Showing posts with label Mu'amalah. Show all posts
Showing posts with label Mu'amalah. Show all posts

Wednesday, January 07, 2009

Peristiwa Ghaza

Oleh : Habib Ali Aljufri

Wasiat Habib Ali Aljufri mengenai peristiwa Ghaza

Al-Habib Ali bin Abdurrahman Aljufri berwasiat kepada segenap kaum muslimin untuk membantu doa kepada saudara-saudara kita kaum muslimin di Ghaza khususnya, dan di segenap penjuru dunia umumnya, dengan berlindung kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya, seraya membaca firman Allah,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ
فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ
وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.' "
(QS. Ali Imron: 173)


حسبنا الله ونعم الوكيل

"HasbunaAllah wa ni'mal wakiil" - dibaca 450 kali.


فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ
وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(QS. Ali Imron: 174)

- dibaca sedikitnya 70 kali di waktu sore.

Monday, January 05, 2009

Menyambut Muharrom 1430 H

Oleh : Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiry


Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Yang memiliki kekuatan dan kenikmatan, Yang memberikan karunia kepada kita dengan kenikmatan iman dan Islam, Yang menjadikan perputaran tahun sebagai sebab perpindahan manusia dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, pemuka manusia yang terbaik dalam berhaji, bershalat dan berpuasa, dan juga kepada para keluarga dan para sahabatnya panutan umat.

Amma ba'du.

Bulan Muharram telah datang kepada kita. Dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini, kita menyambut tahun baru 1430 H dan meninggalkan tahun sebelumnya 1429 H. Kita memohon kepada Allah untuk menjadikan datangnya tahun hijriyah ini sebagai datangnya kebaikan, keberkahan, kemenangan dan penguatan kepada Islam dan kaum muslimin, insya Allah.

Bulan Muharram adalah termasuk dari bulan-bulan haram. Disebutkan di dalam hadits Nabi SAW berkenaan dengan turunnya firman Allah Ta'ala,

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram".
(QS. At-Taubah: 36)

Yang dimaksud empat bulan haram tersebut adalah Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Juga disebutkan di dalam hadits yang lain bahwa paling utamanya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram. Berpuasa satu hari di bulan Muharram menyamai puasa tiga puluh hari.

Oleh karena itu, seharusnya bagi kita untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan taubat nashuhah, dan berubah dari keadaan yang buruk yang pernah dilakukan sebelumnya menuju ke keadaan yang baik.

Bulan Muharram ini dijadikan patokan sebagai awal tahun untuk penanggalan hijriyah yang baru, meskipun sesungguhnya peristiwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal, akan tetapi bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Hal itu terjadi pada tahun ke -17 H, pada masa khalifah Umar bin Khatthab ra.

Di saat itu para sahabat bersepakat menjadikan bulan Muharram sebagai awal bulan dalam penanggalan hijriyah dikarenakan berbagai pertimbangan, diantaranya, bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tiba sesudah kewajiban haji yang manusia dari berbagai penjuru menunaikannya. Pertimbangan yang lain yaitu bahwa bulan Muharram adalah bulan yang di dalamnya tercetus ketekadan berhijrah dimana manusia saat itu atau para sahabat Rasulullah SAW bertekad untuk berhijrah. Munculnya tekad dalam kaitannya dengan hijrah yang ke Habasyah dan juga ke Madinah ini terjadi pada bulan Muharram. Sehingga dengan pertimbangan-pertimbangan itulah bulan Muharram dijadikan sebagai bulan pertama dalam penanggalan hijriyah.

Seharusnya pada bulan Muharram ini kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya dengan tekad kuat, usaha keras dan amal-amal kebajikan, serta menjadikan pada setiap tahunnya lebih baik daripada tahun yang sebelumnya. Karenanya seseorang pernah berkata,

"Wahai pemalas, betapa banyak engkau mengulur-ulur taubatmu dari tahun ke tahun dan engkau tidak tahu pada tahun manakah yang mendatangimu sebagai tahun yang penuh kekurangan ataukah kesempurnaan"

Seputar bulan Muharram ini banyak manusia memperingati peristiwa besar, yaitu hijrah Nabi SAW dari kota Mekkah menuju ke kota Madinah. Dalam hal ini, istilah hijrah mengandung dua makna: yaitu hijrah hissiyah dan hijrah ma'nawiyyah.

Adapun hijrah ma'nawiyyah adalah manusia meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, berubah dengan cara kehidupan yang baru dan menuju jalan kehidupan yang baru yang membawanya, dengan tekad kuat, usaha keras dan amal-amal kebajikan. Inilah yang dinamakan dengan hijrah ma'nawiyyah. Nabi SAW menunjukkan hal ini pada Hadits Shahih yang menyebutkan,

"Seorang muslim adalah yang menjadikan kaum muslimin aman dari lisan dan tangannya. Dan seorang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang dilarang Allah atasnya"

Adapun hijrah hissiyah adalah berpindahnya manusia dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu berpindahnya manusia dari tempat kekufuran dan kesyirikan menuju ke tempat yang Islami. Hijrah dengan makna ini terbagi menjadi dua bagian:

1. Hijrah yang telah berlalu dan selesai, yaitu hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah dimana saat itu merupakan tempat yang penuh kekufuran dan kesyirikan, menuju ke kota Madinah Al-Munawwarah. Hijrah yang seperti ini telah berakhir dengan Fath Mekkah (peristiwa pembukaan kota Mekkah), dimana Rasulullah SAW berkata,

"Tidak ada hijrah setelah Fath (Mekkah)"

2. Hijrah yang sampai sekarang selalu ada, yaitu hijrahnya manusia dari suatu tempat kekufuran dan kerusakan dimana kaum muslimin tidak sanggup untuk berdiam disana dalam rangka melaksanakan agamanya dan mendidik anak-anaknya diatas ajaran Islam. Di saat itulah wajib baginya untuk berhijrah menuju ke suatu tempat yang Islami yang memungkinkan disana untuk melaksanakan agamanya. Hijrah dengan makna ini sampai sekarang masih tetap ada. Setiap muslim yang tinggal di tempat kekufuran, jika ia masih mampu melaksanakan agamanya dan mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang benar, maka tidak jadi masalah ia tetap bermukim disana. Akan tetapi, jika ia tidak mampu melaksanakan ajaran Islam di tempat tersebut, maka wajib baginya untuk berhijrah ke tempat yang Islami sehingga ia mampu melaksanakan ajaran agama Islam disitu.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.' Mereka menjawab, 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).' Para malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.' "
(QS. An-Nisa': 97).

