Saturday, August 08, 2009

Sami'na wa Atho'na

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun & K.H. Ahmad Baidlowi.

(Disampaikan dalam majlis Ratib & Maulid di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, Gemah - Semarang tanggal 7 Agustus 2009)

Allah Swt berfirman:
"Hai orang beriman jangan kau bertanya tentang hal yang kau berat untuk mengamalkannya".

Ada kisah serombongan bani Israil menghadap nabi Musa As & bertanya tentang siapa yang membunuh salah seorang diantara mereka. Dikatakan oleh nabi Musa As bahwa mereka disuruh Allah Swt mencari sapi. Mereka tanya sapi itu tua apa muda, dijawab sapi itu tidak tua & tidak muda. Mereka tidak puas & bertanya lagi warnanya apa, dijawab kuning keemasan. Mereka masih juga kurang puas & bertanya lagi dst.

Hikmah dari kisah tsb adalah jika kita disuruh ulama untuk mengamalkan sesuatu amalan atau ibadah, maka amalkan saja apa yang beliau perintahkan tanpa banyak bertanya yang justru akan memberatkan kita.

Bani Israil adalah kaum yang membangkang dibandingkan dengan kaum lainnya. Oleh Allah Swt mereka dikaruniai banyak kelebihan tapi mereka tidak mengamalkannya padahal mereka mendengarkannya. Jika ini yang kita lakukan maka kita tidak mendapatkan sir (rahasia) dari amalan tsb. Sebaliknya, kita akan mendapatkan sir (rahasia) jika melakukan apa yang disuruhkan kepada kita tanpa bertanya. Bertanya boleh tapi pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan kita, yang kita tidak akan melakukannya sebaiknya tidak perlu disampaikan.

Seperti di bulan Sya'ban ini kita dianjurkan memperbanyak membaca sholawat, jika disuruh membaca sholawat saja oleh ulama maka baca saja sholawat yang mudah bagi kita, jangan kita bertanya yang akan memberatkan kita.

Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu maka dia akan sering menyebutnya. Jika kita mencintai nabi Muhammad Saw maka perbanyaklah membaca sholawat kepada nabi Muhammad Saw, khususnya bulan Sya'ban ini. Barang siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Salafush sholeh membaca wirid ribuan kali tiap harinya, apakah kita mampu? Bisa jika berusaha. Amin.

Thursday, July 09, 2009

Fiqh Imam Syafi'i (1)

Diambil dari Madadun Nabawiy


Bismillahirrohmanirrohiim

Pengertian tentang Fiqih ala madzhab Imam Syafi’i.

Pembukaan

I. Semua ulama’ memulai mengarang semua kitab dengan memakai Basmalah, karena di Al Qur’an pertama ayat yang turun adalah Basmalah di Surat Al Alaq yang artinya: “Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhan yang menciptakan alam semesta” (Allahu a’lam bimurodihi) dan Rasulullah saw bersabda : “Setiap sesuatu perkara yang tidak dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohiim (basmalah), maka akan terputus dari semua keberkahan yang ada artinya tidak mendapatkan rahmat dari Allah SWT, dan basmalah mempunyai hukum-hukum:

1. Wajib : seperti di shalat (kalau madzhab Syafi’i dan Hambali dengan jahar (lantang) dan Maliki dan Abu Hanifah dengan syir (cukup diri sendiri yang mendengarkan).

2. Haram : seperti minum sesuatu yang memabukkan, zina dan mencuri (semua pekerjaan diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya).

3. Sunnah : semua pekerjaan yang sunnah (yang diperbolehkan oleh Allah dan rasul-Nya).

4. Makruh : semua pekerjaan yang hukumnya makhruh seperti makan bawang atau melihat auratnya sendiri atau auratnya istri dan anaknya.

5. Mubah : sesuatu yang dilakukan tidak mendapat pahala dan dosa), seperti memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain.


II. Kemudian setelah memulai dengan basmalah, maka para ulama’ menambah dengan bacaan hamdalah (alhamdulillahi) yang artinya tidak ada sesuatu yang pantas dipuji selain Allah SWT, dan kalimat hamdalah sunnah diucapkan setelah melakukan semua pekerjaan yang baik, apabila dilakukan maka semua pekerjaan yang dilakukan akan mendapatkan ridho Allah SWT (direstui oleh Allah) seperti yang tertera dalam hadits rasulullah saw apalagi kalau diucapkan setelah mendapatkan rizki atau anugrah dari Allah SWT, maka rizki atau anugrah yang didapati akan diberi keberkahan dan ditambahkan oleh Allah SWT. Amiin.

Dan hamdallah dibagi menjadi 4 macam:

1. Pujian dari Allah SWT untuk Allah sendiri seperti yang ada dalam Surat Al Anfal ayat : 40 yang artinya: “Sungguh nikmatnya Tuhan dan sungguh nikmatnya penolong.

2. Pujian dari Allah SWT ke hamba-Nya seperti surat Shod ayat 30, yang artinya: paling bagus hamba yang selalu kembali kepada Tuhannya.

3. Pujian dari hamba ke Tuhannya (Allah SWT), seperti ucapan kita Alhamdulillahi.

4. Pujian dari diri kita untuk semua makhluk-Nya Allah seperti sungguh cantiknya kamu atau sungguh gantengnya dirimu.


III. Kemudian dilanjutkan dengan bershalawat kepada baginda nabi kita Muhammad saw. Sholawat adalah satu amalan yang diperintahkan dari Allah untuk semua makhluk-makhluk-Nya dan Allah SWT mengerjakannya. Seperti di dalam Surat Al Ahzab ayat : 56. Dalam semua kitab Fiqih dan sufi dengan rujukan hadits Rasulullah, menafsirkan kalau sholawat dari Allah SWT adalah rahmatan dari-Nya, dan shalawat dari kita (umatnya) adalah doa yang kita minta kepada Allah SWT untuk kesejahteraan Nabi Muhammad dan semua umatnya.

Rasul dan nabi adalah manusia yang sempurna yang jauh dari semua penyakit dan dari semua sifat yang jelek dan beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ajaran-ajaran Allah untuk semua makhluk-Nya dari golongan manusia dan jin. Hanya saja kalau nabi diberi wahyu tapi tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-ajarannya, sedangkan rasul diberi wahyu tapi juga diperintahkan untuk menyebarluaskan semua ajaran-ajarannya. Adapun jumlah nabi ada 124.000 dan rasul ada 313. Akan tetapi yang mempunyai sifat yang lebih unggul ada 25 orang (seperti yang tertera dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Habban).


IV. Yang dimaksud wa alihi dalam shalawat adalah semua orang keturunan bani Hasyim dan Mutholib menurut yang dikatakan Imam Syafi’i di dalamkitabnya.


V. Shohabat adalah menurut Bahasa Arab artinya antara kamu dan dia saling ada kecocokan, dan menurut istilah teman yang selalu mengikuti kamu ditempat manapun dan selalu menuruti fatwa-fatwamu. Adapun yang kita bahas sekarang ini adalah shohabat Nabi kita Muhammad saw, adapun jumlah shohabat nabi ada 124.000 orang dan yang paling akhir meninggalnya adalah Abu Tufail Amir bin Wailah Al Laisyi (seperti yang dikatakan oleh Abu Zar’ah dan Al Iroq’i) dan semua shohabat Nabi Muhammad saw adalah adil dalam berbuat dan berhati-hati dalam melangkah dan selalu taat dan taqwa kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan selalu menjaga dengan benar-benar dari segala perbuatan nista (buruk) bukan seperti (yang dikatakan sebagian golongan). Shohabat yang telah diberi kabar dengan keistimewaan (jaminan surga dari rasulullah) ada 10 orang, beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqash, Said bin Zaid, Tolkhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidilah bin Jarroh dan Abdurrahman bin ‘Auf dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw.

Dan juga dapat amanah penuh dan yang paling diutamakan dari golongan para shohabat nabi adalah khulafaur rasyidin beliau adalah:

1. Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, beliau adalah shohabat yang pertama memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dengan pilihan dari semua shohabat muhajirin (orang-orang Mekah) dan anshor (orang-orang Madinah) dan beliau memimpin 2 tahun 3 bulan 10 malam, beliau meninggal di umur 63 tahun, sebelum wafatnya beliau memilih Umar.

2. Sayyidina Umar bin Khattab, beliau memimpin yang kedua dengan perintah dari Sayyidina Abu Bakar dan beliau memimpin kurang lebih 10 tahun dan 23 hari dan beliau meninggal syahid (dibunuh dengan umur 63 tahun).

3. Sayyidina Utsman bin Affan, beliau memimpin yang ketiga dengan cara dipilih kebanyakan shohabat, setelah wafatnya Sayyidina Umar bin Khattab dan beliau memimpin selama 12 tahun dan beliau meninggal syahid (dibunuh) di umur 82 tahun.

4. Sayyidina Ali bin Abi Tholib, beliau memimpin yang keempat dengan cara dipilih kebanyakan shohabat setelah wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan, dan beliau memimpin selama 4 tahun 9 bulan dan beliau meninggal dalam keadaan syahid (dibunuh) dan umurnya 63 tahun. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Amiin.


Perlu kita ketahui bahwa semua shohabat nabi adalah yang telah berjasa bagi agama Islam dan telah menegakkan bendera Islam dengan diri mereka, harta, darah dan keluarga mereka, maka wajib bagi kita menghormati mereka semua karena mereka semua telah berjuang bersama nabi kita, mereka senang dan susah bersama nabi kita Muhammad saw dan perlu kita yakini bahwa Allah SWT tidak akan memilih manusia untuk bersama utusan-Nya kecuali yang pantas dan bersih. Kalau ada golongan yang menghina shohabat berarti mereka menghina rasulullah saw dan pasti mereka juga menghina Allah SWT yang menciptakannya.

Di dalam hadits rasulullah saw bersabda, yang artinya : Shohabatku bagaikan bintang-bintang di langit dan dengan siapapun engkau mengikutinya, maka engkau akan mendapatkan hidayah (petunjuk dari Allah SWT). Apakah mereka pantas dinamakan Islam??? Orang nasrani saja menghormati dan selalu memuliakan shahabat nabi Isa as, bagaimana dengan kita Umat Islam yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad saw, apakah mungkin nabi kita tidak bisa mendidik shohabatnya menjadi orang yang paling taat dan taqwa kepada Allah SWT?? Kalau nabi Muhammad saw tidak bisa lalu siapa yang bisa?? Tidak mungkin ada yang bisa kalau nabi saja tidak bisa! Nabi Muhammad saw pasti bisa! Semoga kita dijauhkan dari faham-faham orang munafik yang selalu membenci nabi Muhammad saw dan para shohabatnya. Amiin, Amiin, Amiin ya Robbal ‘alamiin.


VI. Ijtihad madzhab : madzhab adalah sekumpulan ilmu-ilmu fiqih yang dirujukannya Al Qur’an dan sebab-sebab turunnya dan hadits-hadits dan sebab-sebab keluarnya hadits-hadits tersebut dan juga balaghoh (nahwu dan shorof) dan juga menguasai ilmu manteg dan juga ushul fiqih dan lain-lain dari ilmu-ilmu Al Qur’an yang luas. Begitu juga harus hafal dan langsung menjawab apabila ditanya oleh kebanyakan ulama dari semua daerah dan juga menjaga perilaku yang mulia dan ketaatan yang lebih kepada Allah SWT dan jauh dari perbuatan keji dan dholim besar atau kecil, dhohir atau batin, pada setiap manusia, jin dan hewan, dan juga bisa diikuti oleh kebanyakan manusia, dan madzhab-madzhab yang diakui oleh kebanyakan ulama-ulama di dunia ada empat:

1. Madzhab Hanafi: yang mencetus adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, beliau adalah murid dari Imam Ja’far Shodiq, beliau lahir di Iraq Kota Kuffah pada tahun 80 H / 699 M, wafat tahun 150 H pada bulan Rajab dengan umur 68 tahun. Dan madzhab beliau diikuti sebagian umat Islam di Abu Dhobi dan lainnya. Dan beliau mempunyai murid yang banyak dan semua ulama’ dan diantaranya Imam Malik.

2. Madzhab Malik : yang mencetus adalah Imam Malik bin Anas bin Malik, beliau lahir di madinah tahun 95 H, wafat di Madinah 179 H / 789 M dan umurnya 84 tahun dan madzhab-madzhab diikuti sebagian umat Islam di Saudi Arabia dan lainnya dan beliau juga mempunyai murid-murid yang banyak dan semuanya menjadi ulama’ diantaranya Imam Syafi’i.

