Showing posts with label Habib Shodiq Baharun. Show all posts
Showing posts with label Habib Shodiq Baharun. Show all posts

Tuesday, March 31, 2020

Apa itu Kematian?

Al Habib Shodiq Baharun
Al habib Shodiq bin Abubakar Baharun menjelaskan tentang nasehat Syeh Sa'id Ramadlan Al Buthy, dijelaskan bahwa Ibnu Sina berkata sebagai berikut:

قال ابن سينا : الوهم نصف الداء و الإطمئنان نصف الدواء و الصبر بداية الشفاء

Ibnu Sina berkata, "Kepanikan adalah sebagian dari penyakit. Ketenangan adalah separuhnya obat dan kesabaran adalah permulaan dari kesembuhan."

Wednesday, March 25, 2020

Al Qur'an & Ahli Bait

Al Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Dari Al Habib Shodiq bin Abubakar Baharun berkata bahwa Al Habib Taufiq bin Abdulqadir Assegaf dalam salah satu majelisnya berkata sebagai berikut:

Al Habib Taufiq bin Abdulqadir Assegaf

Tuesday, November 02, 2010

Ketika Guru Sayang Murid

Alhabib Shodiq mengingatkan pentingnya silaturrahmi murid kepada gurunya.

Ketika ada seorang guru berkata bahwa dia (guru) ikhlas ketika muridnya tidak ber-silaturrahmi kepadanya, guru ini rela, maka Alhabib Shodiq mengingatkan bahwa ini berarti dia (guru) tidak sayang kepada muridnya karena dia (guru) membiarkan muridnya dalam keburukan.

Kalau guru sayang kepada muridnya, maka guru akan mendidik murid agar menjadi lebih baik lagi. Jadi demi usaha mendidik murid maka guru harus tetap menasehati ketika muridnya malas ber-silaturrahmi pada gurunya.

Hal ini dilakukan bukan demi ego guru tapi demi kebaikan muridnya agar lebih memahami adab hubungan guru dan murid.

Kewajiban Suami

Ini adalah sedikit catatan dialog antara Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun dengan jama'ah majelis ta'lim Madadun Nabawiy di masjid Alhikmah (Gemah - Semarang) sabtu 30 Oktober 2010.

Ketika ada yang bertanya bagaimana hukumnya suami memberi nafkah kepada istri, Alhabib Shodiq menjawab bahwa setelah menikah maka suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Adapun dijelaskan di sini bahwa yang dimaksud nafkah yang diwajibkan adalah memberi makan minum 3x sehari, sedangkan pakaian atau perhiasaan bukan merupakan perkara yang diwajibkan.

Jadi meskipun istri ridho ketika suami tidak menafkahinya, ini tidak kemudian menjadikan gugurnya kewajiban suami untuk menafkahi istri. Suami tetap wajib berusaha semaksimal mungkin menafkahi istrinya dan sang istri pun ridho dengan kemampuan suami memberikan nafkah kepadanya.

Betapa indah ketika semua pihak seperti itu, rumah tangga jadi lebih tentram dan bahagia.

Sunday, October 17, 2010

Jagalah Perkara yang Diwajibkan

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Rodhinabillaahi Robba... Sudah semestinya kita merasa rela untuk mematuhi semua keputusan dari Allaah Swt, semua keputusan Allaah Swt adalah semua yang terjadi pada kita dan sekitar kita baik dulu, sekarang atau pun besok, baik yang kita sebut sebagai kesenangan atau pun yang kita sebut sebagai kesusahan. Kalau senang yang kita terima, maka kita akan lebih baik bersyukur pada Allaah Swt. Demikian pula kalau kita sedang berada dalam kesusahan.

Bersyukur itu lebih baik bagi kita karena itu yang dikehendaki Allaah Swt dan Rasulullaah Muhammad Saw. Barang siapa bersyukur pada Allaah Swt atas semua yang dia terima maka Allaah Swt akan menambah karunia-Nya padanya, akan menambah nikmat padanya, tetapi kalau kita tidak bersyukur maka adzab yang pedih akan kita terima baik di dunia atau pun di akhirat kelak.

Adzab yang disegerakan di dunia antara lain adalah kita akan selalu merasa kurang, cinta dunia (dunia adalah semua kegiatan yang tidak ada usaha mengingat Allaah Swt), tidak bisa merasakan nikmat-Nya, selalu diperbudak oleh harta. Sementara adzab yang akan kita terima di akhirat kelak jika kita tidak bersyukur antara lain adalah siksaan yang sangat pedih, minum sesuatu yang sangat panas yang merontokkan badan, menginjak bara api yang sanggup merontokkan otak dsb.

Berhati-hatilah dan jagalah diri kita agar selalu bertaqwa pada Allaah Swt, bertaqwa pada saat kita sendirian atau di keramaian. Jagalah perkara-perkara yang diwajibkan bagi kita dan jauhi yang dilarang. Kemudian bersabar atas semua cobaan Allaah Swt. Sesungguhnya hamba Allaah Swt akan diuji oleh Allaah Swt.

Bersabar itu bermakna kita menerima semua keputusan Allaah Swt (tentu harus disertai usaha sebab menerima tanpa ikhtiar adalah tidak sempurna). Dalam kesabaran tentu didasari oleh kecintaan kita kepada Allaah Swt, cinta Allaah itu bermakna kita ingin bertemu dengan Allaah Swt yaitu dalam artian kita tidak takut apapaun (termasuk kematian) kecuali kepada Allaah Swt saja kita takut.

Kita wajib takut kepada Allaah Swt, takut akan kemarahan Allaah Swt, takut akan kemurkaan Allaah Swt. Ketika Allaah Swt murka pada kita, maka di saat itu kita pasti tidak melakukan perintah-perintah-Nya, musibah akan datang kepada kita. Tetapi jika kita melakukan perintah-perintah Allaah Swt maka musibah akan pergi dari kita dan berganti dengan kemudahan bagi kita dalam semua urusan kita, ketentraman meski kita sedang susah dsb. Hanya kepada Allaah Swt saja kita bergantung, makhluq hanya perantara saja.

Saturday, August 08, 2009

Sami'na wa Atho'na

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun & K.H. Ahmad Baidlowi.

(Disampaikan dalam majlis Ratib & Maulid di rumah ustadz Muhammad Khumaidi, Gemah - Semarang tanggal 7 Agustus 2009)

Allah Swt berfirman:
"Hai orang beriman jangan kau bertanya tentang hal yang kau berat untuk mengamalkannya".

Ada kisah serombongan bani Israil menghadap nabi Musa As & bertanya tentang siapa yang membunuh salah seorang diantara mereka. Dikatakan oleh nabi Musa As bahwa mereka disuruh Allah Swt mencari sapi. Mereka tanya sapi itu tua apa muda, dijawab sapi itu tidak tua & tidak muda. Mereka tidak puas & bertanya lagi warnanya apa, dijawab kuning keemasan. Mereka masih juga kurang puas & bertanya lagi dst.

Hikmah dari kisah tsb adalah jika kita disuruh ulama untuk mengamalkan sesuatu amalan atau ibadah, maka amalkan saja apa yang beliau perintahkan tanpa banyak bertanya yang justru akan memberatkan kita.

Bani Israil adalah kaum yang membangkang dibandingkan dengan kaum lainnya. Oleh Allah Swt mereka dikaruniai banyak kelebihan tapi mereka tidak mengamalkannya padahal mereka mendengarkannya. Jika ini yang kita lakukan maka kita tidak mendapatkan sir (rahasia) dari amalan tsb. Sebaliknya, kita akan mendapatkan sir (rahasia) jika melakukan apa yang disuruhkan kepada kita tanpa bertanya. Bertanya boleh tapi pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan kita, yang kita tidak akan melakukannya sebaiknya tidak perlu disampaikan.

