Oleh: Ustadz Yahya Ma'arif - Cirebon
Berbahagialah kita karena kita mendapat rahmat dari Allah Swt, maka sangat wajar jika ada perayaan disaat pernikahan, kelahiran anak, mendapat rizqi bahkan ketika diadakan perayaan pada hari dimana nabi Muhammad Saw lahir adalah sangat wajar demi rasa syukur kita atas rahmat Allah Swt. Demikian makna dari perayaan-perayaan tersebut.
Ada sangat banyak rahmat dari Allah Swt yang sudah dan sedang dikaruniakan kepada kita, adapun rahmat Allah Swt yang terbesar adalah rasulullah Muhammad Saw.
Segala hal yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah mulia. Ilmu yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah ilmu yang mulia. Akhlaq yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah akhlaq yang mulia. Tradisi yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah tradisi yang mulia. Nasab yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah nasab yang mulia. Sahabat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah sahabat yang mulia. Umat yang berhubungan dengan rasulullah Muhammad Saw adalah umat yang mulia.
Mengikuti rasulullah Muhammad Saw harus dengan cinta, sebab mengikuti saja tanpa ada cinta hanya akan melelahkan kita saja tanpa membuahkan manfaat sedikit pun bagi kita. Dan jangan hanya mengamalkan sunnah rasulullah Muhammad Saw yang dhohir saja, tapi juga amalkan sunnah-sunnah batin rasulullah Muhammad Saw. Dengan begini maka apapun yang kita kerjakan akan selalu bersama rasulullah Muhammad Saw, kita akan mengingat rasulullah Muhammad Saw dengan dhohir dan batin kita.
Jika kita merasa belum bisa mencintai rasulullah Muhammad Saw maka lihatlah perjuangan-perjuangan rasulullah Muhammad Saw! Rasulullah Muhammad Saw sangat tegar meski dilempar batu hingga dahi beliau Saw berdarah. Rasulullah Muhammad Saw tidak tampak gentar, beliau Saw menyeka darah yang keluar dari dahinya tersebut dengan kain di pundak beliau Saw.
"Apakah engkau takut darah ya rasulullah?", tanya sayyidah Fathimah.
Rasulullah Muhammad Saw menjawab, "Tidak, aku tidak takut darah! Aku hanya takut jika darahku ini sampai jatuh mengenai bumi maka bumi tidak akan menerima aku diperlakukan demikian."
Lihatlah bumi saja tidak terima rasulullah Muhammad Saw diperlakukan demikian! Kita seharusnya mengambil hikmah dari hal ini, relakah kita jika mereka memperlakukan rasulullah Muhammad Saw dengan buruk? Lihat ke dalam hati kita!
Dikatakan bahwa sepertiga umat rasulullah Muhammad Saw masuk surga, sepertiga lagi masuk neraka dulu baru kemudian masuk surga dan sepertiga yang terakhir masih tersisa sedikit iman di hati mereka.
Showing posts with label Kalam Ustadz. Show all posts
Showing posts with label Kalam Ustadz. Show all posts
Monday, June 22, 2009
Monday, June 01, 2009
Do'a Nabi Dawud As
Oleh : Kyai Baidlowi bin Abdusshomad
(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durror di Gemah - Semarang setiap malam Sabtu Pon)
Suara nabi Dawud As sangatlah merdu dan indah sehingga karena sangat merdunya dan sangat indahnya angin pun berhenti ketika nabi Dawud As sedang tadarus. Selain suara beliau As yang merdu, wajah beliau As pun sangatlah tampan sebagaimana layaknya wajah nabi dan rasul yang memang tampan sehingga membuat terkesima semua makhluq terkesima karena keindahannya.
Pekerjaan beliau adalah seorang hakim yang mendapat gaji rutin dari kerajaan pada saat itu sehingga beliau memperoleh berbagai fasilitas seperti rumah yang bagus dan berbagai fasilitas keseharian yang lengkap. Suatu pagi, 2 malaikat yang menyamar menyerupai 2 laki-laki lewat di depan rumah beliau ketika beliau sedang berada di taman depan.
Kedua malaikat tersebut saling berbicara, mereka membicara tentang nabi Dawud As, tentang kenyamanan hidup nabi Dawud As, tentang kemudahan beliau As, tentang kemapanan beliau As, tentang kelebihan-kelebihan beliau As. Mereka sengaja mengraskan suara mereka sehingga terdengar oleh nabi Dawud As.
Nabi Dawud As kemudian bermohon kepada Allah Swt agar beliau dikaruniai pekerjaan lain. Allah Swt mengabulkan do'a beliau As, beliau As mempunyai keahlian mlenturkan besi yang beliau As pegang sehingga beliau mampu membuat berbagai jenis baju-baju perang. Dan usaha beliau As semakin besar karena baju-baju perang hasil karya beliau As diminati banyak orang.
Lalu, beliau As bermohon agar dikaruniai 4 perkara dan bermohon dijauhkan dari 4 perkara.
Nabi Dawud As bermohon dikaruniai 4 (empat) perkara, yaitu :
1. Berliau As bermohon dikaruniai lesan yang senantiasa berdzikir.
Berdzikirlah disesuaikan dengan apa yang kita lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Bidayatil Hidayah yaitu kitab yang menjelaskan adab dan do'a yang dibaca dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Bangun tidur do'anya ini, masuk kamar mandi do'anya ini, keluar kamar mandi, buka pakaian, dst ada do'anya masing-masing dimana setiap do'a mengingatkan kita kepada Allah Swt, dzikir kewat lesan sekaligus dengan hati dan perbuatan kita.
2. Beliau As bermohon dikaruniai hati yang bersyukur.
Sebagaimana diterangkan bahwa barang siapa mensyukuri apa yang diterimanya, maka Allah Swt akan menambah nikmat-Nya. Apapun yang kita punya, kita miliki wajib kita syukuri sebagai karunia dari Allah Swt.
3. Beliau As bermohon dikaruniai kesabaran.
Sabar ada 3 (tiga) macam, yaitu sabar ketika menjalankan perintah-perintah Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw, sabar ketika menjauhi larangan-larangan Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw dan sabar ketika menghadapi bala' dari Allah Swt. Tanpa kesabaran kita tidak akan bisa menjalankan perintah-perintah-Nya, ita tidak bisa menjauhi larangan-larangan-Nya.
4. Beliau As bermohon dikaruniai istri yang membantu dalam urusan akhirat beliau As.
Dan Allah mengabulkannya, istri beliau As sangat membantu dalam semua urusan akhirat nabi Dawud As. Istri yang mengingat suami untuk sholat berjama'ah misalnya, membangunkan suami di akhir malam untuk sholat sunnah malam dsb. Begitu juga suami sudah seharusnya membantu urusan akhirat istrinya.
Nabi Dawud As bermohon dijauhkan dari 4 (empat) perkara, yaitu :
1. Beliau As bermohon dijauhkan dari keturunan yang memperbudak orang-tuanya yaitu anak yang tidak taat kepada orang-tuanya, senantiasa membantah orang-tuanya padahal perintah tersebut menyuruhnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan nabi Muhammad Saw.
2. Beliau As bermohon dijauhkan dari istri yang menyebabkan suami susah.
3. Beliau bermohon As dihindarkan dari harta yang mendatangkan bala' dari Allah Swt.
4. Beliau As bermohon dihindarkan dari tetangga yang ketika melihat kebaikannya maka dia diam, sedangkan membicarakan (ghibah) ketika melihat keburukannya.
(Disampaikan dalam majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durror di Gemah - Semarang setiap malam Sabtu Pon)
Suara nabi Dawud As sangatlah merdu dan indah sehingga karena sangat merdunya dan sangat indahnya angin pun berhenti ketika nabi Dawud As sedang tadarus. Selain suara beliau As yang merdu, wajah beliau As pun sangatlah tampan sebagaimana layaknya wajah nabi dan rasul yang memang tampan sehingga membuat terkesima semua makhluq terkesima karena keindahannya.
Pekerjaan beliau adalah seorang hakim yang mendapat gaji rutin dari kerajaan pada saat itu sehingga beliau memperoleh berbagai fasilitas seperti rumah yang bagus dan berbagai fasilitas keseharian yang lengkap. Suatu pagi, 2 malaikat yang menyamar menyerupai 2 laki-laki lewat di depan rumah beliau ketika beliau sedang berada di taman depan.
Kedua malaikat tersebut saling berbicara, mereka membicara tentang nabi Dawud As, tentang kenyamanan hidup nabi Dawud As, tentang kemudahan beliau As, tentang kemapanan beliau As, tentang kelebihan-kelebihan beliau As. Mereka sengaja mengraskan suara mereka sehingga terdengar oleh nabi Dawud As.
Nabi Dawud As kemudian bermohon kepada Allah Swt agar beliau dikaruniai pekerjaan lain. Allah Swt mengabulkan do'a beliau As, beliau As mempunyai keahlian mlenturkan besi yang beliau As pegang sehingga beliau mampu membuat berbagai jenis baju-baju perang. Dan usaha beliau As semakin besar karena baju-baju perang hasil karya beliau As diminati banyak orang.