Inilah makna istilah hijrah. Dan hijrah yang paling agung yang tercatat dalam sejarah adalah hijrahnya Nabi SAW. Selanjutnya adalah hijrahnya para nabi dan rasul. Tercatat di dalamnya adalah hijrahnya Nabi Ibrahim dari Mesir menuju Palestina, dan hijrahnya Nabi Musa dari Mesir menuju Madyan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

"Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' "
(QS. Ash-Shaaffaat: 99)

Dan ayat-ayat lain yang membicarakan tentang hijrahnya kaum Muhajirin. Istilah kaum Muhajirin sendiri adalah suatu julukan bagi para sahabat yang ikut berhijrah dari Mekkah menuju kota Madinah. Sedangkan bagi para sahabat yang berdiam di kota Madinah disebut dengan kaum Anshar. Dan mereka semua adalah dalam kebaikan dan petunjuk.

Maka sudah seharusnya pada bulan Muharram ini kita menyebarkan kisah tentang hijrahnya Nabi SAW. Disebutkan tentang hijrahnya beliau SAW terjadi pada malam Kamis, hari pertama dari bulan Rabi'ul Awwal. Saat itu berkumpulnya (kaum musyrikin) utuk menghabisi Nabi yang mana direncanakan dengan matang pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar, yaitu pada tanggal 29 Safar. Malam harinya, yaitu malam Kamis awal dari bulan Rabi'ul Awwal, Nabi SAW berhijrah menuju kota Madinah dan sampai disana pada hari ke-12 Rabi'ul Awwal. Kisah ini banyak diceritakan di dalam kitab-kitab sejarah.

Pada bulan Muharram ini juga banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang membawa kegembiraan dan kesedihan. Terlalu panjang untuk diceritakan (di sini), akan tetapi yang paling besar sepanjang sejarah, yang menghancurkan hati dan menangiskan kalbu, adalah peristiwa syahidnya sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra di Karbala pada hari Asyura', yakni hari ke-10 bulan Muharram. Dan sampai sekarang pun masih terkenang bekas-bekas perbuatan keji yang dilakukan oleh Yazid bin Muawiyah dan kroni-kroninya. Semoga Allah membalas orang-orang yang berbuat hal itu dengan keadilan-Nya, bukan dengan kemurahan-Nya. Adapun hakikatnya, sesungguhnya sayyidina Husain tidaklah mendapatkan kecuali kesyahidan, kemuliaan yang agung dan derajat yang tinggi di surga. Semoga Allah meridhoinya dan juga orang-orang mati syahid bersamanya daripada keluarganya semuanya.

Dan pada hari Asyura' disunnahkan untuk berpuasa, sebagaimana sabda Nabi SAW,

"Berpuasa pada hari Asyura' menghilangkan dosa-dosa setahun sebelumnya."

Puasa Asyura' ini sebelumnya merupakan suatu puasa wajib berdasarkan sumber-sumber Islam yang paling kuat, kemudian di-naskh (diganti) dengan puasa Ramadhan.

Pada hari Asyura' ini seharusnya juga memberikan kelapangan pada keluarga karena Nabi SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya,

"Barang siapa memberikan kelapangan kepada keluarganya pada hari Asyura', Allah akan memberikan kelapangan padanya sepanjang tahun."

Setiap amal kebajikan yang dituntut pada setiap waktu, juga dituntut pada hari-hari yang suci, dan diantaranya adalah hari Asyura' tanpa terkecuali. Akan tetapi yang paling utama untuk hal itu adalah puasa dan memberikan kelapangan kepada keluarga sebagaimana yang hadits-hadits shahih mengkhususkannya. Dan sudah seharusnya bagi seorang mukmin untuk melakukannya dengan penuh semangat. Disamping itu seharusnya seorang mukmin juga menambahkan amal-amal kebajikan, seperti menyambung silaturrahmi, bersedekah, mengusap kepala anak yatim, dan juga berziarah kepada orang-orang yang mempunyai keutamaan dan ilmu.

Kita memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala pada seputar tahun ini untuk melimpahkan kepada kita kebaikan, keberkahan, kemenangan dan penguatan kepada Islam dan kaum muslimin, insya Allah.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Dan segala puji bagi Allah penguasa alam semesta.

[Diterjemahkan oleh Bisyarah dari Rubat Tarim]

Tuesday, October 28, 2008

Menikah 2






Sabtu 25 Oktober 2008 teman kami menikah.

CATUR + YUNI

Alhamdulillah dihadiri oleh habib Shodiq bin Abubakar Baharun dan habib Alwi bin Abdullah Alhasni serta ustadz-ustdaz sekitar.

Semoga Allah Swt ridho atas pernikahan kalian. Amin.

Wednesday, October 22, 2008

Poligami

Awal cerita ada seorang kawan mengirimi kami artikel yang mengabarkan bahwa ada seorang pengusaha muslim menikahi wanita usia 12an tahun sebagai istri keduanya, hal ini disetujui oleh istri pertama bahkan kabarnya istri pertama sendiri yang meminta suaminya untuk menikah lagi. Pengusaha tersebut dikabarkan juga bahwa sebelum ini dia shodaqoh Rp. 1an Miliar.

Kisah ini menimbulkan pendapat-pendapat yang pro dan kontra diantara kami. Berikut cuplikan tanya jawab tersebut.


A :

Stupid comments...
Sirik tanda tak mampu....!
Sudah punya perusahaan yang omsetnya 110 M?
Sudah bisa menghidupi orang banyak dengan punya banyak perusahaan?
Masih kerja sama orang lain?
Sudah bisa menafkahi orang lain?
Sudah berapa puluh orang miskin yang sudah Anda tolong?

jika belum, lebih baik Anda diam...komentar Anda hanya akan memalukan diri Anda sendiri


Agus :

Hmm…
Kalo seandainya saya sudah mampu seperti dibawah ini…
- sudah punya perusahaan yang omsetnya 110 M
- sudah bisa menghidupi orang banyak dengan punya banyak perusahaan
- sudah bisa menafkahi orang lain
- sudah menolong banyak orang

Apakah saya boleh melakukan pedhofil? Tanya kenapa?
Just curious


Yusa :

Ya kalau Anda mau dan mampu silahkan aja...tapi maap sepertinya istilah pedhofil kurang cocok dalam hal ini.


Agus :

Maaf untuk semua…saya lupa untuk menghapus email-email yang sebelumnya, sebenernya mau bahas hal lain. Yaitu apakah kalau kita mampu “secara” seperti syarat-syarat itu, boleh menyimpang2 “dikit” dari aturan-aturan norma-norma masyarakat yang ada saat ini?

Regards


Yusa :

Menyimpang itu sangat relatif, begini maksud saya...setiap daerah punya aturan atau kebiasaan yang dilakukan penduduk di daerah tsb. Di Jawa punya kebiasaan yang berbeda dengan Sumatra, akan berbeda pula dengan Kalimantan , Papua, Aceh dsb.

