Saturday, July 29, 2006

Jadi Penonton

Assalamu'alaikum wr wb

Ketika dua kubu saling bertentangan pendapat, bertentangan kebijakan, bertentangan aturan maka bisa timbul perang diantara mereka berdua. Kemudian saling menyerang satu sama lainnya, mencari celah kekhilafan lawan, kekhilafan lawan dianggap sebagai peluang untuk mengalahkannya.

Hampir-hampir tidak ditemukan kedamaian kalau berada diantara keduanya, artinya kalau kita tidak memihak salah satu maka akan ikut terasa panasnya hawa perseteruan mereka. Tapi...kehadiran orang yang dihormati, yang dicintai kedua belah pihak yang berseteru insya Allah bisa meredam panasnya perang. Inilah sang duta besar...

Ketika dua keluarga yang ber-besan-an terlibat permasalahan dan berseteru, maka kehadiran cucu bisa berpengaruh besar meredam "perang" keduanya.

Tapi gimana halnya dengan dua (atau lebih) firqoh Islam saling berbeda pendapat, ada yang saling "menyerang", lalu siapa sang duta besar peredam panasnya perseteruan mereka?

"Wis ojo melu-melu, tontonen wae, istighfar sing akeh karo sing nggawe urip! (*)", begitu pesan para guru, "Mari kita bersama-sama merapatkan barisan di dalam barisan yang 'terpilih'. Menjadi penonton dan berperan aktif dalam kehendak-Nya, apapun itu!", lanjut beliau.

Saya masih merenungi apa maksudnya...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


(*) Terjemahannya : "Sudah jangan ikut-ikut, lihat saja, banyak istighfar pada Yang Maha Membuat Hidup!".

1 + 1

Assalamu'alaikum wr wb

Pagi itu, hari pertama bulan Rojab 1427, kami bangun terlambat, jam 4.05an! Sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Padahal biasanya istri saya selesai mencuci hampir bersamaan dengan adzan subuh atau paling lama saat iqomat subuh, tentu saja kami mesti buru-buru agar tidak kesiangan, apalagi akhir-akhir ini air sumur tidak bisa dipompa karena menyusut, mesti ditimba dulu.

Setelah menimba air (istri saya mencuci pakaian) saya mandi, wudlu dan sholat subuh. Habis sholat saya baca rotib al-Haddad di samping anak saya yang sudah bangun, tidak rewel tapi malah senyam-senyum sendiri. Saya geser duduk saya tepat ke sebelahnya, saya lanjutkan bacaan saya dan sengaja saya perdengarkan ke dekat telinganya agar dia nanti jadi orang yang cinta habaib dsb.

Selesai rotib-an, dari dalam kamar terdengar di luar sana teman saya mengajari anaknya menyanyi lagu anak-anak,
"Satu-satu, aku sayang ayah...dua-dua, aku sayang ibu...tiga-tiga, sayang adik kakak...satu dua tiga, sayang semuanya..."

Eh, tiba-tiba saya pengen memodifikasi lagu itu, dan selesai. Kemudian saya nyanyikan buat anak saya yang sudah ada di pangkuan saya, tiduran sambil minum susu.

"...'Satu-satu, Uli (*) sayang Allah... Dua-dua, Uli sayang Nabi... Tiga-tiga, sayang Malaikat... Satu dua tiga, sayang semuanya...' Sayang bapak, sayang ibu, sayang mbah, sayang mbah buyut...", saya bernyanyi, lagu itu saya ulang-ulang terus biar anak saya hafal, lalu tanya siapa tho Allah itu, nah akan saya jawab kalau Allah itu Tuhan, baginda Muhammad itu Nabi dsb.

Saya tidak mau anak saya tidak tahu siapa Allah, seperti ketika suatu saat saya tanya seorang anak usia 3an tahun,
"Adeeek, tahu ndak siapa Allah?", tanya saya.

Anak itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Saya tidak mau anak saya seperti itu, saya mau anak saya sudah tahu kalau Allah itu Tuhannya, baginda Nabi Muhammad itu Nabinya dsb. Yah paling tidak seperti itu...

"Ayo lik (**) lagi, satu-satu, Uli sayang Allah... dua-dua, Uli sayang Nabi... tiga-tiga, sayang Malaikat... satu dua tiga, sayang semuanya... satu-satu, Uli sayang Allah... dua-dua, sayang Rosulullah... tiga-tiga, sayang para Nabi... satu dua tiga, sayang semuanya...", ajak saya sambil terus bernyanyi.

Ketika istri saya masuk kamar selesai mencuci, saya ajak ikut bernyanyi, "Buk buk...nyanyi, buk...", dan, kami pun bernyanyi bersama.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


(*) : Uli adalah panggilan keluarga saya untuk anak saya Muhammad Haykal. Uli diambil dari kata Maulid, sebab anak saya lahir tepat tanggal 12 Robi'ul Awal 1427, MaULId...Uli. Tapi keluarga istri saya panggil anak saya Haykal.

(**) : Lik adalah panggilan untuk anak laki-laki di Jawa (Wuk untuk perempuan), ada juga yang lain yaitu Nang (Nok untuk perempuan). Seperti di Betawi menyebut anak laki-laki dengan Tong, atau Neng untuk perempuan.

Terbangan

Assalamu'alaikum wr wb

Di tempat tinggal saya sekarang, ada sebuah grup rebana (terbangan = Jawa) yang anggotanya mulai dari remaja, bapak-bapak sampai ibu-ibu (vokalis).

Minggu pagi itu, grup rebana itu bersiap-siap melangsir alat-alat rebana dari rumah salah seorang anggotanya ke bak belakang mobil pick-up. Awalnya saya pikir mereka disewa untuk main di suatu tempat seperti biasanya, tapi waktu saya lihat baju yang mereka pakai saya kok kurang yakin mereka disewa orang, biasanya mereka pakai baju koko plus peci di kepala mereka. Kali ini mereka pakai baju batik coklat lengan panjang dan mereka memakai blangkon (topi seperti biasa dipakai dalang wayang), tapi mereka tetap memakai celana panjang biasa.

"Wah, keren...", kata saya dalam hati sambil tersenyum.

Ketika salah seorang dari mereka melihat saya, saya setengah berteriak bertanya, "Mas dapat order atau mau ikut lomba?".

"Mau lomba!", jawabnya.

Ah, benar ternyata mereka mau lomba, lha wong baju yang mereka pakai lain dari biasanya...

"Di mana, mas?"

"Di kelurahan...!"

Saya jadi ingat kata sohib saya bahwa grup rebana yang biasanya mengiringi bib Hasan al-Jufri tidak boleh ikut lomba, hanya mengiringi gurunya dakwah, lalu kalau disewa orang untuk main di suatu tempat ya terima kalau dikasih bisyaroh, kalau tidak dikasih ya jangan minta. Alat-alat mereka biasa saja plus marawis, tanpa gitar, tanpa organ dsb, dan tanpa vokalis wanita. Vokalisnya semua pria-pria yang masya Allah bagus suaranya. Saya salut dengan mereka!

"Kalau ndak tahu ilmunya rebana ya jangan main...", kata sohib saya menceritakan apa yang gurunya pesankan.

"Maksudnya?", tanya saya.

"Nanti kalau sudah main rebana tergoda pengen tambah alat ini dan itu, biar ramai, nanti pengen cari vokalis cewek dsb...tahu kan kalau sudah aja ceweknya?"

Iya ya...saya tersenyum, "Benar juga..."

Siangnya, lewat di depan tempat tinggal saya istri dari salah satu anggota grup rebana yang lomba tadi, lalu saya tanya dia, "Piye menang ndak?"

"Ndak, lha wong yang menang katanya yang pakai menari segala kok!"

"Heh, yang pakai menari?", tanya saya masih tetap tersenyum.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Kotak yang "Berjalan"

Assalamu'alaikum wr wb

Jalan Majapahit sore itu cukup ramai, memang jalan ini selain jalan Kaligawe termasuk jalan teramai kalau pagi dan sore. Pagi banyak orang berangkat kerja dari arah luar Semarang, sore mereka pulang. Sebenarnya ada perbedaan yang cukup mencolok beberapa tahun terakhir ini, dulu pekerja-pekerja dari arah luar Semarang (Mranggen, Demak dsb) kebanyakan memakai sepeda 'onthel', tapi sekarang sedikit yang pakai sepeda, sepertinya beralih ke sepeda bermotor.

Jam 16.50an saya sudah ada di seberang pabrik kaca tempat istri saya kerja, mau jemput istri saya.

Di tengah-tengah riuh rendah suara kendaaran, telinga saya mendengar suara dari arah timur. Awalnya saya pikir suara polisi mengatur lalu lintas dengan mikrofon dan loud-speaker, seperti polisi di dekat kantor koran Suara Merdeka juga begitu, tapi makin lama makin keras, "Ah, mungkin berasal dari loud-speaker Masjid!?", kata saya dalam hati sambil melirik ke arah Masjid di pojok perempatan Pedurungan itu, "Mungkin ada pengajian.".

Ternyata bukan! Suara itu makin dekat ke arah saya, saya penasaran suara apa itu. Ketika pandangan saya alihkan ke toko-toko di seberang jalan, saya melihat ada dua laki-laki berbaju koko, bersarung dan pakai "kupluk" putih membawa kotak berjalan agak cepat minta shodaqoh ke orang-orang.

Ah, suara tadi ternyata berasal dari loud-speaker mobil yang di depannya terpampang kain bertuliskan dari yayasan anu, di daerah itu. "Ooo...jebule kuwi tho!"...

Lalu satu orang menghampiri saya yang sedang duduk di atas sepeda motor saya sambil menyodorkan kotak, minta shodaqoh. Meski saya ingat ada beberapa orang yang menggunakan cara ini untuk kedok mencari uang saja (artinya yayasannya fiktif dsb), tapi saya tetap merogoh saku jaket saya dan mengambil beberapa lembar uang dan memasukkan ke kotak di depan saya.

Saya lihat mobil tadi lewat di depan saya pelan, sementara sopir mobil itu memencet klakson dan melambaikan ke saya. Saya balas lambaian tangannya sambil tersenyum.

"Meski orang itu naik kendaraan mewah sekalipun, kalau dia meminta sesuatu yang kita punya, kasih saja. Tidak usah berpikiran buruk dsb, kasih saja!", kurang lebih begitu pesan bib Ghozi saat menjawab pertanyaan bahwa ada oknum yang menipu orang dengan berkedok dari yayasan anu, dari Masjd itu dsb.

Dan lagi, sore itu tinggal beberapa jam menjelang bulan Rojab yang bib Ghozi pesan agar memperbanyak shodaqoh, memperbanyak baca sholawat, istighfar, puasa dsb. "Amalan di bulan ini double pahalanya.".

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 3

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net

Pertemuan Dengan Habib Abubakar Gresik
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)

Setelah duduk sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke Gersik bersama Al-’Am Abdulkadir. Pukul 17.15 kami telah sampai di depan rumah Habib Al-‘Ârifbillâh Abubakar bin Muhammad Assegaf. Di depan rumah tampak Sayid Hud bin Abdullah, putra Habib Abubakar dan sejumlah Muhib di antaranya Salmin Doman telah siap menyambut kedatangan kami.

Beberapa saat sebelumnya Salmin Doman masih
di Surabaya. Setelah mengetahui tujuan perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera menyusul ke Gresik untuk menyambut Sayyidiy Alwi dan ikut dalam majelis-majelis beliau.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah Habib Abubakar yang penuh berkah. Tatkala menatap wajah beliau yang tampan dan bercahaya seperti bulan purnama,
air mata kami jatuh berderai.

Kebahagiaan menyelimutiku
begitu hebat hingga ‘ku tak kuasa
menahan tangisku

Sayyidiy Alwi menghampiri Habib Abubakar[10], mencium tangan beliau. Keduanya lalu saling berpelukan, menangis dan bersyukur kepada Allah Ta’âlâ atas pertemuan ini. Sepuluh tahun lamanya mereka tidak saling berjumpa. Kekhusyukan dan haibah pertemuan ini dirasakan oleh semua yang hadir. Mereka seakan terpukau dan suasana menjadi hening. Setiap pipi basah oleh air mata, setiap kepala tertunduk ke bawah. Mereka semua menyaksikan pertemuan agung ini setelah perpisahan yang begitu lama. Perpisahan yang dimaksud adalah perpisahan raga, adapun ruh mereka senantiasa hadir dan tak pernah berpisah.

Habib Abubakar, semoga Allah memanjangkan umurnya, menatap Sayyidiy Alwi dan berulang kali mengucapkan selamat datang dan penghormatan. Selang beberapa saat Habib Abubakar memeluk beliau. Ini dilakukannya tiga kali. Tanda-tanda kebahagiaan dan suka cita tampak jelas di wajah keduanya.

Habib Abubakar berkata:

“Yang telah memegang takkan melepaskan.”[11]

“Aku akan mentaatimu. Aku datang kemari dengan berbagai kebutuhan. Dan mengharapkan pemberian untukku, anak-anakku, dan keluargaku,” kata Sayyidiy Alwi. Beliau lalu membacakan salah satu ayat Quran.