Lalu, beliau As bermohon agar dikaruniai 4 perkara dan bermohon dijauhkan dari 4 perkara.
Nabi Dawud As bermohon dikaruniai 4 (empat) perkara, yaitu :
1. Berliau As bermohon dikaruniai lesan yang senantiasa berdzikir.
Berdzikirlah disesuaikan dengan apa yang kita lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Bidayatil Hidayah yaitu kitab yang menjelaskan adab dan do'a yang dibaca dari kita bangun tidur hingga kita tidur lagi. Bangun tidur do'anya ini, masuk kamar mandi do'anya ini, keluar kamar mandi, buka pakaian, dst ada do'anya masing-masing dimana setiap do'a mengingatkan kita kepada Allah Swt, dzikir kewat lesan sekaligus dengan hati dan perbuatan kita.
2. Beliau As bermohon dikaruniai hati yang bersyukur.
Sebagaimana diterangkan bahwa barang siapa mensyukuri apa yang diterimanya, maka Allah Swt akan menambah nikmat-Nya. Apapun yang kita punya, kita miliki wajib kita syukuri sebagai karunia dari Allah Swt.
3. Beliau As bermohon dikaruniai kesabaran.
Sabar ada 3 (tiga) macam, yaitu sabar ketika menjalankan perintah-perintah Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw, sabar ketika menjauhi larangan-larangan Allah Swt lewat nabi Muhammad Saw dan sabar ketika menghadapi bala' dari Allah Swt. Tanpa kesabaran kita tidak akan bisa menjalankan perintah-perintah-Nya, ita tidak bisa menjauhi larangan-larangan-Nya.
4. Beliau As bermohon dikaruniai istri yang membantu dalam urusan akhirat beliau As.
Dan Allah mengabulkannya, istri beliau As sangat membantu dalam semua urusan akhirat nabi Dawud As. Istri yang mengingat suami untuk sholat berjama'ah misalnya, membangunkan suami di akhir malam untuk sholat sunnah malam dsb. Begitu juga suami sudah seharusnya membantu urusan akhirat istrinya.
Nabi Dawud As bermohon dijauhkan dari 4 (empat) perkara, yaitu :
1. Beliau As bermohon dijauhkan dari keturunan yang memperbudak orang-tuanya yaitu anak yang tidak taat kepada orang-tuanya, senantiasa membantah orang-tuanya padahal perintah tersebut menyuruhnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan nabi Muhammad Saw.
2. Beliau As bermohon dijauhkan dari istri yang menyebabkan suami susah.
3. Beliau bermohon As dihindarkan dari harta yang mendatangkan bala' dari Allah Swt.
4. Beliau As bermohon dihindarkan dari tetangga yang ketika melihat kebaikannya maka dia diam, sedangkan membicarakan (ghibah) ketika melihat keburukannya.
Wednesday, April 08, 2009
Tidak Suka Bicara
Oleh : Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Assaggaf
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Berkata Imam Nawawi - semoga Allah merahmatinya dan memberikan kemanfaatan kepada kita dengan keberadaannya dan semua ulama.
Dari hadits yang kelima, dari Abu Hurairoh (semoga Allah meridhoinya), sesungguhnya Rasulullah SaW berkata,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tamunya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Hadits ini pada awalnya berhubungan dengan hadits yang sebelumnya dan kita sudah membacanya bahwa sesungguhnya dari sebagian kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada arti/manfaatnya. Kami telah menyebutkan bahwa yang termasuk sebagian daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah berlebih-lebihan secara umum, dan terutama berlebih-lebihan dalam berbicara. Dan di sini Rasulullah SAW mengkhususkan dalam hal ini dengan berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata sesuatu yang baik atau diamlah.”
Diam dan tidak berkata apa-apa daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah sukuut ikhtiyaariy (diam karena pilihan kehendak sendiri). Karena manusia terkadang diam, akan tetapi itu karena bohong, sakit, lemah, atau rasa takut. Adapun yang dimaksud disini adalah sukuut ikhtiyaariy, seseorang yang mencegah lisannya daridapa berbicara. Dikatakan bahwa sesungguhnya syahwatil kalam (nafsu untuk berbicara) lebih berbahaya daripada syahwatit tho’am (nafsu untuk makan). Ini termasuk diantara syahwat yang paling berbahaya.
Di sini, sikap diam adalah termasuk sebagian daripada hikmah yang luar biasa. Demikian juga, sikap diam ini adalah termasuk haal (keadaan) sebagian besar orang-orang sholeh, dimana sesungguhnya mereka pada umumnya sedikit berbicara. Anda akan tahu hikmah pada seseorang dari lamanya dia bersikap diam. Dan sesungguhnya sikap lama tidak berbicara akan memancarkan hikmah pada hati seorang mukmin, jika ia membiasakan dirinya lama tidak berbicara, ia tidak berbicara kecuali berdzikir kepada Allah kecuali jika ada kebutuhan. Karena itu, seseorang itu selama ia tidak berbicara, maka ia berada dalam keadaan aman.
Diceritakan bahwa Nabi SAW pada malam Isra’ Mi’raj melihat seekor ular keluar dari suatu lubang dan kemudian ular itu ingin kembali ke lubang itu akan tetapi ia tidak bisa. Kemudian beliau bertanya kepada Jibril, “Apa itu wahai Jibril?.” Maka Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang berkata dengan suatu kalimat melayang di angkasa, kemudian ia ingin mengembalikan perkataannya tadi, akan tetapi ia tidak mampu.”
Oleh karena itu, dikatakan bahwa Allah menciptakan mulut itu dengan dua penjaga. Penjaga yang pertama adalah gigi-gigi. Penjaga yang kedua adalah kedua bibir. Mulut dikunci dengan gigi-gigi dan kedua bibir. Sedangkan telinga, tidak ada di sana penjaga. Ini dimaksudkan bahwa anda hendaknya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebagian manusia tidak suka mendengar. Mereka hanya suka berbicara. Cobalah anda lihat, ketika anda duduk-duduk (di perkumpulan), ada orang yang sukanya berbicara. Jika ada orang lain yang berbicara, ia tidak mau mendengar. Jika ia berbicara, ia menginginkan orang lain mendengarkan bicaranya. Ini merupakan cacat dan aib. Dan oleh karena itu, hendaklah seseorang membiasakan dirinya atas keadaan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah.”
Karena sebab itu, sebagian daripada orang-orang sholeh menaruh batu di mulut mereka. Pernah suatu ketika salah seorang masyaikh (guru) sedang berbicara. Pada saat itu ada suatu masalah atau pertanyaan dan tiba-tiba salah seorang muridnya nyeletuk menjawabnya. Sang murid begitu gembira karena ia dapat menjawab masalah tersebut. Sang masyaikh berkata, “Masya Allah. Barakallah fiika wahai anak muda. Keluarlah dan ambilkan aku batu.”
Keluarlah sang murid dengan gembiranya tanpa mengira bahwa gurunya ingin memberikan pelajaran kepadanya dengan batu itu. Setelah sang murid mengambil batu itu, sang masyaikh berkata, “Cucilah batu itu.”
Setelah itu ia mencucinya dan menyerahkan ke gurunya dengan perasaan senang. Lalu sang masyaikh berkata, “Taruhlah batu itu di mulutmu.”
Hal ini untuk memberikan pelajaran agar seseorang itu belajar adab dan tidak cepat-cepat berbicara sebelum diberikan kesempatan.
Karena itu, pernah suatu saat berkumpullah para ulama, berdebat mengenai suatu masalah, dan disana ada Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq sedang duduk bersama mereka. Disaat mereka saling berbicara dan berdebat satu sama lain, dan disitu ada Imam besar mereka, orang yang mengerti hukum di jaman itu, bahkan beliaulah pendiri ilmu figih, Al-Imam Ja’far, beliau ditanya, “Wahai Imam, mengapa engkau tidak berbicara?.”
Beliau menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak berbicara kecuali jika ditanya. Kami tidak berbicara yang tidak perlu kecuali jika kami diam, lalu ditanya suatu masalah, maka kami menjawabnya sepanjang yang kami ketahui.”
Itulah mereka ahlul adab (orang yang mempunyai adab), radhiyallohu anhum wa ardhoohum.
Itulah hikmah daripada orang-orang yang tidak suka berbicara. Dan ini adalah riyadhoh (melatih diri) daripada bentuk riyadhoh-riyadhoh yang lain. Ini juga dipraktekkan oleh orang-orang Hindu, mereka membiasakan diri mereka dan bermujahadah daripada bersikap diam dan duduk di tempat-tempat yang gelap sampai dapat menundukkan nafsu. Adakalanya bahwa di dalam diri terdapat kekuatan, sampai seseorang dapat menjatuhkan sesuatu dari jauh tanpa memukulnya. Ini karena sebab ruh mempunyai kekuatan. Akan tetapi seorang mukmin menginginkan ruhnya bersih dalam bermuamalah kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.
Begitu juga yang terjadi pada para sahabat radhiyallohu anhum, mereka tidak berbicara kecuali dalam kebaikan. Bahkan seringkali terjadi pada orang-orang sholeh yang berkumpul pada satu tempat, mereka tidak berbicara satu sama lain pada masa yang lama. Satu sama lain berpikir karena masing-masing dari mereka sibuk dengan keadaan mereka dan kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.
