Friday, February 27, 2009

Mengetahui Kondisi Diri Sendiri

Oleh : Yusa Nugroho

Menuntut ilmu adalah wajib bagi yang mengetahuinya, akan tetapi ketika sudah mendapatkan ilmu jangan lupakan adap karena ilmu tanpa adap (tata krama) hanya akan mempersulit kita. Dengan adap (tata krama) kita akan menghormati dan menghargai orang lain. Tanpa adap kita hanya akan menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, bahkan cenderung merasa diri lebih baik daripada mereka yang dikenal masyarakat sebagai orang mulia, Rosulullah Muhammad Saw misalnya. Sebagaimana tergambar dari obrolan berikut.

Ketika dalam sebuah perkumpulan, ada seorang kawan mengawali obrolan dengan menyampaikan bahwa seseorang berkata sebagai berikut :

"Sudah 2000-an lebih yang masuk Buddha. mari semuanya bergabung sebelum dipukuli ratu adil (ratu adil dulu muslim akhirnya murtad dan masuk agama buddha) dan dibocorin matanya dari jarak jauh. Berusahalah sendiri untuk memahami agama buddha sebelum dipukuli. (pengumuman ini cuma untuk muslim, non muslim bebas bebas saja)."

Dan...

"Saya ratu adil satria pinandhita, dengan ini mengumumkan bahwa, ilmu-ilmu saya sudah rampung untuk menyerang islam yaitu kungfu sakti trisula veda, penantang fu yi, kungfu roda emas dan pedang ksatria, sengatan listrik purba, pedang kosmos bumi dan langit, kungfu-kungfu lain yang tak bisa saya tuliskan semua (kungfu cakar elang, kungfu mustika bayi, kunyuk melempar buah, ha ma kong, dim mak / meremuk tulang menggetar jantung, kungtu tendangan sakti penghancur bumi dan langit seisinya. Dsb. Di bawah majapahit, cuma 4 agama yang diakui yaitu agama buddhi, agama theravada, agama taoism dan agama jedism. Silakan segera ganti agama ke salah satu agama itu, gak beragama pun boleh, asal tak sombong."

Kawan tersebut kemudian bertanya pada yang mendengarkan bagaimana komentar mereka terhadap pernyataan tersebut, ada beberapa komentar misalnya ah biarkan saja, cuek saja, eh kok seperti cerita silat dsb tetapi salah seorang memberikan komentarnya sebagai berikut :

"Kalau dari saya pribadi. Mereka yang beragama hindu, budha , kristen, khonghucu bahkan tidak beragama sama sekalipun bisa ISLAM kok. Memangnya ISLAM untuk siapa? Untuk manusia atau untuk Tuhan...hehehehehe. Mari buktikan saudaraku, sebelum mati raga bisa nggak kita seperti Rasul Muhammad?"

Karena merasa tidak cocok dengan komentar tersebut, seseorang kemudian menanggapinya.

"Hehehehehe...ini membuktikan bahwa Islam itu masih tetap hebat, sampai-sampai orang yang membenci Islam menyiapkan ilmu kanuragan dan kebatinan yang seperti itu untuk menghancurkan Islam. Nah, tinggal bagaimana kita yang mengaku dirinya orang Islam membuktikan ke-Islam-annya.

Tentang apa yang dikatakan tadi yaitu "bisa nggak kita seperti Rasul Muhammad?" Astaghfirullaaahhh...bagaimana bisa bisa seperti Nabi dengan amal kita yang seperti ini? Amal apa yang kita punya? Apa yang sudah kita lakukan untuk sekitar kita? Sudahkah kita membantu mereka yang membutuhkan di sekitar kita? Sudahkah kita berkorban untuk yang kita yakini yaitu Allah Swt dan Nabi Saw? Nabi Muhammad Saw saja tetap sholat hingga bengkak kakinya meski beliau dijamin mendapatkan ridho-Nya, apakah kita sudah sholat hingga kaki kita bengkak seperti Nabi Saw?

Dikisahkan bagaimana Rosululllah Muhammad Saw tidak marah disaat dilempari batu, dicaci maki dsb, beliau Saw tersenyum malah mendoakan dan menolak tawaran menghancurkan orang-orang yang mencaci beliau Saw. Silahkan lihat diri kita, sanggupkah kita berbuat seperti itu? Sanggupkah hati kita tersenyum ketika orang mencaci kita?