Di Jawa biasa ada acara "mitoni" (acara baca tahlil dan do'a ketika wanita hamil usia 7 bulan) tapi di Saudi mungkin tidak ada, jadi bagi orang Jawa yang tidak melakukan acara "mitoni" bisa jadi terkesan "menyimpang" ...tapi apakah salah tidak "mitoni"? Tidak, acara itu baik, tidak mengadakan acara tsb juga tidak apa-apa.

Demikian juga dengan keyakinan dalam hal keagamaan tentu masing-masing punya kebiasaan. Bagi keyakinan tertentu tidak melarang makan daging babi, tapi bagi Islam ini menyimpang. Manakah yang benar? Ya masing-masing benar sesuai keyakinannya masing-masing.

Dalam Islam pun ada banyak madzhab, yang masing-masing madzhab punya masing-masing aturan atau kebiasaan. Jadi, lakum dinnukum waliyaddin ajalah. Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku. Maksudnya kurang lebih adalah mari melakukan sesuai keyakinan kita dan lebih baik jangan menghakimi kebiasaan dan aturan orang lain sebagai sesuai yang menyimpang misalnya.

Poligami adalah tidak terlarang bagi yang mampu. Mampunya seperti apa itu juga sangat relatif. Yang tidak boleh adalah memaksakan diri. Wallahu a'lam.


Agus :

Terimakasih pak yusa, namun saya masih ada bebebrapa ganjalan, seperti:

1. Jadi apakah ada hukum didalam islam yang menyatakan boleh menikahi gadis / anak gadis yang masih dibawah umur?

2. Dan manakah yang lebih tinggi kedudukannya hukum islam atau hukum Negara?

3. Apakah pendapat pribadi bapak jika ada kasus seorang pria yang sudah dewasa menikahi anak2 berumur 11-12 tahun?

Yang saya maksud disini adalah aturan-aturan dan atau norma-norma yang berlaku umum dan bukan kedaerahan.

Regards


Yusa :

Secara pribadi, saya memilih untuk mendahulukan aturan-aturan agama daripada aturan-aturan negara. Tapi kalau aturan-aturan negara itu sesuai dengan aturan-aturan agama maka itu sangat baik.

Nabi Muhammad Saw adalah teladan yang terbaik, apa yang beliau Saw lakukan adalah lebih baik kita lakukan. Akan tetapi kalau kita tidak mampu ya jangan memaksakan diri untuk melakukannya. Poligami misalnya, belum tentu tiap orang mampu untuk poligami maka jangan memaksakan diri untuk berpoligami. Lebih baik melakukan yang kita mampu melakukannya dengan baik dan istiqomah (rutin).

Nabi Saw menikahi sayidah A'isyah dalam usia muda, dikisahkan beliau "berkumpul" dengan istrinya ketika dia sudah saatnya, seperti yang dilakukan orang yang jadi ide diskusi kita. Kalau rujukan kita adalah Nabi Muhammad Saw maka boleh melakukan apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw selama kita mampu. Mampu dalam artinya yang sangat luas. Mampu materi jelas, mampu dhohir, mampu batin, mampu hatinya, pikirannya, mampu adil, mampu tersenyum lebih sering, mampu lebih bersabar, mampu lebih bersyukur, mampu lebih ikhlas dsb.

Bagi saya, kalau ada orang melakukan seperti yang dilakukan orang tsb itu ya silahkan aja selama tidak melanggar aturan-aturan agama. Kalau seseorang melakukan suatu perbuatan maka dia insya Allah merasa mampu untuk melakukannya dengan baik dan adil. Jadi boleh-boleh aja...tapi tindakan seperti ini tidak wajib ditiru oleh kita.

Tidak wajib ini berarti boleh dilakukan dan tidak melakukannya pun tidak apa-apa.


Sony :

Mas Yusa,
Mohon maaf sebelumnya, melu urun rembug.

Kalau sudah mendasarkan pada doktrin agama sering jadi repot, apalagi seringkali agama dipandang sbg lembaga yg kebal dari kesalahan, karena mendapat mandate langsung dari sang Pencipta. Nabi juga manusia yg bisa salah. Kitab Suci juga bisa salah atau tdk sesuai dg konteks jaman. Namun hal-hal demikian sering dianggap tabu oleh banyak agama. Aturan dan ritual agama juga mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Ajaran atau pengertian agama juga banyak mengalami revisi dari waktu ke waktu, disesuaikan dg zaman dan kemajuan oleh pikir dan batin manusia.

Maaf sekali lagi, hal di atas ini adalah tabu dibicarakan dalam agama, karena sering dianggap menodai kesahihan agama.

Jika kita ambil pertimbangan biologis, umur 11 tahun jelas belum sepenuhnya siap untuk hamil dengan aman, resiko keguguran dan kwalitas anak yg dikandung juga banyak diragukan oleh kedokteran. Menjadi hamil saja sudah menjadi maslah berat bagi anak sesusia itu, apalagi harus menyusui dll yg membutuhkan stamina khusus. Maka atas pertimbangan itu, tidak disarankan utk menikah / kawin pada usia terlalu muda semacam itu, sekalipun mungkin secara fisik sudah bisa hamil.

Jika kita ambil pertimbangan psikologis, anak usia 11 tahun belum cukup matang untuk merawat dirinya sendiri apalagi jika harus merawat anak dan harus bertanggung jawab sepenuhnya. Pekerjaan seorang ibu bukan hanya melayani suami, masak menyajikan minuman, termasuk kebutuhan biologis, tetapi juga mengasuh anak serta menjadi teman diskusi suaminya. Maka secara psikologis kesenjangan usia yg terpaut kelewat jauh juga berisiko menimbulkan hubungan suami istri yg tdk sepadan dan harmonis.

Dari sisi pendidikan, anak seumur itu masih butuh bermain, mengembangkan diri secara alami, menikmati masa remajanya, bergaul dengan teman sebayanya, bersekolah. Bermain sendiri juga merupakan bagian dari persiapannya utk lebih matang dan siap utk mjd ibu yg baik. Maka mengikat anak seusia itu dalam perkawinan sungguh seperti mencabut rumput dari tanahnya dan membebaninya dg masalah-masalah yang belum saatnya ia tanggung.

Uang dan jabatan bukan solusi dan menjawab semua persoalan kebutuhan hidup.

Maka kembali ke agama, agama mestinya dikembangkan untuk membantu manusia menjalani hidup dengan lebih baik dan terhormat serta beradab.


Yusa :

Hehehe...pendapat mas baik sekali, saya setuju.

