Sunday, August 24, 2008

Ahlan Wa Sahlan Fin Nabi

Rawasari - Semarang. Desa ini memang lumayan besar, terletak di selatan Pedurungan hampir berbatasan dengan Demak. Alam dan suasananya masih alami, masih banyak pepohonan dan perkebunan. Penduduknya pun masih asyik, masih kental gotong royongnya, masih sangat peduli sesamanya. Rumah-rumah di sini belum banyak yang bercorak modern, kebanyakan masih bergaya joglo ala pedesaan Jawa tapi meski bergaya lawas tetap tidak bisa menutupi keindahan penghuninya. Penduduknya pun masih senang menghadiri pengajian umum atau pun khusus.

Seperti malam Sabtu lalu (21 Sya'ban 1428 - 22 Agustus 2008), masyarakat di Rawasari berduyun-duyun menghadiri majlis tahtim pembacaan Ratib Alhaddad dan Maulid Simthud Durrar yang diasuh oleh habib Hasan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri dan ustadz Ihsan Turmudzi Alhafidz. Tidak hanya pemuda saja yang hadir tapi juga beliau-beliau yang berusia lanjut baik kakek atau nenek sangat bersemangat berjalan beramai-ramai datang, duduk, mengikuti alunan irama maulid dan qoshidah yang dibawakan bergiliran.

Nama majlis ta'lim ini adalah Ahbabun Nabi, diadakan setiap 35 hari sekali (selapanan = bahasa Jawa) bergiliran antar Mushola dan Masjid setempat yang letaknya lumayan berjauhan. Meski berjauhan sama sekali tidak mengurangi semangat mereka untuk hadir mendapatkan barokah dari habaib dan para ulama', barokah berupa ilmu dan sebagainya.

Oleh ustadz Ihsan Turmudzi Alhafidz penduduk Rawasari didekatkan dengan para habaib, khususnya habib HAsan bin Abdurrahman bin Zain Aljufri ini, terbukti hingga saat ini hampir setahun majlis ini berlangsung mereka tidak bosan menghadiri majlis ini dan malam itu pun mereka dengan nikmat tetap duduk hingga hampir jam 23 mendengarkan mauidhoh hasanah (nasehat yang baik) dari habib Hasan dan kyai Imam Suyuti.

Habib Hasan mengingatkan agar kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan yang sebentar lagi datang, baik ibadah wajib maupun sunnah. Nilai pahala ibadah sunnah dijadikan seperti ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib dilipat-gandakan. Ramadhan bulan yang sangat mulia, kemuliaan bulan Ramadhan bahkan menjadikan bau mulut kita yang puasa di siang hari wangi melebihi bau minyak kasturi di sisi Allah Swt dan semua pekerjaan yang dilakukan bukan karena Allah Swt maka baunya akan sangat busuk.

Dikatakan oleh habib Abdullah bin Alwi Alhaddad bahwa barang siapa yang mencintai kami , mengikuti kami maka tidak akan kami lupakan dia, bahkan akan kami tolong meski sudah meninggal sehingga dia terhindar dari adzab kubur. Untuk itu kita harus memperbanyak dzikir (ingat) kepada Allah Swt, dijelaskan bahwa barang siapa orang yang tidak mempunyai dzikir dalam hidupnya maka dia bagaikan hewan. Maka barang siapa tidak ingin seperti hewan, berdzikirlah meski tidak banyak asal istiqomah (langgeng, terus menerus). Al istiqomah alfi karomah, satu istiqomah sama dengan 1.000 karomah.

Sesungguhnya manfaat dzikir itu sangat banyak bermanfaat buat kita dan sangat berat timbangannya di mizan nanti bahkan gunung pun tidak akan kuat, akan hancur, manakala dijatuhkan Alqur'an ke atasnya. Alqur'an adalah sangat baik untuk dijadikan sarana dzikir kita mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ingat jangan sampai kita tidak punya dzikir, jangan sampai kita tidak ingat kepada Allah Swt sebab barang siapa tidak berdzikir hatinya maka dia bagaikan mayat hidup meski belum meninggal! Oleh karena itu kita harus membersihkan diri sebelum masuk ke bulan Ramadhan, memasuki bulan istimewa kita harus mempersiapkan diri dengan ber-istighfar di bulan Rajab, lalu ber-shalawat di bulan Sya'ban. Semua itu untuk menyucikan diri kita dhohir dan batin.

Salah satu hikmah puasa adalah ikut merasakan bagaimana rasa yang dirasakan kaum faqir setiap harinya. Kaya atau miskin kita mestinya harus bersyukur sebab dunia seisinya adalah milik Allah Swt. Orang miskin dikatakan sebagai keluarga Allah Swt maka barang siapa tidak menolong keluarga Allah Swt padahal dia mampu untuk menolongnya maka Allah Swt akan murka kepada dia. Banyak-banyaklah berdo'a agar kita selamat, terutama di saat sholat. Kalau dikatakan sholat adalah tiang agama, kenapa kita tidak bisa menikmati sholat? Salah satu penyebabnya adalah makanan yang haram dan syubhat (diragukan kehalalannya).

Dikisahkan bahwa habib Hasan Jamalullail tidak mau membaca Alqur'an di siang hari, kita tentu heran sebab sangat dianjurkan membaca Alqur'an di bulan Ramadhan lalu kenapa beliau tidak mau membacanya? Demikian juga murid beliau tapi tidak berani bertanya.

Suatu saat ketika di malam hari habib Hasan Jamalullail tertidur, seorang murid mendekati beliau dan melihat dari mulut beliau keluar semacam busa. Dia lalu menjulurkan tangannya dan menyentuhkan jarinya mengambil busa itu karena penasaran, dijilatnya busa tersebut. Dan ternyata rasa busa yang keluar dari mulut mulia habib Hasan Jamalullail sangat manis melebihi madu!

Habib Hasan Jamalullail terbangun dan bertanya apa yang dia lakukan, ketika dikatakan alasan murid beliau itu, habib Hasan Jamalullail menerangkan bahwa itulah sebabnya beliau tidak membaca Alqur'an di siang hari sebab setiap beliau membaca Alqur'an akan keluar dari mulut beliau madu yang akan membuat perut beliau kenyang. Kalau ini terjadi di siang hari maka beliau tidak akan merasakan nikmatnya lapar seperti kaum faqir, oleh karena beliau ingin merasakan nikmatnya lapar maka beliau tidak mau membaca Alqur'an di siang hari agar madu tidak mengenyangkannya. Beliau membaca Alqur'an di malam hari.

Selain itu jangan lupa latihan menikmati sholat, dikisahkan imam Ali bin Abi Thalib Kwh saat terkena anak panah, beliau lalu sholat dan meminta agar anak panah itu dicabut ketika sholat. Beliau tidak merasakan sakit sama sekali saat anak panah itu dicabut, kenapa? Karena beliau khusyuk dalam sholat, yang beliau rasakan hanya nikmat bercakap-cakap dengan Allah Swt, tidak merasakan yang selain itu sehingga beliau tidak merasakan sakit.

Habib Hasan bin Abdurrahman mengakhir tausyiah beliau dengan do'a, lalu dilanjutkan dengan tausyiah dari kyai Imam Suyuti yang mengingatkan agar kita berbaik sangka kepada siapa saja dan agar kita menjadi mukmin yang kuat.

No comments:

Post a Comment

Silahkan sampaikan tanggapan Anda atas tulisan di atas.

Post a Comment