Dan berbicara mengenai diam adalah sangat panjang. Kami menunjuk pada sebagian darinya. Kesimpulannya apa yang saya sampaikan kepada kalian adalah bahwa kalian hendaklah membiasakan diri untuk tidak banyak berbicara, karena sikap suka berbicara itu ada kelezatan.
Begitu juga, sebagaimana di dalam sikap diam adakalanya terdapat kebaikan, maka adakalanya di dalam sikap berbicara itu juga terdapat kebaikan. Kami bertanya kepada guru kami Al-Habib Abdul Qodir (bin Ahmad Assaggaf) - semoga Allah memberikan kenikmatan kepada kami dengan hidupnya di dalam kebaikan dan kesehatan, “Kami kuatir daripada syahwatil kalam sewaktu mengajar kepada orang lain. Kami kuatir ini termasuk dalam syahwat, keluar daripada nafsu. Maka doakanlah kami.”
Maka beliau menjawab, “Begitu juga dalam sikap diam, terkadang juga terdapat syahwat. Sebagaimana dengan berbicara terkadang kita menginginkan suatu ketenaran, maka terkadang di dalam sikap diam kita menginginkan juga suatu ketenaran. Sehingga orang lain menilainya, 'Orang ini berwibawa.' Maka ia diam supaya orang lain menilai, memuji, melihat, dan mengagungkannya seperti itu. Dan ini semuanya tidaklah membawa kemanfaatan dan kemudharatan."
Maka jika anda ingin berbicara, berbicaralah karena Allah. Dan jika anda ingin diam, maka diamlah karena Allah. Biasakanlah dirimu karena Allah di segala keadaan.
Disarikan dari youtube dan bisyarah.
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Berkata Imam Nawawi - semoga Allah merahmatinya dan memberikan kemanfaatan kepada kita dengan keberadaannya dan semua ulama.Dari hadits yang kelima, dari Abu Hurairoh (semoga Allah meridhoinya), sesungguhnya Rasulullah SaW berkata,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah menghormati tamunya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Hadits ini pada awalnya berhubungan dengan hadits yang sebelumnya dan kita sudah membacanya bahwa sesungguhnya dari sebagian kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada arti/manfaatnya. Kami telah menyebutkan bahwa yang termasuk sebagian daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah berlebih-lebihan secara umum, dan terutama berlebih-lebihan dalam berbicara. Dan di sini Rasulullah SAW mengkhususkan dalam hal ini dengan berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata sesuatu yang baik atau diamlah.”
Diam dan tidak berkata apa-apa daripada sesuatu yang tidak ada artinya adalah sukuut ikhtiyaariy (diam karena pilihan kehendak sendiri). Karena manusia terkadang diam, akan tetapi itu karena bohong, sakit, lemah, atau rasa takut. Adapun yang dimaksud disini adalah sukuut ikhtiyaariy, seseorang yang mencegah lisannya daridapa berbicara. Dikatakan bahwa sesungguhnya syahwatil kalam (nafsu untuk berbicara) lebih berbahaya daripada syahwatit tho’am (nafsu untuk makan). Ini termasuk diantara syahwat yang paling berbahaya.
Di sini, sikap diam adalah termasuk sebagian daripada hikmah yang luar biasa. Demikian juga, sikap diam ini adalah termasuk haal (keadaan) sebagian besar orang-orang sholeh, dimana sesungguhnya mereka pada umumnya sedikit berbicara. Anda akan tahu hikmah pada seseorang dari lamanya dia bersikap diam. Dan sesungguhnya sikap lama tidak berbicara akan memancarkan hikmah pada hati seorang mukmin, jika ia membiasakan dirinya lama tidak berbicara, ia tidak berbicara kecuali berdzikir kepada Allah kecuali jika ada kebutuhan. Karena itu, seseorang itu selama ia tidak berbicara, maka ia berada dalam keadaan aman.
Diceritakan bahwa Nabi SAW pada malam Isra’ Mi’raj melihat seekor ular keluar dari suatu lubang dan kemudian ular itu ingin kembali ke lubang itu akan tetapi ia tidak bisa. Kemudian beliau bertanya kepada Jibril, “Apa itu wahai Jibril?.” Maka Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang berkata dengan suatu kalimat melayang di angkasa, kemudian ia ingin mengembalikan perkataannya tadi, akan tetapi ia tidak mampu.”
Oleh karena itu, dikatakan bahwa Allah menciptakan mulut itu dengan dua penjaga. Penjaga yang pertama adalah gigi-gigi. Penjaga yang kedua adalah kedua bibir. Mulut dikunci dengan gigi-gigi dan kedua bibir. Sedangkan telinga, tidak ada di sana penjaga. Ini dimaksudkan bahwa anda hendaknya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebagian manusia tidak suka mendengar. Mereka hanya suka berbicara. Cobalah anda lihat, ketika anda duduk-duduk (di perkumpulan), ada orang yang sukanya berbicara. Jika ada orang lain yang berbicara, ia tidak mau mendengar. Jika ia berbicara, ia menginginkan orang lain mendengarkan bicaranya. Ini merupakan cacat dan aib. Dan oleh karena itu, hendaklah seseorang membiasakan dirinya atas keadaan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata kebaikan atau diamlah.”
Karena sebab itu, sebagian daripada orang-orang sholeh menaruh batu di mulut mereka. Pernah suatu ketika salah seorang masyaikh (guru) sedang berbicara. Pada saat itu ada suatu masalah atau pertanyaan dan tiba-tiba salah seorang muridnya nyeletuk menjawabnya. Sang murid begitu gembira karena ia dapat menjawab masalah tersebut. Sang masyaikh berkata, “Masya Allah. Barakallah fiika wahai anak muda. Keluarlah dan ambilkan aku batu.”
Keluarlah sang murid dengan gembiranya tanpa mengira bahwa gurunya ingin memberikan pelajaran kepadanya dengan batu itu. Setelah sang murid mengambil batu itu, sang masyaikh berkata, “Cucilah batu itu.”
Setelah itu ia mencucinya dan menyerahkan ke gurunya dengan perasaan senang. Lalu sang masyaikh berkata, “Taruhlah batu itu di mulutmu.”
Hal ini untuk memberikan pelajaran agar seseorang itu belajar adab dan tidak cepat-cepat berbicara sebelum diberikan kesempatan.
Karena itu, pernah suatu saat berkumpullah para ulama, berdebat mengenai suatu masalah, dan disana ada Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq sedang duduk bersama mereka. Disaat mereka saling berbicara dan berdebat satu sama lain, dan disitu ada Imam besar mereka, orang yang mengerti hukum di jaman itu, bahkan beliaulah pendiri ilmu figih, Al-Imam Ja’far, beliau ditanya, “Wahai Imam, mengapa engkau tidak berbicara?.”
Beliau menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak berbicara kecuali jika ditanya. Kami tidak berbicara yang tidak perlu kecuali jika kami diam, lalu ditanya suatu masalah, maka kami menjawabnya sepanjang yang kami ketahui.”
Itulah mereka ahlul adab (orang yang mempunyai adab), radhiyallohu anhum wa ardhoohum.
Itulah hikmah daripada orang-orang yang tidak suka berbicara. Dan ini adalah riyadhoh (melatih diri) daripada bentuk riyadhoh-riyadhoh yang lain. Ini juga dipraktekkan oleh orang-orang Hindu, mereka membiasakan diri mereka dan bermujahadah daripada bersikap diam dan duduk di tempat-tempat yang gelap sampai dapat menundukkan nafsu. Adakalanya bahwa di dalam diri terdapat kekuatan, sampai seseorang dapat menjatuhkan sesuatu dari jauh tanpa memukulnya. Ini karena sebab ruh mempunyai kekuatan. Akan tetapi seorang mukmin menginginkan ruhnya bersih dalam bermuamalah kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.
Begitu juga yang terjadi pada para sahabat radhiyallohu anhum, mereka tidak berbicara kecuali dalam kebaikan. Bahkan seringkali terjadi pada orang-orang sholeh yang berkumpul pada satu tempat, mereka tidak berbicara satu sama lain pada masa yang lama. Satu sama lain berpikir karena masing-masing dari mereka sibuk dengan keadaan mereka dan kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.
Dan berbicara mengenai diam adalah sangat panjang. Kami menunjuk pada sebagian darinya. Kesimpulannya apa yang saya sampaikan kepada kalian adalah bahwa kalian hendaklah membiasakan diri untuk tidak banyak berbicara, karena sikap suka berbicara itu ada kelezatan.
Begitu juga, sebagaimana di dalam sikap diam adakalanya terdapat kebaikan, maka adakalanya di dalam sikap berbicara itu juga terdapat kebaikan. Kami bertanya kepada guru kami Al-Habib Abdul Qodir (bin Ahmad Assaggaf) - semoga Allah memberikan kenikmatan kepada kami dengan hidupnya di dalam kebaikan dan kesehatan, “Kami kuatir daripada syahwatil kalam sewaktu mengajar kepada orang lain. Kami kuatir ini termasuk dalam syahwat, keluar daripada nafsu. Maka doakanlah kami.”