Seperti di bulan Sya'ban ini kita dianjurkan memperbanyak membaca sholawat, jika disuruh membaca sholawat saja oleh ulama maka baca saja sholawat yang mudah bagi kita, jangan kita bertanya yang akan memberatkan kita.

Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu maka dia akan sering menyebutnya. Jika kita mencintai nabi Muhammad Saw maka perbanyaklah membaca sholawat kepada nabi Muhammad Saw, khususnya bulan Sya'ban ini. Barang siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Salafush sholeh membaca wirid ribuan kali tiap harinya, apakah kita mampu? Bisa jika berusaha. Amin.

Thursday, July 09, 2009

Fiqh Imam Syafi'i (1)

Diambil dari Madadun Nabawiy


Bismillahirrohmanirrohiim

Pengertian tentang Fiqih ala madzhab Imam Syafi’i.

Pembukaan

I. Semua ulama’ memulai mengarang semua kitab dengan memakai Basmalah, karena di Al Qur’an pertama ayat yang turun adalah Basmalah di Surat Al Alaq yang artinya: “Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhan yang menciptakan alam semesta” (Allahu a’lam bimurodihi) dan Rasulullah saw bersabda : “Setiap sesuatu perkara yang tidak dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohiim (basmalah), maka akan terputus dari semua keberkahan yang ada artinya tidak mendapatkan rahmat dari Allah SWT, dan basmalah mempunyai hukum-hukum:

1. Wajib : seperti di shalat (kalau madzhab Syafi’i dan Hambali dengan jahar (lantang) dan Maliki dan Abu Hanifah dengan syir (cukup diri sendiri yang mendengarkan).

2. Haram : seperti minum sesuatu yang memabukkan, zina dan mencuri (semua pekerjaan diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya).

3. Sunnah : semua pekerjaan yang sunnah (yang diperbolehkan oleh Allah dan rasul-Nya).

4. Makruh : semua pekerjaan yang hukumnya makhruh seperti makan bawang atau melihat auratnya sendiri atau auratnya istri dan anaknya.

5. Mubah : sesuatu yang dilakukan tidak mendapat pahala dan dosa), seperti memindahkan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain.


II. Kemudian setelah memulai dengan basmalah, maka para ulama’ menambah dengan bacaan hamdalah (alhamdulillahi) yang artinya tidak ada sesuatu yang pantas dipuji selain Allah SWT, dan kalimat hamdalah sunnah diucapkan setelah melakukan semua pekerjaan yang baik, apabila dilakukan maka semua pekerjaan yang dilakukan akan mendapatkan ridho Allah SWT (direstui oleh Allah) seperti yang tertera dalam hadits rasulullah saw apalagi kalau diucapkan setelah mendapatkan rizki atau anugrah dari Allah SWT, maka rizki atau anugrah yang didapati akan diberi keberkahan dan ditambahkan oleh Allah SWT. Amiin.

Dan hamdallah dibagi menjadi 4 macam:

1. Pujian dari Allah SWT untuk Allah sendiri seperti yang ada dalam Surat Al Anfal ayat : 40 yang artinya: “Sungguh nikmatnya Tuhan dan sungguh nikmatnya penolong.

2. Pujian dari Allah SWT ke hamba-Nya seperti surat Shod ayat 30, yang artinya: paling bagus hamba yang selalu kembali kepada Tuhannya.

3. Pujian dari hamba ke Tuhannya (Allah SWT), seperti ucapan kita Alhamdulillahi.

4. Pujian dari diri kita untuk semua makhluk-Nya Allah seperti sungguh cantiknya kamu atau sungguh gantengnya dirimu.


III. Kemudian dilanjutkan dengan bershalawat kepada baginda nabi kita Muhammad saw. Sholawat adalah satu amalan yang diperintahkan dari Allah untuk semua makhluk-makhluk-Nya dan Allah SWT mengerjakannya. Seperti di dalam Surat Al Ahzab ayat : 56. Dalam semua kitab Fiqih dan sufi dengan rujukan hadits Rasulullah, menafsirkan kalau sholawat dari Allah SWT adalah rahmatan dari-Nya, dan shalawat dari kita (umatnya) adalah doa yang kita minta kepada Allah SWT untuk kesejahteraan Nabi Muhammad dan semua umatnya.

Rasul dan nabi adalah manusia yang sempurna yang jauh dari semua penyakit dan dari semua sifat yang jelek dan beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ajaran-ajaran Allah untuk semua makhluk-Nya dari golongan manusia dan jin. Hanya saja kalau nabi diberi wahyu tapi tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan ajaran-ajarannya, sedangkan rasul diberi wahyu tapi juga diperintahkan untuk menyebarluaskan semua ajaran-ajarannya. Adapun jumlah nabi ada 124.000 dan rasul ada 313. Akan tetapi yang mempunyai sifat yang lebih unggul ada 25 orang (seperti yang tertera dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Habban).


IV. Yang dimaksud wa alihi dalam shalawat adalah semua orang keturunan bani Hasyim dan Mutholib menurut yang dikatakan Imam Syafi’i di dalamkitabnya.


V. Shohabat adalah menurut Bahasa Arab artinya antara kamu dan dia saling ada kecocokan, dan menurut istilah teman yang selalu mengikuti kamu ditempat manapun dan selalu menuruti fatwa-fatwamu. Adapun yang kita bahas sekarang ini adalah shohabat Nabi kita Muhammad saw, adapun jumlah shohabat nabi ada 124.000 orang dan yang paling akhir meninggalnya adalah Abu Tufail Amir bin Wailah Al Laisyi (seperti yang dikatakan oleh Abu Zar’ah dan Al Iroq’i) dan semua shohabat Nabi Muhammad saw adalah adil dalam berbuat dan berhati-hati dalam melangkah dan selalu taat dan taqwa kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan selalu menjaga dengan benar-benar dari segala perbuatan nista (buruk) bukan seperti (yang dikatakan sebagian golongan). Shohabat yang telah diberi kabar dengan keistimewaan (jaminan surga dari rasulullah) ada 10 orang, beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqash, Said bin Zaid, Tolkhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidilah bin Jarroh dan Abdurrahman bin ‘Auf dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw.

Dan juga dapat amanah penuh dan yang paling diutamakan dari golongan para shohabat nabi adalah khulafaur rasyidin beliau adalah:

1. Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, beliau adalah shohabat yang pertama memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw dengan pilihan dari semua shohabat muhajirin (orang-orang Mekah) dan anshor (orang-orang Madinah) dan beliau memimpin 2 tahun 3 bulan 10 malam, beliau meninggal di umur 63 tahun, sebelum wafatnya beliau memilih Umar.

2. Sayyidina Umar bin Khattab, beliau memimpin yang kedua dengan perintah dari Sayyidina Abu Bakar dan beliau memimpin kurang lebih 10 tahun dan 23 hari dan beliau meninggal syahid (dibunuh dengan umur 63 tahun).

3. Sayyidina Utsman bin Affan, beliau memimpin yang ketiga dengan cara dipilih kebanyakan shohabat, setelah wafatnya Sayyidina Umar bin Khattab dan beliau memimpin selama 12 tahun dan beliau meninggal syahid (dibunuh) di umur 82 tahun.

4. Sayyidina Ali bin Abi Tholib, beliau memimpin yang keempat dengan cara dipilih kebanyakan shohabat setelah wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan, dan beliau memimpin selama 4 tahun 9 bulan dan beliau meninggal dalam keadaan syahid (dibunuh) dan umurnya 63 tahun. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Amiin.