Masing-masing orang beda dalam menikmati waktu di dalam hidupnya. Memang dianjurkan kita melakukan sesuai dengan usia kita, kalau masih dalam usia main-main maka biarkan dia main-main. Tapi banyak anak di bawah 10 tahun yang hafal Alqur'an. Menghafal Alqur'an bukan hal yang mudah dan sangat menyita waktu, tapi seorang anak di bawah 10 tahun mampu melakukannya dan dia menikmati apa yang dia lakukan.

Yang orang lain lakukan belum tentu cocok bagi kita, yang kita tidak mampu untuk melakukannya maka belum tentu orang lain tidak mampu melakukannya juga. Tiap kita ada kesukaan masing-masing, ada cara masing-masing bagaimana menikmati waktu kita masing-masing.

Berhubungan badan dengan pasangan sah kita setelah menikah itu tidak wajib dilakukan begitu kita kita mengucapkan aqod nikah. Tidak wajib maksudnya adalah berhubungan badan ini boleh ditunda dengan persetujuan bersama, suami ridho dan istri ikhlas serta keluarga memahami.

Pada dasarnya, ada sebagian orang yang sesuai dengan kondisi yang mas jelaskan di bawah, tapi ada yang sesuai dengan kondisi seperti orang tsb. Masing-masing bagus asal menyesuaikan dengan tempatnya dan kecocokan pribadinya dengan lingkungan keluarganya.


David Goh :

Salam mas Yusa..boleh tanya...

1. Jika mas punya anak perempuan umur 11 tahun, dan ada seorang yang mau menikahi, karena sudah siap, anak mas juga bilang siap, apakah mas akan katakan padanya?

2. ada kata-kata kurang lebih: "yang adil hanya ALLAH" artinya tidak ada yang adil didunia ini, bagaimana kita bisa menakarnya adil bagi seseorang, sehingga seseorang layak di sebut adil? mohon petunjuk...

3. Maaf untuk mas Yusa dan saudaraku yang muslim, mohon bertanya, apakah Nabi Muhamad itu sempurna (tanpa dosa), kalau tidak bisa beri petunjuk?

Terima kasih sebelumnya.. kalau dirasa kurang berkenan, jangan direspon.. maaf sebelumnya...


Yusa :

1. Wallahu a'lam...selama semua sudah mau dan mampu serta tidak saling melanggar aturan-aturan agama insya Allah saya lakukan.

2. Ada dua yaitu Tuhan dan yang selain Tuhan disebut makhluq. Kalau Tuhan itu Maha Adil maka makhluq tidak Maha Adil, boleh poligami kalau merasa dirinya siap berlaku adil kepada istri-istrinya nanti. Adil yang bagaimana, apakah adil yang seperti Nabi Saw 100%? Tentu tidak sebab tidak ada orang yang akan sama dengan Nabi Saw 100%. Adil sesuai kadar kita masing2.

Sama halnya dengan khusyuk. Sholat yang utama adalah yang khusyuk seperti yang dicontohkan Nabi Saw. Nah, kalau kita harus khusyuk seperti Nabi Saw maka bagaimana sholat kita? Tentu tidak akan diterima lha wong tidak khusyuk seperti Nabi Saw! Khusyuk itu sesuai kadar kemampuan kita masing2. Allah Swt Maha Tahu.

Jadi poligami itu tidak terlarang tapi juga tidak diwajibkan bagi umat Nabi Saw. Semua balik ke kita, apakah kita mampu atau tidak mencontoh Nabi Saw, kalau tidak mampu maka jangan berpoligami kalau hanya akan menimbulkan masalah saja. Kalau seandainya dengan dia berpoligami akan menimbulkan banyak manfaat buat keluarga dan lingkungannya seperti yang dicontohkan Nabi Saw maka tidak dilarang.

3. Nabi Saw itu diciptakan sebelum Allah Swt menciptakan apapun, semua diciptakan untuk Nabi Saw. Allah Swt mengkaruniakan hidayah-Nya, keselamatan pada beliau Saw dan semuanya. Kalau semua diciptakan untuk Nabi Saw maka Nabi Saw tentu tidak menginginkan dunia seisinya.


David Goh :

Salam mas Yusa, terima Kasih jawabannya, tambahan tanya:

1. apa yang akan Mas katakan (nasehat) pada anak Mas? (kalau semua sudah sesuai jawaban mas)

2. ooohhh adilnya tidak ada ukuran pasti ya.. terima kasih jawabannya...

3. Jadinya ada Dosa atau Tidak?

Mohon petunjuk lagi.


Yusa :

1. Jadilah wanita sholehah.

2. Teladannya adalah yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, berusaha meneladani beliau Saw semaksimal yang kita bisa. Tapi tidak bisa kalau diharuskan adilnya kita sama persis dengan adilnya Nabi Muhammad Saw, sebab iman kita tidak sama dengan iman Nabi Saw jadi berlakulah adil semaksimal kita. Dan jangan memaksakan diri.

3. Dosa ada, yang menentukan kita itu berdosa atau tidak adalah Allah Swt, bukan makhluq. Kita hanya boleh mengingatkan bahwa ada perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan murka-Nya pada kita yang melakukan larangan-larangan- Nya. Murka-Nya mendatangkan dosa. Ridho-Nya mendatangkan pahala.


David Goh :

Terima kasih jawabannya mas Yusa...


Yusa :

Sama-sama, pak...

Tuesday, September 09, 2008

Ummi, Umma, Ummu

Oleh : Ustadz Temie Iswanto

Seorang warga Indonesia pernah ke Pattaya, Thailand, sekitar 3 tahun yang lalu. Dengan izin Allah kami bisa ketemu di Jakarta pada tahun berikutnya. Perawakannya kecil saja, tapi ada kelebihan yang bikin banyak orang lain 'ngiri' kepadanya.

Dalam suatu kesempatan berkumpul, seseorang menyebutkan bahwa dia punya 3 orang istri. Meskipun tinggal di rumah masing-masing, tapi rumahnya saling berdekatan. Yang satu bahkan saling berhadapan dibatasi oleh jalan.

Ketika ditanya bagaimana anak-anaknya memanggil ibu mereka, bukan dia yang jawab, tapi malah orang lain yang ada di dekatnya. Katanya, panggilannya ummi, umma dan ummu. Ada yang menyeletuk, "Yang keempat umme..."

Ada-ada saja!

Beberapa waktu yang lalu, istri saya berkesempatan menelpon ke nomer hp salah seorang istrinya; sekedar tanya apa kabar. Karena dispeaker-on, maka saya bisa mendengar suara dari seberang sana. Sambil cekikikan yang ditanya kasih kabar, "Bu, kita semua lagi hamil... kaya pasukan drum band aja... hahaha..." Kira-kira begitu.