Dikisahkan Rosulullah Muhammad Saw bertanya pada shohabat2 beliau Saw apakah beliau Saw pernah menyakiti mereka, kalau pernah maka beliau Saw bersedia menerima balasan yang sama. Ada seorang yang berkata bahwa benar beliau Saw pernah menyakitinya di badan maka dia ingin membalasnya. Rosulullah Muhammad Saw mengijinkan dia meskipun shohabat yang lain tidak setuju. Ketika beliau Saw membuka baju, orang tadi tidaklah menyakiti beliau Saw tapi justru memeluk beliau Saw sebab maksudnya bukan menyakiti Rosulullah Muhammad Saw tapi ingin memeluk beliau Saw. Lihatlah apakah kita mampu berbuat seperti beliau Saw?

Ketika Rosulullah Muhammad Saw mempunyai baju baru untuk sholat dsb setelah lama tidak punya baju baru untuk ganti, datang shohabat meminta baju baru beliau Saw. Rosulullah Muhammad Saw memberikan baru baru itu untuk shohabat tsb meskipun beliau Saw membutuhkannya. Lihatlah apakah kita sanggup memberikan barang terbaru milik kita yang kita butuhkan untuk orang lain yang memintanya? Kita mungkin akan berpikir 100juta kali yang kemudian berujung kita menolak memberikannya dengan alasan kita membutuhkan barang yang dia minta.

Lihatlah kita tidak akan bisa menyamai atau melebihi Rosulullah Muhammad Saw dalam hal apapun juga! Jangan asal bicara tanpa melihat bagaimana amal kita! Bicaralah dengan adap yang baik, ilmu harus dicari tapi jangan lupakan adap. Adap sebaiknya harus lebih banyak daripada ilmu, ilmu tanpa adap hanya akan menjerumuskan kita ke dalam ketersesatan.

Dan, Islam itu hanya untuk mereka yang mengakui Allah Swt sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir. Semua hal itu ada sisi luar dan sisi dalamnya, 'ono njero yo mesti ono njabane', tidak lengkap ber-Islam dengan luarnya saja tanpa mau melihat dalamnya Islam, tidak lengkap juga ber-Islam dengan dalamnya saja tanpa melihat luarnya Islam. Kalau mau Islam ya harus mau menerima sisi luarnya dan sisi dalamnya. Jangan setengah-setengah! Dan, apa yang kita katakan / sampaikan / lakukan adalah mempunyai akibat kepada yang mendengarnya, yang melihatnya dsb."

Setelah beberapa lama, kawan yang memulai obrolon berkata :

"Apik apik apik..pemahaman ini kok mirip dengan saya. Belum lama di sebuah perkumpulan ada yang menulis bahwa guru tidak selamanya lebih daripada muridnya.. suatu hal yang ada dalam ilmu scientific tetapi diaplikasikan pada ranah spiritual.

Menurut saya yaaa.. sampai kapanpun kita tidak akan melampaui Nabi jika kita belajar ilmu-ilmu Islam, bagi umat buddhist selamanya tidak akan lebih daripada guru Sidharta, umat salib selamanya tidak akan melebihi guru Isa.

Dalam waktu lainnya saya katakan pada mereka yang merasa diri...gimana
gitu...saya tanyakan berapa manhour yang telah kita curahkan dalam jalan ini? Pengorbanan apa yang pernah kita buat dibanding apa yang telah dilakukan oleh para master tersebut?

Maka saya mengajak agar kita tahu kondisi diri sendirilah.

Walaupun memang tidak mutlak selalu begitu, ada murid yang lebih daripada gurunya yaitu guru SD dengan mereka para murid yang melanjutkan sekolah melampaui tingkat pendidikan si pak Guru SD-nya."

2 comments:

  1. Anonymous9:40 AM

    Memang, sering kita berlagak seperti pelari cepat atau maraton. Sementara kita suka lupa, bahwa diri kita barulah bisa berjalan. Posting yang menarik pak Yusa. Semoga blog ini bermanfaat bagi semua kalangan.

    ReplyDelete
  2. :)

    Trm ksh, mas Danu...saya amini doanya ya...amiiinnn...

    ReplyDelete

Silahkan sampaikan tanggapan Anda atas tulisan di atas.