3. Madzhab Syafi’i : yang mencetuskan adalah Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i, beliau lahir di Ghuzzah tahun 150 H, beliau hafal Al Qur’an 7 tahun, lalu beliau hafal muatthok (ilmu hadits karangan Imam Malik) di umur 10 tahun dan beliau diizinkan memberi fatwa di umur 15 tahun (berarti beliau sudah hafal semua ilmu termasuk Al Qur’an, tafsirnya hadits 9 sanad dan syarahnya, ushul balaghoh dan manteg dan lain-lain di umur yang sangat muda). Dan semasa hidupnya beliau selalu beribadah dan berdakwah dari Mekah, Madinah, Bagdad, dan Mesir kemudian mukim di Mesir sampai wafat, dan beliau wafat pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 240 H, beliau dimakamkan di kota Qorofah (Mesir) setelah Ashar dan umurnya 70 tahun. Dan murid beliau banyak sekali diantaranya Imam Ahmad bin Hambal dan madzhab beliau diikuti kebanyakan umat Islam, diantaranya di Indonesia dan lain-lainnya (mayoritas umat Islam yang di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i) (rujukan kitab Mugni Mohtaj).

4. Madzhab Hambali: yang mencetuskan adalah Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani Al Maruzi beliau dilahirkan di Iraq tahun 164 H / 780 M, beliau adalah ulama’ hadits yang terkenal dan beliau termasuk ulama’ yang keras dan tegas dalam memberi keputusan, bahkan beliau dimasukkan penjara sampai akhir hayatnya. Beliau meninggal tahun 241 H dan umur beliau 77 tahun.

Mengapa kita yang dalam masalah agama belum seberapa ini akan menyombongkan diri tidak mau bermadzhab dalam menjalankan syari’at Islam? Tentu tidak pada tempatnya! Benar bahwa berijtihad merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, namun hal itu bukan berarti sembarang orang Islam dapat berijtihad tanpa syarat-syarat tertentu. Seorang Islam dalam berijtihad harus paham betul syarat-syaratnya seperti syarat-syarat umum dalam berijtihad:

1. Islam

2. Dewasa

3. Sehat fikiran

4. Kuat daya tangkapnya dan ingatannya (I-Q nya tinggi) dan syarat-syarat pokoknya):
a. Menguasai Al Qur’an bersama ulumul Qur’an dan Asbabu Nuzulnya dan ayat-ayat hukumnya dan nasikh mansukhnya.
b. Menguasai hadits dan ulumul hadits dan asbab khurujul hadits dan hadits-hadits ahkam dan hadits-hadits nasikh mansuhknya dan lain-lain.
c. Mengusai bahasa Arab beserta ilmu-ilmu bahasa termasuk nahwu. Shorof, balaghoh, Fiqhul Lughoh dan adabul jahili.
d. Menguasai ilmu ushul fiqih.
e. Memahami benar-benar tujuan-tujuan pokok syari’at-syari’at Islam.
f. Memahami benar-benar Qowaid kuliyah.
g. Kesholehan dan ketaqwaan yang benar dan bersih dan lain-lain.

...baru mereka dibolehkan berijtihad, dalam ketentuan aturan kenegaraan saja membutuhkan keahliannya dalam bidangnya bagaimana dengan agama?! Dalam Surat An Nahl Allah berfirman, yang artinya : “Maka bertanyalah pada ahli ilmu bila kamu sekalian tidak mengetahui (An Nahl : 43), begitu pula orang dalam bertaqlid, orang boleh bertaqlid secara kafah (menyeluruh), jangan mengambil yang mudah dan seenaknya saja, seperti orang berwudhu menurut rukun madzhab Syafi’i tapi membatalkannya dengan memakai madzhab Maliki, seperti orang pakai baju setengah saja, lalu pakai celana setengah, bagaimana orang tersebut??? Semoga kita dijauhkan dari sikap munafik yang menjalankan agama yang enak dan mudah menurut hawa nafsunya.

(Rujukan kitab-kitab Fiqih, Tukfah, Minhaj, dll)

Sunday, July 05, 2009

Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Diambil dari:
http://madadunnabawiy.blogspot.com

Di dalam bulan rajab yang penuh rahmat ini, Allah Swt mencurahkan rahmat-Nya yang sangat banyak, maka dari itu bulan rajab ini dinamai oleh banyak ulama' (dengan landasan hadits rasulullah Muhammad Saw) bahwa bulan rajab adalah rajabulashab yaitu yang artinya bulan rajab penuh curahan rahmat dan maghfiroh dari Allah Swt.

Dan bulan rajab dikenal dengan syahrullah (bulan yang dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt) seperti yang disabdakan rasulullah Muhammad Saw, maka rasulullah Muhammad Saw mengkhususkan di bulan rajab ini ayat memperbanyak baca istighfar yaitu meminta ampunan kepada Allah Swt. Di dalam bacaan istighfar banyak sekali manfaatnya di dalam Alqur'an.





52. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."



10. Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
11. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah Swt, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah.

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: "Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.

Bahwa siapa saja yang mau membaca istighfar secara langgeng maka dia akan dicurahi rahmat dari Allah Swt dan semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kalau kita mempunyai hajat maka perbanyaklah membaca istighfar, kemudian minta kepada Allah Swt niscaya hajat kita akan dikabulkan oleh Allah Swt. Amin.

Di dalam kitab manaqib Al imam al alamah alhabib Hasan bin Sholeh Albahr, beliau berkata bahwa barang siapa membaca istighfar 1000x dalam satu hari sampai satu tahun dengan langgeng, maka dia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt dan dia akan diberi kekayaan yang cukup untuk kehidupannya di dunia serta dia akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah Swt untuk di dunia dan akhiratnya seperti yang disabdakan oleh rasulullah Muhammad Saw. Ini sangat mujarab, buktikan!

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita ahli istighfar yang selalu bermanfaat untuk diri kita dan keluarga kita, juga bermanfaat di dunia dan di akhirat kita. Amin.

Tuesday, June 23, 2009

Langkah Awal Suluk

Di dalam kitabnya, Alhabib Muhammad bin Abdullah Al'aidrus berkata bahwa landasan dari suluk (usaha menyempurnakan batin, pelakunya disebut salik) adalah mendidik nafsu, menyucikan nafsu dan menyempurnakan ahlaq.

Nafsu jika tidak dididik akan mengikuti ajakan-ajakan dan pengaruh dari hawa, karena sesungguhnya hawa itu adalah makanan nafsu. Oleh karena itu nafsu terikat erat dengan hawa. Hawa adalah segala sesuatu yang mengajak kita kepada kebatilan, juga segala sesuatu yang mengajak kita untuk lupa kepada Allah Swt.

Nafsu bisa dijauhkan dari pengaruh hawa asalkan kita benar-benar berusaha mengenali berbagai jenis hawa. Ketika kita sudah kenal dengan berbagai jenis hawa, kita harus berusaha untuk tidak terpengaruh dengannya.

Dikatakan paling tidak ada 2 cara untuk tidak terpengaruh oleh hawa, yaitu:
1. Mengalihkan perhatian
2. Menunda-nunda

Marah adalah salah satu jenis hawa yang terberat sebab marah melemahkan akal sehingga membuat kita lupa akan Allah Swt. Ketika kita berada di dalam situasi yang membuat kita marah adalah lebih baik kita mengalihkan perhatian kita dari penyebab kenapa kita marah. Hindari dia untuk sementara waktu sampai marah kita reda. Atau bisa juga kita menunda marah kita seperti ah nanti sajalah marahnya, beberapa saat lagi katakan pada diri kita ah nanti saja marahnya...ah nanti...nanti saja...begitu seterusnya sampai hilang marah kita.

Paling tidak seperti itu usaha membebaskan nafsu dari cengkeraman hawa. Setelah itu sucikan nafsu dengan melakukan berbagai amalan-amalan yang baik.

Monday, June 22, 2009

Ahlaq Dhohir & Batin

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di dalam majlis Madadun Nabawiy tanggal 19 Juni 2009 di Masjid Alhikmah - Semarang, pembahasan kitab Is'afu Tholibiy Ridol Kholiq Bibayani Makarimal Ahlaq yaitu kitab karya Alhabib Umar bin Hafidh)

Kitab ini diawali dengan basmalah dan hamdalah. Jika suatu pekerjaan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah maka dikhawatirkan akan terputus dari ridho Allah Swt.

Ahlaq itu salah satu sifat yang menghiasi manusia dari sisi dhohirnya dan sisi batinnya. Sebelum kita mengerjakan segala sesuatu pasti diawali dengan niat di dalam hati, setelah hati kita sudah terbersit sebuah niat maka akan berlanjut ke otak kita dan otak kita lalu memerintahkan anggota-anggota badan kita untuk melakukan apa yang sudah kita niatkan. Jika salah satu dari tiga perangkat tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka akan berpengaruh terhadap lainnya. Lihatah bahwa antara batin dan dhohir saling berhubungan!

Jika dari awal (niat) sudah dimulai dengan sesuatu yang rapi, baik dan bersih maka itu adalah wujud awal dari ahlaq yang baik. Sebaliknya, jika dari awal sudah dimulai dengan sesuatu yang berantakan, buruk dan kotor maka itu adalah wujud awal dari ahlaq buruk. Dhohir dan batin itu saling dan selalu berhubungan dan tidak mungkin keduanya akan terpisahkan.

Batin yang baik jika ditampilkan dengan dhohir yang buruk maka ini kurang lengkap dan sering kali mengakibatkan kesalah-pahaman orang lain kepada kita. Kesalah-pahaman akan menimbulkan fitnah, dan jika kita bisa meminimalkan fitnah maka itu lebih baik. Jadi batin yang baik akan lebih indah jika disertai dhohir yang baik.

Batin yang buruk jika dibungkus dengan amalan dhohir yang terlihat baik tidak disukai oleh Allah Swt. Dhohir yang baik insya Allah berasal dari batin yang baik.

Batin kita harus selalu dibersihkan dengan melakukan berbagai amalan yang baik pula. Jika batin bersih maka Allah Swt akan mencurahkan ridho-Nya kepada kita. Jika kita melakukan kesalahan dhohir maka batin akan ternoda, batin yang ternoda akan mengakibatkan murka Allah Swt jika tidak diikuti dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat.

Nabi Muhammad Saw diutus Allah Swt kepada kita adalah untuk menyempurnakan ahlaq kita, ahlaq dhohir dan ahlaq batin kita. Jika ada orang yang berkata oh batinku bersih tapi dhohirnya kotor maka ini dusta! Kecuali terhadap orang-orang tertentu itu pengecualian, seperti orang yang jadzab. Sering kali tingkah laku orang jadzab tidak sesuai dengan syari'at, itu bukan karena apa-apa selain karena oleh Allah Swt dituangkan cinta yang sangat besar ke dalam hati mereka sehingga mereka tenggelam di dalamnya.

Tidak semua orang mengalami keadaan seperti ini (jadzab), jadi hukum bagi mereka berbeda dengan hukum bagi kita. Ada orang yang jadzab tapi dhohirnya bisa sesuai dengan syari'at, ada juga yang tidak. Orang seperti ini harus dihormati akan tetapi tidak bisa dijadikan rujukan bagi kita dalam hal syari'at. Rujukan kita adalah orang yang batinnya bersih yang mengamalkan amalan-amalan dhohir yang baik.

Rahmat Terbesar Allah

Oleh: Ustadz Yahya Ma'arif - Cirebon

Berbahagialah kita karena kita mendapat rahmat dari Allah Swt, maka sangat wajar jika ada perayaan disaat pernikahan, kelahiran anak, mendapat rizqi bahkan ketika diadakan perayaan pada hari dimana nabi Muhammad Saw lahir adalah sangat wajar demi rasa syukur kita atas rahmat Allah Swt. Demikian makna dari perayaan-perayaan tersebut.

Ada sangat banyak rahmat dari Allah Swt yang sudah dan sedang dikaruniakan kepada kita, adapun rahmat Allah Swt yang terbesar adalah rasulullah Muhammad Saw.

Segala hal yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah mulia. Ilmu yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah ilmu yang mulia. Akhlaq yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah akhlaq yang mulia. Tradisi yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah tradisi yang mulia. Nasab yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah nasab yang mulia. Sahabat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah sahabat yang mulia. Umat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah umat yang mulia.