Subhanallah...mereka bisa akur...

Wednesday, September 03, 2008

Renungan Menjelang Gajian

Oleh: Temie Iswanto

Pagi ini Anda merasa sehat. Nafas Anda terasa segar. Mata Anda dapat melihat dan memandang dengan sempurna. Telinga Anda dapat mendengar.

Ada kalanya sambil kerja Anda makan sedikit nyamikan, menulis atau membaca email; Disana Anda dapatkan sesuatu yang menggembirakan, yang lucu, atau malah membuat Anda prihatin atau Anda tergerak untuk sekedarmengucapkan bela sungkawa dan lain sebagainya. Semua itu adalah nikmatbuat Anda.

Anda bergegas ke kamar kecil, untuk sekedar membuang air kecil atau lebih daripada itu. Tidak seperti mengeluarkan uang, Anda ternyata bisa begitu ikhlas dalam mengeluarkannya. Kalo sedikit saja nyangkut, Anda cepat-cepat 'mengeden'. Bukan apa-apa tetapi agar Anda bisa merasa plong sesudahnya. Pengalaman berulang ini menunjukkan betapa Anda merasa segar justru setelah mengeluarkannya. Itu semua adalah sebagian dari nikmat yang besar yang sering kali orang lupa untuk mensyukurinya.

Hari ini Anda barangkali melihat orang lain mendapat musibah atau mungkin mendengar beritanya. Ada yang rumahnya terbakar, ada yang kemalingan, ada orang yang dibunuh, ada orang yang stroke, kecelakaan, kena kanker atau mesti dirawat inap berbulan-bulan di rumah sakit tanpa kepastian kapan akan sembuh. Ada juga orang yang kerasukan jin, ada yang katanya kena santet, ada yang masuk bui, dsb. Semua kejadian itu terjadi pada orang lain. Kita? Ah... barangkali hal itu tidak pernah terlintas akan terjadi pada diri kita.

Orang tua selalu mengingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Kalau hari ini kita sehat, bukan suatu yang mustahil suatu waktu nanti kita akan sakit. Kalo sekarang kita dalam kelapangan, bukan tidak mungkin ada masa-masa dimana dunia ini terasa sempit. Kalo hari ini kita bisa mengunduh nikmat hampir tiap hari, boleh jadi ada masanya dimana hari-hari kita malah terpaksa mengeluh dan menggerutu. Bayangkan... jika hari itu sampai. Jika masa itu datang dimana nikmat yang Anda miliki hari ini mulai berguguran atau bahkan menguap.

Bayangkan, Anda yang sehat bugar hari ini dalam keadaan lemah lunglai tak bertenaga, karena sakit atau tua. Hari itu makan tak terasa enak, tidur tiada dapat lelap, memandang pun sia-sia karena mata telah kabur, ingin mendengar malah terdengar suara bentakan... Hari itu Anda begitu menderita.

Sungguh tidak akan ada yang dapat menolong Anda pada hari itu selain amal kebajikan yang Anda siapkan hari ini. Yang demikian adalah karena siapa saja yang mengasihi penduduk bumi dengan amal kebajikannya, maka penghuni langit akan mengasihinya pula. Siapa saja yang mengasihi dia akan dikasihi. Siapa saja yang suka menolong maka dia akan mendapat pertolongan pada saat dia benar-benar memerlukannya. Apa dan bagaimana bentuknya, itu termasuk perkara yang ghaib.

Bersegeralah Bersedekah

Oleh : Temie Iswanto

Pagi yang cerah di Pattaya. Semoga demikian juga keadaan di tempat anda dan khususnya keadaan di hati anda.

Jika karena satu dan lain hal hati anda misalnya dalam keadaan tidak cerah, kenapa tidak segera bersedekah saja? Jika karena satu dan lain hal anda terjebak dalam kesulitan, kenapa tidak segera bersedekah saja?

Jika anda termasuk mereka yang merasa rezekinya seret, kenapa tidak segera bersedekah saja? Jika anda misalnya dalam keadaan merasa letih, lesu dan lemah sebagaimana yang biasa dialami oleh orang-orang yang sudah tua, kenapa tidak segera bersedekah?

Sedekah --percaya ato tidak-- memiliki beberapa keutamaan bagi siapa saja yang melakukannya. Diantaranya adalah: mengobati sakit; "Obatilah penyakitmu dengan sedekah" (hadits), menolak bala; "Bersegeralah bersedekah, sebab bala tidak pernah bisa mendahului sedekah" (hadits), murah rezeki; "Pancinglah rezeki dengan sedekah" (atsar), dan panjang umur; "Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur" (hadits).

Muslim atau bukan, sedekah bisa menjadi katalisator untuk semua hal tersebut di atas selama kita tinggal di dunia ini. Salah satu buktinya barangkali adalah salah seorang kerabat saya yang non muslim. Dia gemar bersedekah. Dia selalu menyiapkan uang receh untuk para pengemis dan menyisihkan sebagian rezeki lainnya untuk orang-orang lain yang menarik simpatinya. Dia pengusaha krupuk saja, tapi rezekinya seperti air yang mengalir.

Maka benarlah orang yang mengatakan bahwa rezeki seseorang itu ditopang oleh orang-orang miskin yang dinaunginya. Semakin banyak orang yang dinaunginya, semakin banyak rezeki yang mengalir melaluinya. Maka benarlah perkataan yang menyebutkan bahwa tidak akan jatuh miskin orang yang gemar bersedekah.

Lalu apa lagi yang mau ditunggu? Ayo kita bersegera bersedekah...

Sepenggal Peristiwa

Oleh : Temie Iswanto

Dalam satu perjalanan saya melihat seorang wanita yang saya kenal hampir telanjang duduk di pinggir jalan. Seorang wanita yang hampir lumpuh karena sakitnya. Suaminya banyak berkhidmat untuknya. Sayang, saat itu tidak terlihat di sekitarnya.

Beberapa orang lelaki yang mengenalnya berbicara satu sama lain. Apa yang mereka bicarakan mungkin sama seperti yang saya pikirkan, bagaimana menolongnya sementara saya adalah lelaki dan bukan mahramnya. Kemudian Allah SWT memberi sedikit kelebihan sehingga saya segera memanggil seorang anak untuk memberinya kain.

Saya dekati dia, lalu saya tanya, "Kin kaw reu yang?" Sudah makan belum ya? Yang ditanya malah menangis. Ah... kenapa dia menangis di depan saya. Saya bergegas meninggalkannya. Saya tidak mau orang lain melihat ada lelahan air di mata saya. Dalam hati, saya bersyukur saya dalam keadaan sehat, tidak sakit seperti orang ini. Selain itu saya juga punya istri yang mau diajak menolong orang lain. Saya mesti segera pulang dan mengajak istri untuk menolongnya.