“Hai pembesar, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS Yusuf, 12:88)

“Tentu…, tentu…, aku akan memberimu kabar gembira,” kata beliau, “Sejak subuh hari ini aku merasa gelisah dan tak banyak berkata-kata. Aku tidak tahu apa sebabnya. Melihat engkau datang, hilanglah kegelisahanku, hatiku terasa lapang dan aku menjadi bersemangat.”

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


Catatan Kaki :
[10] Habib Abubakar lahir di Besuki Jawa Timur tahun 1285 H, meninggal di Gresik, Jawa Timur pada malam Senin 17 Dzulhijah 1376 H pada usia 91 tahun. Jadi pada pertemuan ini usia beliau 86 tahun.
[11] Maksudnya, Habib Abubakar takkan membiarkan Sayyidiy Alwi pergi.

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 2

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net

Pertemuan Dengan Habib Husein Al-Haddad Jombang
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)

Mobil melaju dengan cepat, seakan bumi ini dilipat.Tak terasa kami telah sampai di Jombang. Kami segera menuju rumah Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Sewaktu mobil kami berhenti di halaman rumah beliau yang luas, beliau memanggil pembantunya, “Hai Aman! Lihatlah, siapa yang datang!” Sayyidiy Alwi berkata, ‘Ini pertanda baik lagi[4].”

Kami lalu memasuki rumah beliau yang luas, yang selalu dipenuhi tamu; pagi maupun sore. Mengetahui yang berkunjung Sayyidiy Alwi, Habib Husein segera berdiri menyambut beliau dengan gembira, “Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.

Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan yang datang secara tiba-tiba.

Habib Husein tidak diberi kabar bahwa Sayyidiy Alwi akan datang berkunjung. Beliau lalu membacakan bait-bait syair Habib Abdullah bin Husein bin Thohir:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

“Kedatangan kalian ini adalah karunia dari Allah. Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn.”

Habib Husein merasa sangat gembira dengan kedatangan Sayyidiy Alwi.

Setelah semuanya duduk dengan nyaman, Sayyidiy Alwi[5] memberitahu Habib Husein[6], “Kepergianku dari Solo adalah untuk mengunjungi Habib Abubakar bin Muhammad Asseggaf di Gresik. Sebab, beliau telah berulang kali mengirim utusan mengundangku. Aku datang kemari untuk meminta pendapat dan saran, karena aku dengar engkau tidak ingin aku datang kepadanya. Aku sengaja menunda kepergianku karena ucapanmu ini. Sekarang aku telah datang, jika kau perintahkan aku untuk melanjutkan perjalanan, aku akan melakukannya. Tetapi jika kau larang aku melanjutkan perjalanan,aku akan pulang.”

Habib Husein lalu menjelaskan, “Aku tidak pernah mengutus seseorang untuk melarangmu pergi. Hanya saja, ketika aku berada di rumah Habib Abubakar, beliau berkata kepadaku, ‘Aku mengemban amanat Habib Ali untuk Alwi. Aku ingin ia datang kemari agar amanat itu dapat kusampaikan.’ Aku lalu berkata kepada beliau, ‘Engkau adalah rumah amanat, di tanganmu amanat itu pasti terjaga, dan Alwi masih hidup bersama kita.’ Sekarang kupikir Habib Abubakar ingin menyampaikannya kepadamu. Hanîan laka… Selamat untukmu. Berilah kami bagian.

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS An-Nisa, 4:8)

Habib Abubakar sekarang ini sedang menunggu kalian. Ia berdiri, duduk, berdiri, duduk… Seandainya kalian langsung berangkat ke sana tentu akan lebih baik.”

Sesungguhnya Sayyidiy Alwi berniat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya bersama Habib Husein. Akan tetapi Habib Husein berhalangan, kaki beliau sakit dan beliau memerintahkan Sayyidiy Alwi agar segera menemui Habib Abubakar yang sedang menunggu-nunggu kedatangannya. Habib Husein rupanya meng-kasyf keadaan ini.

Sebenarnya keinginan untuk melakukan perjalanan ke Gresik ini muncul Jumat tengah hari. Namun Sayyidiy Alwi baru memberitahukan niatnya ini kepada istri dan anak-anaknya sore hari, dan Sabtu pagi beliau telah berangkat. Demikianlah para wali Allah melihat dengan cahaya Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.” (HR Turmudzi)

Semoga Allah meridhoi mereka semua dan memberi kita manfaat berkat mereka.

“Sejak Subuh aku merasa gelisah, tapi setelah kalian datang perasaan itu hilang berubah menjadi kegembiraan. Semua ini adalah karunia Allah,” kata Habib Husein.

Syeikh Hadi Makarim lalu bercerita, bahwa ia mimpi melihat Habib Ali Habsyi menggandeng tangan Habib Husein ke luar dari satu rumah masuk ke rumah lain. Kemudian datang seorang lelaki memberi Habib Ali tiga ridâ[7]: dua berwarna hijau dan satu coklat. Habib Ali memakai ridâ yang hijau, memberikan ridâ hijau yang lain kepada Habib Husein, dan memberikan yang coklat kepada Syeikh Hadi Makarim.

Cerita ini menggembirakan hati Habib Husein, beliau lalu pergi dan kembali membawa dua ridâ: yang berwarna hijau buatan Bali diberikan kepada Sayyidiy Alwi, yang putih buatan Solo diberikan kepada Syeikh Hadi Makarim sambil berkata, “Ini sebagai hadiah atas mimpimu yang menggembirakan itu.”

Habib Husein kemudian membacakan lagi syair Habib Abdullah bin Husein:

Tuhanku, pemberian-Mu amat banyak
dan seluruh perbuatan-Mu amat indah
dan angan-anganku pada-Mu amat panjang
maka bermurahlah kepada orang-orang yang berharap

Habib Husein berkata, “Perhatikanlah bait syair ini: dan seluruh tindakan-Mu amat indah, ini adalah maqôm ridha.”

Habib Husein lalu bicara tentang mode pakaian. “Penghuni zaman ini telah merubah cara berpakaian mereka, juga cara berpakaian anak mereka, terlebih lagi putri-putri mereka. Mereka memberi anak-anak perempuan mereka pakaian yang pendek hingga di atas lutut. Ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Suatu hari aku datang ke rumah salah seorang pecintaku. Saat itu anak-anak putrinya berpakaian sebagaimana pakaian kebanyakan orang di zaman ini: pendek di atas lutut. Aku lalu bertanya kepadanya, ‘Kalau aku datang ke tempat asal kalian di Hadhramaut, kemudian dengan tongkat di tanganku ini kusingkapkan pakaian putrimu hingga ke atas lutut, bagaimana sikapmu?’ Ia menjawab, ‘Kita akan saling pukul.’ Aku lalu berkata, ‘Tapi kalian sendiri sekarang melakukan hal itu terhadap putri-putri kalian.’

Rupanya ucapanku itu membekas di hatinya. Ia kemudian segera mengganti pakaian putri-putrinya dengan pakaian yang panjang seperti dahulu. Aku pun merasa sangat bahagia. Adapun teman-teman lain, mereka mengakui bahwa mode pakaian macam itu tidak benar, tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Kelak di hari kiamat, anak-anak perempuan mereka akan bergantungan di leher mereka dan berkata, “Ayah kamilah yang mengajarkan semua ini kepada kami.”

Habib Husein membahas persoalan ini panjang lebar dan hanya inilah yang dapat kuhapal. Dan kupikir, ini pun sudah cukup.

Kami kemudian melaksanakan sholat Zhuhur dan Ashar jamak taqdim. Setelah makan siang, Habib Husein menganjurkan agar kami segera berangkat ke Gresik. Kurang lebih pukul 13:30 kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah keluar dari kota Jombang, Abdulkadir Maulakhela melantunkan bait-bait syair humainiyah yang dikarang Sayyidiy Alwi di masa lalu.[8]

Kami berhenti sejenak di Mojokerto, kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di Surabaya pukul 16:30. Di Surabaya kami singgah di rumah seorang sayid yang mulia, yang menempuh jalan leluhurnya, Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Sayyidiy Alwi ingin agar Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf menemani beliau ke Gresik. Sesampainya di depan kampung Al-’Am Abdulkadir bin Hadi, mobil berhenti dan aku diutus Sayyidiy Alwi untuk mengabarkan kedatangan beliau. Al-’Am Abdulkadir[9] segera keluar menemui Sayyidiy Alwi. Keduanya bersalaman dan berpelukan. Ia merasa sangat senang dengan kedatangan Sayyidiy Alwi. Sayyidiy Alwi memberitahu Al-’Am Abdulkadir bahwa beliau ingin segera ke Gresik untuk menemui Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dan meminta agar ia bersedia menemani beliau ke Gresik. Al-’Am Abdulkadir memenuhi permintaan Sayyidiy Alwi, padahal ia telah menyediakan sebuah rumah untuk Sayyidiy Alwi dan rombongannya.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi memiliki seorang adik yang tinggal di Solo. Ia bernama Sayid Ahmad bin Hadi. Ketika adiknya mendengar rencana perjalanan Sayyidiy Alwi, ia segera pergi ke Surabaya dengan kereta api pagi agar dapat memberitahu kakaknya rencana perjalanan Sayyidiy Alwi. Mendengar berita dari adiknya ini, Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf segera menyediakan sebuah rumah karena antara dia dan Sayyidiy Alwi terjalin ikatan mahabbah dan persaudaraan yang sangat kuat.

Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf meminta Sayyidiy Alwi untuk singgah sebentar di rumah itu. Letaknya tidak jauh dari tempat berhentinya mobil kami. Rumah itu sangat bagus, penuh dengan perabotan indah, dan lampu yang bersinar terang. Kami lalu mengelilingi rumah yang luas itu. Pemilik rumah itu adalah Syarifah Zahra binti Sayid Abdurrahman bin Hasan Assegaf, sepupu Al-’Am Abdulkadir bin Hadi Asseggaf. Rumah itu dijadikan sebagai rumah peristirahatan, sedang pemiliknya tinggal di rumah yang lain.



Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb


Catatan Kaki :
[4] Pertanda baik karena pembantu Habib Husein bernama Aman yang berarti keselamatan.
[5] Habib Alwi lahir tahun 1311 H, meninggal tahun 1373 H. Jadi beliau melakukan perjalanan ini pada usia 60 tahun.
[6] Habib Husein lahir di Qaidun tahun 1303 H, meninggal tahun 1376 H. Jadi pada pertemuan ini umur beliau 68 tahun. Beliau ke Jawa tahun 1329 H, ketika berumur 27 tahun.
[7] Ridâ adalah sejenis selendang.
[8] Keterangan ada pada lampiran ke-2 dalam buku.
[9] Habib Abdulkadir bin Hadi Assegaf meninggal di Surabaya bulan Dzul Hijjah tahun 1376 pada usia 68 tahun. Jadi waktu pertemuan ini beliau berusia 63 tahun.

Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik 1

Assalamu'alaikum wr wb

Saya ambil dari http://www.zawiya.net


Kunjungan Habib Alwi Solo Kepada Habib Abubakar Gresik
(Catatan Habib Abdulkadir bin Husein Assegaf)


Pengantar
Amma ba’du.

Pada hari Sabtu, tanggal 18 Dzulqoidah 1371 H, jam 08.00 pagi, bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 1952, Sayyidiy yang diberkahi Alwi bin Habib Al-Quthb Ali bin Muhammad Al-Habsyi, kholifah ayahnya, Quthbul ‘Ârifîn wa Aslâfihil ‘Alawiyyîn, pewaris asrôr mereka, seorang dermawan yang bertakwa, berniat untuk mengunjungi Habib Al-Quthb Al-‘Ârifbillâh wad Dâ’i ilaih Abubakar bin Muhammad Assegaf yang tinggal di kota Gresik. Semoga Allah SWT memanjangkan umur beliau dan memberi kita manfaat dengan berkat beliau. Amin…

Habib Abubakar telah berulang kali menulis surat kepada Sayyidiy Alwi mengabarkan keinginannya untuk menyampaikan sesuatu yang dititipkan kepadanya. Sayyidiy Alwi sendiri telah mendapatkan petunjuk yang jelas dari perkataan Habib Ali dalam diwan[1] beliau:

Wahai kekasihku,
Pergilah dengan nama Allah
kemana pun kau suka
Niscaya kau selamat dari segala kejahatan
Inayah Allah Al-Muhaimin
selalu menjagamu dalam perjalanan

Anak-anak dan kerabat beliau banyak yang hadir saat itu. Sebelum Sayyidiy Alwi meninggalkan kediaman beliau yang penuh berkah di Gurawan Solo, beliau membaca Fatihah dan memanjatkan doa-doa mulia. Membaca Fatihah ketika hendak bepergian merupakan kebiasaan ayah beliau, sebagaimana disebutkan dalam kalam Habib Ali. Kemudian dengan jarinya, Sayyidiy Alwi menulis ayat berikut pada dinding rumahnya:

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”
(QS Al-Qashash, 28:85)

Kami dan Sayyidiy Alwi beranjak keluar. Di depan rumah kendaraan telah menunggu. Sayyidiy Alwi berpamitan kepada mereka yang mengantarkan dan mereka memohon doa dari beliau. Beliau lalu masuk ke dalam mobil milik Sayid Abdullah bin Muhammad Alaydrus. Mobil mewah, masih baru, produksi tahun 1952, merek Desoto Custom.