Mengikuti rasulullah Muhammad Saw harus dengan cinta, sebab mengikuti saja tanpa ada cinta hanya akan melelahkan kita saja tanpa membuahkan manfaat sedikit pun bagi kita. Dan jangan hanya mengamalkan sunnah rasulullah Muhammad Saw yang dhohir saja, tapi juga amalkan sunnah-sunnah batin rasulullah Muhammad Saw. Dengan begini maka apapun yang kita kerjakan akan selalu bersama rasulullah Muhammad Saw, kita akan mengingat rasulullah Muhammad Saw dengan dhohir dan batin kita.

Jika kita merasa belum bisa mencintai rasulullah Muhammad Saw maka lihatlah perjuangan-perjuangan rasulullah Muhammad Saw! Rasulullah Muhammad Saw sangat tegar meski dilempar batu hingga dahi beliau Saw berdarah. Rasulullah Muhammad Saw tidak tampak gentar, beliau Saw menyeka darah yang keluar dari dahinya tersebut dengan kain di pundak beliau Saw.

"Apakah engkau takut darah ya rasulullah?", tanya sayyidah Fathimah.

Rasulullah Muhammad Saw menjawab, "Tidak, aku tidak takut darah! Aku hanya takut jika darahku ini sampai jatuh mengenai bumi maka bumi tidak akan menerima aku diperlakukan demikian."

Lihatlah bumi saja tidak terima rasulullah Muhammad Saw diperlakukan demikian! Kita seharusnya mengambil hikmah dari hal ini, relakah kita jika mereka memperlakukan rasulullah Muhammad Saw dengan buruk? Lihat ke dalam hati kita!

Dikatakan bahwa sepertiga umat rasulullah Muhammad Saw masuk surga, sepertiga lagi masuk neraka dulu baru kemudian masuk surga dan sepertiga yang terakhir masih tersisa sedikit iman di hati mereka.

Wednesday, June 03, 2009

Istighfar Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan dalam majlis Alghofar yaitu majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar dan mauidloh, rutin setiap malam Rabu pahing di Semarang)

Sekarang kita berada di bulan Rabi'ul Akhir, sebentar lagi kita memasuki bulan Rajab. Kalau Sya'ban adalah bulannya Rasulullah Muhammad Saw maka Rajab adalah bulannya Allah Swt. Jika di bulan Sya'ban kita dianjurkan memperbanyak sholawat, maka di bulan Rajab ini kita dianjurkan memperbanyak istighfar, dianjurkan memohon ampunan atas semua dosa dan kekeliruan kita. Ada banyak jenis istighfar, diantaranya yang dianjurkan dibaca di bulan Rajab adalah "Robbighfiri warhamni watubb alayya" sebanyak 70x sehabis sholat fardlu.

Barang siapa membaca "Robbighfirli warhamni watubb alayya" sebanyak 70x aetelah sholat fardlu sebelum membaca do'a-do'a yang lain, maka insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt, dikabulkan hajat-hajat kita baik hajat akhirat ataupun hajat dunia.

Semakin kita memperbanyak membaca istighfar setiap harinya khususnya istighfar tersebut di atas, maka bukan hanya kita yang diampuni dosa-dosa kita dan bukan hanya kita yang dikabulkan hajat-hajat kita, tapi Allah Swt juga mengampuni dosa-dosa keluarga kita serta mengabulkan hajt-hajat keluarga kita demikian juga tetangga-tetangga kita, teman-teman kita dan sekitar kita.

Memohon ampunan dosa kepada Allah Swt sebanyak mungkin itu semakin baik bagi kita, asal kita mampu untuk istiqomah. Kalau kita belum mampu istiqomah membaca istighfar yang banyak maka istighfar-lah sebanyak yang kita mampu untuk istiqomah. Orang-orang terdahulu istiqomah membaca istighfar dalam jumlah yang banyak, dikatakan bahwa sayyidah Rabi'ah Aladawiyyah membaca istighfar sebanyak 12.000x setiap harinya, kalau kita mampu menirunya maka itu baik bagi kita. Kalau kita tidak mampu, maka 200x pun cukup bagi kita. Maka insya Allah hajat-hajat kita akan dipenuhi oleh Allah Swt asalkan kita tidak murtad. (Apakah yang non-Islam tidak dikabulkan do'a-do'anya? Allah Swt Maha Pengasih, kasih Allah Swt meliputi semua makhluq-Nya. Allah Swt memberikan yang kita minta, tapi Rahim-Nya untuk mereka yang beriman kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw).

Manfaat istighfar yang lain adalah kita mendapatkan syafa'at asalkan ditambah dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw dan apa yang kita minta sesuai dengan ikhtiar (usaha) kita (agar kita tidak terlalu panjang angan-angan sedangkan panjang angan-angan adalah kurang baik bagi kita).

Monday, June 01, 2009

Do'a Nabi Dawud As

Oleh : Kyai Baidlowi bin Abdusshomad

(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durror di Gemah - Semarang setiap malam Sabtu Pon)

Suara nabi Dawud As sangatlah merdu dan indah sehingga karena sangat merdunya dan sangat indahnya angin pun berhenti ketika nabi Dawud As sedang tadarus. Selain suara beliau As yang merdu, wajah beliau As pun sangatlah tampan sebagaimana layaknya wajah nabi dan rasul yang memang tampan sehingga membuat terkesima semua makhluq terkesima karena keindahannya.

Pekerjaan beliau adalah seorang hakim yang mendapat gaji rutin dari kerajaan pada saat itu sehingga beliau memperoleh berbagai fasilitas seperti rumah yang bagus dan berbagai fasilitas keseharian yang lengkap. Suatu pagi, 2 malaikat yang menyamar menyerupai 2 laki-laki lewat di depan rumah beliau ketika beliau sedang berada di taman depan.

Kedua malaikat tersebut saling berbicara, mereka membicara tentang nabi Dawud As, tentang kenyamanan hidup nabi Dawud As, tentang kemudahan beliau As, tentang kemapanan beliau As, tentang kelebihan-kelebihan beliau As. Mereka sengaja mengraskan suara mereka sehingga terdengar oleh nabi Dawud As.

Nabi Dawud As kemudian bermohon kepada Allah Swt agar beliau dikaruniai pekerjaan lain. Allah Swt mengabulkan do'a beliau As, beliau As mempunyai keahlian mlenturkan besi yang beliau As pegang sehingga beliau mampu membuat berbagai jenis baju-baju perang. Dan usaha beliau As semakin besar karena baju-baju perang hasil karya beliau As diminati banyak orang.

Lalu, beliau As bermohon agar dikaruniai 4 perkara dan bermohon dijauhkan dari 4 perkara.

Nabi Dawud As bermohon dikaruniai 4 (empat) perkara, yaitu :

1. Berliau As bermohon dikaruniai lesan yang senantiasa berdzikir.

Berdzikirlah disesuaikan dengan apa yang kita lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Bidayatil Hidayah yaitu kitab yang menjelaskan adab dan do'a yang dibaca dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Bangun tidur do'anya ini, masuk kamar mandi do'anya ini, keluar kamar mandi, buka pakaian, dst ada do'anya masing-masing dimana setiap do'a mengingatkan kita kepada Allah Swt, dzikir kewat lesan sekaligus dengan hati dan perbuatan kita.

2. Beliau As bermohon dikaruniai hati yang bersyukur.

Sebagaimana diterangkan bahwa barang siapa mensyukuri apa yang diterimanya, maka Allah Swt akan menambah nikmat-Nya. Apapun yang kita punya, kita miliki wajib kita syukuri sebagai karunia dari Allah Swt.

3. Beliau As bermohon dikaruniai kesabaran.

Sabar ada 3 (tiga) macam, yaitu sabar ketika menjalankan perintah-perintah Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw, sabar ketika menjauhi larangan-larangan Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw dan sabar ketika menghadapi bala' dari Allah Swt. Tanpa kesabaran kita tidak akan bisa menjalankan perintah-perintah-Nya, ita tidak bisa menjauhi larangan-larangan-Nya.

4. Beliau As bermohon dikaruniai istri yang membantu dalam urusan akhirat beliau As.

Dan Allah mengabulkannya, istri beliau As sangat membantu dalam semua urusan akhirat nabi Dawud As. Istri yang mengingat suami untuk sholat berjama'ah misalnya, membangunkan suami di akhir malam untuk sholat sunnah malam dsb. Begitu juga suami sudah seharusnya membantu urusan akhirat istrinya.

Nabi Dawud As bermohon dijauhkan dari 4 (empat) perkara, yaitu :

1. Beliau As bermohon dijauhkan dari keturunan yang memperbudak orang-tuanya yaitu anak yang tidak taat kepada orang-tuanya, senantiasa membantah orang-tuanya padahal perintah tersebut menyuruhnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan nabi Muhammad Saw.

2. Beliau As bermohon dijauhkan dari istri yang menyebabkan suami susah.

3. Beliau bermohon As dihindarkan dari harta yang mendatangkan bala' dari Allah Swt.

4. Beliau As bermohon dihindarkan dari tetangga yang ketika melihat kebaikannya maka dia diam, sedangkan membicarakan (ghibah) ketika melihat keburukannya.

Ilmu, Tazkiyah & Da'wah

Oleh : Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan pada majlis Alghofar - pembacaan kitab maulid Simthud Durror di Tlogosari, Semarang)

Di dalam sejarah nabi Muhammad Saw ada tiga (3) hal yang bisa membawa kita menuju Allah Swt, yaitu ilmu, tazkiyah (pembersihan jiwa) dan da'wah.

Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan yang menuntut ilmu beberapa derajat dibandingkan dengan mereka yang tidak. Beberapa derajat ini menurut sayid Abdullah bin Abbas adalah 70 derajat. Jarak setiap derajat kurang lebih 500 tahun.

Lihatlah betapa beruntungnya orang yang berilmu, bahkan setan pun takut kepada orang yang mempunyai ilmu! Beribadah itu lebih utama jika mempunyai ilmu tentang jenis ibadah yang akan kita lakukan tersebut, sangat berbeda beribadah dengan ilmu jika dibandingkan beribadah tanpa ilmu.

Kita tidak bisa melakukan sebuah ibadah pun jika kita tidak mempunyai ilmu. Manfaatkan umur kita dengan beribadah yang kita lakukan karena mengetahui ilmu tentangnya.

Ini termasuk mendirikan agama. Suatu saat Alhabib Sholeh Alhamid (Tanggul - Jawa Timur) ditanya apa yang menyebabkan do'a beliau cepat (bagai kilat) dikabulkan oleh Allah Swt? Beliau menjawab itu karena kesungguh-sungguhan dan kehati-hatian beliau terhadap segala hal.

Sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt dan nabi Muhammad Saw dan sungguh-sungguh meninggalkan larangan Allah Swt dan nabi Muhammad Saw. Itu yang membuat do'a Alhabib Sholeh Alhamid dikabulkan secepat kilat oleh Allah Swt.

Ilmu bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat kita. Tuntutlah ilmu dari orang-orang yang dikenal mulia lalu setelah itu ikuti cara-cara ibadah dhohir mereka dan ikuti cara-cara ibadah batin mereka.

Yang kedua adalah tazkiyah (permbersihan jiwa), tazkiyah adalah untuk mencapai kedekatan kepada Allah Swt. Tazkiyah ada dua, tazkiyah dhohir dan tazkiyah batin. Tazkiyah dhohir yaitu dengan melakukan kebaikan sesuai Alqur'an dengan lesan kita dan dengan perbuatan kita.

Tazakiyah batin adalah dengan niat dan segala pekerjaan hati seperti sabar, syukur, ikhlas dsb. Dengan niat yang kuat akan menimbulkan kebarokahan waktu, misalnya ibadah yang lama dirasakan sebentar dan dilakukan istiqomah (rutin).

Dan hal yang terakhir yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Swt setelah ilmu dan tazkiyah adalah da'wah. Da'wah wajib bagi kita muslim dalam banyak hal, dengan banyak cara dan dengan kemampuan kita. Da'wah butuh wawasan (ilmu), kekuatan, harta dan ilmu.

Sunday, May 17, 2009

Berpolitik Ala Nabi Saw

Multaqo Ulama Jawa Tengah (4)

SEMARANG. Ketika ada yang bertanya tentang thoriqoh Nasabandi, Alhabib Umar bin Hafidh menjelaskan bahwa thoriqoh tersebut memiliki sanad secara syari'at dan shohih.

Lalu bagaimana ahli thoriqoh bekerja sama dengan pemerintah?