Setelah menyiapkan bekal sebungkus nasi dan lauknya, kami mendatanginya. Perempuan tadi telah tergeletak lemah. Di sekitarnya berkumpul beberapa orang lelaki yang ragu untuk menolongnya. Mungkin karena baunya.

Istri mulai menangis dan berteriak agar saya segera mengangkatnya, tapi saya bergegas mencari kursi rodanya. Kursi roda itu tidak ada. Saya kembali. Istri berusaha mengangkatnya, sesuatu yang sulit dilakukan seorang diri. Alhamdulillah, beberapa orang membantu kami mengangkatnya ke tempat duduk panjang. Yang diangkat terus menangis dan mengaduh.

Setelah agak tenang, dia berbisik kepada istri. Katanya, "Kit teung po." Dia kangen bapaknya! Tidak lama kemudian sang suami datang dengan sekantung rezeki. Semoga Allah memberi balasan yang lebih baik atas kesabaran mereka menanggung sakit dan derita. Amiin.

Lupa Sebagian dari Nikmat

Oleh : Temie Iswanto

Barusan diskusi kecil dengan atasan (bule). Nampaknya sih sedang happy. Tidak lama kemudian diambilnya buah cherry, lalu dilahapnya. Tidak itu saja, dia ambil sebuah cerry yang lain lalu diberikannya kepada saya. Melihat boss menikmati cerry itu, saya pun melalapnya. Enak rasanya.

10 menit kemudian di depan komputer... masya Allah... saya baru ingat kalo saya sedang puasa. Astaghfirullah, ternyata saya lupa bahwa pada saat diskusi tsb saya sedang puasa. Saya mohon ampun. Ah... semoga saja hal itu merupakan sebagian nikmat dari Allah SWT. Lebih daripada itu mudah-mudahan itu sebagian dari rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka...

Jadi ingat kisah lama sekitar 10 tahun yang lalu. Hari pertama puasa seperti biasa saya masuk kerja. Sebagaimana yang biasa saya lakukan sebelum Ramadhan, pagi itu - menjelang bekerja - saya buat minuman teh campur creamer. Di sebelah saya berdiri office boy yang memperhatikan saya membuat minuman. Dia melihat saja tanpa bicara sepatah katapun.

Sebagaimana biasa, sambil duduk di depan komputer saya serubut minuman itu. Hingga beberapa menit kemudian... saya teringat bahwa hari itu adalah puasa. Masya Allah, kenapa office boy tadi ga kasih tahu? Ketika ditanya, dia bilang bahwa dia merasa aneh tanpa bisa komentar apa-apa. Ya Allah...

Thursday, August 14, 2008

Pelitlah Pada Diri Kita Sendiri !

Walidati :

Kita harus lebih tegar dalam menghadapi semua aral melintang dan semua kejadian dalam hidup kita, lalu berkerja lebih giat lagi dari biasanya dan jangan lupa sisihkan uang hasil kerja kita untuk keluarga kita, untuk anak istri kita dan untuk mereka yang membutuhkan.

Kita harus lebih pelit kepada diri kita sendiri, benar kita memang tidak boleh pelit kepada orang lain yang membutuhkan tapi kepada diri kita sendiri kita harus pelit. Artinya kita tidak boleh menuruti semua keinginan-keinginan kita, diantara banyak sekali keinginan kita pilih yang perlu-perlu saja, yang merupakan kebutuhan kita, yang tidak perlu dan tidak butuh untuk sekarang sebaiknya jangan dituruti, jangan dibeli.

Simpan uang kita untuk keperluan mendadak kita dan keluarga kita serta untuk kebutuhan mereka yang membutuhkan. Untuk kita cukuplah dengan yang kita butuhkan saja untuk beraktifitas.

Monday, August 11, 2008

Jangan Mengatur Rumah Tanga Orang !

Walidati :

Kalau kita main-main ke rumah tetangga kita atau ke rumah kenalan kita, jangan pernah kita mengatur mereka untuk begini dan begitu, meskipun apa yang mereka lakukan kurang baik secara umum lebih baik biarkan saja kalau mereka tidak mau menerima saran kita. Hal seperti ini rawan sekali menimbulkan perselisihan.

Lagipula mereka yang berhak menatur kehidupan rumah tangga mereka sendiri, kita orang luar lebih baik berhati-hati berbicara, lebih baik mangatur kata-kata yang keluar dengan sebaik-baiknya agar tidak menyinggung mereka, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan demi mu’amalah.

Hindari Fitnah !

Walidati :

Hati-hati kita berbicara, jangan sampai kita bicara menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu tapi kita sendiri tidak melakukannya!

Khususnya disaat saudara dan atau tetangga kita punya hajat, kalau kita tidak bisa datang (karena suatu halangan) untuk bantu-bantu apa saja yang kita bisa sejak awal maka lebih baik jangan datang di akhir acara, dikhawatirkan akan ada fitnah bahwa kita datang hanya untuk meminta sesuatu, terutama kalau di mata masyarakat kita termasuk orang yang tidak mampu dibandingkan mereka.

Kecuali kalau mereka orang baik yang tidak mudah berburuk sangka maka tidak apa-apa datang membantu di akhir acara karena suatu halangan. Mengindari fitnah adalah lebih baik. Tapi lebih baik lagi datanglah sejak awal untuk membantu mereka apa saja yang kita bisa.

Monday, July 28, 2008

Jangan Abaikan Tetangga !

Tetangga tidak bisa diabaikan meski bagaimana pun juga sikap mereka terhadap kita. Mereka adalah penolong kita yang pertama dalam kesusahan dan juga tempat berbagi kesenangan pertama jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita sebab merekalah yang terdekat dengan kita.

Membuat mereka senang adalah lebih baik sebab tetangga adalah pagar teraman kita, keluarga kita, rumah kita dsb, bahkan jauh lebih aman daripada tembok tebal dan tinggi sekalipun. Kalau kita baik pada tetangga kita, mereka akan menjaga kita meskipun tanpa diminta. Kalau sikap kita acuh tak acuh pada mereka, mengabaikan dan meremehkan mereka maka mereka juga akan bersikap yang sama pada kita. Mereka tidak akan peduli dengan kita meski kita sedang membutuhkan pertolongan mereka. Tanpa direncana mereka akan menjaga jarak dengan kita, sebab kita juga menjaga jarak dengan mereka. Kalau suatu saat kita menemukan sikap mereka yang tidak mengenakkan kita, lebih baik tanya diri kita apa yang sudah kita lakukan terhadap mereka, kenapa mereka sampai tidak peduli dengan kita?