Maka beliau menjawab, “Begitu juga dalam sikap diam, terkadang juga terdapat syahwat. Sebagaimana dengan berbicara terkadang kita menginginkan suatu ketenaran, maka terkadang di dalam sikap diam kita menginginkan juga suatu ketenaran. Sehingga orang lain menilainya, 'Orang ini berwibawa.' Maka ia diam supaya orang lain menilai, memuji, melihat, dan mengagungkannya seperti itu. Dan ini semuanya tidaklah membawa kemanfaatan dan kemudharatan."
Maka jika anda ingin berbicara, berbicaralah karena Allah. Dan jika anda ingin diam, maka diamlah karena Allah. Biasakanlah dirimu karena Allah di segala keadaan.
Disarikan dari youtube dan bisyarah.
Wednesday, December 10, 2008
Manfaat Sholawat
Oleh : Kyai Budi Harjono (PonPes Al-Ishlah - Semarang)
ISTIGHOZAH QUBRO dan PENGAJIAN AKBAR
[Disampaikan di Masjid Baitussalam - Perum Kinijaya, Semarang, dihadiri oleh para Masyayih, Habaib, Ulama di semarang dan sekitarnya]
Assalamu'alaikum wr wb. Para Habaib yang saya muliakan, dan saya jalankan perintah-perintahnya, khususnya kepada para Kyai, dan khususnya kepada Mbah K.H. Munif Zuhri yang selalu saya jalankan perintah-perintahnya, dan juga kepada para jama'ah Maulid Dziba', bapak-bapak ibu-ibu yang dimuliakan Allah Swt.
Malam ini hati saya sangat bahagia sekali dalam keadaan sehat di hadapan anda semua, dan anda dengan berduyun-duyun menghadiri majlis ini dengan membawa mahabbah kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw dari daerah yang jauh ke sini demi berdesak-desakan di sini. Atas amal anda semua ini (yang hadir di sini) semoga menjadi washilah dan do'a, semoga dikaruniakan panjang umur, rajin ibadah, dikaruniakan mudah barokah lancar semuanya, semoga anda semua dikaruniakan kesempatan ziarah ke Mekkah Madinah, semoga anak cucu kita dikaruniakan anak yang sholehah dan sholehah, dan saya lihat banyak anak-anak muda yang hadir (kalau ada orang tua yang taat itu bagus, tapi kalau ada anak muda yang taat itu lebih bagus) maka semoga para anak-anak muda yang sampai sekarang belum menikah cepat menikah, sedang yang sudah tua saya do'akan semoga lebih istiqomah. Kalau sewaktu-waktu kita dikehendaki Allah untuk meninggal, kita semua mohon agar dikaruniakan selalu bermohon kepada Allah, semoga kita ini dikaruniakan khusnul khotimah.
Kita mau apa lagi, di dunia ini diulang-ulang seperti apa pun ya tetap seperti ini, makan nasi pun lama-lama juga bosan kalau tidak ada bulan Ramadhan, dan banyak kenikmatan yang sudah tidak kita miliki lagi, dulu kuat tapi sudah jadi lemah sekarang, khususnya orang tua. Bahkan ada orang yang karena cintanya pada istri sampai pingsan karena mengenang kebaikkannya disaat kematiannya, apalagi orang yang cinta terhadap kanjeng Nabi.
Mengingat kasih-sayang kanjeng Nabi pada kita, seandainya saja perasaan semua itu diperlihatkan maka kita haturkan rasa terima kasih yang tiada terkira. Oleh sebab itulah kita ber-sholawat di sini, kanjeng Nabi bersabda bahwa kalau kita membaca sholawat di makam beliau Saw maka beliau mendengarkan sholawat yang kita bacakan dari makam beliau, tapi kalau kita membaca sholawat di tempat yang jauh dari tempat kanjeng Nabi maka kanjeng Nabi yang akan mendatangi tempat kita. Maka kalau kita membaca sholawat diharapkan kita tata pakaian kita dengan baik, kita tata hati kita dengan baik karena merasa dihadiri kanjeng Nabi, dan beliau hadir mendekati kita, digambarkan dekatnya itu seperti dekatnya pengantin baru.
Mari kita membaca sholawat Annabi sholu alaihi, saya dulu nanti anda ikuti setelah saya:
"Annabi sholu alaih, sholawatullahi alaih..." (red. kemudian kyai Budi bersholawat bersama dengan jama'ah).
Para hadirin, kalau kita duduk di majlis Maulud, cukup perasaan hati jadi kekayaan kita, sebab malaikat Jibril berbicara kepada Allah Swt:
"Ya Allah, mohon diizinkan saya hendak menuntun orang yang membaca sholawat pada kanjeng Nabi melewati shirothol mustaqim dengan selamat."
Malaikat Mikail juga begitu,
"Kepala saya juga tidak akan saya angkat-angkat kalau Engkau belum memberi ampunan untuk orang-orang yang mau membaca sholawat."
Yang lebih anugrah agung lagi, malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, berbicara pada Allah,
"Gusti, mohon saya diizinkan mencabut nyawa orang-orang yang membaca sholawat ini dengan tata cara mencabut nyawa para Nabi."
Oleh sebab itu, saya melihat anda semua duduk di tanah seperti ini, gembira rasa hati saya, semoga Allah mengkaruniakan kasih sayang-Nya pada anda semua dan saya, seumpama ada yang punya dosa semoga diampuni oleh Allah, kalau Allah menghendaki memberikan ampunan maka dengan melihat amal baik kita, meski amal kebaikkan kita tidak seberapa tapi kalau amal kebaikkan kita yang ada hanya ini, maka semoga ini bisa menjadi washilah ke surga-Nya Allah Swt.
Berdasarkan salah satu kitab Imam Ghozali, di halaman pertama beliau menukil hadits bahwa Allah Swt menciptakan malaikat yang sayapnya itu kalau direntangkan mencapai barat dan timur, kepalanya di bawah Arsy, kakinya tertancap di bumi lapis ke-7, malaikat ini setelah diperintahkan oleh Allah untuk menceburkan diri ke lautan cahaya-Nya Gusti Allah, malaikat itu setelah keluar dari lautan cahaya-Nya itu lalu mengibaskan sayapnya yang jumlah sayap itu jumlahnya sama dengan jumlah semua makhluq, setiap tetes air dari sayap itu menghasilkan hanya maghfiroh-Nya Allah Swt untuk yang mau membaca sholawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini sampai hari kiamat. Cukup sampai di sini.
Wassalamu'alaikum wr wb
ISTIGHOZAH QUBRO dan PENGAJIAN AKBAR
[Disampaikan di Masjid Baitussalam - Perum Kinijaya, Semarang, dihadiri oleh para Masyayih, Habaib, Ulama di semarang dan sekitarnya]
Assalamu'alaikum wr wb. Para Habaib yang saya muliakan, dan saya jalankan perintah-perintahnya, khususnya kepada para Kyai, dan khususnya kepada Mbah K.H. Munif Zuhri yang selalu saya jalankan perintah-perintahnya, dan juga kepada para jama'ah Maulid Dziba', bapak-bapak ibu-ibu yang dimuliakan Allah Swt.Malam ini hati saya sangat bahagia sekali dalam keadaan sehat di hadapan anda semua, dan anda dengan berduyun-duyun menghadiri majlis ini dengan membawa mahabbah kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw dari daerah yang jauh ke sini demi berdesak-desakan di sini. Atas amal anda semua ini (yang hadir di sini) semoga menjadi washilah dan do'a, semoga dikaruniakan panjang umur, rajin ibadah, dikaruniakan mudah barokah lancar semuanya, semoga anda semua dikaruniakan kesempatan ziarah ke Mekkah Madinah, semoga anak cucu kita dikaruniakan anak yang sholehah dan sholehah, dan saya lihat banyak anak-anak muda yang hadir (kalau ada orang tua yang taat itu bagus, tapi kalau ada anak muda yang taat itu lebih bagus) maka semoga para anak-anak muda yang sampai sekarang belum menikah cepat menikah, sedang yang sudah tua saya do'akan semoga lebih istiqomah. Kalau sewaktu-waktu kita dikehendaki Allah untuk meninggal, kita semua mohon agar dikaruniakan selalu bermohon kepada Allah, semoga kita ini dikaruniakan khusnul khotimah.
Kita mau apa lagi, di dunia ini diulang-ulang seperti apa pun ya tetap seperti ini, makan nasi pun lama-lama juga bosan kalau tidak ada bulan Ramadhan, dan banyak kenikmatan yang sudah tidak kita miliki lagi, dulu kuat tapi sudah jadi lemah sekarang, khususnya orang tua. Bahkan ada orang yang karena cintanya pada istri sampai pingsan karena mengenang kebaikkannya disaat kematiannya, apalagi orang yang cinta terhadap kanjeng Nabi.