(Kami berangkat menjemput Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus) Di depan rumahnya telah berkumpul beberapa orang dari golongan sâdah dan lainnya untuk mengantarkan kepergian Sayyidiy Alwi dan memohon doa dari beliau. Di antara mereka adalah Sayid Salim bin Basri. Sayid Muhammad Alaydrus yang telah siap di rumahnya segera bergegas keluar, lalu masuk ke dalam mobil. Jadi, dalam perjalanan ini Sayyidiy Alwi ditemani oleh Sayid Muhammad bin Abdullah Alaydrus, Abdulkadir bin Umar Maulakhela, Syeikh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin ‘Abud Deqil dan aku sendiri (Abdulkadir bin Husein bin Segaf Assegaf).

Mobil kemudian membawa kami ke tempat penjualan bensin. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin, lalu dengan memohon pertolongan Allah SWT kami segera menuju Jombang. Dari Solo kami berangkat pukul 08:45 pagi.

Dalam perjalanan Sayyidiy Alwi mendiktekan khotbah catatan perjalanan ini, kemudian kami semua melagukan qoshidah berikut dengan suara nyaring :

Dengan kebesaran Pencipta langit,
Kami duduk bersimpuh
memohon perlindungan dari segala bencana,
Juga dengan Al-Hadi Muhammad dan Sab’ul
Matsâniy[2]

Setelah itu Sayyidiy Alwi menggubah dua bait syair:

Niat kami dalam ziarah ini sebagaimana niat
sang Habib
Kami mengharap karomah yang dapat mempertemukan
kami dengan para pecinta
Telah lama kami nanti kelalaian musuh yang selalu
mengawasi hingga datang izin
Sebab, orang yang memohon dengan benar
pasti ‘kan mendapat jawaban

Abdulkadir bin Umar Maulakhela melagukan syair itu. Sayyidiy Alwi kemudian meneruskan syair gubahannya:

Kami niat berziarah agar semua tujuan tercapai
Kami akan mengunjungi kekasih yang bersemayam
di hati
Husein bin Muhammad, pemuas dahaga mereka yang kehausan
Kami akan mengunjungi kekasih yang tinggal
di pusat kota Jombang

Katakan kepadanya, kami datang bersama rombongan
Bersedekahlah, berdermalah kepada orang
yang telah terlatih lapar
Hidangkan kepada mereka sajian yang pantas
untuk pesta atau untuk tamu
Kami ingin mengunjungi kekasih di pusat kota Jombang

Berilah ilmu orang-orang yang dagangannya telah hilang
agar hari-hari mereka menjadi indah
dan dagangan mereka kembali pulang
Hati menjadi gembira karena akan bertemu para kekasih
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di pusat kota Jombang.

Kami akan mengambil amanat, madad dan titipan
Dari qutbul wara wan nafaa’ah yang tinggal di Kota Gresik
Atas perintahnya dan mereka adalah kaum dermawan dan budiman
Kami hendak mengunjungi kekasih
yang tinggal di tengah kota Jombang.

Memasuki kota Sragen kami bertemu dengan rombongan pengantin. Keluar dari kota Sragen, kami bertemu lagi dengan rombongan pengantin. Sayyidiy Alwi berkata, “Ini adalah pertanda baik.” Sebelum berangkat dari Solo seorang yang bernama Faraj (kelapangan, kelonggaran) datang menemui beliau. Beliau senang dengan kejadian ini, sebab menurut beliau semua itu merupakan pertanda baik bagi kepergian beliau. Rasulullah saw juga sangat menyukai pertanda baik.

Setelah itu Abdulkadir Maulakhela melagukan syair Hababah Khodijah, putri Habib Ali Habsyi.[3]

Kami sampai di Madiun dalam waktu 1 ½ jam, lalu singgah di rumah Syeikh ‘Awudh Ba’abduh. Ia menyambut gembira kedatangan Sayyidiy Alwi dan rombongan. Kami istirahat di rumahnya kurang lebih
1 jam, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Catatan Kaki :
[1] Buku yang berisi kumpulan syair.
[2] Sab’ul Matsâniy: Surat Al-Fatihah
[3] Lihat lampiran ke-1

Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf

SANG PEMILIK DERAJAT YANG TINGGI
Tempat Berlabuhnya Para Auliya


Alkisah tentang seorang Imam Al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya' di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegarditerpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, beliau adalah Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf.

Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan Nabi Muhammad SAW.

Habib Abubakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota keci di kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285 H. Dlm pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah. Namun demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan Inayah Ilahi dlm lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda kebaikan dan kewalian.

Konon diceritakan bahwa beliau mampu mengingat segala kejadian yang dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail. Hal ini tak lain sebagai isyarat akan kekuatan Ruhaniahnya yang telah siap untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari Rabbnya Yang Maha Mulia.

Pada tahun 1293 H. segeralah beliau bersiap untuk melakukan perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, "Hadramaut". Kota yang bersinar dengan cahaya para auliya'. Perjalanan pertama ini adalah atas titah dari nenek beliau (Ibu dari ayahnya) seorang wanita salihah "Fatimah binti Abdullah Allan". Dengan ditemani seorang yang mulia, Assyaikh Muhammad Bazmul, beliaupun berangkat meninggalkan kota kelahiran dan keluarga tercintanya. Setelah menempuh jarak yang begitu jauh dan kepayahan yang tak terbayangkan maka sampailah beliau di kota "Siwuun". sedang pamannya tercinta "Al-allamah Al-habibAbdillah bin Umar" beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar kota tersebut.

Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang Allamah yang terpandang di masanya, Al-Arif billah "Al-habib syaikh bin Umar bin Seggaf". Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya memeluk dan menciuminya, tanpa terasa air mata pun bercucuran dari kedua matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu. Demikianlah seorang penyair berkata: "hati para auliya' memiliki mata yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia lainnya". Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksimal telah membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abubakar yang baru beranjak dewasa. Bagi Habib Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan melalui pamannya "Al-habib Umar" beliau mempelajari Ilmu fiqih dan tasawwuf.

Ketika menempa pendidikan dari sang paman inilah, pada setiap malam beliau dibangunkan untuk shalat tahajjud bersamanya dalam usia yang masih belia. Hal ini sebagai upaya mentradisikan qiyamul-lail yang telah menjadi kebiasaan orang-orang mulia di sisi Allah atas dasar keteladanan dari Baginda Rasulillah SAW. Hingga apa yang dipelajari beliau tidak hanya sebatas teori ilmiah namun telah dipraktekkan dalam amaliah kesehariannya.

Rupanya dalam kamus beliau tak ada istilah kenyang dalam menuntut ilmu, selain dari pamannya ini, beliau juga berkeliling di seantero Hadramaut untuk belajar dan mengambil ijazah dari para ulama' dan pembesar yang tersebar di seluruh kota tersebut. Salah seorang dari sederetan para gurunya yang paling utama, adalah seorang arif billah yang namanya termasyhur di jagad raya ini, guru dari para guru di zamannya " Al-Imam Al-Qutub Al-habib Ali bin Muhammad Al-habsyi" r.a. sebagai Syaikhun-Nadzar. (Guru Pemerhati).

Perhatian dari maha gurunya ini telah tertumpahkan pd murid kesayangannya jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika beliau masih berada di tanah Jawa. Hal ini terbukti dengan sebuah kisah yang sangat menarik antara Al-habib Ali dengan salah seorang muridnya yang lain. Pada suatu hari Habib Ali memanggil salah satu murid setianya. Beliau lalu berkata "Ingatlah ada tiga auliya' yang nama, haliah dan maqam mereka sama". Wali yang pertama telah berada di alam barzakh, yakni Al-habib Qutbul-Mala' Abubakar bin Abdullah alydrus, dan yang kedua engkau pernah melihatnya di masa kecilmu, yaitu Al-habib Abubakar bin Abdullah at-Attas, adapun yang ketiga akan engkau lihat dia di akhir usia kamu. Habib Ali pun tidak menjelaskan lebih lanjut siapakah wali ketiga yang dimaksud olehnya.

Selang waktu beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sang murid tersebut mengalami sebuah mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, kala itu dalam mimpinya Nabi SAW menuntun seorang anak yang masih kecil sembari berkata kepada orang tersebut, lihatlah aku bawa cucuku yang shaleh "Abubakar bin Muhammad Assegaf"! Mimpi ini terulang sebanyak lima kali dalam lima malam berturut-turut, padahal orang tersebut tak pernah kenal dengan Habib Abubakar sebelumnya. Kecuali setelah diperkenalkan oleh Nabi SAW.

Pada saat ia kemudian bersua dengan Habib Abubakar Assegaf, iapun menjadi teringat ucapan gurunya tentang tiga auliya' yang nama, haliah dan maqamnya sama. Lalu ia ceritakan mimpi tersebut dan apa yang pernah dikatakan oleh Habib Ali Al-habsyi kepada beliau. Kiranya tak meleset apa yang diucapkan Habib Ali beberapa tahun silam bahwa ia akan melihat wali yang ketiga di akhir usianya, karena setelah pertemuannya dengan Habib Abubakar ia pun meninggalkan dunia yang fana ini, berpulang ke Rahmatullah, Takdiragukan lagi perhatian yang khusus dari sang guru yang rnulia ini telah tercurahkan kepada murid kesayangannya, hingga suatu saat Al-habib Ali Al-habsyi menikahkan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dengan salah seorang wanita pilihan gurunya ini di kota Siwuun, bahkan Habib Ali sendirilah yang meminang dan menanggung seluruh biaya perkawinannya.

Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi "Syaikhut-Tarbiah" (Guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta Al-habib Abdillah bin Umar Assegaf. Adapun yang menjadi "Syaikhut-Tasliik" (Guru pembimbing beliau) Al-habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi. Sedang yang menjadi "Sya'ikul-Fath" (Guru pembuka) adalah Al-wali- Al-mukasyif Al-habib Abdulqadir bin Ahmad bin Qutban yang acap kali memberinya kabar gembira dengan mengatakan:
"Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Segaf".

Demikianlah beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah serta ilbas dengan berpindah dari pangkuan para auliya' dan pembesar yang satu dan yang lainnya di seluruh Hadramaut, Siwuun, Tarim dan sekitarnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu nama mereka. Setelah semuanya dirasa cukup dan atas izin dari para gu­runya, beliaupun mulai meninggal-kan kota para. auliya' itu untuk kembali ke tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1302 H.

Dengan ditemani Al-Arif billah Alhabib Alwi bin Segaf Assegaf (dimakamkan di Turbah Kebon-Agung Pasuruan) berangkatlah beliau ke Indonesia. Adapun tujuan pertamanya adalah kota kelahirannya Besuki -Jawa timur, setelah tiga tahun tinggal di sana, beliau lalu berhijrah ke kota Gresik pada tahun 1305 H dalam usia dua puluh tahun. Dan di kota inilah beliau bermukim. Mengingat usianya yang masih sangat muda, maka kegiatan menuntut Ilmu, Ijazah dan Ilbas masih terus dilakoninya tanpa kenal lelah.

Beliaupun terus menerus berkunjung kepada para auliya' dan ulama'yang telah menyinari bumi pertiwi ini dengan kesalehannya. Sebagaimana Al-habib Abdullah bin Muhsin Al-attas, Alhabib Ahmad bin Abdullah Al-attas, Alhabib Ahmad bin Muhsin Alhaddar, Alhabib Abdullah bin Ali Alhaddad, Alhabib Abubakar bin Umar bin Yahya, Alhabib Muham­mad bin Ahmad Almuhdar dan masih banyak lagi yang lainnya, Radhiallahu anhum ajmaiin.

Pada tahun yang sama tepatnya pada hari Jum'at, telah terjadi sebuah peristiwa yang di luar jangkauan akal manusia dalam diri beliau. Yaitu di saat beliau tengah khusuk mendengarkan seorang khatib yang menyampaikan khutbahnya di atas mimbar, tiba-tiba beliau mendapat lintasan hati Rahmani dan sebuah izin Rabbaniy, ketika itu nuraninya berkata agar beliau segera mengasingkan diri dari manusia sekitarnya. Hatinya pun menjadi lapang untuk melakukan uzlah menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

Seketika itu juga beliau beranjak meninggalkan Masjid Jami' langsung menuju rumah, dan sejak saat itu beliau tidak lagi menemui seorang pun dan tidak pula memberi kesempatan orang untuk menemuinya. Hal ini beliau lakukan tiada lagi hanya untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Rabbnya dengan segenap jiwa raganya, dan berlangsung sampai lima belas tahun lamanya. Hingga tibanya izin dari Allah agar beliau keluar dari khalwatnya untuk kembali berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.

Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh gurunya Alhabib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, seraya berkata. "Aku telah memohon dan bertawajjuh pada Allah selama tiga hari tiga malam untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf". Habib Muhammad lalu menuntunnya keluar dan membawanya berziarah ke makam seorang wali yang tersohor dan menjadi mahkota bagi segala kemuliaan di zamannya, yakni Alhabib Alwiy bin Muhammad Hasyim r.a.

