Monday, October 27, 2008

Hati yang Ceria

"Sumringahe ati kuwi kareppe Gusti, sumringahe pikir kuwi kareppe rogo."

Kalimat itu yang dinasehatkan kepada saya dua malam yang lalu, entah karena kondisi hati saya saat itu atau karena tulisan catatan nasehat-nasehat kakak R.A. Kartini yang saya baca, saya kurang tahu tapi mungkin keduanya. Yang jelas apa yang dinasehatkan itu membuat saya lebih memahami kondisi saya dan tulisan tsb.

Nasehat itu disampaikan dalam bahasa Jawa, terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah:

"Keceriaan hati adalah yang dikehendaki Allah Swt, keceriaan pikiran adalah tuntutan raga / badan."

Di sini ada hati, pikiran dan badan, tiga ornamen yang ada pada kita yang mana keadaan ketiganya saling berhubungan erat satu dengan lainnya. Jika satu saja sedang bermasalah, maka dua yang lain ikut merasakannya.

Tetapi yang paling berperan adalah hati, apapun keadaan hati akan berpengaruh pada pikiran dan jasad.

Hati yang sering dipakai untuk membenci orang lain yang tidak sejalan dengan kita maka akan membuat pikiran kita senantiasa berprasangka buruk pada orang tsb. Apa yang dia lakukan selalu kita anggap buruk, padahal semuanya pekerjaan pikiran kita yang sudah tidak suka padanya. Kalau hati dan pikiran sudah begini, maka tangan, mulut, mata, kaki akan mewujudkan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan. Mulut mudah mencela, tangan mudah menuding bahwa dia buruk, mata melirik sinis, kaki melangkah menjauhinya dsb.

Orang yang sering benci, marah, su'udzon, iri dengki dsb akan lebih mudah lelah bahkan sakit. Terbukti ada orang yang check-up ke dokter karena merasakan sakit pada badannya, tapi ketika diperiksa normal. Dokter paham ini akibat dari beban pikiran dari pasien tsb. Apapun obat yang diberikan tidak akan membantunya sebab dia tidak menjaga pikirannya dari memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.

Badan sehat jika pikiran tenang dan ceria. Pikiran yang tenang dan ceria diperoleh dengan menjaga hati agar ceria dan senantiasa berbaik sangka.

Ketika keadaan tsb berhasil kita dapati maka kita akan mudah untuk beribadah seperti shodaqoh kita tambah ikhlas dsb. Jika orang seperti ini berdakwah maka dakwahnya akan diikuti masyarakat karena masyarakat mendapat manfaat darinya lewat perkataan dan sikapnya yang lembut serta ke-ringan-tangan-annya membantu masyarakat sehingga terkurangi beban masalah mereka. Masyarakat pun mengambil ilmu darinya tanpa paksaan, semua senang ketika hati kita senang.

Hati yang ceria tidak membutuhkan balasan dari apa yang dilakukannya, tidak ada pamrih, hanya memberi saja.

"Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake."

(Menyerang tanpa tentara, menang tanpa merendahkan).

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan Anda atas tulisan di atas.