Mengingat kasih-sayang kanjeng Nabi pada kita, seandainya saja perasaan semua itu diperlihatkan maka kita haturkan rasa terima kasih yang tiada terkira. Oleh sebab itulah kita ber-sholawat di sini, kanjeng Nabi bersabda bahwa kalau kita membaca sholawat di makam beliau Saw maka beliau mendengarkan sholawat yang kita bacakan dari makam beliau, tapi kalau kita membaca sholawat di tempat yang jauh dari tempat kanjeng Nabi maka kanjeng Nabi yang akan mendatangi tempat kita. Maka kalau kita membaca sholawat diharapkan kita tata pakaian kita dengan baik, kita tata hati kita dengan baik karena merasa dihadiri kanjeng Nabi, dan beliau hadir mendekati kita, digambarkan dekatnya itu seperti dekatnya pengantin baru.
Mari kita membaca sholawat Annabi sholu alaihi, saya dulu nanti anda ikuti setelah saya:
"Annabi sholu alaih, sholawatullahi alaih..." (red. kemudian kyai Budi bersholawat bersama dengan jama'ah).
Para hadirin, kalau kita duduk di majlis Maulud, cukup perasaan hati jadi kekayaan kita, sebab malaikat Jibril berbicara kepada Allah Swt:
"Ya Allah, mohon diizinkan saya hendak menuntun orang yang membaca sholawat pada kanjeng Nabi melewati shirothol mustaqim dengan selamat."
Malaikat Mikail juga begitu,
"Kepala saya juga tidak akan saya angkat-angkat kalau Engkau belum memberi ampunan untuk orang-orang yang mau membaca sholawat."
Yang lebih anugrah agung lagi, malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, berbicara pada Allah,
"Gusti, mohon saya diizinkan mencabut nyawa orang-orang yang membaca sholawat ini dengan tata cara mencabut nyawa para Nabi."
Oleh sebab itu, saya melihat anda semua duduk di tanah seperti ini, gembira rasa hati saya, semoga Allah mengkaruniakan kasih sayang-Nya pada anda semua dan saya, seumpama ada yang punya dosa semoga diampuni oleh Allah, kalau Allah menghendaki memberikan ampunan maka dengan melihat amal baik kita, meski amal kebaikkan kita tidak seberapa tapi kalau amal kebaikkan kita yang ada hanya ini, maka semoga ini bisa menjadi washilah ke surga-Nya Allah Swt.
Berdasarkan salah satu kitab Imam Ghozali, di halaman pertama beliau menukil hadits bahwa Allah Swt menciptakan malaikat yang sayapnya itu kalau direntangkan mencapai barat dan timur, kepalanya di bawah Arsy, kakinya tertancap di bumi lapis ke-7, malaikat ini setelah diperintahkan oleh Allah untuk menceburkan diri ke lautan cahaya-Nya Gusti Allah, malaikat itu setelah keluar dari lautan cahaya-Nya itu lalu mengibaskan sayapnya yang jumlah sayap itu jumlahnya sama dengan jumlah semua makhluq, setiap tetes air dari sayap itu menghasilkan hanya maghfiroh-Nya Allah Swt untuk yang mau membaca sholawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini sampai hari kiamat. Cukup sampai di sini.
Wassalamu'alaikum wr wb
Tuesday, December 09, 2008
Tidak Cukup dengan Membaca dan Mendengar
Oleh : Kyai Ahmad Baidlowi
(Disampaikan di majlis pembacaan Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror malam Sabtu 5 Desember 2008 di rumah ustadz Muhammad Khumaidzi - Gemah, Semarang)
Akhir-akhir ini banyak acara yang mengatas.namakan Islam padahal bukan, justru acara-acara itu merusak Islam!
Sekarang ini sedang gencar-gencarnya diluncurkan GAS yaitu Gerakan Anti Sholawat, padahal Allah Swt pun ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw, malaikat pun ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw, maka kita pun seharusnya ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw. Kenapa? Apakah Rosulullah Muhammad Saw butuh sholawat kita? Tidak! Justru kitalah yang butuh Rosulullah Muhammad Saw. Dengan ber-sholawat kita mengakui bahwa Rosulullah Muhammad Saw adalah utusan Allah Swt dan kita ber-washilah lewat beliau Saw kepada Allah Swt.
Dikatakan oleh Alhabib Muhammad Alwi Almaliki Alhasani bahwa washilah (perantara) untuk sampai kepada Allah Swt itu boleh asalkan tetap meyakini bahwa Allah Swt-lah tempat kita bermohon, kepada Allah Swt-lah kita menggantungkan segala urusan kita dan kita meyakini bahwa Rosulullah Muhammad Saw kekasih Allah Swt. Kita berdo'a tetap kepada Allah Swt. Hati tetap yakin kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw, diimbangi dengan anggota badan kita menyebut dan melakukan perbuatan yang menunjukkan bukti pengagungan kita kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw.
Mereka juga menolak memakai penyebutan istilah SAYYIDI (tuanku) kepada Rosulullah Muhammad Saw dengan alasan Rosulullah Muhammad Saw itu manusia biasa, mereka beranggapan bahwa dengan menyebut SAYYIDI kepada Rosulullah Muhammad Saw adalah berlebihan dan menurut mereka ini terlarang. Memang benar Rosulullah Muhammad Saw manusia biasa tapi beliau Saw diistimewakan atau diluar-biasakan oleh Allah Swt dengan kedudukan beliau sebagai kekasih Allah Swt dan pimpinan dari seluruh Rosul dan Nabi.
Penyebutan ini adalah sangat pantas untuk Rosulullah Muhammad Saw karena memang demikianlah Rosulullah Muhammad Saw sebagai kekasih Allah Swt. Jikalau kepada orang yang kita hormati saja kita menyebut dengan YANG TERHORMAT BAPAK PEJABAT kepada pejabat pemerintahan, maka apalagi kepada Rosulullah Muhammad Saw yang merupakan pemimpin para Rosul dan Nabi, adalah sangat pantas beliau disebut demikian. Ini bentuk penghormatan, penghormatan ini tidak akan melebih penghormatan kita kepada Allah Swt yaitu sebagaimana penghormatan atau kepatuhan kita kepada orang tua kita yang tidak akan melebihi penghormatan atau kepatuhan kita kepada Allah Swt.
Sekarang ini sedang gencar-gencarnya diluncurkan GAM yaitu Gerakan Anti Manaqib atau Maulid dengan alasan manaqib dan maulid adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat, setiap sesat tempatnya di neraka. Benarkah begitu? Mari kita lihat apa itu manaqib? Manaqib adalah sejenis dengan biografi dari orang-orang yang dikenal alim yang sudah meninggal, yang mana dengan membaca kisah beliau akan menambah iman kita kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw. Dengan membaca atau mendengarkan kitab manaqib dibacakan itu sama dengan kita mengingat orang alim tersebut. Mengingat yang bagaimana? Mengingat untuk kemudian kita lakukan, untuk kita tiru perbuatan beliau, untuk kita tiru ibadah beliau, untuk kita tiru amal beliau, untuk kita tiru bagaimana beliau menuntut ilmu, bagaimana mereka sholat, dzikir beliau, akhlaq beliau, adab beliau dsb.
Beliau meningkatkan rasa syukur beliau dengan memanfaatkan badan beliau untuk ibadah kepada Allah Swt semaksimal mungkin, inilah yang harus kita tiru agar kita makin tambah lebih baik. Untuk bsa meniru maka kita harus membaca sejarah beliau, maka untuk itulah acara manaqib diadakan. Demikian juga dengan acara pembacaan kitab maulid, kitab maulid adalah berisi catatan kisah Rosululah Muhammad Saw. Dengan membaca atau mendengarkan kitab maulid dibacakan maka seharusnya akan meningkatkan rasa cinta kita kepada Rosulullah Muhammad Saw, rasa cinta yang mengantarkan kita kepada Allah Swt. Di kitab maulid ditulis bagaimana Rosulullah Muhammad Saw sebelum hingga sesudah lahir, bagaimana akhlaq beliau dsb.
Apakah cukup dengan membaca dan mendengar kitab manaqib dan maulid saja? Tidak! seharusnya setelah itu kita semakin bertambah ibadah kita, bertambah iman kita, cinta kita, syukur kita, ilmu kita, amal kita, akhlaq kita bertambah baik dsb.
(Disampaikan di majlis pembacaan Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror malam Sabtu 5 Desember 2008 di rumah ustadz Muhammad Khumaidzi - Gemah, Semarang)
Akhir-akhir ini banyak acara yang mengatas.namakan Islam padahal bukan, justru acara-acara itu merusak Islam!Sekarang ini sedang gencar-gencarnya diluncurkan GAS yaitu Gerakan Anti Sholawat, padahal Allah Swt pun ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw, malaikat pun ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw, maka kita pun seharusnya ber-sholawat kepada Rosulullah Muhammad Saw. Kenapa? Apakah Rosulullah Muhammad Saw butuh sholawat kita? Tidak! Justru kitalah yang butuh Rosulullah Muhammad Saw. Dengan ber-sholawat kita mengakui bahwa Rosulullah Muhammad Saw adalah utusan Allah Swt dan kita ber-washilah lewat beliau Saw kepada Allah Swt.
