Monday, August 14, 2006

Bani Israil


Assalamu'alaikum wr wb

"BANI ISRAIL"
Hasan Husen Assagaf

PERLU diketahui, bahwa nama Bani Israil disebut di dalam Al Quran sebanyak 42 kali. Nabi Musa disebut sebanyak 129 kali dan Isa (Al Masih ) disebut sebanyak 23 kali. Sedangkan nama Islam disebut dalam Al Quran sebanyak 6 kali dan nama Nabi Muhammad saw disebut 4 kali. Hal ini menunjukan bertapa besar toleransi Islam terhadap agama-agama lainnya.

Saya masih ingat salah satu ceramah Syeikh Sya'rawi, pakar dan rujukan utama di Timur Tengah dalam membahas ilmu tafsir, beliau dikenal tangkas dan memiliki ciri khas yang mengagumkan dalam mengupas tema-tema yang bersangkutan dengan ilmu tafsir al-Quran pada ceramah-ceramah beliau yang selalu disajikan di setiap teve teve Arab. Saya masih ingat beliau pernah mengupas tentang kebiadaban, kekejaman dan kedholiman Yahudi yang dirasakan dan dipaksakan diterima oleh rakyat Palestina. Kedua tentang kembalinya warga Yahudi dari seluruh dunia dan diberikan hak prioritas pada siapa pun dan di mana pun warga Yahudi yang ingin kembali ke Israel walaupun warga Yahudi tersebut sebelumnya tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah Palestina. Sehingga, mereka berkumpul dan bercampur-baur membentuk suatu kekuasaan diatas kekuasaan. Pula diberikan pada mereka rekomendasi dari Barat terutama dari Amerika dan Inggris dan hak prioritas penuh untuk mendirikan sebuah negara di tanah Palestina khusus bagi kaum Yahudi yang tercerai-berai di seluruh dunia sesuai dengan yang diangan-angani gerakan zionisme yang didirikan Theodore Herzl pada tahun 1896

Ini semuanya, menurut Syeikh Sya'rawi merupakan suatu hikmah Ilahi dan hal yang sangat penting demi membuktikan janji Allah bagi hamba-hamba Nya yang sholeh dan beriman bahwa mereka kelak akan mendapatkan kemenangan yang gemilang. Menurut beliau, jika orang-orang Yahudi tidak kembali berkumpul dan bercampur-baur di satu tempat, maka bagaimana mereka akan dibinasakan sehabis-habisnya dengan apa yang mereka kuasai.

Kita sebagai muslim berkeyakinan sesuai dengan ajaran yang telah diterapkan dalam al-Quran bahwa di akhir zaman sebelum kedatangan Isa al-Masih, orang-orang Yahudi yang telah terusir, bercerai-berai dan berhijrah ke seluruh pelosok dunia akan berkumpul kembali ke tempat asal mereka di Palestina. Inilah yang sekarang kita saksikan bahwa seluruh orang-orang Yahudi berkumpul dan bercampur-baur setelah mereka bercerai berai sesuai dengan firman Allah :
"Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil " diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur "
(QS al Israa', 104)

Keyakinan ini tentu, kalau menurut ajaran kita, bermula dari disaat nabi Musa as dan pengikutnya dari Bani Israel atau yang disebut dalam Al Quran "Ashbath" diusir dan keluar dari Mesir. Dalam bahasa Arab Ahsbath artinya julukan khusus diberikan kepada pengikut-pengikut nabi Musa yang berasal dari dua belas keturunan nabi Yakub as.

Nabi Musa as dan pengikutnya (12 kabilah Bani Israil) keluar dari Mesir karena diusir dan dikejar-kejar oleh Firaun.
"Kemudian Fir'aun hendak mengusir mereka (Musa dan pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia serta orang orang yang bersama-sama dia seluruhnya"
(QS al Isra' 103)
Setelah itu nabi Musa as dan pengikutnya menuju kota Sina dan menetap selama empat puluh hari sampai beliau wafat disana.

Kemudian adiknya Harun as melanjutkan perjuangannya sebagai pimpinan Ashbath Bani Israil. Beliau dan rombongan berangkat ke Palestina. Di sana Harun as mendirikan dua kerajaan kecil, pertama kerajaan di sebelah selatan Palestina yang terdiri dari dua kabilah Yahudi yaitu kabilah Benyamin dan Yahudha, dan kerajaan yang kedua di sebelah utara terdiri dari sepululuh kabilah Yahudi lainya.

Pada tahun 721 Sebelum Masehi, kerajaan Babilon menyerang bagian utara kerajanan Yahudi dan menguasinya. Mulai saat itu terpecah-belahlah bangsa Yahudi dan berceraiberailah kabilah kabilah Yahudi keseluruh pelosok dunia. Sebagian diantara mereka ada yang dibawa ke Irak dijadikan sebagai tawanan. Yahudi Orthodox sampai sekarang masih beranggapan bahwa kabilah kabilah yang berasal dari kerajaan bagian utara merupakan sebagai kabilah-kabilah Yahudi yang hilang dan mereka kelak akan muncul dan kembali lagi bercampur-baur.

Ahli sejarah beranggapan bahwa dari sepuluh kabilah yahudi yang bercerai-berai, mereka telah berhijrah keseluruh pelosok dunia, diantaranya ke Asia, Afrika, Rusia, dan negara negara Arab. Ada lagi diantara mereka yang menetap di Afrika sampai sekarang ini yaitu kabilah Flasha di Ethiopia dan kabilah Yambah di Zimbabwe dan Afrika Selatan, dan yang lainnya ada yang berhijrah ke Jazirah Arabia seperti ke Bahrain, Khaibar, Madinah, dan Yemen, juga ada lagi yang berhijrah ke Asia seperti ke Iran, Cina, Jepang, dan Burma, dan sebagian ada yang berhijrah ke Rusia dan Eropa.

Nah, sekarang kita bisa melihat sendiri bahwa semua orang Yahudi yang telah berhijrah, bercerai berai, dan hilang, mereka datang kembali dari seluruh dunia, berkumpul di satu tempat dan membentuk satu negara Israel. Perkumpulan dan kembalinya Ashbat Yahudi ke tanah Palestine merupakan suatu hikmah dan hal yang sangat penting demi untuk membuktikan ketepatan janji Ilahi bagi hamba-Nyaa yang sholeh dan beriman bahwa mereka akan mendapat kemenangan yang gemilang di masa mendatang Insya Allah. Karena jika orang-orang Yahudi tidak kembali berkumpul dan bercampur-baur di satu tempat, maka bagaimana mereka akan dibinasakan sehabis-habisnya dengan apa yang mereka kuasai.

"Dan Apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua (Kami datangkan orang orang lain) untuk menyuramkan muka muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuh mu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabi-habisnya apa saja yang mereka kuasai "
(QS al Isra' 7)

Itu janji Allah dan Allah jika berjanji, tidak akan mengingkari janjinya.

Adapun janji Rasulallah adalah :
"Tidak akan bangkit hari kiamat sehingga kalian memerangi Yahudi, sampai-sampai batu berkata "wahai Muslim ini orang Yahudi dibelakangku maka bunuhlah dia"
(al Hadits)

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Hikam al-Haddad 4

Assalamu'alaikum wr wb

A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.

Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.


[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad ra]


Mutiara Wasiat Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad ra.

* Tuntutlah ilmu dari orang-orang yang benar-benar mewarisi ilmu dari Rosulullah SAW, yang sanad isnadnya (silsilah ilmunya sampai Rosulullah) terpercaya karena menuntut ilmu agama itu wajib bagi setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan. Barang siapa meninggalkannya ia akan berdosa. Karena tanpa ilmu agama, amal ibadah akan tertolak, tidak diterima oleh Allah SWT.

“Setiap orang yang beramal tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan (tentang amalnya itu) maka amalan-amalannya tertolak dan tidak diterima.”

* Tidak ada di zaman ini (abad 12 H) yang lebih mudah dan baik daripada Thoriqoh Ba’Alawy yang telah diakui oleh ulama Yaman dan disepakati oleh ulama Haromain (dua Tanah Harom – Mekkah Madinah). Thoriqoh Ba’Alawy (Alawiyah) adalah Thoriqoh Nabawiyah.

* Thoriqoh Kepemimpinan adalah thoriqoh kami Ba’Alawy, dan ini thoriqoh spesial, dan yang dimaksud thoriqoh kepemimpinan adalah ikut dan tunduk serta pasrahnya seorang murid terhadap jejak langkah guru yang membimbing dan menuntunnya ke jalan Allah, dengan menanggalkan sementara peran akal (rasio). Sesungguhnya akal tidak berperan di dalamnya, sebab segala hal disini berdasarkan kasyf (penglihatan mata hati).

* Ikut langkah-langkah ulama salaf (ulama terdahulu) akan membuahkan kebaikan yang amat besar, walaupun si pengikut bukan tergolong ahlil bathin. Tetapi jika ia serasikan langkahnya dengan ulama salaf, maka ia akan mendapatkan seperti apa yang di dapat oleh mereka para salaf sholihin.

* Segala permasalahan yang ada itu berlandaskan kejujuran, ada pun orang yang biasa berbohong jika diibaratkan bangunan tidaklah jauh berbeda dengan bangunan di atas air (lemah dan mudah runtuh).

* Jika satu zaman itu rusak, maka wajiblah bagi mereka yang hidup di zaman itu, untuk mengikuti jejak langkah ulama salaf sholihin. Jika tidak mampu menyamakan diri dengan mereka dalam setiap langkah, paling tidak hampir menyamai mereka, sebab setiap orang dalam kehidupan itu harus memiliki panutan (imam), sedang orang yang tidak memiliki panutan (Imam) maka panutannya adalah setan.

* Telah sesat sekelompok orang sebab buku yang dibacanya, seseorang tidak akan menjadi alim besar kecuali dengan guru yang membimbing dan menuntunnya, bukan dengan buku yang dibacanya.

* Penghuni kubur dari para Wali Allah berada di sisi Allah. Barang siapa tawajuh kepada mereka, maka mereka spontan datang membantunya.

* Jika kamu melihat seorang dari Ba’Alawy berjalan di luar Thoriqoh Ba’Alawy maka sesungguhnya maka tiada yang menghalangi dirinya selain kelemahannya sendiri, dan kelemahan itu adakalanya dalam kondisi ekonomi atau hati.

* Thoriqoh Alawiyyah berdiri atas dasar kemuliaan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

* Barangsiapa yang menjalin hubungan (kontak batin) dengan kami, maka kami berikan kepadanya segala perhatian kami, kami tidak pernah melepas dan meninggalkannya walaupun dia tinggal jauh dari tempat kami.

* Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya seorang guru. Ini wajib di pelihara oleh setiap orang Islam yang ingin selamat dunia akhirat. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham sebagai tanda hormat padanya. Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, dia ibarat bapakmu dalam agama.

* Barang siapa ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih. Dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi alim, maka pasti diantara cucu keturunannya yang akan menjadi orang alim.

* Seorang murid (pencari jalan menuju Allah) tidak boleh menyakiti hati gurunya karena belajar dan ilmunya tidak akan diberi berkah.

* Adakalanya seseorang murid (pencari jalan menuju Allah) diuji dengan kemiskinan, kepapaan dan kesempitan dalam kehidupan. Maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah SWT, disebabkan dengan hal tersebut di atas dan harus beranggapan berprasangka bahwa takdir / kehendak Allah menjadikan anda miskin, papa dan susah serta sempit sebagai sebesar-besarnya kenikmatan karena dunia adalah musuh Allah. Anda harus bersyukur, maka Allah akan mengangkat derajatnya sama dengan para nabi-Nya, para Auliya-Nya dan hamba-hamba yang sholeh.

* Ketahuilah bahwa rizki itu telah ditentukan dan telah dibagikan oleh Allah SWT. Diantara hamba-hamba-Nya ada yang diluaskan rezekinya dan dilapangkan kehidupannya, dan dikurangkankan rizkinya menurut kebijaksanaan-Nya. Bersifatlah qona’ah (cukup) atas apa yang ditentukan Allah bagimu.

* Awas dan waspadalah dengan panjang angan-angan dan harapan tentang kehidupan di dunia, karena dunia akan menariknya untuk mencintai dunia, dan anda akan terikat dengannya sehingga sukar untuk beribadat dan mengasingkan diri untuk menuju jalan akhirat.

