Showing posts with label Habib Alwi Alhasni. Show all posts
Showing posts with label Habib Alwi Alhasni. Show all posts

Friday, November 28, 2008

Hati yang Hadir - 2

Oleh : Hany Ba'agil

Termasuk kunci-kunci masuk menuju hadirat ilahi adalah Hadirnya Hati. Suatu poin sangat penting yang sering dilalaikan kebanyakan manusia. Karena maulid, burdah, pengajian, dll telah menjadi sesuatu yang rutin, maka hati pun cenderung menebal dan resisten serta mengabaikan. Seperti sebagian hadirin sholat jum'at tidak mau mendengarkan khotbah dengan mengantuk-antukkan diri sepanjang khotbah.

Begitu pentingnya masalah kehadiran hati hingga banyak sekali ditekankan oleh para salaf, dalam kalam, tulisan dan qasidah mereka. Begitu pula para guru kita habaib di tarim juga menekankan [pentingnya kehadiran hati].

Ibarat hati itu wadah, maka ketika wadah itu tertutup atau mengahadap ke arah yang tidak tepat, maka ia tidak akan menampung curahan hujan madad dari Allah Ta'ala. Apabila cawan hati itu menghadap ke atas, maka madad Allah akan sampai masuk merasuk ke dalam hati. Itulah sebabnya berbeda antara yang hadir hatinya dengan yang tidak. Yang satu membawa pulang bekal yang lebih banyak ketimbang yang lain. Sebagian orang setelah hadir majlis merasakan suasana hati yang menakjubkan, karena dia telah membuka cawan hatinya. Sebagian tidak merasakan apa-apa, karena dia memang tidak kebagian hujan madad, cawannya tertutup atau terbalik atau menghadap ke arah yang salah.

Salah satu guru kita mengajarkan apabila seseorang hadir dalam suatu majlis hendaklah dia mendengarkan setiap kata yang dilontarkan, karena pada setiap kata tersebut tersimpan madad Allah.

Setiap kata memiliki kekuatan menghidupkan hati kita. Kalau kita perhatikan para Habaib kita di Hadramaut sangatlah khusyuk dalam berbagai majlis. Bahkan bisa dikatakan seperti orang yang tenggelam ke dalam alunan makna-makna dari kalimat-kalimat yang terucap. Bahkan mereka sanggup duduk tenang tanpa bergerak mendengarkan maulid selama berjam-jam dalam salah satu acara baca maulid tahunan di masjid jami' Tarim. Bahkan seolah berada dalam atmosfer mengawang.

Maka salah satu rahasia untuk dekat dan sampai kepada Allah adalah Hadirnya Hati.

Wallahu a'lam

Monday, November 24, 2008

Hati yang Hadir - 1

Oleh : Alhabib Alwiy bin Abdullah Alhasni

(Disampaikan dalam majlis rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror di Mushola Attaqwa - Sendang Guwo, Semarang tanggal 23 November 2008)

Perhatikan orang-orang yang mengikuti majlis pembacaan maulid, ada yang menangis di awal acara, ada yang menangis ketika sampai di tengah acara, ada yang menangis di akhir acara dan bahkan ada yang tidak menangis sama sekali!

Kenapa? Bukankah tidak ada diantara mereka yang mengalami hidup sejaman dengan Rosulullah Muhammad Saw? Kenapa mereka menangis?

Karena hati mereka sudah tersambung kepada Rosulullah Muhammad Saw, hati mereka hadir menyeluruh ketika berada di majlis. Ketika hati sudah hadir maka mereka akan mendapatkan diri mereka dekat dengan yang mereka cintai, kalau yang mereka cintai adalah Rosulullah Muhammad Saw maka mereka hadir bersama Rosulullah Muhammad Saw. Dalam kehadiran itu mereka akan merasakan suasana yang menakjubkan sehingga membuat mereka meneteskan air mata karena mengingat bahwa betapa agungnya akhlaq Nabi Muhammad Saw. Mereka menangis karena betapa mereka merasakan bahwa mereka kerap kali lupa mendekatkan diri kepada Allah Swt, mereka ingat pada Allah Swt sewaktu masih berada di dalam majlis saja, begitu keluar dari majlis mereka segera lupa.