Dikatakan oleh Alhabib Muhammad Alwi Almaliki Alhasani bahwa washilah (perantara) untuk sampai kepada Allah Swt itu boleh asalkan tetap meyakini bahwa Allah Swt-lah tempat kita bermohon, kepada Allah Swt-lah kita menggantungkan segala urusan kita dan kita meyakini bahwa Rosulullah Muhammad Saw kekasih Allah Swt. Kita berdo'a tetap kepada Allah Swt. Hati tetap yakin kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw, diimbangi dengan anggota badan kita menyebut dan melakukan perbuatan yang menunjukkan bukti pengagungan kita kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw.
Mereka juga menolak memakai penyebutan istilah SAYYIDI (tuanku) kepada Rosulullah Muhammad Saw dengan alasan Rosulullah Muhammad Saw itu manusia biasa, mereka beranggapan bahwa dengan menyebut SAYYIDI kepada Rosulullah Muhammad Saw adalah berlebihan dan menurut mereka ini terlarang. Memang benar Rosulullah Muhammad Saw manusia biasa tapi beliau Saw diistimewakan atau diluar-biasakan oleh Allah Swt dengan kedudukan beliau sebagai kekasih Allah Swt dan pimpinan dari seluruh Rosul dan Nabi.
Penyebutan ini adalah sangat pantas untuk Rosulullah Muhammad Saw karena memang demikianlah Rosulullah Muhammad Saw sebagai kekasih Allah Swt. Jikalau kepada orang yang kita hormati saja kita menyebut dengan YANG TERHORMAT BAPAK PEJABAT kepada pejabat pemerintahan, maka apalagi kepada Rosulullah Muhammad Saw yang merupakan pemimpin para Rosul dan Nabi, adalah sangat pantas beliau disebut demikian. Ini bentuk penghormatan, penghormatan ini tidak akan melebih penghormatan kita kepada Allah Swt yaitu sebagaimana penghormatan atau kepatuhan kita kepada orang tua kita yang tidak akan melebihi penghormatan atau kepatuhan kita kepada Allah Swt.
Sekarang ini sedang gencar-gencarnya diluncurkan GAM yaitu Gerakan Anti Manaqib atau Maulid dengan alasan manaqib dan maulid adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat, setiap sesat tempatnya di neraka. Benarkah begitu? Mari kita lihat apa itu manaqib? Manaqib adalah sejenis dengan biografi dari orang-orang yang dikenal alim yang sudah meninggal, yang mana dengan membaca kisah beliau akan menambah iman kita kepada Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw. Dengan membaca atau mendengarkan kitab manaqib dibacakan itu sama dengan kita mengingat orang alim tersebut. Mengingat yang bagaimana? Mengingat untuk kemudian kita lakukan, untuk kita tiru perbuatan beliau, untuk kita tiru ibadah beliau, untuk kita tiru amal beliau, untuk kita tiru bagaimana beliau menuntut ilmu, bagaimana mereka sholat, dzikir beliau, akhlaq beliau, adab beliau dsb.
Beliau meningkatkan rasa syukur beliau dengan memanfaatkan badan beliau untuk ibadah kepada Allah Swt semaksimal mungkin, inilah yang harus kita tiru agar kita makin tambah lebih baik. Untuk bsa meniru maka kita harus membaca sejarah beliau, maka untuk itulah acara manaqib diadakan. Demikian juga dengan acara pembacaan kitab maulid, kitab maulid adalah berisi catatan kisah Rosululah Muhammad Saw. Dengan membaca atau mendengarkan kitab maulid dibacakan maka seharusnya akan meningkatkan rasa cinta kita kepada Rosulullah Muhammad Saw, rasa cinta yang mengantarkan kita kepada Allah Swt. Di kitab maulid ditulis bagaimana Rosulullah Muhammad Saw sebelum hingga sesudah lahir, bagaimana akhlaq beliau dsb.
Apakah cukup dengan membaca dan mendengar kitab manaqib dan maulid saja? Tidak! seharusnya setelah itu kita semakin bertambah ibadah kita, bertambah iman kita, cinta kita, syukur kita, ilmu kita, amal kita, akhlaq kita bertambah baik dsb.
Monday, November 03, 2008
Antara Kebiasaan dan Ibadah
Majlis Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror.
Gemah - Semarang.

Jum'at 31 Oktober 2008 habis isya' lalu pembukaan majlis selapanan pembacaan Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, dihadiri oleh habaib dan ustadz serta masyarakat sekitar.
Seperti biasa, ceramah disampaikan oleh KH. Ahmad Baidlowi (pimpinan Ponpes Salafiyah Almunawir - Gemah) setelah maulid. Kali ini beliau menyampaikan tentang niat.
Niat itu, menurut beliau, adalah untuk membedakan antara kebiasaan dan ibadah. Semua kegiatan akan bernilai ibadah jika kita niatkan untuk mentaati Allah Swt lewat Nabi Muhammad Saw. Kalau tanpa niat untuk taat pada Allah Swt lewat Nabi Saw, maka semua kegiatan kita hanya merupakan kebiasaan semata.
Makan adalah kebiasaan kita, tapi kalau kita berniat taat pada Allah Swt dengan meniru cara makan Nabi Saw atau kita makan agar kita punya tenaga untuk ibadah-ibadah berikutnya maka makan kita bernilai ibadah.
Bekerja merupakan kebiasaan, tapi kalau kita berniat setelah mendapatkan uang maka uang itu akan kita gunakan untuk anak istri keluarga kita, shodaqoh, membantu orang lain, bekal ibadah-ibadah lainnya misal beli pakaian yang menutup aurot, biaya pergi haji, beli bensin agar kita bisa memakai kendaraan kita untuk bekerja atau hadir di majlis-majlis kebaikkan, beli sapu untuk membersihkan lantai agar bersih dari kotoran dan najis dsb, maka bekerja-nya kita bernilai ibadah.
Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan kita yang lainnya, asalkan diniati untuk mentaati Allah Swt lewat Nabi Saw lewat salafush soleh lewat guru-guru kita, maka kegiatan-kegiatan kita yang semula merupakan kebiasaan saja akan bertambah nilainya menjadi ibadah.
Adapun niat itu boleh dikeraskan lewat lesan, boleh dalam hati saja. Keduanya dilakukan sekaligus pun juga baik.
Gemah - Semarang.
Jum'at 31 Oktober 2008 habis isya' lalu pembukaan majlis selapanan pembacaan Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, dihadiri oleh habaib dan ustadz serta masyarakat sekitar.
Seperti biasa, ceramah disampaikan oleh KH. Ahmad Baidlowi (pimpinan Ponpes Salafiyah Almunawir - Gemah) setelah maulid. Kali ini beliau menyampaikan tentang niat.
Niat itu, menurut beliau, adalah untuk membedakan antara kebiasaan dan ibadah. Semua kegiatan akan bernilai ibadah jika kita niatkan untuk mentaati Allah Swt lewat Nabi Muhammad Saw. Kalau tanpa niat untuk taat pada Allah Swt lewat Nabi Saw, maka semua kegiatan kita hanya merupakan kebiasaan semata.
Makan adalah kebiasaan kita, tapi kalau kita berniat taat pada Allah Swt dengan meniru cara makan Nabi Saw atau kita makan agar kita punya tenaga untuk ibadah-ibadah berikutnya maka makan kita bernilai ibadah.
Bekerja merupakan kebiasaan, tapi kalau kita berniat setelah mendapatkan uang maka uang itu akan kita gunakan untuk anak istri keluarga kita, shodaqoh, membantu orang lain, bekal ibadah-ibadah lainnya misal beli pakaian yang menutup aurot, biaya pergi haji, beli bensin agar kita bisa memakai kendaraan kita untuk bekerja atau hadir di majlis-majlis kebaikkan, beli sapu untuk membersihkan lantai agar bersih dari kotoran dan najis dsb, maka bekerja-nya kita bernilai ibadah.
Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan kita yang lainnya, asalkan diniati untuk mentaati Allah Swt lewat Nabi Saw lewat salafush soleh lewat guru-guru kita, maka kegiatan-kegiatan kita yang semula merupakan kebiasaan saja akan bertambah nilainya menjadi ibadah.
Adapun niat itu boleh dikeraskan lewat lesan, boleh dalam hati saja. Keduanya dilakukan sekaligus pun juga baik.
Wednesday, August 13, 2008
Amal yang Dicintai Allah Swt
Ustadz Taufiq :
Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa amalan yang bisa membuat kita dicintai Allah Swt adalah :
1. Sholat tepat pada waktunya.
2. Berbakti kepada orang tua.
3. Silaturrahim.
4. Tidak menyia-nyiakan waktu. Sebaik-baiknya orang itu mereka yang berumur panjang dengan amal yang banyak. Sedangkan seburuk-buruknya orang itu mereka yang berumur panjang dengan tanpa amal. Umur kita pada dasarnya adalah yang kita gunakan untuk ibadah.
5. Tidak mengikuti hawa nafsu.
6. Bersungguh-sungguh taat kepada Allah Swt. Benar-benar taat dimana pun, dengan siapa pun dan sedang apapun juga. Tidak sesaat taat, sesaat tidak taat.
