adalah begitu sudah lewat maka kita tidak mungkin bisa mengulanginya lagi.

8. Tidak peduli pada tetangga sekitar apakah lapar atau tidak, padahal kita mampu membantunya.

9. Tidak menghadiri undangan teman padahal kita tidak punya udzur (halangan) untuk mengahadirinya.

Sampaikan Meski Satu Ayat

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy, yaitu majlis pembacaan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror di Masjid Alhikmah - Gemah, Semarang, sabtu 20 Desember 2008)

Alhamdulillah kita dikumpulkan oleh Allah Swt di tempat yang baik ini, yaitu masjid Alhikmah ini. Masjid merupakan tempat yang baik yang biasa digunakan untuk mengingat Allah Swt, mengingat Nabi Muhammad Saw, untuk menuntut ilmu, untuk menyebarkan kalimat-kalimat yang baik yang diajarkan oleh para salaf yang mana ini bersambung kepada Nabi Muhammad Saw. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Kita sekarang berada di akhir bulan Dzulhijjah, bulan dimana dulu Nabi Muhammad Saw disaat haji wada' beliau Saw bertanya kepada para sahabat apakah ini bulan harom, para sahabat membenarkan. Beliau Saw kemudian bertanya lagi apakah beliau Saw sudah mengajarkan semunya, maka dijawab oleh para sahabat bahwa beliau Saw sudah mengajarkan semuanya. Nabi Muhammad Saw mengulang pertanyaan yang sama hingga 3X.

Maksud dari hadits ini adalah menyuruh kita menyampaikan meski satu ayat. Menyampaikan disini tidak harus dengan ceramah di depan pubik, atau di depan majlis...menyampaikan disini bisa kapan saja dan dengan siapa saja. Misalnya kita menyampaikan hal-hal yang baik kepada keluarga kita, anak istri kita atau suami kita atau saudara kita atau bahkan teman-teman kita sewaktu kita ngobrol bersama mereka.

Sampaikan nasehat yang baik kepada anak-anak kita, tapi sebelum kita menyampaikan kita seharusnya melakukan terlebih dulu tentang apa yang kita nasehatkan tersebut. Jangan sampai kita menasehatkan sesuatu kepada mereka tetapi kita tidak pernah mengerjakannya! Anak melihat orang-tuanya, kalau mereka melihat orang-tuanya melakukan hal-hal yang baik, maka mereka akan menirunya. Begitu juga sebaliknya, kalau orang tua melakukan hal-hal yang buruk dan tercela di mata agama, maka anak akan menirunya. Tanpa lewat kata-kata pun anak akan meniru kebiasaan orang-tuanya, oleh karena itu lakukan perbuatan yang baik agar anak-anak kita, istri dan keluarga kita menirunya.

Rumah tangga yang indah adalah rumah tangga yang sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw. Lihatlah keadaan masyarakat sekarang, berkurang sedikit jatah finansial dari suaminya langsung marah, berkurang sedikit saja jatah bulanan dari suaminya langsung lari dari suami. Keadaan ini jatuh berbeda dengan keadaan keluarga Nabi Muhammad Saw dimana meski jarang mempunyai sesuatu yang bisa dimakan tapi Nabi Muhammad Saw dan keluarganya tetap harmonis dan keindahan terpancar. Semua masalah bisa terselesaikan asalkan kita tenang dan jangan melihat lalu membandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain.

Allah Swt mengkaruniakan rizqi kepada kita, itu pasti, tapi membanding-bandingkan dengan keadaan orang lain adalah bisa menjerumuskan kita kepada keadaan tidak bersyukur atas nikmat yang kita terima, yang kita punyai saat ini. Kalau kita bisa bersyukur maka akan ditambah rizqi kita dari jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Terutama ibu, adalah adalah orang yang memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya.

Di akhir bulan Dzulhijjah ini kita disuruh untuk memperbanyak istighfar dan memperbanyak amal ibadah.

Saturday, December 20, 2008

Sifat Wajib Allah Swt

Oleh : K.H. Bisri Mushthofa - Rembang

Kitab : Aqidatul Awam (karya Syaikh Ahmad Almarzuqi)

Syaikh Ahmad Almarzuqi memulai kitab Aqidatul Awaam ini dengan mengatakan bahwa beliau menulis kitab ini dengan diawali dengan tabaruk mengagungkan nama Allah Swt yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selanjutnya beliau memuji Allah Swt dengan mengucapkan alhamdulillah, segala puji itu milik Allah Swt yang mempunyai sifat awwal, akhir dan langgeng tidak bakal berubah-ubah.

Kemudian beliau bermohon agar rahmat dan ta’dhim selalu senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, kepada keluarga beliau Saw, kepada para sahabat beliau Saw dan siapa pun yang patuh tunduk kepada aturan-aturan agama yang benar dari golongan ahli sunnah wal jama’ah, bukan dari golongan ahli bid’ah.

Setelah membaca kalimat bismillaah, alhamdulillaah dan sholawat, syaikh Ahmad Almarzuqi lalu berkata bahwa semua mukallaf (yaitu semua manusia yang tidak berubah akalnya atau tidak gila dan sudah baligh), laki-laki atau pun perempuan bahkan banci sekalipun wajib mengetahui sifat-sifat wajib Allah Swt itu ada 20 sifat, yaitu :

1. Wujud, maksudnya adalah Allah Swt itu ada. Allah Swt itu wujud tapi keberadaan Allah Swt ini tidak sama dengan keberadaan makhluq

2. Qidam, maksudnya adalah Allah Swt itu pertama dan tidak ada yang mendahului

3. Baqo’, maksudnya adalah Allah Swt itu langgeng atau kekal tidak ada yang lebih akhir lagi daripada Allah Swt

4. Mukholafatu lil hawaditsi, maksudnya adalah Allah Swt itu tidak sama dengan makhluq

5. Qiyaamuhu bi nafsihi, maksudnya adalah Allah Swt itu tidak butuh bantuan dari siapa pun juga

6. Wahdaniyah, maksudnya adalah Allah Swt itu tunggal, Maha Esa

7. Qudrat, maksudnya adalah Allah Swt itu berkuasa atas segala yang terlihat atau pun yang tidak terlihat oleh mata kita

8. Irodah, maksudnya adalah Allah Swt itu berkehendak, yang mana kehendak Allah Swt berbeda dengan kehendak makhluq. Kehendak Allah Swt adalah atas semua yang terjadi pada makhluq-Nya

9. ‘Ilmu, maksudnya adalah Allah Swt itu mengetahui

10. Hayat, maksudnya adalah Allah Swt itu hidup

11. Sama’, maksudnya adalah Allah Swt itu mendengarkan

12. Bashor, maksudnya adalah Allah Swt itu melihat

13. Kalaam, maksudnya adalah Allah Swt itu berkata, berfirman

14. Qoodiron, maksudnya adalah Allah Swt itu yang berkuasa atas semua makhluq

15. Muriidan, maksudnya adalah Allah Swt itu yang berkehendak

16. Sami’an, maksudnya adalah Allah Swt itu yang mendengar

17. Bashiiron, maksudnya adalah Allah Swt itu yang melihat

18. Hayya, maksudnya adalah Allah Swt itu yang hidup

19. ‘Aaliman, maksudnya adalah Allah Swt itu yang mengetahui

20. Mutakalliman, maksudnya adalah Allah Swt itu yang berbicara, yang berfirman