Alhabib Umar bin Hafidh merujuk ke apa yang dilakukan oleh nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw dijaga dari hal-hal yang tidak baik, termasuk cara berpolitik nabi Muhammad Saw pun juga diwahyukan oleh Allah Swt. Tidak seperti kita, maka jika kita berpolotik sudah seharusnya kita bepolitik mengikuti cara nabi Muhammad Saw berpolitik.

Setiap pemerintah memiliki aturan-aturan yang mana aturan-aturan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk. Maka katakan yang haq itu haq dan katakan yang bathil itu bathil. Itu kewajiban kita. Jika kita tidak seperti itu maka haram hukumnya kita berpolitik!

Hukum ikut atau tidak dalam berpolitik maka itu tergantung niat kita masing-masing. Nabi Musa As diperintahkan oleh Allah Swt agar menasehati Fir'aun, ini politik yang dibolehkan. Nabi Muhammad Saw berikirim surat kepada pimpinan-pimpinan negara tetangga untuk mengajak mereka mengikuti ALlah Swt, ini politik yang dibolehkan.

Jaman dulu mereka saling menolak jika diminta menjadi pimpinan atau dikasih jabatan pemerintahan kecuali terpaksa maka mereka menerimanya. Akan tetapi jika mereka disuruh zakat, shodaqoh, jihad dsb mereka bersegera melakukannya tanpa menunda-nunda. Sungguh bertolak belakang jika mereka ditawari jabatan pemerintahan, mereka buru-buru menolak kecuali terpaksa.

Iman didapat dari Hati yang Hadir & Pembersihan Jiwa

Multaqo Ulama Jawa Tengah (3)

SEMARANG. Multaqo Ulama Jawa Tengah berlangsung dua hari di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), dimulai sehabis sholat jum'at dan berakhir sabtu sehabis maghrib. Alhabib Umar dan rombongan langsung berangkat meneruskan perjalanan dakwah ke Malang, masih sama yaitu Multaqo Ulama Jawa Timur.

Sebelumnya berakhir, Alhabib Umar sempat mengatakan bahwa sebenarnya ilmu dan iman tidak ada habisnya, setiap saat sebagaimana ayat Alqur'an yang menyuruh kita berdoa bermohon kepada Allah Swt agar kita ditambah ilmu kita. Lihatlah imam Ahmad bin Hanbal yang terus membawa alat tulis di setiap majlisnya dengan niat akan terus menambah ilmu sampai dengan akhir hayat beliau.

Tidak ada karunia yang lebih besar daripada iman. Imam Ali Kwh berkata bahwa doa kita akan dikabulkan sesuai dengan keyakinan kita. Keyakinan itu tidak sekadar mengetahui dalil-dalil dari berbagai perkara, tidak sekedar mengetahui makna-makna dari berbagai perkara...bahkan Abu Jahal pun mengetahui pasti bahwa nabi Muhammad Saw itu benar tapi dia tidak mengikuti nabi Muhammad Saw.

Demikian juga dengan Fir'aun yang ingkar terhadap Allah Swt dan nabi Musa As, padahal dia tahu bahwa Allah Swt dan nabi Musa As adalah benar. Jadi tidak sekedar yakin saja, tapi iman diletakkan oleh Allah Swt di dalam hati kita.

Cahaya iman ini didapat dengan hati yang hadir dan pembersihan jiwa. Jika ini telah ada pada kita dan kita berkumpul dengan orang-orang yang beriman, maka kita akan bersambung dengan nabi Muhammad Saw.

Setiap jaman ada orang yang berpegang teguh kepada agama, orang-orang seperti ini patut diikuti. Ulama lebih mengetahui keberadaan orang-orang seperti ini daripada masyarakat awam. Tapi pada hakikatnya sebenarnya masyarakat awam pun mengetahui akan hal ini dan mereka pun menyukai kebenaran yang datang dari orang-orang yang berpegang kepada agama yaitu orang-orang yang jelas sanad ilmu dan sanad rujukannya dsb agar ilmu yang didapatkan tidak berasal dari hawa nafsu mereka sendiri tapi benar-benar berasal dari kebenaran, salah satunya dari kalangan ahlul bayt nabi Muhammad Saw.

Agama untuk Mengatasi Permasalahan Jaman

Multaqo Ulama Jawa Tengah (2)

SEMARANG. Alhabib Luthfi bin Yahya (Pekalongan) mengatakan bahwa perhatian, pandangan masyarakat kepada ulama memudar karena gaya hidup modernisasi. Gaya hidup modernisasi menganggap masyarakat religius itu kuno atau terasing dari dunia. Tapi pada kenyataannya masyarakat Islam adalah miskin dan bodoh, sangat antagonis memang!

Juga banyak yang tidak mau mengakui pendapat orang lain meskipun pendapat tersebut benar. Seandainya ada orang yang kita anggap kurang benar pendapatnya, duduklah dan lihatlah apa yang dia lakukan! Jangan akui pendapat atau tuduhan dari orang ketiga dst sebelum kita mengatui detail dari yang dituduhkan itu, jangan akui tanpa kita tahu detailnya! Ini orang shidiq yaitu awal tidak suka tapi setelah duduk dan melihat dengan mata kepala sendiri ternyata tidak amal buruk yang menyimpang dari nabi Muhammad Saw yang dilakukannya, maka diakui kebenarannya..ini yang disebut jujur.

Kenapa 4 madzhab bertahan sampai sekarang? Karena sikap beliau-beliau yang masya Allah benar, meskipun beliau-beliau tidak ikut berpolitik tapi beliau-beliau tidak membenci pemerintah. Alhabib Umar bin Hafidh menambahkan bahwa keempat imam madzhab tersebut mampu memenghadapi berbagai masalah jaman karena beliau-beliau sangat memahami agama, ta'dzim dan ikhlas.

Sebenarnya sebelum empat madzhab tersebut, ada banyak madzhab tapi tidak termasyhur sampai dengan sekarang. Tapi jika diteliti lebih dalam, di setiap pendapat empat madzhab tersebut ada pendapat dari madzahab-madzhab yang tidak termasyhur tersebut termaktub di dalamnya.

Perkumpulan ini tidak hanya sepihak saja yang berbicara tapi juga diadakan tanya jawab dengan mereka yang hadir. Ketika ada pertanyaan tentang ada pendapat bahwa hadits yang terdapat kitab maulid Simthud Durrar itu diragukan kebenarannya, maka Alhabib Umar menjawab bahwa orang itu berbicara sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Menurut Alhabib Umar, sebenarnya kitab yang menjadi dasar mereka mengatakan hadits tersebut palsu itu hilang beberapa lembar kertas sehingga mereka tidak mengetahuinya. Alhabib Umar memiliki kitab yang lengkap dengan beberapa lembar kertas yang hilang tersebut ada di dalamnya. Di beberapa lembar kertas tersebut dijelaskan bahwa hadits tersebut ada dan benar.

Lihatlah, orang berbicara sesuai kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Jadi tidak perlu marah ketika mengetahui ada perndapat yang kurang nyaman didengar karena apapun yang mereka katakan adalah itu ilmunya. Kita yang mempunyai ilmu yang lebih harus memahami mereka.

Ulama Adalah yang Paling Bertanggung Jawab

Multaqo Ulama Jawa Tengah (1)

SEMARANG. Tanggal 17 hingga 18 April 2009 yang lalu para ulama di Jawa Tengah dan sekitarnya mengadakan sebuah perkumpulan untuk membahas kebaikan bersama.

Multaqo ulama ini diprakasai oleh Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh bin Syaikh Abubakar bin Salim (Yaman), sebagaimana beliau menuturkan bahwa ide berkumpul seperti ini sejak 3 tahun yang lalu diawali oleh Rabithah Alawiyyah dengan dihadiri banyak ulama dari beberapa negara. Alhabib Umar menyampaikan hal ini kepada para ulama di setiap negara yang beliau singgahi agar mereka datang mengahadiri acara ini.

"Maka kita kuatkan diri kita di Indonesia ini agar terasa manfaat dari perkumpulan seperti ini.", demikian Alhabib Umar mengingatkan.

Sejalan dengan tujuan tersebut, Rabithah Alawiyyah menjelaskan bahwa banyak ulama berjalan sendiri-sendiri, niat berjalan bersama-sama seperti ini karena muslim di Indonesia banyak tersebar. Penyelarasan tujuan dari para ulama seperti ini salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi upaya pengkotak-kotakan di masyarakat. Kemudian Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh mengenalkan konsep yang lebih baik yaitu multaqo ulama seperti ini.

"Sekuat apa niat kita maka itu yang dikabulkan oleh Allah Swt!", kata Alhabib Umar bin Hafidh.

Beliau melanjutkan nasehatnya bahwa tidak ada jalan lain kecuali menggembirakan nabi Muhammad Saw. Dahulu bibir nabi Muhammad Saw pecah, kaki terluka, mengikatkan batu di perut demi menyampaikan agama kepada kita. Maka perjuangan kita sekarang adalah sangat kecil jika dibandingkan dengan perjuangan nabi Muhammad Saw.

Setinggi apapun kedudukan kita jika tidak dipandang oleh nabi Muhammad Saw maka percuma saja. Semua kekurangan, semua perbedaan, semua kecurangan jika kita serahkan (kita kembalikan) kepada nabi Muhammad Saw maka akan selesai.

Allah Swt menampakkan berbagai masalah kepada kita itu untuk menunjukkan betapa lemahnya ulama. Tujuannya adalah agar kita menyadari kelemahan kita untuk kemudian menjalankan tugas dengan lebih baik.

Jika di perkumpulan seperti ini disebutkan suatu permasalahan, maka ini bukan ghibah tapi awal dari terselesainya masalah tersebut. Lalu setelah itu, tutupi kesempatan untuk timbulnya kelemahan-kelemahan seperti itu lagi! Bukan ulama saja tapi umat juga, tapi yang paling bertanggung-jawab adalah ulama.

Thursday, May 14, 2009

Semua Berjalan di Jalannya Masing-Masing

Oleh : Alhabib Umar bin Hafidh

(Disampaikan dalam rangkain acara Multaqo Ulama di Masjid Agung Jawa Tengah - MAJT, Semarang dari tanggal 17 - 18 April 2009)

Kita mendapat nikmat yang besar dari Allah Swt. Dahulu orang terdahulu mendapatkan nikmat seperti yang kita rasakan dengan perjuangan yang sangat berat sehingga kita sekarang dapat merasakan nikmat tersebut.

Oleh karena itu kita yang mempunyai kemampuan (ulama) harus menyelamatkan masyarakat. Halaqoh dzikir dan ilmu harus terus hidup di masyarakat karena kita mempunyai murid-murid. Kita harus terus menyempurnakan tawasul kita, menyempurnakan silaturrahim diantara kita untuk meningkatkan dakwah kita.

Saya datang ke Indonesia sejak 17 tahun yang lalu. Di sini (Indonesia) masih terjaga madzhab Syafi'i, tapi akhir-akhir ini ada madzhab yang tidak baik yang kalau kita tidak berhati-hati maka madzhab tersebut akan menyesatkan kita.

Kita harus bekerja sama agar masalah-masalah seperti ini dapat terselesaikan dengan tidak terganggu oleh latar belakang kita masing-masing. Dengan saling bertemu kita dapat menyedikitkan kesalah-pahaman sehingga keadaan yang lebih baik akan kita dapatkan.

Ini tidak ada niat lain kecuali ingin menyatukan umat. Ilmu adalah mempunyai kedudukan yang tinggi sehingga bagi orang yang berilmu tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk mengikuti keinginannya. Seperti halnya politik, partai-partai tidak bisa memaksa kyai atau ulama untuk meninggalkan pondok pesantrennya hanya untuk masuk ke partainya. Semua harus tetap berjalan di jalannya masing-masing akan tetapi tetap harus sering-sering bertemu (silaturrahim).

Silaturrahim ini tidak membahas latar belakangnya masing-masing, tidak! Tapi pertemuan-pertemuan yang membahas kebaikan umat.

Lihatlah dzikir kita, apakah membawa hasil bagi kita? Apakah membawa pengaruh bagi diri kita?