* Ada setengah manusia yang tabiatnya suka menganiaya orang, memandang rendah terhadapnya, atau suka mencela dan sebagainya. Jika anda tergolong orang terkena penganiayaan orang maka hendaklah anda bersabar jangan sekali-kali anda membalasnya. Disamping itu, hati anda harus benar-benar bersih dari dengki dan dendam terhadapnya, dan lebih utama lagi jika anda memaafkan orang yang menganiayamu, dan anda doakan supaya Allah memberi petunjuk kepadanya, dan itulah tanda-tanda akhlak serta tingkah laku para Shiddiqin (Orang yang Benar).

* Berusahalah sekuat kemampuanmu dalam menghindari diri dari rasa takut dan butuh serta berharap hak terhadap manusia, karena hal tersebut anda akan dipandang oleh manusia tetapi dipandang hina dalam pandangan Allah SWT, karena orang mukmin itu mulia di sisi Allah SWT, tiada takut pada siapapun selain Allah dan apa yang dicintai-Nya, dan tak pernah mengharapkan sesuatu selain Allah.

* Awas! Jangan sekali-kali anda mentaati syaikh (guru) itu hanya lahiriah semata, karena ketahuilah bahwa syaikh itu dapat melihat ketaatanmu padanya, di belakangnya anda membantah dan mendurhakai kerena sangkaanmu, anda sangka Allah tidak tahu kelakuanmu, sedangkan syaikhmu itu dekat dengan-Nya. Kalau anda begitu akan mendapatkan kecelakaan, kesempitan dan kebinasaan. Bukankah Allah berjanji kepada barang siapa Aku cintai maka penglihatannya adalah penglihatan-KU, pendengarannya adalah pendengaran-KU, mulutnya adalah mulut-KU, tangannya adalah tangan-KU dan kakinya adalah kaki-KU, barangsiapa memusuhinya atau menyakitinya, maka AKU dan para malaikatKU mengumandangkan perang terhadap dirinya. Jangan sekali-kali datang pada syaikh yang lain melainkan dengan izin syaikhmu.

* Ketahuilah bahwa sesungguhnya syaikhmu sangat berat hati tentang apa-apa yang baik untukmu, dengan itu janganlah engkau menuduh dan menyangka bahwa dia menyimpan perasaan dengki dan cemburu terhadap dirimu, dan semoga dijauhkan oleh Allah. Karena kamu hanya memandang sesuatu hal dengan pandangan lahiriah belaka bukan pandangan bashiroh (mata hati dengan Allah). Awas ! Jangan coba-coba menuntut agar syaikhmu mengeluarkan kelebihannya. Karena jika syaikhmu seorang Ahlillaah (orang yang meyakinkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah) kekasih Allah, maka ia adalah orang-orang yang teramat merahasiakan kebaikannya, menutupi rahasia-rahasia tentang dirinya, dan sangat jauh untuk menonjolkan dirinya dengan karomah-karomah atau perkara-perkara luar biasa kepada orang banyak meskipun ia amat kuasa dan mampu untuk melakukannya serta diizinkan oleh Allah untuk melahirkannya (memperlihatkan karomahnya).

* Syaikh yang kamil (sempurna) ialah seorang syaikh yang selalu memberi faedah pada muridnya, dengan kesungguhan dalam perbuatan dan perkataanya, dia memelihara muridnya sewaktu di hadapannya maupun ketika berada jauh daripadanya. Sang Syaikh memelihara muridnya dengan getaran-getaran kalbunya dalam segala hal yang dikerjakan oleh muridnya. Maka paling sangat berbahaya jika Syaikhnya sudah berpaling dari si murid. Dalam hal ini jika seluruh syaikh dan wali-NYA yang lain dari timur sampai ke barat dikumpulkan seluruhnya, untuk mengubah hati syaikhnya, niscaya sia-sia dan tidak akan berhasil, kecuali sang murid sendiri harus berusaha untuk mengubah hati syaikhnya dan minta maaf serta mendapat keridhoannya.


* Jika anda menyimpan penuh ta’zhim (kepatuhan) dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap syaikhmu, senantiasa menghargainya, percaya lahir dan batin bersedia mematuhi segala perintahnya, mencontoh akhlaknya, maka itulah tandanya anda sedang mewarisi rahasia-rahasia dari syaikhmu dari syaikhnya dari syaikhnya terus bersambung sampai dari Baginda Nabi Rosulullah SAW, atau sebagian dari rahasia-rahasia tersebut, dan ia terus akan hidup di sisimu sesudah wafatnya syaikhmu, inilah anugrah yang terbesar dari Allah SWT yang dapat menghantarkan kita selamat & bahagia di dalam agama, dunia dan akhirat kelak.

* Para orang sholeh itu setelah wafat hanya hilang jasadnya saja, pada hakikatnya masih hidup seperti sedia kala malah tambah tajam pandangan bashirohnya dan makin kuat tawajuhnya (menghadap) kepada Allah.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Hikam al-Haddad 3


Assalamu'alaikum wr wb

A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.

Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.


[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]


Tentang Al-Habib Abdullah Al-Haddad

Al-Arifbillah Quthbil Anfas Al-Imam Habib Umar bin Abdurrohman Al-Athos ra. mengatakan, “Al-Habib Abdullah Al-Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini, sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja ditunda kehidupan beliau demi kebahagiaan umat di zaman ini (abad 12 H)”.

Al-Imam Arifbillah Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Idrus ra. mengatakan, “Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad adalah Sultan seluruh golongan Ba Alawy”.

Al-Imam Arifbillah Muhammad bin Abdurrohman Madehej ra. mengatakan, “Mutiara ucapan Al-Habib Abdullah Al-Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlang sebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah SWT. Di zaman sekarang ini kamu jangan tertipu dengan siapapun, walaupun kamu sudah melihat dia sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan karomah, sesungguhnya orang zaman sekarang tidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan (kontak hati) dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebab Allah SWT telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkin dapat diukur.”

Al-Imam Abdullah bin Ahmad Bafaqih ra. mengatakan, “Sejak kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad bila matahari mulai menyising, mencari beberapa masjid yang ada di kota Tarim untuk sholat sunnah 100 hingga 200 raka'at kemudian berdoa dan sering membaca Yasin sambil menangis. Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah mendapat anugrah (fath) dari Allah sejak masa kecilnya”.

Sayyid Syaikh Al-Imam Khoir Al-Diin Al-Dzarkali ra. menyebut Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai fadhillun min ahli Tarim (orang utama dari Kota Tarim).

Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith ra. berkata, “Masa kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampu mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit seperti mengaji dan mengkaji pemikiran Syaikh Ibnu Al-Faridh, Ibnu Aroby, Ibnu Athoilah dan kitab-kitab Al-Ghodzali. Beliau tumbuh dari fitroh yang asli dan sempurna dalam kemanusiaannya, wataknya dan kepribadiannya”.

Al-Habib Hasan bin Alwy bin Awudh Bahsin ra. mengatakan, “Bahwa Allah telah mengumpulkan pada diri Al-Habib Al-Haddad syarat-syarat Al-Quthbaniyyah.”

Al-Habib Abu Bakar bin Said Al-Jufri ra. berkata tentang majelis Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai majelis ilmu tanpa belajar (ilmun billa ta’alum) dan merupakan kebaikan secara menyeluruh. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Aku telah berkumpul dengan lebih dari 40 Waliyullah, tetapi aku tidak pernah menyaksikan yang seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad dan tidak ada pula yang mengunggulinya, beliau adalah Nafs Rohmani, bahwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah asal dan tiada segala sesuatu kecuali dari dirinya.”

Seorang guru Masjidil Harom dan Nabawi, Syaikh Syihab Ahmad al-Tanbakati ra. berkata, “Aku dulu sangat ber-ta’alluq (bergantung) kepada Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Kadang-kadang dia tampak di hadapan mataku. Akan tetapi setelah aku ber-intima’ (condong) kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka aku tidak lagi melihatnya. Kejadian ini aku sampaikan kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau berkata,’Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di sisi kami bagaikan ayah. Bila yang satu ghoib (tidak terlihat), maka akan diganti dengan yang lainnya. Allah lebih mengetahui.’ Maka semenjak itu aku ber-ta’alluq kepadanya.”

Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi ra. seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang mendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziaroh ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lauatan ilmu pengetahuan yang tiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini. ”

Syaikh Abdurrohman Al-Baiti ra. pernah berziaroh bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad ke makam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dalam hatinya terbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir para sufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrohman Asseqaff, Syaikh Umar al-Mukhdor, Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan yang semisal setara dengan mereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan? Pada waktu itu guruku, Al-Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan, ‘Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang bisa masuk kepada mereka kecuali melaluiku.’ Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad, adalah dari abad 2 H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah SWT pada abad ini sebagai rohmat bagi penghuninya.”

Al-Habib Ahmad bin Umar bin Semith ra. mengatakan, “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat, serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya.”

Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad ra. mengatakan, “Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya, bagi mereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad ra.”

Al-Habib Umar bin Zain bin Semith ra. mengatakan bahwa seseorang yang hidup sezaman dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad ra., bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliau ra. sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, “Tiap hari, siang dan malam, saya melihat beliau selalu datang berthowaf mengitari Ka’bah (padahal beliau berada di Tarim, Hadhromaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, karena itulah saya mengetahui bahwa beliau sudah wafat.”

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Hikam al-Haddad 2


Assalamu'alaikum wr wb

A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.

Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.


[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]


Sekilas Biografi Al-Imam Abdullah Al-Hadad (Shohibur Ratib)

Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad, lahir hari Rabu, Malam Kamis tanggal 5 Bulan Syafar 1044 H di Desa Sabir di Kota Tarim, wilayah Hadhromaut, Negeri Yaman.


Nasab

Beliau adalah seorang Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rosulullah Muhammad SAW.


Orang-tuanya

Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad, Ayah Syaikh Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai seorang yang saleh. Lahir dan tumbuh di kota Tarim, Sayyid Alwy, sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salwa, yang dikenal sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad sendiri banyak meriwayatkan kekeramatannya. Kakek Al-Haddad dari sisi ibunya ialah Syaikh Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba Alawy yang termasuk ulama yang mencapai derajat ma’rifah sempurna. Suatu hari Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad mendatangi rumah Al-Arif Billah Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, pada waktu itu ia belum berkeluarga, lalu ia meminta Syaikh Ahmad Al-Habsy mendoakannya, lalu Syaikh Ahmad berkata kepadanya, ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan”. Kemudian ia menikah dengan cucu Syaikh Ahmad Al-Habsy, Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Al-Habib Idrus adalah saudara dari Al-Habib Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Yang mana Al-Habib Husein ini adalah kakek dari Al-Arifbillah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy (Mu’alif Simtud Durror). Maka lahirlah dari pernikahan itu Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad. Ketika Syaikh Al-Hadad lahir ayahnya berujar, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang ducapkan Syaikh Ahmad Al-Habsy terdahulu, setelah lahirnya Abdullah, aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar Al-wilayah (kewalian)”.


Masa Kecil

Dari semenjak kecil begitu banyak perhatian yang beliau dapatkan dari Allah. Allah menjaga pandangan beliau dari segala apa yang diharomkan. Penglihatan lahiriah Beliau diambil oleh Allah dan diganti oleh penglihatan batin yang jauh yang lebih kuat dan berharga. Yang mana hal itu merupakan salah satu pendorong beliau lebih giat dan tekun dalam mencari cahaya Allah menuntut ilmu agama. Pada umur 4 tahun beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkannya buta. Cacat yang beliau derita telah membawa hikmah, beliau tidak bermain sebagaimana anak kecil sebayanya, beliau habiskan waktunya dengan menghapal Al-Quran, mujahaddah al-nafs (beribadah dengan tekun melawan hawa nafsu) dan mencari ilmu. Sungguh sangat mengherankan seakan-akan anak kecil ini tahu bahwa ia tidak dilahirkan untuk yang lain, tetapi untuk mengabdi kepada Allah SWT.