Lebih baik jangan berharap mereka peduli pada segala macam masalah kita kalau kita sendiri tidak mau peduli dengan mereka, kesulitan mereka, kesusahan mereka, kebingungan mereka dan kepusingan mereka.

Bagaimana pun juga kita butuh mereka...

Thursday, July 24, 2008

Saling Memberi dan Menerima

Jangan menasehati orang lain di saat dia sedang melakukan keburukan! Kalau tidak maka percuma saja, dia akan menolak nasehat kita.

Di saat sedang melakukan keburukan, saat itu nafsu sedang tidak mau menerima nasehat, tunggu sampai dia menyelesaikan keburukannya itu. Orang yang sedang tidak berbuat keburukan akan lebih mudah dinasehati sebab nafsunya tenang tidak bergejolak seperti di saat dia marah atau melakukan keburukan-keburukan yang lainnya. Tapi menasehati orang lain itu tidak mudah, nasehat kita akan ditolak kalau kita sendiri tidak mau menerima nasehat. Timbal balik...

Menerima kritikan bukan perkara yang mudah, sering kali ego kita timbul manakala disebutkan kesalahan-kesalahan kita. Kita tersinggung atau malu kesalahan kelemahan kita diketahui orang lain hingga kita berusaha mengelak dengan banyak alasan untuk membenarkan kesalahan kita. Apabila kita dengan hati yang lega mau menerima kritikan dan nasehat orang lain, maka orang lain tentu akan mau menerima nasehat kita.

Adalah dianjurkan saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran diantara sesama kita.

Tuesday, July 22, 2008

Penting Tapi Tidak Utama

Menghabiskan waktu untuk mencari atau mengamalkan ilmu agama tapi mengabaikan keluarganya itu kurang baik, demikian juga dengan menghabiskan waktu untuk menjemput rizqi (bekerja) tapi mengabaikan mencari dan mengamalkan ilmu agama juga kurang baik. Uang memang penting untuk membuat hidup semakin legkap. Uang bisa bernilai ibadah atau tidak itu sangat tergantung pada bagaimana niat dan amal kita.

Menjemput rizqi (*) dengan bekerja dengan segala macamnya itu belum tentu tidak bernilai ibadah, bisa bernilai ibadah kalau di awal diniati untuk keluarga, untuk shodaqoh, untuk bekal ibadah-ibadah yang lain.

Seorang ustadz dalam ceramahnya bertanya pada jama’ah yang hadir, ”Rosul Saw berdo’a agar dimasukkan ke dalam ke golongan orang miskin, apa kalian mau jadi orang miskin?”, begitu kurang lebihnya. Jama’ah ramai! Lalu berkata habib Hasan bin Abdurraman Aljufri dalam ceramah setelah ustadz itu, ”Orang kaya yang bisa memanfaatkan hartanya untuk ibadah juga baik!”, begitu kurang lebihnya.

Ujian orang miskin itu bisa tidak mereka bersabar dengan kemiskinannya, sabar di sini tentu harus disertai usaha dan do’a. Ujian orang kaya adalah bagaimana dia memanfaatkan hartanya dan tentu mereka yang kaya harus lebih bersyukur. Syukur tidak hanya berupa mengucap ’Alhamdulillah’ saja, membantu orang lain tanpa memberatkannya termasuk bersyukur, tidak tamak juga bersyukur, tidak sombong juga bersyukur dsb.

-----------
(*) : Saya suka dengan istilah Aa’ Gym ini, sejak kita masih dalam kandungan ibu kita usia 4 bulan, sudah ditetapkan rizqi kita, jodoh kita, takdir baik buruk kita, mati kita; jadi tidak salah kalau sekarang ini sebenarnya kita sedang menjemput rizqi kita, menjemput dengan cara yang halal adalah lebih utama.



--------------------------------------------
TANGGAPAN DARI TEMAN:


Dear mas Yusa dari Semarang.?

Penting tapi tidak Utama, dalam proses aktualisasi dirinya/potensi Illahiah., akan terus berubah / tidak statis.

Mungkin kata yang mendekati cukup pas : Seimbang / Keseimbangan. Mungkin, lho...

Ada di AL Qoshos : 77 -- > keseimbangan dunia akherat. Atau di hadits juga ada bilang : ( kurang lebih )
"Carilah duniamu..seakan-akan engkau akan mati...seribu tahun lagi, tapi carilah Akheratmu dengan sebaik-baiknya...seakan-akan engkau akan mati besuk pagi.

Seimbang mungkin pilihan yang cukup baik. Atau bisa juga paling baik untuk contoh kasus yang pas.

Namun..untuk pilihan perjalanan laku spiritual, kita / saya harus lebih berani...berani meninggalkan konsep kebenaran umum.

Contoh:
Dilihat dari sisi kebenaran umum / dunia. Sang Si Dharta salah karena meninggalkan kewajiban sebagai kepala rumah tangga.

Makanya saya cukup sependapat dengan kadhang Ki Kul Thuk, bahwa proses hidup / kehidupan hendaklah berani diprogram dari umur sekian untuk perjuangan apa, umur sekian ingin memperjuangkan apa, sisa umur yang masih ada mau apa lagi.

Tegasnya...berani melangkah untuk tidak seimbang. DALAM HAL URUSAN SPIRITUAL.

Yang memang susah kalau di ukur dengan tolak ukur dunia. Wong Jawa ada bilang...yen nek bisa...kowe bisa : sembur - uwur - pitutur.

Motto kami dari teman Semarang...juga ada : DZIKIR - SHODAQOH - SILAHTURAHIM ( dalam arti yang se luas luasnya ).

Jadi penting atau tidak penting, utama atau tidak utama, juga sangat relatif. Atau subyektif.

No..problem.., mas Yusa., kalau mungkin ada perbedaan pemahaman.

Thanks / Sudrajat

Monday, July 21, 2008

Menyampaikan dan Mengajak

Mengajak orang lain menuju ke kebaikan dibutuhkan ketangguhan dhohir dan batin sebab ini adalah pekerjaan yang menawarkan kegiatan yang terkadang dianggap mengganggu rutinitas keseharian mereka.

Kalau kita sudah menempuh jalan ini (mengajak-ajak orang menuju ke kebaikan), pasti ada rintangan menghadang, jangan patah semangat kalau suatu saat terhadang atau dihadang sebab ini bagian dari perjuangan. Kita harus berjiwa besar, hadapi apapun pahit getirnya rintangan tersebut dengan ketenangan dan senyuman demi tersebarnya kebaikan meski orang lain tidak tahu atau tidak mau tahu dengan usaha kita.