Perlu kita ketahui bahwa semua shohabat nabi adalah yang telah berjasa bagi agama Islam dan telah menegakkan bendera Islam dengan diri mereka, harta, darah dan keluarga mereka, maka wajib bagi kita menghormati mereka semua karena mereka semua telah berjuang bersama nabi kita, mereka senang dan susah bersama nabi kita Muhammad saw dan perlu kita yakini bahwa Allah SWT tidak akan memilih manusia untuk bersama utusan-Nya kecuali yang pantas dan bersih. Kalau ada golongan yang menghina shohabat berarti mereka menghina rasulullah saw dan pasti mereka juga menghina Allah SWT yang menciptakannya.

Di dalam hadits rasulullah saw bersabda, yang artinya : Shohabatku bagaikan bintang-bintang di langit dan dengan siapapun engkau mengikutinya, maka engkau akan mendapatkan hidayah (petunjuk dari Allah SWT). Apakah mereka pantas dinamakan Islam??? Orang nasrani saja menghormati dan selalu memuliakan shahabat nabi Isa as, bagaimana dengan kita Umat Islam yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad saw, apakah mungkin nabi kita tidak bisa mendidik shohabatnya menjadi orang yang paling taat dan taqwa kepada Allah SWT?? Kalau nabi Muhammad saw tidak bisa lalu siapa yang bisa?? Tidak mungkin ada yang bisa kalau nabi saja tidak bisa! Nabi Muhammad saw pasti bisa! Semoga kita dijauhkan dari faham-faham orang munafik yang selalu membenci nabi Muhammad saw dan para shohabatnya. Amiin, Amiin, Amiin ya Robbal ‘alamiin.


VI. Ijtihad madzhab : madzhab adalah sekumpulan ilmu-ilmu fiqih yang dirujukannya Al Qur’an dan sebab-sebab turunnya dan hadits-hadits dan sebab-sebab keluarnya hadits-hadits tersebut dan juga balaghoh (nahwu dan shorof) dan juga menguasai ilmu manteg dan juga ushul fiqih dan lain-lain dari ilmu-ilmu Al Qur’an yang luas. Begitu juga harus hafal dan langsung menjawab apabila ditanya oleh kebanyakan ulama dari semua daerah dan juga menjaga perilaku yang mulia dan ketaatan yang lebih kepada Allah SWT dan jauh dari perbuatan keji dan dholim besar atau kecil, dhohir atau batin, pada setiap manusia, jin dan hewan, dan juga bisa diikuti oleh kebanyakan manusia, dan madzhab-madzhab yang diakui oleh kebanyakan ulama-ulama di dunia ada empat:

1. Madzhab Hanafi: yang mencetus adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, beliau adalah murid dari Imam Ja’far Shodiq, beliau lahir di Iraq Kota Kuffah pada tahun 80 H / 699 M, wafat tahun 150 H pada bulan Rajab dengan umur 68 tahun. Dan madzhab beliau diikuti sebagian umat Islam di Abu Dhobi dan lainnya. Dan beliau mempunyai murid yang banyak dan semua ulama’ dan diantaranya Imam Malik.

2. Madzhab Malik : yang mencetus adalah Imam Malik bin Anas bin Malik, beliau lahir di madinah tahun 95 H, wafat di Madinah 179 H / 789 M dan umurnya 84 tahun dan madzhab-madzhab diikuti sebagian umat Islam di Saudi Arabia dan lainnya dan beliau juga mempunyai murid-murid yang banyak dan semuanya menjadi ulama’ diantaranya Imam Syafi’i.

3. Madzhab Syafi’i : yang mencetuskan adalah Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i, beliau lahir di Ghuzzah tahun 150 H, beliau hafal Al Qur’an 7 tahun, lalu beliau hafal muatthok (ilmu hadits karangan Imam Malik) di umur 10 tahun dan beliau diizinkan memberi fatwa di umur 15 tahun (berarti beliau sudah hafal semua ilmu termasuk Al Qur’an, tafsirnya hadits 9 sanad dan syarahnya, ushul balaghoh dan manteg dan lain-lain di umur yang sangat muda). Dan semasa hidupnya beliau selalu beribadah dan berdakwah dari Mekah, Madinah, Bagdad, dan Mesir kemudian mukim di Mesir sampai wafat, dan beliau wafat pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 240 H, beliau dimakamkan di kota Qorofah (Mesir) setelah Ashar dan umurnya 70 tahun. Dan murid beliau banyak sekali diantaranya Imam Ahmad bin Hambal dan madzhab beliau diikuti kebanyakan umat Islam, diantaranya di Indonesia dan lain-lainnya (mayoritas umat Islam yang di Indonesia mengikuti madzhab Syafi’i) (rujukan kitab Mugni Mohtaj).

4. Madzhab Hambali: yang mencetuskan adalah Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani Al Maruzi beliau dilahirkan di Iraq tahun 164 H / 780 M, beliau adalah ulama’ hadits yang terkenal dan beliau termasuk ulama’ yang keras dan tegas dalam memberi keputusan, bahkan beliau dimasukkan penjara sampai akhir hayatnya. Beliau meninggal tahun 241 H dan umur beliau 77 tahun.

Mengapa kita yang dalam masalah agama belum seberapa ini akan menyombongkan diri tidak mau bermadzhab dalam menjalankan syari’at Islam? Tentu tidak pada tempatnya! Benar bahwa berijtihad merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, namun hal itu bukan berarti sembarang orang Islam dapat berijtihad tanpa syarat-syarat tertentu. Seorang Islam dalam berijtihad harus paham betul syarat-syaratnya seperti syarat-syarat umum dalam berijtihad:

1. Islam

2. Dewasa

3. Sehat fikiran

4. Kuat daya tangkapnya dan ingatannya (I-Q nya tinggi) dan syarat-syarat pokoknya):
a. Menguasai Al Qur’an bersama ulumul Qur’an dan Asbabu Nuzulnya dan ayat-ayat hukumnya dan nasikh mansukhnya.
b. Menguasai hadits dan ulumul hadits dan asbab khurujul hadits dan hadits-hadits ahkam dan hadits-hadits nasikh mansuhknya dan lain-lain.
c. Mengusai bahasa Arab beserta ilmu-ilmu bahasa termasuk nahwu. Shorof, balaghoh, Fiqhul Lughoh dan adabul jahili.
d. Menguasai ilmu ushul fiqih.
e. Memahami benar-benar tujuan-tujuan pokok syari’at-syari’at Islam.
f. Memahami benar-benar Qowaid kuliyah.
g. Kesholehan dan ketaqwaan yang benar dan bersih dan lain-lain.

...baru mereka dibolehkan berijtihad, dalam ketentuan aturan kenegaraan saja membutuhkan keahliannya dalam bidangnya bagaimana dengan agama?! Dalam Surat An Nahl Allah berfirman, yang artinya : “Maka bertanyalah pada ahli ilmu bila kamu sekalian tidak mengetahui (An Nahl : 43), begitu pula orang dalam bertaqlid, orang boleh bertaqlid secara kafah (menyeluruh), jangan mengambil yang mudah dan seenaknya saja, seperti orang berwudhu menurut rukun madzhab Syafi’i tapi membatalkannya dengan memakai madzhab Maliki, seperti orang pakai baju setengah saja, lalu pakai celana setengah, bagaimana orang tersebut??? Semoga kita dijauhkan dari sikap munafik yang menjalankan agama yang enak dan mudah menurut hawa nafsunya.

(Rujukan kitab-kitab Fiqih, Tukfah, Minhaj, dll)

Sunday, July 05, 2009

Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

Diambil dari:
http://madadunnabawiy.blogspot.com

Di dalam bulan rajab yang penuh rahmat ini, Allah Swt mencurahkan rahmat-Nya yang sangat banyak, maka dari itu bulan rajab ini dinamai oleh banyak ulama' (dengan landasan hadits rasulullah Muhammad Saw) bahwa bulan rajab adalah rajabulashab yaitu yang artinya bulan rajab penuh curahan rahmat dan maghfiroh dari Allah Swt.