7. Memperbanyak dzikir kepada Allah Swt di saat sepi atau ramai, di saat sendiri atau dengan banyak orang.
Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa amalan yang bisa membuat kita dicintai Allah Swt adalah :
1. Sholat tepat pada waktunya.
2. Berbakti kepada orang tua.
3. Silaturrahim.
4. Tidak menyia-nyiakan waktu. Sebaik-baiknya orang itu mereka yang berumur panjang dengan amal yang banyak. Sedangkan seburuk-buruknya orang itu mereka yang berumur panjang dengan tanpa amal. Umur kita pada dasarnya adalah yang kita gunakan untuk ibadah.
5. Tidak mengikuti hawa nafsu.
6. Bersungguh-sungguh taat kepada Allah Swt. Benar-benar taat dimana pun, dengan siapa pun dan sedang apapun juga. Tidak sesaat taat, sesaat tidak taat.
7. Memperbanyak dzikir kepada Allah Swt di saat sepi atau ramai, di saat sendiri atau dengan banyak orang.
Tuesday, August 12, 2008
Bersyukurlah !
Oleh : Kyai Munif Zuhri (Ponpes Giri Kusumo, Mranggen – Demak)
(Disampaikan dalam acara pembacaan rotib Alatas dan maulid ad-Diba’i di rumah Alhabib Abdurrahman bin Ja’far Barakbah, Jl. Mlatiharjo Semarang)
Ada pertanyaan apa yang didapat dari maulid semacam ini? Di maulid seperti ini, barokah majlis sangat banyak yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kita tentu merasakan keagungan dari pembacaan maulid ini, siapa yang benar-benar khusyuk maka Rasul Saw akan hadir bersama kita.
Lalu siapa kita? Kita adalah hamba-Nya! Hamba itu bagaimana? Hamba itu wajib bersyukur atas segala yang dikaruniakan oleh Allah Swt. Barang siapa bersyukur kepada Alah Swt maka akan ditambah nikmat oleh Allah Swt dan barang siapa tidak bersyukur kepada Allah Swt maka akan dikurangi nikmat-Nya. Sekarang ini banyak orang yang pintar berbicara, pintar di mulut saja, tidak pintar hatinya. Manusia yang seperti ini hanya pandai bicara tapi tidak pandai mengamalkan, maka apa yang dia bicarakan tidak akan didengar oleh orang lain.
Ada sebuah cerita jaman dulu ada seorang kyai didatangi oleh seorang ibu-ibu minta tolong agar kyai menasehati anak ibu tersebut untuk berhenti makan permen, sebab meski disuruh ibunya si anak tetap tidak mau berhenti juga. Si kyai menyanggupi tapi ibu itu disuruh datang 3 hari lagi. Sesudah 3 hari ibu itu datang lagi, kyai lalu menasehati si anak,
”Le, ojo maem permen meneh, mundhak marak i untumu gigis, nek untumu gigis ngko ilang nggantengmu!” (Dik, jangan makan permen lagi ya, gigimu nanti rusak nah kalau gigimu rusak nanti hilang cakepmu!”)
Sudah itu saja nasehat beliau, ibu dan anak itu lalu pulang. Dan benar, si anak tidak lagi makan permen sama sekali. Dengan keheranan si ibu balik lagi ke kyai dan bertanya kenapa anaknya langsung berubah total seperti itu setelah dinasehati oleh si kyai? Dijawab oleh sang kyai bahwa 3 hari yang lalu ketika ibu dan anak itu datang, kyai tersebut masih suka makan permen. Kyai itu janji dalam 3 hari akan berhenti makan permen demi menasehati anak ibu itu. Sesudah kyai bisa berhenti makan permen, beliau akan menasehati anak tersebut. Si kyai tidak mau menasehati yang beliau tidak melakukan apa yang beliau nasehatkan.
Dengan mengamalkan terlebih dulu suatu perkara sebelum kita nasehatkan akan membuat apa yang kita nasehatkan itu didengar dan dilakukan oleh mereka.
Jaman sekarang siapa orang yang seperti Rasul Saw? Sangat sedikit! Barang siapa bertaqwa kepada Allah Swt maka bumi dan segala isinya akan dibuka untuknya, tapi barang siapa tidak bertaqwa maka berbagai maksiat akan menimpa mereka.
Semua anggota badan kita seperti mata, hidung, telinga, tangan, kaki dsb adalah merupakan masyarakat dari negara diri kita sendiri. Kalau mereka (masyarakat negara diri kita = anggota badan kita) diajak taat kepada Allah Swt lalu taat pada Rasulullah Saw, maka Allah Swt akan mengkaruniakan berbagai nikmat-Nya untuk mereka.
Syukuri apa yang Allah Swt karuniakan kepada kita. Kita punya mobil seperti apapun harus disyukuri kita masih bisa nyaman naik mobil. Kita punya rumah seperti apapun harus disyukuri kita bisa berteduh di bawahnya saat hujan dan terik panas matahari. Syukuri manfaat dari apa yang kita punya meski secara kualitas dan kuantitas pas-pasan. Yang terpenting adalah manfaat dari barang yang kita punya. Kerja kita jauh tapi alhamdulillah ada sepeda, ada motor, ada mobil, ada angkot dsb jadi masih terkurangi rasa capek kita. Jangan selalu merasa kurang! Orang yang seperti ini berarti dia sudah tahu Allah Swt.
Seandainya kita punya suatu barang yang banyak jumlahnya tapi secara kualitas sedang-sedang saja, ketika lalu kita ditawari suatu barang sangat bagus istimewa oleh orang lain untuk kita terima sebagai hadiah, mana yang kita pilih? Barang bagus atau barang yang sedang-sedang saja? Sudah tentu kita memilih barang yang bagus itu!
Allah Swt adalah Maha Istimewa, ketika kita ditawari yang Maha Istimewa maka seharusnya kita memilih Allah Swt. Barang siapa sudah ketemu dengan Allah Swt maka mereka akan merasa cukup dengan itu, mereka akan merasa cukup dengan apa yang mereka punya dan mereka tidak ingin lagi yang lain.
(Disampaikan dalam acara pembacaan rotib Alatas dan maulid ad-Diba’i di rumah Alhabib Abdurrahman bin Ja’far Barakbah, Jl. Mlatiharjo Semarang)
Ada pertanyaan apa yang didapat dari maulid semacam ini? Di maulid seperti ini, barokah majlis sangat banyak yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kita tentu merasakan keagungan dari pembacaan maulid ini, siapa yang benar-benar khusyuk maka Rasul Saw akan hadir bersama kita.
Lalu siapa kita? Kita adalah hamba-Nya! Hamba itu bagaimana? Hamba itu wajib bersyukur atas segala yang dikaruniakan oleh Allah Swt. Barang siapa bersyukur kepada Alah Swt maka akan ditambah nikmat oleh Allah Swt dan barang siapa tidak bersyukur kepada Allah Swt maka akan dikurangi nikmat-Nya. Sekarang ini banyak orang yang pintar berbicara, pintar di mulut saja, tidak pintar hatinya. Manusia yang seperti ini hanya pandai bicara tapi tidak pandai mengamalkan, maka apa yang dia bicarakan tidak akan didengar oleh orang lain.
Ada sebuah cerita jaman dulu ada seorang kyai didatangi oleh seorang ibu-ibu minta tolong agar kyai menasehati anak ibu tersebut untuk berhenti makan permen, sebab meski disuruh ibunya si anak tetap tidak mau berhenti juga. Si kyai menyanggupi tapi ibu itu disuruh datang 3 hari lagi. Sesudah 3 hari ibu itu datang lagi, kyai lalu menasehati si anak,
”Le, ojo maem permen meneh, mundhak marak i untumu gigis, nek untumu gigis ngko ilang nggantengmu!” (Dik, jangan makan permen lagi ya, gigimu nanti rusak nah kalau gigimu rusak nanti hilang cakepmu!”)
Sudah itu saja nasehat beliau, ibu dan anak itu lalu pulang. Dan benar, si anak tidak lagi makan permen sama sekali. Dengan keheranan si ibu balik lagi ke kyai dan bertanya kenapa anaknya langsung berubah total seperti itu setelah dinasehati oleh si kyai? Dijawab oleh sang kyai bahwa 3 hari yang lalu ketika ibu dan anak itu datang, kyai tersebut masih suka makan permen. Kyai itu janji dalam 3 hari akan berhenti makan permen demi menasehati anak ibu itu. Sesudah kyai bisa berhenti makan permen, beliau akan menasehati anak tersebut. Si kyai tidak mau menasehati yang beliau tidak melakukan apa yang beliau nasehatkan.
Dengan mengamalkan terlebih dulu suatu perkara sebelum kita nasehatkan akan membuat apa yang kita nasehatkan itu didengar dan dilakukan oleh mereka.
Jaman sekarang siapa orang yang seperti Rasul Saw? Sangat sedikit! Barang siapa bertaqwa kepada Allah Swt maka bumi dan segala isinya akan dibuka untuknya, tapi barang siapa tidak bertaqwa maka berbagai maksiat akan menimpa mereka.
Semua anggota badan kita seperti mata, hidung, telinga, tangan, kaki dsb adalah merupakan masyarakat dari negara diri kita sendiri. Kalau mereka (masyarakat negara diri kita = anggota badan kita) diajak taat kepada Allah Swt lalu taat pada Rasulullah Saw, maka Allah Swt akan mengkaruniakan berbagai nikmat-Nya untuk mereka.