Wednesday, April 15, 2009

Jadwal Kunjungan Ke-2 Habib Umar bin Hafidz

Alhamdulillah pada bulan April 2009 yang bertepatan dengan bulan Rabi'ul Akhir 1430 H, kita kembali akan kedatangan tamu agung, yaitu Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, dari Tarim Hadramaut. Beliau akan melakukan kunjungan da'wah beliau khususnya untuk melakukan ijtima' dengan ulama dari berbagai daerah di Indonesia.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini memang Habib Umar bin Hafidz singgah ke Indonesia selama dua kali, yang pertama Beliau hadir pada bulan Januari yang lalu atau bertepatan dengan bulan Muhamrram 1430 H, dan yang kedua beliau InsyaAllah hadir pada pertengahan bulan April yang jadwalnya terlampir dibawah ini.

InsyaAllah dengan hadirnya guru mulia kita tersebut, banyak manfaat yang bisa kita terima khususnya buat kita pribadi, umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Jadwal kegiatan Habib Umar bin Hafidz selama di Indonesia yang ke-2 sebagai berikut :

Rabu 15/04/09 :
Tiba di Jakarta

Kamis 16/04/09 :
Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dDi Solo

Jumat 17/04/09 :
Maulid di Solo

Jumat 17/04/09 :
- Sholat Jumat di Masjid Agung Semarang
- Ijtima' Ulama Jawa Tengah di Semarang (undangan khusus)

Sabtu 18/04/09 :
Ijtima' Ulama Jawa Tengah di Semarang (undangan khusus)

Ahad 19/04/09 :
Ijtima' Ulama Jawa Timur di Batu - Malang (undangan khusus)

Senin 20/04/09 :
Ijtima' Ulama Jawa Timur di Batu - Malang (undangan khusus)

Senin 20/04/09 :
Haul Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi di Surabaya

Selasa 21/04/09 :
Ijtima' Ulama Kalimantan di Banjarmasin (undangan khusus)

Rabu 22/04/09 :
Ijtima' Ulama Kalimantan di Banjarmasin (undangan khusus)

Kamis 23/04/09 – Ahad 26/04/09 :
Haul dan Maulid di Singapura

Ahad 26/04/09 :
Maulid Di Masjid Istiqlal di Jakarta

Senin 27/04/09 :
Ijtima' Ulama Sumatera di Palembang (undangan khusus)

Selasa 28/04/09 :
Ijtima' Ulama Sumatera di Palembang (undangan khusus)

Rabu 29/04/09 :
Ijtima' Ulama Jawa Barat di Ciater (undangan khusus)

Kamis 30/04/09 :
Ijtima' Ulama Jawa Barat di Ciater (undangan khusus)

Kamis 30/04/09 :
Perjalanan Ke Australia Ijtima' di Sydney

Monday, April 13, 2009

Nabi Musa As

Oleh : Yusa Nugroho

"Bib, banyak kenalan saya yang membicarakan kisah tentang Nabi Musa As dan sayidina Khidir tapi mereka kebanyakan beranggapan bahwa Nabi Musa As tidak faham tentang apa itu hakikat. Mereka mengidentikan bahwa Nabi Musa As itu gambaran dari syari’at sedangkan sayidina Khidir gambaran dari hakikat. Saya tidak sependapat dengan mereka, prinsip saya adalah tidak mungkin seorang Nabi tidak faham tentang hakikat dari segala sesuatu. Bagaimana menurut antum, bib?”, tanya saya kepada habib Shodiq bin Abubakar Baharun.


Habib shodiq menjawab bahwa kisah itu diawali dengan seseorang yang bertanya kepada Nabi Musa As siapa orang yang paling alim di muka bumi pada saat itu. Karena Nabi Musa As adalah seorang Nabi maka dijawab orang yang paling alim di muka bumi pada saat itu adalah beliau sendiri. Jawaban ini tidak salah sebab Nabi adalah orang yang banyak ilmunya dibandingkan dengan umatnya, Nabi adalah orang yang paling utama dibandingkan dengan umatnya. Jawaban Nabi Musa As benar, beliau tidak menjawab dengan nafsu beliau tapi memang begitulah adanya.

Meski begitu Nabi Musa As diperintahkan oleh Allah Swt untuk menemui hamba Allah Swt yang bernama Khidir atau dikenal juga dengan nama Balya’ bin Malkan. Khidir ini tidak disebut sebagai Nabi di dalam Alqur’an tapi hamba Allah Swt, jadi beliau lebih suka dipanggil dengan ‘sayidina’ daripada ‘Nabi’. Sebenarnya kedudukan Nabi Musa As lebih tinggi daripada sayidina Khidir karena Nabi Musa As adalah seorang Nabi sedangkan sayidina Khidir adalah bukan Nabi.

Karena Allah Swt yang memerintahkan maka Nabi Musa As pun pergi mencari orang yang bernama Khidir tersebut. Ketika bertemu dengan sayidina Khidir, Nabi Musa As pun segera tahu bahwa ilmu yang pakai oleh sayidina Khidir ini adalah ilmu hakikat, akan tetapi karena Nabi Musa As diperintahkan Allah Swt untuk bersama dengan sayidina Khidir maka Nabi Musa As tidak berani meninggalkan sayidina Khidir kecuali sayidina Khidir sendiri yang menyuruh Nabi Musa As pergi.

Jadi pada dasarnya Nabi Musa As tahu dan memahami apa yang dipahami oleh sayidina Khidir, Nabi Musa As memahami ilmu hakikat, hanya saja beliau tidak melupakan ilmu syari’at, Nabi Musa As tetap memakai ilmu syari’at meski paham ilmu hakikat. “Syari’at dan hakikat itu sama tinggi derajatnya!”, demikian habib Shodiq bin Abubakar Baharun menjelaskan.

Wednesday, April 08, 2009

Tidak Suka Bicara

Oleh : Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assaggaf


Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Berkata Imam Nawawi - semoga Allah merahmatinya dan memberikan kemanfaatan kepada kita dengan keberadaannya dan semua ulama.

Dari hadits yang kelima, dari Abu Hurairoh (semoga Allah meridhoinya), sesungguhnya Rasulullah SaW berkata,

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tamunya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Hadits ini pada awalnya berhubungan dengan hadits yang sebelumnya dan kita sudah membacanya bahwa sesungguhnya dari sebagian kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada arti/manfaatnya. Kami telah menyebutkan bahwa yang termasuk sebagian daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah berlebih-lebihan secara umum, dan terutama berlebih-lebihan dalam berbicara. Dan di sini Rasulullah SAW mengkhususkan dalam hal ini dengan berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata sesuatu yang baik atau diamlah.”

Diam dan tidak berkata apa-apa daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah sukuut ikhtiyaariy (diam karena pilihan kehendak sendiri). Karena manusia terkadang diam, akan tetapi itu karena bohong, sakit, lemah, atau rasa takut. Adapun yang dimaksud disini adalah sukuut ikhtiyaariy, seseorang yang mencegah lisannya daridapa berbicara. Dikatakan bahwa sesungguhnya syahwatil kalam (nafsu untuk berbicara) lebih berbahaya daripada syahwatit tho’am (nafsu untuk makan). Ini termasuk diantara syahwat yang paling berbahaya.

Di sini, sikap diam adalah termasuk sebagian daripada hikmah yang luar biasa. Demikian juga, sikap diam ini adalah termasuk haal (keadaan) sebagian besar orang-orang sholeh, dimana sesungguhnya mereka pada umumnya sedikit berbicara. Anda akan tahu hikmah pada seseorang dari lamanya dia bersikap diam. Dan sesungguhnya sikap lama tidak berbicara akan memancarkan hikmah pada hati seorang mukmin, jika ia membiasakan dirinya lama tidak berbicara, ia tidak berbicara kecuali berdzikir kepada Allah kecuali jika ada kebutuhan. Karena itu, seseorang itu selama ia tidak berbicara, maka ia berada dalam keadaan aman.

Diceritakan bahwa Nabi SAW pada malam Isra’ Mi’raj melihat seekor ular keluar dari suatu lubang dan kemudian ular itu ingin kembali ke lubang itu akan tetapi ia tidak bisa. Kemudian beliau bertanya kepada Jibril, “Apa itu wahai Jibril?.” Maka Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang berkata dengan suatu kalimat melayang di angkasa, kemudian ia ingin mengembalikan perkataannya tadi, akan tetapi ia tidak mampu.”

Oleh karena itu, dikatakan bahwa Allah menciptakan mulut itu dengan dua penjaga. Penjaga yang pertama adalah gigi-gigi. Penjaga yang kedua adalah kedua bibir. Mulut dikunci dengan gigi-gigi dan kedua bibir. Sedangkan telinga, tidak ada di sana penjaga. Ini dimaksudkan bahwa anda hendaknya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebagian manusia tidak suka mendengar. Mereka hanya suka berbicara. Cobalah anda lihat, ketika anda duduk-duduk (di perkumpulan), ada orang yang sukanya berbicara. Jika ada orang lain yang berbicara, ia tidak mau mendengar. Jika ia berbicara, ia menginginkan orang lain mendengarkan bicaranya. Ini merupakan cacat dan aib. Dan oleh karena itu, hendaklah seseorang membiasakan dirinya atas keadaan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah.”

Karena sebab itu, sebagian daripada orang-orang sholeh menaruh batu di mulut mereka. Pernah suatu ketika salah seorang masyaikh (guru) sedang berbicara. Pada saat itu ada suatu masalah atau pertanyaan dan tiba-tiba salah seorang muridnya nyeletuk menjawabnya. Sang murid begitu gembira karena ia dapat menjawab masalah tersebut. Sang masyaikh berkata, “Masya Allah. Barakallah fiika wahai anak muda. Keluarlah dan ambilkan aku batu.”

Keluarlah sang murid dengan gembiranya tanpa mengira bahwa gurunya ingin memberikan pelajaran kepadanya dengan batu itu. Setelah sang murid mengambil batu itu, sang masyaikh berkata, “Cucilah batu itu.”

Setelah itu ia mencucinya dan menyerahkan ke gurunya dengan perasaan senang. Lalu sang masyaikh berkata, “Taruhlah batu itu di mulutmu.”

Hal ini untuk memberikan pelajaran agar seseorang itu belajar adab dan tidak cepat-cepat berbicara sebelum diberikan kesempatan.

Karena itu, pernah suatu saat berkumpullah para ulama, berdebat mengenai suatu masalah, dan disana ada Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq sedang duduk bersama mereka. Disaat mereka saling berbicara dan berdebat satu sama lain, dan disitu ada Imam besar mereka, orang yang mengerti hukum di jaman itu, bahkan beliaulah pendiri ilmu figih, Al-Imam Ja’far, beliau ditanya, “Wahai Imam, mengapa engkau tidak berbicara?.”

Beliau menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak berbicara kecuali jika ditanya. Kami tidak berbicara yang tidak perlu kecuali jika kami diam, lalu ditanya suatu masalah, maka kami menjawabnya sepanjang yang kami ketahui.”

Itulah mereka ahlul adab (orang yang mempunyai adab), radhiyallohu anhum wa ardhoohum.

Itulah hikmah daripada orang-orang yang tidak suka berbicara. Dan ini adalah riyadhoh (melatih diri) daripada bentuk riyadhoh-riyadhoh yang lain. Ini juga dipraktekkan oleh orang-orang Hindu, mereka membiasakan diri mereka dan bermujahadah daripada bersikap diam dan duduk di tempat-tempat yang gelap sampai dapat menundukkan nafsu. Adakalanya bahwa di dalam diri terdapat kekuatan, sampai seseorang dapat menjatuhkan sesuatu dari jauh tanpa memukulnya. Ini karena sebab ruh mempunyai kekuatan. Akan tetapi seorang mukmin menginginkan ruhnya bersih dalam bermuamalah kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu juga yang terjadi pada para sahabat radhiyallohu anhum, mereka tidak berbicara kecuali dalam kebaikan. Bahkan seringkali terjadi pada orang-orang sholeh yang berkumpul pada satu tempat, mereka tidak berbicara satu sama lain pada masa yang lama. Satu sama lain berpikir karena masing-masing dari mereka sibuk dengan keadaan mereka dan kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.

Dan berbicara mengenai diam adalah sangat panjang. Kami menunjuk pada sebagian darinya. Kesimpulannya apa yang saya sampaikan kepada kalian adalah bahwa kalian hendaklah membiasakan diri untuk tidak banyak berbicara, karena sikap suka berbicara itu ada kelezatan.

Begitu juga, sebagaimana di dalam sikap diam adakalanya terdapat kebaikan, maka adakalanya di dalam sikap berbicara itu juga terdapat kebaikan. Kami bertanya kepada guru kami Al-Habib Abdul Qodir (bin Ahmad Assaggaf) - semoga Allah memberikan kenikmatan kepada kami dengan hidupnya di dalam kebaikan dan kesehatan, “Kami kuatir daripada syahwatil kalam sewaktu mengajar kepada orang lain. Kami kuatir ini termasuk dalam syahwat, keluar daripada nafsu. Maka doakanlah kami.”