Dan bulan rajab dikenal dengan syahrullah (bulan yang dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt) seperti yang disabdakan rasulullah Muhammad Saw, maka rasulullah Muhammad Saw mengkhususkan di bulan rajab ini ayat memperbanyak baca istighfar yaitu meminta ampunan kepada Allah Swt. Di dalam bacaan istighfar banyak sekali manfaatnya di dalam Alqur'an.





52. Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."



10. Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
11. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya berkata: "Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah Swt, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaati-Nya niscaya Ia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."

Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah.

Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: "Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.

Bahwa siapa saja yang mau membaca istighfar secara langgeng maka dia akan dicurahi rahmat dari Allah Swt dan semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kalau kita mempunyai hajat maka perbanyaklah membaca istighfar, kemudian minta kepada Allah Swt niscaya hajat kita akan dikabulkan oleh Allah Swt. Amin.

Di dalam kitab manaqib Al imam al alamah alhabib Hasan bin Sholeh Albahr, beliau berkata bahwa barang siapa membaca istighfar 1000x dalam satu hari sampai satu tahun dengan langgeng, maka dia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt dan dia akan diberi kekayaan yang cukup untuk kehidupannya di dunia serta dia akan mendapatkan pahala dan pengampunan dari Allah Swt untuk di dunia dan akhiratnya seperti yang disabdakan oleh rasulullah Muhammad Saw. Ini sangat mujarab, buktikan!

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita ahli istighfar yang selalu bermanfaat untuk diri kita dan keluarga kita, juga bermanfaat di dunia dan di akhirat kita. Amin.

Monday, June 22, 2009

Ahlaq Dhohir & Batin

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di dalam majlis Madadun Nabawiy tanggal 19 Juni 2009 di Masjid Alhikmah - Semarang, pembahasan kitab Is'afu Tholibiy Ridol Kholiq Bibayani Makarimal Ahlaq yaitu kitab karya Alhabib Umar bin Hafidh)

Kitab ini diawali dengan basmalah dan hamdalah. Jika suatu pekerjaan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah maka dikhawatirkan akan terputus dari ridho Allah Swt.

Ahlaq itu salah satu sifat yang menghiasi manusia dari sisi dhohirnya dan sisi batinnya. Sebelum kita mengerjakan segala sesuatu pasti diawali dengan niat di dalam hati, setelah hati kita sudah terbersit sebuah niat maka akan berlanjut ke otak kita dan otak kita lalu memerintahkan anggota-anggota badan kita untuk melakukan apa yang sudah kita niatkan. Jika salah satu dari tiga perangkat tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka akan berpengaruh terhadap lainnya. Lihatah bahwa antara batin dan dhohir saling berhubungan!

Jika dari awal (niat) sudah dimulai dengan sesuatu yang rapi, baik dan bersih maka itu adalah wujud awal dari ahlaq yang baik. Sebaliknya, jika dari awal sudah dimulai dengan sesuatu yang berantakan, buruk dan kotor maka itu adalah wujud awal dari ahlaq buruk. Dhohir dan batin itu saling dan selalu berhubungan dan tidak mungkin keduanya akan terpisahkan.

Batin yang baik jika ditampilkan dengan dhohir yang buruk maka ini kurang lengkap dan sering kali mengakibatkan kesalah-pahaman orang lain kepada kita. Kesalah-pahaman akan menimbulkan fitnah, dan jika kita bisa meminimalkan fitnah maka itu lebih baik. Jadi batin yang baik akan lebih indah jika disertai dhohir yang baik.

Batin yang buruk jika dibungkus dengan amalan dhohir yang terlihat baik tidak disukai oleh Allah Swt. Dhohir yang baik insya Allah berasal dari batin yang baik.

Batin kita harus selalu dibersihkan dengan melakukan berbagai amalan yang baik pula. Jika batin bersih maka Allah Swt akan mencurahkan ridho-Nya kepada kita. Jika kita melakukan kesalahan dhohir maka batin akan ternoda, batin yang ternoda akan mengakibatkan murka Allah Swt jika tidak diikuti dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat.

Nabi Muhammad Saw diutus Allah Swt kepada kita adalah untuk menyempurnakan ahlaq kita, ahlaq dhohir dan ahlaq batin kita. Jika ada orang yang berkata oh batinku bersih tapi dhohirnya kotor maka ini dusta! Kecuali terhadap orang-orang tertentu itu pengecualian, seperti orang yang jadzab. Sering kali tingkah laku orang jadzab tidak sesuai dengan syari'at, itu bukan karena apa-apa selain karena oleh Allah Swt dituangkan cinta yang sangat besar ke dalam hati mereka sehingga mereka tenggelam di dalamnya.

Tidak semua orang mengalami keadaan seperti ini (jadzab), jadi hukum bagi mereka berbeda dengan hukum bagi kita. Ada orang yang jadzab tapi dhohirnya bisa sesuai dengan syari'at, ada juga yang tidak. Orang seperti ini harus dihormati akan tetapi tidak bisa dijadikan rujukan bagi kita dalam hal syari'at. Rujukan kita adalah orang yang batinnya bersih yang mengamalkan amalan-amalan dhohir yang baik.

Wednesday, June 03, 2009

Istighfar Bulan Rajab

Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan dalam majlis Alghofar yaitu majlis pembacaan kitab maulid Simthud Durrar dan mauidloh, rutin setiap malam Rabu pahing di Semarang)

Sekarang kita berada di bulan Rabi'ul Akhir, sebentar lagi kita memasuki bulan Rajab. Kalau Sya'ban adalah bulannya Rasulullah Muhammad Saw maka Rajab adalah bulannya Allah Swt. Jika di bulan Sya'ban kita dianjurkan memperbanyak sholawat, maka di bulan Rajab ini kita dianjurkan memperbanyak istighfar, dianjurkan memohon ampunan atas semua dosa dan kekeliruan kita. Ada banyak jenis istighfar, diantaranya yang dianjurkan dibaca di bulan Rajab adalah "Robbighfiri warhamni watubb alayya" sebanyak 70x sehabis sholat fardlu.

Barang siapa membaca "Robbighfirli warhamni watubb alayya" sebanyak 70x aetelah sholat fardlu sebelum membaca do'a-do'a yang lain, maka insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt, dikabulkan hajat-hajat kita baik hajat akhirat ataupun hajat dunia.

Semakin kita memperbanyak membaca istighfar setiap harinya khususnya istighfar tersebut di atas, maka bukan hanya kita yang diampuni dosa-dosa kita dan bukan hanya kita yang dikabulkan hajat-hajat kita, tapi Allah Swt juga mengampuni dosa-dosa keluarga kita serta mengabulkan hajt-hajat keluarga kita demikian juga tetangga-tetangga kita, teman-teman kita dan sekitar kita.

Memohon ampunan dosa kepada Allah Swt sebanyak mungkin itu semakin baik bagi kita, asal kita mampu untuk istiqomah. Kalau kita belum mampu istiqomah membaca istighfar yang banyak maka istighfar-lah sebanyak yang kita mampu untuk istiqomah. Orang-orang terdahulu istiqomah membaca istighfar dalam jumlah yang banyak, dikatakan bahwa sayyidah Rabi'ah Aladawiyyah membaca istighfar sebanyak 12.000x setiap harinya, kalau kita mampu menirunya maka itu baik bagi kita. Kalau kita tidak mampu, maka 200x pun cukup bagi kita. Maka insya Allah hajat-hajat kita akan dipenuhi oleh Allah Swt asalkan kita tidak murtad. (Apakah yang non-Islam tidak dikabulkan do'a-do'anya? Allah Swt Maha Pengasih, kasih Allah Swt meliputi semua makhluq-Nya. Allah Swt memberikan yang kita minta, tapi Rahim-Nya untuk mereka yang beriman kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw).