Ada pula yang tidak menangis, kenapa? Bisa jadi karena hatinya tidak hadir penuh. Hati tidak hadir sering kali disebabkan kurang dipersiapkan di awal atau terlalu banyak tertawa. Tertawa boleh tapi terlalu banyak adalah kurang baik. Tapi bukan berarti kita harus menangis tiap kali ada di dalam majlis maulid, bukan! Menangis atau tidak itu menyesuaikan suasana. Terkadang justru ada yang merasa sangat bahagia dan gembira berada dalam majlis maulid, bahagia mengingat Rosulullah Muhammad Saw, bahagia berada di majlis yang di dalamnya ada usaha mengingat Allah Swt dan Rosulullah Muhammad Saw, bahagia berada diantara orang-orang yang senang hal-hal yang baik.

Dikatakan oleh Alhabib Ali bin Muhammad Alhabsyi dalam kitab Simthud Durror bahwa Allah Swt berkenan melipat-gandakan manfaatnya bagi si pembaca ataupun bagi pendengarnya, sehingga keduanya akan memasuki pintu syafa'at.

Lakukan apa yang kita bisa lakukan, bagi yang bisa membaca ya bacalah dengan sepenuh hati, bagi yang bisa mendengarkan saja ya dengarkanlah dengan baik agar tertanam dalam hati. Allah Swt tidak memandang banyaknya tapi kualitasnya. Banyak tapi berkualitas adalah jauh lebih baik.

Monday, November 03, 2008

Adap Majlis

Majlis Rotib Alhaddad Dan Maulid Simthud Durror.

Mushola Attaqwa.
Sendang Guwo Rt.01/VIII - Semarang.





"Sebagian orang kurang paham adab saat berada di dalam majlis, masih saja terlihat orang-orang yang kurang memperhatikan jalannya majlis dsb.", kata habib Alwi bin Abdullah Alhasni setelah selesai membacakan Rotib Alhaddad dan Maulid Simthud Durror.

Adab itu salah satu fungsinya untuk membuktikan bahwa kita jauh lebih baik daripada makhluq Allah Swt yang lain. Dengan adab kita menghormati mereka yang lebih tua, sesama, bahkan mereka yang lebih muda. Bukan menghormati karena harta bendanya tapi karena Allah Swt lewat Nabi Saw menyuruh kita untuk saling menhormati. Adapun orang yang dihormati karena ilmunya adalah lebih baik.

"Yang tadi kita baca adalah sejarah hidup dari makhluq yang termulia (Nabi Saw) dan wirid dari salaf sholeh (habib Abdullah bin Alwi Alhaddad), maka sudah seharusnya kita yang hadir memperhatikan agar kita lebih paham dan bisa mencontoh akhlaq beliau Saw dan habib Abdullah Alhaddad.", habib Alwi melanjutkan penjelasan beliau, "Kalau kita ingin mencintai Nabi Saw maka ikutilah beliau Saw."

Mencintai Nabi Saw itu menjadikan beliau Saw sebagai idola dalam hidup kita dalam segala hal, meniru beliau Saw dengan sepenuhnya tidak sepotong-potong. Beberapa orang merasa sudah meniru Nabi Saw tapi sebenarnya tidak begitu, lesannya mengatakan begitu tapi tingkah lakunya tidak.

Kalau kita percaya Nabi Saw mengajarkan sekaligus melakukan berbagai kebaikkan maka tidak ada salahnya kita tanya diri kita, yaitu apa yang sudah kita tiru dari Nabi Saw? Apakah cara tidur kita seperti yang Nabi Saw ajarkan? Atau cara kita makan, atau cara berpakaian kita, cara mandi kita, cara bicara kita, cara kita mengatasi masalah, cara dakwah kita, cara wirid kita, cara sholat kita, cara dagang kita ataukah cara minum kita? Bagian mana dari kegiatan kita yang seperti Nabi Muhammad Saw?

Memakai adab saat di dalam majlis karena kita berharap ridho Allah Swt lewat ilmu yang disampaikan pimpinan majlis.

"Manfaatkan waktu kita sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu sebelum Allah Swt mencabut ilmu dari kita. Bagaimana Allah Swt mencabut ilmu dari kita? Yaitu dengan meninggalnya orang-orang yang berilmu. Kalau ada ilmu mereka yang belum disampaikan pada kita maka lenyaplah ilmu tsb. Apalagi kalau kita sama sekali tidak tertarik pada ilmu, perlahan ilmu-ilmu yang bisa mendekatkan kita pada Allah Swt itu akan lenyap dan kita akan kehilangan mutiara-mutiara tsb."