Maka beliau menjawab, “Begitu juga dalam sikap diam, terkadang juga terdapat syahwat. Sebagaimana dengan berbicara terkadang kita menginginkan suatu ketenaran, maka terkadang di dalam sikap diam kita menginginkan juga suatu ketenaran. Sehingga orang lain menilainya, 'Orang ini berwibawa.' Maka ia diam supaya orang lain menilai, memuji, melihat, dan mengagungkannya seperti itu. Dan ini semuanya tidaklah membawa kemanfaatan dan kemudharatan."

Maka jika anda ingin berbicara, berbicaralah karena Allah. Dan jika anda ingin diam, maka diamlah karena Allah. Biasakanlah dirimu karena Allah di segala keadaan.

Disarikan dari youtube dan bisyarah.

Surat Al A'laa

Oleh : Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan. Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman."
(QS. Al A'laa : 1 - 5)

Di dalam surat Al A'laa dari ayat 1 - 5 mengajarkan kepada kita agar kita tahu tentang Allah Swt bahwa Allah Swt yang menciptakan alam semesta, dan kita dianjurkan untuk ber-tasbih (memuji Allah Swt dengan mengucapkan subhanallah) ketika kita "membaca" tentang alam semesta, ketika kita melihat keindahan alam semesta, ketika kita mengetahu manfaat semua bagian dari alam semesta.

"Kami akan membacakan (Al Qur'an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki, sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah."
(QS. Al A'laa : 6 - 8)

Pada ayat ke 6 - 8 surat Al A'laa menjelaskan tentang alam yang tampak atau pun tidak. Apabila kita menghayati alam semesta lahir dan batin maka kita akan dipermudah untuk memahami fenomena-fenomena kehidupan yang sebenarnya.

"Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)."
(QS. Al A'laa : 9 - 12)

Ayat ke 9 - 12 dari surat Al A'laa menjelaskan bahwa agar kita menerima peringatan atau nasehat dari semua orang selama nasehatnya atau peringatannya itu baik (sesuai dengan Rasulullah Muhammad Saw lewat ulama' yang khoir). Apabila kita tidak mau menerima peringatan atau nasehat dari orang lain maka kita akan celaka di dunia dan di akhirat. Yaitu celaka yang benar-benar celaka (nanti akan dibakar di neraka dan termasuk orang yang sombong karena tidak mau menerima kebaikan)!

Jika sudah celaka seperti itu, maka di ayat selanjutnya (yaitu ayat ke-13) dijelaskan bahwa kita akan "gentayangan" yaitu tidak hidup dan tidak mati, artinya kita tidak akan mempunyai harapan hidup. Kita akan sama sekali hampa jika tidak mau menerima nasehat berupa kebaikan dari orang lain.

"Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup."
(QS. Al A'laa : 13)

Di ayat ke-14 dan ke-15, yaitu :
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang."
(QS. Al A'laa : 14 - 15)

Di dua ayat tersebut kita diperintah oleh Allah Swt untuk mengingat Allah Swt, mengingat tentang dzat pencipta alam semesta, mengingat (dzikir) dengan lesan kita yaitu mengucapkan wirid-wirid dan mengingat dengan menggunakan badan kita yaitu sholat.

Sebagaimana Rasulullah Muhammad Saw menerangkan bagaimana yang sebenarnya tentang dzikir, tentang mengingat Allah Swt dan tentang sholat. Ingatlah, orang yang melakukan syari'at dengan sungguh-sungguh adalah orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Jika kita berdzikir dengan lesan kita dan kita melakukan sholat yang diikuti dengan pembersihan jiwa maka kita termasuk orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.

"Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
(QS. Al A'laa : 16 - 19)

Sebagaimana tertera di ayat ke-16 sampai dengan ayat ke-19 bahwa akhirat itu lebih kekal kebaikannya, lebih kekal kenikmatannya jika dibandingkan dengan kebaikan dan kenikmatan yang ada di dunia. Inilah yang dijelaskan di dalam kitab-kitab sebelum Alqur'an yaitu kitab nabi Ibrohim As dan kitab nabi Musa As.

Arti keseluruhan dari surat Al A'laa ini adalah semua manusia dari manapun dia berasal dan dari agama apapun dia dianjurkan oleh Allah Swt untuk beribadah dengan dhohir mereka dan dengan batin mereka. Dhohir berupa dzikir (lewat lesan dan perbuatan misalnya perbuatan mengingat Allah Swt dengan jasad yang paling utama adalah sholat) dan batin merupakan pembersihan jiwa. Sebagaimana yang tertera di dalam kitab-kitab terdahulu sebelum Alqur'an. Wallahu a'lam bishshowab.

Thursday, March 19, 2009

Pegang Teguh Amanat

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Alhamdulillah dengan wahilah (perantara) Nabi Muhammad Saw do'a kita didengar oleh Allah Swt. Salah satu tanda do'a kita didengar oleh Allah Swt adalah kita menerima amanat yang lebih banyak atau pekerjaan yang lebih besar daripada yang kemarin kita lakukan.

Jika ajakan-ajakan kita, dakwah-dakwah kita, acara-acara kita sudah diterima oleh masyarakat luas maka ini berarti Allah Swt mempercayai kita untuk mengajak mereka lebih mencintai Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Amanat ini harus dipegang teguh, tidak boleh kita lepaskan, maka dengan begini Allah Swt bermaksud mengabulkan do'a kita selama ini. Jika ini bisa kita lewati maka maqom kita akan meningkat.

Amanat ini bisa membawa kita lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kedekatan kita kepada Allah Swt ini akan diuji dengan maksud untuk menghilangkan kesombongan kita, keangkuhan kita sehingga akhirnya kita menjadi semakin bersih. Ujian ini bukanlah bala' tapi justru akan menaikkan maqom kita meskipun dengan susah payah kita melewatinya, kita akan mendapatkan akhir yang menyenangkan.

Untuk dapat melewati berbagai macam ujian ini kita haruslah memiliki kesabaran agar kita dapat meningkatkan akhlaq kita, iman kita, ukhuwah kita dengan masyarakat yang lebih luas sebab tanpa itu dakwah tidak akan bisa berjalan. Dakwah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, dakwah bisa berjalan kalau ukhuwah diantara kita terjalin kuat dan saling membantu serta saling peduli satu dengan lainnya.

Hilangkan rasa saling menjatuhkan agar kita mendapat ridho Allah Swt, sebagaimana diketahui bahwa ridho adalah maqom tertinggi. Dengan ridho Allah Swt maka kita tidak akan merasa berat dalam melakukan berbagai macam kegiatan kita, ibadah kita, semua akan terasa nyaman dan kita merasa nikmat.

Monday, March 16, 2009

Haul Alhabib Salim bin Jindan

Oleh : Alhabib Salim bin Jindan

HADIRILAH DAN SYI'ARKANLAH



Maulid Sayyidina Maulana Muhammad Saw dan Haul Alhabib Salim bin Ahmad bin Jindan ke-41 yang insya Allah akan dilaksanakan pad :

Tanggal : 30 MARET 2009

Pukul : 15.30 WIB

Tempat :
Majlis Ta'lim Habib Salim bin Ahmad bin Jindan
Jl. Otista Raya 117 Rt. 013 / 08 Bidaracina
Jatinegara, Jakarta Timur

Hub :
08119913000
021-70004685
021-92132522

Turut mengundang :
Alhabib Jindan bin Naufal bin Salim bin Jindan
Alhabib Ahmad bin Naufal bin Salim bin Jindan

Friday, March 13, 2009

Kemuliaan Sholawat

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri

(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar di Sendang Indah - Semarang tanggal 11 Maret 2009)

Mari kita bersyukur kepada Allah Swt karena sudah dikumpulkan oleh Allah Swt di sini. Di tempat ini kita mengingat Allah Swt, mengingat Nabi Muhammad Saw dan mengingat orang-orang yang mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Semoga di akhirat nanti kita juga dikumpulkan bersama-sama Rasulullah Muhammad Saw. Amin.

Kita bermodalkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw. Dikisahkan ketika pada suatu hari rombongan Rasulullah Muhammad Saw sedang berjalan menuju ke suatu tempat dihentikan oleh seseorang sahabat dan beliau bertanya kapan hari kiamat akan tiba. Rasulullah Muhammad Saw balik bertanya kepadanya apakah yang sudah dia siapkan sehingga dia tanya kapan hari kiamat akan tiba? Sahabat tersebut menjawab dia tidak mempersiapkan apa-apa karena dia sadar bahwa ibadahnya hanya sedikit, dia hanya yakin bahwa dia mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Rasulullah Muhammad Saw menjawab bahwa sahabat itu akan bersama yang dicintainya nanti di hari kiamat.

Sahabat-sahabat yang lain yang bersama Rasulullah Muhammad Saw bahagia sekali mendengar kabar tersebut seakan-akan tidak ada kabar bahagia selain ini, sebab mereka tahu bahwa ibadah mereka tidak mungkin sekhusyuk Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin seikhlas Rasulullah Muhammad Saw, tidak mungkin sesempurna Rasulullah Muhammad Saw...mereka hanya mencintai Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Mereka bahagia bahwa dikatakan mereka akan bersama yang mereka cintai.

Dikatakan bahwa barang siapa mendatangi suatu tempat dimana tempat itu dibacakan maulid (sejarah Rasulullah Muhammad Saw), maka dia sebenarnya sedang mendatangi ridho Allah Swt. Kenapa? Karena kita datang dengan berniatkan mencintai Rasulullah Muhammad Saw yang mana niat ini akan membawa kita melakukan hal-hal yang cintai oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukankah orang yang mencintai sesuatu akan melakukan hal-hal yang disukai oleh yang kita cintai?

Barang siapa dengan tulus mencintai Rasulullah Muhammad Saw maka Rasulullah Muhammad Saw akan mencintainya. Salah satu bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad Saw adalah dengan bersholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Nabi Adam As dahulu kesepian ketika berada di surga, oleh Allah Swt diciptakanlah ibu Hawa. Sudah sifat kita tertarik kepada sesuatu yang indah-indah, begitu juga Nabi Adam As yang tertarik kepada ibu Hawa. Ketika Nabi Adam As bertanya kepada Allah Swt bahwa Nabi Adam As menginginkan ibu Hawa, maka Allah Swt melarang Nabi Adam As mendekati ibu Hawa sebelum memberikan mahar. Lihatlah di surga yang semua keinginan kita tinggal meminta pada Allah Swt langsung dikabulkan saja Nabi Adam As masih disuruh memberikan mahar untuk ibu Hawa! Nabi Adam As bertanya apa maharnya ya Allah? Dijawab oleh Allah Swt bahwa mahar yang harus diberikan adalah sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Kemudian Allah Swt menjelaskan kepada Nabi Adam As siapa Rasulullah Muhammad Saw yang di akhirat dikenal dengan nama Ahmad sebenarnya.

Lihat ini bukti bahwa betapa mulianya sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw itu! Sholawat bermanfaat untuk banyak hal dunia dan akhirat. Alhabib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi (penulis kitab Simthud Durrar) berkata bahwa ketika beliau sumpek maka beliau membaca sholawat kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Teladan yang Baik

Oleh : Ustadz Muhtarom

Alhamdulillah hidayah Allah Swt masih dikaruniakan kepada kita hingga hari ini, semoga kita bertambah taqwa kita kepada Allah Swt, amin.

Bulan ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Di bulan Robi'ul awwal ini kita mengingat lahirnya Nabi Muhammad Saw, seorang Nabi yang mulia pemimpin seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah Swt, seorang teladan bagi kita semua. Kita mengingat kelahiran Nabi Muhammad Saw berarti kita mengingat akhlaq Nabi Muhammad Saw untuk kemudian kita jadikan teladan.

Di bulan ini banyak orang menyambut atau memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan berbagai macam kegiatan, diantaranya adalah pembacaan kitab-kitab sejarah hidup (maulid) Nabi Muhammad Saw. Kebiasaan ini diawali jaman dahulu disaat orang Islam diperangi oleh musuh Islam. Untuk membangkitkan semangat pasukan Islam, mereka dikumpulkan dan dibacakan sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. Alhamdulillah cara ini berhasil, semangat mereka berkobar kembali sehingga bertambah siap menghadapi musuh di medan perang.