Manfaat istighfar yang lain adalah kita mendapatkan syafa'at asalkan ditambah dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw dan apa yang kita minta sesuai dengan ikhtiar (usaha) kita (agar kita tidak terlalu panjang angan-angan sedangkan panjang angan-angan adalah kurang baik bagi kita).

Monday, June 01, 2009

Ilmu, Tazkiyah & Da'wah

Oleh : Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan pada majlis Alghofar - pembacaan kitab maulid Simthud Durror di Tlogosari, Semarang)

Di dalam sejarah nabi Muhammad Saw ada tiga (3) hal yang bisa membawa kita menuju Allah Swt, yaitu ilmu, tazkiyah (pembersihan jiwa) dan da'wah.

Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan yang menuntut ilmu beberapa derajat dibandingkan dengan mereka yang tidak. Beberapa derajat ini menurut sayid Abdullah bin Abbas adalah 70 derajat. Jarak setiap derajat kurang lebih 500 tahun.

Lihatlah betapa beruntungnya orang yang berilmu, bahkan setan pun takut kepada orang yang mempunyai ilmu! Beribadah itu lebih utama jika mempunyai ilmu tentang jenis ibadah yang akan kita lakukan tersebut, sangat berbeda beribadah dengan ilmu jika dibandingkan beribadah tanpa ilmu.

Kita tidak bisa melakukan sebuah ibadah pun jika kita tidak mempunyai ilmu. Manfaatkan umur kita dengan beribadah yang kita lakukan karena mengetahui ilmu tentangnya.

Ini termasuk mendirikan agama. Suatu saat Alhabib Sholeh Alhamid (Tanggul - Jawa Timur) ditanya apa yang menyebabkan do'a beliau cepat (bagai kilat) dikabulkan oleh Allah Swt? Beliau menjawab itu karena kesungguh-sungguhan dan kehati-hatian beliau terhadap segala hal.

Sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt dan nabi Muhammad Saw dan sungguh-sungguh meninggalkan larangan Allah Swt dan nabi Muhammad Saw. Itu yang membuat do'a Alhabib Sholeh Alhamid dikabulkan secepat kilat oleh Allah Swt.

Ilmu bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat kita. Tuntutlah ilmu dari orang-orang yang dikenal mulia lalu setelah itu ikuti cara-cara ibadah dhohir mereka dan ikuti cara-cara ibadah batin mereka.

Yang kedua adalah tazkiyah (permbersihan jiwa), tazkiyah adalah untuk mencapai kedekatan kepada Allah Swt. Tazkiyah ada dua, tazkiyah dhohir dan tazkiyah batin. Tazkiyah dhohir yaitu dengan melakukan kebaikan sesuai Alqur'an dengan lesan kita dan dengan perbuatan kita.

Tazakiyah batin adalah dengan niat dan segala pekerjaan hati seperti sabar, syukur, ikhlas dsb. Dengan niat yang kuat akan menimbulkan kebarokahan waktu, misalnya ibadah yang lama dirasakan sebentar dan dilakukan istiqomah (rutin).

Dan hal yang terakhir yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Swt setelah ilmu dan tazkiyah adalah da'wah. Da'wah wajib bagi kita muslim dalam banyak hal, dengan banyak cara dan dengan kemampuan kita. Da'wah butuh wawasan (ilmu), kekuatan, harta dan ilmu.

Monday, April 13, 2009

Nabi Musa As

Oleh : Yusa Nugroho

"Bib, banyak kenalan saya yang membicarakan kisah tentang Nabi Musa As dan sayidina Khidir tapi mereka kebanyakan beranggapan bahwa Nabi Musa As tidak faham tentang apa itu hakikat. Mereka mengidentikan bahwa Nabi Musa As itu gambaran dari syari’at sedangkan sayidina Khidir gambaran dari hakikat. Saya tidak sependapat dengan mereka, prinsip saya adalah tidak mungkin seorang Nabi tidak faham tentang hakikat dari segala sesuatu. Bagaimana menurut antum, bib?”, tanya saya kepada habib Shodiq bin Abubakar Baharun.


Habib shodiq menjawab bahwa kisah itu diawali dengan seseorang yang bertanya kepada Nabi Musa As siapa orang yang paling alim di muka bumi pada saat itu. Karena Nabi Musa As adalah seorang Nabi maka dijawab orang yang paling alim di muka bumi pada saat itu adalah beliau sendiri. Jawaban ini tidak salah sebab Nabi adalah orang yang banyak ilmunya dibandingkan dengan umatnya, Nabi adalah orang yang paling utama dibandingkan dengan umatnya. Jawaban Nabi Musa As benar, beliau tidak menjawab dengan nafsu beliau tapi memang begitulah adanya.

Meski begitu Nabi Musa As diperintahkan oleh Allah Swt untuk menemui hamba Allah Swt yang bernama Khidir atau dikenal juga dengan nama Balya’ bin Malkan. Khidir ini tidak disebut sebagai Nabi di dalam Alqur’an tapi hamba Allah Swt, jadi beliau lebih suka dipanggil dengan ‘sayidina’ daripada ‘Nabi’. Sebenarnya kedudukan Nabi Musa As lebih tinggi daripada sayidina Khidir karena Nabi Musa As adalah seorang Nabi sedangkan sayidina Khidir adalah bukan Nabi.

Karena Allah Swt yang memerintahkan maka Nabi Musa As pun pergi mencari orang yang bernama Khidir tersebut. Ketika bertemu dengan sayidina Khidir, Nabi Musa As pun segera tahu bahwa ilmu yang pakai oleh sayidina Khidir ini adalah ilmu hakikat, akan tetapi karena Nabi Musa As diperintahkan Allah Swt untuk bersama dengan sayidina Khidir maka Nabi Musa As tidak berani meninggalkan sayidina Khidir kecuali sayidina Khidir sendiri yang menyuruh Nabi Musa As pergi.

Jadi pada dasarnya Nabi Musa As tahu dan memahami apa yang dipahami oleh sayidina Khidir, Nabi Musa As memahami ilmu hakikat, hanya saja beliau tidak melupakan ilmu syari’at, Nabi Musa As tetap memakai ilmu syari’at meski paham ilmu hakikat. “Syari’at dan hakikat itu sama tinggi derajatnya!”, demikian habib Shodiq bin Abubakar Baharun menjelaskan.

Wednesday, April 08, 2009

Surat Al A'laa

Oleh : Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan. Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman."
(QS. Al A'laa : 1 - 5)

Di dalam surat Al A'laa dari ayat 1 - 5 mengajarkan kepada kita agar kita tahu tentang Allah Swt bahwa Allah Swt yang menciptakan alam semesta, dan kita dianjurkan untuk ber-tasbih (memuji Allah Swt dengan mengucapkan subhanallah) ketika kita "membaca" tentang alam semesta, ketika kita melihat keindahan alam semesta, ketika kita mengetahu manfaat semua bagian dari alam semesta.

"Kami akan membacakan (Al Qur'an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki, sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah."
(QS. Al A'laa : 6 - 8)

Pada ayat ke 6 - 8 surat Al A'laa menjelaskan tentang alam yang tampak atau pun tidak. Apabila kita menghayati alam semesta lahir dan batin maka kita akan dipermudah untuk memahami fenomena-fenomena kehidupan yang sebenarnya.

"Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka)."
(QS. Al A'laa : 9 - 12)

Ayat ke 9 - 12 dari surat Al A'laa menjelaskan bahwa agar kita menerima peringatan atau nasehat dari semua orang selama nasehatnya atau peringatannya itu baik (sesuai dengan Rasulullah Muhammad Saw lewat ulama' yang khoir). Apabila kita tidak mau menerima peringatan atau nasehat dari orang lain maka kita akan celaka di dunia dan di akhirat. Yaitu celaka yang benar-benar celaka (nanti akan dibakar di neraka dan termasuk orang yang sombong karena tidak mau menerima kebaikan)!