Guru-gurunya

Hampir seluruh waktunya, beliau gunakan untuk bersimpuh di kaki para ulama besar pada masa itu. Beberapa diantara guru besar beliau adalah :

1. Al-Quthb Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrohman Al-Aththos bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrohman bin Abdullah bin Abdurrohman Asseqaff,

2. Al-Allamah Al-Habib Aqil bin Abdurrohman bin Muhammad bin Ali bin Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin Abdurrohman Asseqaff,

3. Al-Allamah Al-Habib Abdurrohman bin Syekh Maula Aidid Ba’Alawy,

4. Al-Allamah Al-Habib Sahl bin Ahmad Bahasan Al-Hudaily Ba’Alawy

5. Al-Mukarromah Al-Habib Muhammad bin Alwy bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin Abdurrohman Asseqaff

6. Syaikh Al-Habib Abu Bakar bin Imam Abdurrohman bin Ali bin Abu Bakar bin Syaikh Abdurrahman Asseqaff

7. Sayyid Syaikhon bin Imam Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

8. Al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim

9. Sayyidi Syaikh Al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad bin Syaikh Al-Arif Billah Ahmad bin Quthbil Aqthob Husein bin Syaikh Al-Quthb Al-Robbani Abu Bakar bin Abdullah Al-Idrus

10. Syaikh Al-Faqih Al-Sufi Abdullah bin Ahmad Ba Alawy Al-Asqo

11. Sayyidi Syaikh Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qusyasyi


Para guru Al-Habib Al-Haddad sebenarnya sangat banyak, para guru yang tertera di atas itu menurut syarah bait-bait diwan Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Syarah Al-‘Ainiyyat.


Sanad keilmuan beliau.ra banyak, diantaranya sebagai berikut :

1. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Quthb Da’watul Irsyad Abdullah bin Alwy Al-Hadad, dari gurunya;

2. Sayyidil Al-Habib Imam Muhammad bin Aqil bin Ahmad bin Syihab, dari ayahnya;

3. Sayyidil Al-Habib Imam Aqil bin Ahmad bin Syihab, dari ayahnya;

4. Sayyidil Al-Habib Imam Ahmad Syihabuddin, dari gurunya;

5. Sayyidil Al-Habib Imam Abdurrohman, dari gurunya;

6. Sayyidil Al-Habib Imam Ahmad, dari gurunya;

7. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Ali bin Abu Bakar Sakron, dari gurunya;

8. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Abdullah bin Abu Bakar Al-Idrus, dari gurunya;

9. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Abdurrohman bin Muhammad As-Seqaf, dari ayahnya;

10. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthob Muhammad Mauladdawilleh, dari ayahnya;

11. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Ali bin Alwy Maula Darak, dari ayahnya;

12. Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Alwy Al-Ghoyur, dari ayahnya;

13. Sayidina Ustadz Al-‘Azhom Sulthonul ‘Auliya wal Ulama wal Arifin Al-Quthbil Aqthob wal Quthbil Ghouts Jami’ Al-Faqih Al-Muqoddam Al-Imam Muhammad bin Ali Ba’Alawy Al-Huseini Al-Hasani Alawiyyin Al-Fathimiy Al-Muhammadiy Al-Hasyimy ash-Shiddiq, dari ayahnya;

14. Sayidina Al-Imam Ali, dari ayahnya;

15. Sayidina al-Imam Muhammad shahib Marbath, dari ayahnya;

16. Sayidina al-Imam Ali Kholi’ Qosam, dari ayahnya;

17. Sayidina al-Imam Alwy, dari ayahnya;

18. Sayidina al-Imam Muhammad, dari ayahnya;

19. Sayidina al-Imam Alwy Ba’Alawy, dari ayahnya;

20. Sayidina al-Imam Ubaidillah, dari ayahnya;

21. Sayidina al-Imam Ahmad Al-Muhajir, dari ayahnya;

22. Sayidina al-Imam Isa an-Naqib, dari ayahnya;

23. Sayidina al-Imam Muhammad an-Naqib, dari ayahnya;

24. Sayidina al-Imam Ali al-Uroidhi, dari ayahnya;

25. Sayidina Sulthonul ‘Auliya wal ‘Ulama al-Imam Ja’far Shodiq, dari ayahnya;

26. Sayidina al-Imam Muhammad Al-Baqir, dari ayahnya;

27. Sayidina al-Imam Ali Zainal Abiddin, dari ayahnya;

28. Sayidina al-Imam Husein As-Sibth, dari ayahnya;

29. Sayidina Amirul Mu’minin al-Imam Ali bin Abi Tholib ibin Sayidatuna Fathimah Az-Zahroh al-Batul, dari ayahnya;

30. Sayidina Mursalin wal Khotamin Nabiyyin al-Musthofa Muhammad SAW.


Dakwahnya

Berkat ketekunan dan akhlakul karimah yang beliau miliki pada saat usia yang sangat dini, beliau dinobatkan oleh Allah dan guru-guru beliau sebagai da’i, yang menjadikan nama beliau harum di seluruh penjuru wilayah Hadhromaut dan mengundang datangnya para murid yang berminat besar dalam mencari ilmu. Mereka ini tidak datang hanya dari Hadhromaut tetapi juga datang dari luar Hadhromaut. Mereka datang dengan tujuan menimba ilmu, mendengar nasihat dan wejangan serta tabarukan (mencari berkah), memohon doa dari Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Di antara murid-murid senior Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah putranya, Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Alwy Al-Haddad, Al-Habib Ahmad bin Zein bin Alwy bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, Al-Habib Ahmad bin Abdullah Ba-Faqih, Al-Habib Abdurrohman bin Abdullah Bilfaqih, dll.

Selain mengkader pakar-pakar ilmu agama, mencetak generasi unggulan yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan kakek beliau, Rosullullah SAW, beliau juga aktif merangkum dan menyusun buku-buku nasihat dan wejangan baik dalam bentuk kitab, koresponden (surat-menyurat) atau dalam bentuk syair sehingga banyak buku-buku beliau yang terbit dan dicetak, dipelajari dan diajarkan, dibaca dan dialihbahasakan, sehingga ilmu beliau benar-benar ilmu yang bermanfaat. Tidak lupa beliau juga menyusun wirid-wirid yang dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat untuk agama, dunia dan akhirat, salah satunya yang agung dan terkenal adalah Rotib ini. Rotib ini disusun oleh beliau dimalam Lailatul Qodar tahun 1071 H.

Beliau wafat hari Senin, malam Selasa, tanggal 7 Dhul-Qo’dah 1132 H, dalam usia 98 tahun. Beliau disemayamkan di pemakaman Zambal, di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman. Semoga Allah melimpahkan rohmat-Nya kepada beliau juga kita yang ditinggalkannya.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Sunday, August 13, 2006

Hikam al-Haddad 1

Assalamu'alaikum wr wb

A’uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil ‘alaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa Sayidina Muhammadin wa ‘alaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma'in.

Yaa Mawlana Yaa Sayyidi Madad al-Haqq.

[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad ra]


Mukadimah

Maha Suci Engkau ya Allah, tiada kami mampu mencakup bilang­an puji-pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu. Maha Suci Engkau, tiada kami memiliki pengetahuan kecuali yang Kau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Segala puji bagi Allah Yang paling Pengasih dari semua pengasih; Yang paling Bijaksana dari semua yang bijak; Yang paling sempuma ciptaan-Nya dari semua pencipta; Pemberi rezeki paling utama di atas semua pemberi; Yang ilmu-Nya meliputi segalanya; Yang perhitungan-Nya paling mencakup apa saja.

Tidakkah Dia mengetahui rahasia siapa yang Dia ciptakan? Sungguh, Dia Maha Meliputi lagi Maha Mengetahui.
(QS Al-Mulk [67]:14)

Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan; Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin dan Dia tahu segala sesuatu.
(QS Al-Hadid [57]: 2 dan 3)

Singgasana-Nya meliputi langit dan bumi; dan Dia tiada merasa letih memelihara keduanya, karena Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(QS Al-Baqarah [2]: 255)

Aku menujukan puji-pujian kepada-Nya atas segala yang diajarkan dan diilhamkan-Nya, atas taufik-Nya yang membuat kita mampu berbicara dan memahami, dan atas segala rahmat dan karunia-Nya.

Rahmat apa pun yang dikaruniakan Allah kepada manusia, tiada yang dapat menahannya, dan apa pun yang ditahan-Nya, tiada yang dapat melepaskannya sesudah itu. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(QS Fathir [35]:2)

Sholawat dan salam bagi Sayyidina dan Maulana Muhammad SAW yang telah diutus Allah untuk membawakan rohmat bagi seluruh alam semesta, yang dengannya Dia mengakhiri rangkaian para nabi serta menjadikannya penghulu segenap Rosul; demikian pula bagi keluarga dan sahabat beliau serta para tabi'in yang mengikuti mereka dengan ihsan sampai hari kiamat.

Amma’ Ba'du.

Dalam halaman-halaman ini, kami catatkan "beberapa bab ilmu dan pokok hikmah" yang ada kalanya melintas dalam pikiran ketika menyampaikan syarahan, pengajian, hasil renungan dan pelajaran, yang sering kali dibutuhkan dan menjadi andalan setiap ‘alim yang tulus beribadah atau murid yang ber-suluk di jalan hikmah.

Kami tidak menyusunnya sebagaimana lazimnya buku-buku yang tersusun rapi, dalam memerhatikan sistematika dan ke­sinambungan pasal-pasalnya atau menjadikan pasal yang satu sebagai mukadimah bagi pasal sesudahnya dan penyempurna bagi yang sebelumnya. Hal ini disebabkan, seperti yang telah kami sebutkan, pasal-pasal ini berupa pikiran-pikiran yang melintas dan muncul di sela-sela penyampaian pengajian dan wejangan dalam berbagai kesempatan yang berlainan yang kadang-kadang masanya agak berjauhan antara satu dan lainnya. Itulah sebab­nya, Anda akan melihat bahwa setiap pasal seakan-akan berdiri sendiri, tak ada kaitannya yang nyata antara yang sebelum dan sesudahnya.

Demikianlah bagian terbesar darinya; dan jika ada pengecualian, hal itu karena keadaan yang khusus. Pasal-pasal ini mencakup persoalan-persoalan yang komprehensif dan hikmah-hikrnah dalam garis besamya sehingga seorang ilmu­wan (dalam bidang agama), apabila ingin, dengan mudah dapat memperluas dan me­nukik ke kedalaman tiap pasalnya menjadi bukti tersendiri dengan membagi-bagi dan memerinci detail-detailnya. Tentunya hal ini dengan mudah dapat dicapai oleh orang-orang yang berilmu dan terbuka mata-hatinya, yang arif dan berjiwa cerah lagi sadar, serta dikaruniai hikmah.

….barang siapa diberi-Nya hikmat, sungguh kepadanya telah diberikan kebaikan melimpah. Namun, tiada yang mengambil per­ingatan kecuali yang tergolong ulul-albab.
(QS Al-Baqarah [2]: 269)

Tadinya ketika mulai mencatat pasal-pasal ini, kami ber­maksud tidak menerbitkannya sebelum mencapai empat puluh pasal. Namun, waktu terus berjalan dan jumlah tersebut belum juga tercapai. Kemudian, beberapa kawan yang tulus, yang men­dengar karya kami ini, meminta agar diizinkan membuat turun­annya serta mempelajarinya. Keinginan itu telah menggerakkan hati kami untuk menyempurnakannya dengan harapan dapat bermanfaat bag semua pihak, dan dengan menyadari bahwa setiap amal bergantung pada niat yang menyertainya, dan bahwa bagi setiap orang pahala sesuai dengan niatnya itu.

Pada waktu itu, seluruh pasalnya baru berjumlah dua puluh. Oleh sebab itu, akan kami tambah dengan yang sesuai dengannya dan yang termasuk dalam lingkungannya, insya Allah.

Kini, tibalah saatnya untuk memulai dengan mengharapkan pertolongan Allah; sesungguhnya tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan perkenan Allah Swt. Dan cukuplah Allah bagi kita. Dialah sebaik-baik penolong; tiada taufik kecuali yang di­karuniakan Allah SWT. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan ke­pada-Nyalah aku kembali.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Tanya Jawab : Cara Agar Hati Presisi


PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum wr wb

Pak Dodi,
Gimana biar hati kita selalu presisi ketika sholat? Gimana melatih hati biar selalu presisi ke Allah ya, pak? Sering kali saat sholat tiba-tiba saya jadi ingat hal-hal yang bahkan jarang terpikirkan ketika di luar sholat, kenapa bisa gitu ya, pak?