Syukuri apa yang Allah Swt karuniakan kepada kita. Kita punya mobil seperti apapun harus disyukuri kita masih bisa nyaman naik mobil. Kita punya rumah seperti apapun harus disyukuri kita bisa berteduh di bawahnya saat hujan dan terik panas matahari. Syukuri manfaat dari apa yang kita punya meski secara kualitas dan kuantitas pas-pasan. Yang terpenting adalah manfaat dari barang yang kita punya. Kerja kita jauh tapi alhamdulillah ada sepeda, ada motor, ada mobil, ada angkot dsb jadi masih terkurangi rasa capek kita. Jangan selalu merasa kurang! Orang yang seperti ini berarti dia sudah tahu Allah Swt.
Seandainya kita punya suatu barang yang banyak jumlahnya tapi secara kualitas sedang-sedang saja, ketika lalu kita ditawari suatu barang sangat bagus istimewa oleh orang lain untuk kita terima sebagai hadiah, mana yang kita pilih? Barang bagus atau barang yang sedang-sedang saja? Sudah tentu kita memilih barang yang bagus itu!
Allah Swt adalah Maha Istimewa, ketika kita ditawari yang Maha Istimewa maka seharusnya kita memilih Allah Swt. Barang siapa sudah ketemu dengan Allah Swt maka mereka akan merasa cukup dengan itu, mereka akan merasa cukup dengan apa yang mereka punya dan mereka tidak ingin lagi yang lain.
Monday, August 11, 2008
Di mana Imannya ?
Ustadz Masykuri :
Meski kita yakin hanya Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan lewat berbagai perantara-Nya tapi kalau kita tidak yakin, tidak percaya, tidak mantap kepada dokter yang mengobati kita dan tidak yakin kepada obat yang diberikannya maka tetap tidak akan sembuh penyakit kita, semahal apapun itu tetap tidak akan sembuh.
Sebaliknya dengan dasar keyakinan bahwa hanya Allah Yanga Maha Menyembuhkan lewat berbagai perantara-Nya maka obat yang semurah apapun maka asal kita yakin, kita percaya dan kita mantap pada dokter yang memberikan obat itu insya Allah sakit kita akan sembuh.
Keyakinan itu penting dalam segala hal termasuk berobat, sedangkan bimbang dan ragu-ragu akan membuat pengobatan kita percuma meski sering sekalipun. Kuncinya adalah percaya dan yakin terhadap Allah Swt lewat perantara yang mengobati kita.
Kalau kita tidak yakin dan percaya maka tidak akan “mandi” (bahasa Jawa untuk MANJUR), “mandi” = iMANe nDI (bahasa Jawa untuk ‘DI MANA IMANNYA’) ?
Meski kita yakin hanya Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan lewat berbagai perantara-Nya tapi kalau kita tidak yakin, tidak percaya, tidak mantap kepada dokter yang mengobati kita dan tidak yakin kepada obat yang diberikannya maka tetap tidak akan sembuh penyakit kita, semahal apapun itu tetap tidak akan sembuh.
Sebaliknya dengan dasar keyakinan bahwa hanya Allah Yanga Maha Menyembuhkan lewat berbagai perantara-Nya maka obat yang semurah apapun maka asal kita yakin, kita percaya dan kita mantap pada dokter yang memberikan obat itu insya Allah sakit kita akan sembuh.
Keyakinan itu penting dalam segala hal termasuk berobat, sedangkan bimbang dan ragu-ragu akan membuat pengobatan kita percuma meski sering sekalipun. Kuncinya adalah percaya dan yakin terhadap Allah Swt lewat perantara yang mengobati kita.
Kalau kita tidak yakin dan percaya maka tidak akan “mandi” (bahasa Jawa untuk MANJUR), “mandi” = iMANe nDI (bahasa Jawa untuk ‘DI MANA IMANNYA’) ?
Thursday, June 22, 2006
K E B A I K A N
Assalamu'alaikum wr wb
GEMAH - SEMARANG. Di majlis pembacaan Rotib al-Haddad dan kitab Simtud Durror yang diasuh oleh Sayyidy al-Habib Idrus Assegaf beberapa hari yang lalu, Sayyidy al-Habib Umar al-Muthohar menyampaikan bahwa kejadian-kejadian yang akhir-akhir terjadi (hutan gundul, banjir, air rob dsb) akibat manusia yang dzolim (dijelaskan bahwa dzolim itu menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya). Semua itu ada aturannya, kalau aturan-aturan itu tidak diterapkan pada tempatnya maka kita telah berbuat dzolim dan mengakibatkan timbulnya "kiamat" di sekitarnya.
GEMAH - SEMARANG. Di majlis pembacaan Rotib al-Haddad dan kitab Simtud Durror yang diasuh oleh Sayyidy al-Habib Idrus Assegaf beberapa hari yang lalu, Sayyidy al-Habib Umar al-Muthohar menyampaikan bahwa kejadian-kejadian yang akhir-akhir terjadi (hutan gundul, banjir, air rob dsb) akibat manusia yang dzolim (dijelaskan bahwa dzolim itu menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya). Semua itu ada aturannya, kalau aturan-aturan itu tidak diterapkan pada tempatnya maka kita telah berbuat dzolim dan mengakibatkan timbulnya "kiamat" di sekitarnya.
Disampaikan oleh Sayyidy al-Habib Umar al-Muthohar bahwa Rosul Saw melarang buang air kecil di air sedikit yang menggenang, bisa menimbulkan "kiamat" bagi orang yang lewat (sebab bau yang ditimbulkannya). Penebangan hutan yang sembarangan juga mengakibatkan "kiamat" bagi banyak orang, air hujan yang seharusnya sebagian diserap tanam-tanaman jadi melimpah ke sungai hingga bisa timbul banjir besar, tanah longsor dsb. Air laut sudah sunnatulloh ada pasang, kalau dulu air pasang mengalir ke tambak-tambak maka sekarang tambak-tambak sudah hilang berganti dengan perumahan dan bangunan, air laut (disebut air rob) yang pasang mengalir memenuhi rumah-rumah kita. Kesalahan manusialah yang mengakibatkan banjir, tanah longsor, hutan gundul, air rob dsb itu, manusia tidak menempatkan pada tempatnya. Coba kalau hutan tidak digunduli saja, tapi dibarengi juga dengan reboisasi, maka insya Alloh tanah tidak longsor, air diserap tanaman, kemungkinan banjir bisa dikurangi. Begitu juga yang lainnya...tempatkanlah sesuatu itu pada tempatnya, aturannya, kalau tidak maka akan ada banyak orang kena akibatnya!
Bala' itu merata, maka demikian juga dengan hidayah juga merata, kurang lebih seperti itu Sayyidy al-Habib Shodiq Baharun berkata dalam majlis tiap Sabtu malam, Madadun Nabawiy. Hadir di majlis-majlis ilmu, majlis-majlis kheir, kalau diniatkan bahwa seandainya sebab hadir di majlis itu Alloh Swt memberikan hidayah-Nya, maka mohon agar hidayah itu dilimpahkan juga untuk kaum muslim muslimat lainnya. Hidayah Alloh itu merata.
Demikian juga panjenenganipun Abah Baidlowi (pengasuh PP Salafiyyah al-Munawir) menjelaskan di majlis Ahad pagi bahwa amal yang diketahui orang banyak itu baik, tapi amal-amal yang dirahasiakan insya Alloh juga baik. Beliau menyampaikan agar kita semua memperbanyak amal-amal yang dirahasiakan.
(Saat kiamat, bumi gempa dengan sehebat-hebatnya)
"Maka barang siapa berbuat KEBAIKAN sekalipun seberat zarroh NISCAYA ia akan melihat (balasannya)."
(Q.S. Al-Zalzalah : 7)
Subhaanaka-lloohumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...
Wallohu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb
Bala' itu merata, maka demikian juga dengan hidayah juga merata, kurang lebih seperti itu Sayyidy al-Habib Shodiq Baharun berkata dalam majlis tiap Sabtu malam, Madadun Nabawiy. Hadir di majlis-majlis ilmu, majlis-majlis kheir, kalau diniatkan bahwa seandainya sebab hadir di majlis itu Alloh Swt memberikan hidayah-Nya, maka mohon agar hidayah itu dilimpahkan juga untuk kaum muslim muslimat lainnya. Hidayah Alloh itu merata.
Demikian juga panjenenganipun Abah Baidlowi (pengasuh PP Salafiyyah al-Munawir) menjelaskan di majlis Ahad pagi bahwa amal yang diketahui orang banyak itu baik, tapi amal-amal yang dirahasiakan insya Alloh juga baik. Beliau menyampaikan agar kita semua memperbanyak amal-amal yang dirahasiakan.
(Saat kiamat, bumi gempa dengan sehebat-hebatnya)
"Maka barang siapa berbuat KEBAIKAN sekalipun seberat zarroh NISCAYA ia akan melihat (balasannya)."
(Q.S. Al-Zalzalah : 7)
Subhaanaka-lloohumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...
Wallohu a'lam bishshowab
Wassalamu'alaikum wr wb
Subscribe to:
Posts (Atom)