Jika sudah celaka seperti itu, maka di ayat selanjutnya (yaitu ayat ke-13) dijelaskan bahwa kita akan "gentayangan" yaitu tidak hidup dan tidak mati, artinya kita tidak akan mempunyai harapan hidup. Kita akan sama sekali hampa jika tidak mau menerima nasehat berupa kebaikan dari orang lain.

"Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup."
(QS. Al A'laa : 13)

Di ayat ke-14 dan ke-15, yaitu :
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang."
(QS. Al A'laa : 14 - 15)

Di dua ayat tersebut kita diperintah oleh Allah Swt untuk mengingat Allah Swt, mengingat tentang dzat pencipta alam semesta, mengingat (dzikir) dengan lesan kita yaitu mengucapkan wirid-wirid dan mengingat dengan menggunakan badan kita yaitu sholat.

Sebagaimana Rasulullah Muhammad Saw menerangkan bagaimana yang sebenarnya tentang dzikir, tentang mengingat Allah Swt dan tentang sholat. Ingatlah, orang yang melakukan syari'at dengan sungguh-sungguh adalah orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Jika kita berdzikir dengan lesan kita dan kita melakukan sholat yang diikuti dengan pembersihan jiwa maka kita termasuk orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.

"Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa."
(QS. Al A'laa : 16 - 19)

Sebagaimana tertera di ayat ke-16 sampai dengan ayat ke-19 bahwa akhirat itu lebih kekal kebaikannya, lebih kekal kenikmatannya jika dibandingkan dengan kebaikan dan kenikmatan yang ada di dunia. Inilah yang dijelaskan di dalam kitab-kitab sebelum Alqur'an yaitu kitab nabi Ibrohim As dan kitab nabi Musa As.

Arti keseluruhan dari surat Al A'laa ini adalah semua manusia dari manapun dia berasal dan dari agama apapun dia dianjurkan oleh Allah Swt untuk beribadah dengan dhohir mereka dan dengan batin mereka. Dhohir berupa dzikir (lewat lesan dan perbuatan misalnya perbuatan mengingat Allah Swt dengan jasad yang paling utama adalah sholat) dan batin merupakan pembersihan jiwa. Sebagaimana yang tertera di dalam kitab-kitab terdahulu sebelum Alqur'an. Wallahu a'lam bishshowab.

Thursday, March 19, 2009

Pegang Teguh Amanat

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Alhamdulillah dengan wahilah (perantara) Nabi Muhammad Saw do'a kita didengar oleh Allah Swt. Salah satu tanda do'a kita didengar oleh Allah Swt adalah kita menerima amanat yang lebih banyak atau pekerjaan yang lebih besar daripada yang kemarin kita lakukan.

Jika ajakan-ajakan kita, dakwah-dakwah kita, acara-acara kita sudah diterima oleh masyarakat luas maka ini berarti Allah Swt mempercayai kita untuk mengajak mereka lebih mencintai Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Amanat ini harus dipegang teguh, tidak boleh kita lepaskan, maka dengan begini Allah Swt bermaksud mengabulkan do'a kita selama ini. Jika ini bisa kita lewati maka maqom kita akan meningkat.

Amanat ini bisa membawa kita lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kedekatan kita kepada Allah Swt ini akan diuji dengan maksud untuk menghilangkan kesombongan kita, keangkuhan kita sehingga akhirnya kita menjadi semakin bersih. Ujian ini bukanlah bala' tapi justru akan menaikkan maqom kita meskipun dengan susah payah kita melewatinya, kita akan mendapatkan akhir yang menyenangkan.

Untuk dapat melewati berbagai macam ujian ini kita haruslah memiliki kesabaran agar kita dapat meningkatkan akhlaq kita, iman kita, ukhuwah kita dengan masyarakat yang lebih luas sebab tanpa itu dakwah tidak akan bisa berjalan. Dakwah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, dakwah bisa berjalan kalau ukhuwah diantara kita terjalin kuat dan saling membantu serta saling peduli satu dengan lainnya.

Hilangkan rasa saling menjatuhkan agar kita mendapat ridho Allah Swt, sebagaimana diketahui bahwa ridho adalah maqom tertinggi. Dengan ridho Allah Swt maka kita tidak akan merasa berat dalam melakukan berbagai macam kegiatan kita, ibadah kita, semua akan terasa nyaman dan kita merasa nikmat.

Tuesday, January 06, 2009

Jauhi Syirik !

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy di masjid Alhikmah, Gemah - Semarang, tanggal 3 januari 2009)

Ingatlah, awal yang maka akhir akan baik pula dan yang tengah akan mengikuti! Semua yang kita lakukan akan dima'afkan oleh Allah Swt kecuali syirik. Syirik yaitu semua yang menduakan Allah Swt baik dhohir ataupun batin.

Syirik secara dhohir sebagaimana diketahui adalah menyembah dan mengakui Tuhan selain Allah Swt dengan diikuti oleh gerak badan kita, misal menyembah patung, menyembah pohon, mengakui lewat lesan bahwa dia yakin kepada selain Allah Swt dsb. Syirik secara dhohir seperti ini maka jika dilakukan oleh orang yang semula islam maka dia diharuskan mengucapkan lagi kalimat syahadat, mengakui lagi lewat lesannya bahwa dia hanya ber-Tuhan kepada Allah Swt saja dan hanya nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir.

Syirik batin terlihat kecil tapi lebih berbahaya daripada syirik dhohir karena orang yang seperti ini mungkin secara dhohir tidak terlihat menyembah Tuhan selain Allah Swt tapi keyakinannya sudah berpindah kepada selain Allah Swt. Orang yang seperti ini lesan mengakui Allah Swt tapi hatinya tidak, hatinya meragukan Allah Swt! Inilah letak bahayanya!

Sebagian contoh dari syirik batin adalah sebagaimana diketahui bahwa Allah Swt menjamin rizqi semua makhluq, tapi sering kali kita masih saja khawatir akan rizqi kita manakala kita mempunyai sedikit uang, manakala kita tidak bekerja dsb. Kita sering berkata, "Mau makan apa kalau tidak bekerja?" Perkataan semacam ini menimbulkan keraguannya kepada Allah Swt. Betul kerja memang salah satu washilah untuk menjemput rizqi dari Allah Swt, tapi tidak boleh kita meyakini bahwa kalau tidak bekerja maka tidak mendapat rizqi. Kita tidak boleh meyakini rizqi itu dari pabrik ini, kalau tidak tidak lewat pabrik itu maka kita tidak mendapatkan rizqi...yang seperti ini yang tidak boleh. Rizqi itu datangnya dari Allah Swt, Allah Swt menyampaikan rizqi kepada kita lewat berbagai jalan yang tidak kita duga. Yakin saja maka Allah Swt akan memenuhi rizqi kita! Tentu harus disertai usaha.

Begitu juga dengan berobat, obat memang bisa membuat sembuh penyakit kita tapi kita harus meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah obat, Allah Swt-lah yang menyembuhkan kita.

Jika kita melakukan syirik batin maka oleh Allah Swt kita dikasih berbagai kejadian yang semakin membuat kita jauh dari Allah Swt, makin kuat syirik batinnya, durhaka kepada orang tua kita (red. Semua perbuatan kita yang membuat sakit orang tua kita itu tercela, penuhi perintah mereka selama sesuai dengan syari'at. Jika melanggar syari'at maka bantahlah dengan cara yang baik), memutuskan tali silaturrohim sebab akan dilaknat di alam barzah, mahsyar dan di siroth (red. Balaslah keburukan dengan kebaikan sebab keburukan yang dibalas dengan kebaikan akan bermanfaat bagi kita dan keturunan kita hingga kiamat nanti).