Kaget atau ‘down’ saat mendengar gosip atau melihat perlakuan yang tidak mengenakkan saat kita menyampaikan atau mengajak orang itu wajar, agar tidak menimbulkan rasa kapok tidak mau lagi menyampaikan atau mengajak…duduk, diam, lalu ingat bahwa pekerjaan ini butuh banyak kesabaran, kita hanya beruasaha sedangkan hasilnya adalah hak prerogatif Allah Swt.

Sebuah usaha saja sudah sangat berarti meski tanpa hasil yang kita harapkan, senyum saja apapun hasilnya. Tapi kalau usaha kita membuahkan hasil seperti yang kita harapkan di kemudian hari, maka ini tambahan nikmat dari Allah Swt.

Friday, July 18, 2008

Kebaikan Yang Merata

Tiap kita sadar atau tidak sadar bertingkah laku, berjalan, berkata-kata dsb sesuai tingkatan masing-masing. Setiap tingkat ada aturan-aturannya sendiri-sendiri yang tidak bisa dipaksa untuk menerima aturan atau kebiasaan dari tingkatan yang lebih tinggi.

Bukan mereka yang di bawah yang harus memahami mereka yang di atas tapi mereka yang di atas-lah yang harus memahami mereka yang di bawah, sebab yang di atas sudah melewati tingkat-tingkat di bawahnya, pasti tahu seluk beluknya.

Berlaku menyesuaikan dimana kita berada adalah lebih memudahkan kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita berada. Diam dulu, lihat, cermati dan pahami mereka yang berada di sekitar kita, apa kebiasaan mereka, kesukaan mereka, apa yang mereka benci, bagaimana gaya bicara mereka, gaya pakaian mereka, gimana sekitar mereka, back-ground mereka dsb...setelah itu baru kita menentukan apa yang mesti kita lakukan biar mereka menerima kita.

Kalau mereka sudah bisa menerima kita, insya Allah kita akan lebih mudah berbagi dengan mereka. Berbagi kisah, berbagi makanan, minuman, bahkan berbagi ilmu, berbagi apa saja yang baik-baik dan bermanfaat. Kalau semua sudah saling memahami, maka hal-hal yang baru dan bermanfaat akan lebih diterima dengan senang hati. Hati yang senang akan memudahkan kita semua untuk mengamalkan apa yang kita terima.

Lalu, kebaikan akan tersebar merata. Kalau kebaikan tersebar, maka insya Allah bencana akan berkurang.

Thursday, July 17, 2008

Semua Ada Masanya

Pada dasarnya di tiap diri kita ada sifat-sifat unik, mengaturnya adalah lebih baik daripada tidak diatur. Tiap usia ada masanya sendiri-sendiri. Ada masa main-main untuk anak kecil, jangan dilarang (awasi saja, hindarkan dia dari barang-barang berbahaya, tunjukkan permainan yang bermanfaat buat dia) biarkan saja anak kecil bermain-main sepuas hatinya sebab kalau masa bermain anak-anak dicegah dan dilarang maka suatu saat kelak dia dewasa maka dia akan kembali bermain-main.

Demikian juga orang dewasa, perhatikan keinginannya, jangan buru-buru dilarang, selama keinginannya masih baik ikuti saja, penuhi saja kebutuhannya.

Kalau kita penuhi hajat orang lain dan biarkan dia menyelesaikannya tanpa kita buru-buru, maka dia akan lebih mudah diajak menuju ke kebaikan-kebaikan yang lain dengan senang hati.

Tambahan Nikmat

Berharap atas sesuatu itu wajar dan boleh tapi jangan panjang angan agar kita tidak kecewa kalau harapan kita tidak terwujud. Pada dasarnya semua ini karunia dari-Nya, semua yang datang dari-Nya adalah nikmat.

Kalau semua hal yang kita punya kita rasakan sebagai nikmat-nikmat karunia-Nya maka apa pun harapan atau impian kita yang tidak terwujud akan tetap menjadi nikmat bagi kita. Kalau harapan kita terwujud maka ini merupakan tambahan nikmat dari-Nya bagi kita.

Teringang di telinga saya suara Haykal memanggil saya saat saya telpon dia, "Halo bapak...halo bapak...", dia belum bisa merangkai kata tapi saya merasakan betapa indahnya kata "Halo bapak...halo bapak..."

Saya berharap banyak padanya...

Kecil Tapi Luar Biasa

Setiap kita pasti punya masalah, dan tentu masing-masing masalah ada solusinya masing-masing.

Suatu malam dua orang ngobrol di depan rumah mertua salah seorang diantara mereka, salah satunya curhat dia melihat kondisi sekarang menyedihkan, sepertinya sudah tidak ada rasa peduli dengan sesamanya, jangankan dengan orang yang tidak dikenal bahkan dengan sahabatnya sendiri pun sering tidak peduli, padahal sahabatnya sedang dalam masalah yang dia sebenarnya bisa membantunya. Di satu sisi karena si sahabat itu risih minta tolong terus terang, dipakainya cara yang halus, diceritakannya kesulitan-kesulitannya, masalah-masalahnya padanya dengan harapan temannya paham dan mau membantunya. Tapi temannya tidak juga membantunya. Sahabat ini kecewa, ternyata susah juga membantu orang lain pada saat kita punya yang orang itu butuhkan.

Mungkin rasa kurang peduli dengan sesamanya ini yang membuat masyarakat kita terlihat yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kalau sudah begini kita seperti buih di lautan yang jumlahnya banyak tapi diombang-ambingkan ombak.

Membantu orang itu dilihat dulu apa yang dia butuhkan, kalau dia butuh uang ya kasih uang kalau kia punya...jangan dikasih nasehat, uang dulu baru nasehat. Orang lapar, kasih makan. Kalau sudah kenyang baru diajak ke arah kebaikkan.

Suatu hari seorang kawan diajak si fulan untuk hadir di majlis Maulid Nabi Saw, ajakan itu ditolaknya sebab malam itu dia sama sekali tidak punya uang untuk beli beras besok hari. Malam ini dia harus cari uang, kalau tidak besok anak istrinya tidak makan. Oleh si fulan, dia dikasih uang. Apa yang terjadi? Allaaah...dia senangnya bukan main, uang itu langsung dikasihkan ke istrinya, "Bu, ini dikasih uang sama si fulan!" dan dia masuk ganti baju dan mau ikut hadir ke Maulid Nabi Saw.

Jasa si fulan diceritakan pada teman-temannya, dengan bangga dia mengkisahkan bahwa si fulan adalah orang yang baik, si fulan adalah jauh lebih hebat daripada ustadz itu yang hanya menasehati saja tapi kurang peduli pada sekitarnya.

Bantuan si fulan mungkin kecil tapi luar biasa manfaatnya.