Setelah ziarah, beliau berdua lalu berangkat menuju kota Surabaya ke kediaman Alhabib Abdullah bin Umar Assegaf. Di tengah- tengah orang-orang yang hadir pada saat itu, berkatalah Alhabib Muhammad bin Idrus sembari tangannya menunjuk ke arah Habib Abubakar "Ini adalah khasanah dari seluruh khasanah Bani Alawiy yang telah kami buka untuk memberi manfaat kepada orang khusus dan umum".

Pasca kejadian tersebut, mulailah Alhabib Abubakar menetapkan jadwal Qira'ah (pembacaan kitab-kitab salaf) di rumahnya. Dalam waktu yg singkat beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya, bagaikan Ka'bah yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang mengunjunginya dari berbagai penjuru dunia. Siapa saja yang datang kepada beliau disertai dg HusnudDzan (berbaik-sangka) maka ia akan beruntung dengan tercapai segala maksudnya dalam waktu yang dekat.

Di Majlis yang diadakannya itu beliau telah mengkhatamkan kitab "Ihya' Ulumuddin" sebanyak lebih dari empat puluh kali. Dan disetiap mengkhatamkannya, beliau selalu mengadakan jamuan besar-besaran untuk orang yang hadir di majlisnya. Alhabib Abubakar dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sirah dan jejak para salafnya, bahkan pada segala adat istiadatnya. Seluruh majlis beliau senantiasa dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah yang bersumber dari semua kitab karya para salafnya.

Jika kita berbicara tentang Maqam dan kedudukan beliau, maka tak satupun dari para Auliya' pada masa beliau yang menyangsikannya. Beliau telah mencapai tingkatan "Asshiddiqiyyah-Alkubra" yang telah diisyaratkan sebagai "Sahibulwaqt" {panglima tertinggi para Auliya' di masanya). Keluhuran maqamnya telah diakui oleh seluruh yang hidup di zaman beliau. Telah berkata Alhabib Muhammad bin Ahmad Almuhdar dalam sebuah suratnya kepada beliau (dengan mengutip beberapa ayat Alqur'an).
"Demi fajar "Dan malam yang sepuluh" dan yang genap dan yang ganjil" (Sesungguhnya Saudaraku Abubakar bin Muham­mad Assegaf adalah permata yang lembut yang beredar dan beterbangan menjelajah seluruh maqam para leluhur-nya)..

Berkata pula panutan kita, seorang yang telah diakui keunggulan dan keilmuannya Al-habib Alwiy bin Muhammad Alhaddad :
"Sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah "Alqutbul Ghauts" dan sesungguhnya ia adalah tempat tumpuan pandangan Allah".

Pada kesempatan lain beliau berkata:
"Aku tidak takut (segan) kepada satu pun makhluk Allah kecuali kepada habib Abubakar bin Muhammad Assegaf".
Sebenarnya pada masa keemasan itu banyak sekali orang-orang yang patut disegani, namun kini mereka semua telah berpulang ke rahmat Allah SWT. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau yang tak dapat kami torehkan dalam tulisan ini.

Berkata juga seorang sumber kebaikan di zamannya, dan kebanggaan pada masanya, seorang da'i yang selalu mengajak kejalan Allah dengan ucapan dan perbuatannya, Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Kwitang-Jakarta). Ketika itu di kediaman Habib Abubakar (Gresik), pada saat beliau menjalin persaudaraan dengannya, seraya memberi isyarat kepada Habib Abubakar dan air matanya berlinang, berkata kepada para hadirin saat itu "Ini (habib Abubakar) adalah raja lebah (raja para auliya') ia saudaraku di jalan Allah, lihatlah kepadanya! Karena memandangnya adalah ibadah".

Berkata seorang panutan orang-orang yang arif Alhabib Husain bin Muhammad Alhaddad, sesungguhnya Alhabib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah, dialah pemimpin para auliya' di masanya, ia telah mencapai "Maqam as-Syuhud" hingga beliau mampu menerawang hakekat dari segala sesuatu. Beliau melanjutkan ungkapannya dengan mengutip sebuah ayat al-Qur'an "Sungguh patut jika dikatakan padanya; Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) (QS: Azzukruf59).

Maksudnya beliau tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah dilimpahi nikmat dan anugerah Allah SWT. Kiranya telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan bersua dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Berkata yang mulia r.a. bahwa:
"Arrasul SAW telah masuk menemuiku sedang aku dalam keadaan terjaga, beliau lalu memelukku dan akupun memeluknya".

Para auliya' bersepakat, bahwa Maqam Ijtima' (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain. Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba' (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW. Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan:
"Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah".

Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata "Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah" maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT. Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi

Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun. Semoga saja sirah beliau yang kami angkat kali ini tidak hanya mengundang decak kagum bagi yang membacanya, namun juga dapat menumbuhkan semangat dalam diri kita guna meningkatkan ubudiah kita dengan senantiasa mendekatkan diri dalam kebaikan dan bersama orang- orang yang baik. Aaamiin..

[Abubakar Hasan Assegaf]



(*) : Diambil dari rubrik Sirah majalah bulanan Cahaya Nabawiy No.14 Th. 1 Dzulhijjah 1424 H / Pebruari 2004 M.

Bulan Rojab 4

Assalamu'alaikum wr wb

"Rosulullah Muhammad Saw lahir di bulan Robi'ul Awal, Robi' ini artinya musim semi, Awal itu pertama, jadi Robi'ul Awal = musim semi yang pertama, Robi'ul Tsani = musim semi yang kedua. Rosulullah Saw lahir di musim semi yang pertama, kenapa? Karena musim semi penuh dengan hawa kegembiraan, hewan-hewannya seger, tumbuh-tumbuhannya juga seger, penuh bunga-bungaan, anginnya kenceng tidak mengandung debu.", kata bib Ghozi Shihab menjelaskan di majlis Nurul Musthofa.

Beliau berpesan agar kita menghafal nama bulan-bulan dalam Islam untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Islam, "Kalau kita sudah tidak hafal lagi bulan-bulan Islam, lalu apa yang kita harapkan dalam Islam, apa ciri kita? Karena penting, Islam dimulai dari kecil-kecil seperti ini.".

Majlis diakhiri dengan pesan agar kita banyak-banyak beramal di bulan Rojab ini, banyak istighfar, paling pendek yaitu :
"Robbifirli warhamni watub alaiya." (70 x)
(Ya Allah ampunkan dosa-dosaku, sayangilah aku dan terimalah taubatku)

Kalau ada yang lain itu lebih baik. Atau dari baginda Rosulullah Saw yaitu :
"Astaghfirullahal'adzim aladzi laillaha illahuwalhayyu qoyumu wa'atubu ilaih." (100 x atau sebanyak-banyaknya)

Atau :
"Robbifirli waliwalidayya warhamhuma kamarobbayani shoghiro."
(boleh 3 / 7 / 11 / 33 / asal ganjil).

"Ini saja kalau tidak bisa yang panjang-panjang, sudah cukup!", kata beliau, "Lalu baca sholawat, shodaqoh, baca al-Qur'an, berpuasa tadi, hindari maksiat dan jangan lupa niatkan ingin apa di dunia ini (Allah pasti mengabulkan) karena istighfar ini salah satu pengkabulan hajat, itu hikmah istighfar, selain niat menggapai ridho-Nya Allah juga niat dunia."

Ada yang tanya tentang niat puasa, berikut jawaban bib Ghozi :
Niat puasa dibaca sehabis sholat Maghrib dan saat sahur. Dan habis sholat Maghrib, sholat sunnah dua kali, istighfar, sholawat dsb. Sedang bacaan niat puasa : Nawaitu shouma sunnata rojab, lillahi ta'ala. (Ya Allah sengaja aku berpuasa di bulan Rojab, karena Allah Ta'ala).

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 3

Assalamu'alaikum wr wb

Hikmah angka 4...

Bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab menjelaskan bahwa ada 4 bulan mulia yang dipilihkan Allah Swt untuk manusia,
"Jadi tradisi orang Arab itu kalau tiba bulan Rojab, mereka berhenti perang sama sekali meski sebelumnya mereka bermusuhan, meski tiap ketemu musuh langsung hantam saja tapi tiba bulan Rojab mereka dengan sendirinya mereka berhenti walau musuh mereka diam-diam saja."

Kenapa? Karena tradisi ini sudah ratusan tahun turun temurun bahwa tidak boleh dilanggar, mereka berkeyakinan barang siapa melanggar tradisi ini akan kena musibah. Itu keyakinan mereka! Ini sebenarnya bukan tradisi jahiliyah tapi ini sebenarnya tradisi dari Nabi Ibrohim As, Nabi Ismail As turun ke anak beliau turun sampai disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw.

Bulan Rojab ini mulia karena Allah memuliakannya, karena banyak keutamaannya di bulan Rojab.

Empat bulan mulia yaitu bulan Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharrom dan Rojab. Kenapa kok 4 bulan itu tidak berurut-urutan tapi bulan Rojab terpisah sendiri sedang 3 lainnya berurutan? Itu karena Allah Swt suka yang ganjil-ganjil...Dzulqo'dah, Dzulhijah dan Muharrom = 3 = ganjil. Rojab = 1 = ganjil. Karena Allah Maha Esa, Maha Tunggal, Allah Swt suka dengan yang ganjil. Ini mempunyai hikmah yang dalam.

Kemudian, diantara banyaknya Malaikat Allah Swt yang terkenal hanya 4 Malaikat terpilih, yaitu Malaikat Jibril, Isrofil, Mikail dan Izro'il. Keempat Malaikat itu pimpinan semua Malaikat.

"Ada seorang bertanya ke saya, 'Ya habib, Malaikat Izro'il kan pencabut nyawa, nah kalau gempa, tsunami kayak Acheh meninggal 100.000 ini gimana mencabutnya? Itu di Indonesia, lha di Eropa, di Amerika dsb?' Belum lagi jin dan makhluq lain yang dicabut oleh Malaikat Izro'il, gimana?", tanya bib Ghozi.

Diterangkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw bahwa Malaikat Izro'il mengangkangi antara bumi dan Arsy. Jadi mudah sekali untuk mematikan yang ada di bumi dsb, kekuasaan Malaikat Izro'il besar sekali, luar biasa!

"Kalau ndak kuat, pingsan kita melihat Malaikat! Ndak kuat manusia.", kata bib Ghozi, "Karena saking gemerlapannya Malaikat ini."

Malaikat Jibril 2 kali (pertama ketika turunnya wahyu pertama di gua Hiro', dan kedua ketika Nabi Saw di-Isro'-Mi'roj-kan) menampakkan wujud aslinya ke baginda Nabi Muhammad Saw, tapi secara total Malaikat Jibril turun ke Nabi Saw sebanyak 124.000 kali. Tidak seperti Nabi As lainnya, Nabi Isa As hanya ditemui 10 kali oleh Malaikat Jibril. Nabi Musa As sekian puluh kali.

Sayap Malaikat Jibril itu 400 buah sayap, satu sayap jika dibentangkan jaraknya antara barat timut bumi. Dahsyat! Ini baru malaikat, apalagi Yang Maha Pencipta Alah Swt, sungguh Maha Luar Biasa, Maha Perkasa dsb.

Kemudian, kitab yang diturunkan Allah Swt pun ada 4 kitab utama, yaitu kitab Taurot, Zabur, Injil dan al-Qur'anul Karim. Lalu diterangkan lagi, anggota wudlu juga ada 4 macam yang wajib, yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki.

Kemudian kalimat tasbih yang utama juga ada 4 yaitu subhanallah, walhamdulillah, walaillaha illallah, Allahu akbar.

Lalu musim juga ada 4, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. Juga suhu ada 4 yaitu panas, dingin, lembab dan kering.

Inilah diantaranya hikmah angka 4...

Bib Ghozi melanjutkan, "Jadi jangan dikira angka-angka itu ndak ada makna, semua bermakna, seperti angka 7 yaitu Allah Swt ciptakan langit tujuh lapis, bumi 7 lapis. Angka 6 juga, semua angka-angka ini untuk perhitungan manusia dan semua mempunyai hikmah."

Lalu angka 13 = angka sial?

"Yang tidak kita setujui adalah yang berkata angka 13 itu angka sial, sial darimana, semua angka di sisi Allah semuanya baik tidak ada yang sial, tidak ada satu pun sial, semuanya baik, semua diberi keistimewaan." jawab beliau.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 2

Assalamu'alaikum wr wb

"Cara puasa di bulan Rojab, boleh puasa satu bulan berturut-turut, karena istimewa bulan ini...boleh 30 hari, tapi kalau kita tidak kuat, paling tidak diseling-seling. Hari pertama (1 Rojab 1427 H) ini Rabu, 26 juli 2006, kemudian Kamis puasa, lalu Senin Kamis Senin Kamis, kemudian 3 hari tengah bulan (tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah), kemudian diakhiri tanggal 27 Rojab ketika Rosul Saw Isro' Mi'roj." kata bib Ghozi menjawab pertanyaan seputar bulan Rojab.