Dikatakan pada saya bahwa ada ulama yang berpesan ke muridnya bahwa jika beliau sedang berjalan untuk sholat maka jangan disapa dan sebagainya, beliau sedang 'mengumpulkan' hati agar hadir dalam sholat nanti. Apa ini cara untuk bisa presisi hati kita ke Allah, pak?

Terima kasah banyak ya, pak...
Wassalam, Yusa


JAWABAN :

Wa'alaykumussalam Wr.Wb.

Mas Yusa dan kita semua yang dirohmati Alloh, yang mas sampaikan, adalah masalah besar, saat inipun mungkin kita semua, sangat ingin bisa memperolehnya.

Seorang Ulama yang membimbing saya, beliau mengajarkan apa yang dikatakan oleh Imam Al Ghozali. Presisinya arah hati ini haruslah dilatih. Di Al Qur'an dimaknai dengan kata Kusyu' pada Alloh. Intinya adalah selalu ingat Laa Ilaha Ilalloh.

Menurut Imam Ghozali, ketika sholat, kita harus berusaha mengingat itu. Kalaupun belum bisa keseluruhan waktu saat sholat, setidaknya dilatih di 3 titik, yaitu :
1. Ketika Takbirotul Ihrom.
2. Ketika membaca Fatihah saat sampai pada Ayat Iyyaa kanaa' budu..
3. Ketika Tasyahut saat sampai pada bacaan Asyhadu anlaa ilaaha illallooh..

Demikian yang diajarkan pada saya Mas, jadi dicoba dahulu, setidaknya di tiga titik tadi jangan sampai nggak ingat pada Alloh, lalu ditingkatkan ke lainnya. Insya Alloh kita dapatkan selalu presisinya Arah Hati ini, amiin.

Mungkin saja Mas, beliau ulama tadi, sedang mengumpulkan rasa dihati, karena, coba dipikirkan, ketika kita akan menghadap seseorang yang dihormati (pak Lurah, pak Camat, Bupati, Gubernur, Presiden atau lainnya) saja di dunia, kita juga sering mempersiapkan hati dan pikiran, dan badan, apalagi ketika akan sholat, bukankah yang akan kita temui adalah Yang Maha Terhormat? Sudah selayaknya seperti beliau ulama itu yang kita teladani......mempersiapkan hati sebelum sholat....agar ketika berjumpa saat sholat, tidak "thingak-thinguk" ke arah lainnya, selain ke Wajah Yang Maha Agung...

Gitu kali ya Mas Yusa, semoga kita semua dikaruniai pertolongan oleh Alloh, agar tidak saja ketika sholat Arah Hati kita bisa presisi, namun juga ketika sedang di jalan, di tempat kerja, bersama anak-istri dan handai taulan, amiin.

Wassalam, Dodi

Tanya Jawab : Presisi Arah Hati

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum wr wb

Pak Dodi,
Kalau tidak salah kemarin-kemarin matahari tepat ada di atas Ka'bah, tapi saya kelewatan waktu itu, besok-besok kalau matahari tepat di atas Ka'bah lagi, tolong dikabari ya, pak...trm ksh bnyk.

Pak Dodi berkata,
"Ada yang tidak berusaha mengubahnya, karena mereka tidak mempermasalahkan ketidak-presisian tadi, mereka lebih memilih "presisi"-nya arah hati ketika sholat, yaitu Alloh SWT."

Nah, gimana nih pak tentang 'presisi'-nya arah hati seperti yang bapak sampaikan tersebut? Mohon dijelentrehkan...terima kasih banyak.

Wassalam, Yusa



JAWABAN :

Wa'alaykumussalam Wr.Wb.

Mas,
Kalau nggak salah, nanti dibulan September 16/17, posisi matahari akan ada di atas Ka'bah lagi, tolong cek pada yang ahli Astronomi ya Mas.

Wuaahhh Mas Yusa, pertanyaannya pendek, tapi berat ngejawabnya. Ijinkan saya menjawab yang sedikit saya fahami, semoga Alloh menolong kita bersama.

Presisi Arah Hati

Hati, secara arti bahasa ada beberapa pengertian, namun yang dimaksudkan di sini adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan, dan sebagainya)

Hati yang dimaksudkan ini, adalah mempunyai pengaruh kepada kesehatan jiwa (qalb al Nafs).

Al Qur'an juga menyebutkan hati manusia ini dengan istilah Fu'ad, jamak katanya : Af'idah (QS Ibrohim : 43), juga membahasakan untuk suasana hati ini dengan kata Shadr, jamak katanya : Shudur (QS Alam Nasyroh :1).

Selain itu, juga acap kali mendengar kata Bashiroh, hal ini jika dihubungkan dengan 4 arti, yaitu :
1. Ketajaman Hati,
2. Kecerdasan,
3. Kemantapan dalam Agama, dan
4. Keyakinan hati.

Kata ini (Bashiroh) walaupun mengandung arti penglihatan, dalam literature Arab jarang digunakan untuk indera penglihatan saja, namun biasanya selalu dikaitkan dengan pandangan Hati.

Fungsi utama hati, adalah sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai , hal ini digambarkan Al Qur'an QS Al-Hajj : 46 sebagai berikut :
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. "

Berangkat dari fungsinya ini, maka hati manusia itulah yang nanti harus dipertanggung-jawabkan oleh manusia kepada Alloh SWT, sebagaimana firmanNYA QS Al-Isro' : 36 artinya :

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabnya."

Nah, dari sinilah titik pangkalnya, karena nantinya manusia itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh SWT, maka kita harus berusaha selalu agar ARAH HATI kita tidak melenceng dari yang diperintahkan oleh Alloh pada diri kita, manusia ini, yaitu untuk selalu BERIBADAH pada ALLOH SWT, sebagaimana firman-NYA, QS Adz-Dzaariyat ayat 56 :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah pada-Ku ".

Juga, ketika awal diciptakan, persaksian akan Alloh, sebagai titik pangkal keimanan, sebagaimana firman-NYA QS As Sajdah ayat 9 :

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur."

Beserta ruh ini, Alloh menyisipkan sang Jiwa (Nafs) yang telah diminta PERSAKSIANnya terlebih dahulu dihadapan ALLOH SWT, sesuai firman-NYA, QS Al A'roof ayat 172 :

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)'."

Persaksian awal inilah yang mengindikasikan bahwa kita harus terus menerus menjaganya agar tidak melenceng IMAN kita, ARAH HATI kita, yaitu bahwa HANYA ALLOH SWT ini Tuhan kita.

Sholat, secara harafiyyah berarti DO'A, dalam sholat ini memang berisi do'a-do'a kita kepada Alloh SWT. Dalam do'a, kita panjatkan keinginan kita pada Alloh, jadi, bagaimana akan dikabulkan do'a jika ARAH HATI kita tidak PRESISI pada Sang Pencipta, ALLOH SWT ?

Itulah kenapa ada yang berpedoman, presisinya arah hati ini diutamakan, namun tidak bisa dipisahkan dengan arah kiblat secara dhahir, Masjidil Harom.

Bolehkah dikupas tentang Masjidil Harom ini ? Apa iya hanya dhahir saja ?

Firman-NYA pada QS Al Isro' ayat 1 :
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Dari sini Alloh mengkabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW, sang manusia teladan, diperjalankan mulai dari Masjidil Harom, lalu ke Masjidil Aqsho, kemudian naik ke Sidrotil Muntaha, lalu turun lagi ke Masjidil Aqsho, dan kembali ke Masjidil Harom.

Kesimpulannya, Masjidil Harom itu adalah Awal dan Akhir perjalanan manusia, contohnya manusia yang terbaik adalah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Firman Alloh QS Tho-Ha ,ayat 55 :
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain."

Dari ayat ini, Alloh berfirman, bahwa manusia itu diciptakan berasal dari bumi, kalau sudah selesai nanti didunia, akan kembali lagi ke bumi (tanah).

Lalu kita telaah Hadits berikut ini :
"Bersabda Rosululloh SAW : Semua bumi itu adalah MASJID, kecuali kuburan dan WC "
Masjid mengandung pengertian tempat sujud, semua makhluk, tempat sujudnya di bumi.

Dalam firman-NYA QS Al-Baqoroh : ayat 11, disebutkan :
"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."

Dari ayat tersebut, Alloh melarang kita untuk membuat kerusakan di BUMI, karena Bumi itu Masjid, nah...karena kita itu dilarang / HAROM untuk merusak MASJID, kalau digandeng bunyinya MASJIDIL HAROM.

Secara dhahir, Masjidil Harom ini ada di kota Makkah, maka Arah Kiblat oleh Alloh disyariatkan ke sana, jika dimaknai yang luas, tidak hanya harafiyyah, maka mengandung pengertian Arah Kiblat Hati kepada ALLOH, agar kita taat dan beribadah selalu kepada Alloh, tidak membuat kerusakan di bumi, dengan mencontoh manusia teladan , Nabi Muhammad SAW.

Hal ini, merupakan atsar dari sholat kita, yaitu Sholat itu mencegah PERBUATAN KEJI dan MUNKAR. Hal ini akan dapat tercapai jika ARAH HATI kita PRESISI ketika berdoa secara umum maupun sholat (berdo'a secara khusus / syariat), yaitu selalu tertuju dan ingat kepada ALLOH SWT.

Demikianlah sekelumit yang mampu saya sampaikan pada saudaraku semua, khususnya pada Mas Yusa yang baik, mohon maaf jika ada kesalahan, semoga Alloh memudahkan kita semua dalam memahami Ayat-ayat-NYA, mengampuni dosa kita, dan menetapkan kita semua di shiroothol mustaqiim-NYA, amiin.

Subhaanakallohuma Wabihamdika Asyhaduanlaailahaillaa anta Astaghfiruka wa'atubuilayka.

Wassalamualaykum warohmatullohi wabarokatuhu,
Dodi Indra.

Tanya Jawab : Presisi Arah Kiblat

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum wr wb

Pak Dodi,

Beberapa waktu yang lalu, dikabarkan bahwa posisi matahari akan tepat ada di atas Ka'bah, dikatakan bahwa ini saat yang tepat untuk mengetahui arah kiblat yaitu dengan cara cukup berdiri di tempat terbuka dan lihat bayangan badan kita, arah bayangan ini mengarah ke kiblat.

Lalu, sesudah mengukur berdasarkan posisi matahari yang ada tepat di atas Ka'bah, ternyata arah kiblat yang saya pakai sholat selama berbeda arah (meski sedikit), lalu saya ikut arah kiblat lama atau arah kiblat baru, pak?

Karena belum tahu detail tentang ini, saya sholat ke arah kiblat yang saya yakini selama ini, bismillah semoga tidak salah.

Terima kasih banyak.
Wassalam, Yusa



JAWABAN :

Wa'alaykumussalam Wr.Wb.

Mas Yusa dan kita semua yang dirohmati Alloh,
Masalah ini, saya menemui beberapa keputusan macam yang diambil oleh takmir Masjid dan jamaahnya.

* Ada yang tidak berusaha mengubahnya, karena mereka tidak mempermasalahkan ketidak-presisian tadi, mereka lebih memilih "presisi"-nya arah hati ketika sholat, yaitu Alloh SWT. Arah kiblat, hanya sekedar arah yang mendekati saja ke masjidil Harom.

* Ada yang sangat ingin presisi, mereka beranggapan kurang afdhol jika arah kiblat tidak tepat ke Ka'bah, jadi mereka melakukan perubahan arah. Cara yang ditempuh, yang banyak saya temui, adalah membuat garis shof sholat yang baru , menyesuaikan arah sesuai presisi pengukuran yang baru.

Saya belum ketemu, untuk yang senang presisi ini, ketika meluruskan arah dengan sengaja membongkar Masjidnya, kecuali pada masjid yang memang sudah saatnya direnovasi.

Nah, yang mas Yusa lakukan itu seperti yang saya yakini, walaupun di kantor, saya coba untuk geser sedikit arah, sesuai kompas matahari. Saya pribadi tidak menganut faham harus presisi (kalau tidak presisi batal, misalnya), namun yang ingin dipresisikan , adalah arah kiblat sholat saya, yaitu kusyu', dan satu, kepada Alloh SWT.