Di dalam Alqur'an surat Al Ahzab ayat 21 Allah Swt berfirman bahwa :

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Nabi Muhammad Saw adalah teladan yang sempuran bagi kita, bahkan seorang non Islam pun mengakuinya. Dia berkata bahwa jika dunia dipimpin oleh seorang yang seperti Nabi Muhammad Saw maka dunia akan sejahtera. Demikian pandangan orang non Islam. Hal-hal yang mendukung suksesnya Nabi Muhammad Saw antara lain adalah sebagai berikut :
1. Islam itu universal.
2. Pribadi Nabi Muhammad Saw yang istimewa yang akhlaq Nabi Muhammad Saw itu Alqur'an. Nabi Muhammad Saw memegang teguh amanah yang disampaikan kepada beliau Saw. Barang siapa tidak memegang amanah dengan teguh maka dia akan hancur.
3. Nabi Muhammad Saw seorang yang adil dan ikhsan.

Ada kisah di jaman Nabi Muhammad Saw, seorang dari bani Makdum dihadapakan kepada Nabi Muhammad Saw karena diketahui mencuri sesuatu barang. Salah seorang keluarganya ada yang termasuk sahabat Nabi Muhammad Saw datang kepada Nabi Muhammad Saw bermaksud meminta keringan untuk keluarganya itu. Permintaannya ditolak oleh Nabi Muhammad Saw, beliau Saw bersabda bahwa seandainya puteri Nabi Muhammad Saw yang mencuri maka akan tetap dihukum oleh Nabi Muhammad Saw sesuai hukum Islam.

Thursday, March 12, 2009

Ya Habiballah

Indahnya Umat Nabi Saw

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri

(Disampaikan dalam majlis peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw di masjid Baiturrahim di Kebon Harjo - Semarang tanggal 11 Maret 2009)

Syukur alhamdulillah kita malam ini berada di tempat untuk mengingat Allah Swt yaitu masjid, masjid yang bernama Baiturrahim ini. Di tempat seperti ini turun rahmat Allah Swt 24 jam karena di masjid digunakan untuk mengingat Allah Swt sebagaimana dikatakan bahwa barang siapa datang ke rumah-Nya maka dia menjadi tamu-Nya. Maksud datang di sini tentu tidak sekedar datang saja tanpa berbuat apapun, tapi datang ke masjid dengan niat yang benar, memakai pakaian yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw, semaksimal mungkin meniru akhlaq Rasulullah Muhammad Saw dan ketika sampai di masjid melakukan kegiatan yang baik seperti sholat, tadarus, belajar mengajar, berdzikir, dsb dalam rangka mengingat Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw.

Kita butuh apapun kepada Allah Swt (kapan pun itu) maka kita bisa ketemu dengan Allah Swt 24 jam di masjid seperti ini, tidak seperti makhluq yang tidak selalu ada disaat kita membutuhkannya. Allah Swt selalu bisa kita temui kapan pun kita butuh. Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa orang yang berjalan bolak-balik ke masjid dan rumahnya untuk ibadah maka dia termasuk orang dicintai Allah Swt.

Kita berkumpul untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad Saw yang bahkan binatang sekalipun menyambut bahagia lahirnya Nabi Muhammad Saw ini. Demikian juga dengan malaikat yang menyambut bahagia dan bersuka cita hingga ramailah langit karena kelahiran Nabi Muhammad Saw. Lihat, malaikat yang tidak mempunyai hawa nafsu (Kita mempunyai hawa nafsu, yang tidak mempunyai hawa nafsu maka dia tidak mau hidup. Hanya saja hawa nafsu ini sering kali mengajak kita berbuat buruk. Jika kita mampu untuk mengajak hawa nafsu kita untuk berbuat baik, untuk ibadah kepada Allah Swt maka hawa nafsu kita menjadi nafsu muthmainah) saja disaat kelahiran Nabi Muhammad Saw bisa merasakan kegembiraan seperti itu, mereka berbaris dari langit hingga ke rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Malaikat bertasbih dan bertahlil menyambut kelahiran Nabi yang mulia ini bahkan Arsy pun bergetar karena peristiwa ini!

Tidak seperti bayi-bayi yang lain, bayi Nabi Muhammad Saw begitu lahir langsung bersujud syukur kepada Allah Swt. Alhamdulillah tanpa kita mohon kita dijadikan sebagai umat Nabi Muhammad Saw.

Dikatakan oleh Imam Bushiri (penulis kitab Burdah) bahwa kita adalah kuat seperti kuatnya tiang yang tidak tergoyahkan oleh apapun juga jika kita berpegang teguh kepada Nabi Muhammad Saw. Nabi adalah orang yang terpilih (sudah dikabarkan di dalam kitab-kitab sebelumnya) dan tidak asal pilih. Di dalam kitab Taurat misalnya, di sana dijelaskan bahwa ada umat yang bekas wudlu-nya bercahaya yang cahayanya terang benderang melebihi cahaya yang lain. Nabi Musa As bermohon kepada Allah Swt agar umat itu adalah umat Nabi Musa As. Allah Swt menjawab itu adalah umat Nabi Muhammad Saw, bukan umat Nabi Musa As. Dijelaskan pula bahwa umat itu masuk ke surga lebih dahulu daripada umat sebelumnya. Ketika Nabi Musa As bermohon agar itu umat Nabi Musa As, maka dijawab oleh Allah Swt itu adalah umat Nabi Muhammad Saw. Meski umat Nabi Muhammad Saw berusia pendek jika dibandingkan dengan usia umat-umat terdahulu, tapi lebih dimuliakan daripada umat-umat sebelumnya.

Betapa mulianya menjadi umat Nabi Muhammad Saw, oleh karena itu tidak beres iman seseorang jika dia tidak bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Ikuti Nabi Saw

Oleh : Alhabib Ghozi bin Ahmad bin Mushthofa Shihab

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
(Al ahzab : 21)

Ayat di atas adalah alasan kenapa kita rela meninggalkan segala kegiatan kita untuk sekarang berada di tempat ini. Sangat besar rahmat Allah Swt jika dibandingkan dengan apa yang kita lakukan. Jika sholawat kita, ibadah kita, niat kita, amal kita dsb diterima oleh Allah Swt, maka ini jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Dikisahkan ada seseorang yang membiasakan diri membaca sholawat. Ketika ditanya kenapa dia membiasakan membaca sholawat sebegitu sering, orang tersebut menjelaskan bahwa ini karena dulu sewaktu ayahnya meninggal dunia dilihatnya tampak kusam wajah ayahnya. Dia sedih! Di dalam tidurnya dia didatangi seseorang yang sangat berwibawa dan sangat indah (ketika ditanya siapa dia, orang itu menjawab dia adalah Nabi Muhammad Saw) menyuruhnya untuk membuka kain penutup jenazah ayahnya. Ketika kain sudah dibuka, dia mendapati wajah ayahnya berubah dari kusam menjadi putih bersinar. Dia lalu bertanya kenapa? Orang yang dilihat dalam mimpinya (Nabi Muhammad Saw) menjelaskan bahwa itu karena ayahnya semasa hidup sering membaca sholawat pada Nabi Muhammad, ini adalah balasan atas sholawat yang dilakukannya. Ketika orang ini bangun, dibukanya kain penutup jenazah ayahnya dan benar wajah ayahnya berubah menjadi putih bersinar seperti yang dilihatnya di dalam mimpi. Sejak saat itu dia selalu membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan juga di sebuah wilayah ada keluarga yang faqir yang pada suatu mereka tidak bisa membeli sesuatu barang yang sangat mereka butuhkan. Mereka bermunajat kepada Allah Swt, di dalam tidurnya seseorang dari mereka bermimpi ditemui oleh Nabi Muhammad Saw dan dikatakan padanya bahwa agar dia pergi ke seorang pejabat karena apa yang dibutuhkannya harus lewat pejabat tersebut. Nabi Muhammad Saw berpesan kalau pejabat itu bertanya bagaimana bisa tahu, maka katakan bahwa yang menyuruh adalah Nabi Muhammad Saw dan katakan padanya bahwa sholawatnya diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Setelah bangun, orang itu pergi ke ulama' setempat dan menceritakan mimpinya. Kemudian mereka berdua pergi menghadap pejabat yang yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Saw dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Hati pejabat itu bahagia sekali mendengar sholawatnya diterima Nabi Muhammad Saw, dia menghadiahi si faqir dengan hadiah yang sangat banyak seraya berkata bahwa apa yang hadiahkan ini tidak sebanding dengan kebahagiaannya.

Kedua kisah itu menceritakan tentang betapa pentingnya bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita inginkan? Apapun itu akan dikabulkan lewat Nabi Muhammad Saw. Apa yang kita lakukan tidak sebanding dengan apa yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada kita.

Nabi Muhammad Saw adalah mulia dan teladan bagi kita, lalu kenapa banyak diantara kita mengikuti orang yang mengaku-aku dirinya nabi (padahal untuk disebut nabi harus dijelaskan di dalam kitab sebelumnya tentang ciri-ciri atau pun sifat-sifatnya)? Jawabannya adalah karena banyak diantara kita tidak mengenal Nabi Muhammad Saw. Kita tidak akan sampai kepada Allah Swt kecuali lewat Nabi Muhammad Saw.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir'.
(Ali Imran : 31 - 32).

Tuesday, March 10, 2009

Ikuti Jalan Salafush Sholeh

Oleh : Alhabib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri.

(Disampaikan pada saat rouhah hari Senin 12 Robi'ul Awwal 1430 dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di Semarang)

Alhabib ali bin Abdullah bin Husein Alhabsyi berkata bahwa beliau mengajak kita ke jalan-jalan salafush sholeh, terutama jalan-jalannya Alawiyyin yaitu jalan orang-orang mulia dari keturunan Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Muhammad Saw bangga dengan Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad (penulis kitab rotib Alhaddad) karena imam Abdullah bin Alwi Alhaddad semua tindakan beliau memakai akhlaq Nabi Muhammad Saw.

Dikisahkan suatu hari Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad dan rombongan pergi ke tempat Alhabib Umar bin abrrahman Alatas (penulis kitab rotib Alatas) dari sebuah kota yang jauh jaraknya. Ketika sampai di tempat Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas, Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad meminta ijazah kepada Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas. Akan tetapi Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas tidak bersedia memberikan ijazah sebelum Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah terlebih dahulu.

Lihatlah akhlaq orang-orang mulia yang saling merendahkan diri ketika mereka saling bertemu. Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas berkata bahwa beliau meminta agar Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah terlebih dahulu karena Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad berasal dari kota Tarim (Yaman) yaitu kota tempat dikembangkannya syari'at Islam dan beliau mempunyai akhlaq yang baik.

Rombongan Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad meminta agar Imam Abdullah bin alwi Alhaddad memenuhi permintaan Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas bukan agar mereka mendapatkan ijazah dari beliau. Kemudian Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad memberikan ijazah kepada Alhabib Umar bin Abdurrahman Alatas.

Rasulullah Muhammad Saw mengajak kita untuk meramaikan majlis-majlis kebaikan dengan akhlaq mulia, dengan akhlaq Nabi Muhammad Saw. Akhlaq Nabi Muhammad Saw adalah mulia, mulia karena Allah Swt yang mengajari Nabi Muhammad Saw.

Antara adap, akhlaq dan etika tidaklah sama. Adap itu pasti baik, sedangkan akhlaq itu bisa baik dan bisa buruk. Dan, etika belum tentu sesuai dengan Islam, seperti misalnya ada suatu wilayah yang mempunyai etika makan daging dengan garpu dan pisau. Kebiasaan pisau di tangan kanan dan garpu di tangah kiri. Tangan kiri yang memegang garpu untuk menahan daging ketika dipotong dengan pisau di tangan kanan. Lalu setelah daging terpotong, mereka memasukkan daging ke mulut dengan tangan kiri. Ini yang berbeda dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Boleh memotong daging dengan tangan kanan, tapi masukkan daging dengan garpu dengan tangan kanan kita. Pakailah etika yang cocok dengan etika Islam dan jangan malu dengan etika Islam sebab inilah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Friday, March 06, 2009

Juru Do'a

Oleh : Yusa Nugroho

Ibu-ibu dan bapak-bapak tetangga barusan pulang dari ziarah ke makam-makam wali di Jawa dan Madura. Macam-macam tanggapan mereka yang ikut dan mereka yang tidak ikut, ada yang complain seperti ini "Buat apa jauh-jauh ke kuburan begitu? Kalau mau lihat kuburan kan di sini banyak!"...atau..."Itu kan bid'ah!". Ah, biarkan saja mereka yang tidak suka ziarah. Tapi entah disengaja atau tidak, obrolan kami yang lagi "cangkrukan" di sini juga menyinggung masalah itu...tidak persis sih tapi asyik juga buat diobrolin.