Pahalanya berdobel-dobel dikaruniakan Allah Swt, jadi cara puasanya boleh berturut-turut, boleh berseling-seling, boleh sehari puasa sehari tidak, atau sehari sebulan karena tidak kuat karena penyakit itu boleh, tapi usahakan pernah puasa minimal satu hari di bulan Rojab.

Rojab ini terdiri dari 3 kata bahasa Arab : RO, JIM, dan BA.

1. Ro dari ROHMAT, rohmat kasih sayang Allah Swt.

2. Jim dari JURMATUL ABD, jurmah itu artinya dosa atau keburukan dari hamba-hamba-Nya Allah. Jadi ditengah, dimulai dengan rohmat-Nya Allah Swt.

3. Ba dari BIRRULLAH, keMaha-Baikkan Allah Swt, limpahan karunia Allah Swt.

Jadi dosa hamba-hamba Allah Swt yang beriman ini diapit dengan rohmat dan kebajikan, seakan-akan Allah berfirman begini,
"Wahai hamba-hamba-Ku yang telah memasuki bulan Rojab dengan kesungguhan hati, dengan amal ibadah yang telah Aku perintahkan melalui Nabi-Ku, yang mengagungkan bulan-Ku, ketahuilah bahwa seluruh dosa-dosamu Kuampunkan karena rohmat dan keMaha-Baikkan-Ku."

Tapi bagi orang yang bermaksiat di bulan Rojab, hati-hati, dobel dosanya, na'udzubillah mindzalik.

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Bulan Rojab 1

Assalamu'alaikum wr wb

Sore itu di majlis Nurul Musthofa...

Bib Ghozi mengisahkan tentang seorang Ibu yang sangat alim, senang ibadah pada Allah Swt, ahli zuhud. Suatu saat Ibu ini berpesan pada anaknya agar kalau beliau meninggal dunia, agar dikafani dengan kain yang kasar saja. Anak beliau mengiyakan pesan Ibunya.

Tapi setelah Ibunya meninggal, sang anak ini tidak tega mengkafani Ibunya dengan kain kasar, dibelikannya kain yang halus mahal sebagai pengganti.

"Akhirnya malamnya mimpi, anak tersebut ditemui Ibunya, si Ibu ini berkata, 'Wahai anakku, aku ndak rela karena kau telah menyalahi amanat, ingkar terhadap amanat, tidak kau jalankan!' ", kata bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab.

Keesokan harinya si anak pergi ke kuburan dan dibongkarnya makam Ibunya. Begitu selesai dibongkar, sudah tidak ada lagi jenazah Ibunya. Dia menangis menyesal,
"Ya Allah, ampunkan dosaku wahai Ibuku, ampunkan dosaku, ridhoi segala amalku...aku niat baik sebetulnya...", kata si anak.

Khilaf anak ini, akhirnya ada seruan dari langit.....
"Wahai si fulan, jangan kau bersedih, sesungguhnya Ibumu telah dirohmati Allah Swt karena dia telah memuliakan bulan Rojab maka Kami tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang mengagungkan bulan Rojab dengan amalan sholeh. Maka telah ganti seluruhnya dan kamu telah diridhoi Allah Swt."

Ini kisah wanita yang sholehah, yang hidup di negeri Palestina.

Kenapa kok anak ini bermimpi tiba-tiba, terus menggali ulang kuburan? Sebetulnya Allah ingin menunjukkan karena manusia ini kalau tanpa bukti kadang-kadang tidak percaya, selalu dihitung dengan akal. Ada yang berkata, "Ah, ndak mungkin..." dan segala macam, padahal bagi Allah sangat mudah untuk menghidupkan mematikan seseorang, untuk memberi nikmat seseorang walau di kuburan, mungkin bagi kita tidak mungkin tapi bagi Allah itu sangat mungkin. Dan ini Allah tunjukkan...kenapa anak itu bisa seperti itu? Ini nikmat dan rohmat dari Allah, pelajaran untuk kita.

Ini semua keagungan bulan Rojab, jadi amalan Ibu tadi selain puasa, beristighfar, beliau membaca QS al-Ikhlas 12.000 kali per hari, satu bulan penuh.

Ini rohmat yang mesti kita raih, jadi peluang ini jangan sampai hilang, kalau terlewatkan nanti menyesal, kalau menyesal di akhirat itu percuma, percuma kita tidak bisa ulangi, seperti yang Allah gambarkan dalam QS al-Maidah orang-orang kafir berkata,
"Ya Allah, kembalikanlah ya Allah kami ke dunia lagi..."

Ini tidak mungkin!

"Pasti kami kalau Kau kembalikan ke dunia, kami akan menjadi orang Islam, akan mukmin, ibadah, taat..."

Ya percuma, tidak ada artinya lagi penyesalan...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Saturday, July 22, 2006

Yang Terdekat Itu...

Assalamu'alaikum wr wb

Pernah terpikir oleh si fulan bahwa dia takut mati,
"Lihatlah musibah-musibah yang banyak terjadi di negara ini, di dunia ini, bahkan di sana nyawa sudah tidak berharga lagi...dengan mudahnya mereka membunuh orang, pria, wanita bahkan anak balita...", kata si fulan.

Si fulan pernah terpikir dia takut mati...takut kalau gempa dan tsunami melanda tempat tinggalnya, takut kalau terpisah dari keluarganya...
"Lihatlah negara besar itu menghancurkan sebuah negara hanya karena dugaan semata, dugaan yang entah benar atau tidak..."

"Heh wis tho, apa kamu lupa sesuatu yang terdekat dengan kita?", tanya sohibnya.

"Apa itu...?", si fulan balik bertanya, pelan.

"Imam al-Ghozali berkata bahwa sesuatu yang terdekat adalah kematian, kita bahkan ndak tahu apa kita masih hidup setahun lagi, sehari lagi, seminggu lagi, sehari lagi, sejam lagi, semenit lagi dan bahkan kita ndak tahu apa sedetik lagi kita masih hidup...! Kamu bahkan ndak tahu apa kamu bisa menyaksikan anakmu tumbuh dewasa! Kita ndak tahu kapan kita dimatikan..."

Si fulan terdiam membisu...

"Ndak perlu takut kena musibah seperti itu yang belum pasti melanda tempatmu ini, belum tentu...dan kalau pun benar, belum tentu juga yang kamu khawatirkan itu terjadi! Kenapa kamu ndak concern aja kamu masih hidup atau ndak semenit lagi, sebentar lagi kamu masih bisa tertawa atau ndak...bisa aja kan sebentar lagi kita dimatikan?!"

Si fulan mengangguk membenarkan...

"Lalu, apa yang kita bawa untuk bekal? Gimana amal kita...", kata sohibnya dengan menatap si fulan, "Sudah...perbaiki dirimu, perbanyak amal ibadah, istighfar, ikhtiar dan tawwakal...ingat yang terdekat dengan kita adalah maut!"

Si fulan tersenyum...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...


Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Ayunan

Assalamu'alaikum wr wb

(Ini cerita jaman dulu...)

Siang itu, saya dipanggil orang yang hormati...
"Yusa, ke sini...", panggil beliau dari kejauhan.

Saya berjalan menghampiri beliau yang berjalan ke sebuah ruangan, saya ikut di belakang beliau.

"Nggg...kamu yang belum punya apa?", tanya beliau begitu saya berhadapan dengan beliau.

Deg...sebenarnya saya sudah bisa menebak kemana arah tujuan bapak ini, tapi ditanyai tiba-tiba begitu tentu saja saya gelagalapan, "Maksudnya, pak?", saya balik bertanya ke beliau.

"Gini aja, kamu sudah punya kereta dorong?"

"Belum!"

"Ya sudah, nanti saya belikan kereta dorong..."

"Eh, iya pak, terima kasih..."

O gitu tho, ternyata beliau mau kasih hadiah karena kelahiran anak pertama saya tho...alhamdulillaaahhh...tapi kok kereta dorong? Saya tidak suka mendorong-dorong anak di dalam kereta seperti itu.

"Minta ganti aja, minta ganti ayunan aja...anakmu kan suka kalau diayun-ayun...", kata ibu saya memberi jalan keluar.

Akhirnya saya minta ganti ayunan, dan alhamdulillah-nya beliau setuju dengan membalas sms saya : "Ok, GBU."

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...


Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Jangan Meremehkan Sesuatu !

Assalamu'alaikum wr wb

Siang itu si fulan setengah berlari menuruni anak tangga, tujuannya satu : ke kamar mandi! Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering kebelet pipis...

Sesampainya di kamar mandi, karena sudah benar-benar tidak tahan akhirnya dia terpaksa pipis sambil berdiri, sudah tidak sempat lagi untuk jongkok sebagaimana yang diajarkan guru-gurunya bahwa kalau pipis itu sunnahnya sambil jongkok (meski laki-laki), jangan sambil berdiri...karena tidak tahan, dia lupa...

Masih tetap berdiri, dia meratap dalam hati,
"Astaghfirullah, ya Allah jangan jauhkan hamba dari sunnah...ampuni hamba ya, Allah..."
Selalu begitu, penyesalan selalu terakhir datangnya...

Dia menututurkan memang akhir-akhir ini dia sering meninggalkan sholat-sholat sunnah, bahkan sholat wajib-nya pun jarang yang tepat waktu, bahkan sering meninggalkan sholat wajib karena perkara sepele, dia kurang menghargai waktu...sampai-sampai pipis pun dengan berdiri, dia menyesal kenapa seakan dia meremehkan sunnah, yang wajib...

"Padahal dikatakan padaku, jangan sampai meremehkan kita adab sebab meremehkan adab bisa berakibat kita meremehkan perkara sunnah! Jangan sampai kita meremehkan perkara sunnah sebab meremehkan perkara sunnah bisa berakibat kita meremehkan perkara wajib! Jangan meremehkan perkara wajib, meremehkan perkara wajib adalah perkara sangat buruk!"

Saya memperhatikan...

"Tapi kenapa saya lupa........."

Ma'afkan kami ya, Allah...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...


Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Sebuah Harapan

Assalamu'alaikum wr wb

Si fulan benar-benar kepikiran terus tentang kabar datangnya perang besar sebelum Sayyidy Imam al-Mahdi datang yang diperkirakan sebentar lagi, Allahu a'lam...dia takut...takut karena dosanya banyak mungkin...

Hatinya gemetar membayangkan kalau-kalau dia berada pada jaman dimana perang itu berlangsung, apalagi kabar itu menyebutkan manusia nanti hanya tinggal sedikit karena perang itu...dia tidak bisa membayangkan seperti apa jaman itu...kalau diperkirakan sebentar lagi, mungkin dia merasa akan jadi saksi. Si fulan masih gemetar...

Pagi itu setelah mendapat kabar bahwa dulu Nabi Ibrohim As tenang-tenang saja di dalam api yang membakar beliau As, api tidak menyakiti beliau As, api membara tapi tidak membakar tubuh beliau As, hingga dikatakan beliau ibarat ada di taman mawar.

"Ah, iya ya...agaknya aku lupa kembali ke Allah.", kata si fulan tersenyum, "Fafiru illallah, larilah pada Allah..."

Kembali pada Allah, pernah sohib-sohib berdiskusi tentang apa yang kembali pada Allah, jawabannya macam-macam, tapi semuanya kembali kepada Allah, semua...semua dikembalikan pada Allah...sedih dikembali ke Allah, senang dikembalikan ke Allah...ah, sebuah harapan kembali padanya...

Kalau Allah menghendaki, maka api tidak bakal bisa membakar tubuh mulia Nabi Ibrohim As. Kalau Allah menghendaki, yang selamat pasti akan diselamatkan.

Seperti yang dikatakan sohib saya, "Fafiru illallah, larilah kepada Allah...", sohib yang lain berpesan, "Satu satunya tindakan yang paling perlu diambil adalah semakin mendekatkan diri kepadaNya..."

Semoga kita termasuk yang diselamatkan dhohir bathin, selamat dunia akhirat...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Al-Fatihah

Assalamu'alaikum wr wb

Majlis an-Nur, ahad pagi...
Jl. Pethek 55, Semarang...

Saya masuk ruangan tempat majlis bersamaan dengan dimulainya ta'lim oleh bib Ghozi Ahmad Musthofa Shihab, sedang bib Hasan Abdurrohman Zein al-Jufri berhalangan hadir.

Beliau menjelaskan tentang samudra al-Fatehah. Al-Fatehah obat sangat mujarab untuk penyakit dhohir dan bathin, barang siapa merenung tentang samudera al-Fatehah maka dia akan mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Al-Fatehah membicarakan 3 prinsip yang sangat besar :
1. Asal penciptaan manusia, alam
2. Kehidupan manusia dan makhluq lainnya
3. Kembalinya segala makhluq pada Allah Swt

Maka ketika seseorang mengatakan : Alhamdulillah, ini berarti dia menyatakan keTuhanan Allah Swt Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana yang memang berhak mendapatkan pujian itu semata-mata.

Kenapa? Karena Allah Robbal alamin, yang telah menciptakan kita dari tiada menjadi ada, kemudian memfasilitasi segala kehidupan kita hingga jadi lebih mudah, kemudian kita diasah diasuh dipelihara dan diperbaiki oleh Allah Swt.