Dengan ilmu kita bisa beribadah seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dan, perlu diingat bahwa barokah dari ilmu itu ada pada adab.

Tuesday, October 28, 2008

Perintah Allah atau Hawa Nafsu?


Gemah - Semarang. Majlis pembacaan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror malam Senin 26 Oktober 2008 lalu tidak dihadiri oleh habib Alwi bin Abdullah Alhasni karena beliau belum pulang dari Pemalang, ibu beliau sakit. Semoga Allah Swt menyembuhkan beliau, amin.

Meski begitu, kami tetap hadir demi menjaga keistiqomahan majlis ini, bahkan kami kedatangan tamu yaitu ustadz Ro'is. Kami hanya membaca rotib Alhaddad.

Ustadz Ro'is ini oleh teman-teman diundang hadir malam ini selain untuk menjalin silaturrohim dengan habib Alwi dan ustadz Nur Amin (ta'mir mushola), juga demi menjaga adab dan mengharap barokah Allah Swt. Di mushola ini sudah ada habib Alwi yang mengasuh majlis terlebih dulu, sedangkan ustadz Ro'is baru akan mengajar, jadi yang baru masuk silaturrohim dulu pada yang lama masuk.

Kami ingin beliau-beliau saling mengenal satu dengan lainnya sehingga (harapan kami) selain kami bisa istiqomah (rutin dan terus menerus) hadir di majlis-majlis yang diadakan di mushola ini, juga semoga masyarakat digerakkan hati mereka oleh Allah Swt untuk hadir bersama kami mengambil ilmu dari habaib dan ustadz yang mengajar di sini.

Di akhir majlis, ustadz Ro'is menyampaikan bahwa kita sebaiknya dalam melakukan segala sesuatu harus diniatkan karena menjalankan perintah Allah Swt.Bagaimana mengerti perintah Allah Swt? Menurut ustadz Ro'is, kalau kita lapar maka saat itu kita diperintah Allah Swt untuk makan. Makanlah setelah lapar sebab dengan begini kita akan lebih merasakan nikmatnya makanan apapun yang kita miliki.

Kalau kita mengantuk maka kita diperintahkan Allah Swt untuk tidur. Jangan memaksakan diri untuk belum mau tidur disaat kita mengantuk karena merasa saat itu kita sedang melakukan perbuatan baik! Mungkin kita sedang berbuat baik tapi kalau ini mengakibatkan kita meninggalkan perbuatan yang lebih utama berikutnya, maka lebih baik kita tidur agar nanti bisa melakukan perbuatan utama tsb.

Mengaji sampai larut malam sambil menahan kantuk itu boleh tapi kalau mengakibatkan kita terlambat bangun tidur yang berarti terlambat pula sholat subuh kita, maka lebih baik kita tidur agar tidak terlambat sholat subuh kita.

Kalau butuh sesuatu maka ini berarti kita diperintah Allah Swt untuk berkerja menjemput rizqi. Berkerja lalu mengumpulkan uang boleh tapi hindari selalu merasa kurang dengan apa yang kita dapatkan sebab kalau dituruti tidak akan pernah ada habisnya.

Ustadz Ro'is menasehatkan agar kita berlatih mengenali keinginanan kita ini merupakan perintah Allah Swt atau perintah hawa nafsu kita. Insya Allah bisa dengan perjuangan yang gigih. Kalau kita menuruti keinginan kita karena hawa nafsu kita, maka Tuhan kita bukan Allah Swt tapi hawa nafsu kita.

Semua bisa menjadi lebih baik insya Allah asal ada niat dan usaha.

Friday, October 24, 2008

Menikah 1





Salah satu teman kami insya Allah akan menikah beberapa hari lagi.

Habib Alwi Alhasni tidak bosan-bosannya memberikan nasehat-nasehat tentang pernikahan padanya, tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam segala hal yang berhubungan dengan pernikahan.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan karena berharap agar pernikahan ini dapat ridho Allah Swt, syafaat Rosulullah Saw dan kita dikaruniai keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah.Awal, seorang anak meniru orang-tuanya ketika dia melihat orang tuanya melakukan suatu perbuatan. Ini akan terekam kuat. Anak tidak tahu yang dia lakukan itu baik atau buruk, dia hanya meniru apa yang dia lihat. Oleh karena itu, agar anak meniru yang baik maka kita harus melakukan berbagai perbuatan baik.