Semoga tambahan ini membantu, saya juga bukan ahlinya kok mas....
Wassalam, Dodi

Monday, August 07, 2006

Tempat Sampah dan Tikus Besar

Assalamu'alaikum wr wb

Lewat tengah malam itu, saya belum bisa tidur. Pintu kamar saya buka, hawa segar dingin masuk menerobos ke dalam kamar. Memang begitu pintu kamar saya dibuka, langsung berhubungan dengan halaman luar.

Dari luar, terdengar bunyi kemresek. Saya intip ke luar, dan ternyata suara itu berasal dari tempat sampah di bawah pohon mangga. Saya perhatikan, eh seekor tikus besar meyeruak keluar dari dalam tempat sampah, masuk lagi dan keluar melompat sambil membawa sesuatu di mulutnya, mungkin pisang.


Tempat sampah yang kita anggap tidak ada manfaatnya kecuali menampung kotoran yang mesti dibuang ternyata menjadi surga bagi tikus besar itu. Yang kita buang bermanfaat bagi tikus.

Saya tersenyum, tikus itu telah menjemput rizqinya, rizqi yang sudah disiapkan oleh Allah untuknya. Meski walhasil tempat sampah dibiarkan berantakan tapi itu menjadi rangkaian dari rantai kehidupan yang diciptakan oleh Allah Swt, Yang Maha Indah.

Para guru berpesan bahwa kita ada jatah rizqi kita masing-masing, tidak perlu 'kemrungsung' pengen jatah rizqinya orang lain. Syukuri saja yang kita punya, kalau kita syukur insya Allah akan ditambah.

Kata Aa Gym, dalam bahasa saya, bahwa tidak asyik punya mobil mewah tapi hati selalu khawatir kena gores kalau mobil lain menyalipnya, selalu takut spion raib dibawa orang, selalu khawatir kalau audio-tape-nya dicuri orang, takut kalau mobilnya rusak dsb. Sangat tidak mengenakkan hati selalu khawatir seperti itu, padahal kita ada mobil mewah. Sepertinya mending pakai mobil biasa tapi hati tidak selalu khawatir, tidak khawatir spion raib dibawa orang sebab spionnya biasa saja tidak istimewa, tidak takut audio tape-nya hilang karena memang tidak ada (misalnya) dsb.

Apa yang ada pada kita itu yang terbaik buat kita saat ini, syukuri saja nikmat yang ada dulu meski sedikit, sebab kalau tidak bisa mensyukuri nikmat yang sedikit maka tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak.

Istri saya terbangun, "Lagi buat apa tho, mas?", tanyanya.

"Ndaak...iki lho nulis iki...", jawab saya.

Saya coba intib ke luar lagi, tikus kembali lagi, tapi kemudian dia lari karena tahu saya perhatikan.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Israel Biadab !


Assalamu'alaikum wr wb

ISRAEL BIADAB !
Begitu judul yang tertera besar tebal warna merah di sampul depan majalah bulanan Cahaya Nabawiy edisi bulan Rojab ini.

Dampak serangan Israel ke Libanon beberapa waktu yang lalu sampai ke Indonesia, bahkan orang-orang kong-kow pun dibahas juga tentang Israel yang "Yak hNah" (bahasa Jawa plesetan dari "orak nggenah" = tidak benar) ini, sadis kejam bahkan!

Banyak orang mengutuk aksi serampangan Israel, di majlis-majlis yang saya hadiri hampir selalu diakhiri dengan do'a yang memohon agar umat Islam diberi kemenangan melawan orang-orang Yahudi Israel, sebab penyerangan umat Islam seperti itu tentu akan membuat baginda Rosulullah Muhammad Saw tidak senang, maka dalam majlis mujahadah tiap malam 10 hijriyah semalam al-Habib Hasan bin Abdurrohman bin Zein al-Jufri berdo'a agar Allah Swt membuat baginda Rosulullah Saw senang dengan memberi kemenangan pada para mujahidin di Libanon, di Palestine, di Iraq dan di mana pun juga yang sedang melawan kaum Yahudi Israel yang dibantu USA.

Al-Habib Hasan menyampaikan bahwa ketika seorang syeikh ditanya oleh muridnya kapan kita berjihad dengan sebenar-benarnya jihad (perang maksudnya), maka dijawab oleh sang syeikh,
'Apa kau sudah siap berhadapan dengan orang yang membawa pedang di depanmu berlumuran darah? Apa kau sudah siap melihat kepala teman-temanmu, kepala keluargamu terpenggal?'.

Murid itu kebingungan menjawab, sepertinya dia merasa belum siap.

'Kalau kau belum siap, tunggu saja waktu itu datang. Kalau waktu itu datang, maka kita otomatis akan siap, mau tidak mau akan siap. Sebab 'alam' pada waktu itu berbeda dengan 'alam' yang sekarang, kau akan siap saat itu.', lanjut sang syeikh.

"Paling tidak kita berdo'a mendo'akan mereka kalau baru bisa sebatas itu. Sebab kalau kita ditanya Allah apa yang kita lakukan untuk membantu umat Islam yang sedang diperangi kaum Yahudi dsb, maka kita minimal sudah membantu mendo'akan.", kata al-Habib Hasan sambil duduk di teras rumah beliau.

Demikian al-Habib Hasan menjelaskan.

Saya terduduk diam, saya tidak tahu apa saya akan siap dan tegar seperti mujahidin di Libanon atau di Palestine atau Iraq sana dalam menghadapi kekejaman Yahudi atau USA seperti itu...saat ini saya baru bisa berdo'a untuk mereka di sana.

Allahumarhamna watubbina wahfatna wansurna wafarij ana wal muslimin
Allahumma ikfina waiyahum syaro washohibaddunya waddin
Allahumma aslih manfi sholahihi sholahul islam wal muslimin
Allahumma ahliq manfihalaqihi sholahul islam wal muslimin
Allahummarfa' wasyrik ana wa anil muslimin al ghola'a wal bala'a wal fitroh
Wadhoharo minha wama bathon

Allahumman syur ihwanina fi Libanon
Allahumman syur ihwanina fi Palestine
Allahumman syur ihwanina fi Iraq
Allahumman syur ihwanina fi Afganistan

Birohmatika ya arhamarrohimin

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Ziaroh Tengah Malam

Assalamu'alaikum wr wb



Jam 23.30an malam 7 Rojab 1427 habis acara syukuran dalam rangka pindahan rumah seorang sahabat saya, saya diajak ziaroh ke makam bib Abdurrohman bin Zein al-Jufri di pemakaman Bergota - Semarang, tepatnya belakang pasar kembang.

Tidak sampai setengah jam kami berlima sampai di pasar kembang, motor kami parkir, lalu kami berjalan ke arah barat naik tanjakan melewati gang sempit diantara deretan rumah-rumah yang jadi satu dengan pemakaman Bergota ini. Jadi rumah-rumah di sini ada yang di depannya, di sampingnya kuburan-kuburan, batu nisan.

Di ujung barat terdapat dua "kompleks" makam besar, yang barat punya keluarga bib Zein Assegaf, yang sebelah timurnya punya keluarga bib Hasan al-Jufri (di sini dimakamkan bib Abdurrohman bin Zein al-Jufri, bib Zein al-Jufri dan datuk-datuk beliau). Setelah masuk makam, masih tetap berdiri, seorang sahabat memimpin membacakan sholawat ziaroh qubur, yang kurang lebih sebagai berikut...

Salaamullaahi yaa saadah, ma'arridhwaani yaghsyaakum

'Ibaadaallaahi ji'naakum, qoshodnaakum tholabnaakum
(Salaamullaahi yaa saadah, ma'arridhwaani yaghsyaakum)

A'iynuwnaa aghiytsuwnaa, bihimmatikum wajad waakum
(Salaamullaahi yaa saadah, ma'arridhwaani yaghsyaakum)

Fa ahbuwnaa fa a'thuwnaa, 'athooyaakum wajaa syaakum
(Salaamullaahi yaa saadah, ma'arridhwaani yaghsyaakum)

...dan seterusnya sampai selesai...

Dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan tahlil. Tak terasa air mata saya menetes, entah benar atau tidak tapi saya sedih tidak sempat bertemu, tidak sempat belajar dengan bib Abdurrohman bin Zein al-Jufri (ayahanda bib Hasan al-Jufri) semasa beliau masih hidup, masih 'sugeng'. Tapi buru-buru saya hapus dengan tangan saya begitu yang lain berdiri, saya malu kalau mereka tahu saya menangis.

Mereka-mereka ini murid-murid bib Abdurrohman bin Zein yang masya Allah tawadlu'-nya pada gurunya. Diantara mereka, ada yang 'meluruskan' saya dulu...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Al-Baqoroh

Assalamu'alaikum wr wb

Majlis An-Nur...
Semarang, 6 Rojab 1427.



Bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab memulai majlis dengan berkata,
"Semoga pertemuan kita di pagi yang baik ini mendapat ridho Allah Swt."

Beliau kemudian menyampaikan tentang al-Qur'an surat al-Baqoroh, keutamaan surat al-Baqoroh. Sebagaimana telah diberitakan oleh manusia agung, Rosulullah Muhammad Saw telah bersabda,
"Wahai umatku, bacalah surat al-Baqoroh, kemudian pelajari ilmu-ilmu yang dikandung di surat al-Baqoroh tersebut, karena kalau kalian membaca dan mempelajarinya, maka kalian akan mendapatkan suatu keberkahan dari Allah Swt. Sedangkan kalau kalian meninggalkan (jangankan untuk mempelajari surat al-Baqoroh, untuk membacanya saja tidak) maka kalian akan mendapatkan kerugian yang nyata."

Karena salah satu keampuhan dari surat al-Baqoroh adalah para tukang sihir tidak akan bisa mengenai kalian selama kalian membaca surat ini. Seampuh apa pun tukang sihir ini ingin mencelakai anda, tetapi anda selalu mewiridkan surat al-Baqoroh, maka mereka tidak akan pernah menciderai orang-orang yang selalu membaca dan mengamalkan surat al-Baqoroh.

Kemudian hikmah kedua, bagi orang-orang yang suka membacanya, terutama di dalam rumahnya sendiri maka setan tidak akan pernah masuk ke rumahnya.

Dari shohabat Akrimah, Rosul Saw bersabda bahwa barang siapa membaca surat al-Baqoroh (yang diturunkan di kota Madinah) di siang hari maka setan tidak akan masuk selama tiga hari. Begitu juga, barang siapa membacanya di rumahnya pada malam hari, maka setan tidak pernah berani masuk ke rumahnya selama tiga malam.

Ganjaran dari Allah bagi yang membaca surat al-Baqoroh adalah bukan per surat tapi per huruf, per titik yang kita baca. Kita tahu bahwa di surat al-Baqoroh ada 21an ribu kalimat, kita tidak bisa mengira pahala di sisi Allah Swt surat al-Baqoroh, jadi kita mendapatkan dunia dan akhirat, dhohir dan batin. Di dalam batin kita mendapat suatu ketenangan saat membaca surat al-Baqoroh karena kita sudah dijauhkan dari setan yang terkutuk.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh para shohabat, bahwa suatu ketika sayyidina Abubakar Ra kedatangan tamu yang mulia, baginda Nabi Muhammad Saw. Begitu datang, sayyidina Abubakar menyambut beliau Saw, "Marhaban bika ya Rosulullah." disediakan tikar, tempat yang baik, Rosulullah pun duduk.

Tiba-tiba datang seorang Badui ke sayyidina Abubakar Ra, habis dicacinya sayyidina Abubakar, tapi sayyidina Abubakar sangat sabar. Rosulullah tersenyum. Kemudian dengan senyumnya Rosulullah ini, cacian Badui semakin menjadi ke sayyidina Abubakar dengan cacian kotor dan sumpah serapah keji, tapi sayyidina Abubakar tetap bertahan sabar meski hampir tidak kuat. Rosulullah tesenyum yang agak lebar. Lalu, cacian si Badui ini tambah menggila kata-katanya, ini puncak kesabaran sayyidina Abubakar, akhirnya beliau Ra lalu menghadik orang tersebut, "Wahai Badui, tidak layak keluar dari mulutmu karena tidak benar yang kau katakan!". Nabi Saw langsung berdiri dan pergi.