Allah Swt sesuai dengan keyakinan kita, meskipun kita membaca wirid yang mulia tapi kalau kita meyakini bahwa wirid itu yang menyelematkan kita maka ini termasuk syirik batin. Keselamatan hanya dari Allah Swt, hanya saja lewat wirid dsb. Perantara atau washilah itu boleh sebab tidak ada yang tidak butuh perantara. Dengan ijin Allah Swt maka wirid bisa membantu menyampaikan kita sampai di surga, setelah kita sampai di surga maka wirid pergi meninggalkan kita. Inilah manfaat amal baik yang membantu kita di dunia dan akhirat.

Semua tergantung kita, oleh karena itu manfaatkan semua yang ada untuk berbuat baik! Semua benda akan menyerap apapun yang dibacakan kepadanya, maka bacakan kalimat-kalimat yang baik yaitu kalimat yang mengingat Allah Swt dan nabi Muhammad Saw agar benda-benda tersebut menjadi baik dan bermanfaat bagi kita.

Tuesday, December 23, 2008

Perbuatan yang Sia-Sia

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Banyak diantara kita yang melakukan hal yang tidak bermanfaat dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, yang rugi, meskipun banyak amalnya. Seharusnya kita melakukan kebaikan, melakukan banyak hal yang bermanfaat. Berikut adalah perbuatan yang sebaiknya kita dihindari, yaitu sebagai berikut :

1. Berdo'a hanya untuk diri kita sendiri.

Sebaiknya jangan berdo'a untuk diri kita sendiri, tapi berdo'alah juga untuk orang-tua kita, keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita dan orang-orang islam atau mukmin lainnya. Dan, jangan hanya berdo'a demi kebutuhan duniawi saja, bermohon juga kepada Allah Swt untuk urusan dan kebutuhan akhirat kita semua.

2. Tidak membaca Alqur'an dalam sehari meski satu ayat pun tidak, padahal kita bisa dan mampu membaca Alqur'an.

3. Tidak mau sholat Tahiyatul Masjid ketika masuk Masjid, padahal masih cukup waktu untuk melakukannya sebelum sholat berjama'ah dimulai.

4. Tidak memberi salam kepada ahli qubur ketika melewati pemakaman.

Adalah suatu kebaikan membacakan dan menghadiahkan salam, bacaan Alqur'an atau sholawat ketika melewati pemakaman. Jadi biasakan ini ketika melewati pemakaman kaum muslim!

5. Mampu bepergian pada hari Jum'at tetapi tidak mau melakukan sholat Jum'at.

6. Berkunjung atau silaturrohim kepada orang alim (berilmu) tetapi tidak mau meminta do'a darinya.

Ziaroh (berkunjung) bukan hanya dilakukan kepada orang yang sudah meninggal saja, ziaroh kepada orang alim (berilmu) yang masih hidup adalah sangat penting untuk dilakukan. Dengan mengunjungi orang alim yang masih hidup, kita bisa mengambil banyak manfaat dari beliau lewat nasehat-nasehat beliau atau lewat kebiasaan baik beliau yang bisa kita tiru.

7. Menggunakan waktu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Kebanyakan anak muda menyia-nyiakan waktu mereka untuk bersenang-senang yang kurang membawa manfaat atau pun berfoya-foya, sebaiknya hindari menyia-nyiakan waktu ini sebab waktu adalah modal kita untuk menambah ibadah kepada Allah Swt. Dikatakan oleh Al Imam Ghozali bahwa waktu adalah sesuatu hal yang terjauh, yang maksudnya adalah begitu sudah lewat maka kita tidak mungkin bisa mengulanginya lagi.

8. Tidak peduli pada tetangga sekitar apakah lapar atau tidak, padahal kita mampu membantunya.

9. Tidak menghadiri undangan teman padahal kita tidak punya udzur (halangan) untuk mengahadirinya.

Sampaikan Meski Satu Ayat

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan di majlis Madadun Nabawiy, yaitu majlis pembacaan rotib Alhaddad dan maulid Simthud Durror di Masjid Alhikmah - Gemah, Semarang, sabtu 20 Desember 2008)

Alhamdulillah kita dikumpulkan oleh Allah Swt di tempat yang baik ini, yaitu masjid Alhikmah ini. Masjid merupakan tempat yang baik yang biasa digunakan untuk mengingat Allah Swt, mengingat Nabi Muhammad Saw, untuk menuntut ilmu, untuk menyebarkan kalimat-kalimat yang baik yang diajarkan oleh para salaf yang mana ini bersambung kepada Nabi Muhammad Saw. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Kita sekarang berada di akhir bulan Dzulhijjah, bulan dimana dulu Nabi Muhammad Saw disaat haji wada' beliau Saw bertanya kepada para sahabat apakah ini bulan harom, para sahabat membenarkan. Beliau Saw kemudian bertanya lagi apakah beliau Saw sudah mengajarkan semunya, maka dijawab oleh para sahabat bahwa beliau Saw sudah mengajarkan semuanya. Nabi Muhammad Saw mengulang pertanyaan yang sama hingga 3X.

Maksud dari hadits ini adalah menyuruh kita menyampaikan meski satu ayat. Menyampaikan disini tidak harus dengan ceramah di depan pubik, atau di depan majlis...menyampaikan disini bisa kapan saja dan dengan siapa saja. Misalnya kita menyampaikan hal-hal yang baik kepada keluarga kita, anak istri kita atau suami kita atau saudara kita atau bahkan teman-teman kita sewaktu kita ngobrol bersama mereka.

Sampaikan nasehat yang baik kepada anak-anak kita, tapi sebelum kita menyampaikan kita seharusnya melakukan terlebih dulu tentang apa yang kita nasehatkan tersebut. Jangan sampai kita menasehatkan sesuatu kepada mereka tetapi kita tidak pernah mengerjakannya! Anak melihat orang-tuanya, kalau mereka melihat orang-tuanya melakukan hal-hal yang baik, maka mereka akan menirunya. Begitu juga sebaliknya, kalau orang tua melakukan hal-hal yang buruk dan tercela di mata agama, maka anak akan menirunya. Tanpa lewat kata-kata pun anak akan meniru kebiasaan orang-tuanya, oleh karena itu lakukan perbuatan yang baik agar anak-anak kita, istri dan keluarga kita menirunya.

Rumah tangga yang indah adalah rumah tangga yang sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw. Lihatlah keadaan masyarakat sekarang, berkurang sedikit jatah finansial dari suaminya langsung marah, berkurang sedikit saja jatah bulanan dari suaminya langsung lari dari suami. Keadaan ini jatuh berbeda dengan keadaan keluarga Nabi Muhammad Saw dimana meski jarang mempunyai sesuatu yang bisa dimakan tapi Nabi Muhammad Saw dan keluarganya tetap harmonis dan keindahan terpancar. Semua masalah bisa terselesaikan asalkan kita tenang dan jangan melihat lalu membandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain.

Allah Swt mengkaruniakan rizqi kepada kita, itu pasti, tapi membanding-bandingkan dengan keadaan orang lain adalah bisa menjerumuskan kita kepada keadaan tidak bersyukur atas nikmat yang kita terima, yang kita punyai saat ini. Kalau kita bisa bersyukur maka akan ditambah rizqi kita dari jalan yang tidak kita duga sebelumnya. Terutama ibu, adalah adalah orang yang memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya.

Di akhir bulan Dzulhijjah ini kita disuruh untuk memperbanyak istighfar dan memperbanyak amal ibadah.

Tuesday, December 09, 2008

Jenazah

Oleh : Habib Shodiq bin Abubakar Baharun

Bab : Jenazah - Kitab Safinatun Najah


Maksud dari jenazah di sini adalah manusia yang sudah meninggal yang nanti akan digotong menuju pemakaman.