Untuk bisa berbuat baik maka kita harus membiasakan diri dulu jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sebelum kita menikah kita harus membiasakan diri untuk berbuat berbagai hal yang baik dulu. Kalau kita sudah terbiasa berbuat baik sebelum menikah maka saat menikah pun kita insya Allah akan tetap berbuat baik. Jika ini berlangsung hingga kita punya anak, insya Allah anak kita akan meniru kita berbuat baik.

Daya rekam anak amat kuat hingga apa yang dia tiru dari orang-tuanya akan terbawa sampai dia dewasa nanti. Disaat dia dewasa, dia akan tetap berbuat baik sampai dia punya anak cucu kelak, dan insya Allah keturunannya pun jadi pelaku-pelaku kebaikan sebagaimana orang-tuanya. Semua akan jadi pelaku kebaikan.Seandainya setiap orang berbuat baik, maka insya Allah suatu saat nanti akan muncul generasi-generasi pelaku kebaikan. Dan kebaikan akan tersebar luas.

Ini harus dimulai dari diri kita meniru berbagai perbuatan baik dalam banyak hal yang dilakukan pendahulu kita yang sholeh.Itu alasan kenapa habib Alwi mengajari teman kami yang akan menikah ini untuk berniat baik sebelum menikah, adab tata krama serta do'a-do'a yang berhubungan badan, sholat sunnah dsb.

Dan malam ini di rumah calon pengantin laki-laki, dengan diiringi gerimis tipis habib Alwi Alhasni membacakan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror dengan mengundang masyarakat sekitar. Dua hari lagi insya Allah aqod nikahnya.

Awal yang baik, insya Allah berakhir baik. Amin.

Thursday, October 23, 2008

Berkumpulah dengan Orang Baik

Malam itu kami ngobrol berempat di tepi sungai, seorang kawan berkata kalau kita ingin lancar semua urusan kita maka harus diikuti dengan riyadloh, perjuangan keras dan puasa.

Selain puasa tidak makan minum juga tidak kalah pentingnya yaitu pikiran kita di-puasa-kan juga. Pikiran dan hati ini di-puasa-kan dengan semaksimal mungkin untuk tidak su'udzon dan khusnudzon pada siapa pun juga.

Kaki, tangan, mulut, mata dan telinga puasa tidak melakukan perbuatan yang bisa menjauhkan kita dari Allah Swt seperti jangan berjalan ke tempat yang bisa membuat kita lupa pada Allah Swt, jangan memakai tangan untuk menyakiti orang lain, jangan berbicara dengan cara yang bisa memperburuk keadaan, jangan melihat hal yang tidak bermanfaat bagi kebutuhan akhirat kita dan jangan mendengar perkataan yang bisa membangkitkan hawa nafs kita. Dan puasa dari kekhawatiran-kekhawatiran yang merugikan kita.

Untuk itu kita harus memperhatikan dengan siapa kita berkumpul. Barang siapa sering berkumpul dengan pelaku keburukan dan tidak mau berkumpul dengan pelaku kebaikan maka dia akan meniru kebiasaan buruk teman berkumpulnya itu.

Semangat kita naik turun, disaat semangat sedang turun maka berkumpulah dengan pelaku kebaikan, insya Allah bersemangat lagi. Berkumpulah dengan orang-orang yang senang melakukan kebaikan agar kita meniru mereka.

Tuesday, October 21, 2008

Majlis Maulid

Gemah - Semarang. Ahad 19 Oktober 2008 habis maghrib habib Alwi bin Abdullah Alhasni memulai majlis mingguan pembacaan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror di mushola Attaqwa.

Dengan diiringi angin kencang yang akhir-akhir ini melanda Semarang dan sekitarnya ditambah hujan deras, kami 9 orang yang hadir malam ini mencoba tidak terpengaruh dengan hujan angin di luar. Yang hadir terlihat menikmati alunan syair-syair rotib dan maulid yang dibacakan oleh habib Alwi. Meski tidak banyakyang hadir tapi kami berniat untuk istiqomah.

Di akhir majlis, habib Alwi menyampaikan tentang pentingnya berguru pada orang yang tepat agar kita selamat dunia akhirat. Guru adalah orang mengajarkan ilmu pada kita meski hanya satu huruf. Untuk ilmu agama harus diajarkan oleh orang yang bersambung ilmunya pada Rosulullah Saw.