Di saat itu, sayyidina Abubakar langsung mengejar Rosulullah dan mohon ma'af, "Ya Rosulullah ma'afkan aku? Aku tidak sengaja, aku tidak ada niat untuk melukai hatimu, karena kau adalah tamuku, orang yang dimuliakan Allah dan orang yang aku muliakan. Tolong dima'afkan kesalahanku".

Rosulullah Saw bersabda,
"Wahai Abubakar shohabatku, aku tidak marah terhadap hardikanmu, tapi ketahuilah ketika anda menahan sabar pertama kali, para Malaikat berkerumun di depanmu, di samping kananmu, di samping kirimu, di atasmu, di belakangmu. Begitu juga yang kedua, tambah banyak yang turun dari langit karena ingin mendapatkan kebahagiaan dari kesabaranmu, tetapi anda menghardik si Badui maka bertaburanlah malaikat itu ke atas, dan muncul setan-setan yang terkutuk mengelilingmu, maka aku lari dari rumahmu karena aku tidak ingin berkumpul dengan setan."

Ini jadi alam ruh, karena Rosulullah Saw diberi mukjizat dari Allah Swt pandangan beliau Saw bisa melihat hal-hal yang ghoib yang bagi kita tertutup, karena ruh kita yang dilihat baginda Nabi besar Muhammad Saw, karena sabar itu ruh kita di situ memancar sinar-sinar yang terang hingga sampai ke langit, malaikat menyapa kita, tetapi begitu kemarahan datang, setan masuk maka habislah cahaya itu, redup dan padam hingga gelap, maka Rosulullah pulang.

Nah, di sinilah keuntungan kita bagi yang suka mengamalkan surat al-Baqoroh ini, ruhnya bercahaya dan setan tidak bisa memadamkan terang benderang sinar-Nya Allah Swt tadi. Ini berkah dari fadhilah bagi yang suka membaca surat al-Baqoroh.

Diriwayatkan lagi oleh para shohabat Ra bahwa pada suatu hari Rosulullah Saw pernah mengangkat kabilah, pemimpin dalam suatu kaum. Di situ berkumpul orang-orang tua, anak-anak muda dan anak-anak kecil serta remaja yang baru baligh. Di dalam menentukan pimpinan rombongan maka diceklah mereka ini satu per satu untuk membaca al-Qur'anul karim, yang paling fasih (fasih itu benar mahroj-nya, huruf yang keluar dari lesannya itu benar, hafal itu surat)jadi pemimpin.

Ternyata yang terbaik membaca al-Qur'anul karim adalah seorang pemuda, dia tahu tajwid, dia tahu mahroj, dia hafal dan dia memahami maknanya, maka oleh Rosulullah pemuda itu diangkat jadi pemimpin rombongan. Maka berangkatlah mereka dengan ridho Allah Swt dan Rosulullah Saw. Ini adalah berkah dari memahami surat al-Baqoroh, jadi memang pemuda itu cinta dengan surat al-Baqoroh karena dia telah mendengar sabda baginda Nabi Muhammad Saw,
"Bacalah selalu oleh kalian dua cahaya yang terang benderang, yang sampai cahaya itu menyentuh langit-Nya Allah Swt, yaitu surat al-Baqoroh dan surat Ali Imron."

Ini di dunia sudah dapat. Jadi cahaya ruh kita jauh lebih canggih dari cahaya apapun!

Jadi, manfaat dari surat al-Baqoroh ini sudah Allah Swt anugrahkan kepada orang-orang yang beriman yang mengamalkan, mentadaburi, merenungi surat al-Baqoroh dan Ali Imron ini dari dirinya Allah sudah beri manfaat, diri kita dijauhkan dari setan yang terkutuk yang selalu ingin memadamkan cahaya-cahaya ini hingga tidak sampai ke langit-Nya Allah Swt, tetapi berkat membaca surat ini, cahaya terus hidup, tetap bersinar terang benderang...ini di dunia, bagaimana di akhirat?

Dikatakan oleh Rosulullah Saw bahwa dua ayat ini, di yaumil kiamat nanti, di padang mahsyar, ketika makhluq Allah ini ada yang kebingungan, kehausan, kesakitan, kelaparan, dua surat ini datang tak ubahnya bagai rombongan burung-burung yang sangat indah, merdu suaranya, berbaris rapi di atas kepala kita menaungi dahsyatnya panas matahari saat itu, tak ubahnya seperti awan yang menyejukkan pandangan mata dan menyejukkan badan kita karena membawa udara segar.

Ini yang diberikan Allah bagi yang suka mengamalkan surat al-Baqoroh dan surat Ali Imron, di dunia, dan di akhirat dia dapatkan itu.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Mengumpulkan Bekal

Assalamu'alaikum wr wb

Majlis Madadun Nabawiy...
Semarang, 5 Rojab 1427.



Karena pengasuh majlis Madadun Nabawiy, bib Shodiq Abubakar Baharun, berhalangan hadir, maka seperti biasa yang menggantikan beliah adalah ustadz Taufiq.


Shohabat yang mulia Sayyidy Abubakar as-Shidiq Ra usianya sebaya dengan baginda Rosul Saw, hanya selisih beberapa tahun dengan baginda Rosul Saw. Suatu ketika dalam suatu perang, beliau Ra shodaqoh seluruh hartanya untuk membiayai perang tersebut.

Baginda Rosul Saw lalu bertanya kurang lebih seperti ini,
"Shohabat Abubakar, anda shodaqoh seperti itu, apa yang anda tinggal untuk anak istri anda?".

"Yang saya tinggal untuk anak istri saya adalah Allah Swt dan Rosulullah Saw.", jawab beliau Ra.

Artinya beliau Ra benar-benar pasrah kepada Alah Swt, beliau Ra sungguh orang yang sangat dermawan.


Nasehat buat kita semua adalah :

1. Barang siapa masuk kubur tanpa membawa bekal, maka ibarat mengarungi laut samudra tanpa membawa perahu.

Kita di dunia hanya sebentar saja, meski sebentar tapi kalau kita gunakan untuk ibadah kepada Allah Swt, insya Allah kita termasuk orang yang akan masuk ke kubur dengan membawa bekal, bekal amal sholeh, amal yang karena Allah Swt.

Ada sabda Nabi Saw kurang lebih sebagai berikut :
"Tidak ada mayat di dalam kuburnya, kecuali mayat itu seperti orang yang minta tolong."

Seandainya kita bisa melihat apa yang terjadi di alam kubur, tentu kita akan memohon pada Allah Swt, akan menyesali dosa-dosa kita, tapi karena yang kita lihat bahwa alam kubur itu ghoib maka buat kita yang beriman harus meyakini bahwa ada macam-macam keadaan di alam kubur karena ke-Maha-Kuasa-an Allah Swt.

Semoga dosa-dosa ahli kubur kita diampuni Allah Swt, diterima segala amal-amal beliau oleh Allah Swt.


2. Rosul Saw bersabda yang kurang lebih sebagai berikut :
"Kejayaan selama di dunia bukan karena harta benda, tapi kejayaan keberuntungan kemuliaan karena bagusnya amal-amal kita."

Mari kita berdo'a agar kita mendapat keberuntungan, kejayaan, kemuliaan dari Allah Swt.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Saturday, July 29, 2006

Jadi Penonton

Assalamu'alaikum wr wb

Ketika dua kubu saling bertentangan pendapat, bertentangan kebijakan, bertentangan aturan maka bisa timbul perang diantara mereka berdua. Kemudian saling menyerang satu sama lainnya, mencari celah kekhilafan lawan, kekhilafan lawan dianggap sebagai peluang untuk mengalahkannya.

Hampir-hampir tidak ditemukan kedamaian kalau berada diantara keduanya, artinya kalau kita tidak memihak salah satu maka akan ikut terasa panasnya hawa perseteruan mereka. Tapi...kehadiran orang yang dihormati, yang dicintai kedua belah pihak yang berseteru insya Allah bisa meredam panasnya perang. Inilah sang duta besar...

Ketika dua keluarga yang ber-besan-an terlibat permasalahan dan berseteru, maka kehadiran cucu bisa berpengaruh besar meredam "perang" keduanya.

Tapi gimana halnya dengan dua (atau lebih) firqoh Islam saling berbeda pendapat, ada yang saling "menyerang", lalu siapa sang duta besar peredam panasnya perseteruan mereka?

"Wis ojo melu-melu, tontonen wae, istighfar sing akeh karo sing nggawe urip! (*)", begitu pesan para guru, "Mari kita bersama-sama merapatkan barisan di dalam barisan yang 'terpilih'. Menjadi penonton dan berperan aktif dalam kehendak-Nya, apapun itu!", lanjut beliau.

Saya masih merenungi apa maksudnya...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


(*) Terjemahannya : "Sudah jangan ikut-ikut, lihat saja, banyak istighfar pada Yang Maha Membuat Hidup!".

1 + 1

Assalamu'alaikum wr wb

Pagi itu, hari pertama bulan Rojab 1427, kami bangun terlambat, jam 4.05an! Sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Padahal biasanya istri saya selesai mencuci hampir bersamaan dengan adzan subuh atau paling lama saat iqomat subuh, tentu saja kami mesti buru-buru agar tidak kesiangan, apalagi akhir-akhir ini air sumur tidak bisa dipompa karena menyusut, mesti ditimba dulu.

Setelah menimba air (istri saya mencuci pakaian) saya mandi, wudlu dan sholat subuh. Habis sholat saya baca rotib al-Haddad di samping anak saya yang sudah bangun, tidak rewel tapi malah senyam-senyum sendiri. Saya geser duduk saya tepat ke sebelahnya, saya lanjutkan bacaan saya dan sengaja saya perdengarkan ke dekat telinganya agar dia nanti jadi orang yang cinta habaib dsb.

Selesai rotib-an, dari dalam kamar terdengar di luar sana teman saya mengajari anaknya menyanyi lagu anak-anak,
"Satu-satu, aku sayang ayah...dua-dua, aku sayang ibu...tiga-tiga, sayang adik kakak...satu dua tiga, sayang semuanya..."

Eh, tiba-tiba saya pengen memodifikasi lagu itu, dan selesai. Kemudian saya nyanyikan buat anak saya yang sudah ada di pangkuan saya, tiduran sambil minum susu.

"...'Satu-satu, Uli (*) sayang Allah... Dua-dua, Uli sayang Nabi... Tiga-tiga, sayang Malaikat... Satu dua tiga, sayang semuanya...' Sayang bapak, sayang ibu, sayang mbah, sayang mbah buyut...", saya bernyanyi, lagu itu saya ulang-ulang terus biar anak saya hafal, lalu tanya siapa tho Allah itu, nah akan saya jawab kalau Allah itu Tuhan, baginda Muhammad itu Nabi dsb.

Saya tidak mau anak saya tidak tahu siapa Allah, seperti ketika suatu saat saya tanya seorang anak usia 3an tahun,
"Adeeek, tahu ndak siapa Allah?", tanya saya.

Anak itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Saya tidak mau anak saya seperti itu, saya mau anak saya sudah tahu kalau Allah itu Tuhannya, baginda Nabi Muhammad itu Nabinya dsb. Yah paling tidak seperti itu...

"Ayo lik (**) lagi, satu-satu, Uli sayang Allah... dua-dua, Uli sayang Nabi... tiga-tiga, sayang Malaikat... satu dua tiga, sayang semuanya... satu-satu, Uli sayang Allah... dua-dua, sayang Rosulullah... tiga-tiga, sayang para Nabi... satu dua tiga, sayang semuanya...", ajak saya sambil terus bernyanyi.

Ketika istri saya masuk kamar selesai mencuci, saya ajak ikut bernyanyi, "Buk buk...nyanyi, buk...", dan, kami pun bernyanyi bersama.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


(*) : Uli adalah panggilan keluarga saya untuk anak saya Muhammad Haykal. Uli diambil dari kata Maulid, sebab anak saya lahir tepat tanggal 12 Robi'ul Awal 1427, MaULId...Uli. Tapi keluarga istri saya panggil anak saya Haykal.

(**) : Lik adalah panggilan untuk anak laki-laki di Jawa (Wuk untuk perempuan), ada juga yang lain yaitu Nang (Nok untuk perempuan). Seperti di Betawi menyebut anak laki-laki dengan Tong, atau Neng untuk perempuan.

Terbangan

Assalamu'alaikum wr wb

Di tempat tinggal saya sekarang, ada sebuah grup rebana (terbangan = Jawa) yang anggotanya mulai dari remaja, bapak-bapak sampai ibu-ibu (vokalis).