"Doa penting bagi juru doa yang biasa mangkal di pekuburan. Kalau nggak ada yang minta doa dapurnya nggak ngebul. Juru doa ada karena ada konsumen. Apakah benar juru doa memudahkan terkabulnya doa? Padahal konsumen sudah bayar, gimana ya? Bagaimana menyingkapi fenomena ini?", tanya ustadz Jaduq sambil minum kopi.

Sambil menyeruput kopi, mas Ribut mengomentari, "Hmmm...rejeki itu bisa datang darimana saja, termasuk yang panjenengan sebutkan tadi. Yang lebih baik dihindari adalah tidak mengeluh dan tidak kecewa kalo tidak ada yang memberi uang.". Mas Ribut kembali minum kopinya...ssslllrrrppp...."Aaahhh, nikmat...!", desahnya pelan.

Ustadz Jaduq diam sebentar sebelum akhirnya dia berkata, "Juru doa selalu menang dalam berdoa. Pas konsumen kosong 'Tuhan beri aku rezeki'... Lalu konsumen datang, artinya doa dia dikabulkan. Konsumen minta doa 'Siapa namamu..?' (tanya juru doa kepada konsumen)... 'Badu'. 'Ya Tuhan beri Badu kesehatan... diringankan jodoh dsb dsb'. Tugas juru doa atau kuncen selesai. Hasil sukses nggak sukses gak dijaminkan? Terserah yang di Atas.

Biasanya di agama itu ada konsep : 'Sakralitas', bisa berupa manusia (wali atau kyai dsb), bisa berupa tempat suci (masjid, pekuburan wali, Mekah atau Madinah) dan juga ada waktu suci (puasa, diantara kutbah, dini hari 1/3 malam dsb-dsb). Semakin suci tempat atau orang atau waktu maka kemungkinan doa terkabul semakin besar, gimana menyikapi fenomena ini? Sebenarnya siapa yang berhak menyebut suatu tempat itu suci? Kan hanya kesepakatan? Let say kuburan wali songo, wali hanya diketahui wali, siapa yg tahu dia itu wali? Kenapa 'ngefek' ke pekuburannya jadi sakral? Ada yang mau coba bahas?"

Menarik-kah? Entahlah, yang jelas kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu yang ikut "cangkrukan" saling bisik-bisik dengan orang yang di sebelahnya. Sepertinya hanya mas Ribut yang rada serius, lihat dia mengerutkan dahinya tanda bahwa dia berpikir apakah ustadz Jaduq ini sekedar pancingan ataukah benar-benar bertanya...hmmm...

Ya sudah biarin ajalah...begitu pikir mas Ribut. "Orang mulia karena kedekatannya kepada Allah Swt. Orang yang dekat kepada Allah Swt tentu banyak mengingat Allah Swt. Sedangkan setiap benda menyerap apa yang dibacakan kepadanya, di dekatnya dsb. Tempat mempunyai pengaruh kepada kita karena di sana pernah atau sering digunakan sebagai tempat untuk dibacakannya Alqur'an misalnya, digunakan untuk tempat berbagi kebaikan, tempat ajar-mengajar, tempat untuk mengingat Allah Swt dsb.

Kebaikan itu akan pernah hilang hanya berubah bentuk seperti halnya es batu, air dan uap. Ketiganya adalah sama, air yang didinginkan menjadi es batu, es batu yang dipanaskan berubah bentuk jadi uap dan uap yang terkumpul banyak di awan jatuh menjadi air hujan atau embun. Itu membuat tempat itu menjadi lebih asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kalau tempat itu adalah masjid maka masjid menjadi tempat yang asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, kalau tempat itu rumah maka rumah itu menjadi tempat yang asyik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagaimana makam-makam para wali, di sana banyak orang membaca Alqur'an, menyebut dan mengingat Allah Swt. Demikian juga dengan waktu... Bukan pekuburannya yang memberi manfaat kepada kita, itu hanya perantara saja, sangat keliru kalo ada yang berharap kepada kuburan. Hanya Allah Swt yang Maha Memberi.". Mas Ribut tampak bersemangat.

"Kalau menurut saya...", seorang profesor menyela, "Kalau merasa hal itu perlu dilakukan ketempat-tempat tsb, untuk melakukan DOA, menurut saya, silahkan sajalah manusia punya 'free will', kita menghormatinya tanpa adanya suatu pemaksaan ato penolakan."

Ustadz Jaduq meletakkan gelas kopinya, "Mungkin corcern saya adalah siapa sih sebenarnya yang boleh mendefinisikan sakralitas atau kesucian dari waktu atau tempat dan manusianya? Apakah komunitas atau klaim pribadi atau Allah melalui Nabi?"

"Hmmm...hanya Allah Swt yang Maha Mengetahui tentang kesucian tempat dan waktu serta manusia, kita hanya mendapatkan pemahaman tentang segala sesuatu dari orang sekarang dan orang terdahulu yang berkompeten. Selama di sana digunakan untuk tempat kebaikan maka insya Allah akan mendatang kebaikan bagi yang datang ke sana atau pun tidak.", ujar mas Ribut sambil menyenggol pak Raden biar ikut bicara.

"Mungkin pak Raden ingin urun rembug? Monggo, den...", mas Ribut mempersilahkan pak Raden.

"Eh...ya ya ya...soal juru do'a sebagai profesi - ini lebih pada adab kepatutan, para profesional sungguhan (pekerja) pasti akan merasa bahwa profesi 'gampang' itu bisa jadi hanya bungkus kemalasan dalam melakoni sulit dan kerasnya dunia kerja - tapi nanti dulu....mereka para pekerja do'a ternyata dibutuhkan oleh masyarakat...benar juga pak konsumen yang menjadikan mereka exist...ada juga memang yang tulus - ini yang cukup sulit diidentifikasi..dan ditemukan. Effektifitas do'a..ya 100% Kuasa Alloh buat goal tidaknya sebuah hajat... Pertanyaan selanjutnya mengapa disucikan (motif atau tujuan)? Apakah benar-benar suci ? Atau dimana letak kesuciannya? Monggo saya menyimak....", kata pak Raden.

"Matur nuwun, den...hmmm...kenapa disucikan? Hmmm...ya karena dekat dengan Allah Swt, den. Barang siapa kumpul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah Swt maka kita juga makin ingat kepada Allah Swt...yang selanjutnya akan membantu kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga yang dekat dengan yang baik jadi ketularan baiknya...ndak mutlak sih tapi usaha ndak apa-apa tho, den? Menawi ngaten, den...", mas ibut mencoba menanggapi pertanyaan pak Raden.

DUUKKK...! Sikutan keras pak Raden menohok dada mas Ribut.

"Ada apa, den?", tanya mas Ribut pelan sekali biar yang lain tidak dengar.

"Wah ngawur dan den dan den...besok aku tidak mau lagi bicara kalau kau panggil aku dan den dan den gitu! Memangnya jaman kolonial...!!!!". Pak Raden marah.

"Jangan marah tho, den, saya kan cuman memanggil begitu karena panjenengan keturunan darah biru...", mas Ribut beralasan.

"Den itu Raden, gelar bangsawan trah Dalem utowo gelar kolonial feodal starta atas.... Lha emang meh kembali kemasa Hindu ada kasta dst... Rosul ae ada usaha nyata menghapus perbudakan kok arep nunggang jaran kuwalik...!"

"Lha nggih, panjenengan kan keturunan nan nDalem, memang pantas saya panggil 'den'...nggih sampun, saya harus panggil panjenengan siapa? 'Pak'? Nanti dimarahi lagi 'emangnya aku bapakmu!'. 'Mas'? Nanti dimarahi 'emangnya aku masmu!'...duh, kok ribet banget tho, Gustiii..."

"Hahahahaha...", tawa pak Raden membahana membuat orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke pak Raden dan mas Ribut. "Yo wis...terserah kau mau panggil aku apa...!", kata pak Raden pelan di telingaku sambil cekikikan.

"Nggg...ada apa, mas Ribut?", tanya ustadz Jaduq heran melihat tingkah keduanya.

"Ndak apa-apa, ustadz...!", jawab mas Ribut sambil membetulkan sarungnya yang kurang rapi.

Ustadz Jaduq kembali bertanya ke mas Ribut, "Oh ya, tentang pendapat sampeyan tadi memang benar, menurut ahli hikmah demikian adanya. Jadi, ada tempat yang mengandung energi besar dan ada tempat yang tidak ada energinya. Petilasan para wali biasanya memiliki energi besar, biasanya dicari oleh para penyerap energi. Adakah sampeyan bisa menjlentrehkan ini kenapa bisa terjadi?"

"Makam para wali banyak mendapat perhatian dari banyak orang dari berbagai macam kepercayaan dan banyak kepentingan bertemu di sana. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepadanya..."nya" di sini bermacam-macam, ada yang perhatiannya kepada Allah Swt, ada yang kepada tujuan duniawinya saja, ada yang tujuannya karena ingin dapat ilmu, ada yang ingin ketemu wali tsb dsb...banyak...perhatian tercurahkan di sana.

Disamping di sana dimakamkan jasad wali, jasad dari orang-orang yang dekat dengan Allah Swt, juga di sana orang-orang banyak yang melakukan kebaikan maka makin bertambahlah kebaikan di sana. Kebaikan di atas kebaikan.

Apa yang dilakukan pada suatu tempat akan mendatangkan energi pada tempat itu, jika yang dilakukan adalah kebaikan maka energinya juga asyik, jika yang dilakukan adalah keburukan (tidak ada usaha mengingat Allah Swt) maka energinya hiiii...(serem)...energi yang asyik mendatangkan keasyikan2 yang lain, energi yang hiiii...(serem)...mendatangkan mereka2 yang hiiii...(serem)...juga. Hmmm...kira-kira mereka menyerap energi untuk apa ya, pak? Pak Raden saya rasa bisa menjelaskannya, silahken den... Terima kasih."

Pak Raden diam, cuek...ngambek!

"Baik, Allah itu spaceless (tidak ada ruang) dan timeless (tidak ada waktu). Bagaimana bisa tahu dia dekat dengan Allah? Paling membahasakannya karena effort mencoba mendekati Allah karena konsepsi manusia belaka bukan? Apakah karena mereka rajin ke tempat ibadah terus disebut suci dan dekat kepada Allah? Jangan-jangan justru mereka terpana karena image tempatnya (asosiatif : tempat suci, orang jadi suci), bisa jadi lho ada gelandangan yang tinggal dimana saja justru hatinya nyambung terus ke Allah.. harta malah tidak diliriknya, bukankah sebutan suci ini semu belaka?", kata ustadz Jaduq.

"Aaahhhh...semua bisa, pak...kalo perbandingannya Allah Swt maka semua tidak nyata. Selama mereka dekat kepada Allah Swt, maka mereka orang mulia."

"Mas Ribut, ini teman saya telpon, dia tanya untuk bisa 'berdekatan' seperti yang sampeyan katakan tadi, bagaimana caranya? Apakah bisa di samakan analoginya dengan saya mencoba 'mendekati' suatu 'pribadi' atau 'entitas' tertentu? Menurut sampeyan gimana, mas?"

"Hehehehehe...sekarang ini posisi saya berjauhan dengan teman panjenengan tapi serasa dekat karena bertanya ke sana dengan menelepon panjenengan. Jasad saya dan teman panjenengan berjauhan, tapi kita merasa dekat dengan perantara telepon...akan terasa dekat lagi kalau kami ketemuan, saling bicara-bicara, klop dan wuiiihhh...makin tambah deket deh. Bisa jadi seperti itu "kedekatan" yang teman panjenengan tanyakan...dekati Allah Swt dengan dhohir dan batin kita. Kalo menurut Islam, dhohir-nya sholat atau puasa atau baca wirid atau do'a atau amal atau saling menasehati dsb...batinnya bersyukur atau ikhlas atau sabar atau pasrah atau tawakal dsb..."

"Baik, mas, terima kasih.", kata ustadz Jaduq sambil mengakhiri obrolan ini, sudah sore...kapan-kapan disambung lagi insya Allah.