Dalam pengertian yang lebih luas, menurut habib Alwi, semua yang ada di alam ini bisa menjadi guru kita. Maksudnya adalah dari semua kejadian, orang bahkan dari binatang di sekitar kita pun bisa diambil hikmah untuk memperbaiki diri kita dan untuk menambah kebaikan kita.

Berguru itu butuh adap agar ilmu kita barokah. Barokah itu kalau kita mensyukuri atas semua yang kita miliki dan atas semua apa yang terjadi pada kita. Kita belum punya rumah ya alhamdulillah masih bisa kontrak kamar atau rumah, kita masih jauh lebih enak dibandingkan mereka yang tidak punya penghasilan untuk menyewa kamar seperti kita.

Kita dimaki-maki orang ya alhamdulillah kita masih bisa mendengar yang berarti kita masih punya telinga. Seandainya kita tidak punya telinga maka nikmat mendengar kita pun hilang. Bisa melihat nikmat, bisa bicara nikmat, bisa berjalan juga nikmat, punya apapun nikmat. Kalau begitu semuanya nikmat dan nikmat.

Syukur atas nikmat-nikmat dari Allah Swt adalah wajib bagi yang mengetahui.

Dan, habib Alwi melanjutkan, adap terhadap guru sekarang ini kurang diperhatikan mereka yang menuntut ilmu. Murid sekarang banyak protes sekiranya perintah gurunya tidak sesuai dengan keinginannya.

Guru yang benar-benar guru tentu paham apa yang terbaik bagi muridnya, jadi meskipun menurut murid perintah guru tidak baik tapi sebenarnya itu yang terbaik buat muridnya. Guru paham kalau murid melakukan hal yang dilarangnya maka dia akan dapat kesusahan dan bahkan keburukan saja, tidak akan menyampaikannya pada tujuan.

Guru memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Adalah tambahan nikmat kalau yang kita butuhkan menurut guru tersebut juga merupakan hal yang kita inginkan.

Friday, August 22, 2008

Tahun Depan Tambah Besar

Habib Alwi : Tahun Depan Majlis ini Bertambah Besar

SEMARANG - GEMAH. Kali ini tidak seperti biasanya, acara pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw (Simthud Durrar) malam ini dimulai sehabis Isya’ dengan mengundang lebih banyak tamu. Majlis yang dipimpin oleh Alhabib Alwi bin Abdullah Alhasni ini sekaligus penutupan sementara menyambut Ramadhan yang tinggal beberapa hari ke depan.

Acara diawali dengan dibacakan ratib Alhaddad karya Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad oleh habib Alwi Alhasni setelah halaman depan rumah ustadz Catur dipenuhi tamu undangan. Lalu dilanjutkan dengan maulid Simthud Durrar dengan diselingi qoshidah-qoshidah. Ustadz Taufiq dan ustadz Wahib hadir dan duduk di sebelah habib Alwi Alhasni. Sebelumnya habib Alwi mengatakan bahwa tahun depan insya Allah akan diadakan yang lebih besar lagi, tamu penceramah rencananya akan didatangkan.

Majlis ini merupakan bentukan habib Alwi Alhasni setelah berdakwah dengan masyarakat Gemah, khususnya mereka yang tinggal di tepian sungai Pintu. Beliau sangat aktif dan dakwah beliau lebih ke arah pendekatan personal sehingga masyarakat menerima kehadiran dan dakwah beliau. Ada beberapa orang yang kurang menerima tapi itu wajar.

Friday, August 15, 2008

Buat Dia Senang Dulu !

Habib Alwi bin Abdullah bin Hasan Alhasni :

Dalam mengajak-ajak orang menuju kebaikan harus dilihat dulu apakah dia sudah terbiasa dengan perbuatan baiknya tersebut atau belum, apalagi kalau dia baru memulai bertaubat dari berbagai perbuatan buruknya. Kalau dia dalam kondisi seperti itu maka biarkan dia senang dulu dengan perbuatan baiknya itu, biarkan dia apa adanya dulu, biarkan dia terkesan dan tertanam dalam hatinya bahwa yang dilakukannya adalah indah dan merupakan kenikmatan bagi hati kita.