Minggu pagi itu, grup rebana itu bersiap-siap melangsir alat-alat rebana dari rumah salah seorang anggotanya ke bak belakang mobil pick-up. Awalnya saya pikir mereka disewa untuk main di suatu tempat seperti biasanya, tapi waktu saya lihat baju yang mereka pakai saya kok kurang yakin mereka disewa orang, biasanya mereka pakai baju koko plus peci di kepala mereka. Kali ini mereka pakai baju batik coklat lengan panjang dan mereka memakai blangkon (topi seperti biasa dipakai dalang wayang), tapi mereka tetap memakai celana panjang biasa.

"Wah, keren...", kata saya dalam hati sambil tersenyum.

Ketika salah seorang dari mereka melihat saya, saya setengah berteriak bertanya, "Mas dapat order atau mau ikut lomba?".

"Mau lomba!", jawabnya.

Ah, benar ternyata mereka mau lomba, lha wong baju yang mereka pakai lain dari biasanya...

"Di mana, mas?"

"Di kelurahan...!"

Saya jadi ingat kata sohib saya bahwa grup rebana yang biasanya mengiringi bib Hasan al-Jufri tidak boleh ikut lomba, hanya mengiringi gurunya dakwah, lalu kalau disewa orang untuk main di suatu tempat ya terima kalau dikasih bisyaroh, kalau tidak dikasih ya jangan minta. Alat-alat mereka biasa saja plus marawis, tanpa gitar, tanpa organ dsb, dan tanpa vokalis wanita. Vokalisnya semua pria-pria yang masya Allah bagus suaranya. Saya salut dengan mereka!

"Kalau ndak tahu ilmunya rebana ya jangan main...", kata sohib saya menceritakan apa yang gurunya pesankan.

"Maksudnya?", tanya saya.

"Nanti kalau sudah main rebana tergoda pengen tambah alat ini dan itu, biar ramai, nanti pengen cari vokalis cewek dsb...tahu kan kalau sudah aja ceweknya?"

Iya ya...saya tersenyum, "Benar juga..."

Siangnya, lewat di depan tempat tinggal saya istri dari salah satu anggota grup rebana yang lomba tadi, lalu saya tanya dia, "Piye menang ndak?"

"Ndak, lha wong yang menang katanya yang pakai menari segala kok!"

"Heh, yang pakai menari?", tanya saya masih tetap tersenyum.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Kotak yang "Berjalan"

Assalamu'alaikum wr wb

Jalan Majapahit sore itu cukup ramai, memang jalan ini selain jalan Kaligawe termasuk jalan teramai kalau pagi dan sore. Pagi banyak orang berangkat kerja dari arah luar Semarang, sore mereka pulang. Sebenarnya ada perbedaan yang cukup mencolok beberapa tahun terakhir ini, dulu pekerja-pekerja dari arah luar Semarang (Mranggen, Demak dsb) kebanyakan memakai sepeda 'onthel', tapi sekarang sedikit yang pakai sepeda, sepertinya beralih ke sepeda bermotor.

Jam 16.50an saya sudah ada di seberang pabrik kaca tempat istri saya kerja, mau jemput istri saya.

Di tengah-tengah riuh rendah suara kendaaran, telinga saya mendengar suara dari arah timur. Awalnya saya pikir suara polisi mengatur lalu lintas dengan mikrofon dan loud-speaker, seperti polisi di dekat kantor koran Suara Merdeka juga begitu, tapi makin lama makin keras, "Ah, mungkin berasal dari loud-speaker Masjid!?", kata saya dalam hati sambil melirik ke arah Masjid di pojok perempatan Pedurungan itu, "Mungkin ada pengajian.".

Ternyata bukan! Suara itu makin dekat ke arah saya, saya penasaran suara apa itu. Ketika pandangan saya alihkan ke toko-toko di seberang jalan, saya melihat ada dua laki-laki berbaju koko, bersarung dan pakai "kupluk" putih membawa kotak berjalan agak cepat minta shodaqoh ke orang-orang.

Ah, suara tadi ternyata berasal dari loud-speaker mobil yang di depannya terpampang kain bertuliskan dari yayasan anu, di daerah itu. "Ooo...jebule kuwi tho!"...

Lalu satu orang menghampiri saya yang sedang duduk di atas sepeda motor saya sambil menyodorkan kotak, minta shodaqoh. Meski saya ingat ada beberapa orang yang menggunakan cara ini untuk kedok mencari uang saja (artinya yayasannya fiktif dsb), tapi saya tetap merogoh saku jaket saya dan mengambil beberapa lembar uang dan memasukkan ke kotak di depan saya.

Saya lihat mobil tadi lewat di depan saya pelan, sementara sopir mobil itu memencet klakson dan melambaikan ke saya. Saya balas lambaian tangannya sambil tersenyum.

"Meski orang itu naik kendaraan mewah sekalipun, kalau dia meminta sesuatu yang kita punya, kasih saja. Tidak usah berpikiran buruk dsb, kasih saja!", kurang lebih begitu pesan bib Ghozi saat menjawab pertanyaan bahwa ada oknum yang menipu orang dengan berkedok dari yayasan anu, dari Masjd itu dsb.

Dan lagi, sore itu tinggal beberapa jam menjelang bulan Rojab yang bib Ghozi pesan agar memperbanyak shodaqoh, memperbanyak baca sholawat, istighfar, puasa dsb. "Amalan di bulan ini double pahalanya.".

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 3

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net

Pertemuan Dengan Habib Abubakar Gresik
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)

Setelah duduk sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke Gersik bersama Al-’Am Abdulkadir. Pukul 17.15 kami telah sampai di depan rumah Habib Al-‘Ârifbillâh Abubakar bin Muhammad Assegaf. Di depan rumah tampak Sayid Hud bin Abdullah, putra Habib Abubakar dan sejumlah Muhib di antaranya Salmin Doman telah siap menyambut kedatangan kami.

Beberapa saat sebelumnya Salmin Doman masih
di Surabaya. Setelah mengetahui tujuan perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera menyusul ke Gresik untuk menyambut Sayyidiy Alwi dan ikut dalam majelis-majelis beliau.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah Habib Abubakar yang penuh berkah. Tatkala menatap wajah beliau yang tampan dan bercahaya seperti bulan purnama,
air mata kami jatuh berderai.

Kebahagiaan menyelimutiku
begitu hebat hingga ‘ku tak kuasa
menahan tangisku

Sayyidiy Alwi menghampiri Habib Abubakar[10], mencium tangan beliau. Keduanya lalu saling berpelukan, menangis dan bersyukur kepada Allah Ta’âlâ atas pertemuan ini. Sepuluh tahun lamanya mereka tidak saling berjumpa. Kekhusyukan dan haibah pertemuan ini dirasakan oleh semua yang hadir. Mereka seakan terpukau dan suasana menjadi hening. Setiap pipi basah oleh air mata, setiap kepala tertunduk ke bawah. Mereka semua menyaksikan pertemuan agung ini setelah perpisahan yang begitu lama. Perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan raga, adapun ruh mereka senantiasa hadir dan tak pernah berpisah.

Habib Abubakar, semoga Allah memanjangkan umurnya, menatap Sayyidiy Alwi dan berulang kali mengucapkan selamat datang dan penghormatan. Selang beberapa saat Habib Abubakar memeluk beliau. Ini dilakukannya tiga kali. Tanda-tanda kebahagiaan dan suka cita tampak jelas di wajah keduanya.

Habib Abubakar berkata:

“Yang telah memegang takkan melepaskan.”[11]

“Aku akan mentaatimu. Aku datang kemari dengan berbagai kebutuhan. Dan mengharapkan pemberian untukku, anak-anakku, dan keluargaku,” kata Sayyidiy Alwi. Beliau lalu membacakan salah satu ayat Quran.

“Hai pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf, 12:88)

“Tentu…, tentu…, aku akan memberimu kabar gembira,” kata beliau, “Sejak subuh hari ini aku merasa gelisah dan tak banyak berkata-kata. Aku tidak tahu apa sebabnya. Melihat engkau datang, hilanglah kegelisahanku, hatiku terasa lapang dan aku menjadi bersemangat.”

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


Catatan Kaki :
[10] Habib Abubakar lahir di Besuki Jawa Timur tahun 1285 H, meninggal di Gresik, Jawa Timur pada malam Senin 17 Dzulhijah 1376 H pada usia 91 tahun. Jadi pada pertemuan ini usia beliau 86 tahun.
[11] Maksudnya, Habib Abubakar takkan membiarkan Sayyidiy Alwi pergi.

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 2

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net

Pertemuan Dengan Habib Husein Al-Haddad Jombang
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)

Mobil melaju dengan cepat, seakan bumi ini dilipat.Tak terasa kami telah sampai di Jombang. Kami segera menuju rumah Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Sewaktu mobil kami berhenti di halaman rumah beliau yang luas, beliau memanggil pembantunya, “Hai Aman! Lihatlah, siapa yang datang!” Sayyidiy Alwi berkata, ‘Ini pertanda baik lagi[4].”

Kami lalu memasuki rumah beliau yang luas, yang selalu dipenuhi tamu; pagi maupun sore. Mengetahui yang berkunjung Sayyidiy Alwi, Habib Husein segera berdiri menyambut beliau dengan gembira, “Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.

Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan yang datang secara tiba-tiba.

Habib Husein tidak diberi kabar bahwa Sayyidiy Alwi akan datang berkunjung. Beliau lalu membacakan bait-bait syair Habib Abdullah bin Husein bin Thohir:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

“Kedatangan kalian ini adalah karunia dari Allah. Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn.”

Habib Husein merasa sangat gembira dengan kedatangan Sayyidiy Alwi.

Setelah semuanya duduk dengan nyaman, Sayyidiy Alwi[5] memberitahu Habib Husein[6], “Kepergianku dari Solo adalah untuk mengunjungi Habib Abubakar bin Muhammad Asseggaf di Gresik. Sebab, beliau telah berulang kali mengirim utusan mengundangku. Aku datang kemari untuk meminta pendapat dan saran, karena aku dengar engkau tidak ingin aku datang kepadanya. Aku sengaja menunda kepergianku karena ucapanmu ini. Sekarang aku telah datang, jika kau perintahkan aku untuk melanjutkan perjalanan, aku akan melakukannya. Tetapi jika kau larang aku melanjutkan perjalanan,aku akan pulang.”

Habib Husein lalu menjelaskan, “Aku tidak pernah mengutus seseorang untuk melarangmu pergi. Hanya saja, ketika aku berada di rumah Habib Abubakar, beliau berkata kepadaku, ‘Aku mengemban amanat Habib Ali untuk Alwi. Aku ingin ia datang kemari agar amanat itu dapat kusampaikan.’ Aku lalu berkata kepada beliau, ‘Engkau adalah rumah amanat, di tanganmu amanat itu pasti terjaga, dan Alwi masih hidup bersama kita.’ Sekarang kupikir Habib Abubakar ingin menyampaikannya kepadamu. Hanîan laka… Selamat untukmu. Berilah kami bagian.

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS An-Nisa, 4:8)

Habib Abubakar sekarang ini sedang menunggu kalian. Ia berdiri, duduk, berdiri, duduk… Seandainya kalian langsung berangkat ke sana tentu akan lebih baik.”

Sesungguhnya Sayyidiy Alwi berniat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya bersama Habib Husein. Akan tetapi Habib Husein berhalangan, kaki beliau sakit dan beliau memerintahkan Sayyidiy Alwi agar segera menemui Habib Abubakar yang sedang menunggu-nunggu kedatangannya. Habib Husein rupanya meng-kasyf keadaan ini.

Sebenarnya keinginan untuk melakukan perjalanan ke Gresik ini muncul Jumat tengah hari. Namun Sayyidiy Alwi baru memberitahukan niatnya ini kepada istri dan anak-anaknya sore hari, dan Sabtu pagi beliau telah berangkat. Demikianlah para wali Allah melihat dengan cahaya Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.” (HR Turmudzi)

Semoga Allah meridhoi mereka semua dan memberi kita manfaat berkat mereka.

“Sejak Subuh aku merasa gelisah, tapi setelah kalian datang perasaan itu hilang berubah menjadi kegembiraan. Semua ini adalah karunia Allah,” kata Habib Husein.