Maka ketika seorang hamba melanjutkan ucapannya : Arrohmanirrohim, maka Tuhan yang kita kenal, kita ketahui, kita mintai pertolongan adalah penuh dengan limpahan kasih sayang. Jangankan kepada mereka yang beriman, kepada makhluq lainnya Allah limpahkan kasih sayang-Nya dengan memenuhi segala hajat kebutuhan mereka.

Inilah kita meski kenal Tuhan kita, yang penuh memberikan nikmat setiap detik yang kita mohonkan, tiada membeda-bedakan.

Ketika dilanjutkan dengan : Malikiyawmiddin, ini menunjukkan lagi pada kita bahwa Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, penuh Rohmat, memiliki kekuasaan yang penuh di hari kiamat nanti. Kita yang beriman jangan berputus-asa atas rohmat Allah, terhadap apa yang tidak bisa kita raih di dunia ini. Bahwa kita pasti dengan janji Allah akan mendapatkan apa yang kita minta di hari akhir nanti. Bukan hanya di dunia, dilimpahkan juga di akhirat kelak karena tiada penguasa kecuali Allah Swt.

Maka di dalam menghadapi kerisauan, kegalauan, menghadapi kegoncangan ekonomi dsb kita jangan putus asa sebab itu dosa besar di sisi Allah Swt, dengan berputus asa berarti kita tidak menyakini Allah Swt. Sebagai orang beriman diajarkan untuk terus optimis, maka kita dibimbing oleh Allah terus menerus kita mengucapkan : Iyakana' budu waiya kanasta'in, bahwa kita ada yang kita sembah, ada yang mohonkan, ada yang kita harapkan, ada tempat kita bersandar, ada tempat mohon pertolongan, ini sebaik-baiknya tempat sandaran, dan yang kita pinta ini tidak pernah menyia-nyiakan kita yang meminta karena Allah Maha Kaya dan Maha Dermawan. Beda dengan makhluq Allah, yang kaya belum tentu dermawan, yang dermawan belum tentu kaya. Bahkan kalau kita minta pada makhluq Allah kita mendapatkan kehinaan, tapi beda dengan Allah Swt kita meminta malah dikasih dan dimuliakan oleh Allah Swt.

Setelah kita dibimbing kepada siapa kita bermohon, kepada siapa kita beribadah, maka kita dibimbing lagi dengan firman Allah : Ihdinashshirotol mustaqim, shirothol ladzi an'amta alaihim, ghoiril maghdzubi alaihim waladhdholin, agar kita di dunia ini selain tidak berputus asa dan selalu optimis juga kita hati-hati tetap terus berjalan di garis-Nya Allah Swt, di jalan-Nya Allah Swt, karena kalau kita sudah melenceng dari jalan-Nya Allah maka kita dapat murka, rugi kita, rugi dunia rugi akhirat! Na'udzubillah mindzalik...umpama tidak melenceng terlalu jauh, tapi tersesat juga kita merugi.

Kita difasilitasi oleh Allah Swt dengan banyak sekali fasilitas dalam kemudahan, kita dilengkapi dengan segala macam fasilitas dalam diri kita, yaitu akal yang tidak diberikan pada makhluq lainnya (binatang ada otak tapi tidak ada akal), lalu syari'at, tapi meski begitu banyak manusia yang tidak taat pada Allah Swt, masih banyak yang membangkang.

Di dalam diri kita ada nafsu, as-syahwah, al-ghodzob, kemudian yang lebih tinggi yang dikandung bathin yaitu al-Qolbu. Dengan perangkat-perangkat ini semestinya manusia bisa menggapai derajat yang tinggi, tapi karena ada musuh laten dalam diri kita yaitu Iblis dan tentara-tentaranya, ini selalu membuat kita was-was. Allah Swt berfirman bahwa jadikan Iblis dan Syaithon ini musuh yang nyata.


Ada tiga pintu masuknya Syaithon :

1. As-Syahwah
Bencana dari sifat kebinatangan seperti babi, hasrat yang menggebu, kecenderungan hati yang berlebihan. Siapa yang mengikuti as-syahwah akan menjadi dzolim pada dirinya sendiri. As-syahwah akan menimbulkan kerakusan dan ke-bakhil-an. Seseorang yang rakus akan cenderung bakhil, jauh dari sifat dermawan, jauh dari sifat pemurah hati, jangankan memberi harta benda, senyum saja dia bakhil karena dia rakus.

2. Al-Ghodzob
Lebih dahsyat bencananya dari as-syahwah, biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan ambisi atau emosi, mewakili sifat binatang buas. Siapa yang mengikuti as-syahwah dan dibarengi dengan al-ghodzob maka dia akan mendzolimi orang lain karena ambisi, emosi. Al-Ghodzob akan melahirkan keangkuhan dalam diri kita, kagum pada diri kita. Kalau seseorang sudah kagum, angkuh ini berbahaya karena akan timbul kibr (sombong), ini karena ambisi yang menggebu.

3. Al-Hawa
Paling dahsyat bencananya diantara keduanya, ini bawaan dari Syaithon yang terkutuk, biasa diterjemahkan dengan hawa nafsu. Kecenderungan terhadap hawa nafsu akan membuat manusia ingkar kepada Tuhan. Al-Hawa akan melahirkan kekafiran, akan mengingkari segala kenikmatan dari Allah Swt, mengingkari apa saja yang datang dari Rosulullah Saw. Setelah mengingkari maka dia akan membuat sesuatu yang beda, yaitu hal-hal di luar agama, sesat yang tidak direstui Islam!

Itu penyakit yang mesti dihindari, dijauhi, jaga benteng kita jangan sampai tembus, jangan sampai kemasukan Syaithon. Karena kalau Syaithon sampai masuk maka habis kita!


Rosulullah Saw bersabda bahwa aniaya (ke-dzolim-an) itu ada 3 macam, yaitu :

1. Dzolim yang tidak terampunkan oleh Allah Swt
Syirik kepada Allah Swt, menyekutukan Allah Swt, menyembah batu, matahari, air, menyembah sesuatu yang lebih dahsyat menurut dia, ini tidak diampunkan oleh Allah Swt, kalau dosa selain itu dibukakan pintu ampunan oleh Allah Swt asal kita mau memohon ampun dan kembali pada Allah dengan taubatan nasuha (selama hamba-Nya belum menghembuskan nafas terakhirnya). Dzolim jenis ini ditimbulkan oleh al-Hawa (hawa nafsu).

2. Dzolim yang tidak bisa ditinggalkan
Dzolim ini tidak dihilangkan kecuali kita sendiri yang menghilangkannya, yaitu kedzoliman yang kita lakukan antara kita dengan manusia lainnya, misal memaki, fitnah, ghibah, adu domba, mengambil harta mereka. Ini menyangkut muru'ah. Minta ridho mereka dulu baru Allah Swt mengampuni. Dzolim jenis ini disebabkan oleh al-ghodzob (ambisi dan emosi).

3. Dzolim yang semoga Allah Swt menjauhikan keaniayaan tersebut
Yaitu kedzoliman yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri, banyak kita mendzolimi diri kita sendiri karena kebodohan kita, yang dipicu as-syahwah, al-ghodzob, al-hawa, di sini qolbu jadi budak. Kalau manusia melakukan ini maka manusia akan jauh dari Tuhan dan Nabi Saw. Dzolim jenis ini disebabkan oleh as-syahwah (kecenderungan hati yang berlebihan).


Dan, kalau sudah terkumpul 6 sifat yang hina dina ini, maka tinggal satu lagi tugas Syaithon yang mana kalau sifat satu itu masuk ke diri manusia maka hancurlah manusia. Dhohirnya boleh terlihat hebat, tapi ketahuilah bathiniahnya itu hancur. Itu baru di dunia, gimana di akhirat kelak? Dia akan mendapatkan penyesalan yang sangat. Sifat terakhir dari Syaithon itu al-Hasad (dengki). Kalau 7 sifat ini masuk ke diri kita, maka habislah kita! Na'udzubillah mindzalik.

Maka kita diingatkan oleh Allah Swt, al-Qur'anul Karim dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillahirrobbil alamin Arrohmanirrohim Malikiyawmiddin Iyakana' budu waiya kanasta'in Ihdinashshirotol mustaqim, shirothol ladzi an'amta alaihim, ghoiril maghdzubi alaihim waladhdholin dst, ini semua rohmat, Islam agama kasih sayang, Islam agama rohmat bagi seluruh alam semesta, bukan hanya manusia saja tapi semua mandapat kasih sayang dari Allah dengan kehadiran al-Islam, maka dimulai kitab al-Qur'an dengan bismillahirrohmanirrohim, kita memulai semua pekerjaan kita dengan bismillahirrohmanirrohim karena Allah, pangkalannya Allah hingga dapat restu dan berkah dari Allah Swt.

Rosulullah Muhammad Saw bersabda bahwa anda tidak akan mendapatkan sayang kalau anda tidak memberikan kasih sayang, maka ketika anda berkasih sayang kepada penduduk bumi maka dengan otomatis seluruh penduduk langit akan menyayangi anda. Inilah agama kasih sayang, agama rohmat.

Tidak ada penangkal yang jitu dari ke-7 penyakit hati tadi (as-syahwah, al-ghodzob, al-hawa, al-hasad, al-waswasah dst) maka saking sayangnya Allah pada kita, dimulai ayat al-Qur'an dengan rohmat kasih sayang, kita juga diingatkan oleh Allah, begitu kita terakhir meng-khatam-kan al-Qur'an, hati-hati ada makhluq musuh kalian yang nyata yang semestinya kalian hindari dan jauhi serta hati-hati, sebagai berikut :


1. Allah Swt mengingatkan dalam surat al-Falaq : Min hasidin idza hasad.
Karena yang paling berbahaya adalah benci tadi (hasad), kalau sudah mendengki maka hancur anda itu.

Diceritakan baginda Nabi Saw, bahwa Iblis yang terkutuk mengetuk pintu Fir'aun. Fir'aun berkata, "Siapa itu?"

Iblis berkata, "Wahai Fir'aun, kalau Anda memang betul Tuhan, maka Anda tahu siapa yang mengetuk pintu Anda!"

Ternyata Fir'aun tidak tahu karena memang Fir'aun bukan Tuhan, boro-boro Tuhan, jadi mulia saja dia tidak, itu Fir'aun...hanya saja dia mendapatkan kekuasaan, kerajaan, nikmat dari Allah tapi dia ingkari. Maka Iblis langsung menerobos tamannya Fir'aun dan bertanya, "Wahai Fir'aun, siapa diantara makhluq Allah yang paling jahat di dunia ini selain kita berdua?"

"Sesungguhnya makhluq yang paling jahat selain kita yaitu al-hasid (pendengki).", jawab Fir'aun.

"Betul!" kata Iblis, "Karena dengkilah maka aku terkutuk!"

Karena dengki kepada Nabi Adam As dan sayyidah Hawa, Iblis terkutuk sampai akhir yaumil kiamat, na'udzubillah mindzalik. Maka kita terus diingatkan Allah agar terus membaca surat al-Falaq tadi, kita berlindung karena hanya Allah yang bisa membentengi kita dari makhluq yang jahat ini, dan dari orang-orang yang dengki karena dengki timbul di hati dan karena Allah yang menguasai hati maka bermohonlah kepada Allah agar kita dilindungi Allah Swt dari orang-orang yang hasid dan Syaithon yang terkutuk.

2. Allah Swt mengingatkan dalam surat an-Nas : Yuwaswisufisudurinnas.
Bahwa Syaithon itu punya senjata yang paling ampuh adalah yuwaswis (was-was), bikin was-was, ragu-ragu, buruk sangka dsb di qolbu kita maka perbanyak membaca surat-surat tadi mulai dari al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas.

Inilah obat yang sangat ampuh dan mujarab yang bisa menghilangkan segala penyakit hati tadi, dimulai dari surat al-Fatihah : obat yang sangat mujarab untuk penyakit dhohir dan bathin, samudera yang sangat luas, niatkan ikhlas karena Allah maka kita akan mendapatkan apa yang kita hajatkan dari Allah Swt.

Bib Ghozi Shihab mengakhiri ta'lim dengan berdo'a,
"Semoga yang kita kaji pagi ini diridhoi Allah Swt, menambah ketaatan pada Allah Swt, cinta kita pada Rosulullah Saw, diampunkan dosa-dosa kita oleh Allah Swt, dijauhkan dari segala macam petaka, dari segala macam penyakit, diberikan kesabaran dan kekuatan iman dengan rohmat-Nya Allah Swt."

"Aaaamiiiiiiinnnnnnn......."

Setelah bib Ghozi Shihab, kemudian bib Shodiq Abubakar Baharun melanjutkan menyampaikan tentang masalah fiqh. (*)

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Meniru Kebiasaan


Assalamu'alaikum wr wb

Sore itu saya masih asyik surfing di warnet ruang nomer 7, ufgh sebenernya saya sudah kepanasan di sini, habis tidak ada AC...kipas angin cuman satu di tengah plafon dan itu pun pelan, tapi belum selesai posting email...

Tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara wanita di depan ruangan saya,
"Ma'af mas, mau pesan apa?" tanya wanita itu dengan sopan, sambil tersenyum.

Allahu akbar, rok hitam pendek yang dia pakai kira-kira 20an centimeter lebih di atas lututnya, Allah...yang kalau dia duduk mungkin akan susah nutupin aurot-nya. Astaghfirullah...lalu apa yang dia tutupin ya? Allahu akbar...

"Ndak mbak, terima kasih..." jawab saya tersenyum.

Dia pun pergi ke ruangan sebelah sambil menawarkan mau pesan apa. Lalu, saya coba lihat atmosfer sekeliling warnet ini...kebanyakan yang sewa adalah anak-anak muda yang gaya pakaian dan rambut mereka meniru gaya orang-orang bule sana, rambut dicat merah segaris tengah, pakai sepatu hampir selutut tapi pakai rok jauh di atas lutut...ufghhh...

Saya ingat pesan bib Umar bin Hafidz bin syeikh Abubakar bin Salim bahwa, kurang lebih, tidak ada manfaatnya meniru kebiasaan orang-orang yang jauh dari Rosul Saw, orang-orang yang tidak suka dengan Rosul Saw, sama sekali tidak bermanfaat! Lebih baik tirulah kebiasaan orang-orang yang cinta pada Allah, pada Rosul, pada para salaf, pada kholaf, orang-orang kheir...insya Allah ada manfaat dunia akhirat. Allahu a'lam...

"Hmmm...hampir maghrib, kira-kira wanita tadi sholat ndak ya?" tanya saya dalam hati...Allah, saya juga belum sholat...

Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...

Wallahu a'lam bishshowab

Wassalamu'alaikum wr wb

Majlis Romadhon Lalu 4

Assalamu'alaikum wr wb

Malam ke 27 bulan Ramadhon lalu, bib Hasan mengatakan bahwa bib Ali berkata bahwa setiap beliau membaca Qur'an surat al-Fatehah, kalau sampai pada ayat: Iyyakana'bud (Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah), datang dalam akal pikiran bib Ali macam-macam dari banyaknya macam ibadah (puasa, sedekah, dzikir, baca al-Qur'an dsb)

Macamnya ibadah dikatakan sebagian sangat sulit, bib Ali mengatakan bahwa beliau tidak mampu untuk mendirikan semuanya. Lalu Allah SWT memberikan ilham pada beliau lewat ayat sambungannya: Wa iyyakanas ta'in (Dengan-Mu aku mohon perlindungan, petunjuk, pertolongan, kekuatan agar bisa melakukan ibadah ini ya, Allah).

Kita memohon pada Allah maka dikasih tahu oleh Allah, maka bib Ali mengatakan bahwa ini do'a yang paling baik yang ada di al-Qur'an.

Bib Hasan lalu mengatakan bahwa sudah disebutkan bahwa ya Allah, hanya pada-Mu kami menyembah, gimana caranya menyembah? Tak tahu? Tidak punya kekuatan? Maka wa iyyakanas ta'in, dan hanya pada-Mu kami mohon perlindungan dengan macam-macamnya ibadah. Alhamdulillah kalau seseorang diberi oleh Allah SWT hidayah sholat, maka dia diberi nikmat untuk ibadah sholat. Kalau seseorang diberi hidayah membaca al-Qur'an, maka dia diberi nikmat untuk membaca al-Qur'an. Kalau seseorang diberi hidayah wara' dalam dunia, maka dia diberi nikmat untuk wara'. Segala hal ibadah pada Allah SWT, di situ berarti dia diberi nikmat oleh Allah SWT. Kalau dia tambah terus maka dia akan ditambah nikmat oleh Allah SWT.

Bib Ali melanjutkan dengan: Ihdinash shirothol mustaqim, jalan yang lurus jalan yg menuju kepada Allah SWT. Ada macam-macam jalan, semuanya lurus, sholat jalan menuju pada Allah, zakat menuju pada Allah, puasa menuju kepada Allah.

Saat majlis subuh di mushola dekat rumah bib Hasan, beliau berkata bahwa kalau orang barat punya ucapan: Banyak Jalan Menuju Roma, maka kita tidak boleh kalah: Ada Banyak Jalan Menuju Allah SWT. Banyak jalan mencari ridho Allah SWT. Tinggal kita jalani jalan yang kita mampu, sholat itu jalan menuju pada Allah, puasa jalan menuju kepada Allah, dzikir jalan menuju kepada Allah. Segala macam ibadah yang di situ mencari ridho Allah, maka itu jalan menuju kepada Allah.

Masing-masing dikatakan tidak mampu banyak melakukan sholat tapi dia mampu banyak membaca al-Qur'an, maka ini jalan menuju kepada Allah dengan jalan memperbanyak membaca al-Qur'an. Seseorang mungkin tidak bisa banyak membaca al-Qur'an tapi dia bisa sering hadir bertemu dengan orang sholeh (bisa bersalaman, bisa duduk mendengarkan orang sholeh), maka dia diberi nikmat oleh Allah menuju kepada Allah dengan cara mendekatkan diri kepada orang-orang sholeh. Berarti ada banyak jalan menuju kepada Allah SWT.

Jadi dimana di situ ada jalan menuju Allah maka gunakan, cari manfaatnya, cari rahasianya, cari sir-nya sebab di situ ada nikmat dari Allah SWT!

Bib Ali mengatakan bahwa dari bib Abubakar bin Abdullah al-'Atthos (Guru bib Ali) mengatakan bahwa di Mesir selamanya ada 10.000 wali sampai akhir jaman. Dikatakan oleh al-Imam al-Haddad bahwa di dunia ini tidak akan kosong dari 160.000 wali yang menyebar di seluruh dunia. Ada yang kelihatan ada yang tidak. Jumlah 160.000 ini mengambil dari jumlah sahabat Rasul SAW setelah Rasul SAW meninggal, dan jumlah wali tidak akan melebihi jumlah 160.000. Tapi maqom Quthb ini lain lagi, nanti ada lagi, maqom-nya lebih tinggi lagi. Ada Ahdal, Quthb Ghauts (yang memegang keseluruhan dari wali)

Kekuasaan wali bisa satu rumah, bisa satu kampung, bisa satu daerah, bisa satu kota, bisa satu negara, jadi memegang maqom wilayah, ini termasuk orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT. Allah SWT menurunkan rahmat terkadang karena mereka (para wali Allah), dan terkadang Allah SWT menurunkan adzab karena mereka.

Bib Ali mengatakan bahwa di jaman beliau jarang terlihat para wali, maka bib Ali lalu membuka sir orang-orang yang di dekat mereka, dan mereka tidak tahu kalau orang-orang di dekat mereka itu sebenarnya wali, tapi mereka yang dibuka sir-nya bahwa sebenarnya dia itu wali berkata cukup jangan dibuka lagi, mereka tidak kuat, takut terkena riya', takut nanti orang-orang mengejar mereka. Para wali ada yang mastur dan ada yang masyhur, semuanya itu adalah wakil dari Allah SWT.

Seluruh dunia ini tidak akan kosong dari wali-wali, kalau kosong dari wali maka akan dihancurkan oleh Allah SWT, apalagi anak-anak kecil maqom mereka termasuk kedudukan seorang wali, 40 orang Islam kumpul dalam satu tempat maka kedudukannya termasuk maqom seorang wali, ini kita diberi nikmat oleh Allah SWT, apalagi kalau di majlis yang di situ ada wali maka insya Allah do'anya akan lebih dikabulkan oleh Allah SWT.

Ada seseoang penjual seperti ikan asin di sini, dari ikan Hiu, yang biasa menjual kepada keluarga bib Ahmad bin Zein al-Habsyi. Saat bib Ali bertemu dengan penjual ikan itu maka beliau mengenali bahwa penjual ikan itu adalah wali, langsung dipanggil dan dibongkar rahasinya, akhirnya sering mengobrol dengan bib Ali. Penjual ikan yang ternyata wali itu berkata pada bib Ali bahwa cukup bib Ali saja yang tahu rahasinya, dan penjual ikan itu sering datang ke bib Ali, sampai guru bib Ali yaitu bib Idrus bin Umar menegur bib Ali dengan berkata bahwa ternyata bib Ali tahu juga penjual ikan tadi adalah wali. Itu adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT.

Ada satu istilah: "Tidak kenal wali kecuali juga sama-sama wali." Para wali oleh Allah diberi cahaya khusus, dan dikatakan bahwa bekas sujud bukan hanya bekas hitam di dahi, itu hanya salah satu tanda bahwa orang itu sering sujud. Maksudnya sujud ini adalah orang yg benar-benar takut pada Allah, sujud mengharap rahmat-Nya Allah SWT.

Dikatakan oleh bib Ali bahwa suatu hari syeikh Umar Muhayyaris berkata bahwa orang di dekat bib Ali sebenarnya adalah wali juga, dan bib Ali tidak tahu kalau dia itu juga wali.

"Ya Ali, fulan bin fulan ini khal-nya lebih besar dari aku, maqom-nya lebih tinggi dari aku!" kata syeikh Umar.

Ketika mereka-mereka itu melihat orang-orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi, lebih mulia dari mereka bukannya mereka saling menjatuhkan, bahkan mereka saling mendo'akan, humornya mereka adalah humor yang sama-sama mengajak mendekatkan diri pada Allah SWT.

Orang-orang yang tinggal di surga dicabut oleh Allah dari rasa iri, dengki...ini tidak ada di ahli surga, atau pun tidak memasukkan orang ke dalam surga. Jadi kalau kita punya penyakit iri dan dengki cepat-cepatlah minta obat pada Allah SWT.

Bib Hasan menjelaskan bahwa bib Ali mendapatkan kedudukan mengetahui kedudukan orang-orang yang merupakan wali berkat guru beliau, bib Abubakar Abdullah al-'Atthos, dengan lihat matanya saja beliau tahu orang itu wali atau bukan, tidak perlu lagi dengan melihat cahaya Nabawiyah tapi cukup dengan lihat matanya saja beliau sudah tahu orang itu wali atau bukan. Itu salah satu kemuliaan dari bib Ali al-Habsyi.

Bib Hasan bin Abdurrahman al-Jufri lalu menjelaskan tentang kalam bib Hasan bin Abdullah al-'Atthos, bahwa ketika bib Hasan al-'Atthos belajar kitab al-Muadab tahu-tahu beliau tidur, tapi sewaktu beliau tidur ini beliau didatangi oleh penulis kitab itu yaitu syeikh Iskhaq. (Diceritakan oleh bib Abdurrahman Assegaf bahwa barang siapa belum membaca kitab Muadab itu maka dia belum punya adab, orang yang belajar fiqh kalau belum belajar kitab itu maka belum punya adab)

Bib Hasan al-'Atthos lalu bertanya pada syeikh Ikhaq kenapa di dalam kitab syeikh Ikhaq ini kebanyakan menerangkan 2 hal, dan syeikh Iskhaq tidak mengatakan mana yang lebih baik...padahal kebanyakan orang-orang sekarang minta mana yang lebih baik, meskipun mereka mengamalkan tapi mereka bertanya dulu mana yang lebih baik. "Sholat yang lebih baik itu yang mana tho?" seperti itu padahal mereka tidak ada niat untuk mengamalkan, mereka hanya bertanya mana yang lebih baik agar kalau ada yang mereka bisa mengatakan ini yang lebih baik. Dikatakan bahwa sekarang ini kebanyakan keberkahan ilmu itu banyak yang hilang karena orang-orangnya meninggalkan maksud dari ilmu.

Bib Hasan al-'Atthos mengatakan bahwa orang yang belajar kitab Muadab ini yang menanggung urusan syeikh-nya ini bib Abdurrahman Assegaf. Mereka tidak keluar dari jalur orang-orang tuanya dahulu, hingga mereka tidak keluar dari jalur, jadi yang mereka lakukan ya seperti itu juga.

Syair al-Imam al-Haddad: Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, yang mereka menutupi tapak-tapak mereka dengan sungguh-sungguh dan semangat mereka mendapat bagian dari Allah SWT.

Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak ini ceritanya Baginda Rosulullah Muhammad SAW waktu hijrah dari kota Mekkah ke Madinah. Saat masuk gua Tsur, sayyidina Abubakar berjalan di atas telapaknya Rasulullah, persis di atas tapak Rosulullah, jejak telapak sayyidina Abubakar tidak keluar dari jejak telapaknya Rosulullah, karena tidak mau ketahuan jejaknya. Orang-orang jaman Rosul dulu terkenal pencari jejak, jangankan jejak hari itu bahkan jejak bulanan pun bisa mereka temukan.

Saat pencari jejak melihat jejak telapak itu, dikatakan bahwa itu adalah bukan jejak telapak satu orang tapi jejak telapak dua orang, sedang yang satu ini sama dengan jejak yang ada di Ka'bah dekat makam Ibrahim. Jadi jejak telapaknya Rosulullah ini sama dengan jejak telapak di makam Ibrohim, padahal jejak telapak Rosulullah kecil.