Dan jangan diajak untuk melakukan kebaikan yang lain dulu, biarkan dia terbiasa dengan yang satu baru ditambah lagi dengan yang lain. Meski baik tapi kalau dipaksakan akan menjadi tidak baik sebab dia belum terbiasa. Biarkan begitu dulu, nanti kalau dia sudah merasa bahwa berbagai perbuatan baik itu sebagai kebutuhannya maka tanpa dipaksa pun dia akan melakukannya, dan dengan sendirinya dia akan meninggalkan perbuatan-perbuatan buruknya.

Kita harus pandai-pandai melihat situasi dan harus tahu bagaimana menyiasatinya.

Friday, August 08, 2008

Jangan Berbuat Sia-Sia !

Habib Alwi bin Abdullah Alhasni :
“Jangan melakukan perbuatan yang sia-sia buat kita, yang tidak ada manfaatnya buat kita! Maksudnya jangan melakukan hal yang di situ kita tidak ingat Allah Swt dan Rasul-Nya Saw. Dan jangan meniru perbuatan buruk yang dilakukan oleh kaum yang suka melakukan perbuatan yang buruk!”.

Banyak perbuatan yang pada dasarnya buruk bagi kita tapi sudah terlanjur dianggap baik oleh masyarakat luas, bahkan dianggap tidak mengikuti jaman kalau tidak melakukannya, kuno! Padahal hal-hal yang sering dianggap kuno itu sering kali baik bagi kita, tapi kita sering tidak mengindahkannya dan malah meniru perbuatan yang buruk bagi kita.

Kita dalam sehari lebih banyak melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi kita daripada usaha memperbaiki diri dengan menambah perbuatan yang baik. Kita lebih sering menyia-nyiakan waktu kita, sementara waktu adalah ”modal” kita untuk mendapatkan ”hasil” yang banyak di kemudian hari. Kalau ”modal” tidak kita atur dengan baik maka bukan ”hasil” yang akan kita peroleh tapi ”rugi” besar bahkan bisa jadi ”bangkrut”.

Manfaatkanlah waktu kita dengan sebaik-baiknya dan tirulah kaum yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dan baik.

Thursday, August 07, 2008

Jangan Abaikan Ibu Kita !

Ustad Yanto :
”Orang gitu ya bib, di saat ibu kita sehat jarang kita perhatikan dengan alasan segala kesibukan kita, meski ada tapi sering kali kita anggap tidak ada, kehadiran beliau tidak dianggap. Tapi di saat ibu kita sudah sakit tidak bisa apa-apa, baru kita merasakan kehadiran beliau itu penting, kita kehilangan nasehat-nasehat beliau, canda tawa beliau, kita baru merasakan bahwa kita butuh beliau.”

Habib Alwi bin Abdullah Alhasni :
“Nah, disitu perlunya ilmu! Sering kita jauh-jauh ke luar kota untuk silaturrahim dengan ustad itu, habaib ini, kyai anu, kita rela merendahkan diri kita untuk sekedar mencium tangan beliau-beliau itu tapi di rumah kita tidak mau cium tangan ibu kita. Kalau ditanya kenapa tidak cium tangan ibu akan dijawab dengan berbagai alasan. Tidak usah jauh-jauh cari wali, ibu kita wali yang terdekat dengan kita. Jangan cari barokah orang alim tapi lupa dengan ibu kita!”.

Muliakan ibu kita, maka rizqi kita akan lancar.

Thursday, July 31, 2008

Bukan Milik Kita


Suatu malam disaat kami mau berangkat menghadiri majlis maulid, saya melihat ada sesuatu di dekat kaki teman saya yang sedang duduk, lalu saya tanya barang itu punya siapa. Tidak tahu jawab teman saya.

"Mungkin punya habib Alwi, tadi beliau duduk di situ.", kata saya.

Diambilnya barang itu dan dibawanya untuk ditanyakan ke habib Alwi. Ternyata bukan milik beliau dan bukan pula milik teman-teman yang lain.

"Ah, berarti ini rejekiku!", katanya kemudian.

"Eh, darimana kau tahu itu rejekimu? Apa karena kau suka dengan barang itu lalu kau katakan itu rejekimu? Lebih baik kau biarkan saja barang itu di sana, sebab itu bukan milikmu.", kata habib Alwi.

Memang barang yang bukan kepunyaan kita lebih baik tidak kita ambil, kalau kita begini insya Allah semua orang akan merasa aman sebab mereka tidak akan khawatir barang mereka hilang diambil orang meski ketinggalan atau hilang.