Sunnah mendekati orang-orang yang sedang naza' adalah sebagai berikut :

1. Untuk keluarga dari orang yang sedang naza' adalah berwudlu dan bacakan Al-qur'an kepada orang tersebut di telinga kirinya dan bacakan talqin (la illaha illallah) di telinga kanannya. Boleh juga dibalik, bacakan Al-qur'an di telinga kanan dan bacakan talqin di telinga kiri.

2. Lalu kepala orang yang sedang naza' diangkat dan ditetesi dengan air ke mulutnya sebab disaat itu ruh-nya sangat kepanasan dan sedang mengalami kehausan yang teramat sangat. Iblis datang menawari air minum kepadanya, jikalau dia menerima tawaran iblis untuk minum dari air yang dibawanya maka dia akan meninggal dalam keadaan buruk. Oleh karena itu sering-seringlah menetesi air minum ke mulut orang yang sedang naza' agar dia tidak kehausan.

3. Pakaikan siwak kepada orang yang sedang naza' di mulut atau di bibirnya, sunnah-nya 3x gerakan. Salah satu fungsi bersiwak adalah memudahkan orang dari naza'.


Tanda-tanda orang akan meninggal salah satunya adalah 40 hari sebelumnya dia terlihat pucat atau sakit.


Wajib bagi mayat adalah sebagai berikut :

1. Dimandikan.
Yang berhak memandikan mayat adalah keluarga dari mayat tersebut. Sebaiknya dihadirkan ulama untuk mendampingi agar benar tata cara memandikannya yaitu minimal dengan mengguyurkan air ke seluruh tubuh mayat.

2. Dibungkus dengan kain kafan.

3. Disholatkan.

4. Dikuburkan.
Orang kafir (yaitu orang yang tidak beriman kepada Allah Swt sebagai satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) hanya diwajibkan untuk dikuburkan saja. Sedangkan untuk orang yang jarang sholat hanya diwajibkan untuk dimandikan, dibungkus dengan kain kafan dan dikuburkan saja.


Sunnah bagi mayat yang baru meninggal adalah sebagai berikut :

1. Tutup kedua kelopak matanya.

2. Tutup semua lubang yang ada di tubuhnya.

3. Lepas sesegera mungkin semua pakaian yang dikenakan di tubuhnya, karena ruh akan merasa kepanasan dalam perpindahan alam.

4. Kipasi mayat itu.

5. Tindihi perut mayat dengan sesuatu benda, karena agar angin di tubuhnya keluar semua.

6. Bacakan Alqur'an setelah kelima sunnah di atas dilakukan.

Dan, harom bagi keluarga mayat untuk menangisi mayat tersebut dengan berlebihan.

Tuesday, November 25, 2008

Wudlu dan Sholat

Oleh : Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun

(Disampaikan dalam majlis Madadun Nabawiy di Masjid Alhikmah - Gemah, Semarang hari Sabtu tanggal 22 November 2008)

Allah Swt memberikan pemahaman dalam hal agama bahwa sholat adalah tiang agama. Sholat adalah sangat penting kedudukannya bagi umat Islam, ibarat kepala terhadap badan kita. Tanpa kepala maka badan tidak bisa hidup, maka begitulah sholat, tanpa sholat maka segala kegiatan kita tidak akan sempurna.

Jika tanpa sholat, atau apapun istilahnya, maka tidak bisa disebut agama. Semua keyakinan mempunyai ritual khusus untuk mengingat-Nya dengan macam gerakan dan makna yang berbeda antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lainnya.

Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa orang Islam yang tidak sholat maka sebenarnya dia belumlah Islam secara keseluruhan. Sholat memang berarti mengingat, tapi apakah cukup mengingat Allah Swt saja tanpa sholat? Tidak! Sholatlah dengan dhohir dan batin kita mengingat Allah Swt. Nabi Muhammad Saw saja sholat, maka kita yang mengaku umat beliau Saw juga seharusnyalah sholat seperti sholat Nabi Muhammad Saw yaitu dengan khusyu', khudzur, ikhlas, paham bacaan sholat dan paham makna gerakan sholat dsb.

Kita harus menjaga sungguh-sungguh sholat kita dengan ta'dzim kepada Allah Swt yaitu dengan menjaga waktu dan syarat serta rukun sholat dan semua hal yang berhubungan dengan sholat, yaitu seperti halnya wudlu, najis, air dsb.

Sholat diwajibkan untuk semua usia dengan segala keadaannya. Jagalah sholat pertengahan, sholat wustho, sebagian besar ulama mengatakan bahwa sholat wustho adalah sholat dhuhur yaitu sholat yang pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Sholat ini sering kali berat dilakukan karena berada dalam saat-saat kerja, sedang asyik kerja sehingga sering kali menimbulkan rasa malas di diri kita, karena itu kita harus menjaga sholat ini benar-benar.

Sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar asal dilakukan dengan tidak buru-buru, dilakukan dengan senyaman mungkin, memperhatikan syarat dan rukun sholat dsb. Sholat tidak sempurna jika wudlu dilakukan dengan tidak sempurna.

Yang wajib dalam wudlu adalah :
1. Niat (dilakukan ketika membasuh wajah yaitu niat dalam hati dan jika diucapkan maka insya Allah akan bertambah baik lagi),
2. Membasuh wajah (mulai dari empat jari di atas alis hingga satu jari di bawah dagu dan batas samping adalah bagian kecil yang menonjol di depan telinga),
3. Membasuh tangan (mulai dari ujung jari hingga dua jari di atas siku),
4. Membasuh kepala (mulai dari batas wajah paling atas hingga semua rambut, sedikitnya tiga helai rambut cukup),
5. Membasuh kaki (mulai ujung jari-jari kaki hingga 2 jari di atas mata kaki),
6. Tertib (urut mulai dari niat hingga nomer lima di atas)

Kenapa wudlu diwajibkan untuk dilakukan pada empat tempat tertentu di badan kita yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki? Karena pada tempat-tempat itu sering kita gunakan untuk bermaksiat kepada Allah Swt, bukankah awal perbuatan maksiat sering kali dimulai ketika mata memandang sesuatu yang buruk? Ketika mata memandang, nafsu pun berperan, lalu tangan, kepala, telinga dan kaki mengikuti sehingga semuanya berperan dalam perbuatan tersebut. Kalau perbuatan tersebut baik maka baiklah semuanya, kalau perbuatan itu buruk maka buruklah semuanya. Oleh sebab itu basuhlah dengan air wudlu, apa cukup dengan membasuh saja? Tidak! Setelah itu lakukan berbagai macam kebaikan demi mengingat Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw.

Selain itu tempat-tempat yang dibasuh air saat wudlu itu mudah capek dan air wudlu akan menghilangkan rasa capek tersebut sehingga kita akan segar lagi. Ketika badan sudah segar kembali, insya Allah kita akan mudah untuk berbuat berbagai macam kebaikan.

Wednesday, August 06, 2008

Adab dan Wirid

Saya :
“Bib, mana yang lebih utama diantara baca wirid tapi tidak menerapkan adab atau adab dulu baru baca wirid atau bersamaan ya adab ya wirid?”

Habib Shodiq bin Abubakar Baharun :
“Lebih utama adab dulu. Sekarang banyak yang membaca wirid tapi tidak mempunyai adab. Oleh sebab itu tidak aneh jika banyak ketaatan tapi banyak pula bencana sebab melupakan adab.”

Hal senada dikatakan juga oleh habib Alwi bin Abdullah bin Hasan Alhasni bahwa sekarang ini banyak orang mengaku berguru tapi tidak melakukan perintah gurunya. Melakukan perintah guru adalah termasuk salah satu diantara adab-adab berguru.

Ilmu dan amal kurang sempurna kalau tanpa diikuti oleh adab. Barokah ilmu ada pada adab.