Syeikh Hadi Makarim lalu bercerita, bahwa ia mimpi melihat Habib Ali Habsyi menggandeng tangan Habib Husein ke luar dari satu rumah masuk ke rumah lain. Kemudian datang seorang lelaki memberi Habib Ali tiga ridâ[7]: dua berwarna hijau dan satu coklat. Habib Ali memakai ridâ yang hijau, memberikan ridâ hijau yang lain kepada Habib Husein, dan memberikan yang coklat kepada Syeikh Hadi Makarim.

Cerita ini menggembirakan hati Habib Husein, beliau lalu pergi dan kembali membawa dua ridâ: yang berwarna hijau buatan Bali diberikan kepada Sayyidiy Alwi, yang putih buatan Solo diberikan kepada Syeikh Hadi Makarim sambil berkata, “Ini sebagai hadiah atas mimpimu yang menggembirakan itu.”

Habib Husein kemudian membacakan lagi syair Habib Abdullah bin Husein:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

Habib Husein berkata, “Perhatikanlah bait syair ini: dan seluruh tindakan-Mu amat indah, ini adalah maqôm ridha.”

Habib Husein lalu bicara tentang mode pakaian. “Penghuni zaman ini telah merubah cara berpakaian mereka, juga cara berpakaian anak mereka, terlebih lagi putri-putri mereka. Mereka memberi anak-anak perempuan mereka pakaian yang pendek hingga di atas lutut. Ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Suatu hari aku datang ke rumah salah seorang pecintaku. Saat itu anak-anak putrinya berpakaian sebagaimana pakaian kebanyakan orang di zaman ini: pendek di atas lutut. Aku lalu bertanya kepadanya, ‘Kalau aku datang ke tempat asal kalian di Hadhramaut, kemudian dengan tongkat di tanganku ini kusingkapkan pakaian putrimu hingga ke atas lutut, bagaimana sikapmu?’ Ia menjawab, ‘Kita akan saling pukul.’ Aku lalu berkata, ‘Tapi kalian sendiri sekarang melakukan hal itu terhadap putri-putri kalian.’

Rupanya ucapanku itu membekas di hatinya. Ia kemudian segera mengganti pakaian putri-putrinya dengan pakaian yang panjang seperti dahulu. Aku pun merasa sangat bahagia. Adapun teman-teman lain, mereka mengakui bahwa mode pakaian macam itu tidak benar, tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Kelak di hari kiamat, anak-anak perempuan mereka akan bergantungan di leher mereka dan berkata, “Ayah kamilah yang mengajarkan semua ini kepada kami.”

Habib Husein membahas persoalan ini panjang lebar dan hanya inilah yang dapat kuhapal. Dan kupikir, ini pun sudah cukup.

Kami kemudian melaksanakan sholat Zhuhur dan Ashar jamak taqdim. Setelah makan siang, Habib Husein menganjurkan agar kami segera berangkat ke Gresik. Kurang lebih pukul 13:30 kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah keluar dari kota Jombang, Abdulkadir Maulakhela melantunkan bait-bait syair humainiyah yang dikarang Sayyidiy Alwi di masa lalu.[8]

Kami berhenti sejenak di Mojokerto, kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di Surabaya pukul 16:30. Di Surabaya kami singgah di rumah seorang sayid yang mulia, yang menempuh jalan leluhurnya, Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Sayyidiy Alwi ingin agar Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf menemani beliau ke Gresik. Sesampainya di depan kampung Al-’Am Abdulkadir bin Hadi, mobil berhenti dan aku diutus Sayyidiy Alwi untuk mengabarkan kedatangan beliau. Al-’Am Abdulkadir[9] segera keluar menemui Sayyidiy Alwi. Keduanya bersalaman dan berpelukan. Ia merasa sangat senang dengan kedatangan Sayyidiy Alwi. Sayyidiy Alwi memberitahu Al-’Am Abdulkadir bahwa beliau ingin segera ke Gresik untuk menemui Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dan meminta agar ia bersedia menemani beliau ke Gresik. Al-’Am Abdulkadir memenuhi permintaan Sayyidiy Alwi, padahal ia telah menyediakan sebuah rumah untuk Sayyidiy Alwi dan rombongannya.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi memiliki seorang adik yang tinggal di Solo. Ia bernama Sayid Ahmad bin Hadi. Ketika adiknya mendengar rencana perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera pergi ke Surabaya dengan kereta api pagi agar dapat memberitahu kakaknya rencana perjalanan Sayyidiy Alwi. Mendengar berita dari adiknya ini, Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf segera menyediakan sebuah rumah karena antara dia dan Sayyidiy Alwi terjalin ikatan mahabbah dan persaudaraan yang sangat kuat.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf meminta Sayyidiy Alwi untuk singgah sebentar di rumah itu. Letaknya tidak jauh dari tempat berhentinya mobil kami. Rumah itu sangat bagus, penuh dengan perabotan indah, dan lampu yang bersinar terang. Kami lalu mengelilingi rumah yang luas itu. Pemilik rumah itu adalah Syarifah Zahra binti Sayid Abdurrahman bin Hasan Assegaf, sepupu Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Rumah itu dijadikan sebagai rumah peristirahatan, sedang pemiliknya tinggal di rumah yang lain.



Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


Catatan Kaki :
[4] Pertanda baik karena pembantu Habib Husein bernama Aman yang berarti keselamatan.
[5] Habib Alwi lahir tahun 1311 H, meninggal tahun 1373 H. Jadi beliau melakukan perjalanan ini pada usia 60 tahun.
[6] Habib Husein lahir di Qaidun tahun 1303 H, meninggal tahun 1376 H. Jadi pada pertemuan ini umur beliau 68 tahun. Beliau ke Jawa tahun 1329 H, ketika berumur 27 tahun.
[7] Ridâ adalah sejenis selendang.
[8] Keterangan ada pada lampiran ke-2 dalam buku.
[9] Habib Abdulkadir bin Hadi Assegaf meninggal di Surabaya bulan Dzul Hijjah tahun 1376 pada usia 68 tahun. Jadi waktu pertemuan ini beliau berusia 63 tahun.

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 1

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net


Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)


Pengantar
Amma ba’du.

Pada hari Sabtu, tanggal 18 Dzulqoidah 1371 H, jam 08.00 pagi, bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1952, Sayyidiy yang diberkahi Alwi bin Habib Al-Quthb Ali bin Muhammad Al-Habsyi, kholifah ayahnya, Quthbul ‘Ârifîn wa Aslâfihil ‘Alawiyyîn, pewaris asrôr mereka, seorang dermawan yang bertakwa, berniat untuk mengunjungi Habib Al-Quthb Al-‘Ârifbillâh wad Dâ’i ilaih Abubakar bin Muhammad Assegaf yang tinggal di kota Gresik. Semoga Allah SWT memanjangkan umur beliau dan memberi kita manfaat dengan berkat beliau. Amin…

Habib Abubakar telah berulang kali menulis surat kepada Sayyidiy Alwi mengabarkan keinginannya untuk menyampaikan sesuatu yang dititipkan kepadanya. Sayyidiy Alwi sendiri telah mendapatkan petunjuk yang jelas dari perkataan Habib Ali dalam diwan[1] beliau:

Wahai kekasihku,
Pergilah dengan nama Allah
kemana pun kau suka
Niscaya kau selamat dari segala kejahatan
Inayah Allah Al-Muhaimin
selalu menjagamu dalam perjalanan

Anak-anak dan kerabat beliau banyak yang hadir saat itu. Sebelum Sayyidiy Alwi meninggalkan kediaman beliau yang penuh berkah di Gurawan Solo, beliau membaca Fatihah dan memanjatkan doa-doa mulia. Membaca Fatihah ketika hendak bepergian merupakan kebiasaan ayah beliau, sebagaimana disebutkan dalam kalam Habib Ali. Kemudian dengan jarinya, Sayyidiy Alwi menulis ayat berikut pada dinding rumahnya:

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”
(QS Al-Qashash, 28:85)

Kami dan Sayyidiy Alwi beranjak keluar. Di depan rumah kendaraan telah menunggu. Sayyidiy Alwi berpamitan kepada mereka yang mengantarkan dan mereka memohon doa dari beliau. Beliau lalu masuk ke dalam mobil milik Sayid Abdullah bin Muhammad Alaydrus. Mobil mewah, masih baru, produksi tahun 1952, merek Desoto Custom.

(Kami berangkat menjemput Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus) Di depan rumahnya telah berkumpul beberapa orang dari golongan sâdah dan lainnya untuk mengantarkan kepergian Sayyidiy Alwi dan memohon doa dari beliau. Di antara mereka adalah Sayid Salim bin Basri. Sayid Muhammad Alaydrus yang telah siap di rumahnya segera bergegas keluar, lalu masuk ke dalam mobil. Jadi, dalam perjalanan ini Sayyidiy Alwi ditemani oleh Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus, Abdulkadir bin Umar Maulakhela, Syeikh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin ‘Abud Deqil dan aku sendiri (Abdulkadir bin Husein bin Segaf Assegaf).

Mobil kemudian membawa kami ke tempat penjualan bensin. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin, lalu dengan memohon pertolongan Allah SWT kami segera menuju Jombang. Dari Solo kami berangkat pukul 08:45 pagi.

Dalam perjalanan Sayyidiy Alwi mendiktekan khotbah catatan perjalanan ini, kemudian kami semua melagukan qoshidah berikut dengan suara nyaring :

Dengan kebesaran Pencipta langit,
Kami duduk bersimpuh
memohon perlindungan dari segala bencana,
Juga dengan Al-Hadi Muhammad dan Sab’ul
Matsâniy[2]

Setelah itu Sayyidiy Alwi menggubah dua bait syair:

Niat kami dalam ziarah ini sebagaimana niat
sang Habib
Kami mengharap karomah yang dapat mempertemukan
kami dengan para pecinta
Telah lama kami nanti kelalaian musuh yang selalu
mengawasi hingga datang izin
Sebab, orang yang memohon dengan benar
pasti ‘kan mendapat jawaban

Abdulkadir bin Umar Maulakhela melagukan syair itu. Sayyidiy Alwi kemudian meneruskan syair gubahannya:

Kami niat berziarah agar semua tujuan tercapai
Kami akan mengunjungi kekasih yang bersemayam
di hati
Husein bin Muhammad, pemuas dahaga mereka yang kehausan
Kami akan mengunjungi kekasih yang tinggal
di pusat kota Jombang

Katakan kepadanya, kami datang bersama rombongan
Bersedekahlah, berdermalah kepada orang
yang telah terlatih lapar
Hidangkan kepada mereka sajian yang pantas
untuk pesta atau untuk tamu
Kami ingin mengunjungi kekasih di pusat kota Jombang

Berilah ilmu orang-orang yang dagangannya telah hilang
agar hari-hari mereka menjadi indah
dan dagangan mereka kembali pulang
Hati menjadi gembira karena akan bertemu para kekasih
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di pusat kota Jombang.

Kami akan mengambil amanat, madad dan titipan
Dari qutbul wara wan nafaa’ah yang tinggal di Kota Gresik
Atas perintahnya dan mereka adalah kaum dermawan dan budiman
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di tengah kota Jombang.

Memasuki kota Sragen kami bertemu dengan rombongan pengantin. Keluar dari kota Sragen, kami bertemu lagi dengan rombongan pengantin. Sayyidiy Alwi berkata, “Ini adalah pertanda baik.” Sebelum berangkat dari Solo seorang yang bernama Faraj (kelapangan, kelonggaran) datang menemui beliau. Beliau senang dengan kejadian ini, sebab menurut beliau semua itu merupakan pertanda baik bagi kepergian beliau. Rasulullah saw juga sangat menyukai pertanda baik.

Setelah itu Abdulkadir Maulakhela melagukan syair Hababah Khodijah, putri Habib Ali Habsyi.[3]

Kami sampai di Madiun dalam waktu 1 ½ jam, lalu singgah di rumah Syeikh ‘Awudh Ba’abduh. Ia menyambut gembira kedatangan Sayyidiy Alwi dan rombongan. Kami istirahat di rumahnya kurang lebih
1 jam, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Catatan Kaki :
[1] Buku yang berisi kumpulan syair.
[2] Sab’ul Matsâniy: Surat Al-Fatihah
[3] Lihat lampiran ke-1