Maka sayyidina Abubakar berjalan di atas jejak telapak Rosulullah dengan mengkaburkan pakai dahan pohon kurma yang disapu-sapukan ke jejak telapak mereka biar orang-orang tidak bisa cari jejaknya. Tapi di sini Allah SWT melindungi mereka-mereka dengan kejadian burung dara dan sarang laba-laba. Sebenarnya Allah SWT bisa saja menghancurkan orang-orang kafir tapi ini pelajaran buat kita, selama kita mau berusaha maka akan diberi jalan oleh Allah SWT.

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Majlis Romadhon lalu 3

Assalamu'alaikum wr wb

Malam 26 bulan Ramadhon tahun lalu, bib Hasan mengatakan bahwa bib Ali mengisahkan syeikh Abdul Qodir al-Jailani punya putra yang bernama Abdur Rozaq, sang putra ini seorang yang pandai dalam ilmu agama, alim, ahli muidhoh dsb. Suatu saat ketika dalam suatu majlis, Abdur Rozaq minta ayahnya agar mengijinkannya untuk menyampaikan nasehat, dan syeikh Abudul Qodir mengijinkan.

Abdur Rozaq pun memberikan nasehat-nasehatnya dengan bagus, dengan disertai ayat-ayat al-Qur'an, hadits-hadits dsb, tapi dilihatnya jama'ah tidak ada yang menangis, mereka hanya merasa takjub akan kepandaian putra dari syeikh Abdul Qodir ini, dan Abdur Rozaq bertanya-tanya kenapa begitu.

Ketika Abdur Rozaq sudah selesai memberikan nasehat-nasehatnya, maka syaikh Abdul Qodir ganti memberikan nasehat-nasehatnya. Betapa heran sang putra ini ketika jama'ah menangis karena mendengar perkataan syeikh Abdul Qodir tentang kisah tadi malam ada seorang ibu yang susunya oleh kucing ditumpahkan. Para jama'ah menangis dengan masing-masing alasan.

Abdur Rozaq heran, kenapa bisa begitu? Tapi menjadi jelaslah ketika sudah dijelaskan oleh ayahnya, syeikh Abdul Qodir, bahwa ceramah itu tak hanya sekedar bicara saja, tapi banyak orang yang dengan senyumnya saja sudah memberikan nasehat sendiri, dengan tingkah lakunya saja sudah bisa dia memberikan nasehat sendiri dsb tanpa perlu berkata-kata. Ada banyak yang ceramah tapi sedikit yang tahu tentang agama.

Bib Ali mengisahkan suatu hari beliau bicara dengan muridnya bernama bib Umar bin Muhammad Maulakhela bahwa kali ini kau tidak bisa Idul Fitri di sini (bersama bib Ali) tapi di Jawa. Tahun depan kau akan ber-ied di sini. Lalu oleh bib Umar Maulakhela diaminkan do'a ini.

Kemudian bib Hasan menjelaskan kalam bib syeikh Abubakar bin Salim, syeikh Abubakar bin Salim mengatakan bahwa kemuliaan itu ada dalam taqwa kepada Allah, dan kehinaan ada dalam maksiat kepada Allah. Betapa banyak orang yang bertujuan agar masyarakat senang tapi itu malah membuat Allah murka.

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Thursday, July 20, 2006

Majlis Romadhon Lalu 2

Assalamu'alaikum wr wb

Malam ke 25 bulan Ramadhon tahun lalu, bib Hasan berkata bahwa bib Ali bin Muhammad al-Habsyi menjelaskan bahwa kami melakukan amal-amal kebaikkan, tapi kami hanya mengharapkan Allah SWT saja. Jadi, amal tetap jalan dan Allah SWT satu-satunya harapan.

Seperti halnya kalau kita suka minum kopi merk A, maka kalau kita beli kopi itu di warung dan kita mendapat bonus atau hadiah maka alhamdulillah dan harus disyukuri karena kita mendapat hadiah karena membeli kopi merk A kesukaan kita, tapi kalau tidak mendapat bonus hadiah pun tidak apa-apa, sebab memang kita suka kopi merk A itu meski tanpa hadiah sekalipun, jadi kita suka pada kopi merk A itu bukan semata-mata suka karena ada hadiahnya. Demikian penjelasan bib Hasan.

Suatu ketika bib Ali berkata pada seseorang bernama Said Basalamah, dan beliau mengatakan untuk membaca al-Qur'an, sesuai dengan kemampuan kita, dari yang mudah dulu, lalu amalkan yang mudah dulu.

Ketika disampaikan pada bib Ali oleh salah satu sahabat beliau bahwa dalam majlis bib Ali hadir seorang wanita, bib Ali berkata wanita itu sungguh beruntung bisa hadir di majlis kita, mendengarkan ilmu kita, makan dengan makanan kita, sungguh beruntung wanita itu, bib Ali mendo'akan wanita itu.

Bib Ali seperti yang dijelaskan bib Hasan bahwa bib Ali punya majlis tiap hari senin, dan bib Ali berkata bahwa kalau kita hadir di majlis beliau dengan diniatkan untuk mentaati perintah Allah, perintah Rasul, mencari ilmu, untuk mendengarkan kalamullah, kalam Rasulullah, untuk mendengarkan bacaan al-Qur'an, untuk biar dekat dengan orang alim, untuk menyambung silaturahmi dsb dsb maka dengan satu amalan saja insya Allah semua niat kita tadi terkabul, terkabulnya niat itu bukan karena bib Ali tapi karena Allah SWT saja.

Orang terbagi jadi dua, yang sibuk dengan urusan dunia dan yang sibuk dengan urusan akhirat. bib Ali berkata bahwa pada jaman itu sungguh jarang orang yang datang ke beliau untuk bertanya tentang masalah akhirat tapi mereka datang dengan masalah-masalah dunia. Bahkan bib Ali saat itu menyebut Pulau Jawa, sebab banyak yang datang ke Jawa hanya sebab dunia saja, bukan untuk dakwah dsb.

Bib Ali bertanya di mana tanda-tanda kesedihan saat bulan Ramadhon ini meninggalkan kita? Suatu saat ada seseorang yang menangis karena begitu sedih ditinggalkan bulan Ramadhon, lalu bib Ali berkata bahwa kalau kita selalu ingat pada Allah dan selalu bertambah baik amal kita, dan puasa dari hal-hal terlarang dan melakukan yang diperintahkan, maka kita sesungguhnya dalam keadaan selalu berada di bulan Ramadhon.

Dan tanda-tanda diterimanya suatu amal ibadah adalah kita tahu dari apa-apa yang tidak tahu sebelumnya, dan kita mau berubah.

Bib Hasan menjelaskan, bib syeikh Abubakar bin Salim suatu saat berkata bahwa semua makhluq sudah ditentukan rizqi-nya bahkan sejak dia belum terlahir di dunia jadi tidak boleh mengkhawatirkan rizqi kita.

Membuat sebab boleh tapi jangan lupa siapa penyebab awalnya, bekerja boleh dan sebagai akibatnya adalah mendapatkan nafkah boleh tapi jangan lupakan dari siapa rizqi itu yaitu Allah SWT.

Suatu saat ada seseorang yang ingin memberikan sedikit makanan pada bib syeikh Abubakar bin Salim, tapi saat itu bib syeikh Abubakar sedang tidur, dan lalu murid beliau berkata :
"Apa anda bercanda, syeikh Abubakar sering memberikan banyak shodaqoh yang besar tapi anda hanya akan memberikan sedikit?"

Orang itu sedih mendengar perkataan murid itu.

Pada saat itu syeikh Abubakar bangun dan mendengar apa yang terjadi, dan beliau marah pada murid beliau itu dan berkata :
"Kalau aku tidak mensyukuri nikmat Allah yang sedikit maka bagaimana mungkin aku akan mensyukuri nikmat Allah yang banyak?"

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Wednesday, July 19, 2006

Majlis Romadhon Lalu 1

Assalamu'alaikum wr wb

Sebentar lagi bulan Romadhon datang, insya Allah, saya jadi ingat Romadhon tahun lalu dimana saya beberapa malam terakhir romadhon hadir di majlis roha' di rumah bib Hasan Abdurrohman al-Jufri (Kampung Pranakan di Semarang) tiap jam 22an sampai selesai.

"Begitu tiap tahunnya per malam Romadhon." kata sohib saya.

Bib Hasan al-Jufri membacakan kitab dan menjelaskan kalam-kalam bib Ali bin Muhammad al-Habsyi, dan bib Syeikh Abubakar bin Salim.

Malam 24 Romadhon tahun lalu hanya dihadiri 3 orang saja, di luar hujan deras, sampai-sampai pakaian kami basah. Oleh bib Hasan saya diberi ganti sarung, "Biar tidak masuk angin!", kata beliau.

Bib Hasan al-Jufri memulai majlis dengan menjelaskan bahwa bib Ali al-Habsyi saat membaca al-Qur'an timbul rasa syukur beliau, rasa haibah beliau, yaitu rasa pengagungan yang tinggi dengan melihat siapa yang berbicara lewat al-Qur'an itu, beliau bersyukur diberi kenikmatan bisa baca al-Qur'an, sebab al-Qur'an ini dari Yang Maha Mulia ke yang mulia dsb. Demikianlah yang dirasakan bib Ali saat membaca al-Qur'an.

Dijelaskan bahwa al-Qur'an adalah sumber nasehat-nasehat, yang mana pada al-Qur'an nasehat-nasehat itu bersumber.

Dikisahkan juga bahwa suatu ketika saat malam ke-23 Ramadhan, bib Ali berdo'a yang do'a beliau itu dikabulkan oleh Allah SWT, beliau berdo'a agar malam itu mendapatkan Lailatul Qodr.

Bib Ali mengajak agar tiap saat untuk menyebut Rosulullah Muhammad SAW, dan pada jaman beliau, sahabat-sahabat beliau bergantungan pada bib Ali dan bib Ali bergantungan pada Rosulullah Muhammad SAW. Semoga kita dijadikan umat yang shidiq pada Rosulullah Muhammad SAW.

Setelah majlis berakhir dengan qoshidah-qoshidah dari bib Hasan dan do'a. Bib Hasan al-Jufri mengatakan bahwa tanda-tanda kita mendapatkan malam Lailatul Qodr itu kalau kita bertambah baik amal ibadah kita, kalau ini terjadi tiap hari meski tidak di bulan Ramadhon maka inilah Lailatul Qodr buat kita, tapi secara khusus Lailatul Qodr itu ada di bulan Ramadhon.

Dan beliau menambahkan bahwa sebenarnya saat malam Lailatul Qodr itu Malaikat-Malaikat turun dipimpin oleh Malaikat Jibril dan mendatangi tiap umat Islam sambil mengucapkan salam. Kalau pada saat itu kita sedang dalam keadaan yang baik, dalam keadaan ingat pada Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan sedang beribadah maka insya Allah kita mendapatkan Lailatul Qodr. Tapi kalau saat itu kita sedang tidak dalam keadaan ibadah, tidak ingat pada Allah dan Rosul-Nya, sedang berbuat buruk maka sungguh amat disayangkan, dan merugi.

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

Tuesday, July 18, 2006

Harom Itu Tidak Nikmat !

Assalamu'alaikum wr wb

Tiap kali ke warnet, insya Allah hampir bisa dipastikan komputer yang saya pakai ada gambar-gambar, cerita dan video xxx-nya, ada perasaan tergoda tapi tetap saya hapus xxx files itu, maksud saya biar orang sehabis saya yang pakai komputer ini tidak bisa melihat xxx files itu, i was deleted them!

Bib Ghozi Shihab berpesan dalam majlis beliau,
"Ada tiga pintu di dalam diri kita yang mesti kita jauhi, yaitu :
1. As-Syahwah (hasrat)
2. Al-Ghozob (ambisi, emosi)
3. Al-Hawa (hawa nafsu)
Dan, nomer tiga terberat!".

Ketiganya menimbulkan akibat yang berbahaya bagi kita, diri kita, tanpa kita sadari! (*)

Lalu saya ingat pesab bib Ahmad Zein al-Jufri,
"Habis pulang dari sini, sampaikan apa-apa yang diterangkan di sini pada keluarga antum, biar dapat manfaatnya, meski satu ayat sampaikan..."

Did i do that? Yah setidaknya saya berusaha membuang "sampah" biar orang setelah saya bisa lebih terhindar dari "bau busuknya"...semoga saja mereka tidak mengumpulkan "sampah" seperti itu lagi...tapi kalau pun "sampah dikumpulkan lagi, insya Allah tetap saya buang kalau ketemu saya...

"Bib, kata orang yang di-harom-kan itu nikmat ya...?" tanya teman saya pada bib Ghozi.

"Ah, kata siapa, gimana bisa dikatakan nikmat kalau yang di-harom-kan itu merusak diri kita? Narkoba itu merusak otak dsb, sex bebas itu menimbulkan penyakit kelamin, minuman keras itu pahit jadi dimana nikmatnya? Peminum bilang enak sebab lidah mereka sudah pahit...tidak ada kenikmatan dalam hal harom!"

Astaghfirullah...

Wallahu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb

(*) : Tentang as-Syahwah, al-Ghodzob dan al-Hawa akan saya sampaikan di postingan selanjutnya, insya Allah.